
bugiskha
~aku adalah selembar daun kering yang terhembus angin~
Menu
Skip to content
ADVENTURE LIFE
KUMPULAN CERITA
LITERATURE
MUSIK
PENGEMBANGAN DIRI
PUSTAKA ISLAMI
TIPS & TRIK
TOKOH
UNIK
~Blog Sahabat~
Draft Corner Draft Corner
Arumsekartaji
Iwanbanaran's Blog
blognoerhikmat
Langkah Catatanku
rifdanella
DeRie Berbagi
blumbungannews
Lostmyidea
Puspaloving
Otto-X
castorian
iRFAN HANDi
putracisc
Pemimpi Sejati
Kaaeka's Blog
Sainspedia
Rahasia Otak
Rizalean's Digital Nest
onesetia82
catatan kecil keluarga
antaraws
Tuaffi's Weblog
udikhangeblog
OpensTutor
sarungbiru
yisha
Muhammad Amirullah
FIKSIKULO
A z M i Blog
Catatan Akhwat Pejuang
olives' diary
Diary Kehidupan
Jejak Jejak Hati
blog SRI IZAWATI
Rahassia
D'arie Ku
ufikmuckraker
lombokdihati
nimadesriandani
Rumput Pencerita
krispantoro
SISBBCLUB
celot3hku
Faisal Rachmadin Blog
Ucap Semilir
temonsoejadi
ABU FAQIH'S WEBLOG
Misstreeantoz's Weblog
Warung Infor Nasi "Mas Arul"
bulbenbeach
DIAN ARFIANTI BLOG
Navigasi Kehidupan
CATATAN HATI
mintarsih3
Komunitas Pecinta Puisi
Naufal Hisyam Blog
BERBAGI ILMU
Goresan Hitam
Boneka Hantu
Little's Blog
~Komentar~
Much Machally Asr di IM YANG (Hawa Panas dan Hawa D…
ismail di Sejarah Suku Bugis dan Asal Ka…
Tanah laut Kal sel di Bu Kek Kang Sinkang (Seri…
Mr Black di Api di Bukit Menoreh – S…
Denjaka di Manggala Majapahit Gajah Kenca…
panduanpenulismuda di 10 Langkah Mudah Jadi Penulis…
andi sahar di Awal Mula Suku Bugis
Forum WP ID
Check PageRank
~Statistik~
2,818,362 hits
~Meta~
Daftar
Masuk
RSS Entri
RSS Komentar
WordPress.com
Golok Maut – (Bag 3 Tamat)
13 Agustus 2013 by chuckybugiskha
New Picturebb
Golok Maut
(Bag 3 Tamat)
Karya : Batara
Djvu by : Orangstress di Dimhad
Convert & Editor : aaa & Lavender
Final edit & Ebook pdf oleh : Dewi KZ
Urusan kitab sesungguhnya tak ada orang lain tahu kecuali mereka
berdua. Tapi karena Eng Hwa keburu mendengar karena itu
kesalahannya sendiri buru-buru membuka pintu kamar
adiknya maka pangeran ini mengangguk dan berkata
melempar senyum, “Sudahlah, aku tahu. Kalau kau boleh
membiarkan aku membawa gadis ini maka sungguh
merupakan satu kegembiraan besar bagiku. Mari, temani
aku, Eng Hwa. Kau ke gedungku!”
Eng Hwa tertawa. Dia sudah ditarik dan hendak dibawa
pangeran she Coa ini. Ah, dirinya seperti barang mainan
saja, dibawa dan sudah berganti-ganti lelaki. Tapi ketika
Eng Hwa melepaskan diri dan berkata biarlah pangeran itu
lebih dulu dan dia menyusul maka gadis atau wanita ini
berkelebat,
“Ongya silahkan duluan. Nanti aku tak enak terhadap Ci
Fang!”
Coa-ongya tertegun. Adiknya tiba-tiba juga sadar dan
mengangguk, memang mereka harus berhati-hati kalau Ci
Fang tahu. Eng Hwa dan dirinya telah sepakat bahwa
hubungan mereka tak boleh diketahui. Ci Fang bisa marah
dan menciptakan bahaya. Itu tak boleh terjadi.Maka ketika
tertawa dan mengangguk pada kakaknya pangeran Ci ini
berseru,
“Benar, memang tak boleh diketahui Ci Fang, kanda.
Sebaiknya diam-diam dan kau pergi lebih dulu!”
Coa-ongya mengangguk. Di sana adiknya sudah
memberi isyarat dan tersenyumlah dia. Membayangkan
Eng Hwa yang cantik dan menggairahkan tiba-tiba saja
nafsunya memang timbul, apalagi adiknya berkata bahwa
Eng Hwa pandai melayani laki-laki, jadi tentu memuaskan.
Dan ketika hari itu Eng Hwa sudah pindah ke pelukan Coaongya,
tertawa dan terkekeh di sana maka hari-hari berikut
wanita ini sudah menjadi milik beberapa laki-laki. Pertama
tentu saja Ci Fang. Eng Hwa tak berani melupakan pemuda
ini agar keadaan tak menjadi gawat. Kedua lalu ayah
kekasihnya itu, Ci-ongya. Dan ketika yang terakhir adalah
Coa-ongya dan Eng Hwa mulai sibuk membagi-bagi
waktunya, hal yang mulai merepotkan maka suatu hari Ci
Fang mulai curiga.
“Aneh, kenapa kau sering bepergian! Ke mana saja kau
ini’ Dan mana Golok Maut yang kaukatakan akan datang
itu?”
“Ih, sabar. Aku bepergian tidak jauh meninggalkan
istana, Ci Fang. Aku meronda dan jalan-jalan di sekitar sini
saja Dan tentang Golok Maut, hmm… sebentar lagi dia
pasti datang. Aku telah mengatur rencana!”
Ci Fang tak puas. “Kau sekarang banyak menolak
keinginanku, Eng Hwa. Tidak seperti dulu. Apakah kau
tidak cinta lagi kepadaku?”
“Ih, omongan apa ini, Ci Fang? Siapa bilang aku tidak
mencintaimu lagi? Aku masih tetap cinta padamu, dan lihat
ini …. cup!” Eng Hwa memberikan ciumannya, mendarat
mesra dan tertawalah wanita itu membelai Ci Fang.
Sebenarnya dia lelah karena baru saja melayani Ci-ongya.
Ayah kekasihnya itu harus dibujuk dan didekati agar
menyerahkan kitab catatan satunya. Dia sudah mencoba
kepada Coa-ongya secara hati-hati namun belum berhasil,
hal yang diam-diam membuat wanita ini gemas. Maka
ketika hari itu Ci Fang cemberut padanya dan menegur
serta merengut maka Eng Hwa sadar bahwa sudah empat
hari dia meninggalkan Ci Fang, sibuk dengan Coa-ongya
dan Ci-ongya, yang lagi panas-panasnya mencumbu dan
menginglnkan dirinya!
“Aku tak mana-mana, Ci Fang. Aku hanya di sekitar sini
saja. Eh, apakah kau cemburu?”
“Hm, cemburu sih tidak, tapi pelajaran ilmu silat tak
pernah kau tambah lagi!”
“Ah, hi-hik, aku lupa!” dan Eng Hwa yang teringat dan
tertawa mendengar itu lalu mengajak Ci Fang ke belakang,
memberi tambahan ilmu-ilmu silat karena memang selama
ini dia lupa. Biasanya Ci Fang ingin bercumbu dan
bermesraan melulu, seperti paman dan ayahnya itu. Tapi
karena pemuda ini sudah terlampau sering dan rupanya Ci
Fang juga mendapatkan seorang dua orang selir di istana itu
maka mereka tiba-tiba agak jauh satu sama lain dan Eng
Hwa selalu memberi alasan ini-ltu kalau sibuk melayani
kekasih-kekasih barunya.
Hebat wanita ini. Ci Fang tentu saja tak tahu semuanya
itu. Sama sekali dia tak curiga bahwa ayah dan pamannya
ada main dengan kekasihnya ini, karena dia percaya Eng
Hwa tak akan melanggar larangannya. Yakni, Eng Hwa
boleh bergaul dengan siapa saja asal tidak bergaul atau
bercinta dengan ayah dan pamannya itu, hal yang tak
disuka pemuda ini, sesuatu yang aneh. Dan ketika hari itu
Eng Hwa tertawa dan membelai Ci Fang, di sela-sela
pelajaran silatnya maka wanita ini berpikir bagaimana dia
dapat pergi dari situ, karena kebosanan sudah mulai timbul,
diam-diam sudah mulai mempelajari kitab catatan Giam-tohoat
dan dia ingin menyendiri, setelah mendapatkan kitab
catatan secara lengkap. Dan ketika hari itu Ci Fang terpaksa
dilayani dan dia kelelahan, karena semalam melayani tiga
lelaki sekaligus maka Eng Hwa berkata bahwa besok dia tak
mau diganggu.
“Aku akan bersamadhi di kamarku, ingin sendiri. Kalau
ada keperluan datanglah pada hari berikutnya.”
“Kau tak keluar?”
“Tidak, aku lelah, Ci Fang. Aku ingin beristirahat.”
“Kalau begitu kupuaskan dulu diriku. Biarlah hari ini
kita habiskan waktu dengan bersenang-senang!”
Eng Hwa tersenyum. Ci Fang seperti biasa lalu memeluk
dan menciuminya, ganas. Empat hari tak bertemu membuat
pemuda ini seakan kelaparan. Dan ketika esoknya dia tak
mau diganggu dan Eng Hwa minta agar pemuda itu keluar
maka diam-diam wanita ini menemui Ci-ongya, ayah
kekasihnya yang juga sekaligus kekasihnya pula!
“Aku tak mau kau tipu. Cukup sebulan ini kau berjanji.
Nah, berikan kitab catatan satunya, ongya. Atau aku
melapor pada kakakmu bahwa kaulah orangnya yang
mencuri itu!”
Ci-ongya terkejut. Datang-datang Eng Hwa berkata
marah. Memang akhirnya ia mengaku bahwa kitab yang
diberikan baru sebuah, yang lain tak berani diambil karena
itu saja sudah cukup membangkitkan kecurigaan kakaknya,
Coa-ongya. Dan ketika pagi itu si cantik ini datang dan
marah kepadanya maka Ci-ongya terbelalak dan bangkit
dari kursinya.
“Eng Hwa, kenapa kau bicara begini? Bukankah sudah
kuberi tahu bahwa kau harus bersabar? Kitab catatan itu
telah dipindah, Eng Hwa. Dan terus terang aku tak tahu!”
“Tapi kau menyatakan janjimu, berusaha sebulan!”
“Benar, tapi jangan marah-marah, dewiku. Aku telah
berusaha namun sampai hari ini masih belum berhasil.
Sudahlah, ke marilah dan jangan marah-marah!”
Eng Hwa berkelebat. Tiba-tiba dia memaki dan
menampar pangeran ini, yang seketika terjengkang dan
menjerit roboh! Dan ketika Ci-ongya merintih dan kaget
bukan main, karena baru kali ini Eng Hwa menyerangnya
maka gadis atau wanita itu berkata, “Aku tak percaya
mulutmu lagi, ongya. Kau pembohong dan penipu. Aku
akan menghadap kakakmu, minta tukar!”
“Apa… apa maksudmu?”
“Aku akan menukarkan yang sudah kubaca ini dengan
yang lain. Dan berkata bahwa kau yang memberikan!”
“Tidak… tidak…! Jangan, Eng Hwa. Kalau begitu beri
aku waktu seminggu lagi untuk kuusahakan!”
“Aku tak sabar, kau selalu bohong!” dan Eng Hwa yang
gemas meloncat pergi lalu menghadap Coa-ongya dan
menemukan kekasihnya yang satu ini, yang tentu saja
terkejut dan berobah mukanya begitu melihat kitab catatan
di tangan Eng Hwa, kitab yang dikenal!
“Ongya, aku menemukan ini. Barangkali ini yang
kaucari-cari. Benarkah?”
“Beb… benar. Dari mana kaudapatkan itu, Eng Hwa?
Dari mana kaudapatkan? Ah, berikan padaku. Itu
punyaku!” namun Eng Hwa yang tertawa dan terkekeh
mengelak berseru, “Ongya, kitab ini kebetulan saja jatuh ke
tanganku, dan sudah kubaca. Bagaimana kalau kita
sekarang saling tukar-menukar? Aku tertarik isinya, sukalah
kau keluarkan yang satu dan yang ini kuserahkan padamu!”
Coa-ongya terkejut. Eng Hwa tiba-tiba saja bersikap aneh
dan berani, belum pernah wanita itu coba menguasainya.
Tapi begitu. sadar dan mampu mengendalikan hatinya tibatiba
pangeran ini tersenyum dan menekan debaran
jantungnya.
“Eng Hwa, kau adalah kekasihku. Kita sudah bersenangsenang
dan sering bermesraan berdua. Kenapa kau ingin
tukar-menukar? Masalah ini tak pernah kau bicarakan, kini
mendadak saja kau memegang kitab itu. Ah, tanpa tukarmenukar
pun kalau kau ingin membaca tentu aku sedia
memberikannya, Eng Hwa. Tapi sifatnya pinjam!”
“Hm, aku memang ingin pinjam. Bukan bermaksud
mengangkangi. Kau tak marah padaku, ongya?”
“Ah, marah? Ha-ha, terhadap wanita secantik dirimu aku
tak mungkin marah, Eng Hwa. Kau minta kepalaku pun
pasti kuberi. Mari, kuambilkan kitab yang satu itu tapi
berikan itu padaku!”
Eng Hwa ragu, bersinar-sinar. “Aku ingin berhati-hati
dan sebaiknya kita saling memberikan saja. Kau ambil yang
satu itu dan serahkan padaku dan aku memberikan serta
menyerahkan ini padamu.”
“Ha-ha, kau takut? Tak ada alasan, Eng Hwa. Aku tak
bisa silat dan kau tahu itu, tak perlu khawatlr!”
“Benar, tapi… hm!” Eng Hwa tertawa. “Aku perlu
berhati-hati, ongya. Sudahlah ambilkan saja kitab itu dan
ini nanti kuserahkan padamu!”
“Baiklah, kau tunggu sebentar!” dan Coa-ongya yang
tersenyum mengangguk pergi lalu ke dalam dan tak lama
kemudian sudah mengambil sebuah kitab, bentuk dan
sampulnya persis seperti yang dibawa Eng Hwa dan
Siluman Kucing itu berseri-seri. Ah, itu yang diincar! Dan
ketika sang pangeran sudah mendekat dan tertawa meminta
kitabnya maka wanita ini mau menyambar namun sang
pangeran mengelak. “Ha-ha, nanti dulu, Eng Hwa. Berikan
itu padaku!”
“Tidak, berikan itu dulu, ongya. Nanti kuserahkan!”
“Tapi kita harus adil, kau tak boleh menipu. Hayo, kita
sama melempar dan mari sama-sama menerima!” dan
ketika Siluman Kucing tertawa dan mengangguk maka
keduanya sudah melempar dan memberikan kitab masingmasing,
disambut dan diterima dan keduanya sama
memeriksa. Tapi begitu Eng Hwa melihat bahwa
sambungan kitab kedua ini tidak sama dengan kitab
pertama, mengherankan dan membuat dia terkejut maka
Coa-ongya di sana tertawa bergelak memeriksa kitab yang
diberikan Siluman Kucing itu.
“Ha-ha, tidak sama. Aih, mana yang salah mana yang
benar aku jadi tidak tahu, Eng Hwa. Tapi sekarang aku tahu
bahwa maksud kedatanganmu ke mari sebenarnya adalah
untuk kitab ini!” dan ketika Siluman Kucing itu terbelalak
dan mengerutkan kening, tak mengerti maksud si pangeran
tiba-tiba pangeran itu bertepuk tangan dan berkelebatlah di
situ dua bayangan laki-laki. “Mindra, tangkap dan bekuk
siluman betina ini. Kalian benar, dia kiranya adalah Maosiao
Mo-li Siluman Kucing!”
Eng Hwa kaget sekali. Di ruangan itu tahu-tahu
berkesiur dua bayangan biru dan kuning dan muncullah
Mindra dan Sudra, dua kakek India yang amat lihai dan
yang dulu pernah bertemu dengannya, bahkan yang pernah
mengebut dia hingga roboh! Bukan main kagetnya wanita
ini. Dan ketika dua kakek itu tertawa dan menyeringai
padanya, penuh ejekan maka Sudra, kakek kedua itu sudah
berkata,
“Siluman Kucing, selamat bertemu. Kiranya kau ada
maksud merampas kitab!”
“Keparat!” Eng Hwa tiba-tiba berteriak nyaring,
berkelebat ke arah pangeran Coa. “Kalian tak dapat
menangkapku, Sudra. Karena aku akan menangkap
pangeran Coa!” tapi ketika sang pangeran terbahak dan
berkelit di belakang sebuah kursi tiba-tiba terdengar
dentuman dan tembok rahasia muncul menghadang,
menutup dengan cepat dan Siluman Kucing ini hampir saja
tergencet. Tak pelak dia berjungkir balik menendang
tembok rahasia itu dan lenyaplah sang pangeran di balik
dinding tak tampak. Dan ketika suara sang pangeran ikut
menghilang dan tinggallah suara tawa dua orang kakek itu
maka Li Eng Hwa Siluman Kucing ini pucat.
“Coa-ongya, kau manusia keparat. Penipu!”
“Ha-ha, tak tahulah. Entah kau atau aku yang menipu,
Eng Hwa. Tapi sekarang kau hadapi dulu dua pembantuku
itu!” suara sang pangeran tiba-tiba terdengar lagi, entah dari
mana namun gaung suaranya cukup jelas. Eng Hwa tak
sempat mencari karena dua kakek di depannya itu sudah
bergerak, Mindra dengan tawanya yang parau sementara
Sudra dengan bentakan pendeknya. Kedua-duanya
menubruk dan siap menangkapnya. Dan karena lawan tak
mungkin dihadapi karena dia bukanlah tandingannya maka
Siluman Kucing ini tiba-tiba meledakkan granatnya dan
memaki dua kakek itu.
“Kalian tua-bangka-tua bangka busuk.Mampuslah!”
Mindra dan Sudra terkejut. Mereka berseru keras
mengebutkan lengan, granat diterima dan digulung lengan
baju. Namun ketika mereka menangkap dan menggulung
granat, yang tak jadi meledak maka Siluman Kucing itu
melepas lainnya lagi menghantam tembok.
“Dar-dar!”
Ruangan menjadi gelap. Memang inilah yang
dikehendaki Eng Hwa karena wanita itu sudah terbang
menyelinap di bawah ketiak lawan, lolos dan melarikan diri
dan tentu saja dua kakek India itu marah. Mereka belum
apa-apa sudah dikecoh dan siluman betina itu pun kabur.
Dan ketika dua kakek itu menjadi marah dan memukup
asap tebal agar buyar maka keduanya berkelebat melihat
bayangan Siluman Kucing, yang sudah meloncat diluar.
“Berhenti, atau kau mampus!” Sudra melepas cambuk
baja, meledak, dan menjeletar namun Eng Hwa melepas
lagi dua granatnya. Cerdik wanita ini, bukan Mindra atau
Sudra yang dihantam melainkan tanah di depan mereka,
yang seketika meledak dan kembali mengeluarkan asap
tebal. Dan ketika dua kakek itu memaki-maki sementara
Eng Hwa sudah lolos lagi dengan cepat maka di sana
wanita ini mengumpat ketika belasan pengawal tiba-tiba
menghadang.
“Pergi kalian, minggir!”
Pengawal berpelantingan.Mereka itu adalah orang-orang
yang segera datang begitu mendengar keributan. Granat
yang meledak serta bentakan dua kakek India di dalam
mengisyaratkan mereka akan adanya bahaya, sang
komandan sudah membentak dan menyuruh mereka
bergerak. Dan ketika bayangan Eng Hwa sudah mereka
lihat dan wanita itu belum mereka lihat maka tentu saja
mereka menganggap musuh dan langsung diserang,
sayangnya tak mampu dan mereka justeru dipukul balik,
tunggang-langgang dan menjerit sambil berteriak-teriak.
Memang mereka bukan tandingan wanita ini dan Eng Hwa
sudah berkelebat dan melarikan diri lagi, tak mau tertahan
karena dia maklum akan bahaya di belakang, dua kakek
India yang lihai itu. Dan ketika benar saja Sudra maupun
Mindra sudah membentak dan mengejar di belakang maka
wanita ini memaki dan melepas lagi granat-granat tangan.
“Dar-dar!”
Siluman Kucing coba meloloskan diri. Wanita ini
mengumpat dan bersicepat menggerakkan kakinya, untung
hapal jalan-jalan di situ namun dia tak mau lewat bawah,
melayang dan sudah berlarian di atas genteng. Tapi ketika
terdengar dengus seseorang dan entah dari mana mendadak
muncul seorang kakek tinggi besar, yang bukan lain
Yalucang si kakek Tibet maka Eng Hwa terkejut setengah
mati oleh kehadiran kakek ini, yang muncul dan tahu-tahu
sudah ada di depannya seperti iblis.
“Siluman betina, Coa-ongya menyuruhku menangkap
dan membekukmu, bukan membunuh. Menyerahlah dan
kembalikan kitab di tanganmu itu!”
“Jahanam!” Siluman Kucing ini melengklng. “Kaupun
sama dengan Mindra mau pun Sudra, kakek busuk.
Menyerah hidungmu dan kau mampuslah… dar-dar!” Eng
Hwa kembali mengayun granat tangannya, meledak di
depan si kakek dan Yalucang mengelak. Kakek ini
mendengus namun mulutnya tiba-tiba dibuka, mendesis
dan menyemburlah segumpal api menyibak asap tebal yang
dihasilkan granat. Dan ketika Eng Hwa terkejut dan kakek
itu menggeram maka Yalucang sudah menubruk dan
berkelebat marah.
“Menyerahlah!”
Eng Hwa putus asa.
“Kau tak dibunuh,Mao-siaoMo-li.Melainkan ditangkap
dan sekedar menerima hukuman ringan. Atau pangeran
akan gusar dan salah-salah kau bakal dlbunuh…wut-plak!”
Siluman Kucing terlempar, gugup menerima semburan api
kakek itu dan melempar tubuh bergulingan. Apa boleh buat
dia harus ke bawah dan di sana ternyata menunggu dua
kakek India itu, Sudra dan Mindra yang tertawa
menggerakkan lengannya, Sudra bahkan meledakkan
rambut dan tubuh Eng Hwa disengat ujung cambuk, yang
bukan main sakitnya. Dan ketika dia menjerit dan jatuh ke
tanah, langsung menggulingkan diri dan melempar-lempar
lagi granat tangannya tiba-tiba semua granat tangannya itu
sudah dililit cambuk, yang amat lihai menangkap dan
menerima!
“Ha-ha, tak guna lagi, bocah. Hayo menyerah dan
menghadap Coa-ongya!”
Eng Hwa pucat. Kalau tiga orang ini sudah siap di
bawah dan di sana masih banyak terlihat pengawal yang
berlari-lari maka harapan lolos sungguh tipis sekali. Dia tak
bermaksud melakukan perlawanan kecuali meloloskan diri,
itu maksudnya, karena Mindra maupun Sudra bukanlah
lawan-lawan yang dapat dihadapi, apalagi masih ada kakek
tinggi besar yang menyeramkan itu, Yalucang. Dan ketika
dia memaki namun juga mengeluh bergulingan meloncat
bangun maka di Sana tiga orang itu mengejarnya dan Sudra
tertawa-tawa.
“Ha-ha, hayo lepaskan lagi granat-granat tanganmu,
siluman betina. Biar kurampas dan kubuang semua!”
Eng Hwa gelisah. Kalau begini terus-terusan tentu dia
celaka, tiga orang itu sudah mengurung namun dia
mencabut payungnya, menusuk kaki si kakek tinggi besar.
Dan ketika Yalucang mengangkat kakinya dan menggeram
serta menyemburkan apinya lagi mendadak Ci Fang
muncul dan membentak tiga orang itu.
“He, kalian. Berhenti! Apa yang kalian lakukan ini dan
kenapa kekasihku diserang!”
Tiga orang itu terkejut. Ci Fang adalah pemuda
pemberani dan mereka mengenalnya, maklumlah, Ci Fang
adalah keponakan Coa-ongya, majikan mereka. Dan ketika
bentakan itu memberi kesempatan pada wanita ini untuk
melompat bangun maka Ci Fang sudah berkelebat dan
menghadang tiga orang kakek itu.
“Ci Fang, mereka manusia-manusia kurang ajar. Pukul
mereka!”
Ci Fang bergerak. Dia menyerang dan memukul tiga
kakek itu, yang tentu saja menangkis dan Ci Fang pun
tergetar, terhuyung hampir roboh. Namun ketika pemuda
itu marah-marah dan memaki mereka maka Eng Hwa
berkelebat dan melarikan diri.
“Tahan mereka, jangan biarkan mengganggu aku!”
“He!” Ci Fang berseru. “Kau sendiri mau ke mana, Eng
Hwa? Kenapa keluar? Hei, tunggu aku. Jangan lari!” dan Ci
Fang yang bergerak dan mengejar kekasihnya lalu
mendengar seruan Mindra,
“Siauw-ya (tuan muda), dia merampas kitab pamanmu.
Suruh dia menyerahkan kitab itu dan baru kita
membiarkannya pergi!”
“Apa? Dia merampas kitab?”
“Ya, lihat di tangannya itu, siauw-ya. Siluman betina ini
mau melarikan diri setelah mengambil kitab!”
Ci Fang tertegun. Dia melihat kekasihnya memang
membawa kitab namun Eng Hwa sudah cepat
menyembunyikan kitab itu di balik bajunya. Gerakan
menyentuh buah dada ini mendebarkan hati para pengawal
yang tentu saja melotot. Eng Hwa tak malu-malu
melakukan itu dengan membuka bajunya, ketika melewati
pengawal. Dan ketika Ci Fang tertegun namun membentak
dan segera mengejar lagi maka tiga kakek di belakang
berani mengikuti dan berseru,
“Berhenti, atau kami akan merobohkanmu!”
“Benar,” Ci Fang juga berseru. “Berhenti, Eng Hwa.
Atau aku akan menyangkamu buruk dan kau ditangkap!”
“Aku tak mau ditangkap, kitab ini punyaku!”
“Apakah Giam-to-hoat?”
Eng Hwa tak menjawab.
“Hei, kalau betul justeru jangan takut, Eng Hwa. Aku
akan menolongmu dan kita berdua sama-sama pergi, seperti
janji semula!”
Tiga kakek di belakang melengak.Mereka jadi heran dan
mengerutkan kening ketika mendengar itu. Kalau betul
begitu maka justeru putera Ci-ongya ini harus dihajar,
karena jelas mau bersekongkol dengan musuh. Tapi
sebelum mereka melakukan itu dan Eng Hwa di sana
melempar dan membanting pengawal maka sebuah
panggilan membuat wanita ini terkejut, menoleh.
“Sst, tak perlu meroboh-robohkan pengawal, Eng Hwa.
Ke marilah, kutolong..!”
Eng Hwa melihat seseorang di situ. Sebuah kepala
melongok dari balik dinding dan itulah Ci-ongya, ayah
kekasihnya, atau juga kekasihnya, pangeran yang baru saja
dihajar. Dan ketika Eng Hwa ragu dan tertegun melihat Ciongya
menggapai maka adik Coa-ongya itu berseru,
“Hei, di luar ada Pek-mo-ko dan Hek-mo-ko. Jalan
larimu tertutup.Marilah dan ikut aku, lewat jalan rahasia!”
Eng Hwa berjungkir balik. Akhirnya dia tertarik melihat
tawaran ini dan girang menyambut, melayang dan sudah
turun di dekat pangeran itu. Dan ketika ia langsung
menangkap dan mencengkeram leher baju maka dia
membentak, “Kau jangan menipu, atau aku akan
membunuhmu!”
“Ah,” pangeran ini kesakitan. “Kau terlalu, Eng Hwa.
Sudah melaporkan pencurianku masih juga kau tidak
percaya kepadaku. Lepaskan, atau aku tak dapat bergerak!”
“Kau mau bawa aku ke mana?”
“Keluar tentu saja. Bukankah kau ingin menghindari tiga
orang itu?”
“Benar.”
“Nah, mari, Eng Hwa. Di lorong bawah tanah kita bisa
selamat. Tapi beri imbalannya agar kau dapat keluar!” Eng
Hwa terkejut, ganti disambar tangannya dan dicium. Dalam
saat seperti itu ternyata ayah kekasihnya ini masih bernafsu,
dirinya sudah dipeluk dan dadanyapun diremas. Terlalu si
tua bangka ini! Tapi karena dia ingin selamat dan
tersenyum membiarkan itu maka Ci-ongya menekan sebuah
tombol dan mereka tahu-tahu terjeblos ke dalam sebuah
sumur rahasia.
“Hati-hati, pegang aku erat-erat!”
Eng Hwa merasa luncuran yang cepat. Entah berapa
lama dia tak tahu tapi mereka tiba-tiba sudah berada di
sebuah, ruangan bawah tanah, terang dan tidak gelap. Dan
ketika pangeran itu tertawa dan dia melepas pelukannya
maka Ci-ongya terkekeh dan berseru,
“Heh, di bawah sini kita aman, Eng Hwa. Hayo beri
imbalannya sebelum kau benar-benar kuantar keluar!”
“Kau mau apa?”
“Eh, bukankah mau mengantarmu keluar? Eit, jangan
kira aku menipumu, Eng Hwa. Justeru kaulah yang menipu
dan tidak dapat kupercaya! Hayo, lepas bajumu dan kita
bersenang-senang sejenak!”
Eng Hwa gemas-gemas geli. Dia tak bergairah dan saat
itu keinginannya hanya keluar, secepatnya meninggalkan
tempat itu. Tapi ketika Ci-ongya mengingatkan bahwa
tanpa dia tak mungkin dirinya keluar dengan selamat maka
wanita ini tertegun.
“Kaulayani aku dulu, baru semuanya akan beres.
Bukankah kitab yang diberikan kakakku adalah palsu?”
Si cantik terkejut.
“Lihat, aku tahu, Eng Hwa. Dan aku juga membawa
aslinya. Kalau kau mau melayani aku dan baik-baik
bersamaku maka semuanya akan kau peroleh. Buang kitab
itu, itu palsu!”
Eng Hwa tertegun. Ci-ongya sudah mengeluarkan kitab
yang lain dan terdapatlah kitab seperti yang persis di
tangannya, tersentak dia. Dan ketika dia menyambar dan
merampas kitab itu maka Ci-ongya terkejut dan berseru,
“Eng Hwa, jangan macam-macam. Kalau kau merampas
dan membawa lari kitab itu maka aku akan memanggil tiga
orang kakek di luar itu. Atau kakakku akan datang dan kau
terkurung hidup-hidup di tempat ini!”
Eng Hwa melotot. Memang dia menjadi jerih setelah
melihat bahwa di tempat itu kiranya banyak tempat-tempat
rahasia yang tidak diketahui umum. Tadi Coa-ongya
menghilang di balik dinding dan sekarang Ci-ongya ini
amblas di perut bumi, sumur rahasia. Dan karena mengakui
bahwa kakak beradik dua orang pangeran ini adalah orangorang
cerdik yang dapat membuat orang lain celaka kalau
tidak berhati-hati maka EngHwa tertawa, memancing.
“Ongya, jangan menggertak aku. Seandainya aku
membunuhmu di sini dan keluar mencari jalan sendiri tentu
dapat. Kenapa kau menakut-nakuti?”
“Ha-ha, kau mau coba-coba itu? Cobalah, dan lihat
apakah kau dapat keluar tanpa petunjuk jalan, Eng Hwa. Di
sekitar tempat ini tak ada lubang kecuali dinding melulu!”
Eng Hwa tak percaya. Dia melompat dan menghilang
sejenak, membuktikan omongan itu. Dan ketika benar saja
bahwa di sekeliling mereka hanya dinding melulu dan
tampaknya tak ada jalan keluar maka gadis atau wanita ini
tertawa, diam-diam menyembunyikan marahnya.
“Ongya, kau benar. Tapi akupun tak sungguh-sungguh.
Ah, keparat kau! Tempat ini memang dinding melulu dan
mengherankan bagaimana kau mengajakku keluar dari sini.
Apakah kau tak bohong dan dapat membuktikan
omonganmu itu? Awas, jangan kau main-main, ongya.
Atau aku akan membunuhmu dan kita berdua mampus di
sini!”
“Ha-ha, kaukira aku main-main? Ah, kau terlalu, Eng
Hwa. Heran benar bahwa kau masih juga tak percaya
padaku! Sudahlah, aku tak mungkin membohongimu dan
kalau aku bohong tentu kau dapat membunuhku di sini.
Sekarang, apakah kau menepati janjimu untuk melayaniku
bersenang-senang? Kalau mau tentu aku akan membawamu
keluar, tapi kalau tidak tentu saja kau akan tetap tinggal di
sini!”
“Dan membunuhmu!”
“Ah, tak mungkin. Kau tak berani membunuhku kalau
tak ingin keselamatan dirimu terancam. Sudahlah, kau mau
melayaniku atau tidak?”
“Hm!” Eng Hwa tertawa, mendongkol juga. “Kau cerdik,
ongya. Kalau tidak mengenalmu barangkali tak semua
orang tahu kelicikanmu ini. Baiklah, aku mau bersenangsenang
tapi kubaca dulu kitab catatanmu ini. Kalau cocok,
boleh kita teruskan. Tapi kalau tidak, hmm… aku tak mau
bercakap-cakap lagi denganmu dan kau kupaksa untuk
menunjukkan jalan keluar di sini!”
“Ha-ha, kaukira aku bohong? Baiklah, boleh kau baca
kitabku itu, Eng Hwa. Dan buang saja kitab yang kau dapat
dari kakakku!”
Eng Hwa mengangguk. Memang dia penasaran dan
heran serta marah melihat dan mendengar semua Itu. Coaongya
telah menipunya dan baru sekarang dia tahu. Maka
membalik dan membuka-buka halaman kitab itu dia lalu
mencocokkan dan mengecek isinya, memang betul dan
akhirnya dia tertawa. Dan ketika lawan bertanya
bagaimana pendapatnya maka dia mengangguk dan
berkata, “Memang cocok, sungguh tidak salah. Baiklah, aku
melayanimu, ongya. Tapi katakan dulu bagaimana kau
tahu bahwa kitab yang itu palsu!”
“Ah, gampang, Eng Hwa. Aku tahu watak kakakku yang
tak dapat dipercaya. Mana mungkin dia mau memberimu
kitab yang sungguhan? Itu palsu, dan pasti dengan kitab
yang pertama sambungannya tidak cocok!”
“Benar, memang tidak cocok, Dan kitab ini, hmm… dari
mana kaudapatkan? Apakah kau mencurinya pula?”
“Ha-ha, aku mengambilnya untukmu, Eng Hwa. Dan
semua ini sebenarnya atas jasamu juga. Kalau kau tak
mengacau dan membuat ribut di situ tentu aku tak dapat
mengambilnya. Tapi karena kau telah mengacau dan ributribut
di luar maka kakakku lengah dan kitabnya kuambil!”
“Tapi dia juga mempunyai kitab lain!”
“Benar, semata untuk menipu kalau seseorang
menekannya, Eng Hwa. Berjaga-jaga dari segala
kemungkinan buruk kalau hal itu datang!”
“Hm-hm!” Eng Hwa kagum, mengangguk-angguk. “Kau
dan kakakmu sungguh orang-orang luar biasa, ongya. Ah,
kalian memang setan dan siluman jahanam!”
“Ha-ha, kau memaki kami? Eh, saat ini kita bersahabat,
Eng Hwa, bukan musuh. Hayo layani aku dan kita
bersenang-senang!”
Eng Hwa terfwa. Ci-ongya sudah menubruknya dan
menciumi mukanya, dibiarkan dan akhirnya pakaiannya
pun dilepas. Dan ketika dia roboh dan menyambut ciumanciuman
lawannya itu maka mereka berdua sudah
bergulingan dan melepas hawa nafsu. Bagi Siluman Kucing
ini tak jadi soal karena akhirnya diapun terangsang ciumanciuman
ganas itu, terkekeh dan balas mencium lawan dan
lekatlah mereka seperti lintah. Dan ketika setengah jam
kemudian Ci-ongya sudah mendapat kepuasannya dan
wanita ini menepati janji maka Eng Hwa mengenakan
pakaiannya kembali dan melompat bangun.
“Cukup, sudah puas. Lain kali kita lanjutkan dan bawa
aku keluar!”
“Heh-heh, kau tak ingin lagi?”
“Tidak, ini cukup, ongya. Aku tak mau berlama-lama
lagi dan bawa aku keluar dari sini!”
“Baiklah, mari,” dan Ci-ongya yang tertawa bangkit
berdiri akhirnya menyambar pakaiannya pula dan sekali
dua masih menciumi Siluman Kucing itu. Eng Hwa
mengelak dan mendorongnya. Dan ketika dia berkata
bahwa semua permainan itu cukup maka Ci-ongya
menghela napas dan membawanya keluar. Mula-mula dia
menginjak sesuatu di lantai, menekan sebuah tombol dan
terbukalah dinding sumur itu. Dan ketika lorong atau
jalanan berliku mulai mereka lalui naik turun maka Eng
Hwa mengumpat di dalam hati karena jalanan di situ benarbenar
sukar diinga„ Jangankan diingat, menghadapi
tembok-tembok buntu yang sering menghadang mereka saja
sudah cukup memberatkan pikiran, tak gampang baginya
untuk menghapal di mana kira-kira kunci atau tombol
rahasianya. Namun ketika lima belas menit kemudian
mereka sudah menghadapi sinar matahari dan di luar sana
menganga sebuah guha lebar maka Ci-ongya tertawa dan
mengusap pinggulnya.
“Nah, Itu, Eng Hwa. Kau bebas!”
Eng Hwa membalik. Dia tertawa dan siap melepas
sebuah tamparan, sebenarnya sejak tadi menahan-nahan
marah dan ingin menghantam mampus laki-)aki yang telah
menidurinya ini. Tapi begitu melihat lawan memegang
sebuah kelenengan dan berkata bahwa dengan kelenengan
itu Ci-ongya dapat memanggil pengawal atau Sudra dan
kawan-kawannya dalam sekejap maka Siluman Kucing ini
tak jadi menggerakkan tangannya.
“Kau mau apa? Membunuhku? Ha-ha, jangan begitu,
Eng Hwa. Kehangatan tubuh kita berdua masih sama-sama
menempel. Pergilah, dan kutanggung kau selamat. Atau
kelenengan ini akan bergoyang dan sekejap saja kakakku
dan para pembantunya datang!”
“Keparat, siapa mau membunuhmu? Kau cukup tengik,
Ci-ongya. Tapi aku berterima kasih bahwa kitab-kitab
catatan kakakmu telah kudapatkan. Hi-hik, inilah
maksudku sebenarnya, mendekati puteramu dan
mempergunakan dirinya untuk menemukanGiam-to-hoat!”
“Hm, begitukah?” sebuah suara tiba-tiba menguak. “Kau
kejam, Eng Hwa. Kalau begitu kau tak berperasaan. Dan
kau kiranya Siluman Kucing, penipu!”
Eng Hwa membalik. Dia melihat Ci Fang tiba-tiba
muncul di situ, di luar sana. Dan ketika dia terkejut tapi
tertawa berkelebat ke depan tiba-tiba dilihatnya bayangan
dua kakek India dan si tinggi besar itu, kakek Yalucang.
“Maaf, kau kiranya di sini, Ci Fang. Tapi apa boleh buat,
aku harus mengaku. Baiklah, sampai ketemu lagi dan
banyak terima kasih atas semua kesetiaanmu selama ini!”
Eng Hwa melesat di luar guha, terbang dan cepat
mengerahkan ginkangnya karena saat itu bayangan tiga
kakek lihai semakin dekat. Dia tak berani berlama-lama lagi
setelah mereka muncul. Dan ketika wanita itu lenyap dan
Ci Fang mendengus dengan marah maka Coa-ongya datang
dan tertawa-tawa memuji adiknya.
“Ha-ha, kitab itu telah kembali lagi, Ci-te. Siluman
Kucing itu kau pedayai lagi?”
Ci-ongya tertawa. “Dia lumayan, sayang memperdayai
puteraku. Hm, ini kitabmu, kanda. Dan maaf hampir saja
aku teledor!”
“Ah, kau tak melakukan kesalahan. Untung saja kita
waspada. Terima kasih, ha-ha…!” dan Coa-ongya yang
menerima kitab dan menepuk-nepuk pundak adiknya lalu
melihat tiga bayangan kakek-kakek itu. “Sudra, tak perlu
dikejar. Biarkan ia pergi. Ha-ha, Siluman Kucing akan
mempelajari Giam-to-hoat palsu!”
-ooo0dw0ooo-
Jilid : XXI
SUDRA, kakek bersenjata cambuk tertawa. Dia
menjeletarkan cambuknya dengan nyaring ketika tiba disitu,
berkelebat dan saudaranya, Mindra, menyeringai. Dan
ketika Coa-ongya berkata mereka tak usah mengejar wanita
itu maka kakek ini berseru,
“Ha-ha, baik, pangeran. Tapi agaknya kami ingin
memberinya sedikit hajaran!”
“Tak usah, kalian pergi saja dan jaga gedung seperti
biasa. Kami telah mengetahui maksudnya dan untung
semua selamat,” lalu menghadapi Ci Fang yang melotot
disitu pangeran ini berkata, “Ci Fang, lain kali harap hatihati.
Jangan sembrono membawa wanita cantik. Tahukah
kau bahwa dirimu diperalat? Hm, kalau aku tak waspada
tentu keadaan menjadi runyam, Ci Fang. Sebaiknya kau tak
gampang percaya dan selidiki dulu siapa sahabatmu itu!”
Ci Fang mengepal tinju. Kalau dia tidak tahu apa
kiranya maksud kekasihnya itu barangkali dia akan
membela Siluman Kucing mati-matian. Tapi Siluman
Kucing ternyata memperalatnya, ingin memiliki Giam-tohoat
catatan pamannya. Dia dipergunakan dan jadilah dia
kerbau yang dungu. Ah, Eng Hwa benar-benar keparat.
Maka begitu pamannya bicara seperti itu dan dia ditegur
tiba-tiba pemuda ini membalik dan melompat pergi, entah
kemana tapi sang ayah maupun sang paman tidak
memanggil. Coa-ongya hanya tersenyum saja melihat sikap
keponakannya itu.
Dan ketika semua kembali dan catatan Giam-to-hoat
selamat di tangan Coa-ongya maka keributan itu selesai dan
disana Siluman Kucing Li Eng Hwa mempelajari kitab
palsu!
= *d*w* =
“Aduh, keparat kau, Golok Maut. Jahanam kau!
Terkutuk! Ah, kubunuh kau kalau nanti kita bertemu…!”
Seorang wanita berjalan terhuyung-huyung sambil
menangis di tepi jalanan berbatu itu, mengutuk dan
mencaci-maki Golok Maut sementara tangannya yang lain
memegangi atau mendekap perut. Sejak pagi dia menangis
dan bercucuran air mata, jatuh terguling dua kali
dipematang ketika muntah-muntah.
Dan ketika dia bangkit terhuyung lagi dan berjalan
dengan air mata bercucuran tiba-tiba wanita ini yang
bertubuh ramping namun mengenakan kedok tiba-tiba
dikejutkan oleh berkelebatnya sesosok bayangan seorang
pemuda.
“Ha-ha, kau disini, Hek-yan-pangcu? Mengutuk dan
memaki-maki si Golok Maut? Bagus, aku juga benci
padanya dan kita berdua dapat menjadi sahabat!” Hi-ngok,
Si Hidung Belang Bhok-kongcu muncul, datang dan tertawa
dan pemuda hidung belang ini berseri-seri memandang
ketua Hek-yan-pang itu, yang tampak letih dan pucat. Dan
ketika Hek-yan-pang-cu terkejut dan tertegun, berhenti,
maka pemuda itu sudah menyambar lengannya dengan
sikap ceriwis, kurang ajar.
“Tak perlu berduka, ada aku disini.Mari, kita bersenangsenang,
pangcu. Dan Bhok-kongcu akan mengajakmu
melayang ke surga…”
“Plak!” Wi Hong, ketua Hek-yan-pang itu tiba-tiba
meronta, membentak dan melepas satu tamparan tapi
Bhok-kongcu menangkis.
Pemuda itu tentu saja waspada dan cepat mengelak,
melepas tangan lawan. Dan ketika dia tertawa dan. mundur
selangkah, mata berkejap bersinar-sinar maka dia
mengagumi wajah di balik kedok itu, yang pasti cantik.
“Kita tak perlu bermusuhan. Musuh kita sama, Golok
Maut. Kenapa marah-marah, pangcu? Golok Maut
memang jahanam, dia manusia keparat. Aku dapat
mendampingimu dan mencarinya bersama, sama-sama kita
bunuh!”
“Diam kau!” Wi Hong, yang marah dan terkejut melihat
siapa lawannya ini tiba-tiba menggigil. “Kau tak berhak
bicara seperti itu, orang she Bhok. Lekas kau pergi dari sini
atau aku segera membunuhmu!”
“Ha-ha, dengan tubuh lemah dan muka pucat begini? Eh,
tak usah bersombong, pangcu, Aku tahu kau tak seperti
biasanya dan hari ini kau lelah lahir batin. Tamparanmu
tadi menunjukkannya, dan aku tak dapat kau tipu, ha-ha!”
Wi Hong mundur. Tiba-tiba dia menjadi marah namun
juga cemas. Memang, tak dapat disangkal bahwa sesuatu
sedang terjadi padanya. Beberapa hari ini dia muntahmuntah
dan sakit, entah sakit apa dia tak mengerti. Sudah
diberinya obat tapi tak sembuh juga. Kepalanya sering
pening dan badan pun rasanya loyo. Makan tak enak tidur
tak tenteram. Ada gangguan asing yang seumur hidup baru
kali itu dialaminya. Dia muntah-muntah dan empat hari ini
hampir tak terisi nasi, maklumlah, selera makan tak ada dan
dia sama sekali tak tahu gejala apa itu. Maka ketika Bhokkongcu
itu berkata bahwa dia tak seperti biasanya dan
tenaganya memang lemah ketika menampar tadi maka
ketua Hek-yan-pang yang lagi kacau hubungan asmaranya
ini melotot.
Seperti diketahui, terjadi pertengkaran antara wanita
cantik ini dengan Golok Maut, setelah mereka melakukan
hubungan suami isteri. Mereka berdua ternyata sama-sama
jatuh cinta tapi Golok Maut akhirnya marah-marah.
Pemuda itu mengutuk kekasihnya karena perbuatan yang
mereka lakukan merupakan pelanggaran berat bagi sumpah
Golok Penghisap Darah. Seharusnya mereka tak boleh
melakukan itu sebelum musuh-musuh Golok Maut
dibunuh, orang-orang she Coa dan Ci khususnya Coaongya
dan Ci-ongya. Maka ketika sumpah itu turun dan
dari angkasa Golok Maut mendengar suara tanpa rupa
maka permulaan itu menjadi awal permusuhan mereka.
Golok Maut meninggalkan wanita ini, berpisah. Asyikmasyuk
mereka yang baru mereguk nikmatnya madu
asmara tiba-tiba hancur dengan kemarahan GolokMaut itu,
yang sadar setelah semuanya terjadi. Dan ketika hal itu
menyakitkan hati wanita ini dan Wi Hong tentu saja
tertusuk dan marah bukan main maka berakhirnya kisahkasih
mereka menghancurkan wanita ini.
Wi Hong, seperti diketahui, amatlah mencinta Golok
Maut. Golok Maut pun akhirnya ternyata mencinta gadis
baju merah itu dimana semuanya itu timbul setelah Golok
Maut membuka kedok di muka gadis baju merah ini.
Sudah menjadi peraturan di partai Hek-yan-pang bahwa
laki-laki yang membuka kedok ketua atau wakil ketua
haruslah mengawini ketua atau wakil ketua itu, seperti juga
para murid lainnya karena Hek-yan-pang dihuni oleh para
wanita belaka. Mereka rata-rata cantik dan baru Golok
Maut itulah yang membuka kedok ketua, setelah mereka
bertempur dan bertanding hebat, gara-gara
mempertahankan Ci Fang. Dan karena Golok Maut
berkepandaian tinggi dan tak ada satu murid wanita pun
yang mampu menandingi si Golok Maut itu maka Golok
Maut akhirnya membuka kedok Wi Hong secara tak
disengaja. Dan ternyata itu berkelanjutan.
Golok Maut diminta mempertanggung-jawabkan
perbuatannya atau harus membunuh wanita itu, hal yang
tak dapat dilakukan Si Golok Maut karena sebenarnya dia
terguncang oleh kecantikan luar biasa wanita atau gadis
baju merah ini.
Dan ketika dia dikejar-kejar dan cinta memang akhirnya
bersemi dihati Si Golok Maut maka dia menerima namun
celaka nafsu menghanyutkan keduanya. Golok Maut mulamula
bingung ketika dia dipaksa mengawini gadis baju
merah itu. Dia teringat akan sumpah Golok Penghisap
Darah bahwa tak boleh dia menikah kalau semua musuhmusuhnya
belum dihabisi, inilah yang menyebabkan dia
melarikan diri dari markas Hek-yan-pang itu ketika dimintai
tanggung jawab.
Bukan masalah takut atau apa melainkan semata teringat
akan sumpah dari Golok Maut itu, yang dibawanya. Tapi
ketika dia menyerah dan Wi Hong diterimanya, mabok dan
ternina-bobok oleh asmara yang demikian nikmat tiba-tiba
dia lupa akan sumpah itu dan melanggarnya. Wi Hong
dianggap penggoda tak tahu malu dan gadis atau wanita
baju merah ini tentu saja marah. Wi Hong tak tahu akan
sumpah yang mengikat kekasihnya dan tentu saja dia
terkejut sekali. Golok Maut tiba-tiba marah kepadanya dan
mengutuk dia habis-habisan, padahal dia tak tahu apa-apa
dan rela menyerahkan segalanya pada orang yang
dicintanya itu. Maka begitu pertengkaran diantara mereka
terjadi dan Golok Maut akhirnya pergi meninggalkannya
maka Wi Hong berbulan-bulan menangis dan terhuyung
sepanjang jalan, kaget dan marah akan sikap kekasihnya itu
dan tentu saja perasaannya hancur. GolokMaut dinilai tak
bertanggung jawab dan semua kata-katanya dianggapnya
sebagai dalih untuk melepaskan tanggung jawab. Wi Hong
malah salah sangka dengan menganggap Golok Maut
mengada-ada. Habis manis sepah dibuang! Maka ketika
hari itu dia bertemu dengan Bhok-kongcu dan si Hidung
Belang ini tertawa mengganggunya mendadak Wi Hong
menjadi beringas dan merah padam.
“Orang she Bhok,” katanya sekali lagi. “Jangan mencari
penyakit dan pergilah. Aku tak main-main dan kali ini
benar-benar akan membunuhmu kalau kau
menggangguku!”
“Ha-ha!” pemuda itu tertawa bergelak. “Aku justeru tak
mau pergi kalau kau mengusirku, nona. Tapi kalau kau
mau kutemani dan kita bersama-sama mencari si Golok
Maut itu maka barulah aku pergi kalau nanti sudah bosan!”
“Sing!” sebatang pedang tiba-tiba berkelebat menyambar,
cepat dan ganas.
“Kau benar-benar minta mati, orang she Bhok. Kalau
begitu baiklah, terima ini dan kuantar kau ke neraka!” dan
Wi Hong yang sudah mencabut pedangnya berkelebatan
kesana-sini tiba-tiba menggerakkan pedangnya itu bagai
harimau haus darah, tak kenal ampun dan menusuk atau
menikam dan Bhok-kongcu itu tentu saja mengelak.
Si Hidung Belang ini terkejut tapi tertawa menyeringai,
berkelebatan dan mengimbangi kecepatan pedang yang
menyambar-nyambar dari segala penjuru. Tapi karena dia
yakin bahwa tenaga pemiliknya taklah sehebat seperti biasa
maka ketika pedang menusuk tenggorokan dengan berani
dia menangkis.
“Tring!”
Benar saja, pedang terpental. Wi Hong terkejut karena
tenaganya tak seperti biasa dan tangkisan kuku jari lawan
mampu mementalkan pedangnya. Dan ketika dia
membentak dan menyerang lagi dengan ganas maka Bhokkongcu
itu menangkis dan mengelak sana-sini.
“Tring-tring!”
Wi Hong pucat. Entah bagai mana tiba-tiba dia merasa
lemah dan perut yang mulas tiba-tiba kambuh kembali. Wi
Hong ingin muntah namun saat itu ditahannya, bergerak
dan membentak lawan dan ditikamnya si Hidung Belang itu
dengan penuh kemarahan. Tapi ketika isi perut bergolak
dan lawan lagi-lagi menangkis tiba-tiba dia muntah dan
lawan terkejut karena muntahan itu menyemprot mengenai
bajunya.
“Uah…!”
Si Hidung Belang terbelalak. Dia melihat ketua Hek-yanpang
itu limbung dan tiba-tiba roboh, menangis dan
memegangi perutnya yang entah kenapa. Heran dia. Tapi
karena saat itu justeru merupakan saat yang bagus dan
Bhok-kongcu terbahak tiba-tiba pemuda ini berkelebat
menotok lawan.
“Ha-ha, sekarang habis kesombonganmu, pangcu.
Robohlah dan menyerahlah… ..!”
Tapi ketika dia bergerak dan lawan terkejut
memandangnya, tak mampu mengelak tiba-tiba bayangan
hitam berkelebat dan membentak pemuda she Bhok itu dari
belakang.
“Hi-ngok, jangan macam-macam. Kaulah yang
mampus… singg!”
Bhok-kongcu terkejut. Dari belakang menyambar
sebatang pedang lain dan punggungnya menerima tusukan
ganas. Dari tusukan ini dia tahu bahwa lawan yang
berbahaya sedang menyerang, terkesiap pemuda itu. Dan
ketika dia membalik dan apa boleh buat harus menangkis
serangan itu sambil mencabut ikat pinggangnya tiba-tiba si
Hidung Belang ini telah membentak dan membalikkan
tubuh.
“Plak-plak!”
Bhok-kongcu terpental. Bayangan hitam terhuyung
sejenak dan pemuda itu berjungkir balik, kaget melihat
seorang gadis lain berkedok hitam telah berdiri disitu, mata
berapi-api. Dan ketika pemuda itu tertegun dan berjungkir
balik melayang turun maka Wi Hong, yang roboh dan
lemas ditanah tiba-tiba berseru girang,
“Cu-moi (adik Cu)…!”
Gadis itu, yang dipanggil dan menoleh tiba-tiba
mengangguk. Dia memang Swi Cu adanya, wakil ketua
sekaligus adik seperguruan Wi Hong, yang mencari dan
menemukan sucinya (kakak seperguruan) disitu. Maka
begitu Wi Hong memanggilnya dan panggilan itu begitu
lemah tiba-tiba Swi Cu berkelebat dan menolong ketuanya
ini.
“Suci, kau kenapa? Kau luka?”
“Tidak,” Wi Hong menangis. “Tapi… tapi… entahlah,
aku tak tahu, Cu-moi. Akhir-akhir ini aku pusing-pusing
dan muntah-muntah. Golok Maut mempermainkan aku,
dan kini buaya ini juga mau menggangguku!”
“Tenanglah,” Swi Cu mengerotokkan buku-buku jarinya.
“Aku akan menghajar Si Hidung Belang ini, suci. Aku
mencari-carimu dan kebetulan kita bertemu disini. Golok
Maut mencari dirimu di markas, marah-marah dan
mengamuk. Aku hampir saja dibunuhnya!”
“Apa?”
“Benar, dia marah-marah, suci. Entah kenapa. Markas
kita diobrak-abrik dan dia memaki-makimu.”
“Ooh…!” dan Wi Hong yang menangis mengepalkan
tinju tiba-tiba berteriak, “GolokMaut, kau sungguh laki-laki
keparat. Sudah mempermainkan aku masih juga
mengganggu markasku. Ah, kubunuh kau. Terkutuk
kau…!”
Namun Wi Hong yang tersedak dan batuk serta muntahmuntah
tiba-tiba mengejutkan Swi Cu karena ketua atau
sucinya ini terguling roboh, lemas oleh penyakit aneh dan
mengeluh menyatakan pusing-pusing.
Pada saat itu Bhok-kongcu tertegun disana, mendengar
percakapan dua enci adik itu. Tapi ketika Wi Hong
terguling dan pemuda hidung belang ini bersinar-sinar
memandang Swi Cu, gadis yang baru datang tiba-tiba dia
menyeringai dan menubruk gadis itu dari belakang, melepas
pukulan diam-diam, dalam satu kilatan mata yang keji.
“Wut!”
Swi Cu lupa. Gadis ini tak menyadari bahaya karena saat
itu perhatiannya tercurah pada sang suci, Wi Hong,
menolong dan membantu sucinya itu duduk. Tapi karena
saat itu Wi Hong kebetulan melihat serangan ini dan tentu
saja gadis baju merah itu terkejut tiba-tiba Wi Hong
berteriak,
“Awas!”
Swi Cu sadar, Angin pukulan Bhok-kongcu akhirnya
terdengar juga, dalam detik yang terlambat.Maka kaget dan
mengeluh tertahan tiba-tiba Swi Cu mengelak dan marah
oleh serangan curang ini.
“Dess!”
Dia terkena juga. Swi Cu mencelat terguling-guling
karena angin pukulan Bhok kongcu menyerempet
pundaknya, pedas dan pedih dan Swi Cu gusar. Bhokkongcu
tertawa tapi menyeringai kecewa, melotot pada Wi
Hong yang memberi tahu adiknya. Maka ketika Swi Cu
bergulingan mengeluh di sana dan gadis baju hitam itu
memakinya maka si Hidung Belang yang gagal pukulannya
ini tiba-tiba menubruk dan meneruskan serangannya pada
Wi Hong.
“Kutangkap kau…!”
Wi Hong terkesiap. Dia dalam keadaan lemah dan
tenaga serasa habis. Entah kenapa dia merasa tubuhnya
begitu lunglai dan tentu saja tubrukan atau serangan itu tak
dapat ditangkis. Jangankan ditangkis, dielak saja dia tak
sanggup dan Wi Hong mengeluh pucat. Dan ketika
tubrukan itu datang dan gadis ini berusaha miringkan
tubuhnya maka sebuah tamparan mengenai lehernya.
“Plak!”
Wi Hong menjerit pingsan. Pukulan atau tamparan
Bhok-kongcu tadi cukup keras baginya, tak tahan dia.
Namun ketika Bhok-kongcu terbahak dan mau menyambar
tubuh itu tiba-tiba Swi Cu membentak dan gadis itu
melontar pedangnya yang mendesing dibelakang punggung
lawannya.
“Jangan sentuh suciku!”
Bhok-kongcu terkejut, Terpaksa apa boleh buat dia
membatalkan niatnya, membalik dan menangkis timpukan
pedang yang luar biasa cepat itu. Dan ketika pedang
tersampok runtuh namun dia terhuyung mundur maka Swi
Cu sudah berkelebat dan menyambar pedangnya dari atas
tanah.
“Kau jahanam keparat!”
Bhok-kongcu menyeringai. Untuk detik berikutnya dia
sudah diserang gadis baju hitam ini, ganas dan cepat dan
tentu saja dia mengelak sana-sini. Tapi ketika pedang
menyambar kian cepat dan sinar yang bergulung-gulung
naik turun mengelilingi dirinya tiba-tiba bahunya terbabat
robek.
“Bret!”
Bhok-kongcu sadar. Tiba-tiba dia terkejut bahwa yang
dihadapi kali ini adalah gadis yang penuh tenaganya, tidak
seperti Hek-yan-pangcu yang pada mulanya memang tak
enak badan, sedang menderita sakit. Maka ketika Swi Cu
berteriak lagi dan melengking-lengking melakukan tusukan
atau bacokan cepat akhirnya pemuda she Bhok ini tak bisa
mengelak saja, mau tak mau harus mencabut senjatanya,
ikat-pinggangnya itu.
“Plak-cringg!”
Swi Cu menjadi gusar. Lawan mencabut senjatanya dan
pedangnya tertolak terpental, membalik dan menyerang lagi
namun ikat-pinggang di tangan lawan kini menjeletarnjeletar
menyambut pedangnya itu. Dan ketika gadis ini
berteriak dan pedang serta ikat-pinggang berkelebatan
menjadi satu tiba-tiba Swi Cu melakukan bentakan tinggi
dan tangan kirinya bergerak menyambar.
“Dess!” Ang-in-kang, Pukulan Awan Merah tiba-tiba
menghantam lawannya itu. Bhok-kongcu terkejut dan
terdorong beberapa tindak, tadi tak menduga dan dia
terkena pukulan itu. Tapi karena pemuda ini memang kuat
dan Ang-in-kang hanya membuatnya tergetar dan terdorong
saja tiba-tiba pemuda itu tertawa bergelak menggerakkan
tangan kirinya pula.
“Ha-ha, pukulan Awan Merah, nona? Bagus, kita samasama
memiliki pukulan bersinar merah. Lihat, akupun juga
punya …. plak-dess!” dan tangan kiri Bhok-kongcu yang
bergerak dan menyambut pukulan di tangan kiri lawan tibatiba
meledak dan mengeluarkan suara keras, mengejutkan
Swi Cu karena sinar merah di tangan lawannya itu
mengeluarkan bau amis.
Kagetlah gadis ini, juga marah. Dan ketika Ang-in-kang
disambut dan selalu bertemu dengan tangkisan-tangkisan
lawan yang juga serupa namun amis dan lebih berbahaya
sadarlah Swi Cu bahwa lawan mempergunakan pukulan
beracun.
“Ang-tok-kang (Pukulan Racun Merah)!”
“Ha-ha, cocok!” Bhok-kongcu berseru terbahak.
“Memang benar, nona. Dan kini Ang-tok-kang bertemu
Ang-in-kang. Aih, seharusnya kita tak usah bertempur
melainkan bersahabat. Ha-ha…!” dan Bhok kongcu yang
terbahak dan tertawa bergelak tiba-tiba melingkarkan ikatpinggangnya
dan menggubat pedang Swi Cu, menarik dan
membetot dan Swi Cu terkejut.
Saat itu dia menyerang tapi lawan menangkis,
menggerakkan ikat-pinggangnya itu dan melingkar dari
atas. Dan ketika pedang tergubat ujungnya dan tarikmenarik
diantara mereka tentu saja terjadi maka Bhokkongcu
tiba-tiba melepas Ang-tok-kangnya dengan tangan
kiri itu.
“Dess!”
Swi Cu terpaksa menyambut, apa boleh buat harus
menggerakkan tangan kirinya pula dan kini kedua tangan
mereka menempel.
Bhok-kongcu tertawa bergelak dan jari-jari tangan lawan
yang lembut diusapnya, diremas dan Swi Cu tentu saja
mendelik. Gadis itu tak dapat melepaskan tangannya
karena baru saja menangkis, bertemu dan lawan secara
kurang ajar ternyata kini meremasnya, terbahak tapi tentu
saja Ang-tok-kang terus mengalir dari lengan pemuda itu,
ditahan dan disambut Ang-in-kang namun Swi Cu
terguncang lebih dulu, yakni ketika lawan mengusap dan
meremas jari-jarinya itu, dengan sikap kurang ajar. Dan
karena hal ini memecah perhatiannya karena kemarahan
luar biasa membuat gadis itu serasa meledak maka tiba-tiba
dia terdorong ketika Ang-tok-kang maju menerjang.
“Hek!”
Swi Cu mendelik. Saat itu dia sadar dan cepat
mengerahkan tenaganya kembali, bertahan. Namun karena
tadi sudah kalah satu detik dan hal itu cukup membuat dia
berada di posisi yang buruk maka gadis ini terdesak ketika
lawan juga menambah tenaganya, jari-jari lawan mengusap
semakin kurang ajar dan memanaskan hati!
“Ha-ha, kau menyerah, Cu-moi. Dan kita berbaik. Aih,
aku jatuh cinta padamu dan langsung ingin menikah!”
Bhok-kongcu tahu kedudukan lawan, mengeluarkan katakata
kurang ajar dan tertawa terbahak-bahak.
Dia menirukan panggilan Wi Hong tadi kepada gadis ini,
menyebutnya dengan mesra tapi ceriwis, hal yang membuat
Swi Cu jadi merah padam dan buyar pemusatan
perhatiannya. Dan ketika gadis itu membentak namun
kalah dulu tiba-tiba dia terjengkang ketika lawan
mendorong.
“Bress!”
Swi Cu terguling-guling. Gadis ini mengeluh dan pedang
di tanganpun terlepas. Bhok-kongcu secara cepat
mendahuluinya tadi, menambah Ang-tok-kang dan pukulan
Awan Merahnya terdesak, kalah dan tertindih. Dan ketika
gadis itu terjengkang dan merasa dadanya sesak maka
Bhok-kongcu menyambar dan berkelebat menotok buah
dadanya!
“Ha-ha, sekarang kita bersenang-senang, Cu-moi. Aih,
alangkah nikmat mendapatkan dua kakak beradik
sekaligus!”
Namun, ketika pemuda hidung belang itu bergerak dan
siap merobohkan lawan, karena Swi Cu tak mungkin
menangkis lagi karena sedang terguling-guling dan sesak
dadanya tiba-tiba berkelebat bayangan putih. Bayangan ini
bergerak jauh lebih cepat daripada pemuda she Bhok itu,
berkelebat dan tahu-tahu sudah mencengkeram bahu si Hingok
ini. Dan ketika Bhok-kongcu terkejut dan terpekik
kesakitan tiba-tiba dia terbanting dan sebuah bentakan
terdengar di situ, dingin menyeramkan,
“Orang she Bhok, jangan mengganggu wanita. Pergilah!”
Bhok-kongcu terlempar. Dia tadi serasa diserang setan
dan hanya Golok Maut sajalah yang mampu berbuat itu,
karena dulu dia pernah mengalami hal serupa. Dan ketika
dia menjerit dan sudah menyangka si Golok Maut, lawan
yang paling ditakuti tiba-tiba orang she Bhok ini tertegun
karena disitu berdiri seorang pemuda lain yang bukan
GolokMaut, seorang pemuda berbaju putih.
“Beng Tan…!”
Yang berteriak itu adalah Swi Cu. Wakil ketua Hek-yanpang
ini girang bukan main ketika melihat siapa yang
datang, bukan lain memang Beng Tan adanya. Dan ketika
pemuda itu mengangguk dan Bhok-kongcu juga mengenal
maka si Hi-ngok si Hidung Belang ini pucat mukanya.
“Ah, kau?”
Bhok-kongcu tiba-tiba gemetar. Pemuda lihai yang
dikenalnya sehebat Golok Maut itu tiba-tiba membuat dia
pias, tak ayal membalikkan tubuh dan tiba-tiba meloncat
pergi, terbang meninggalkan lawan. Dan ketika Beng Tan,
pemuda itu tak mengejarnya melainkan menolong Swi Cu
maka gadis baju hitam ini menangis dan menubruk pemuda
baju putih itu.
“Ah, kau… kau, in-kong. Terima kasih!”
“Hush, apa-apaan ini? Bangunlah, Swi Cu. Dan jangan
bercanda “
Swi Cu, sumoi dariWi Hong itu girang bukan main. Dia
mengguguk tapi segera menciumi Beng Tan.
Mereka adalah kekasih dan seperti diketahui di muka
sebenarnya dua orang ini pergi bersama-sama,
meninggalkan Hek-yap-pang. Tapi karena di tengah jalan
Beng Tan ke kota raja sebentar untuk suatu keperluan maka
mereka berpisah sejenak dan Swi Cu kebetulan melihat
pertandingan sucinya dengan Hi-ngok si Hidung Belang itu,
menolong sucinya tapi Bhok-kongcu ternyata lihai. Hampir
saja dia celaka. Dan ketika Beng Tan muncul lagi disitu dan
tentu saja dia gembira maka Swi Cu ter’upa Danggilannya
karena teringat peristiwa ketika Beng Tan dulu
menolongnya dari tangan si GolokMaut, wajah berseri-seri
dan kini dipeluk pemuda itu, mendapat ciuman sekali di
pipi.
“Hm, apa yang terjadi, Cu-moi. Bhok-kongcu itu
mengganggumu? Dan eh , itu sucimu.” Beng Tan tiba-tiba
baru melihat Wi Hong disitu, pingsan di atas tanah karena
tadi hampir hanyut oleh keberduaannya dengan Swi Cu.
Mereka sekarang bertemu lagi dan Beng Tan tentu saja
terkejut, melihat Wi Hong yang pingsan. Dan ketika dia
melepas kekasihnya untuk berkelebat ke arah Wi Hong
maka Swi Cu juga sadar dan berkelebat menyusul
disampingnya.
“Benar, aku bertemu orang she Bhok itu justeru karena
melihat suciku disini, koko. Tadi dia bertanding tapi aneh
sekali suciku tiba-tiba roboh, seolah kesakitan!”
“Hm, mari kita sadarkan dulu. Lain-lain akan terjawab
sendiri,” dan ketika Beng Tan menotok serta menolong Wi
Hong maka wanita atau gadis baju merah itu sadar.
“Ooh. !” Wi Hong membuka mata. “Dimana kau, Cumoi’
Dan dimana keparat Bhok-kongcu itu?”
“Aku disini,” Swi Cu memegang sucinya dengan
khawatir. “Kau tak apa-apa, suci, Kau masih pusingpusing?”
“Benar, aku… ah.” Wi Hong terkejut, membuka matanya
dan melihat Beng Tan disitu, terbelalak. “Siapa…. siapa ini?
Dia menolongku?” wanita itu tiba-tiba bangkit, terhuyung
dan merah padam. “Keparat, tak boleh ada laki-laki
menyentuh tubuhku, Cu-moi. Kau tahu itu!” dan Wi Hong
yang bergerak serta menghantam Beng Tan tiba-tiba
diterima dan dibiarkan Beng Tan, yang tentu saja
mengejutkan Swi Cu, kekasihnya.
“Suci…. dess!” pukulan sudah mengena, mendarat
namun Beng Tan tentu saja tidak apa-apa.
Pemuda ini telah mengerahkan sinkangnya dan Wi Hong
malah terbanting, kaget berteriak tertahan. Dan ketika
sumoinya berkelebat dan menolong sang enci maka Wi
Hong tertegun melihat adik atau sumoinya itu tersedu-sedu.
“Jangan… jangan serang dia. Dia…. dia calon suamiku,
kekasihku!”
“Apa?” Wi Hong tersentak, kaget membelalakkan mata.
“Kau… kau sudah berhubungan dengan lelaki? Kau…. plakplak!”
dan Wi Hong yang tiba-tiba menampar dan membuat
Swi Cu terpelanting tiba-tiba menjadi marah dan kecewa
teringat penderitaannya sendiri. Menganggap laki-laki
adalah pendusta belaka dan mereka tu “penyakit” bagi
wanita.
Wi Hong terguncang dan entah kenapa menjadi marah
dan panas mendengar kata-kata sumoinya. Semacam
perasaan cemburu dan iri mengganggu dirinya saat itu.
Maka begitu sumoinya menerangkan dan dia marah serta
menampar sumoinya itu maka Wi Hong bangkit dan
berapi-api menghadapi Beng Tan, yang membuatnya
terkejut oleh kelihaiannya tadi tapi sama sekali tidak
membuat ketuaHek-yan-pang ini takut, apalagi gentar!
“Jahanam, siapa namamu? Kau telah merayu dan
memikat sumoiku? Kau mau menipunya dan berbuat
seperti yang lain-lain? Ah, kubunuh kau. Laki-laki tak dapat
dipercaya… wut!” dan Wi Hong yang membentak lagi
menerjang maju tiba-tiba melepas pukulan namun kali ini
dikelit oleh Beng Tan, dibentak dan diserang lagi namun
Swi Cu menjerit-jerit disana.
Gadis baju hitam ini meloncat bangun dan mencegah
encinya menyerang Beng Tan. Tapi ketika Wi Hong
membalik dan menghantam dirinya tiba-tiba Swi Cu
mengeluh dan terbanting roboh.
“Pergi kau…, dess!”
Beng Tan mengerutkan kening. Segera pemuda ini
menjadi terkejut melihat ketidak wajaran sikap ketua Hekyan-
pang itu.
Wi Hong mendesis-desis padanya dan mata gadis atau
wanita itu memancarkan api. Dendam dan kebencian tak
dapat disembunyikan disitu, Beng Tan melihatnya jelas.
Dan ketika dia berkelit sana-sini sementara Swi Cu
berteriak-teriak agar sucinya tak menyerang tiba-tiba Wi
Hong membentak dan melepas Ang-in-kang
“Roboh kau!”
Beng Tan menangkap. Tiba-tiba dengan cepat dia
menerima pukulan itu, menampar dan menangkis. Dan
ketika Wi Hong menjerit dan terlempar roboh, tergulingguling
tiba-tiba ketua Hek-yan-pang itu muntah-muntah.
“Keparat, kau bersekongkol dengan pemuda jahanam ini,
Swi Cu. Kau tak dapat kubela. Ah, kalian terkutuk.
Kubunuh kalian nanti… huak!” dan Wi Hong yang
menghentikan kata-katanya terguling roboh tiba-tiba
muntah-muntah dan penyakit lamanya kumat, mengeluh
dan mengglgit bibir dan tiba-tiba gadis itu menangis. Dan
ketika Beng Tan tertegun melihat gadis atau ketua Hek-yanpang
itu mendekap-dekap perutnya maka Swi Cu
mengguguk menubruk encinya.
“Tidak…. tidak, enci. Aku boleh kau bunuh tapi dia
jangan. Kau salah paham, kau sedang dilanda dendam. Ah,
tenanglah, enci. Tenanglah…. plak!” namun sebuah pukulan
yang membuat Swi Cu terlempar dan terbanting
bergulingan akhirnya membuat Beng Tan tak tahan lagi,
marah dan memaki Wi Hong serta cepat menolong
kekasihnya. Swi Cu mengguguk dan menangis tak keruan.
Dan ketika disana encinya juga menangis namun mendekap
perut serta muntah-muntah maka Beng Tan menjadi curiga
dan cepat berbisik di telinga Swi Cu,
“Dia agaknya mengalami kelainan. Ada sesuatu yang
tidak wajar terjadi di dalam tubuhnya. Coba dekati dan
totok dia, Cu-moi. Atau aku akan merobohkannya dan
memeriksa!”
“Kau… kau bilang apa?” Swi Cu tak mendengar,
menangis tersedu-sedu.
“Kau dekati dia, totok dan robohkan!”
“Tapi..,. tapi…” gadis ini mengguguk. “Suciku marahmarah,
Tan-ko. Sebelum aku dekat tentu dia
menyerangku!”
“Kalau begitu….” Beng Tan tiba-tiba terkejut, mendengar
desing sebuah pedang yang ditimpukkan kebelakang
punggungnya. “Aku yang akan melakukannya, Cu-moi.
Dan maaf terpaksa dia kurobohkan …. plak!” dan pedang
yang ditangkis pemuda ini tanpa menoleh tiba-tiba runtuh
terpukul dan Beng Tan berkelebat ke arah Wi Hong, tadi
disambit dan dia melihat ketua Hek-yan-pang itu berapi-api
padanya.
Wi Hong mendesis dan rupanya mendengar katakatanya
tadi, marah dan menyerang dari belakang. Tapi
ketika pedang terpukul ke tanah dan Wi Hong kecewa tibatiba
pemuda itu telah berkelebat dan menotoknya roboh.
“Maaf, kau mengalami gangguan, pang-cu. Robohlah
dan jangan menyerang!”
Wi Hong tak dapat mengelak. Diserang Bhok-kongcu
saja dia tak dapat menghindar, apalagi pemuda yang jauh
lebih lihai ini. Maka begitu dia mengeluh dan roboh
tertotok maka Beng Tan telah menyambar tubuhnya
memeriksa denyut nadi.
“Kau… jahanam!” Wi Hong gemetar. “Terkutuk kau,
pemuda setan. Keparat kau!”
“Tenanglah,” Beng Tan tak perduli, sudah menghitung
detak jantung. “Kau terguncang oleh sesuatu yang sangat,
pangcu. Agaknya oleh Golok Maut. Hm, nadimu cepat
sekali. Dan…. he!”
Beng Tan tertegun, pucat dan berobah mukanya dan
tiba-tiba saat itu lagi-lagi Wi Hong muntah. Tanpa dapat
dicegah baju pemuda ini kena semprot, Beng Tan agaknya
tak berniat untuk mengelak pula. Dan ketika pemuda itu
terkejut dan mundur melepaskan tangan lawannya maka
Swi Cu terisak berkelebat menghampiri.
“Apa yang kau rasa, Tan-ko? Berbahaya?”
“Tidak, dia… dia…” Beng Tan gugup, muka tiba-tiba
merah dan Swi Cu membelalakkan mata. Gadis ini heran
kenapa Beng Tan tidak meneruskan kata-katanya. Dan
ketika disana Wi Hong mendesis dan memaki pemuda itu
maka Swi Cu berlutut dan memeluk encinya, menangis.
“Suci, dia… dia Beng Tan. Dialah yang menyelamatkan
aku dan seluruh murid kita dari amukan GolokMaut. Beng
Tan mencintaiku, dan akupun mencintainya.Maaf, aku tak
sempat memberitahumu karena kau pergi, suci. Tapi
sekarang kuberi tahu dan harap kau tidak marah.”
“Kaupun jahanam!” Wi Hong membentak, mengejutkan
sumoinya. “Perkumpulan kita tak boleh didekati lelaki, Swi
Cu. Tapi kau melanggar, keparat!”
“Ah,” Swi Cu tersentak, mundur membelalakkan mata.
“Kaupun melanggar, suci. Kaupun mencintai Golok Maut
dan mencari-carinya! Kau… kau…”
“Diam!” sang suci marah. “Golok Maut adalah
musuhku, Swi Cu. Dia musuh kita semua. Aku…. aku benci
padanya!” dan Wi Hong yang menangis dan mengguguk
tak dapat menahan diri akhirnya dipeluk dan membiarkan
mukanya terbenam di dada sang sumoi, tak tahu saat itu
Beng Tan merah terbelalak memandangnya, mau bicara
tapi ragu, seolah ada sesuatu yang mengganggu, berat
dikatakan. Tapi ketika dia batuk-batuk dan Swi Cu teringat,
menoleh, tiba-tiba gadis itu berkelebat menyambar
lengannya.
“Tan-ko, apa yang terjadi? Ada apa dengan suciku? Kau
tampak bingung, mau bicara tapi tak jadi!”
“Benar, aku… hm… hm!” Beng Tan merah dan gugup.
“Ada sesuatu yang hampir tak kupercaya, Swi Cu. Sucimu
itu… sucimu itu…”
“Kenapa? Ada apa dengan dia?”
“Aku… aku takut mengatakan. Jangan-jangan kau
marah!”
“Ah, gila. Kita sudah bukan orang lain, Tan-ko. Katakan
dan tak mungkin aku marah!”
“Dia…. dia…” Beng Tan masih ragu. “Ah, sebaiknya
bawa dia ke bidan, Cu-moi. Periksakan saja disana.”
“Apa?” Swi Cu terkejut, bagai disengat listrik. “Bidan?
Maksudmu. ..?”
“Benar, dia hamil, Cu-moi. Sucimu itu hamil tapi
barangkali bisa juga aku salah periksa!”
“Astaga!” Swi Cu mencelat, kaget bagai disambar petir.
“Kau. . .kau jangan main-main, Tan-ko. Ini masalah besar
dan bisa berupa penghinaan!”
“Maaf, kalau begitu biar kau tanya sucimu itu, Cu-moi.
Aku pergi dulu dan kalian bicaralah!” Beng Tan berkelebat,
akhirnya meninggalkan Swi Cu dan tertegunlah Swi Cu
disitu.
Gadis ini merah padam dan kalau bukan Beng Tan yang
bicara tentu dia sudah mengamuk dan menerjang.
Bayangkan, sucinya, yang masih gadis dan selama ini
diketahuinya sebagai perawan ting-ting tiba-tiba saja
dikatakan hamil! Swi Cu pucat dan dia berdiri sampai
mendelik. Tapi ketika Beng Tan menyuruhnya bicara dan
itu memang betul akhirnya gadis ini membalik dan
menyambar encinya itu, yang masih menangis.
“Suci…” gadis ini gemetar. “Bolehkah kutahu apa yang
terjadi diantara dirimu dengan si Golok Maut itu? Kenapa
dia marah-marah dan mengamuk di markas? Apa yang
terjadi?”
“Dia… dia…” Wi Hong mengguguk, sakit hatinya. “Dia
menghina aku, Cu-moi. Dia… dia manusia jahanam!”.
“Dia mengganggumu? Dia memperkosamu?”
“Apa?” Wi Hong tersentak, berjengit kaget.
“Maaf,” Swi Cu merah padam, menahan diri. “Kau
dinyatakan hamil, suci. Beng Tan memeriksa denyut
nadimu dan kau katanya hamil!”
Wi Hong menjerit. Gadis baju merah ini tiba-tiba roboh
dan mengeluh panjang pendek, suaranya tak jelas tapi tibatiba
dia mengguguk, tersedu-sedu. Dan ketika Swi Cu
terkejut dan tentu saja terkesiap maka gadis ini melihat
sucinya memukul-mukul kepala sendiri.
“Oh, jahanam keparat. Kau bunuhlah aku, Swi Cu. Kau
bunuhlah aku dan cari pemuda terkutuk itu. Golok Maut
menghinaku. Dia… dia…!” dan Wi Hong yang melengking
menjerit tinggi tiba-tiba roboh pingsan.
“Celaka!” Swi Cu jadi bingung. “Kenapa begini jadinya,
suci? He, tolong aku, Tan-ko. Suci pingsan lagi!”
Beng Tan muncul. Pemuda ini berkelebat bagai siluman
dan tahu-tahu sudah ada disitu lagi.
Beng Tan sebenarnya tak enak mencampuri urusan ini
dan bicara tentang itu. Tapi karena Wi Hong dilihatnya
pingsan dan Swi Cu tak berhasil menolong encinya maka
pemuda ini berlutut dan menotok serta mengeluarkan
sebutir pil hijau.
“Kau serahkan ini padanya, sebentar lagi tentu siuman.”
Beng Tan berkelebat mundur lagi. Pemuda ini
menghilang karena sungguh tak enak bicara seperti itu.
Ketua Hek-yan-pang hamil, padahal jelas dia masih
perawan dan suci seperti Swi Cu sendiri, begitu juga seperti
halnya murid-murid wanita Hek-yan-pang yang lain. Dan
ketikaWi Hong sadar dan benar saja gadis atau wanita baju
merah itu siuman dan tertegun melihat sumoinya menangis
maka Swi Cu menyerahkan obat pemberian Beng Tan
kepada sucinya.
“Kau minum ini, dan ceritakan apa yang terjadi!”
“Tidak!” Wi Hong tiba-tiba melompat bangun. “Aku
akan mencari Golok Maut, Swi Cu. Dan sementara ini kau
pimpin tampuk pimpman partai!”
“Kau mau kemana?” sang sumoi terbelalak, pucat.
“Golok Maut pun sedang kami cari, suci. Daripada sendirisendiri
lebih baik bersama. Aku…”
“Tidak!” Wi Hong membentak, muka beringas. “Aku
ingin mencarinya dan mengadu jiwa, Swi Cu. Aku… aku…
dia menghina aku!” dan Wi Hong yang menangis berkelebat
pergi tiba-tiba terhuyung dan jatuh terjerembab, kiranya
belum kuat dan kemarahannya itu membutuhkan energi
berlebih.
Gadis ini tersungkur dan Swi Cu pun menjerit. Dan
ketika gadis itu memeluk sucinya dan menangis tak keruan
maka Beng Tan, yang bersembunyi dan mengintai dari jauh
menyusupkan suaranya lewat telinga kekasihnya itu,
“Cu-moi, berikan obat itu kepada sucimu. Obat itu
berguna untuk memulihkan tenaga. Bujuklah, dan biarkan
ia pergi!”
Swi Cu tersedu-sedu. Teringat obat yang ditampar
sucinya cepat dia mengambil lagi, membujuk dan berkata
pada sucinya bahwa obat itu untuk pemulih tenaga, seperti
yang dikata Beng Tan. Dan ketika Wi Hong terbelalak dan
tertegun, menoleh kiri kanan maka dia bertanya di mana
Beng Tan, pemuda baju putih itu.
“Dia… dia pergi. Tak mau mencampuri urusan kita.”
“Hm!” Wi Hong menyambar, menelan obat pemberian
itu. “Baiklah, Cu-moi. Terima kasih. Tapi aku tak mau
bersama siapa pun karena aku ingin sendiri…. wut!” dan Wi
Hong yang melompat dan tidak terhuyung lagi ternyata
sudah pulih tenaganya dan diteriaki sang sumoi, yang
menjerit dan menyusul sucinya tapi Wi Hong membalik.
Dengan bengis dan ganas wanita ini tiba-tiba
menyambitkan tujuh jarum merah ke arah sumoinya itu,
yang tentu saja terkejut dan berhenti menangkis, mendapat
seruan agar tidak mengejar dan patuh pada perintah ketua.
Dan ketika Swi Cu tertegun dan menangis tersedu-sedu
maka Wi Hong lenyap dan lemaslah gadis ini mengguguk
di tanah.
“Suci, kau… kau gila. Kau tak waras. Ah, kau
menempuh bahaya!”
“Biarlah!” Wi Hong menjawab dari jauh.
“Dendam sakit hati ini tak dapat kubiarkan berlarut-larut,
Swi Cu. Dia atau aku yang mati!”
Swi Cu mengguguk. Kalau sang suci yang sekaligus juga
sebagai sang ketua sudah memerintahkan begitu maka dia
tak dapat berbuat apa-apa. Sucinya tadi sungguh-sungguh
bermaksud membunuh dia dengan sambitan jarum-jarum
merahnya itu. Kalau tak cepat dia mengelak atau
menangkis runtuh tentu dia sudah terkapar. Ah, sucinya
sekarang bengis! Namun ketika gadis ini mengguguk dan
tersedu di tanah tiba-tiba bayangan Beng Tan muncul,
berkelebat.
“Cu-moi, sucimu betul. Dia tak mungkin mau ditemani
siapapun. Bersiaplah, kita juga berangkat dan mencari
GolokMaut!”
“Tapi… tapi…” Swi Cu mengguguk. “Suciku menempuh
bahaya sendirian, koko. Dan dia tak mengaku apakah
GolokMaut memperkosanya!”
“Kita dapat tanyakan itu, kita selidiki Si Golok Maut.
Sudahlah, kau bangun berdiri dan kita pergi!” Beng Tan
menarik tangan kekasihnya, kening berkerut kerut dan tibatiba
kebencian membakar dadanya.
Dia menganggap Golok Maut mengganggu ketua Hek
yan-pang itu, suci kekasihnya Dan karena kebencian Wi
Hong juga kelihatan besar dan tentu Golok Maut
memperkosa gadis baju merah itu maka Beng Tan
berkerotok giginya ketika membangunkan Swi Cu.
“Kita pergi, dan kita tangkap Si GolokMaut itu.”
“Bisakah?” Swi Cu tersedu. “Kau dan dia sama lihai,
koko. Kalian berimbang. Aku khawatir….”
“Tidak, untuk sebuah tugas mulia tak perlu kita ragu, Cumoi.
Membekuk dan menangkap Si Golok Maut itu sudah
berubah sifatnya bagiku. Bukan lagi sekedar menasihati
seorang sesat melainkan harus membekuk dan kalau perlu
membunuhnya agar dia tak memperkosa wanita-wanita lain
lagi.”
Swi Cu mengangguk.
Memang dia pun menganggap begitu. Golok Maut
dianggap memperkosa sucinya dan hal itu sungguh
membakar hati. Mentang-mentang lihai lalu main perkosa
segala. Ah, Golok Maut ternyata tak hanya membunuhbunuhi
musuhnya saja tapi sudah bertindak terlalu jauh
dengan menghina dan memperkosa wanita. Sucinya sudah
menjadi korban. Dan ketika Swi Cu bangkit berdiri dan
mengigit bibir maka dia siap melanjutkan perjalanan namun
anehnya kekasihnya tiba-tiba membalik.
“Kita ke kota raja sebentar, melapor atasanku.”
“Apa?” Swi Cu tertegun. “Ke kota raja?”
“Ya, sementara ini aku harus pulang, Cu-moi, melapor
pada atasanku karena sudah waktunya. Aku sudah
ditunggu-tunggu.”
“Tapi suciku, Dan GolokMaut?”
“Dapat disusul, Cu-moi. Sudahlah kau percaya padaku
atau kita berpisah sementara waktu!”
“Tidak. Aku tak mau kau tinggal lagi, koko. Kalau kau
mau ke kota raja aku pun ikut!”
“Hm, baik kalau begitu. Kau tak membantah lagi?”
Swi Cu terisak. Tiba-tiba. dia memeluk dan
menyusupkan kepalanya ke dada kekasihnya itu.
Setelah bertemu dan bertempur dengan si Hidung Belang
Bhok-kongcu tadi tiba-tiba Swi Cu ngeri untuk sendirian.
Ah, di dunia ini penuh dengan orang-orang jahat dan
curang, juga keji dan kejam seperti Bhok-kongcu itu, yang
hampir merobohkannya dengan kecurangan tak tahu malu.
Dan teringat betapa orang she Bhok itu memandangnya
dengan mata berminyak dan nafsu yang kotor jelas
terpancar dimata pemuda itu, tiba-tiba Swi Cu menjadi
ngeri meskipun bukan berarti gentar.
“Aku… aku tak membantah lagi. Kau benar, dunia ini
penuh dengan laki-laki busuk!”
“Hm, karena itu turut nasihatku, moi-moi. Jangan bawa
adat sendiri seperti biasanya. Ayolah, kita ke kota raja
sebentar dan setelah itu mencari Si GolokMaut!”*
Swi Cu mengangguk. Memang dalam perjalanan yang
lalu terjadi sedikit perselisihan diantara mereka. Beng Tan
waktu itu hendak menemui seseorang tapi ia tak mau ikut,
bersitegang sedikit dan akhirnya berpisah. Mereka
menentukan akan bertemu di kota Ih-peh tapi ternyata Beng
Tan belum datang, dianggap tak menepati janji dan Swi Cu
marah, meneruskan perjalanan sendirian dan akhirnya
bertemu Bhok-kongcu itu, yang kebetulan juga hendak
mengganggu sucinya. Dan ketika orang she Bhok itu
hampir mencelakainya namun Beng Tan keburu datang,
menolong dan menyelamatkannya maka Swi Cu tak berani
bertengkar lagi ketika kekasihnya hendak mengajak ke kota
raja.
“Aku menurut, dan kau jangan tinggalkan aku.”
“Ah, bukan aku yang meninggalkanmu, Cu-moi. Tapi
kadang-kadang kau tak mau mengerti urusan orang lain dan
membawa adat sendiri.”
“Sudahlah, maafkan aku, koko. Aku sekarang menurut
dan patuh padamu!”
Beng Tan tersenyum. Tentu saja dia tak akan marah
kalau kekasih sudah menyerah begini. Swi Cu sekarang
dapat mengerti tugasnya dan mau memahami. Maka begitu
Swi Cu terisak dan menyembunyikan muka di dadanya
tiba-tiba Beng Tan mengangkat dan menahan dagu itu. Lalu
ketika kekasihnya terbelalak dan bertanya mau apa
mendadak pemuda ini menundukkan mukanya mencium
bibir yang lembut memikat itu.
“Aku mau menciummu. Ha-ha, jangan marah dan
terimalah!”
“Iih!” Swi Cu terkejut, tersentak namun tak mengelak.
“Kau nakal, koko. Kau… ah, sudahlah. Aku masih teringat
akan nasib suciku!”
Dan Beng Tan yang menarik napas melepas bibirnya lalu
mengangguk dan tak dapat bersenang-senang dulu,
diganggu urusan ini dan diapun mengangguk. Memang,
teringat keadaan Wi Hong tiba-tiba dia menjadi tak enak.
Mereka bersenang-senang sementara orang lain menderita.
Maka ketika dia mengangguk dan mengajak kekasihnya
pergi akhirnya Beng Tan berkelebat dan terbang ke kota
raja, menggandeng lengan kekasihnya.
Namun apa yang terjadi? Kota raja berkabung!
Beng Tan, yang pagi itu juga tiba disana ternyata melihat
bendera berkibar setengah tiang. Semua wajah di ibu kota
muram dan sedih. Wajah semua orang menunjukkan rasa
takut yang hebat tapi juga marah. Dan ketika Beng Tan
menyelidiki dan bertanya sana-sini ternyata Ci-ongya, adik
kaisar, terbunuh. Tewas di tangan Si GolokMaut!
“Kau terlalu!” begitu atasan pemuda ini menegur dan
langsung marah-marah. “Sudah kubilang agar tidak lamalama
meninggalkan istana, Beng Tan. Tapi kau melanggar
dan tidak datang-datang. Semalam GolokMaut mengamuk,
membunuh-bunuhi tigaratus siwi dan busu pengawal istana
dan adikku Ci-ongya tewas! Apa yang hendak kau katakan
dan jawab disini? Dan siapa gadis ini?”
Swi Cu, yang menggigil dan berlutut didepan orang yang
marah-marah ini hampir tak berani mengangkat mukanya.
Ternyata atasan kekasihnya itu adalah kaisar sendiri, sri
baginda yang menyambut kedatangan mereka dengan muka
merah padam. Dan ketika Beng Tan juga berlutut dan
menggigil di depan kaisar maka pemuda ini terguncang dan
terkejut, sejenak tak dapat berkata-kata.
“Maaf, hamba,… hamba salah, sri baginda. Hamba
menemui banyak persoalan ditengah jalan dan telah
bertempur pula dengan Si Golok Maut itu, bahkan
mengadu jiwa!”
“Tapi dia kemari. Semua orang tak ada yang sanggup
menandinginya dan tiga ratus pengawal tewas, terakhir
adikku. Heh, apa yang hendak kau katakan lagi, Beng Tan?
Dan siapa gadis disampingmu ini? Kau rupanya bersenangsenang,
mabok dan melupakan tugas! Ah, sialan wanita ini
dan gara-gara keteledoranmu maka adikku binasa!”
Beng Tan pucat. Kalau kaisar sudah marah-marah
seperti itu tak ada siapa pun yang berani mengeluarkan
suara. Swi Cu sampai gemetar namun kekasihnya
memegang lengannya erat-erat. Beng Tan berbisik tak boleh
dia tersinggung atau marah disitu. Kaisar adalah kuasa dan
dia adalah segala-galanya. Dan ketika geraman maupun
kutukan juga mengenai Swi Cu yang tak tahu apa-apa
akhirnya sri baginda menggebrak meja.
“Nah, katakan laporanmu dan siapa siluman betina ini!”
Swi Cu menggigit bibir kuat-kuat. Kalau Beng Tan tidak
mencengkeram lengannya sedemikian kuat dan dia mampu
melepaskan diri tentu dia sudah berteriak dan memaki
kaisar itu.
Betapapun dia tak terima. Enak saja disebut siluman
betina, seolah dia iblis! Namun karena Beng Tan
mencengkeramnya dan pemuda itu berbisik agar dia
menelan segala kata-kata kaisar maka Beng Tan berlutut
melipat tubuhnya.
“Maaf, dia Swi Cu, sri baginda. Wakil ketua Hek-yanpang,
calon isteri hamba!”
Sri baginda terkejut. “Calon isterimu? Hu-pangcu dari
Hek-yan-pang?”
“Benar, dan maaf, sri baginda. Kekasih hamba ini tak
tahu apa-apa dan justeru ia pun telah diserang dan hampir
dibunuh Si GolokMaut!”
“Hm, ceritakan pengalamanmu…. ceritakan
pengalamanmu….!”
Dan sri baginda yang tampak menahan diri dan
kelepasan omong lalu sedikit lunak dan minta agar Beng
Tan menceritakan perjalanannya, mendengar dan Beng Tan
segera bercerita apa yang terjadi. Semua yang dialami
bersama Swi Cu diceritakan, kecuali tentu saja
pertemuannya dengan Wi Hong, cerita yang rupanya tak
perlu didengar orang lain apalagi Wi Hong dalam keadaan
hamil, cerita yang hanya akan memancing pertanyaan
orang lain belaka dan justeru dapat memalukan diri sendiri.
Dan ketika semua itu sudah diceritakan dan sri baginda
mengangguk-angguk maka Beng Tan ganti bertanya,
“Maaf, sekarang bagaimana dengan paduka sendiri.
Kapan Si Golok Maut itu datang dan bagaimana sampai
membunuh Ci-ongya?”
“Hm, kau tanya Kun-taijin (menteri Kun), Beng Tan.
Sekarang aku ingin beristirahat dan biarlah kalian berdua
bicara,” kaisar memutar tubuh tampak mengerotkan gigi
dan menteri Kun memberi isyarat mata padanya.
Sri baginda telah menyuruh menterinya itu bercerita, jadi
tak mau bercerita sendiri dan Beng Tan tentu saja tak dapat
memaksa. Dalam keadaan biasa tentu sri baginda tak akan
bersikap seperti itu kepadanya. Namun karena istana lagi
berkabung dan kematian Ci-ongya memang menggegerkan
semua orang maka Beng Tan mengangguk pada menteri itu
dan duduklah keduanya di ruang sebelah, diikuti Swi Cu.
=* d*w *=
Semalam, para pengawal dan istana tak merasakan
datangnya badai yang tiba-tiba mengamuk itu. Semua
pengawal dan isi istana biasa-biasa saja, bahkan rakyat
masih bergembira diluar sana, bertandang dan masuk keluar
toko untuk membeli keperluan barang-barang seperti biasa,
untuk esok harinya. Namun ketika malam tiba-tiba
mendung dan bulan serta bintang mulai menyembunyikan
diri mendadak suasana riang-ria diluar agak berobah.
Orang yang hilir-mudik kembali kerumah masingmasing.
Angin malam bertiup dingin dan hujan akan
datang. Dan ketika benar saja pada kentongan kesepuluh
hujan mengguyur ibu kota maka penduduk mulai membuka
selimut untuk menutupi tubuh sendiri.
“Ah, dingin. Hujan sialan. Lebih baik kita berjaga di
dalam gardu dan main kartu!” pengawal di istana
menggerutu.
Mereka agak terganggu dengan datangnya hujan itu dan
bagi yang bertugas jaga memang agak menjengkelkan.
Mereka kedinginan diluar dan terpaksa memakai mantol,
melindungi diri. Dan ketika tujuh orang bermain kartu di
dalam sementara dua lagi berjaga di sudut kiri dan kanan
maka sebuah kereta tiba-tiba berderap memasuki halaman
istana.
“He, siapa itu? Aneh sekali, malam-malam hujan begini
datang bertandang!” dua pengawal mengerutkan kening,
diam menyambut dan kereta itu akhirnya berhenti di pintu
gerbang.
Saisnya turun dan pengawal melihat bahwa itu adalah
kereta milik Lie-taijin, menteri Lie. Dan ketika sais bicara
sejenak dengan penjaga dan berkata bahwa Lie-taijin ingin
bertemu Ci-ongya maka penjaga tak curiga namun minta
agar Lie-taijin memperlihatkan diri.
“Maaf, aneh bahwa taijin malam-malam datang begini,
hujan lagi. Bisakah beliau memberikan surat pengantar atau
memperlihatkan diri?”
“Taijin sakit, tak enak badan. Menggigil di dalam dan
ingin secepatnya bertemu ongya. Kalau surat pengantar
ada, inilah.” sais memberikan surat menteri itu, lengkap
dengan stempelnya dan penjaga semakin tak curiga lagi.
Namun karena dia harus melapor ke dalam dan Ci-ongya
harus diberi tahu maka dia menyuruh kereta dimasukkan ke
dalam, di samping gedung.
“Ongya kebetulan sedang dilayani selirnya. Baiklah kau
tunggu disamping gedung itu dan silahkan taijin masuk!”
Sais mengangguk. Caping lebarnya yang dipakai di atas
kepala tak mencurigakan siapapun karena waktu itu hujan,
jadi dipakai untuk melindungi kepala dan kereta pun
berderap masuk. Dan ketika penjaga melapor pada
komandannya dan serempak tujuh orang yang bermain
kartu itu menghentikan permainannya maka komandan
melompat tergopoh menyuruh anak buahnya menyimpan
kartu-kartu itu, berikut uang yang berceceran di lantai. Judi!
“Ah, sialan kau. Kenapa baru bilang sekarang? Cepat
simpan semua uang yang berceceran, jangan diketahui Lietaijin!”
Kiranya di istana pun ada judi. Para pengawal
membuang waktunya bukan hanya sekedar bermain kartu
tapi juga iseng dengan mempertaruhkan uang, padahal
kaisar baru saja mengeluarkan undang-un-dang agar
pengawal tidak berjudi, karena dapat mengganggu tugas.
Dan ketika semua berlompatan dan uang yang bercecer-tan
cepat disembunyikan di balik tikar maka komandan sudah
tergopoh-gopoh menyambut tamu.
“Taijin, selamat malam. Biarlah kami laporkan pada
ongya dan silahkan paduka menunggu di dalam!”
“Taijin sakit, tak dapat menggerakkan tubuhnya. Biarlah
dia di dalam sampai ong-ya datang,” si sais berkata, tenangtenang
saja dan komandan jaga tertegun.
Kenapa begitu? Bukankah kalau sakit harus dibawa ke
tabib? Namun ketika sais berkata bahwa justeru Lie-taijin
ingin menghubungi tabib Kwee melalui Ci-ongya maka
komandan hilang kecurigaannya dan mengangguk-angguk.
“Taijin tak berani mengganggu Kwee-yok-ong yang
merupakan tabib pribadi sri baginda. Datang dan ingin
diantar Ci-ongya agar cepat sembuh.”
“Oh, begitukah? Baik, kami akan segera memanggil ongya,”
dan komandan yang bergegas sendiri menghadap
majikannya lalu menyuruh anak buahnya memberi
minuman hangat pada tamu.
Kwee-yok-ong (raja obat Kwee) adalah tabib pribadi
kaisar, memang tak sembarangan menemuinya kalau tidak
diantar orang-orang yang dekat dengan kaisar. Dan karena
Ci-ongya adalah adik tiri kaisar dan tentu saja dapat diantar
melalui pangeran itu maka Ci-ongya tertegun ketika
mendengar laporan datangnya menteri ini, malam-malam
begitu, hujan lagi.
“Sakit apa? Kenapa tak disuruh menemui aku?”
“Maaf, hamba tak tahu sakitnya, ong-ya, tak bertanya.
Tapi katanya tak dapat bergerak dan menunggu di dalam
kereta.”
“Aneh, tadi pagi masih sehat. Bagaimana itu?”
“Hamba tak tahu, penyakit memang dapat mengganggu
siapa saja, sewaktu-waktu.”
“Ya, seperti kau ini. Yang datang dan mengganggu aku
yang sedang bersenang-senang dengan selirku… plak!” Ciongya
menampar komandan jaga itu, jengkel dan gemas
karena dia merasa diganggu. Kalau bukan Lie-taijin yang
datang tentu sudah diusirnya tamu itu. Tapi karena Lie
taijin adalah sahabatnya dan jelek-jelek adalah pembantu sri
baginda kaisar yang cukup pandai maka dia bergegas keluar
dan menyuruh selirnya menunggu disitu.
“Bawa dia masuk, biar aku melihatnya!”
“Maaf, kereta ada di samping gedung, ong-ya, bukan
diluar. Paduka sudah ditunggu disebelah kiri gedung!”
Ci-ongya mengumpat. Dia tadi bergegas keluar tapi
ternyata bukan disana. Kereta sudah berteduh disamping
gedung dan benar saja dia melihat kereta itu, milik Lietaijin.
Dan ketika dia menuruni tangga dan berseru
memanggil Lie-taijin maka sais yang berdiri membungkuk
tiba-tiba maju mendekat.
“Mana majikanmu? Sakit apa? Suruh keluar, biar aku
melihatnya!”
Sang sais menggumam aneh. Dia tidak memanggil
majikannya melainkan malah menyambar lengan pangeran
ini. Dan ketika komandan terkejut karena sikap itu dinilai
kurang ajar maka Ci-ongya sendiri terkejut melihat
keberanian sekaligus kekurang ajaran sais ini.
“Lie-taijin ada di dalam, mari kau lihat!”
Ci-ongya tersentak. Dia terlalu tergesa dengan
menghampiri kereta, tidak melihat baik-baik sais itu. Tapi
ketika si sais ber-engkau dan ber-aku begitu enak kepadanya
dan tahu-tahu lengannya disambar maka pangeran ini kaget
bukan main melihat wajah di balik caping lebar itu.
“GolokMaut…!”
Teriakan atau jeritan pangeran ini mengejutkan
pengawal. Sang komandan yang sama sekali tidak
menyangka atau menduga tiba-tiba bagai disengat lebah.
Komandan ini terkesiap dan kaget bukan main. Dan ketika
Ci-ongya terlihat meronta dan memekik melepaskan diri
tiba-tiba Golok Maut, sais yang menyamar itu tertawa
dingin.
“Benar, aku, ong-ya. Dan sekarang kau mampuslah.”
Jerit melengking memecah kesunyian malam. Ci-ongya
mencelos dan menarik lepas dirinya, membalik dan lari
memasuki gedung. Tapi baru tiga langkah kakinya bergerak
menaiki tangga tiba-tiba sinar putih berkelebat dan
komandan terbeliak melihat golok yang menyambar cepat
sudah menabas putus leher pangeran itu, dalam waktu
hanya sepersekian detik.
“Crass!”
Kepala Ci-ongya menggelinding. Darah menyemprot
bagai pancuran dan tubuh itupun roboh.
Ci-ongya hanya sekali memekik dan setelah itupun
nyawanya terbang ke neraka. Kejadian berlangsung
demikian cepat dan tidak terduga. Dan ketika pengawal
berteriak dan sang komandan terjaga tiba-tiba mereka
malah melarikan diri dan lintang-pukang.
“GolokMaut…. GolokMaut….!”
“Ci-ongya terbunuh, GolokMaut datang….!”
Keadaan menjadi gempar. Sekilas gebrak yang
berlangsung bagai mimpi itu tiba-tiba membuat pengawal
ketakutan. Mereka gentar dan pucat setelah melihat bahwa
itu adalah Golok Maut, bukan sais Lie-taijin. Dan ketika
Golok Maut membalik dan tertawa dingin maka dia
berkelebat namun pengawal sudah memukul tanda bahaya.
“GolokMaut datang, Ci-ongya terbunuh!”
Istana menjadi geger. Pekik dan jerit mereka yang ngeri
melihat sepak terjang Si Golok Maut sudah tak dapat
dikendalikan lagi.
Golok Maut mengerutkan kening melihat pengawal
memukul tanda bahaya. Namun ketika dia menggerakkan
tangan dan sebuah jarum hitam menancap di dahi pengawal
itu maka pengawal yang memukul tanda bahaya ini roboh,
tersungkur.
“Keparat, kalian mencari penyakit!”
Sang komandan pucat dan putih mukanya. Dialah yang
bertanggung jawab menerima kedatangan Si Golok Maut.
Kereta Lie-taijin yang sama sekali tidak mengundang
kecurigaan ternyata justeru dipakai Si GolokMaut itu.
Golok Maut dengan mudah dan tenang memasuki
gedung Ci-ongya, memang tidak menimbulkan kecurigaan
dan caping lebar yang biasa dipakainya itu juga kebetulan
dilupakan pengawal.
Malam itu hujan, jadi pas sekali kalau seseorang
melindungi kepala dengan caping. Dan ketika semuanya
sudah terlambat dan Ci-ongya terbunuh, begitu cepat dan
tidak terduga maka pengawal berteriak-teriak sementara
komandan jaga bingung memikirkan hukuman yang akan
diterimanya.
“Panggil Siang-mo-ko. Beritahukan lo-cianpwe Yalucang
dan lain-lain!”
Namun Golok Maut berkelebat. Golok Maut mengenal
komandan ini sebagai komandan jaga yang menerimanya,
bergerak dan tahu-tahu sudah menangkap laki-laki itu. Dan
ketika komandan ini berteriak dan meronta serta ketakutan
maka GolokMaut bertanya dimanaCoa-ongya,
“Aku sudah mencari digedungnya, tapi tidak ketemu.
Beritahukan atau kau mampus!”
“Tidak… tidak…!” sang komandan ber-kaok. “Aku tak
tahu, GolokMaut. Aku bukan pengawalnya!”
“Tapi kau pengawal istana, pasti tahu. Bertahukan atau
kau kubunuh!”
“Oh, tidak. Aku tak tahu!” namun ketika pengawal ini
menjerit dan berteriak mengaduh maka Golok Maut
menjepit batang lehernya dan menginjak dadanya.
“Kalau begitu kaupun mampus.. ngek!” komandan itu
menggeliat lemah, tidak bersuara lagi karena dari
tenggoroKannya keluar cairan kental berwarna merah.
Golok Maut telah menghancurkan batang tenggorokannya
tadi dengan jepitan di leher, patah dan terkulailah
komandan jaga itu.
Dan ketika anak buahnya kalang-kabut dan tentu saja
berteriak-teriak maka bayangan-bayangan hitam
berkelebatan memasuki halaman, bayangan dari para si-wi
atau busu, yang berjaga disebelah.
“Apa yang terjadi. Dimana GolokMaut!”
“Itu, disana. Dia… dia telah membunuh Ci-ongja!”
Para siwi dan busu berkelebatan ke arah yang ditunjuk.
Mereka melihat bayangan tinggi tegap dengan caping lebar,
ciri khas yang dipunyai si Golok Maut. Tapi ketika mereka
bergerak dan membentak kesini ternyata Golok Maut
Sudan menghilang dan naik ke atas genteng.
“Kejar, dia ke gedungCoa-ongya…!”
Memang betul. Golok Maut ke barat dan gedung Coaongya
yang dituju. Tadi dia sudah kesana tapi tak ketemu,
membuat ribut-ribut ditempat Ci-ongya dulu dan kini
semua pengawal berhamburan. Dan ketika mereka melihat
Ci-ongya putus kepalanya mandi darah maka semua
merinding melihat darah yang membanjir dari luka itu
bergelimang membasahi tanah. tangga, bercampur air
hujan.
“Dia membunuh Ci-ongya, kejar. Tangkap iblis berdarah
dingin itu!”
Golok Maut tak menghiraukan. Sinar putih dan
goloknya sudah tak nampak lagi, lenyap dibelakang
punggung.
Tadi dia sudah membunuh lawan yang dibencinya dan
seorang penjaga melihat tokoh bercaping ini menghirup
darah di badan golok, menjilat dan memasukkannya lagi
dibelakang punggung setelah berkemak-kemik, Dan ketika
penjaga atau pengawal itu tertegun membelalakkan mata
maka seluruh penjuru istana sudah dipenuhi ratusan si-wi
atau busu yang mendengar tanda bahaya.
“GolokMaut datang, dia membunuh Ci-ongya!”
Suasana gempar. Istana yang semula tenang tiba-tiba
dibuat hiruk-pikuk oleh kegaduhan ini.Mereka sungguh tak
menduga bahwa Golok Maut berani datang lagi, bahkan
telah membunuh Ci-ongya. Dan ketika semua mengkirik
melihat jenasah Ci-ongya yang tidak berkepala lagi maka
wuwungan menjadi penuh orang ketika bayangan Golok
maut dituding-tuding.
“Dia di atap, di atas. Kejar…!”
Namun hanya orang-orang tertentu yang berani
mengejar. Mereka adalah pemimpin-pemimpin para siwi
dan busu itu, tiga-puluh jumlahnya. Dan ketika bayangan
Golok Maut tampak meluncur ke gedung Coa-ongya maka
mereka membentak, sebagian melepas panah dan tombak.
“GolokMaut, berhenti.Menyerahlah!”
“Benar. dan serahkan dirimu baik-baik, Golok Maut.
Atau kau mampus sia-sia…. wut-singg.”
Panah dan tombak menyambar belakang punggung,
cepat dan luar biasa namun Golok Maut mendengus. Dan
ketika dia menampar dan semua senjata itu ditangkis tanpa
menoleh maka tombak atau panah runtuh ke tanah dan
patah-patah.
-ooo0dw0ooo-
Jilid : XXII
“PLAK-PLAK-PLAK!”
Semua perwira terbelalak. Mereka memang mengetahui
kelihaian Si Golok Maut ini, tokoh yang mendirikan bulu
roma. Namun karena mereka berjumlah banyak dan
patahnya tombak atau panah itu justeru membuat mereka
marah maka mereka menerjang dan membentak maju.
“Kepung dia. Tangkap!”
Tigapuluh perwira menyerang berbareng. Mereka sudah
menyiapkan senjata dan masing-masing mengeluarkan
bentakan penambah semangat.Menghadapi tokoh seperti Si
Golok Maut itu harus mengerahkan keberanian kalau tak
ingin jatuh lebih dulu. Tapi ketika pedang dan golok
berhamburan menyerang tokoh bercaping ini tiba-tiba
Golok Maut lenyap dan entah bagaimana tiba-tiba mereka
mendapat tendangan dan tamparan.
“Yang bukan she Coa atau Ci tak usah main-main disini.
Pergilah… des-des-cringg!” senjata sesama teman bertemu
sendiri, nyaring memekakkan telinga dan pemiliknya sudah
mencelat beterbangan. Mereka jatuh ke bawah dan
menggelinding dari atas genteng yang tinggi. Dan ketika
semua memekik dan berdebuk di bawah maka GolokMaut
tiba-tiba sudah tampak di sebelah timur.
“Hei, kejar. Dia disana!”
Namun Golok Maut mengeluarkan tawa dari hidung.
Para siwi dan busu yang tiba-tiba melepas panah berdesingdesing
tiba-tiba dikebut runtuh. Semua anak panah itu
runtuh dan Golok Maut menghilang di puncak gedung.
Dan ketika semua kelabakan dan berteriak-teriak mengejar
maka para perwira yang sudah melompat bangun
mengerahkan anak buahnya masing-masing untuk
mengepung rapat tempat itu.
“Pagar betis! Semua harap memagar betis…!”
Hal itupun sudah dilakukan. Ratusan siwi dan busu yang
sudah berkumpul dan cepat mengelilingi seluruh gedung
sudah tak dapat disibak lagi. Perwira mereka berteriakteriak
dan melayang kembali ke atas gedung. Dan ketika
mereka melakukan pencarian sambil berkelompok dan
memaki tak keruan maka lima bayangan berkelebat dari
lima penjuru.
“Dimana jahanam itu? Mana Si GolokMaut?”
“Ah,” para perwira girang. “Golok Maut tadi disana,
locianpwe. Di gedung sebelah timur!”
“Benar, tapi sudah menghilang di puncak wuwungan
itu!” dan ketika yang lain saling bersahutan dan memberi
tahu maka lima bayangan ini, yang bukan lain Mindra dan
empat temannya tiba-tiba berkelebat dan memencar.
“Kalian mengepung puncak wuwungan itu. Kita
kesana… wut-wut!”
Mindra dan Sudra sudah lenyap mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya, tiga yang lain bergerak dan
menganggukkan kepala dan berturut-turut seperti iblis saja
kakek-kakek ini menghilang bagai iblis. Namun ketika
mereka tiba disana dan tak melihat bayangan Golok Maut
maka semuanya tertegun dan Pek-mo-ko menggeram dan
celingukan.
“Tak ada. Pasti ke bawah!”
Yalucang, kakek tinggi besar mengangguk. Kakek ini
mengeluarkan geraman mirip singa dan tiba-tiba berkelebat
ke bawah, meluncur ke dalam gedung. Dan ketika Sudra
juga mengangguk dan meluncur turun maka Hek-mo-ko
yang gentar berada sendirian memandang kakaknya.
“Kita cari dia?”
“Ya, dan balas sakit hati ini, sute. Ayo turun dan cari
dia!”
Pek-mo-ko menepuk pundak adiknya. Dia tahu rasa jerih
yang menghuni jiwa adiknya ini. Hek-mo-ko telah
kehilangan lima jari kanan ketika dulu dipapas Golok
Maut, golok mengerikan itu. Dan ketika mereka berkelebat
dan menghilang ke bawah maka Yalucang tiba-tiba melihat
bayangan tokoh bercaping itu, berkelebat memasuki lorong
di bawah air hujan yang kini tiba-tiba seolah dicurahkan
dari langit.
“GolokMaut, berhenti kau. Jahanam!”
Kakek tinggi besar lni mencabut roda-gergajinya. Dia
sudah melempar itu dan senjata mengerikan ini berdesing
menyambar punggung Si Golok Maut. Tapi ketika Golok
Maut menoleh dan menangkis, tersenyum mengejek tibatiba
roda-gergaji itu terpental dan menyambar tuannya
kembali.
“Plak!”
Golok Maut melesat menghilang lagi. Yalucang si kakek
tinggi besar harus mengerahkan tenaga ketika rodagergajinya
itu menyambar cepat, menuju dadanya dan
terdengarlah suara keras ketika senjata itu mengenai atau
menghantam dada kakek tinggi besar ini. Tapi karena tokoh
Tibet itu sudah mengerahkan sinkang dan roda-gergajinya
berdetak maka kakek itu terhuyung tapi sudah mengejar
lagi.
“Dia disini…!” kakek itu agak berobah. “Hei, dia disini,
Mo-ko. Tangkap dan kepung dia!”
Namun Golok Maut sudah menghilang lagi. Bagai
siluman atau iblis saja tokoh bercaping itu berkelebat entah
kemana. Bayangan Mo-ko dan Sudra yang berturut-turut
datang sia-sia saja, mereka tak menemukan dan kakek
tinggi besar itu melotot. Panggilannya tadi berkesan gentar
dan buru-buru minta tolong, hal yang menggelikan namun
siapapun tahu kelihaian Si Golok Maut itu, tak ada yang
tertawa. Dan ketika Mindra mendengus dan tak melihat
bayangan lawan maka kakek itu mengajak saudaranya
berpencar.
“Kau kesana, aku kesini!”
Sudra mengangguk. Dia sudah mencabut cambuknya
dan dengan marah menjeletarkan senjatanya itu, meledak
dan hancurlah genteng di atas yang berderak roboh. Dan
ketika yang lain bergerak dan Mo-ko selalu berdua maka
dilorong sebelah kanan terdengar jeritan ngeri.
“Aduh..!”
Semuanya dahulu-mendahului. Jeritan panjang disusul
berdebuknya tubuh yang roboh ke tanah membuat lima
kakek itu mendelik. Mereka melihat enam pengawal
terbabat tewas, leher mereka digorok dan putus tanpa
kepala. Mengerikan! Dan ketika lima kakek itu terbelalak
dan marah maka Sudah meledakkan cambuknya berseru
nyaring,
“Golok Maut, jangan sembunyi-sembunyi. Hayo hadapi
kami dan jangan bersikap pengecut!”
Namun jeritan dan pekik ngeri terdengar disebelah kiri.
Seolah menyambut jawaban kakek itu tiba-tiba belasan
tubuh berdebuk seperti pisang.
Mereka berkelebat dan melihat belasan pengawal roboh
tanpa kepala, lagi-lagi digorok putus! Dan ketika Sudra
maupun lainnya membelalakkan mata dengan ngeri dan
marah maka di empat penjuru sudah terdengar jeritanjeritan
lain.
GolokMaut berpincah-pindah dengan cepat dan mencari
Coa-ongya, mulai mengamuk dan membunuh-bunuhi
pengawal dengan kejam. Dia menangkap dan menanya
pengawal tapi selalu dijawab tak tahu, kemarahannya
bangkit dan dibinasakanlah pengawal-pengawal itu, tanpa
ampun. Dan ketika istana menjadi geger dan bayangan
GolokMaut benar-benar merupakan hantu pencabut nyawa
maka tubuh-tubuh bergelimpangan di bawan hujan yang
semakin deras.
“Kepung dia, tangkap!”
“Kejar!”
Namun semua ini seolah terompet penyambung lidah
beleka. yang berteriak dan berseru itu rata-rata tak ada yang
berani mendekat. Bayangan Golok Maut yang mulai
berkelebatan disekitar gedung istana menyambar-nyambar
bagai siluman haus darah. Sudra dan teman-temannva
mengejar namun Si Golok Maut berpindah-pindah, cepat
dan luar biasa hingga kakek itu memaki-maki. Mereka
dibuat malu dan penasaran karena sampai sedemikian jauh
mereka belum berhasil menangkap Si GolokMaut itu.
Jangankan menangkap, berhadapan dan bertanding saja
belum Golok Maut seolah menghindar atau mungkin
mempermainkan mereka! Dan ketika tubuh pengawal
bergelimpangan dan darah membanjir di istana maka
Yalucang mengeluarkan bentakan dahsyat ketika satu saat
bayangan Golok Maut dilihatnya melayang turun dari
wuwungan yang tinggi.
“Blarr!”
Kakek itu menyemburkan apinya. ilmu Hwee-kang
(Tenaga Api) dilepas dan dikeluarkan kakek ini, mulutnya
meniup dan bentakannya tadi sudah menyertai api yang
berkobar. Tapi ketika Golok Maut menangkis dari tangan
kirinya bergerak tiba-tiba kakek ini terpental dan jatuh di
sudut.
“Keparat, jahanam keparat!” Yalucang kakek si tinggi
besar merah padam. “Kau hebat Golok Maut. Tapi jangan
lari dan hadapi aku lagi. Hayo. . .! dan si kakek yang
bangun menerjang lagi, tiba-tiba melihat lawannya
berkelebat menjauhkan diri, memang tidak mau melayani
Kakek ini. Karena begitu dilayani maka Sudra dan lain-lain
pasti datang membantu. Dia bakal dikeroyok dan itu
berbahaya.
Golok Maut memang sengaja berpindah-pindah dan
mencari Coa-ongya sambil membunuh siapa saja yang
menghadang di depan. Tapi karena Yalucang adalah kakek
lihai dan tentu saja tidak segampang itu membunuh kakek
ini seperti halnya membunuh para pengawal atau busu
maka Golok Maut meninggalkan lawan dan kakek ini
mencak-mencak, tak tahu kemana Golok Maut pergi
namun tempat itu sudah dikepung ribuan orang.
Pasukan istana sudah bergerak dan jenderal serta
panglima ikut membantu. Kegegeran yang terjadi di istana
sungguh mengejutkan siapa saja dan hujan yang deras itu
seakan menambah suasana jadi semakin menyeramkan
saja. Dan ketika duaribu orang sudah memagari tempat itu
dan istana benar-benar terkepung maka Golok Maut
akhirnya mulai tersudut.
Tokoh ini, seperti yang diketahui dari sepak terjangnya
yang sudah-sudah adalah tokoh yang keras hati dan tak
gampang menyerah. Golok Maut memang laki-laki gagah
yang amat luar biasa. Maka ketika ruang geraknya mulai
dipersempit dan para perwira serta jenderal mulai bergerak
secara rapat akhirnya sikap lari seperti kucing yang selalu
berpindah-pindah itu tak dapat diterapkan Si Golok Maut
ini. Disitu ada orang-orang lihai sepertiMindra dan kawankawannya,
Pek-mo-ko dan Hek-mo-ko yang bukan
tergolong orang-orang biasa itu. Maka ketika teriakan dan
kepungan semakin rapat akhirnya pertemuan dengan lima
pelindungCoa-ongya ini tak dapat dihindarkan lagi.
Golok Maut mula-mula bertemu Mindra. Kakek lihai
dari India yang sudah memegang nenggalanya ini
menggeram marah. Mindra merasa dipermainkan lawan
karena sama seperti Yalucang tadi dia-pun ditinggal pergi
setelah bertemu sebentar, terhuyung dan memaki ketika
pukulannya ditangkis. Maka ketika mereka bertemu lagi
dan GolokMaut tak dapat menghindar maka satu bentakan
dan tusukan nenggala mendahului kemarahan kakek itu.
“Mampus kau!”
Golok Maut mengelak. Sekarang dia mengerutkan
kening karena di mana-mana terdapat musuh.
Dua ribu orang sudah mengepung dan baru kali itu
istana dibuat guncang. Untuk menghadapi seorang saja
mereka telah mengerahkan dua ribu orang, bukan main.
Hal yang sebenarnya membuat malu! Maka ketika Golok
Maut mulai berhadapan dengan kakek India itu dan para
pengawal serta perwira bersorak maju maka Golok Maut
berkilat matanya sedikit gugup.
“Duk!” nenggala kembali menyambar, ditangkis dan
kakek itu terhuyung. Dan ketika Mindra bergerak dan
menyerang lagi tiba-tiba Mo-ko kakak beradik muncul
berkelebat.
“Bagus, bantu aku,Mo-ko. Tangkap dan bunuh jahanam
ini!”
Mo-ko mengangguk. Mereka, seperti yang lain-lain tadi
juga dipermainkan Si Golok Maut ini. Tadi mereka juga
bertemu tapi segera ditinggal pergi, setelah dibuat terhuyung
dan terjengkang. Hek-mo-ko malah terpelanting tergulingguling
ketika GolokMaut menggerakkan senjatanya, Golok
Penghisap Darah itu.
Dan ketika mereka mengejar namun tentu saja berhatihati,
maklum bahwa lawan bukanlah lawan sembarangan
maka mereka melihat Mindra yang sudah berhadapan
dengan Si Golok Maut itu, berkelebat dan datang
menyerang dan duaribu pasukan bersorak. Banjir darah
sudah terjadi namun mereka bangkit semangatnya, karena
disitu banyak teman. Dan ketika Golok Maut harus
berkelebatan karena Mo-ko kakak beradik juga sudah
menyerangnya dengan tongkat di tangan maka pemuda ini
menggerakkan goloknya yang menyilaukan mata itu.
“Crak-dess!”
Mo-ko sang adik berteriak. Ujung tongkatnya terbabat
dan putus sejengkal, kaget melempar tubuh dan kakaknya
berseru agar tidak menyambut golok di tangan lawan, hal
yang sebenarnya sudah dilakukan iblis hitam itu namun
Golok Maut mengejar dan menggerakkan goloknya dengan
amat lihai. Dan ketika apa boleh buat tongkat harus
bertemu golok maka seperti yang sudah diduga senjata di
tangan iblis bermuka hitam ini putus, sementara tuannya
sendiri melempar tubuh bergulingan.
“Jangan sambut goloknya, hindari jauh-jauh…!”
Mo-ko mendesis. Dia bangkit lagi dan was-was
memandang lawan. Golok Maut tertawa mengejek dan
sudah berkelebatan diantara mereka, cepat memutar
goloknya dan mereka bertiga tak ada yang berani mendekat.
Ngeri!
Mindra sendiri terpaksa menarik nenggalanya kalau
golok maut menyambar, tak berani dan akibatnya desakan
atau tekanan mereka berkurang. Dan ketika mereka hanya
menjaga diri dan GolokMaut mulai melihat para pengawal
yang berdatangan maka tokoh ini berkelebat dan
membentak berjungkir balik, mundur kebelakang. Namun
celaka, perwira dan panglima yang ada disitu memberi abaaba.
Mereka melepas panah dan ribuan panah berbahaya
menjepret ke satu arah.
Golok Maut terancam dan dipaksa menangkis runtuh.
Dan ketika dia berhenti sejenak dan tentu saja memberi
kesempatan pada orang-orang seperti Mo-ko dan Mindra
untuk menyerang dari belakang maka nenggala bergerak
sementara tongkat juga menghantam, semuanya lewat
belakang.
“Duk-dess!”
Golok Maut terhuyung. Nenggala mengenai
punggungnya tapi terpental, begitu juga tongkat Mo-ko
kakak beradik. Mereka bertemu kekebalan yang dipasang
tokoh bercaping ini, yang melindungi dirinya dengan
sinkang. Dan ketika mereka terbelalak tapi perwira dan
panglima berteriak menyerang lagi maka Sudra berkelebat
muncul disusul kakek tinggi besar Yalucang.
“Kepung dia! Jaga rapat-rapat…!”
Golok Maut tak dapat melarikan diri. Sekarang dua ribu
pasang kaki sudah memagar betis, kemanapun dia lari
kesitu pula senjata menyambar, tentu saja bukan dari dekat
melainkan dari jauh, panah dan tombak yang dilepas sambil
bersorak-sorai. Dan ketika Golok Maut terkepung dan apa
boleh buat menghadapi semua lawannya maka lima kakek
di depan membentak dan menerjang maju, mengeroyok.
“Golok Maut, serahkan dirimu. Atau kau mati kami
cincang!”
“Benar, dan mintalah ampun, Golok Maut. Cepat
sebelum kami semua kehabisan sabar!”
Golok Maut tak menjawab. Hujan senjata dari lima
orang lawannya itu masih ditambah dengan hujan anak
panah dan tombak dari mana-mana. Dari delapan lenjuru
para pengawal dan perwira berterak-teriak. Hujan tak
mereka hiraukan lagi dan terkepunglah Si Golok Maut itu.
Tapi ketika laki-laki ini memutar senjatanya dan golok
berkeredepan menyilaukan mata maka Mindra berteriak
agar tidak menyambut cahaya putih yang menggiriskan itu.
“Awas…!”
Namun terlambat. Cambuk baja di tangan temannya
terbabat putus, kakek Ya-lucang juga mencelat rodagergajinya
bertemu sinar golok itu, yang sudah berkelebat
dan menyambar luar biasa cepat. Dan ketika mereka
melempar tubuh bergulingan sementara Golok Maut
membentak dan melengking tinggi tiba-tiba barisan
pengawal yang ada di depan diterjang roboh.
“Minggir!”
Pengawal berteriak ketakutan. Mereka melepas panahpanah
berbahaya namun semua disapu runtuh, rontok oleh
kilauan golok yang membungkus Si Golok Maut itu. Dan
ketika mereka berteriak dan coba mengelak namun gagal
maka sebelas diantaranya roboh tanpa kepala.
“Crat-crat-crat!”
Mengerikan sekali. Dua ribu pengawal tersentak melihat
kejadian itu. Sebelas kepala menggelinding dan pisah dari
tubuhnya, begitu cepat dan luar biasa. Dan ketika mereka
terkejut sementara disana Mindra dan kawan-kawannya
masih bergulingan melempar tubuh maka Golok Maut
bergerak dan berjungkir balik menerjang berikutnya.
“Ah!”
“Awas…!”
Semua tiba-tiba menyibak. Golok Maut berjungkir balik
turun dikerumunan orang-orang ini, yang semua tiba-tiba
membalik dan berhamburan melompat mundur. Dan ketika
tempat itu kosong dan GolokMaut mendengus maka tokoh
ini sudah berloncatan dan mengerahkan ginkangnya untuk
terbang dari satu kepala ke kepala yang lain.
“Hei, jangan buka kepungan. Tutup rapat-rapat!”
Mindra, yang terkejut melihat semua pengawal tiba-tiba
mundur mendadak membentak marah. Kakek ini paling
dulu melompat bangun dan menggeram menggerakkan
nenggalanya lagi. Dan ketika dia berkelebat dan empat
temannya yang lain juga bergerak dan marah membentak Si
Golok Maut maka kakek ini melepas pukulan
berbahayanya, Hwi-seng-ciang.
“Dess!”
Golok Maut bergoyang. Hwi-seng-ciang membokongnya
dibelakang dan saat itu pukulan-pukulan lain juga datang
menyambar-nyambar.
Mo-ko kakak beradik melepas Pek-see-kang mereka,
disusul gerengan kakek tinggi besar Yalucang yang melepas
Hwee-kang (Pukulan Api). Dan ketika semuanya hampir
bersamaan mendarat di tubuh tokoh bercaping ini dan
Golok Maut tak sempat menangkis karena maju ke depan
maka semua pukulan itu menghantam keras dan amat
hebatnya.
“Des-dess!”
Golok Maut terhuyung. Dia membalik dan secepat kilat
tangan kirinya tiba-tiba membalas. Satu sinar kuning
menyambar lima orang itu dan Mindra terkejut, mengelak
dan berteriak pada teman-temannya agar cepat menghindar.
Itulah Kim-kong-ciang atau Pukulan Sinar Emas, hebatnya
bukan main karena dari jarak setombak saja pakaian dan
baju mereka sudah berkibar.
Pengawal menjerit berpelantingan karena tahu-tahu
tubuh mereka terangkat, terdorong dan terlempat oleh angin
pukulan itu, padahal baru angin pukulannya saja,
keserempet! Dan ketika mereka terbanting bergulingan dan
mengaduh menjerit-jerit maka disana Yalucang terlempar
sementara Mo-ko terpental karena kalah cepat berkelit.
“Bres-bress!”
Dua orang itu mengeluh. Golok Maut membalas dan
sekali balasannya cukup membuat mereka gentar. Tapi
ketika tokoh itu hendak melepas pukulannya lagi dan
menerjang lawan tiba-tiba empatpuluh perwira
menjepretkan anak panah mereka berbareng.
“Jret!”
Gendewa yang dipentang mengeluarkan suara bergetar.
Empatpuluh anak panah menyambar dari delapan perjuru
dan bercuitanlah panah-panah yang besar itu. Mereka
adalah perwira-perwira pilihan yang mahir memainkan
senjata jarak jauh itu. Tapi ketika semua mengenai tubuh Si
Golok Maut dan runtuh ke tanah, bertemu kekebalan
mengagumkan maka GolokMaut menggeram dan tiba-tiba
berkelebat ke arah mereka.
“Kalian manusia-manusia jahanam!”
Empatpuluh perwira itu terkejut. Mereka berteriak dan
melepas anak-anak panah lagi, kini bukan sebatang
melainkan dua batang. Jadi delapanpuluh batang panah
menyambar Si Golok Maut itu. Tapi ketika Golok Maut
memutar senjatanya dan sinar putih yang menyilaukan itu
melindungi dirinya tiba-tiba delapanpuluh anak panah
rontok sementara cahaya atau sinar putih itu masih
menyambar ke depan, cepat dan ganas, luar biasa.
“Augh… crat-crat-crat!”
Duapuluh tiga kepala tiba-tiba putus. Golok Maut
membabatnya dalam sekali ayunan panjang, begitu cepat
dan tak dapat diikuti mata dan tahu-tahu duapuluh tiga
kepala menggelinding. Semuanya sudah pisah dari tubuh!
Dan ketika tujuhbelas yang lain terbelalak pucat dan nyawa
seakan terbang dari tubuh maka mereka melempar tubuh
menyelamatkan diri.
“Duk-duk-bress!”
Tujuhbelas perwira ini saling tumbuk. Mereka menjerit
dan berteriak sendiri tapi untunglah saat itu Mindra dan
empat temannya datang lagi menolong. Lima kakek ini
ngeri tapi juga marah melihat sepak terjang Si Golok Maut.
Pemuda bercaping ini sungguh ganas dan kejam, benarbenar
bertangan besi!
Dan ketika mereka maju lagi dan panglima-panglima
yang ada dibelakang membentak pasukannya agar melepas
panah-panah atau tom-hoi, maka Golok Maut sudah
dikeroyok,
“Jangan biarkan dia lolos. Pagar betis! Semua
mengepung rapat-rapat!”
Keadaan benar-benar menggemparkan. Keganasan dan
kekejaman Golok Maut ini yang tak kenal ampun sungguh
mendirikan bulu roma. Kini laki-laki itu berkelebatan tapi
ditahan lima tokoh lihai itu.
Mindra berusaha keras untuk mencegah Golok Maut
melarikan diri, karena laki-laki Itu tampak bermaksud
meninggalkan pertempuran dan melarikan diri, hal yang
memang akan dilakukan Si Golok Maut itu. Dan ketika
Mindra berseru pada empat temannya agar mengurung
GolokMaut rapat-rapat maka GolokMaut tak dapat keluar
karena mereka ganti-berganti menyerangnya. Ditangkis
yang satu menyerang yang lain, dihadapi yang lain maju
lagi yang lainnya lagi, begitu terus-menerus, tak ada yang
berani berhadapan langsung karena mereka menghindari
keras pertemuan senjata itu. Kutungnya cambuk dan
terbabatnya tongkat sudah lebih dari cukup untuk memberi
tahu mereka perihal kehebatan golok di tangan Si Golok
Maut itu. Dan karena serangan mereka bersifat
mengganggu dan Golok Maut tentu saja marah maka
pukulan-pukulan Hwee-kang maupun Pek-see-kang atau
Hwi-seng-ciang menyambar dari kelima orang itu.
“Keparat, kalian pengecut, Mindra. Tak tahu malu.
Curang!”
“Hm, tak ada yang curang. Kau telengas dan kejam,
GolokMaut. Kau berdarah dingin!”
“Kalian yang membuat aku begini. Kalian, ah… kubunuh
kalian, siut-plak-dess!” dan Golok Maut yang membalik
menerima pukulan dari belakang tiba-tiba berseru keras
membabat panah-panah yang berhamburan, menggerakkan
tangan kirinya dan lepaslah pukulan Kim-kong-ciang
menyambut pukulan Hwi-seng-ciang.
Sudra menghantamnya dari belakang dan kakek itu
terpental, berteriak kaget. Dan ketika yang lain maju
menubruk namun GolokMaut memutar goloknya maka tak
dapat dihindari lagi kali ini kelima senjata lawan bertemu
sinar goloknya itu.
“Awas… cring-crak-plak!” dan cambuk serta tongkat
yang terbabat kutung tiba-tiba disusul lengkingan panjang
lima kakek itu.
GolokMaut melakukan gerak luar biasa yang disebut Lehi-
ta-teng (Ikan Le Meloncat), merundukkan tubuhnya dan
dari bawah ia menyapu semua senjata lawannya itu.
Tangan kiri baru saja bergerak melepas Kim-kong-ciang dan
sisa angin pukulan itu masih tetap menyambar, hebat bukan
main. Dan ketika kelima kakek itu terkejut dan mereka
cepat melempar tubuh bergulingan maka hujan panah yang
kembali menyambar diterima dan disambut kelebatan golok
yang meruntuhkan atau merontokkan senjata jarak jauh itu.
Lalu begitu lawan terbelalak dan terperangah melihat
kehebatan Si Golok Maut ini tiba-tiba Golok Maut
berjungkir balik dan terbang menyambar ke pasukan
sebelah kiri yang bersenjata tombak.
“Minggir..!”
Gegerlah pasukan tombak. Mereka tiba-tiba menyibak
dan semuanya berteriak mundur, memutar tubuh. Tapi
ketika Golok Maut melayang turun dan senjatanya
melindungi tubuh dengan rapat sekonyong-konyong
terdengar bentakan atau seruan,
“Lepaskan jaring!”
Dan benda-benda lebar hitam tiba-tiba menakup kepala
Si GolokMaut dari segala penjuru.
Si Golok Maut terkejut karena waktu itu dia baru saja
berjungkir balik, turun ke tanah ketempat pasukan tombak
ini. Maka begitu puluhan jaring tiba-tiba melayang ke
bawah dan menakup kepalanya tiba-tiba Golok Maut
dibuat tersentak dan tentu saja senjata ditangannya itu
bergerak membabat.
“Bret-bret!”
Tujuh jaring robek. GolokMaut dapat keluar tapi jaringjaring
yang lain kembali berhamburan, susul-menyusul dan
tentu saja laki-laki bercaping itu terkejut. Dan ketika dia
marah dan membentak menggerakkan goloknya lagi tibatiba
Mindra dan keempat kawannya itu telah berkelebat dan
tertawa dengan jaring menyambar pula, di tangan kiri!
“Ha-ha, betul, Golok Maut. Sekarang kami dapat
meringkusmu!”
Si Golok Maut kaget. Di atas kepalanya menyambar tak
kurang dari tigapuluh jaring, robek yang satu muncul lagi
yang lain. Semuanya bertubi-tubi dan dilepaskan dari jarak
jauh.
Dan ketika dia dibuat sibuk dengan membabat jaringjaring
ini sementara Mindra dan kawan-kawan mendadak
juga memegang jaring dan menyerang dirinya dengan cara
yang licik maka Golok Maut tersentak ketika jaring yang
dilepas kakek India itu menakup kepalanya.
“Rrt!”
Golok Maut terjebak. Mindra tertawa bergelak dan
GolokMaut tak dapat melepaskan diri.
Saat itu empat temannya juga melempar jaring dan kaki
serta tangan tokoh bercaping itu terjirat. Kejadian
berlangsung demikian cepat dan semuanya itu dapat terjadi
karena disamping kelima kakek ini masih menyambar
puluhan jaring-jaring lain, jadi waktu itu Golok Maut
dibuat sibuk dengan jaring-jaring diluar kelima kakek ini.
Maka begitu kepalanya tertutup dan lemparan jaring kakek
India itu jelas berbeda dengan lemparan jaring para
pengawal yang bertenaga biasa maka Golok Maut terjebak
dan tiba-tiba tak dapat menggerakkan tubuhnya!
“Ha-ha, lepaskan golokmu. Atau kau mati!”
Pengawal dan panglima bersorak.Mereka melihat Golok
Maut terjebak seperti seekor harimau yang tak berdaya lagi.
Laki-laki itu terjirat dan seluruh tubuhnya terikat. Mereka
tiba-tiba berhamburan dan maju dengan senjata di tangan,
menusuk dan membacok karena saat itu, Mindra dan lainlain
sedang berkutat mempertahankan jaring, bersitegang
dan menarik agar Golok Maut itu tak dapat melepaskan
diri.
Tapi ketika senjata golok atau tombak mengenai tubuh
laki-laki ini ternyata semuanya patah-patah dan Golok
Maut masih dapat menendang!
“Plak-des-augh!”
Tombak dan golok patah-patah tak keruan. Mindra
berteriak agar para pengawal itu mundur, karena hal itu tak
dikehendakinya. Dia ingin menangkap hidup-hidup tokoh
bercaping ini untuk diserahkan kepada Coa-ongya, karena
tentu Coa-ongya lebih menghendaki Si Golok Maut itu
ditangkap hidup-hidup daripada sudah menjadi mayat.
Namun karena para perwira dan pengawal sudah terlanjut
bersorak-sorai dan mereka itu membacok atau menusuk
Golok Maut tapi gagal maka mereka yang terkena
tendangan tiba-tiba menjerit dan celaka sekali berjatuhan
menimpa Mindra dan empat kawannya.
“Keparat…. bres-bress.”
Kakek itu mengumpat-umpat. Baik dia maupun yang
lain otomatis terganggu kejadian ini, tegangan mengendor
dan jaring pun melonggar. Dan karena itu cukup bagi Si
Golok Maut untuk membebaskan diri maka sekali
membentak tiba-tiba tokoh ini sudah meronta dan bebas,
benar-benar dapat keluar lagi. Dan begitu Golok Maut
menggeram dan berkelebatan kesana-sini maka puluhan
pengeroyok yang tadi membacok atau menusuk tubuhnya
menjadi korban!
“Crat-crat!”
Jerit ngeri dan teriakan panjang ini menggema di empat
penjuru. Golok Maut telah bersikap beringas dan
kemarahannya tadi tak dapat ditahan lagi. Dia hampir
celaka oleh jaring kelima kakek iblis itu namun untung para
pengawal yang bodoh-bodoh ini menolongnya. Mereka
tanpa sadar mengganggu kelima kakek itu dan ini berarti
kebebasan baginya. Maka begitu keluar dan golok bergerak
naik turun maka empatpuluh tubuh sudah bergelimpangan
tak bernyawa.
“Minggir… minggir. Kalian bodoh!” kakek India
berteriak-teriak, marah dan mengumpat-caci dan Pek-mo-ko
maupun yang lain-lain juga membentak dan memaki-maki
kebodohan para pengawal tadi. Mereka melepaskan buruan
dan kini Golok Maut mengamuk, memaksa mereka
mundur dan Mindra sendiri maupun empat temannya
terpaksa bergulingan menjauhkan diri. Maklumlah,
kemarahan Golok Maut tak dapat dibendung lagi dan lakilaki
itu berusaha mendekati mereka, dengan golok yang
berlumuran darah tapi cepat kering lagi karena dihisap oleh
kekuatan aneh di tubuh golok itu, kekuatan iblis, daya gaib!
Dan karena Golok Maut benar-benar marah dan pasukan
cerai-berai tiba-tiba Golok Maut melepas tiga benda bulat
ke arah Mindra dan kawan-kawan yang sedang
bergulingan.
“Dar-dar!”
Granat tangan meledak. Kiranya Golok Maut
menggunakan senjata penyelamatnya itu, senjata terakhir.
Dia melepas lagi beberapa granat tangan ke arah pengawal
yang tentu saja tiba-tiba berhamburan dan menjerit-jerit.
Mereka yang terkena segera terlempar roboh, luka parah.
Mindra terkejut dan bergulingan semakin menjauhkan diri
saja. Keempat temannya juga begitu dan asap tebal tiba-tiba
menghalangi pandangan. Dan ketika beberapa granat lagi
meledak dan duaribu orang itu cerai-berai maka Golok
Maut lenyap dan entah menghilang kemana.
“Kejar! Tangkap Si GolokMaut itu. Jangan sampai lari!”
Namun siapa yang mengejar? Dilempari granat itu saja
mereka sudah panik, belum lagi oleh keganasan Si Golok
Maut yang amat nggegirisi. Maka begitu semuanya
berusaha menyelamatkan diri sendiri-sendiri dan Mindra
hanya berteriak mengumpat caci maka ketika asap tebal
menghilang Si Golok Maut itu juga tak tampak
bayangannya lagi.
Tigaratus orang tewas dengan tubuh malang-melintang.
Seratus diantaranya putus tanpa kepala, darah membanjir
dan menyatu dengan air hujan yang membasahi tanah. Dan
ketika yang lain tertegun dan ngeri maka bayangan Coaongya
muncul di balkon gedungnya.
“Bodoh! Gentong-gentong kosong semua! Heh, mana itu
Si Golok Maut, Lui-ciangkun? Mana binatang jahanam
keparat itu? Dan kau..!” pangeran ini menuding Pek-mo-ko
dan lain-lainnya itu. “Bagaimana Si Golok Maut sampai
lolos, Mo-ko? Kenapa kalian membiarkannya lari dan tidak
mengejar? Keparat, kalian hanya pandai memakan uang.
Tak becus menangkap satu orang saja dan layaknya anakanak
kecil yang goblok dan tolol!”
Dan ketika semua orang tertegun dan tentu saja tak
berani bercuit, Coa-ongya marah-marah dan menudingnuding
mereka semua maka hujan di malam yang
mengerikan itu reda. Coa-ongya marah bukan main di atas
balkon dan mencaci-maki mereka semua. Mindra dan
saudaranya juga disemprot! Namun ketika yang lain ini
juga diam saja dan tak bergeming maka muncullah Kuntaijin
yang membujuk dan memberi hormat di depan
pangeran ini.
“Mereka tak bersalah. GolokMaut memang terlalu lihai.
Biarlah paduka masuk kembali dan biarkan aku bercakapcakap
dengan mereka.”
“Tidak. Aku justeru ingin mencaci-maki mereka ini,
taijin. Para pembantuku itu juga gentong-gentong kosong
yang tak bisa apa-apa. Ah, mereka itu anjing penjaga yang
bisanya makan melulu!”
“Sst, tak perlu mengumbar marah disini, pangeran.
Semuanya sedang sedih dan paduka masuk saja ke dalam.
Mo-ko dan kawan-kawannya itu juga terpukul. Sebaiknya
paduka tak usah menyakitkan hati mereka dan aku
khawatir kalau mereka pergi karena tersinggung!”
Coa-ongya terbelalak. Akhirnya dia terkejut juga ketika
Kun-taijin bicara seperti itu.
Memang repot kalau Mo-ko dan kawan-kawannya
sampai pergi meninggalkan dirinya, tentu tanpa pelindung
lagi dan itupun berarti tak baik. Maka ketika dia dibujuk
lagi dan dengan halus menteri Kun bicara menasihati
akhirnya pangeran ini sadar dan insyaf, kembali
menghilang dan dialah tadi yang memberi perintah agar
GolokMaut diserang dengan jaring.
Pengalamannya masa lalu membuat pangeran ini ingin
mengulang keberhasilannya. Tapi bahwa GolokMaut dapat
lolos juga dan tokoh bercaping itu memjliki granat untuk
menyelamatkan dirinya maka banjir darah malam itu
menjadi buah bibir semua orang. Istana benar-benar
terguncang dan ini untuk kedua kalinya Si GolokMaut itu
beraksi, bukan main beraninya. Bahkan berhasil membunuh
Ci-ongya, satu dari dua orang yang dibenci! Dan ketika
malam itu mayat-mayat yang tewas diurus dan Kun-taijin
turun tangan meredakan Coa-ongya maka keesokannya
istana dan seluruh rakyat mengibarkan bendera tanda
berkabung.
-0deOwi0-
“Begitulah,” Kun-taijin mengakhiri ceritanya, menarik
napas dalam. “Sri baginda dan Coa-ongya marah-marah,
Beng Tan. Sri baginda marah karena GolokMaut dianggap
menghina istana sedang Coa-ongya karena adiknya
dibunuh. Kami tak dapat berbuat apa-apa karena Golok
Maut benar-benar luar biasa. Dikeroyok duaribu orang dia
dapat melarikan diri juga.Mengejutkan!”
Beng Tan termangu-mangu. Mendengar semua cerita ini
memang dia dapat memaklumi. GolokMaut amat lihai dan
hanya dialah yang dapat menghadapi. Itu-pun kalau dia tak
memiliki Pek-jit-kiam, Pedang Matahari, tak mungkin dia
dapat menandingi lawannya itu. Dan ketika Kun-taijin
selesai bercerita dan Swi Cu yang ada disampingnya juga
termangu dan ngeri maka Kun-taijin bertanya pada pemuda
itu apa yang selanjutnya hendak dilakukan.
“Bagaimana menurut pendapat taijin, apa yang harus
kulakukan,” Beng Tan balas bertanya,
Memang tidak tahu apa yang harus dilakukan karena
khawatir kalau ia meninggalkan istana jangan-jangan sri
baginda marah lagi. Gara-gara keterlambatannya datang di
istana terjadilah semuanya itu. Ah, kalau saja dia ada disitu!
Beng Tan bergidik melihat sepak terjang Si GolokMaut ini.
“Hm, apa yang harus kuberikan?” Kun-taijin menarik
napas dalam, kembali menekuri keadaan di depan. “Aku
tak dapat memerintahkan apa-apa, Beng Tan. Hanya kaisar
yang berhak memerintahmu. Kau pengawal pribadinya, aku
hanya sekedar mewakili sri baginda menceritakan peristiwa
ini kepadamu!”
“Benar, tapi setidak-tidaknya kau dapat memberikan
pandangan, taijin. Apa yang kira-kira harus kuperbuat'”
“Sebaiknya kau menghadap sri baginda saja. Tanya apa
sarannya.”
“Tapi sri baginda baru marah-marah. Aku tak enak!”
“Bukan sekarang, Beng Tan, melainkan besok. Biar
kuantar dan besok sri baginda tentu sudah lebih dingin.”
“Hm,” Beng Tan mengangguk. “Benar, taijin. Tapi
agaknya satu yang diperintahkan baginda, aku harus
menangkap atau membunuh Si GolokMaut itu!”
“Kukira memang begitu, dan kaulah satu-satunya
pemilik Pedang Malayan. Golok Penghisap Darah di
tangan Si GolokMaut itu tak ada tandingannya. Kau harus
bergerak!”
Beng Tan mengangguk. Kun taijin akhirnya bicara sanasini
lagi memberi petunjuk sebelum dia disuruh istirahat.
Dan ketika malam itu Beng Tan ada di kamarnya dan Swi
Cu mendapat kamar di sebelah maka malam itu dua mudamudi
ini bercakap-cakap.
“Golok Maut memang terlalu. Keberingasannya sudah
melewati batas. Hm, orang sedunia perlu menghukum
pemuda ini dan mencincangnya sebelum mampus!”
“Sabar,” Beng Tan berkedip memandang lampu-lampu
teng yang mulai dipasang para pengawal. “Sepak terjang Si
Golok Maut tentu didasari sesuatu, Cu-moi. Dan aku
melihat api dendam yang besar sekali di hatinya.
Permusuhannya berawal dengan Coa-ongya dan Ci-ongya
itu. Dan sekarang satu di antara dua musuhnya itu telah
dibunuh!”
“Dan kau membelanya?”
“Eh, siapa membela?”
“Kau menyuruh aku sabar, koko. Padahal iblis macam
itu tak perlu disabari. Dia harus dibunuh dan habis perkara.
Apalagi dia juga memperkosa suciku!” Swi Cu tiba-tiba
menangis, marah kepada kekasihnya dan buru-buru Beng
Tan memeluk. Dia berkata bahwa bukan begitu
maksudnya, sepak terjang Si Golok Maut tak patut dibela
tapi Beng Tan bermaksud membicarakan sebab-sebab paling
dalam kenapa tokoh yang ganas itu dapat sedemikian
kejam. Membunuh-bunuhi orang-orang she Coa dan Ci
hanya karena permusuhannya dengan dua orang pangeran
di istana itu. Dan ketika Swi Cu menjawab bahwa
semuanya itu tak perlu diketahui karena Golok Maut pada
dasarnya adalah iblis maka Beng Tan menarik napas
panjang tak mau berdebat.
“Baiklah… baiklah. Dia memang iblis. Tapi sebelum aku
diperintahkan membunuh Si Golok Maut ini aku ingin
mengetahui kenapa dia bisa sampai begitu.” lalu menunduk
dan mencium kekasihnya.
Pemuda ini mengajak bicara yang lain, percuma bicara
tentang itu karena Swi Cu sudah terlampau dendam
terhadap si tokoh bercaping itu. Dugaan mereka bahwa
Golok Maut memperkosa Wi Hong membuat gadis ini tak
mau mendengar GolokMaut dibela sekecil apapun, apalagi
oleh Beng Tan, pemuda yang menjadi kekasihnya sekaligus
calon suaminya. Ah, tak boleh Beng Tan mencari kebaikankebaikan
Si Golok Maut, betapa pun kecilnya. Dan ketika
mereka bicara yang lain dan malam itu pemuda ini
menunggu fajar maka keesokannya dia sudah ditunggu
menteri Kun.
“Dapat tidur, Beng Tan? Nyenyak tidurnya?”
“Ah,” Beng Tan tersenyum, melirik Swi Cu. “Kami
semalam dapat tidur enak, taijin. Meskipun tentu saja
penuh dengan mimpi-mimpi buruk. Kami masih terkejut
oleh kejadian di istana!”
“Hm, aku juga. Dapat terlelap sejenak tapi setelah itu
ingat kau. Sudahlah, kita menghadap sri baginda dan
kutemani kau untuk menerima titahnya.”
Beng Tan mengangguk. Dia menyuruh Swi Cu tinggal di
situ tapi gadis ini tak mau, menolak dan ingin ikut bersama.
Beng Tan memperingatkan bahwa kemarin kaisar memakimaki
gadis itu. Tapi ketika Swi Cu berkata bahwa dia tak
menaruh di hati semua ucapan kaisar karena keadaan
sedang dirundung malang maka Beng Tan mengangguk dan
membiarkan kekasihnya ikut.
“Baiklah, tapi jangan marah kalau sri baginda masih
mengeluarkan kata-kata pedas!”
“Aku tak apa-apa, asal selalu di sampingmu!”
Dan ketika Kun-taijin tersenyum karena ucapan itu
penuh arti maka ketiganya berangkat dan sudah menemui
sri baginda, yang pagi itu ternyata sudah duduk di kursi
singgasananya, sedikit cerah meskipun sorot matanya masih
menampakkan sisa-sisa kecewa dan marah.
“Maaf, kemarin aku tak dapat menahan diri, Beng Tan.
Dan, ah… betapa cantiknya kekasihmu ini!”
Beng Tan berlutut. Dia tersenyum dan cepat memberi
hormat bersama Kun-taijin. Swi Cu merah mukanya namun
gembira di hati, kaisar bersikap ramah dan sikapnya
sungguh berbeda dengan kemarin. Dan ketika semua
memberi hormat dan kaisar menerima, menyuruh mereka
berdiri maka Beng Tan bertiga dipersilahkan duduk.
“Aku sudah mendengar maksud kedatanganmu, Kuntaijin
memberitahuku semalam. Nah, katakan bagaimara
pandanganmu setelah mendengar semuanya ini.”
“Hamba ingin meminta pendapat paduka, tak berani
mendahului.”
“Hm, aku pribadi ingin menyuruhmu menangkap dan
membunuh Si Golok Maut itu, Beng Tan. Bawa kepalanya
kemari dan tenangkan suasana!”
“Benar, hamba akan melaksanakan titah paduka, sri
baginda. Tapi mohon keterangan kenapa Golok Maut itu
mempunyai permusuhan demikian mendalam terhadap
Coa-ongya maupun Ci-ongya?”
“Hm, ini…” kaisar mengerutkan kening, tiba-tiba
tertegun. “Aku tak ingin menceritakannya, Beng Tan. Dan
barangkali tak perlu bagimu. Yang jelas Golok Maut telah
menghina dan mengacau di istana, untuk ini saja dia sudah
dapat dianggap pemberontak dan musuh berat!”
“Apakah hamba tak boleh mengetahui asal mulanya?”
“Itu urusan pribadi adikku. Kalau kau mau bertanya
silahkan saja kepada yang bersangkutan. Dan, eh…
bukankah tak perlu semuanya ini, Beng Tan? Kau
kutugaskan untuk menangkap atau membunuh Si Golok
Maut itu, bukan menyelidiki. asal mula permusuhan ini!”
“Benar, tapi maaf, sri baginda. Sebagai orang kang-ouw
yang menjunjung tinggi nilai-nilai kegagahan dan keadilan
mestinya hamba ingin tahu kenapa Golok Maut itu dapat
bersikap demikian kejam. Siapa yang bersalah dan
bagaimana sebenarnya duduknya perkara.”
“Hm-hm!” kaisar menggeleng-geleng kepala. “Urusan ini
tak ingin kubicarakan, Beng Tan. Karena Golok Maut
harus ditangkap atau dibunuh. Dia telah mengacau istana,
membunuh dan menghina aku!”
“Benar…” Beng Tan mau bicara lagi, mendesak tapi Kuntaijin
tiba-tiba menyenggol lengannya, batuk-batuK dan
memberi isyarat agar dia tidak banyak bertanya. Deheman
halus dari menteri itu menyadarkan Beng Tan bahwa tak
sepatutnya dia mendesak kaisar. Dia sudah menerima
perintah dan dia tinggal melaksanakan. Dan ketika Beng
Tan sadar dari menahan kata-katanya maka menteri itu
mendahului berkata,
“Maaf, kami mengerti, sri baginda. Tapi Beng Tan
barangkali hendak bertanya apakah dia harus meninggalkan
istana lagi atau tidak. Maklumlah, Beng Tan khawatir
paduka marah-marah kalau Golok Maut datang sementara
dia pergi! Bukankah begitu, Beng Tan?”
Pemuda ini mengangguk. Dengan cepat dia tanggap
akan pertanyaan Kun-taijin itu. Bahwa dia harus mengikuti
perintah kaisar dan memang inilah yang hendak
ditanyakan, apakah dia harus mencari Golok Maut dan
membawanya ke istana ataukah menunggu GolokMaut itu
datang lagi di istana dan dia menghadapi. Dan karena
pertanyaan itu tepat dan Beng Tan tentu saja mengangguk
maka pemuda ini membenarkan dan sadar.
“Benar, begitu maksud hamba, sri baginda.
Bagaimanakah caranya hamba melaksanakan tugas ini.”
“Kau harus pergi lagi, dan secepatnya kembali!”
“Tapi kalau dia datang?”
“Tidak, GolokMaut baru saja mengacau, Beng Tan. Tak
mungkin dia datang dalam waktu sedekat ini. Dan aku
hendak memerintahmu langsung ke Lembah Iblis, tempat
Si GolokMaut itu tinggal!”
“Lembah Iblis?” Beng Tan terkejut.
“Ya, Lembah Iblis, Beng Tan. Aku mendapat keterangan
bahwa Golok Maut bertempat tinggal disana. Dia pasti
kembali ke sarangnya setelah gagal melakukan balas
dendamnya disini, karena adikku Coa-ongya masih hidup!”
Beng Tan tertegun.
“Dan kau bawa limaribu pasukan kesana!”
Beng Tan semakin terkejut. “Apa?” pemuda ini
membelalakkan mata. “Bersama pasukan, sri baginda?
Hamba harus menangkap Si Golok Maut itu bersama
demikian banyak orang?”
“Aku tak mau gagal, dan aku juga tidak menyangsikan
kepandaianmu. Tapi karena Lembah Iblis merupakan
tempat yang tersembunyi dan aku tak ingin iblis itu pergi
meninggalkanmu maka limaribu orang yang akan
mengiringimu itu bertugas hanya mengepung lembah!”
“Tapi hamba tak suka!” Beng Tan memprotes, tiba-tiba
bangkit berdiri. “Hamba sendiri sanggup membawa Si
Golok Maut itu, sri baginda. Dan hamba bersumpah akan
membawanya kehadapan paduka!”
“Tapi kau gagal ketika bertemu,” kaisar bersinar-sinar,
memandang tajam. “Aku tak ingin hal itu terulang, Beng
Tan. Dan terus terang saja kali ini aku tak mau gagal! Luiciangkun
dan Kwan-goan-swe (jenderal Kwan) akan
menyertaimu. Dan mereka itulah yang membawa pasukan!”
Beng Tan tertegun. Tiba-tiba dia merasa terpukul karena
seolah kaisar kurang percaya kepadanya. Dia diberi
bantuan limaribu orang untuk menangkap si Golok Maut,
hal yang tidak main-main lagi dan tentu saja membuat
pemuda itu marah. Tapi ketika kaisar berkata lagi bahwa
kaisar tidak meragukan kepandaiannya melainkan semata
mengepung Lembah iblis agar Golok Maut tak dapat
melarikan diri maka perlahan-lahan muka Beng Tan pulih
kembali.
“Aku tidak menyangsikan kepandaianmu, dan aku
bukannya tidak percaya. Tapi ingat, GolokMaut cerdik dan
licik memiliki granat-granat tangan, Beng Tan. Dengan itu
dia dapat lari dan meloloskan dirinya. Dan aku tidak
menghendaki ini. Aku ingin kau membereskannya dan
tidak bekerja dua tiga kali!”
“Hm, tapi sekian banyak orang…” Beng Tan termangumangu.
“Memalukan hamba, sri baginda. Membuat hamba
tak ada muka untuk menghadapi Si Golok Maut itu.
Sebaiknya begini saja. Untuk menjaga lembah hamba
hanya minta bantuan beberapa orang saja, tiga atau empat
orang cukup. Orang-orang berkepandaian tinggi seperti Pekmo-
ko dan lain-lainnya itu yang membantu Coa-ongya!”
“Hm, begitukah?” kaisar memandang ragu, cepat diberi
isyarat rahasia oleh Kun-taijin, yang mengedip-ngedip dan
menunjuk berulang-ulang ke arah Beng Tan. “Baiklah, Beng
Tan. Kuikuti permintaan-mu tapi bagaimana tanggung
jawabmu bila sekali ini gagal!”
“Hamba akan menyerahkan kepala hamba!” Beng Tan
tiba-tiba berseru gemas. “Hamba yakin tak akan gagal, sri
baginda. Asal benar-benar bertemu dengan Si Golok Maut
itu di Lembah Iblis!”
“Bagus, janjimu kuterima. Kalau begitu pergilah ke
tempat adikku dan mintalah bantuan kelima pelindungnya
itu agar menemanimu!”
Swi Cu terkesiap. Kekasihnya telah mempertaruhkan
kepala kalau kali ini tugas gagal, padahal Golok Maut itu
lihai dan dulu mereka berimbang. Bahkan Beng Tan sendiri
mengakui bahwa sebenarnya sukar merobohkan Si Golok
Maut itu karena masing-masing sama dan setingkat. Golok
Maut memiliki Golok Penghisap Darah itu sementara Beng
Tan dengan pedang Pek-jit-kiamnya. Baik senjata mau-pun
kepandaian sebenarnya berimbang. Dulu mereka samasama
roboh ketika bertanding di pulau. Tapi karena Beng
Tan sudah menyerahkan janjinya dan agaknya pemuda itu
juga gemas dan marah karena sepak terjang Golok Maut
benar-benar dinilai keterlaluan maka pagi itu Beng Tan
menemui Coa-ongya, bersama Swi Cu Dan ketika dia pergi
berdua karena Kun-taijin ditahan kaisar maka terdengar
kisik-kisik diantara sri baginda dengan menteri itu. *
“Kenapa kau memberiku isyarat?”
“Maaf, agar supaya Beng Tan tidak tersinggung, sri
baginda. Sebab menolak begitu saja tentu tidak baik. Betapa
pun dia adalah pemuda hebat yang satu-satunya dapat
menandingi GolokMaut!”
“Hm, aku sebenarnya penasaran. Baiklah, kuharap dia
sudah bertemu adikku dan rencana tidak akan gagal.”
Beng Tan sudah menghadap Coa-ongya. Dia tentu saja
tidak mendengar pembicaraan ini yang mungkin akan
menimbulkan kecurigaannya. Maklumlah, kaisar tak
bersuara keras-keras dan Kun-taijin juga tampak berhatihati.
Dan ketika dia tiba di gedung pangeran itu dan Coaongya
sudah menyambut maka bayangan lima kakek
pelindung tampak berkelebatan disekitar sang pangeran.
“Aha, kau, Beng Tan? Sudah datang?”
Beng Tan memberi hormat. Coa-ongya yang berdiri
menyambut dan bergegas bangkit dari kursinya membuat
Beng Tan agak tersipu. Sebenarnya dia sudah mengenal
pangeran ini kecuali yang bersangkutan. Coa-ongya belum
pernah bertemu muka tapi agaknya sudah dapat menduga
siapa dia, tentu dari para pembantunya. Dan ketika dia
memberi hormat dan Coa-ongya bersinar-sinar
memandangnya gembira mendadak pangeran itu tertegun
melihat Swi Cu, sepasang matanya mengeluarkan cahaya
aneh.
“Siapa dia?”
“Maaf,” Beng Tan menjura. “Kekasih hamba, ong-ya.
Swi Cu.”
“Hm, cantik sekali!” sang pangeran memuji tak
canggung-canggung, tiba-tiba tertawa dan menarik lengan
Beng Tan. “Mari… mari duduk, Beng Tan. Aku sudah
mendapat kabar tentang kedatanganmu dari sri baginda
kaisar!”
Swi Cu berdetak. Beng Tan sudah ditarik pangeran itu
dan duduk menghadapi meja besar, diperkenalkan kepada
kelima kakek-kakek itu tapi Beng Tan tersenyum. Tentu
saja dia mengenal dan bahkan pernah bergebrak! Dan
ketika Sudra maupun saudaranya melengos dan merah
bertemu pemuda ini maka Swi Cu agak berdebar melihat
kilatan mata Coa-ongya yang agak lain dan membuatnya
tidak enak.
“Siapa kekasihmu ini? Dari mana?”
Beng Tan tersenyum. Dengan wajar dia menjawab
bahwa Swi Cu adalah wakil ketua Hek-yan-pang, berkata
bahwa gadis itu dikenalnya di Hek-yan-pang pula, ketika
diserbu dan mendapat amukan Golok Maut. Dan ketika
Coa-ongya terkejut tapi merah mukanya mendengar nama
Golok Maut disebut-sebut maka perhatiannya terseret dan
mengepal tinju dengan mata berapi.
“Ah, kiranya Hu-pangcu dari Perkumpulan Walet
Hitam. Maaf, aku tak tahu, nona. Kukira siapa! Hm, dan
Golok Maut menyerang Hek-yan-pang pula. Sungguh
kurang ajar! Apakah ketuamu bershe Coa atau Ci?”
“Tidak,” Swi Cu menjawab. “Suciku bukan she Coa atau
Ci, ong-ya. Tapi kedatangan Golok Maut semata atas
keponakanmu Ci Fang itu!”
“Oh, dia? Ya-ya…” pangeran ini mengangguk-angguk.
“Sekarang Ci Fang entah kemana, nona. Dan ayahnya
terbunuh oleh Si Golok Maut itu. Jahanam, aku ingin
menuntut balas!”
Beng Tan bermuka murung. Bicara tentang itu tiba-tiba
saja dia sudah dibawa kemasalah dendam. Pangeran
tampak begitu benci namun tak dapat disembunyikan pula
ketakutan atau kekhawatirannya yang hebat. Maklumlah,
GolokMaut benar-benar luar biasa dan dua kali menyatroni
istana dua kali itu pula Golok Maut dapat meloloskan diri.
Jadi tokoh ini memang amat lihai dan kepandaiannya
tinggi.
Beng Tan sendiri mengakui itu karena sudah pernah
bertanding dan mengadu jiwa, nyaris sampyuh kalau saja
kakek dewa Bu-beng Sian-su tidak datang menolong. Dan
ketika pembicaraan sudah berkisar ke Golok Maut ini dan
Coa-ongya sesekali masih menyambar Swi Cu dengan sinar
mata aneh maka pangeran menutup bahwa sri baginda
kaisar katanya mengutus Beng Tan untuk menangkap dan
membunuh laki-laki bercaping itu.
“Semalam sri baginda telah memanggil aku, dan
menerangkan maksud atau keinginannya. Nah, katakan
bagaimana keinginanmu atau keputusan kaisar setelah kau
menghadap padanya!”
“Hamba diminta ke Lembah Iblis…”
“Cocok! Kalau begitu limaribu pasukan juga akan
menyertaimu!”
“Tidak, untuk ini hamba menolak, ong-ya. Memalukan
rasanya untuk membekuk seorang saja harus dikerahkan
sedemikian banyak orang,” Beng Tan menggeleng, ganti
memotong omongan orang. “Hamba mengajukan usul lain
dan kini sri baginda menyerahkannya kepada paduka!”
“Hm, usul apa? Tentang apa?”
“Bantuan ke Lembah Iblis itu. Sri baginda khawatir kalau
Golok Maut lolos, minta agar hamba sekali kerja tak
mengulang dua tiga kali.”
“Ya-ya, itu juga dikatakannya kepadaku!” Coa-ongya
mengangguk-angguk. “Aku rasa memang benar, Beng Tan.
Bukan tidak mempercayai kepandaianmu melainkan
semata mengepung dan menjaga supaya Golok Maut tidak
melarikan diri'”
“Hm, cara ini hamba tak suka,” Beng Tan menggeleng
lagi. “Kalau bantuan dimaksudkan agar Golok Maut tidak
melarikan diri maka jumiah demikian besar tidak cocok
bagi hamba, ong-ya. Terus terang hamba menolak. Dan sri
baginda menyetujui rencana hamba yang lain!”
“Hm!” Coa-ongya bersinar-sinar, kagum dan mendecak
karena tidak sembarang orang dapat dengan begitu saja
“memerintah” kaisar. Beng Tan telah mempengaruhi kaisar
dan menolak bantuan pasukan, perbuatan yang tak
mungkin dilakukan orang lain kalau pemuda itu betul-betul
tidak memiliki kepandaian tinggi. Dan ketika Coa-ongya
mengangguk-angguk dan bertanya bagaimana maksud Beng
Tan, maka pemuda ini memandang dua kakek India itu
bersama tiga temannya yang lain.
“Hamba ingin meminjam pengawal-pengawal pribadi
paduka. Dengan lain kata, limaribu pasukan itu hamba
ganti saja dengan lima orang pembantu paduka!”
Sang pangeran tertegun. “Mereka-mereka ini?”
“Ya, mereka-mereka ini, ong-ya. Mindra dan temantemannya.
Hamba telah berkenalan dengan mereka dan
tentu mereka setuju, asal paduka setuju pula!”
“Hm-hm!” pangeran berseri-seri, menoleh kebelakang.
“Bagaimana kalian,Mindra? Setuju?”
“Kami menyerahkannya kepada paduka,” Mindra
menjawab gugup. “Kalau paduka setuju tentu saja kami
setuju, pangeran. Tapi bagaimana istana kalau ditinggal
kami semua!”
“Hm, sri baginda menjamin GolokMaut tak akan datang
dalam waktu dekat. Dia dipastikan kembali ke Lembah
Iblis!” Beng Tan menjawab, mendahului. “Karena itu
masalah istana tak usah khawatir, Mindra, Lui-ciangkun
atau Kwan-goanswe akan mengambil alih tugas kita disini!”
“Benar,” Coa-ongya mengangguk. “Kami mendapat
kabar bahwa Golok Maut bertempat tinggal di Lembah
Iblis, Beng Tan. Dan sri baginda juga telah
memberitahukan pandangannya itu. Kalau kau minta
mereka ini menemani dan sri baginda tak menolak tentu
saja aku juga memenuhi permintaanmu!”
“Kalau begitu terima kasih,” Beng Tan bersoja. “Tapi
keikutsertaan mereka hanya menjaga disekitar lembah, ongya.
Jangan sekali-sekali membantu hamba mengeroyok Si
GolokMaut!”
“Ha-ha!” sang pangeran tertawa bergelak. “Kau jujur,
Beng Tan. Tapi sekilas berkesan sombong! Hm, kalau saja
aku tak mendengar tentang kelihaianmu dan kau bukan
pengawal bayangan sri baginda kaisar tentu aku akan
menganggapmu bermulut besar! Eh, omong-omong aku
ingin kau menunjukkan sedikit kepandaianmu, Beng Tan.
Bolehkah? Kalau kau mampu menghadapi Golok Maut
seorang diri tentu kau mampu pula menghadapi kelima
pembantuku ini. Nah, coba perlihatkan kepandaianmu dan
biar mataku ini terbuka!”
Coa-ongya tertawa bergelak, pembicaraan inti sudah
selesai dan kini tiba gilirannya untuk menyaksikan
kepandaian pemuda itu. Sebelumnya Sudra dan Mindra
telah memuji kepandaian pemuda ini, dan kaisar pun
mempergunakan pemuda itu sebagai pengawal
bayangannya, satu jabatan tinggi karena mempertaruhkan
kepercayaan yang besar. Dan ketika Beng Tan tersenyum
dan dua kakek India itu tersipu merah maka Beng Tan tentu
saja memenuhi permintaan pangeran ini.
Langsung saja dia memandang lima kakek itu, Pek-moko
dan Hek-mo-ko melotot namun Beng Tan tidak perduli.
Dan ketika dia melangkah maju dan mengangguk di depan
kelima kakek itu maka Beng Tan sudah berhadapan dengan
Mindra dan kawan-kawannya ini.
“Ong-ya ingin aku menundukkan kalian. Lagi pula
belum pernah kalian berlima maju mengeroyok secara
berbareng. Nah, majulah, Mindra. Dan mari kita mainmain
sebentar!”
Mindra dan kawan-kawannya berkelebat. Ditantang dan
digapai pemuda itu tentu saja mereka tak dapat menolak,
mundur adalah merupakan perbuatan pengecut dan
memalukan. Dan ketika semuanya bergerak dan Coa-ongya
ingin melihat kepandaian pemuda ini maka Beng Tan
bersiap-siap memasang kuda-kuda.
“Tak perlu sungkan lagi. Kita bergebrak siapa yang robek
bajunya dia kalah!”
Mindra mendesis. Kakek ini tentu saja maklum akan
kepandaian Beng Tan namun marah karena pemuda itu
dianggap merendahkan dirinya di depan Coa-ongya. Beng
Tan tak mencabut senjata dan tentu saja dia lebih berani,
karena pemuda itu akan lebih hebat kalau mengeluarkan
Pek-jit-kiamnya, Pedang Matahari, pedang yang
mengerikan karena tajamnya sama dengan Golok
Penghisap Darah, golok maut di tangan Si Golok Maut itu.
Dan ketika si pemuda sudah bersiap dan keempat
kawannnya pun juga sudah menggeram membentak
pemuda itu tiba-tiba kakek ini sudah maju menubruk
dengan pukulanHwi-seng-ciangnya.
“Bocah, boleh robohkan kami berlima kalau kau
mampu!”
“Ha-ha, tentu. Kalau tidak begitu tentu kalian tak akan
tunduk, Mindra. Dan lihat sebelum limapuluh jurus kalian
semua akan kurobohkan, tanpa senjata!”
Beng Tan bergerak, membiarkan pukulan Hwi-sengciang
lewat dan tiba-tiba Hwee-kang atau Pukulan Api
menyembur dari mulut kakek Yalucang. Kakek itu marah
dan menganggap Beng Tan juga sombong, membentak dan
bergeraklah Pukulan Api dari mulutnya, meniup sekaligus
menghantam dengan kedua lengannya pula sementara Hekmo-
ko dan Pek-mo-ko melepas Pek-see-kang dan Hek-seekang
mereka, hebat dan tentu saja tidak main-main. Tapi
ketika Beng Tan berkelebat dan Hwi-seng-ciang yang
dilancarkan Mindra melewati samping tubuhnya maka
semua pukulan-pukulan itu diterimanya, disambut dengan
Pek-lui-ciang yang tiba-tiba meledak dari kedua lengannya,
Pukulan Kilat.
“Dar!”
Kelima lawannya terpekik. Mo-ko dan lain-lain terpental
dan lima orang kakek itu kaget bukan main, merasa
pukulan mereka tertolak dan Hwee-kang atau Pukulan Api
malah membalik menyambar kakek Yalucang sendiri,
menyembur dan mengenai mukanya. Tapi ketika kakek itu
bergulingan dan meniup padam maka api yang berkobar
lenyap dan Beng Tan pun tertawa.
“Ha-ha, gebrak pemanasan, Yalucang. Selanjutnya
kalian harus lebih berhati-hati!”
Beng Tan berkelebat mendahului lawan, tertawa dan
tiba-tiba beterbangan mengelilingi kelima orang itu bagai
capung menyambar-nyambar. Lima kakek itu membentak
dan tentu saja tak mau kalah.
Dan ketika mereka mengerahkan ginkangnya pula dan
ilmu meringankan tubuh ini dipakai untuk menghadapi
Beng Tan yang sudah beterbangan kian cepat maka enam
orang itu tiba-tiba tak nampak ujudnya lagi karena sudah
berobah menjadi bayang-bayang yang luar biasa cepat, jauh
lebih cenat daripada kelima kakek itu sendiri.
“Hebat!” Coa-ongya memuji, terkejut tapi tertawa girang,
“Hebat sekali, Beng Tan. Ah, kau benar-Denar luar biasa
dan agaknya setanding dengan GolokMaut!”
“Ha-ha,” Beng Tan tertawa. “Hamba sudah hapal
kepandaian lima orang lawan hamba ini ong-ya. Tapi kalau
mereka mau mencabut senjata tentu kekalahan mereka
lebih cepat.”
“Masa? Begitukah? Eh cabut senjata kalian,Mindra. Dan
lihat berapa jurus anak muda itu mengalahkan kalian. Aku
ingin melihat Pek-jit-kiamnya pula.”
“Ha-ha, hamba akan mengalahkan mereka dalam
duapuluh lima jurus, setengah dari yang dijanjikan!”
“Ah, begitukah? Hei, cabut senjata kalian, Mindra. Dan
perlihatkan apakah pemuda ini bermulut sombong atau
tidak!”
“Baik!” dan Mindra serta kawan-kawan yang tiba-tiba
mencabut senjata dan menggerakkannya diruangan besar
itu lalu melengking dan marah kepada Beng Tan, hampir
bersamaan semuanya bergerak berbareng dan tongkat atau
roda-gergaji bersiut hebat, menderu dan nenggala serta
cambuk juga mengeluarkan sinar bercahaya ketika
menjeletar dan menusuk kuat. Dan ketika kelima kakek itu
berseru mengeroyok Beng Tan maka Beng Tan tiba-tiba
berjungkir balik dan melayang tinggi nyaris menyentuh
belandar ruangan.
“Siut-trak-dess!”
Semua senjata menghantam lantai. Beng Tan telah
menyelamatkan dirinya. dengan berjungkir balik itu,
tertawa dan tiba-tiba mencabut Pek-jit-kiamnya ketika
melayang turun. Dan karena lima orang itu sudah
menggerakkan senjata masing-masing dan belum sempat
menarik diri ketika Beng Tan menggerakkan Pek-jitkiamnya
maka Pedang Matahari itu menusuk ganas ketika
ganti menyambar mereka.
“Awas!”
Mindra dan kawan-kawan terkejut. Mereka terpaksa
melempar kepala kebelakang ketika Pek-jit-kiam
menyambar, masih juga tersontek dan robeklah kelima baju
kakek-kakek itu. Dan ketika mereka berseru tertahan dan
Coa-ongya berteriak kagum maka Beng Tan sudah berdiri
lagi di tanah menerima bentakan dan serangan lawan, yang
sudah maju dan marah kepada pemuda itu!
“Ha-ha, hebat, Beng Tan. Aih, ini agaknya ilmu silat
pedangmu itu.Wah, luar biasa. Hebat dan mengagumkan!”
dan ketika Coa-ongya bertepuk tangan dan memuji
berulang-ulang maka hitungan demi hitungan sudah mulai
dilakukan Beng Tan.
Pedang Matahari sudah bergerak naik turun menahan
dan menyambar senjata kelima lawannya itu, kian lama
kian cepat saja hingga pedang bersinar putih itu sudah tak
dapat diikuti mata lagi. Dan ketika pertandingan sudah
berjalan cepat limabelas jurus banyaknya dan kakek Yalucang
membentak menggerakkan roda-gergajinya maka
untuk pertama kali Pek-jit-kiam membentur senjata lawan.
“Crak!”
Roda-gergaji putus. Kakek tinggi besar itu berteriak kaget
karena demikian mudahnya pedang di tangan si pemuda
membacok senjatanya, seolah membacok agar-agar! Dan
ketika kakek itu bergulingan melempar tubuh dan tongkat
Mo-ko kakak beradik juga menyambar pemuda ini maka
Beng Tan juga menyambut dan membabat dari samping.
“Crak-crak!”
Semuanya putus! Mo-ko menjerit dart bergulingan
seperti kakek tinggi besar itu pula ketika pedang masih
menyambar, menukik dan menuju dada mereka. Tapi
ketika mereka masih terlambat juga dan pedang menggores
ke bawah maka leher Mo-ko kakak beradik tergurat
panjang.
“Bret!”
Dua iblis itu pucat. Coa-ongya bersorak kagum dan tak
habis-habisnya memuji. Beng Tan. Sekarang dia benarbenar
melihat kepandaian pemuda ini yang sangat luar
biasa. Dan ketika gebrakan itu sudah berjalan duapuluh tiga
jurus dan tinggal dua jurus lagi untuk merobohkan dua
kakek terakhir maka Mindra dan Sudra sudah mengeluh
melihat Pek-jit-kiam mengurung diri mereka, tak dapat
keluar!
-oo0dw0oo-
Jilid-XXIII
“CRAK-CRAK!”
Habislah harapan dua kakek ini. Mereka terpaksa
menangkis karena pedang menuju tenggorokan, tak dapat
dikelit atau dielak karena gerakan pedang sedemikian
cepatnya, menyambar dan tahu- tahu su-dah serambut saja
di kulit leher. Dan ke-tika mereka menangkis dan nenggala
mau-pun cambuk tentu saja bukan tandingan Pek-jit-kiam
yang luar biasa maka dua senjata di tangan kakek lihai itu
putus.
“Ha-ha!” pangeran Coa bersorak. “Kalian kalah,Mindra.
Sekarang Beng Tan benar-benar membuktikan omongannya
dan tepat duapuluh lima jurus kalian menyerah!”
Memang benar. Lima orang kakek itu terpaksa mengakui
kekalahannya dan mereka menunduk lesu. Beng Tan telah
mengalahkan mereka dan kalau pemuda itu bersikap kejam
tentu mereka bakal terlu-ka, tidak hanya tergurat kulit atau
pecah berdarah seperti Mo-ko kakak beradik. Dan ketika
seraua raundur dan Coa-ongya melompat menepuk-nepuk
Eieng Tan maka hari itu Beng Tan benar-benar mendapat
perhatian istimewa pangeran ini.
nKau hebat, ilmu pedangmu luar biasa. Ah, ingin kulihat
kalau kau sudah bertanding dengan Si GolokMaut itu! Hm,
siapa gurumu, Beng Tan? Bolehkah aku tahu?”
“Maaf,” Beng Tan tersenyum. “Guruku tak mau disebut
guru, ong-ya. Aku hanya belajar sedikit-sedikit darinya.
Aku tak mempunyai guru dalam arti mewarisi semua
kepandaiannya.”
“Ah, dan itu saja sudah membuatnmu sedemikian lihai?
Wah, kalau begitu orang yang mengajarimu itu hebat luar
biasa, Beng Tan. Pantasnya dewa dan bukan manusia!”
“Memang, dia kuanggap dewa. Tapi, ah…. sudahlah.
Guruku itu tak suka memperkenalkan diri dan sekarang apa
yang harus kulakukan, ong-ya. Kapan aku berangkat dan
kapan pula kelima orang ini ikut denganku!”
“Ah, ha-ha! Jangan tergesa-gesa. Malam ini biar kau
beristirahat semalam dan besok baru berangkat!”
“Tapi sri baginda…”
“Tak usah takut. Aku yang menjamin! Betapapun kelima
orangku ini harus bersiap-siap kalau ingin mengikutimu.
Sudahlah, kita bersenang-senang dulu, Beng Tan. Dan
sungguh beruntung kau mendapatkan Pek-jit-kiam itu. Hm,
aku iri!” Coa-ongya tak segan-segan memandang belakang
punggung Beng Tan, benar-benar iri akan pedang hebat
yang dibawa pemuda itu. Beng Tan tersenyum saja dan
dijamulah pemuda itu oleh hidangan-hidangan lezat yang
disuguhkan tuan rumah. Dan ketika malam itu dia diminta
menginap di gedung pangeran ini dan Beng Tan ragu untuk
menolak maka sang pangeran sudah memandang Swi Cu,
yang sejak tadi diam dan hanya mengikuti pembicaraan
kekasihnya.
“Dan kau,” pangeran ini tersenyum berkata. “Kau boleh
tinggal di kamar belakang, nona. Ada sebuah kamar khusus
untuk wanita disana. Beng Tan biar disamping gedung, dan
kau disana.”
Swi Cu tertegun. Sebenarnya dia tak ingin jauh-jauh dari
Beng Tan. Semalam dia selalu berdekatan dengan pemuda
itu, kamar bersebelahan, dapat bercakap-cakap dan mudah
bertemu muka kalau ingin bicara. Maka begitu Coa-ongya
berkata dan tentu saja dia tak sanggup menolak, karena
malu baginya kalau minta kamar yang dekat dengan Beng
Tan maka disana Beng Tan juga agak sedikit gugup
mendengar penawaran itu. Namun, mau apalagi? Maka
ketika malam itu mereka beristirahat dan Swi Cu diamdiam
mengumpat pangeran ini karena memisah mereka
dengan kamar yang berjauhan maka sebelum tidur gadis ini
melepas kemendongkolannya.
“Sialan Coa-ongya itu. Kenapa dia memberiku kamar
yang jauh? Uh, sudah tahu aku kekasihmu masih saja dia
mengatur kamar yang terlalu jauh. Kalau aku tak malu
tentu sudah kuminta kamar yang lain, yang dekat
denganmu!”-
“Sudahlah,” Beng Tan tersenyum, menarik napas dalam.
“Aku juga tak enak menawar yang lain, Cu-moi. Tapi tak
apa ah, toh kita tetap disatu gedung yang sama.”
“Benar, tapi aku dibelakang, koko. Jauh darimu. Kalau
ada apa-apa tentu kau tak segera tahu!”
“Ah, ada apa bagaimana? Kita di tempat aman, Cu-moi.
Tak akan ada apa-apa, Sudahlah, kau tidur dan kita
beristirahat, besok aku harus berangkat!”
Swi Cu mengomel. Beng Tan telah menutup pintu
kamarnya karena tadi pemuda itu mengantar, pergi dan
sekarang sudah kembali ke kamarnya sendiri. Dan ketika
malam itu Swi Cu membanting kesal di atas
pembaringannya yang empuk maka malam berjalan
merayap dan gadis inipun akhirnya tertidur.
-0de0wi0-
“Hei, augh…. uph!”
Swi Cu kaget bukan main. Malam itu dia terlelap pulas
ketika tiba-tiba lampu kamarnya padam. Gadis ini terkejut
dan gerakan refleksnya sebagai gadis kang-ouw timbul,
bangkit dan tiba-tiba dia membuka mata ketika lampu
kamarnya itu padam. Kesiur angin di jendela yang tiba-tiba
terbuka lebar membuat gadis ini tersentak, bangun dan mau
melompat turun tapi bayangan itu, yang tampak hitam dan
tidak jelas tiba-tiba sudah menyambar, menubruk dan
mendekap tubuhnya di atas pembaringan. Dan ketika Swi
Cu kaget dan tentu saja tersentak maka bayangan itu sudah
menciuminya dan tubuhnya digerayangi dari bawah sampai
ke atas.
“Kurang ajar. Aeh, lepaskan… uph!” Swi Cu merontaronta,
membentak dan menjerit tapi suara yang keluar
hanya ap-up saja. Dia tak dapat berteriak keras-keras karena
tubuh dan mulutnya ditutup. Kumis yang kasar dan mata
yang berkilat bagai binatang yang sedang berahi menutup
tubuhnya erat-erat, mencium dan mulutnya hampir tertutup
oleh mulut lawan. Dan ketika Swi Cu kaget dan tentu saja
meronta-ronta, marah dan ngeri maka lawan sudah melipat
punggungnya mem-buat dia roboh kembali di atas
pembaringannya, yang segera berderit.
“Jangan berteriak, jangan membuat gaduh. Aku ingin
menumpahkan sayang dan kasihku padamu… cup-cup!”
Bayangan itu mendengus-dengus, hampir membuat Swi
Cu pingsan namun gadis itu tentu saja tidak menyerah. Swi
Cu sudah ditelikung namun gadis ini masih dapat
menggerakkan kakinya. Dan ketika dengan bentakan yang
mirip rintihan seekor harimau yang lagi ketakutan gadis ini
mengangkat lututnya tiba-tiba tepat sekali selangkangan
lawan berhasil ditendang.
“Lepaskan aku… lepaskan aku,.. dess!”
Laki laki itu terjengkang. Mulutnya mengeluarkan
teriakan tertahan dan Swi Cu sudah bangkit menggulingkan
tubuhnya. Dengan marah tapi juga pucat gadis ini
melompat bangun. Dan ketika lampu dinyalakan lagi dan
Swi Cu terbelalak melihat seorang laki-laki bercaping tibatiba
gadis ini tersentak dan menjerit.
“GolokMaut…!”
Laki-laki itu menggeram. Swi Cu tiba-tiba ditubruk dan
gadis ini berkelit, kaget karena tak menyangka bahwa lawan
yang datang adalah Golok Maut. Lawan mempergunakan
kedok namun caping di atas kepala itu tak mungkin
dilupanya. Dia hafal betul akan caping itu dan memang
hanya GolokMautlah tokoh yang mengenakan caping. Dan
ketika Swi Cu hilang kagetnya sementara tubrukan lawan
juga luput maka Golok Maut, laki-laki itu tiba-tiba
mengumpat dan memadamkan lampu yang tadi dinyalakan
Swi Cu.
“Benar, aku, Swi Cu. Dan kini terimalah cintaku atau
kau mampus!”
Swi Cu melengking. Akhirnya kamar menjadi padam
lagi dan mereka bergerak di tempat yang gelap. GolokMaut
menubruk dan menyerang lagi namun Swi Cu menghindar
Dan ketika bentakan-bentakan disusul umpatan dan
geraman laki-laki itu, Si Golok Maut, maka Swi Cu sudah
mencabut pedangnya dan menyerang serta menusuk atau
membacok.
“Keparat! Terkutuk kau, Golok Maut. Kiranya
disamping pembunuh kaupun seorang jai-hwa-cat
(pemerkosa). Ah, kubunuh kau. Jahanam…!” dan Swi Cu
yang mengamuk sambil marah-marah akhirnya menerjang
dan menyerang kamarnya itu, dua tiga kali menyalakan
lampu namun dua tiga kali itu pula lawannya
memadamkan kembali.
Rupanya GolokMaut tak mau dikenal dan biar di dalam
gelap begitu saja, melayani dan menangkis pedang di
tangan Swi Cu yang menusuk dan membacok. Dan ketika
dentingan atau benturan keras terjadi setiap kali pedang
ditangkis kuku jari maka Swi Cu pucat ketika lawan mulai
mendesis.
“Swi Cu, kau tak dapat diajak baik-baik. Awas, aku akan
membunuhmu kalau kau tak mau menyerah!”
“Jahanam! Kau boleh bunuh aku kalau mampu, Golok
Maut. Dan jangan harap kau dapat menggagahi aku seperti
keinginanmu. Keparat, kebetulan kau datang karena
akupun ingin menagih sakit hati suciku yang kaunodai…
cring-plaK!” dan pedang yang bertemu kuku jari tiba-tiba
terpental ketika ditangkis lawan, membuat Swi Cu
terpelanting dan gadis ini kaget bukan main karena tenaga
lawan sekarang demikian hebatnya.
Telapak tangannya sampai pedas dan Swi Cu yang
bergulingan menyelamatkan diri tiba-tiba melihat bayangan
lawan menyambar, menubruk dan mengejarnya. Dan ketika
gadis ini menjerit sambil menggerakkan pedangnya
membacok tiba-tiba pedangnya malah mencelat dan tangan
lawan pun sudah mencengkeram bahunya.
“Aduh, tolong, Beng Tan. Tolong….!”
Jeritan ini menggugah kesepian malam. Swi Cu yang tak
tahan lagi dan tahu kelihaian Si Golok Maut akhirnya
menjerit dan berteriak memanggil Beng Tan. Suaranya
penuh ketakutan dan melengking tinggi. Maklumlah, Swi
Cu juga kesakitan oleh cengkeraman lawan yang amat kuat
dibahunya. Dan ketika lawan terkejut karena Swi Cu
memanggil kekasihnya maka di luar terlihat sesosok
bayangan dan Beng Tan berkelebat muncul, seperti iblis.
“Swi Cu, apa yang terjadi?”
GolokMaut terkejut. Kamar dalam keadaan gelap-gulita.
Jari pun tak dapat dilihat namun sebagai orang
berkepandaian tinggi Beng Tan dapat melihat bayangbayang
hitam di dalam, juga keluhan atau rintihan Swi Cu,
yang tampaknya tertindih dan bayangan hitam itu
mencekiknya, Dan ketika Beng Tan tentu saja terkejut dan
bayangan itu juga terkejut, karena cekikannya segera
mengendor dan berkelebat ke arah Beng Tan tiba-tiba kedua
tangannya sudah memukul dan melepas sebuah pukulan
dahsyat.
“Dess!”
Beng Tan terlempar berjungkir balik. Pemuda ini
berteriak namun dapat menahan pukulan itu, dia tadi mau
memasuki jendela namun lawan di dalam sudah
mendahului, menyerang dan melepas pukulannya. Dan
ketika Beng Tan berjungkir balik dan terkesiap melihat
lawan yang bercaping maka Swi Cu di dalam sudah bangkit
berdiri dan terhuyung-huyung menudingkan jarinya.
“Dia… dia GolokMaut. Aku mau diperkosanya!”
Beng Tan tertegun. Dia sudah melayang turun ketika Swi
Cu terhuyung dan memaki lawannya itu, berkelebat keiuar.
Dan ketika Golok Maut, laki-laki yang mereka duga itu
mendengus dan berjungkir balik melayang turun maka
tokoh bercaping ini tiba-tiba melarikan diri.
“Hei..!” Beng Tan terkejut, marah. “Jangan lari, Golok
Maut. Tunggu..!”
Namun Swi Cu tiba-tiba mengeluh. Entah kenapa
mendadak gadis itu jatuh terduduk, memanggil nama Beng
Tan dan roboh ke tanah. Dan ketika lawan di depan juga
melepas empat batang pisau kecil dan Beng Tan
menyampok runtuh maka dari empat penjuru tiba-tiba
muncul bayangan-bayangan Mo-ko danMindra.
“Tahan, kejar! Dia… dia GolokMaut!”
Beng Tan gugup, mau mengejar lawan atau melihat
kekasihnya dulu. Swi Cu terkapar dan merintih-rintih di
sana, kesakitan. Dan ketika Mo-ko serta lain-lainnya
tertegun dan menjublak di tempat maka Golok Maut
berseru bahwa mereka boleh mengejarnya sampai di
Lembah Iblis.
“Siapa yang ingin mati boleh mengejar aku. Sampai di
Lembah Iblis!”
Mindra dan keempat temannya tertegun. Mereka sudah
terlanjur jerih mendengar nama Si Golok Maut. Tanpa
disangka tanpa dinyana tiba-tiba tokoh itu muncul, di
tempat mereka. Dan ketika Beng Tan berteriak-teriak
sementara pemuda itu sudah menolong kekasihnya maka
Mindra dan empat temannya ini tak ada yang mengejar,
mendelong mengawasi lawan yang sebentar kemudian
sudah lenyap, hilang ditelan kegelapan malam.
“Hei..!” Beng Tan melotot. “Kejar dan tahan dulu
jahanam itu,Mo-ko. Sebentar kemudian aku membantu!”
Mo-ko bergerak. Akhirnya mereka mengejar namun
kesan ayal-ayalan tak dapat disembunyikan. Iblis hitam
putih ini tak mungkin berani melaksanakan perintah Beng
Tan sepenuhnya. Dan ketika Mindra juga bergerak dan
Sudra pura-pura meledakkan cambuknya maka Beng Tan
mengepal tinju menolong kekasihnya, yang tiba-tiba biru
dan kehitaman mukanya.
“Ah, kau terkena racun. Keparat, GolokMaut juga suka
mempergunakan racun!” Beng Tan marah, terbelalak dan
cepat menolong kekasihnya dan menotok sana-sini. Beng
Tan menjejali kekasihnya dengan sebutir obat penawar
racun. Namun ketika Swi Cu masih mengeluh dan
menggigil tubuhnya maka gadis ini mengerang dan roboh
pingsan.
“Keparat!” Beng Tan jadi semakin bingung lagi, tak
mungkin mengejar lawannya. “Kau keji dan curang, Golok
Maut. Tak sangka kalau sekarang kau suka
mempergunakan racun dan segala kekejian menjijikkan!”
Beng Tan berkelebat, menolong dan membawa kekasihnya
ke kamar dan segera pemuda itu menyalakan lampu.
Di dalam dia melihat kursi dan meja yang jungkir balik.
Bekas pertempuran memang tak dapat disembunyikan lagi.
Dan ketika Beng Tan melihat luka cengkeraman di bahunya
maka pemuda ini terkejut dan cepat menempelkan lengan di
bahu kekasihnya itu, yang tiba-tiba panas seperti terbakar!
“Bedebah! Jahanam terkutuk!” Beng Tan merah padam,
marah dan cepat tanpa banyak bicara lagi dia mengerahkan
sinkangnya untuk “menyedot” racun di bahu kekasihnya
itu. Dan ketika tak lama kemudian darah menghitam keluar
bercampur bau yang busuk maka Swi Cu mengeluh sadar
membuka matanya, langsung menangis dan mengguguk
menubruk Beng Tan
“Golok Maut… Golok Maut mau memperkosaku. Dia…
dia jahanam terkutuk!”
“Sudahlah,” Beng Tan lega, memeluk kekasihnya ini.
“Kau sudah selamat, Cu-moi. Dan telanlah sekali lagi obat
ini.” Beng Tan menyerahkan dua pil merah muda,
memberikan minuman dan Swi Cu terisak menerima
semuanya itu. Dan ketika obat sudah bekerja cepat dan Swi
Cu dapat melompat bangun maka diluar Coa-ongya tibatiba
muncul.
“Kalian tak apa-apa? Swi Cu selamat?”
“Ah,” Beng Tan bangkit berdiri, memutar tubuhnya.
“Kekasihku selamat, ong-ya. Tapi Golok Maut melarikan
diri!”
“Aku tahu… aku sudah mendengar,” dan ketika pangeran
itu mengepal tinjunya dan mencaci-maki GolokMaut maka
malam itu Mindra dan kawan-kawannya melapor bahwa
mereka tak dapat menangkap laki-laki bercaping itu, yang
sudah menghilang dan lenyap di gelapan malam.
Beng Tan maupun Coa-ongya dapat memaklumi itu,
Beng Tan bahkan diam-diam tahu bahwa Mindra dan
empat temannya ini tak mungkin melakukan pengejaran
sungguh-sungguh. Dia tentu saja tahu bahwa kelima orang
ini gentar menghadapi Golok Maut, yang lihai dan
memiliki golok mengerikan itu. Dan ketika malam itu
mereka kembali ke tempat masing-masing dan sedikit
kegaduhan itu berhasil diatasi maka Beng Tan diminta agar
pindah ke kamar belakang pula, oleh Swi Cu.
“Aku takut. Golok Maut amat lihai. Kau pindah
kebelakang juga, koko.Menemani aku di kamar sebelah!”
“Hm, akan kuminta pada pangeran,” dan ketika Beng
Tan menyatakan itu dan Coa-ongya tampak ragu, tapi
akhirnya menganggukkan kepala maka malam itu Beng Tan
pindah di kamar belakang, bersebelahan dengan kamat Swi
Cu.
“Coba ceritakan sekali lagi apa yang kau alami ini.
Bagaimana GolokMaut datang dan apa yang dia lakukan.”
“Dia tahu-tahu ada di kamar ini, lampu padam. Dan
ketika aku terkejut dan terbangun tiba-tiba dia sudah
menubruk dan memeluk aku!”
“Hm!” Beng Tan merah mukanya. “Lalu apa yang dia
lakukan, moi-moi?”
“Dia… dia menindih tubuhku, menciumi! Ah, tak usah
kukatakan ini, koko. GolokMaut itu jahanam keparat!” Swi
Cu menangis, menutupi mukanya dan ada rasa panas di
hati Beng Tan.
Pemuda ini terbakar dan tiba-tiba secara aneh
dipandanginya kekasihnya itu. Swi Cu tiba-tiba seolah
barang “kotor” yang harus dicurigai. Namun ketika Beng
Tan menarik napas panjang dan hampir saja terjebak dalam
nafsu egonya tiba-tiba dia memeluk dan mencium rambut
kekasihnya ini.
“Sudahlah, dia… dia tak sampai mengganggu, bukan?”
“Apa? Maksudmu… ah, tidak, koko. Kalau itu terjadi
lebih baik aku mati bunuh diri!”
Beng Tan lega, memeluk dan mencium kekasihnya ini
lagi dan Swi Cu tiba-tiba kecewa. Dia kecewa kenapa Beng
Tan ada kecurigaan seperti itu, tak percaya.Maka ketika dia
melepaskan diri dan marah memandang kekasihnya itu
tiba-tiba gadis ini berkata,
“Aku besok tak ikut denganmu. Aku ingin kembali!”
“Eh!” Beng Tan terkejut. “Apa maksudmu, moi-moi?
Kembali kemana?”
“Hek-yan-pang. Aku besok akan kesana dan tidak ikut ke
Lembah Iblis!”
Beng Tan melonjak. Swi Cu tiba-tiba menunjukkan
kemarahannya dengan jelas, kaget dia. Dan ketika gadis itu
membanting pintu kamar dan mengguguk di pembaringan
maka Beng Tan berdebar mencari kesalahan sendiri.
“Cu-moi, kenapa kau tiba-tiba begini? Kenapa kau
marah-marah kepadaku? Apa salahku?”
Gadis itu tak menjawab. Swi Cu menutupi muka dengan
bantal dan tersedu-sedulah gadis itu mendengar pertanyaan
Beng Tan. Dan ketika Beng Tan menunduk dan menarik
bantal itu tiba-tiba gadis ini malah membentak,
“Pergi… pergi kau. Diriku sudah kotor!”
Beng Tan tersentak. Untuk selanjutnya dia segera
mendengar kutuk dan caci maki kekasihnya, ‘mengumpat
dan memaki-maki Golok Maut itu. Dan ketika dia juga
mendapat bagiannya karena gara-gara Golok Maut
sekarang dia mencurigai kekasihnya maka Beng Tan sadar
dan cepat tanggap.
“Kau boleh tinggalkan aku, Tan-ko. Besok kau berangkat
sendiri dan aku kembali ke tempat tinggalku. Aku sudah
dijamah GolokMaut, jangan percaya lagi kepadaku!”
“Ah-ah…!” Beng Tan tersipu. “Kau salah paham, moimoi.
Aku tidak mencurigaimu dan tetap percaya padamu.
Siapa bilang aku mencurigaimu? Aku percaya bahwa kau
tetap bersih, dan maafkan kalau sikap atau kata-kataku
menyakiti hatimu!”
Swi Cu mengguguk. Dibelai dan dikecup penuh sayang
begitu mendadak dia memukul-mukul dada Beng Tan.
Memang dia marah dan benci kepada kekasihnya ini setelah
mendengar nada pertanyaan Beng Tan. Betapapun sebagai
wanita dia tahu itu, merasa, bahwa Beng Tan mencurigai
dirinya dan jangan-jangan Golok Maut telah menodai,
seperti halnya sucinya yang malang itu, yang sampai hamil!
Namun ketika Beng Tan mengecupnya lembut dan
berulang-ulang pemuda itu menyatakan maafnya akhirnya
Beng Tan menarik kekasihnya ini dan berlutut di tepi
pembaringan.
“Moi-moi, maafkan aku. Terus terang saja, mana ada
pemuda yang tak bakalan marah dan panas kalau
kekasihnya dipeluk-peluk orang lain? Memang tadi aku
sedikit mencurigaimu, moi-moi, terbakar. Tapi itulah tanda
cintaku untukmu. Kau boleh percaya atau tidak tapi kalau
besok kau tak ikut aku maka aku juga membatalkan
perjalanan ke Lembah Iblis!”
Swi Cu kaget. “Kau gila? Kau… kau mau menolak
perintah kaisar?”
“Kalau kau tak senang denganku justeru ini lebih berat,
moi-moi. Kemarahan kaisar tak akan seberat
kemarahanmu. Aku tak sanggup!”
“Oh, tidak! Jangan, koko… jangan. Aku… aku ikut!” dan
ketika Swi Cu menangis dan gemetar mengangkat bangun
kekasihnya itu maka gadis ini menciumi pipi Beng Tan
dengan penuh haru.
Tentu saja terkejut dan terharu karena demi dia Beng
Tan akan membatalkan perjalanannya ke Lembah Iblis,
padahal perjalanan itu adalah perintah kaisar dan siapa pun
tak boleh menolak. Menolak berarti mati dan Beng Tan
sanggup melakukan itu, demi dia! Dan karena ini
menunjukkan cinta yang amat besar dan kemarahan Swi Cu
terganti oleh haru dan kasih yang mendalam tiba-tiba
keduanya sudah berciuman dan berguling di tempat tidur.
“Moi-moi, demi kau aku siap melawan siapa saja.
Jangankan sri baginda kaisar, iblispun akan kulawan dan
siluman atau hantu tak akan membuat aku mundur, asal
selalu berdua denganmu!”
“Oh, kau… kau gila, koko. Tidak, tidak boleh. Sebagai
hamba yang baik kau harus melaksanakan perintah sri
baginda dan untuk itu aku ikut denganmu!”
“Kau tak akan meninggalkan aku? Tak jadi ke Hek-yanpang?”
“Tidak, tidak… aku harus menyertaimu dan jangan kau
menjadi pengawal yang tak setia pada junjungannya!”
“Ah, terima kasih!” dan keduanya yang kembali sudah
berciuman dan bahagia mendapatkan kehangatan cinta lalu
malam itu tidur di kamar masing-masing.
Beng Tan tentu saja tak mau berbuat lebih dan Swi Cu
kagum akan itu. Beng Tan selalu dapat menjaga dirinya dan
setiap kali mereka mabok tentu pemuda itu mendorong
kekasihnya, sekedar berciuman dan berdekapan mesra.
Cukup, tak mau lebih. Dan ketika malam itu keduanya
kembali memperoleh nikmat dan bahagia dari cinta yang
suci maka Swi Cu lega ketika kekasihnya menutup pintu
kamar sambil berkata,
“Nah, malam ini kita tidur bersebelahan. Tak akan ada
yang berani mengganggumu. Selamat malam, moi-moi.
Sampai besok dan tidurlah yang nyenyak!”
Swi Cu mengangguk. Air mata kebahagiaan masih
membasahi pipinya, tersenyum dan sekali lagi dia
mendapat ciuman lembut di pipi. Ah, Beng Tan memang
pemuda yang lembut dan halus kalau bercinta!
Dan ketika malam itu mereka tidur di kamar
bersebelahan dan Swi Cu tentu saja tenang maka
keesokannya perjalanan ke Lembah Iblis sudah
dipersiapkan. Pertarungan mati hidup antara pemuda baju
putih ini dengan Si Golok Maut, pertandingan yang bakal
tak terelakkan lagi!
-0oodwoo0
Mari kita lihat suasana di Lembah Iblis. Seperti
diketahui, lembah ini adalah bekas tempat tinggal mendiang
jago perkasa Sin-liong Hap Bu Kok bersama isterinya,
wanita lihai dan amat gagah yang berjuluk Cheng-giok
Sian-li (Dewi Permata Hijau). Dan karena mereka berdua
sudah sama-sama tiada ketika memperebutkan Golok
Penghisap Darah, golok maut yang amat berbahaya itu
maka seseorang telah menggantikan sepasang suami isteri
itu, yakni Si Golok Maut yang membunuh-bunuhi dan
amat benci kepada orang-orang she Coa dan Ci.
Pagi itu Lembah Iblis masih sunyi.
Ayam jantan berkokok berkali-kali dan pagi yang segar
terasa menyeramkan di lembah ini. Dua tebing tinggi yang
menjulang di sisi kanan lembah, tebing yang amat curam
dan terjal sungguh ngeri untuk dipandang dari bawah.
Lembah Iblis terletak di antara dua ceruk atau tebing ini,
datar di bawah namun penuh tetumbuhan liar. Tanaman
kaktus atau seruni liar tampak bertebaran dimana-mana,
bercampur dengan mawar hutan atau bunga-bunga bangkai,
yakni sejenis tanaman yang kalau dihembus angin
mengeluarkan bau busuk. Jenis-jenis tanaman ini
bertebaran rata dan suasana sunyi yang kering, benar-benar
mencekam disitu.
Lembah Iblis tampak gelap dan tidak bersahabat.
Pendatang akan mencium bau warna-warni di situ, kalau
berdiri di mulut lembah. Dan ketika semuanya itu masih
ditambah dengan suara-suara Jengkerik malam yang tiada
habis-habisnya mengeluarkan suara mirip iblis melengking
maka Lembah Iblis benar-benar lembah yang tidak enak
dimasuki.
Ada kesan angker di lembah ini, juga dingin.
Tak ada senyum atau tawa bersahabat. Semuanya dingin
dan beku, mirip daerah makam yang dikeramatkan, dengan
sebuah pohon siong yang tua dan besar. Dan ketika pagi itu
Lembah Iblis masih sunyi namun diramaikan oleh suarasuara
jengkerik malam yang bersahut-sahutan dan mengerik
mendirikan bulu roma maka sesosok bayangan tampak
terhuyung-huyung memasuki lembah, baju dan pakaiannya
robek-robek, bahkan percikan darah tampak disana-sini.
Siapa dia? Bukan lain Si GolokMaut, pemilik lembah!
Pagi itu GolokMaut tampak letih dan kehabisan tenaga,
baru pulang dari kota raja setelah membunuh Ci-ongya
disana, mengamuk dan membabat habis tigaratus pengawal
dan busu. Dia letih dan ingin beristirahat, pulang kandang.
Dan ketika pagi itu tokoh bercaping ini terseok-seok
melangkah sementara pangkal lengan dan mata kakinya
luka berdarah maka orang tahu bahwa Golok Maut
memang nyaris celaka dalam satu pertempuran berat.
Tidak aneh. Dia hampir saja terperangkap dan
tertangkap barisan jaring, jala-jala berkait yang dilepas para
pengawal. Namun karena dia berkepandaian tinggi dan
golok maut ditangannya itu mampu menabas putus setiap
jaring yang datang maka tokoh ini selamat dan kini
meninggalkan istana setelah satu dari dua orang musuhnya
yang amat dibenci berhasil dibunuh.
Ci-ongya teiah digorok dan semacam kepuasan aneh
tampak di mata yang bersinar-sinar itu. Golok Maut sering
terse-nyum dan tertawa sendiri, kalau memba-yangkan
betapa dia telah menipu penjaga dan memanggil pangeran
she Ci itu, yang dengan mudah dibabat dan dipenggal lehernya.
Namun ketika dia mengeluh dan keletihan luar
biasa akibat keroyokan berat itu mengganggu tubuhnya
tiba-tiba tokoh ini jatuh terduduk dan tak sanggup menyeret
kakinya lagi.
“Koaakk…!”
Seekor gagak tiba-tiba melayang di atas kepala. Pekik
dan jeritnya yang mengejutkan tokoh ini tampak membuat
Golok Maut menengadahkan muka, meiihat gagak itu
terbang rendah dan tiba-tiba se-suatu benda jatuh dari atas.
Golok Maut terkejut dan mengelak, kalah cepat dan
terdengarlah bunyi “ketepok” ketika caping lebarnya
dijatuhi benda itu. Dan ketika dia tertegun dan melepas
capingnya, meiihat benda apa itu maka ternyata kotoran
gagak menimpa dirinya, tahi si ga-gak hitam!
“Keparat,” Golok Maut mendesis. “Apa maksudmu,
gagak hitam? Kau memberi tanda buruk kepadaku?”
“Koaak…. koaakk….!” sang gagak me-neruskan
terbangnya, lenyap di timur dan muka tokoh ini berubah.
Ada hal-hal yang menjadi pantangan kalau tinggal di
Lembah Iblis. Pertama tak boleh kejatuhan tahi burung,
apalagi gagak. Dan kedua adalah tak boleh memaki
sembarangan. Lembah Iblis amat pantang untuk mendengar
sumpah serapah bagi yang tinggal di situ, mulut harus
dijaga dan pantangan ini harus dijaga kalau tak ingin terjadi
sesuatu yang tidak-tidak. Maka ketika pagi itu Si Golok
Maut kejatuhan kotoran gagak dan dia tertegun merasakan
getaran kuat tiba-tiba seekor kelinci meloncat melewati atas
kepalanya dipatuk seekor ular.
“Sshh…!”
Golok Maut kembali terkejut. Kelinci itu ketakutan dan
menguik melompati kepalanya, begitu saja, kurang ajar.
Dan ketika dia terkejut dan ular yang mematuk gagal
mendapatkan korbannya tiba-tiba ular ini yang marah dan
kaget melihat Si Goiok Maut mendadak menyambar dan
menyerang laki-laki bercaping ini, ular yang kelaparan!
“Jahanam!” Golok Maut menggerakkan tangannya.
“Kau tak tahu siapa aku, ular belang? Pergilah, dan
mampus kau… ple-tak!” Golok Maut mendahului,
menangkap dan memelintir kepala ular dan tewaslah ular
itu dengan kepala hancur. Tapi baru laki-laki ini melempar
bangkai ular dengan gemas mendadak auman dahsyat
menggetarkan isi lembah dan seekor hari-mau loreng tibatiba
muncul di situ, penghuni dari luar lembah.
“Auummm…!”
Golok Maut tersentak. Tak biasanya Lembah Iblis
didatangi binatang-blnatang buas yang berasal dari luar. Dia
selalu menjaga di situ dan hanya hewan-hewan kecil seperti
kelinci atau sebangsanya yang boleh tinggal, karena mereka
biasa-nya menjadi santapan baginya. Maka ketika pagi itu
seekor harimau loreng datang mengaum dan harimau
inipun tampaknya kelaparan karena cepat menyambar
bang-kai ular yang dibuang Si Golok Maut tiba-tiba si raja
hutan yang rupanya masih kelaparan ini menyambar Golok
Maut.
“Dess!”
Golok Maut menendang. Si raja hutan terpekik dan
terlempar, jatuh tapi sudah menyerang lagi. Dan ketika
Golok Maut menjadi marah karena binatang ini tak tahu
diri maka dari mana-mana muncul harimau-harimau loreng
yang sama besar dan ganasnya, lima ekor jumlahnya.
“Bagus, kalian minta mati? Majulah, dan kebetulan
kalian di sini, harimau-hari-mau keparat. Aku ingin
melepaskan kesal-ku dengan menghajar kalian… erat!” sinar
putih berkelebat, tahu-tahu menyambar dari balik
punggung laki-laki itu dan robohlah harimau pertama.
Harimau ini tak sempat mengaum karena batang kepalanya
tahu-tahu menggelinding, putus dibabat sinar putih panjang
itu. Dan ketika sinar ini masih bergerak dua tiga kali ke kiri
kanan maka tiga yang lain roboh bergelimpangan disambar
golok di tangan Si Golok Maut itu, Golok Penghisap
Darah.
“Crat-crat-crat!”
Empat harimau terkapar mandi darah.Mereka dikutungi
kepalanya dan harimau terakhir tampak terkejut, merintih
dan tiba-tiba memutar tubuhnya, lari. Agak-nya, sebagai
binatang, dia memiliki nalu-ri tajam bahwa lawan yang
dihadapi kali ini amatlah bengis dan berbahaya. Maka
begitu dia mengaum dan melompat panjang tiba-tiba dia
meninggalkan pertempur an tapi Si Golok Maut terlanjur
marah.
“Jangan lari, kaupun harus kuhukum!” laki-laki ini
bergerak, maju berkelebat dan ioncatan panjang si harimau
loreng masih kalah cepat dengan gerakan laki-laki bercaping
ini. Golok Maut melesat bagai hantu kesiangan, senjata di
tangannya bergerak tapi saat itu tiba-tiba dari samping
kanan menyambar seekor harimau cilik. Harimau ini
memekik dan aum-nya yang kecil menggetarkan cukup
menge jutkan isi lembah. Dan ketika Golok Maut tertegun
namun menggerakkan tangan-nya ke kanan tiba-tiba
harimau kecil itu terlempar sementara yang besar, yang disambar
golok maut terpapas telinganya.
“Crat!”
Sang harimau memekik. Dia mengaum terlempar di
sana, terguling-guling. Namun ketika Golok Maut
berkelebat dan kembali mengejar tiba-tiba harimau cilik
yang rupanya anak dari sang induk menyerang dan
menubruk Si GolokMaut lagi”
Des-dess!” Golok Maut marah, menen-dang harimau
cilik itu dan harimau ini terlempar seperti induknya,
memekik dan terguling-guling. Dan ketika Golok Maut
tertegun karena sang induk sudah menggeram dan bergerak
mendekati anaknya maka dua ekor harimau itu sudah
berdiri berdampingan dengan mata bersinar-sinar, marah
tapi juga gentar menghadapi Si GolokMaut.
“Enyahlah!” Golok Maut terkejut, ter-tegun dan heran
memandang dua harimau anak dan induknya itu, tak jadi
menggerakkan golok. “Pergi kalian, binatang sialan. Dan
jangan melotot di sini!”
Aneh sekali. Harimau yang besar seolah mengerti dan
mengaum, lirih bercam-pur erangan karena telinga sebelah
kirinya putus. Potongan telinga itu masih ter kapar di tanah
dan si harimau cilik menggeram-geram. Meskipun takut
namun agaknya harimau ini siap membela induknya kalau
Golok Maut menyerang lagi. Tapi ketika Golok Maut
mengusir dan membentak mereka tiba-tiba sang induk
melompat dan pergi meninggalkan tempat itu.
Golok Maut terhenyak. Harimau yang kecll juga
membalik dan mengaum tanda lega. Induknya disusul dan
lenyaplah mereka berdua ketika hilang di iuar lembah. Dan
ketika Golok Maut termangu-mangu dan menjublak di
tempat maka pagi itu empat harimau melintang mayatnya
tanpa kepala.
“Terkutuk,” Golok Maut memaki. “Kenapa kalian
mengganggu aku, harimau-harimau keparat? Kalau kalian
tak datang mengganggu tentu kalian tak akan mati konyol!”
Angin bertiup. Tiba-tiba seolah menja-wab kekesalan
hati laki-laki ini menda-dak terdengar cicit dan kelepak
burung-burung malam. Seratus kelelawar tiba-tiba
beterbangan memasuki lembah, menci-it dan gugup seolah
digebah iblis. Dan ketika mereka berputar-putar di atas
kepala tokoh bercaping ini dan dua di antaranya menabrak
Si Golok Maut tiba-tiba Golok Maut berseru keras
menangkap dan mencengkeram mereka sampai hancur.
“Keparat!” dua ekor kelelawar itu remuk, dibuang
bangkainya dan ratusan kelelawar lain lagi muncul. Golok
Maut terkejut karena seperti pasukan siluman saja
kelelawar-kelelawar itu beterbangan memasuki Lembah
Iblis. Mereka mencicit-cicit dan berputaran di atas
kepalanya. Suasana menjadi gelap dan langit yang terang
tiba-tiba menjadi hitam oleh ba-nyaknya kelelawarkelelawar
vang beterbangan ini. Dan ketika Golok Maut
terbelalak dan merasakan firasat yang tidak enak tiba-tiba
dari timur muncul tujuh gagak hitam yang berkaok-kaok.
“Koaakk….. koaakkk….!”
Golok Maut berdiri bulu kuduknya. Baru kali ini selama
hidupnya dia mendapat Kejadian begitu aneh. Lembah Iblis
dida-tangi hewan-hewan langit dan mereka semua
beterbangan mengelilingi tubuhnya. Dari atas mereka
mengeluarkan suara-suara ramai layaknya musuh yang
maju perang. Dan ketika laki-laki ini tertegun dan
merinding bulu romanya tiba-tiba ia-ngit yang hitam
dipenuhi kelelawar-kelela-war itu meledak dan
mengeluarkan suara macam guntur.
“Blarr!”
Sinar warna-warni memenuhi langit hitam. Entah dari
mana tiba-tiba muncul sesosok asap putih jingga, meluncur
dan berkelok tiga kali membentuk seekor na-ga. Dan ketika
gagak di atas berkoak ke-takutan dan kelelawar-kelelawar
yang beterbangan juga buyar dan mencicit meng-hilang
cepat maka terdengar suara tawa terbahak mirip iblis
mendapatkan buruannya.
“Ha-ha, selamat datang, Golok Maut. Selamat bertemu
kembali. Aku arwah Mo-bin-lo (Si Muka Iblis) datang
menemuimu!”
Golok Maut pucat. Tiga bayangan asap putih yang
berkelok tiga kali di udara sejenak memperlihatkan bayangbayang
naga, berobah dengan cepat dan tahu-tahu seorang
kakek tinggi besar berwajah menyeramkan muncul di sana,
di langit yang hitam. Dan ketika GolokMaut ter-kesiap dan
senjata di sarungnya meledak tiba-tiba Golok Penghisap
Darah yang ada dibelakang punggungnya itu melesat dan
terbang menuju kakek ini, Mo-bin-lo, atau lebih tepat,
arwah Mo-bin-lo.
“Darr!”
Golok Maut tak sanggup menahan kilatan cahaya itu.
Sinar yang luar biasa terangnya mendadak pecah di udara,
meledak dan tak kuat dia bertahan. Dan ketika dia
memejamkan mata dan apa boleh buat harus melengos dari
kilatan warna-warna terang di langit yang gemebyar itu
tiba-tiba suara dari atas terdengar lagi, kini dingin
menyeramkan, menyerupai bentakan seorang kakek
terhadap cucunya.
“Golok Maut, kau bocah iblis. Kenapa kau menodai
Golok Penghisap Darah ini dengan perbuatanmu
menggauli ketua Hek yan-pang itu? Kau harus mencuci
dosa ini dengan darahmu, atau senjata ini tak bakal bertuah
lagi gara-gara perbuatanmu!”
Golok Maut terkejut. Dia membuka mata dan
serangkum angin pukulan meng-hantam tubuhnya. Entah
bagaimana tahu-tahu asap atau roh di udara itu menukik,
menyambar dan sudah menyerang dirinya. Dan ketika dia
mengelak namun kalah ce-pat maka asap seperti iblis itu
menghantamdirinya.
“Bress!”
Golok Maut terlempar. Hampir tak masuk akal tahutahu
tubuhnya terangkat dan terlempar naik, terbanting dan
terguling-guling di sana, terjengkang. Dan ketika dia kaget
melompat bangun namun golok menyambar lagi ke
sarungnya maka sesuatu yang dingin terasa melekat di belakang
punggungnya itu.
“Aku selalu mengikutimu, atau kau mati membayar
dosa!”
“Ooh…!” Golok Maut menggigil, tiba-tiba ketakutan
hebat. “Tolong aku, suhu, tolong…!” dan Golok Maut yang
berkele-bat serta naik ke tebing tiba-tiba berjungkir balik dan
berkali-kali menggerakkan tubuhnya. Dari bawah dia sudah
menjejak dan menendang dinding enam tujuh kali. Setiap
kali tentu mencelat atau melambung ke udara. Dan ketika
semua gerak-an itu membuat tubuhnya mumbul dan
mumbul semakin tinggi akhirnya tebing yang tingginya tak
kurang dari seratus tombak itu sudah dilalui dan selamat
tiba di atas, hanya sekejap mata saja!
“Subo, tolong! Suhu, tolong aku…!”
GolokMaut bagai anak kecil. Ledakan dan suara tawa di
atas langit tadi sungguh membuat jiwanya menciut. Golok
Maut diancam roh halus dan itulah pembuat atau penempa
Golok Penghisap Darah. Mo-bin-lo adalah kakek pencipta
Golok Maut, pembuat dan penempa yang amat hebat,
hidup pada ratusan tahun yang lalu dan kakek ini adalah
kakek iblis yang amat sakti, keji dan kejam namun penuh
daya linuwih. Golok Penghisap Darah yang di-buatnya Itu
“diisi” tapa dan puasa sela-ma sepuluh tahun, hidup
meraendam diri dan tujuh tahun penuh kakek Ini berada di
sarang ular, tak bergerak dan tak bergeming menyatukan
diri dalam alam sama-dhi yang mengerikan. Kakek itu
sedang bertarung melawan seorang pendekar sak-ti yang
dua kali mengalahkannya, membu-at atau mencipta golok
yang ampuh dan akhirnya berhasil. Golok itu hanya pantang
dikotori oleh hubungan suami isteri. Hanya kaum
bujang atau perawan saja yang boleh memegang. Mereka
yang sudah bersuami isteri dilarang keras memegang atau
memiliki golok ini, karena dapat berakibat fatal. Namun
ketika golok selesai dibuat dan kakek itu mencari musuhnya
ternyata orang hebat yang mengalahkannya itu
sudah meninggal dunia.
Mo-bin-lo menyumpah-nyumpah. Kakek ini menggeram
di bukit Iblis dan gugurlah bukit yang ditempati itu, marahmarah
di lautan dan lautan pun tiba-tiba membuih,
bergolak dan menimbulkan gelombang pasang di mana para
nelayan maupun pencari ikan lainnya diserang om-bak
besar. Rumah-rumah roboh dan ratus-an orang tenggelam
atau hanyut, terba-wa oleh getaran sakti kemarahan kakek
menyeramkan ini. Dan karena lawan yang dicari sudah
meninggal dunia dan kakek itu tak dapat membalas
musuhnya maka Mo-bin-lo mencari di akherat!
“Kakek ini dahsyat luar biasa. Segala iblis dan siluman
tak ada yang mampu melawan. Dewa-dewa di arfgkasa juga
tak ada yang mampu menandingi, kecuali pendekar sakti
yang sudah menjelma menjadi mahluk suci di alam halus
sana. Maka ketika kakek itu mengamuk dan akhirnya
bertemu lawannya ini di akherat maka bertempurlah
keduanya namun kakek itu kalah lagi,” begitu gurunya
pernah bercerita.
“Lalu apa yang terjadi, suhu? Bagaimana selanjutnya?”
GolokMaut bertanya.
“Kakek ini terpaksa mengakui kekalahan. Mo-bin-lo
melarikan diri namun roh-nya yang tak dapat kembali ke
badan kasar akhirnya gentayangan di tempat-tempat gelap
dan angkasa yang luas. Karena itu hati-hati, jangan sampai
melanggar larangan kakek ini atau kau akan celaka terkena
kutuknya.”
Begitu Golok Maut pernah mendengar nasihat suhunya.
Gurunya itu berkata seperti itu namun gurunya sendiri
ternyata melanggar. Sebagai laki-laki yang sudah beristeri
ternyata gurunya memegang Go-iok Maut, terkutuk dan
akhirnya kena tuah dari sumpah si pembuat golok. Dan
ketika gurunya mati sampyuh karena bertanding dengan
isterinya sendiri, hal yang terjadi akibat kutukan maka guru
dan ibu gurunya itu akhirnya tewas dan mati berbareng.
“Kau ingat itu baik-baik,” gurunya pernah berpesan
sebelum ajal. “Golok Maut jangan dikotori dengan
perbuatan-perbuatan yang menjadi larangannya. Jangan
berpacaran dulu, apalagi sampai mengadakan hubungan
suami isteri. Jangan mengeluarkan kata-kata makian kalau
kau sedang berada di Lembah Iblis. Kau mengerti?”
Golok Maut mengangguk. Waktu itu dia menanggapi
semua kata-kata gurunya itu dengan dingin dan sedikit tak
acuh.
Pacaran? Ah, dia tak ada minat untuk mendekati wanita.
Dendamnya terhadap orang-orang she Coa dan Ci
membekukan semua hatinya tentang cinta. Tak terbersit di
hatinya bahwa dia ingin pacaran, a-palagi mengadakan
hubungan suami isteri. Jijik dia! Tapi ketika hal itu terjadi
juga dan dia sudah melanggarnya dengan jatuh cinta dan
bersebadan dengan ketua Hek-yan-pang itu tiba-tiba Mobin-
lo muncul dengan tawa kutuknya di udara. Goiok Ma
ut kena tuah! Dan kini, mendengar suara dari langit itu dan
kakek tinggi besar yang menyeramkan itu seolah
membayang-inya dan mengejar ke tnanapun dia pergi maka
Golok Maut terengah menaiki tebing dan langsung
berlarian jatuh bangun menuju sepasang makam yang tegak
membisu di antara tanaman perdu liar.
“Suhu, tolong…. subo, tolong…!” Golok Maut
mendeprok, langsung roboh berlutut dan menggigil
membentur benturkan dahinya di batu nisan itu.
Dalam keadaan seperti itu di mana tak ada sahabat atau
pun teman maka makam sepasang gurunya ini adalah
penunjuk satu-satunya. Makam itu lebih dari sahabat dan
Golok Maut kini gemetaran berlutut di situ, menangis
seperti anak kecil karena tawa atau ancaman dari roh di
langit itu menggetarkan hatinya. Betapapun dia adalah
manusia biasa dan Golok Maut kini berubah sebagai lakilaki
yang lemah dan tak berdaya, ketakutan dan
memanggil-manggil suhunya. Dan ketika dua jam
kemudian tokoh ini berlutut dan gemetar memanggilmanggil
gurunya mendadak di atas makam terdengar
sebuah ledakan dan muncullah roh dan seorang laki-laki
gagah perkasa, mendiang Hap Bu Kok yang menampakkan
diri dalam bentuk badan halus.
“Muridku, kenapa kau memanggil-manggil aku? Apa
yang terjadi? Kenapa kau mengerahkan Kun-tek-giam-ong
(Raja AkheratMembuka Pintu)?”
“Ampun..!” Goiok Maut terkejut, tapi girang luar biasa.
“Aku… aku ingin minta tolong padamu, suhu. Teecu (aku)
melanggar pantangan GolokMaut!”
“Apa yang kau lakukan?”
“Teecu… teecu mencinta seorang gadis…”
“Hm, belum melanggar!”
“Tidak… tidak, suhu. Teecu… teecu bukan hanya
mencinta saja melainkan juga telah melakukan hubungan
badan. Arwah Mo-bin-lo yang suhu katakan itu sekarang
mengejar-ngejar teecu. Teecu mau dibunuh!”
“Hm!” Sin-liong Hap Bu Kok tampak terkejut. “Kau
bertemu kakek ini, murid-ku? Dan kau telah diancamnya?”
“Benar, teecu…. teecu takut, suhu. Teecu tak ingin mati
sebelumdua musuh besar teecu terbunuh!”
Roh dari laki-laki gagah itu tergetar. Golok Maut
berkeringat dan tubuhnya juga selalu menggigil. Sinar
menghitam tiba-tiba menyelimuti wajah dan tampak
bayang-bayang aneh mengelilingi pemuda ini. Ada bentukbentuk
seperti anjing atau wanita cantik berseliweran di
situ. Golok Maut sedang berada di alam aneh karena dia
memanggil gurunya dengan ilmu Kun-tek-giam-ong, ilmu
yang hanya boleh dipergunakan sekali saja dalam hidup,
ilmu yang khusus memanggil arwah api setelah itu harus
dibuang jauh-jauh. Pelepas ilmu ini untuk kedua kalinya
bisa terseret ke akherat kalau berani coba-coba, alias akan
terbawa nyawanya kalau mempergunakan lebih dari sekali.
Maka ketika pagi itu GolokMaut terpaksa mempergunakan
ilmunya ini untuk bertemu gurunya di akherat maka roh
atau arwah dari Sin-liongHap Bu Kok itu tampak tertegun.
“Bagaimana, suhu? Apa yang harus teecu lakukan?”
“Hm…!” laki-laki gagah ini bersedakap. “Tak ada jalan
lain kecuali membunuh kekasihmu itu, muridku. Pergi dan
cari dia dan berikan arwahnya padaMo-bin-lo!”
“Teecu…. teecu harus membunuhnya?”
“Ya, atau kau yang harus mati, muridku. Kutuk atau
pantangan golok itu telah kau langgar. Kau membuat
kemarah-an Mo-bin-lo. Tak ada jalan kecuali membunuh
kekasihmu itu dan cepat-cepat cari dua musuhmu itu
sebelum Mo-bin-lo meminta nyawamu melalui Golok
Maut!”
Pemuda bercaping ini menggigil. Dia bertanya iagi
apakah permintaan itu tak dapat dirobah, maksudnya,
ditawar. Apakah tak dapat nyawa orang lain saja sebagai
penukar. Tapi ketika gurunya meng-geleng dan berkata
bahwa itu satu-satunya cara untuk melepas “tumbal” maka
GolokMaut menggigil dan berketrukan giginya.
“Kau tinggal memilih, menyerahkan nyawamu atau
nyawa kekasihmu itu. Nah, selamat tinggal, muridku. Dan
jangan main-main dengan ilmu Kun-tek-giam ong lagi…
plash!” arwah atau roh halus itu hilang dalam satu ledakan
kecil, lenyap dan entah ke mana dan Golok Maut pun tibatiba
terbanting roboh. Tubuh yang menggigil dan muka
yang kehitaman itu sekarang pullh kembali. Golok Maut
telah diberi pilihan dan tinggal menentukan nasibnya. Dan
ketika laki-laki itu me-ngeluh namun kepalan tinju
menunjukkan keputusannya maka di bawah lembah
sesosok tubuh terhuyung-huyung menghampiri.
“Golok Maut, keluarlah. Aku datang untuk menuntut
balas!”
Golok Maut tertegun. Seorang gadis cantik berpakaian
merah datang meng-hampiri, terseok dan menangis serta
memanggil-manggil namanya. Dan ketika gadis itu sudah
memasuki lembah dari berdiri di ujung sana maka Golok
Maut berkilat girang karena itulahWi Hong, kekasihnya!
“GolokMaut, keluarlah. Aku datang!”
GolokMaut berkelebat. Tiba-tiba dengan cara berjungkir
batik dia meluncur turun ke bawah, geraknya bagai elang
rajawali atau garuda menyambar. Dari tempat setinggi itu
mengembangkan kedua lengannya di kiri kanan tubuh,
meluncur dan tiba-tiba sudah menyambar bagai rajawali
haus darah. Dan ketika tubuh itu hinggap dengan ringan
dan gadis baju merah yang berteriak-teriak memanggil
namanya ini tertegun kaget maka muka yang mangarmangar
dan cantik tapi penuh air mata itu tiba-tiba beringas
tapi juga girang.
“Golok Maut, kau datang sebagai laki-laki gagah. Nah,
aku mencarimu dan sengaja ingin menantang maut. Kau
pernah bilang untuk membunuhku kalau bertemu lagi. Kini
aku datang untuk membunuh atau dibunuh!”
Golok Maut berkilat. “Wi Hong,” suara ini tak
bersahabat. “Aku memang pernah bicara seperti itu dan
sungguh kebetulan kalau kaupun mencari aku di sini. Aku
ingin membunuhmu, dan maaf bahwa segala kenangan kita
terpaksa kubuang jauh-jauh. Nah, kau majulah dan
serahkan nyawamu!”
“Srat!” Wi Hong, gadis cantik itu men-cabut pedang.
“Aku memang ingin mencarimu, Golok Maut. Menuntut
balas dan sakit hati. Kau boleh bunuh aku atau aku yang
akan membunuhmu!” dan pedang yang bergerak tanpa
banyak bicara lagi tiba-tiba mendesing dan sudah menuju
tenggorokan Si Golok Maut ini, yang mengelak dan
mundur selangkah dan pedang pun luput mengenai angin
kosong. Wi Hong membentak lagi dan memutar pedangnya,
tiga kali membuat gerakan me-lingkar dan
ditikamlah ulu hati serta dada lawan. Namun ketika Golok
Maut mengengos dan serangan itu gagal lagi maka Wi
Hong berkelebat dan tangan kirinya pun melepas pukulan
Ang-in-kang (Awan Merah).
“Des-dess!”
Golok Maut tergetar. Wl Hong memang bukan gadis
sembarangan dan jelek-jelek sebagai ketua Hek-yan-pang
dia adalah tokoh keias satu. Maka ketika pukulan i-tu
menggetarkan Si Golok Maut dan untuk selanjutnya gadis
atau ketua Hek-yan-pang ini sudah berkelebatan cepat
dengan seruan atau bentakan nyaring maka pedang dan
pukulan bertubi-tubi menghujani Si Golok Maut ini,
menyambar naik turun bagai naga sedang murka dan ilmu
pedang Walet Hitam mengurung Si Golok Maut dengan
cepat. Golok Maut terpaksa mengikuti namun Wi Hong
mengerahkan ginkangnya, lenyap dan melengking-lengking
menyerang lawannya itu. Dan ketika Ang-in-kang atau
pukulan Awan Merah menyambar-nyambar pula dari
tangan kirinya maka untuk beberapa jurus Golok Maut
terdesak.
“Plak-bret!”
Satu tangkisan kuat agak menahan bertubi-tubinya
serangan. Hujan pukulan atau tikaman yang menyerang Si
Colok Maut akhirnya mulai mendapatkan perla-wanan
juga,Wi Hong membentak lagi namun tergetar. Kali ini dia
terhuyung dan pedang di tangannya tiba-tiba pedas di
tangan. Keparat, Golok Maut mulai bersi-kap keras! Dan
ketika Wi Hong melengking tinggi dan menerjang serta
menusuk lagi maka pukulan Awan Merahnya mulai
bertemu telapak Si GolokMaut.
“Des!”
Wi Hong terpental. Gadis ini kaget dan marah sekali
karena pukulannya membalik. Dia harus melempar tubuh
bergulingan kalau tak ingin terluka, menerima daya tolak
pukulannya sendiri. Dan ketika dia membentak dan
menyerang lagi maka Golok Maut mendengus dan mulai
bicara,
“Wi Hong, aku akan mengalah padamu sebanyak
limapuluh jurus. Setelah itu kau harus mati!”
“Matilah! Bunuhlah! Aku tak takut mati atau
ancamanmu, Golok Maut. Kau memang laki-laki jahanam
dan terKutuk mampuslah kau… wut-singg!” pedang
menyambar lagi, kian ganas dan cepat namun Golok Maut
mengelak. Dan ketika pedang bergulung-gulung naik turun
lagi dan pu-‘tulan Awan Merah dilepas tiada henti-hentinya
maka GolokMaut kembali menangkis.
“Dess!”
Wi Hong mencelat. Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini
mengeluh dan terban-ting terguling-guiing di sana, bukan
me-iempar tubuh melainkan memang terbanting oleh
tangkisan Golok Maut yang me-nambah tenaganya, kian
keras saja dan pucatlah gadis itu oleh sikap dingin lawan.
Goiok Maut memang benar-benar telah tidak memiliki rasa
cinta lagi dan mereka benar-benar musuh. Ah, sakitnya hati
ini! Dan ketika Wi Hong membentak dan menyerang lagi
maka GolokMaut mulal menghitung-hitung jurusnya.
“Sepuluh…. sebelas…. empatbelas… des dess!”
Wi Hong memaki-maki. Mengelak atau menangkis
sambil menghitung-hitung jurus serangan rasanya kok
semakin me-nyakitkan perasaan saja. Golok Maut bersikap
merendahkan dan sikap ini amat di-benci gadis atau ketua
Hek-yan-pang Itu. Tapi ketika dia menyerang dan tetap saja
semua serangan atau pukulannya terpen tal bertemu lawan
makaWi Hong terhuyung-huyung dan mulai menangis.
“GolokMaut, kau keparat. Terkutuk!”
“Hm, kau boleh memaki-maki sepuasmu. Setelah itu
jangan membuka mulut lagi, Wi Hong. Maaf bahwa aku
terpaksa akan mengantarmu ke akherat.”
“Bedebah! Jahanam keparat!” dan Wi Hong yang
kembali menyerang dan mener-jang sengit akhirnya
mendapat kenyataan bahwa Golok Maul memang bukan
lawannya. Hitungan jurus sudah menginjak pa-da angka
ketigapuluh dan gadis baju merah itu tersedu-sedu. Golok
Maut mulai bersikap bengis karena tangkisan-tangkisannya
kian diperkuat saja. Sinkang GolokMaut memang masih di
atas sinkangnya sendiri. Dan ketika hitungan menginjak
pada angka empatpuluh satu maka pedang ditangkis tangan
telanjang dan langsung melengkung.
“Plak!”
Wi Hong menjerit-jerit. Gadis atau ketua Hek-yan-pang
ini mulai histeris dan bercucuranlah air mata di wajah yang
cantik itu. Golok Maut membekukan perasaannya dari Wi
Hong semakin sakit hati saja. Dan ketika hitungan
menginjak pada jurus keempatpuluh delapan dan Golok
Maut berseru bahwa tinggal dua jurus lagi gadis itu
memiliki nyawanya maka laki-laki atau tokoh bercaping ini
mendesis.
“Wi Hong, tinggal dua jurus lagi. Bersiaplah, setelah itu
kau mati!”
“Terkutuk! Bedebah! Kau bunuhlah aku, Golok Maut.
Kau bunuhlah aku. Aku tak takut mati. Aku… aku… huak!”
dan Wi Hong yang tiba-tiba muntah dan terpelanting roboh
tiba-tiba kumat penyakitnya dan rasa mulas yang hebat
mengganggu perutnya. Wanita ini sedang hamil dan tentu
saja GolokMaut tak tahu.
Bertempur hampir limapuluh jurus bukanlah pekerjaan
ringan bagi seorang wanita hamil muda. Wi Hong telah
menguras tenaga-nya padahal selama itu lawan hanya
mengelak dan menangkis saja, belum membalas, apalagi
mencabut senjatanya yang mengerikan itu, Golok
Penghisap Darah! Dan ketika Wi Hong terpelanting bergulingan
dan muntah-muntah maka pertandingan sejenak
berhenti dan GolokMaut tertegun.
Wi Hong disana menangis tersedu-sedu dan mengeluh
panjang pendek. Perutnya didekap dan rasa kesakitan hebat
di-tahan gadis itu, herari Golok Maut. Tapi ketika laki-laki
bercaping ini menganggap itu hanya pura-pura saja agarWi
Hong tidak menyelesaikan jurus yang kelimapuluh, berarti
gadis itu selamat maka Golok Maut tertawa mengejek dan
berkata,
“Wi Hong, tak perlu berpura-pura. Aku belum
membalasmu, bagaimana kau kesakitan begini? Hm, jangan
menipu aku, Wi Hong. Aku tahu bahwa kau berpura-pura
dan sengaja ingin menghentikan pertandingan, agar tak
kubunuh! Sial, tak perlu kau mengelabuhi aku, wanita
siluman. Keputusan telah tetap di hatiku bahwa kau harus
kubunuh!”
“Keparat!” Wi Hong menangis tak keruan. “Terkutuk
kau, Golok Maut. Jahanam kau. Aku tak bermaksud purapura
agar kau tak membunuhku. Ah, keparat kau!” dan Wi
Hong yang bangkit lagi dengan air mata bercucuran lalu
berusaha menyerang meskipun gemetar, menggigil dan
terhuyung tapi tiba-tiba dia roboh lagi.
Muntah-muntah yang mengganggunya kembali muncul,
ambruk dan Golok Maut mengerutkan kening. Tapi
menganggap wanita itu pura-pura saja dan ingin
menghentikan pertempuran, agar dia tak mem-bunuh maka
GolokMaut berkelebat dan tangan pun siap meraba gagang
golok, senjata maut yang ada di balik punggungnya itu.
“Wi Hong, berdirilah, dan serang aku. Selesaikan jurus
kelimapuluh dan jangan harap aku memberi ampun!”
“Ah, bedebah!” Wi Hong terguling, menggeliat dan
melompat bangun. “Kau tak tahu bahwa aku tak berpurapura,
Golok Maut. Kau jahanam mengira aku takut mati.
Baiklah, inilah dua jurus terakhir dan setelah itu kubuktikan
padamu bahwa aku tak minta agar kau membatalkan
niatmu…. singg!” dan pedang bengkok yang menyambar
lagi di tangan yang gemetar akhirnya dielak namun
menusuk lagi dengan jari-jarl menggigil, ditangkis dan
terlepaslah pedang itu dari tangan pemiliknya yang
mencelat.
Wi Hong terlempar dan terbanting roboh, mengaduh dan
menangis. Dan ketika gadis itu merintih-rintih tak keruan
dan Golok Maut bersinar matanya tiba-tiba pemuda itu
bergerak mencabut golok mautnya, Golok Penghisap
Darah!
“Wi Hong, sekarang kau mati. Terimalah….!” sinar putih
berkeredep, cepat dan mengejutkan mata dan Wi Hong
disana terbelalak.
Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini terkesiap, kaget tapi
tidak takut hanya satu keluhan kecil keluar dari mulutnya
saat itu. Dengan berani dan gagah dia menatap sinar maut
itu, yang menyambar menuju lehernya. Sekali terpancung
tentu lehernya terpenggal, bakal menggelinding dan
kekejaman GolokMaut benar-benar tampak lagi.
Tokoh yang sudah menetapkan keputusannya ini tak
memberi ampun, apa yang dia katakan kini hendak dia
laksanakan. Ah, batang leher yang halus putih itu akan
segera berpisah dari ubuhnya, disusul muncratnya darah
segar seperti biasanya tubuh-tubuh yang sudah roboh
bergelimpangan. Tapi ketika Golok Maut berkelebat dan
senjata di tangannya itu menyambar tak kenal ampun tibatiba
terdengar bentakan dan dari samping menyambar sinar
putih lain yang kecepatannya juga luar biasa.
“GolokMaut, tahan kekejianmu……. crangg!”
Sinar menyilaukan memuncrat di udara. Sebatang
pedang pendek namun yang ampuhnya luar biasa telah
menangkis dan menggagalkan serangan Si Golok Maut.
Laki-laki bercaping ini tergetar dan ter-huyung, sinar
goloknya tadi telah bertemu dengan amat keras dengan
sebatang pedang yang juga berkilauan mengejutkan mata.
Dan ketika GolokMaut tegak memandang dan Wi Hong di
sana jatuh terduduk diteriaki sesosok bayangan lain maka
Beng Tan, pemuda gagah perkasa itu telah berdiri disitu
bersama Swi Cu, yang datang belakangan dan langsung
menjerit menubruk sucinya!
“Suci….!”
Golok Maut tertegun. Disitu telah berdiri musuhnya
yang amat lihai, bahkan paling lihai dan terkejutlah tokoh
ini melihat kedatangan Beng Tan. Pemuda baju putih itu
berkilat matanya dan kemarahan yang amat besar jelas
keluar dari sepasang mata yang mencorong itu.
Beng Tan marah sekali karena Golok Maut hampir saja
membunuh Wi Hong, yang sedang hamil! Tapi sebelum
pemuda ini bergerak dan memaki lawannya ternyata Swi
Cu sudah berkelebat dan membalik menusuk lawannya itu.
“Golok Maut, kau keji. Kau culas. Kau, ah… kau
binatang jalang terkutuk, sing-singg!” dan pedang Swi Cu
yang menyambar-nyambar bagai hujan menyerang Si
Golok Maut akhirnya membuat laki-laki bercaping itu
mengelak dan berlompatan, masih dikejar dan diserang
bertubi-tubi, tiada habisnya. Dan ketika pedang menusuk
beringas ke arah dadanya akhirnya GolokMaut membentak
dan pedang di tangan gadis itupun ditangkis.
“Kaupun wanita sialan….plak!”
Swi Cu menjerit, roboh terguling-guling se-mentara
pedangnya sendiri terlepas jatuh ke tanah. Golok Maut
memang amat lihai dan jelas bukan tandingan gadis ini.
Jangankan Swi Cu, yang wakil ketua Hek-yan-pang itu.
Sucinya sendiri, Wi Hong, ketua Hek-yan-pang masih
bukan tandingan Si Golok Maut, pria gagah perkasa tapi
yang berhati keras, sekeras batu karang! Dan ketika Swi Cu
terguling-guling Jan Goiok Maut menyimpan senjatanya
maka Beng Tan berkelebat menolong kekasihnya itu.
“GolokMaut, kau jangan menghadapi wanita. Lawanlah
adalah aku, laki-laki!”
Golok Maut menunggu. Dia tergetar memandang
pemuda baju putih itu sementara matanya berkilat-kilat
memandang Wi Hong. Kekasih yang akan dibunuhnya itu
sudah mengeluh panjang pendek mendekap perut, entah
kenapa.
Dia mulai ragu bahwa gadis itu benar-benar tidak
berpura-pura, karena Wi Hong tampak sakit dan perut
serasa melilit-lilit. Dan ketika Beng Tan disana sudah
menolong kekasihnya dan Swi Cu menangis memaki-maki
Si GolokMaut maka Beng Tan sudah berdiri dan membalik
menghadapi lawannya itu, menyuruh kekasihnya menolong
Wi Hong.
“Kau kesana, biar aku menghadapi ini..”
“Dia… dia…” Swi Cu mengguguk tersedu-sedu. “Bunuh
jahanam keparat ini, koko. Bunuh dia dan minta
pertanggung jawabannya menghamili enciWi Hong!”
“Sudahlah,” Beng Tan melihat muka Si Golok Maut
yang berobah terkejut. “Kau kesana, Cu-moi. Tolong
encimu dan biar Golok Maut bagianku. Dia memang harus
dimintai tanggung jawab, juga atas perbuatannya yang
malam-malam datang mengganggumu!” dan Beng Tan
yang berkilat memandang Si Golok Maut akhirnya
bertanya, dengan bentakan marah, “Golok Maut, kenapa
kau akan membunuh Wi Hong? Kau tak suka gadis itu
hamil akibat kejalanganmu? Dan kau mengganggu
kekasihku pula. Sungguh tak kusangka bahwa disamping
pembunuh kau pun juga seorang pemerkosa. Terkutuk!”
“Apa?” Golok Maut tersentak, mundur selangkah. “Kau
bilang apa, Beng Tan? Kau melancarkan tuduhan busuk?
Jaga mulutmu, atau aku akan membunuhmu!”
“Hm, tak perlu menggertak. Aku datang justeru untuk
memintai tanggung jawabmu, Golok Maut. Di samping
perintah kaisar agar aku menangkap atau membunuhmu
juga bertanya kenapa kau sekarang menjadi jai-hwa-cat
(penjahat pemerkosa) Kau gila, kau tidak waras. Sekarang
sepak terjangmu sudah benar-benar keluar garis dan tak ada
lagi kekagumanku akan kegagahanmu yang dulu-dulu!”
“Hm!” GolokMaut membentak. “Kau semakin melantur
yang tidak-tidak, bocah she Ju. Dan kuanggap kaulah yang
gila dan tidak waras! Aku memang pembunuh, tapi bukan
pemerkosa! Aku akan membunuh siapa saja tapi pantang
bagiku memperkosa wanita!”
“Ha-ha!” Beng Tan terbahak-bahak, geli tapi marah.
“Kau rampok dan maling tak tahu malu, GolokMaut. Kau
si muka tebal yang benar-benar tak patut diampuni! Ah,
bagaimana dengan Wi Hong yang jelas kauhamili itu?
Bagaimana dengan Swi Cu yang malam itu kau ganggu dan
hampir kau perkosa? Mereka-mereka ini ada dihadapanmu
semua, GolokMaut. Kalau masih berani menyangkal maka
dirimu bukan manusia melainkan binatang murahan!”
“Tutup mulutmu!” bentakan itu bagai geledek ditengahtengah
hujan deras. “Simpan semua makian dan fitnahmu
ini, Beng Tan. Aku tak pernah mengganggu kekasihmu itu
seperti yang kau bilang. Sedang Wi Hong, dia… dia hamil?
Kau tidak dusta?”
“Hm!” Beng Tan mengerutkan kening, meiihat Golok
Maut tiba-tiba menggigil dan gemetar hebat. “Aku adalah
seorang laki-laki yang pantang berbohong, Golok Maut.
Apa yang kukatakan adalah apa senyatanya terjadi. Wi
Hong memang hamil, akibat perbuatanmu. Dan karena kekejianmu
memperkosanya seperti binatang maka dia rela
kau bunuh! Ah, kau laki-laki tak berjantung. Sudah
memperkosaWi Hong masih juga kau mengganggu Swi Cu
Keparat!”
“Tidak!” Golok Maut tiba-tiba berseru, mencelat ke arah
Wi Hong. “Aku tak percaya, Beng Tan. Aku tak percaya!”
dan GolokMaut yang sudah berkelebat dan menyambarWi
Hong tiba-tiba menampar minggir Swi Cu, yang berdiri di
sebelah sucinya. Dan ketika gadis itu terlempar dan tentu
saja berteriak kaget maka Golok Maut sudah
mencengkeram dan mengguncang-guncangWi Hong.
-oo0dw0ooo-
Jilid XXIV
“WI HONG, kau… kau hamil? Apakah perbuatan kita
dulu itu…. ah… benarkah, Wi Hong? Beng Tan tidak
bohong?”
“Keparat!” Wi Hong memaki pemuda ini, meronta
melepaskan dirinya. “Hamil atau tidak hamil bukan
urusanmu, Golok Maut. Kau memang laki-laki keji yang
tidak berjantung! Hayo bunuhlah aku, dan bunuh jabang
bayi yang kukandung ini!”
“Oohh…!” Golok Maut mendekap keningnya. “Kau…
kau sudah berbadan dua? Kau benar-benar tidak bohong?”
“Tak ada untungnya bagiku berbohong. Hayo, kau
bunuh aku atau aku yang akan membunuhmu, Golok
Maut. Kau laki-laki keji dan pemuda tidak berjantung!” dan
Wi Hong yang marah melengking tinggi tiba-tiba
menggerakkan tangannya menampar pemuda itu.
“Plakk?”
Golok Maut mengeluh. Dia terlempar dan terbanting
keras karena pukulan atau tamparan itu dikeluarkan Wi
Hong dengan sepenuh tenaganya, didorong kemarahan.
Dan ketika lawan terbanting dan pucat memegangi pipinya
maka Wi Hong sudah berkelebat dan menyerang lagi,
memukul dan menendang dan GolokMaut tidak mengelak.
Laki-laki ini menerima dan suara bak-buk pukulan
menghujani tubuhnya. Golok Maut jatuh bangun dan
merintih panjang pendek, sama sekali tidak membalas. Dan
ketika Wi Hong semakin kalap dan menjadi-jadi tiba-tiba
gadis ini menyambar golok dibelakang punggung dan
senjata rampasan itu langsung dibacokkan ke leher lawan.
“Jangan!” Beng Tan terkejut, kaget berteriak keras dan
Swi Cu sendiri juga tertegun.Wakil ketua Hek-yan-pang ini
melihat sucinya yang kalap, marah dan menyambar Golok
Penghisap Darah itu dari belakang punggung Si Golok
Maut.
Dan ketika tokoh itu diam saja dan pasrah dalam
peryerahan total maka golok menyambar dan pemuda itu
bakal terpisah kepalanya!
Tapi tidak. Beng Tan, yang kaget dan berteriak melihat
ini tiba-tiba berkelebat ke depan. Pemuda baju putih itu
bergerak luar biasa cepat dan Pek-jit-kiamnya, Pedang
Matahari, keluar dari sarungnya untuk menangkis bacokan
maut ini. Dan ketika benturan keras tak dapat dihindarkan
lagi namun Wi Hong tentu saja kalah kuat maka Golok
Penghisap Darah mencelat dari tangan gadis itu namun
pundak GolokMaut terkuak lebar.
“Crat-cringgg!”
Wi Hong mengeluh terlempar. Golok Maut sendiri
roboh tersungkur dan mengerang merasakan sakitnya.
Golok Penghisap Darah, goloknya sendiri sudah meminum
darah tuannya. Pundak itu terluka lebar dan darah pun
bercucuran deras. Wi Hong tersedu-sedu disana sementara
lawannya merintih dan meratap. Dan ketika Swi Cu sadar
meloncat maju dan memeluk sucinya maka dua orang itu
bertangis-tangisan saling rangkul.
“Suci, maafkan Beng Tan. Dia tak bermaksud
menyakitimu. Sudahlah, kita berikan musuh kita itu
padanya dan jangan marah.”
“Aku tak dapat mengampuninya!” gadis itu berteriak
disela tangisnya. “Aku benci padanya, Swi Cu. Aku benci
padanya! Suruh Beng Tan minggir dan biarkan aku
membunuhnya!”
“Hm,” Beng Tan berkelebat, datang menepuk pundak
gadis ini. “Apa yang dikata Swi Cu memang benar, Wi
Hong. Serahkan GolokMaut padaku dan akulah yang akan
membereskannya. Dia akan kutangkap kalau mau
menyerah dan kubawa menghadap kaisar!”
“Kau terkutuk!” Wi Hong tiba-tiba melompat bangun,
memaki pemuda ini. “Kalau kau memang ingin
menyakitiku lakukan itu, Beng Tan. Tapi jangan halangi
aku membunuh binatang itu! Golok Maut bagianku, dan
akulah yang akan membunuhnya!”
“Hm, kau tak dapat membunuhnya,”
Beng Tan berkerut kening. “Merobohkan atau
membunuh musuh haruslah ksatria, Wi Hong. Jangan
mempergunakan kesempatan secara tak sehat. Kau tahu
sendiri Golok Maut tak membalas padamu, kenapa
mendesak dan berlaku tak jujur? Kalau dia mau maka
kaulah yang dibunuh. Tidak, aku ingin menyelesaikan
masalah ini secara ksatria dan kau jelas bukan
tandingannya. Mundurlah dan biarkan aku yang
menghadapi!” dan membalik menghadapi lawan Beng Tan
sudah berkelebat dan berdiri pula di depan Si Golok Maut.
“Golok Maut, kau terluka. Tapi itu salahmu. Nih, terima
senjatamu kembali dan mari kita selesaikan urusan ini
dengan cara ksatria!”
Beng Tan melempar Golok Penghisap Darah pada
pemiliknya, tadi sudah mengambil dan menyelamatkan
senjata itu dengan kening berkerut-kerut. Dan ketika Golok
Maut terkejut dan terbelalak padanya tiba-tiba Golok Maut
yang menangis ini tersedu-sedu dan menutupi mukanya,
menggeleng.
“Beng Tan, aku memang laki-laki yang patut dibunuh.
Kau bunuhlah aku, atau biarkan Wi Hong membunuhku!”
“Hm, kau berlagak apalagi?” Beng Tan tertegun, baru
kali ini melihat Golok Maut menangis! “Tak usah bersikap
pura-pura, Golok Maut. Kau berdirilah dan terima
golokmu!”
“Tidak, aku tak mau bertanding. Aku, ah… lemas
tubuhku…!” dan Golok Maut yang terhuyung bangkit
berdiri tiba-tiba berjalan dan menjatuhkan diri di depan Wi
Hong, berlutut. “Wi Hong….” suara itu menggigil, penuh
rasa salah, juga bingung. “Aku… aku tak tahu bahwa
selama ini hubungan kita telah membuahkan hasil. Tadi
aku memang berniat membunuhmu. Tapi setelah kuketahui
bahwa kau mengandung dan berbadan dua akibat
perbuatanku harap kau maafkanlah kesalahanku. Aku tak
ingin membunuhmu. Kalau kau ingin membalas dan
merasa kusakiti terimalah Golok Penghisap Darah dan kau
bunuhlah aku!”
Wi Hong tertegun. Penyerahan dan sikap pasrah yang
tidak dibuat-buat dari kekasihnya ini sungguh berbeda
sekali dengan tadi, bagai bumi dan langit. Tapi teringat
betapa dia benar-benar hampir dibunuh kekasihnya ini tibatiba
kemarahanWi Hong lenyap, hilang rasa kasihannya.
“Kau ingin dibunuh? Kau minta dibunuh? Baik, aku
memang ingin membunuhmu, Golok Maut. Kau laki-laki
keparat yang telah membuat aku menderita selama hidup.
Bersiaplah!” namun belum Wi Hong menyambar Golok
Penghisap Darah, yang masih dipegang Beng Tan tiba-tiba
GolokMaut berdiri memegang lengannya.
“Tunggu… tunggu dulu!” seruan itu gemetar setengah
merintih. “Jelaskan dulu pada Beng Tan dan sumoimu
bahwa aku tak melakukan perkosaan, Wi Hong.
Beritahukan mereka bahwa apa yang terjadi ini adalah
akibat hubungan cinta kasih kita, bukan paksaan!”
Wi Hong tertegun.
“Kau tak keberatan, bukan?”
“Hm,” Beng Tan tiba-tiba melompat mendekati, melihat
gadis baju merah itu terisak. “Apalagi ini, GolokMaut? Kau
berkata bahwa yang kau lakukan itu adalah atas dasar suka
sama suka?”
“Benar,” Golok Maut membalik, menghadapi pemuda
itu. “Apa yang kau tuduhkan adalah tidak benar, Beng Tan.
Aku memang pembunuh tapi bukan pemerkosa! Apa yang
kulakukan bersamaWi Hong adalah atas dasar cinta kasih
berdua, bukan paksaan. Dan karena aku akan mati maka
ingin kuhapus dulu tuduhan itu dan kalian lihatlah bahwa
aku bersih!”
Wi Hong tiba-tiba menangis. Tak dapat disangkal bahwa
apa yang dilakukannya bersama Si Golok Maut itu adalah
atas dasar suka sama suka, bukan paksaan. GolokMaut tak
memperkosanya dan kehamilannya adalah karena
kesalahannya juga. Maka ketika Beng Tan bertanya begitu
dan Golok Maut meminta pengakuannya tiba-tiba gadis ini
mengguguk dan menutupi mukanya, dlsambar dan dicekal
Swi Cu, yang terkejut dan tertegun!
“Suci, benarkah apa yang dikata Golok Maut itu? Kau
bukan hamil atas paksaannya? Kalian berdua
melakukannya atas dasar suka sama suka?”
“Beb…. benar…!” gadis ini mengguguk “Dia… dia
memang tak memperkosaku, Swi Cu. Tapi dia… dia yang
meninggalkan aku telah membuat aku sakit hati dan benci.
Aku ingin membunuhnya!”
“Nah,” Golok Maut bersinar-sinar. “Kalian dengar
bahwa aku tak melakukan perbuatan itu, Beng Tan. Aku
memang pembunuh tapi bukan pemerkosa! Dan apa yang
kalian tuduhkan tentang perbuatanku dengan Swi Cu juga
tidak benar adanya, fitnah!”
“Keparat!” Swi Cu membentak, melengking tinggi. “Aku
melihat kau sendiri memasuki kamarku dan mau
memperkosaku, Golok Maut. Aku tak memfitnah atau
melepas tuduhan keji!”
“Tapi aku tak melakukan itu….”
“Tapi kau masuk ke kamarku!”
“Hm, kapan? Mungkinkah dalam keadaan luka-luka dan
letih begini aku melakukan hal itu? Ingat, kapan aku datang
dan lihatlah keadaanku ini, Swi Cu. Aku tak pernah
melakukan itu karena sejak meninggalkan istana aku
langsung ke Lembah Iblis!”
Swi Cu tertegun. Terbelalak dan melihat keadaan Golok
Maut yang memang luka-luka dan letih diapun menjadi
ragu. Golok Maut bicara sungguh-sungguh, juga
berdasarkan bukti, yang dapat diterima. Dan terkejut serta
bimbang dlguncang perasaan marah tiba-tiba gadis ini
melengking dan berseru, “GolokMaut, kalau begitu apakah
siluman yang datang menggangguku? Atau apakah kau
menganggap aku melepas fitnahan keji yang tidak
berdasar?”
“Hm, fitnah jelaslah fitnah, Swi Cu. Tapi aku tidak
mengatakan bahwa kau yang membuat fitnah ini. Kalau
benar ada seseorang yang melakukan hal itu maka jelas
bukan aku, orang lain! Dan kau salah mengalamatkan
tuduhan!”
“Tapi…” gadis ini gusar. “Ilmu golok yang kau lancarkan
padaku adalah jelas Giam-to-hoat, Golok Maut. Di dunia
ini tak ada orang lain yang dapat atau memiliki ilmu itu
selain kau!”
“Hm, kau beranggapan begitu? Terserah, aku sedang
pusing dengan berbagai persoalanku sendiri tapi bersumpah
atas nama nenek moyangku aku tak melakukan perbuatan
itu. Pantang bagiku memperkosa, dan aku justeru benci
kepada pemerkosa!” dan ketika Golok Maut berkeretuk
mengerotkan giginya maka dari luar lembah tiba-tiba
terlihat bayangan-bayangan orang disusul tawa bergelak.
“Ha-ha, mau apalagi, Beng Tan? Golok Maut sudah ada
di depan mata. Laksanakan perintah kaisar dan tangkap
atau bunuh pemuda itu!”
Mindra dan Sudra serta Mo-ko dan Ya-lucang muncul
mendadak. Mereka itu tadi berada dibelakang karena
sebagaimana diketahui orang-orang ini mengikuti Beng
Tan, dari jauh.
Mendapat perintah Coa-ongya agar mengepung dan
mengurung Lembah Iblis. Mereka ditugaskan untuk
mencegah larinya Golok Maut, kalau tokoh itu
meninggalkan Beng Tan. Maka melihat betapa Beng Tan
terlibat pembicaraan dan pertempuran atau pertandingan
dahsyat belum juga terjadi maka empat orang itu muncul
dan Mo-ko, si kakek hitam melontarkan seruannya.
Beng Tan terkejut dan Golok Maut sendiri terperanjat,
menoleh dan memandang kakek-kakek iblis itu. Dan ketika
mereka bergerak dan tahu-tahu sudah meluncur dan
berhenti mengepung mereka maka Golok Maut terbelalak
tajam memandang Beng Tan.
“Mereka ini kawan-kawanmu? Kau membawa bala
bantuan?”
Beng Tan berdetak. Tiba-tiba dia mendapat pandangan
hina dari Golok Maut. Pemuda bercaping itu
memandangnya mengejek dan juga rendah. Ada dugaan
atau sangkaan yang tersirat disitu bahwa Beng Tan
dianggap pengecut, membawa bantuan dan ingin
mengeroyok! Dan ketika Beng Tan belum menjawab dan
Mo-ko tertawa melengking tiba-tiba kakek yang penuh
kebencian itu mendahului, mengejutkan Beng Tan.
“Ya, kami datang untuk membantu anak muda ini,
GolokMaut.Mencegah kau lari dan agar tertangkap!”
“Ha-ha!” Mindra kali ini menyambung, melihat
kemarahan Si Golok Maut. “Kami diutus Coa-ongya untuk
menangkap dan membunuhmu, Golok Maut. Beng Tan
telah membantu Coa-ongya dan beberapa waktu yang lalu
menginap digedungnya!”
“Benarkah?” Golok Maut membalik, tiba-tiba
menghadapi pemuda baju putih itu. “Hm, tak kusangka kau
sudah menjadi antek Coa-ongya, Beng Tan. Kalau begitu
permusuhan kita semakin dalam dan tantanganmu
kuterima. Baiklah, aku bicara sebentar dengan Wi Hong!”
dan berapi-api menghadapi gadis itu Golok Maut berkepal
tinju. “Wi Hong, maaf. Kematianku ditanganmu kutunda
dulu. Aku tak akan lari darimu, percayalah. Beri
kesempatan padaku dan kau mundurlah kuhadapi orangorang
ini!” dan membalik menghadapi kembali lawannya
itu Golok Maut menegakkan kepala, memaksa diri berdiri
tak gemetar, meskipun kakinya kelihatan goyah. “Beng
Tan, kau berikan Golok Penghisap Darah itu kalau kau
jantan. Mari kita bertanding dan aku siap melayanimu
sampai mati. Boleh keroyok dan aku tak akan undur
setapak pun!”
Beng Tan tergetar. Setelah pembicaraannya dengan
Golok Maut dan dilihatnya betapa Si Golok Maut itu tetap
merupakan laki-laki gagah yang cukup ksatria maka dia
menjadi ragu dan tergetar juga, tak enak.
Merasakan sesuatu yang mengganjal dan sesuatu itu
membuat dia bimbang. Dia telah salah sangka dengan
tuduhannya pertama, bahwa Wi Hong diperkosa Golok
Maut. Dan bahwa Golok Maut telah menyangkal pula
perbuatannya terhadap Swi Cu dan kenyataan atau alibi
Golok Maut itu tampaknya kuat juga, karena tak mungkin
orang yang sedang luka-luka dan letih memperkosa orang
lain maka Beng Tan menjadi ragu dan Golok Penghisap
Darah yang dicekalnya itu bergetar maju mundur, siap
diberikan tapi juga tidak, berulang-ulang hingga pemuda ini
dibentak lawan. Namun ketika Golok Maut bergerak dan
maju melepas pukulan tiba-tiba golok itu dilempar pada Swi
Cu dan Beng Tan menangkis.
“Golok Maut, aku sekarang tak ingin membunuhmu.
Biarlah senjatamu kusimpan pada Swi Cu dan kita
bertanding tangan kosong… dukk!” dan dua lengan yang
tergetar beradu sama kuat tiba-tiba membuat Golok Maut
terhuyung dan Mo-ko terkekeh nyaring, bergerak
menyerang Golok Maut dan Mindra serta yang lain-lain
tiba-tiba juga maju bergerak.
Mereka itu tertawa dan masing-masing melepas pukulan.
Itu adalah saat yang baik karena Golok Maut sedang
tergetar dan terhuyung oleh tangkisan Beng Tan, jadi
mereka tentu saja melihat kesempatan emas dan lima orang
itu tiba-tiba bergerak hampir berbareng. Dan ketika Mo-ko
melepas Pek-see-kang atau Hek-see-kangnya dan kakek
Yalucang menyemburkan api lewat mulutnya maka Mindra
dan Sudra juga menghantam dengan Pukulan Bintang Api,
Hwi-seng-ciang.
“Plak-duk-dess!”
Golok Maut mencelat. Lima pukulan itu mengenainya
telak dan mengeluhlah tokoh bercaping itu. Tadi dia sedang
terhuyung dan tentu saja ia tak dapat mengelak, menangkis
saja susah dan lawan-lawannya yang licik telah
melancarkan pukulan di saat dia tak terjaga. Maka begitu
terlempar dan mencelat oleh lima buah pukulan yang
dahsyat maka Golok Maut terbanting dan lima kakek itu
tertawa bergelak menyerangnya lagi!
“Bunuh dia! Pukul sampai roboh!”
Swi Cu danWi Hong terkejut. Sebenarnya, melihat sikap
Golok Maut yang begitu gagah dan ksatria hati dua orang
ini terutamaWi Hong tergetar.Memang selama ini dia tahu
bahwa Golok Maut bukanlah laki-laki pengecut.
Kekejaman yang dilakukan pemuda itu adalah dikarenakan
masa lalunya yang buruk, nasib yang kejam dan tampaknya
mempermainkannya sekehendak hati. Wi Hong inilah satusatunya
orang yang tahu jelas siapa sesungguhnya Si Golok
Maut itu, karena sebagai kekasih Golok Maut telah
menceritakan masa suramnya yang lewat.
Wi Hong inilah yang sebenarnya ragu dan terkejut ketika
mendengar Golok Maut memerkosa, hal yang hampir
diyakininya tak mungkin karena Golok Maut justeru akan
beringas dan benci sekali kepada pemerkosa. Enci pemuda
itu yang tewas setelah diperkosa menimbulkan semacam
dendam di hati Golok Maut dan akan berlaku demikian
kejam kalau ada pemerkosa.
Maka begitu berita-berita itu didengar dari sumoinya,
Swi Cu, menyatakan diganggu dan akan diperkosa Golok
Maut diam-diam dihati gadis atau wanita baju merah ini
timbul semacam rasa tidak percaya dan kaget, tak mau
menerima begitu saja dan akhirnya Golok Maut dapat
memberikan keyakinan-keyakinannya yang kuat.
Orang yang sedang terluka dan letih tak mungkin dapat
melakukan itu. Maka ketika Golok Maut dapat
menyanggah dan diam-diam semacam perasaan lega
membersit di hati wanita ini maka Wi Hong bersyukur
karena hal itu sungguh tak dilakukan Golok Maut,
meskipun Swi Cu masih menyangsikannya dan hal itu
memang boleh-boleh saja. Dia sendiri pun masih akan
menyelidiki tapi Wi Hong percaya penuh. Dia tahu siapa
Golok Maut dan bagaimana wataknya pula. Tapi karena
dia sendiri juga hampir dibunuh dan Golok Maut bersikap
demikian kejam kepadanya maka Wi Hong menjadi benci
dan sakit hati pula, menimbang-nimbang dan memikir apa
yang kira-kira akan dilakukannya. Golok Maut telah
berserah diri dan dia siap membunuh. Tapi begitu muncul
orang-orang ini dan Golok Maut yang sedang terluka dan
terpukul tiba-tiba terbanting dan mengeluh bergulingan
dihantam lima orang kakek itu tiba-tiba Wi Hong menjadi
terbakar dan marah pula!
“Mo-ko, kalian licik. Berhenti dan mundur!”
“Ha-ha, siapa kau? Ketua Hek-yan-pang? Ha-ha, kau
bukan isteri Coa-ongya pangcu, tak berhak memerintah aku
dan justeru kau majulah keroyok Si Golok Maut ini. Kau
akan mendapat imbalan dan salah-salah memikat hati Coaongya
untuk diambil isteri!”
“Tutup mulutmu!” Wi Hong semakin terbakar. “Kau
busuk dan bermulut kotor, Mo-ko. Kalau begitu terimalah
ini dan aku akan menghajarmu!”
“Heii…!” Mo-ko berteriak, melihat Wi Hong berkelebat.
“Kau menyerang aku, bocah? Keparat, aku tak takut…
duk!” dan dua lengan yang beradu di udara tiba-tiba
membuat Wi Hong terpental, kaget bergulingan melempar
tubuh karena dirinya kalah kuat. Mo-ko memang lihai dan
ia pun baru saja bertempur menguras tenaga melawan
kekasihnya.
Dan ketika gadis itu bergulingan mengeluh mendekap
perut dan Mo-ko terbahak-bahak tiba-tiba iblis bermuka
hitam itu melepas jarum-jarum halus untuk mernyerang
ketuaHek-yan-pang itu.
“Cet-cet-cet!”
Swi Cu berteriak marah. Melihat sucinya diserang
senjata gelap disaat bergulingan tentu saja gadis baju hitam
ini gusar. Dia tak dapat menerima itu dan berteriaklah gadis
ini menolong sucinya.
Jarum-jarum itu ditangkis jarum-jarumnya pula, tangting-
tang-ting dan semuanya runtuh ke tanah. Dan ketika
sucinya melompat bangun dan memaki kakek itu maka Wi
Hong menerjang dan menyerang lagi, ditangkis dan
terpental dan kembali gadis ini jungkir balik. Wi Hong
lemah tenaganya dan hanya berkat kemarahannya itu
sajalah yang membuat wanita ini seolah bangkit, bertenaga.
Tapi begitu lawan tertawa-tawa dan sebentar kemudian
sudah mendesak dan mencecarnya maka Swi Cu tak dapat
menahan diri dan bergeraklah gadis ini menerjang Mo-ko,
teman sendiri!
“Hek-mo-ko, kau siluman jahanam!”
Hek-mo-ko terkejut. Sebenarnya dia tak bermaksud
membunuh Wi Hong kecuali merobohkan dan
menundukkannya saja, sekedar memberi pelajaran. Maka
begitu Swi Cu menyerang dan gadis ini adalah kekasih Beng
Tan, pemuda yang amat lihai itu maka kakek ini tentu saja
kaget dan cepat menangkis ketika sinar putih menyambar
dari atas.
“Plakk!”
Swi Cu terpental berjungkir balik. Dia telah mencabut
pedangnya dan dengan senjata itu ia menyerang lawan,
membalik dan menyerang lagi bertubi-tubi. Cepat dan ganas
ia sudah mencecar kakek ini.
Dan karena Swi Cu masih segar dan tentu saja
bersemangat maka gadis itu mainkan ilmu pedangnya
dengan hebat sementara pukulan-pukulan Awan Merahnya
menyambar, dilepas dengan tangan kiri dan Mo-ko tentu
saja sibuk. Iblis muka hitam ini bingung karena Swi Cu
bukanlah gadis biasa. Disamping wakil ketua sebuah
perkumpulan yang cukup ternama juga gadis itu adalah
kekasih Beng Tan, pemuda lihai yang jelas bukan
tandingannya!Maka ketika kakek ini tak berani keras-keras
menghadapi gadis baju hitam itu sementara lawannya
demikian sungguh-sungguh dan beringas maka Mo-ko
akhirnya terdesak dan dua kali ujung pedang mengenai
pelipisnya!
“Cret-cret!”
Kakek itu memaki gusar. Dia menampar dan
mengebutkan ujung bajunya, menolak pedang namun
sudah diserang lagi. Dan ketika Wi Hong juga bangkit
berdiri dan menyerang dari kanan maka kakek ini berkaokkaok
dan sebentar kemudian sudah menerima pukulan atau
tusukan-tusukan pedang.
“Hei-heii..! Kalian gila? Kalian tidak waras? Berhenti,
nona. Atau aku marah dan akan bersikap kejam terhadap
kalian!”
“Kejamlah! Bersikaplah! Siapa takut dan akan mundur?
Roboh dan pergilah, Mo-ko, atau aku yang akan menjadi
pembunuhmu.. bret-crat!” tusukan di pipi membuat iblis ini
murka bukan main, merunduk dan tiba-tiba tangannya
bergerak dari bawah. Ia menangkap dan mencengkeram
perut Swi Cu. Tapi ketikaWi Hong bergerak dan membabat
kakek itu maka pedang yang gemetar menetak perlahan.
“Takk!”
Mo-ko melindungi tangannya. Dia sudah mengerahkan
sinkang dan menolak pedang. Wi Hong dalam keadaan
lemah dan karena itu tenaganya pun tak usah dikhawatiri.
Namun karena gangguan itu datang juga dan Swi Cu
menendang maka cengkeramannya bertemu dengan ujung
kaki gadis itu.
”Bret!”
Swi Cu berteriak. Kakinya tersambar dan dia menarik,
celaka sekali sepatunya copot dan pincanglah dia dengan
sebelah kaki telanjang. Namun ketika lawan tertawa
menyeringai dan menubruknya lagi maka dua orang ini
sudah bertanding sementaraWi Hong sekali dua terhuyung
membantu sumoinya.
“Bunuh kakek ini, Swi Cu. Tusuk dan robohkan dia!”
“Ya, dan kita habisi nyawanya, suci. Atau kita berdua
mampus bersama… sing-bret!”
Mo-ko kewalahan, betapapun kurang sungguh-sungguh
dan pedang kembali mengenai bahunya, dikeroyok dan
sekarang dia tak dapat tertawa atau menyeringai lagi karena
dua orang wanita itu menyerangnya sungguh-sungguh. Dan
karena kakek ini masih segan dan takut kepada Beng Tan
akibatnya dia mulai terdesak dan mundur-mundur,
mencabut tongkat namun senjata itu kurang berguna saja.
Jarum rahasia yang ada di ujung tongkat tak berani
dikeluarkan. Kakek ini takut karena jarumnya itu adalah
jarum beracun, amat ampuh dan dapat membunuh lawan.
Dan karena pertandingan berjalan pincang dan kakek ini
tentu saja terdesak dan terdesak maka Pek-mo-ko, si iblis
putih menjadi geram, marah melihat keadaan adiknya itu.
“Sute, biar kubantu kau!” kakek putih menyambar
meninggalkan Golok Maut, berkelebat dan membantu
adiknya dan terkejutlah Swi Cu sertaWi Hong.
Sebenarnya menghadapi Hek-mo-ko seorang mereka
haruslah bekerja keras. Maka begitu si iblis putih meloncat
membantu adiknya maka Swi Cu terpental ketika dengan
keras tongkat di tangan kakek itu menangkis pedangnya.
“Tranggg!”
Gadis ini mengeluh. Sekarang dia terhuyung dan sucinya
disana tinggal menghadapi sendirian Hek-mo-ko, si Iblis
hitam. Dan ketika Pek-mo-ko sudah menyerangnya bertubitubi
dan sucinya yang lemah itu menghadapi Hek-mo-ko
yang tertawa-tawa maka keadaan berbalik dan merekalah
yang kini terdesak!
“Keparat!” Swi Cu melengking-lengking “Kau jahanam
terkutuk, Pek-mo-ko. Biar kubunuh kau atau aku yang
terbunuh!”
“Ha-ha!” Pek-mo-ko menyeringai. “Aku tak bermaksud
membunuhmu, nona. Hanya mencegahmu berbuat curang
dan tidak mendesak adikku!”
“Tapi kau juga curang, mengeroyok GolokMaut!”
“Hm!” kakek ini terkejut, merah mukanya. “Itu lain
bocah. Golok Maut adalah musuh semua orang dan kita
patut membunuhnya!”
“Curang, pengecut!” dan Swi Cu yang marah membentak
lagi lalu melengking-lengking dan menghadapi kakek ini,
sayang kalah tinggi dan Pek-mo-ko pun dengan tenang
menahan semua serangan-serangannya.
Dan karena iblis putih itu memang orang yang amat lihai
dan Swi Cu masih di bawah kelas maka gadis ini terdesak
dan satu pukulan tongkat akhirnya menghajar pundaknya.
“Dess!”
Swi Cu pucat. Didesak dan digiring mengikuti lawan
akhirnya dia terdikte, mengelak namun sebuah hantaman
kembali mengenai tubuhnya. Dan ketika gadis ini
terhuyung-huyung sementara Wi Hong disana juga jatuh
bangun menghadapi Hek mo-ko akhirnya Beng Tan, yang
sejak tadi terbelalak dan marah melihat semuanya tiba-tiba
berkelebat, persis bersamaan dengan Si Golok Maut yang
juga berkelebat dan membentak Hek-mo-ko, yang sudah
merobohkan Wi Hong.
“Mo-ko, kau iblis jahanam!”
Si putih dan si hitam terkejut. Mereka melihat
berkelebatnya bayangan dua pemuda itu, satu dari kiri
sedang yang lain dari kanan. Dan karena mereka
sebenarnya memang sudah gentar dan tentu saja menangkis
jerih maka keduanya terlempar ketika dua pukulan atau
tamparan Golok Maut dan Beng Tan mengenai pelipis
mereka.
“Des-dess!”
Mo-ko kakak beradik terpelanting. Pukulan Beng Tan
tidak terlalu keras namun cukup juga membuat Pek-mo-ko
terguling-guling.
Dan karena Golok Maut justeru bersikap sebaliknya
karena tokoh bercaping yang sedang marah ini tak dapat
menahan dirinya maka Kim-kong-cian (Pukulan Sinar
Emas) menghantam telak punggang Hek-mo-ko, yang
mencelat dan terlempar dan tentu saja iblis hitam itu
berkaok-kaok. Dia bergulingan menjauhkan diri dan Golok
Maut sudah menolong Wi Hong. Gadis atau ketua Hekyan-
pang itu diangkat dan disandarkan kebahunya.
Dan ketika Wi Hong tersedu-sedu dan gemetar di
pelukan Golok Maut maka pemuda itu berbisik, juga
gemetar,
“Wi Hong, kau istirahatlah disana. Jaga kandunganmu,
jaga anak kita. Biarlah kau mundur dan kuhadapi orangorang
ini!”
“Ooh..!” Wi Hong menangis mengguguk “Kau… kau
keparat jahanam, Golok Maut. Kau kubenci dan akupun
ingin membunuhmu!”
“Tenanglah, boleh kau lakukan itu,” Golok Maut
menyeringai pedih. “Aku tak akan lari, Wi Hong. Aku
bersumpah ingin mati kalau kau kehendaki. Sudahlah, kau
disini dan kuhadapi orang-orang itu….. plak!” dan Golok
Maut yang diteriaki dan mendengar seruan kaget Wi Hong
tiba-tiba membalik dan sudah menangkis sambaran
nenggala, serangan licik yang dilakukan Mindra dan kakek
India itu terkejut memekik perlahan, tadi membokong dan
melihat kesempatan baik. Tak tahunya Golok Maut
mendengar dan pemuda itu sudah menangkis,
mengerahkan sinkangnya. Dan ketika Mindra terpental dan
otomatis gagal maka Golok Maut berdiri dan menggeram
pada kakek curang itu.
“Mindra, kau kakek jahanam. Kubunuh kau!”
Dan Golok Maut yang berkelebat serta mendorong Wi
Hong lalu bergerak dan mengejar musuhnya ini, tadi
dikeroyok empat namun dia mampu bertahan. Beng Tan
memang tidak menyerangnya lagi setelah orang-orang itu
maju, pertama karena marah dan kedua karena dia memang
tidak suka keroyokan. Akibatnya dibiarkannyalah orangorang
itu menyerang dan Golok Maut ternyata dapat
melayani, meskipun terhuyung dan menderita luka.
Dan ketika Pek-mo-ko maupun Hek-mo-ko akhirnya
keluar karena menghadapi Swi Cu dan Wi Hong maka tiga
orang itu tak kuat juga dan akhirnya terdesak namun
sayang Golok Maut harus menolong kekasihnya, melihat
Wi Hong dirobohkan Hek-mo-ko dan kini Mindra
membokong dari belakang, ditangkis dan tak tahunya kakek
itu gagal juga. Dan ketika Golok Maut sudah berdiri lagi
dan menyerang kakek itu maka Sudra berusaha membantu
namun tak tahan juga.
“Hei, anak muda!” serunya pada Beng Tan. “Kenapa kau
mendelong saja dan tidak membantu kami? Hayo maju,
GolokMaut adalah bagianmu!”
“Kalian curang!” Beng Tan membentak. “Kalau merasa
gagah dan ingin merobohkan lawan janganlah mengeroyok,
Mindra. GolokMaut memang bagianku tapi kalian mundur
kalau tak ingin celaka!”
“Keparat, kami membantumu! Kenapa malah
membiarkan dan berdiam diri? Hei …. maju, bocah. Atau
kau kulaporkan pada Coa-ongya… plak-dess!” Sudra
mencelat, kali ini mendapat bagiannya dan Kim-kong-ciang
tak dapat dielak lagi. Dia menangkis tapi kalah cepat,
pukulan itu mengenai tengkuknya dan terlemparlah kakek
ini. Dan ketika Golok Maut mengejar namun Mindra
membantu maka nenggala menusuk dan Golok Maut
terpaksa menangkis.
“Plak!”
Dua-duanya terhuyung. Golok Maut tergetar namun
tidak terpental seperti lawannya, diserang dan kini
dikeroyok lagi karena Pek-mo-ko maupun Hek-mo-ko
sudah maju mengerubut.
Yalucang kakek yang tinggi besar itu juga menyemburnyemburkan
apinya namun semua dapat ditiup padam oleh
GolokMaut, tokoh bercaping yang ternyata masih lihai itu,
meskipun terluka, letih. Dan ketika pertandingan kembali
terjadi dan keroyokan lima orang itu tak dapat mendesak
Golok Maut maka Swi Cu menggigil di pelukan
kekasihnya, karena Beng Tan juga sudah menolongnya dari
serangan Pek-mo-ko tadi.
“Golok ini sebaiknya diberikan pada pemiliknya. Biar
kakek-kakek itu mampus dibunuh!”
“Tidak, jangan…” Beng Tan mencegah, “Betapapun
mereka adalah pembantu Coa-ongya, Swi Cu. Dan aku
secara tak langsung juga membantu pangeran itu. Biarkan
mereka bertanding dan biar lima kakek itu tahu rasa!”
“Tapi mereka curang, pengecut!”
“Sudah menjadi wataknya,” Beng Tan berkata,
mengerutkan kening. “Mereka lancang mengambil
urusanku, Swi Cu. Biarlah mereka berbuat licik karena
GolokMaut masih bisa bertahan!”
Swi Cu tertegun. Akhirnya dia melihat bahwa Golok
Maut memang dapat mengelak dari semua seranganserangan
berbahaya, meskipun tanpa senjata. Mampu
menolak pukulan-pukulan berat atau juga seranganserangan
yang mengarah jiwa.
Golok Maut itu ternyata benar-benar hebat meskipun
sudah letih, tanda betapa luar biasanya pemuda bercaping
ini dan tentu saja Swi Cu kagum. Memang Golok Maut
hebat, dikeroyok berlima masih juga ia mampu menghalau
dan membalas pukulan-pukulan lawan. Dan ketika Mo-ko
maupun yang lain berkali-kali terdorong atau terhuyung
oleh tangkisan pemuda ini maka Sudra meledakkan
cambuknya dan menjadi marah.
“Mo-ko, kalian serang dari samping. Biar aku dari
belakang…. tar-tar!” kakek itu berseru, licik menyerang
GolokMaut dan pemuda ini mengelak.
Cambuk yang menyambar dari belakang menotok atau
menghantam tengkuknya, menuju jalan darah kematian
dan tentu saja pemuda ini menghindar. Namun ketika dia
bergerak ke kanan dan Mo-ko kakak beradik
menghantamkan tongkat mereka tiba-tiba Mindra dan
Yalucang bergerak dari depan dengan nenggala dan
pukulan Hwee-kangnya.
“Des-dess!”
Dua kakek di depan terpental. Mindra dan Yalucang
berteriak keras karena semburan api dan tusukan
nenggalanya ditangkis Golok Maut, begitu kuat dan penuh
geraman hingga nenggala patah.
Namun ketika dua kakek itu terpental dan Mo-ko kakak
beradik juga mengeluh dipukul mundur mendadak dua Iblis
hitam dan putih itu memencet tongkat mereka,
meluncurkan jarum-jarum halusnya dan jarum-jarum
beracun ini menyambar Golok Maut. Pemuda itu sedang
tergetar dan baru saja menghadapi serangan bertubi-tubi.
Depan dan belakang serta kiri kanan hampir tak ada yang
kosong. Lawan semua menyerang tapi mereka semua dapat
dipukul mundur. Tapi begitu Mo-ko dengan licik
menyerang dengan jarum-jarum rahasianya dan tongkat
dipencet maka Golok Maut tak dapat menghindar dan dua
dari delapan jarum beracun menancap di pundaknya.
“Cep-cep!”
GolokMaut mengeluh. Dia terkejut oleh kecurangan dua
orang itu, kekebalannya tertembus karena baru saja
sinkangnya dikerahkan buat menangkis pukulan bertubitubi
itu. Dan ketika dia terbelalak dan terhuyung mundur
tiba-tiba Pek-mo-ko terkekeh melihat raut muka lawan yang
pucat.
“Heh-heh, dia terkena, kawan-kawan. Jarum rahasiaku
mengenai tubuhnya!”
“Benar!” Hek-mo-ko, sang adik, berteriak. “Dia kena,
suheng. Dan sebentar lagi tubuhnya akan kebiru-biruan, haha!”
Swi Cu dan Wi Hong terkejut. Mereka melihat bahwa
benar saja tak lama kemudian tubuh pemuda itu sudah
kebiru-biruan. Racun dengan cepat mengalir dan tak dapat
dicegah lagi.
Seharusnya dalam keadaan begitu Golok Maut berhenti
dan duduk bersila, menahan dan mengerahkan sinkangnya
agar racun tidak menjalar naik. Tapi karena Mo-ko maupun
yang lain-lain tentu saja tak akan membiarkan ini dan Sudra
serta Mindra terkekeh menyeramkan tiba-tiba mereka
menubruk kembali diiring lengkingan dan bentakan tinggi.
“Benar, hayo serang dia. Jangan biarkan racun ditahan
olehnya!” dan ketika dua kakek itu menubruk dan tertawa
menyerang lagi maka Mo-ko kakak beradik juga berkelebat
dan tongkat dipencet dua tiga kali, menghamburkan jarumjarum
rahasia dan GolokMaut terkejut sekali.
Kakek tinggi besar Yalucang juga menggeram dan
menyemburkan apinya. Dan ketika dia mengelak namun
tak semua pukulan dapat dihindarkan maka tubuhnya
terpental dan terbanting keras ketika pengerahan
sinkangnya tak dapat dikonsentrasikan lagi.
“Dess!”
GolokMaut terguling-guling. Untuk pertama kalinya dia
merasa panas dingin dan kaget. Dia harus mencegah racun
dengan pengerahan sinkangnya namun juga sekaligus
menahan serangan-serangan lawan dengan tenaga saktinya
itu. Tak ayal dia menjadi gugup dan pecahlah
konsentrasinya untuk menghadapi kecurangan-kecurangan
lawan. Dan ketika disana Mo-ko terkekeh-kekeh dan
menyerang lagi bersama teman-temannya maka Golok
Maut terdesak dan kali ini dialah yang jatuh bangun.
“Ha-ha, lihat, teman-teman. Sebentar lagi dia roboh!”
“Ya, dan kita bawa kepalanya ke pangeran! Ha-ha,
menyerahlah, GolokMaut. Sekarang kau mati…. des-dess!”
Golok Maut terlempar lagi, jatuh terguling-guling dan
mendesaklah lawan dengan tak kenal ampun lagi. Mo-ko
melepaskan semua jarum-jarumnya namun dua itu saja
yang berhasil, yang lain dipukul runtuh dan habislah
persediaan jarum di ujung tongkat. Dan ketika GolokMaut
menerima pukulan-pukulan lawan dan racun di tubuh
semakin bergerak naik maka tubuh yang kebiruan itu sudah
mulai berwarna hitam.
“Curang!” Wi Hong membentak. “Kalian curang,Mo-ko.
Ah, kalian pengecut-pengecut busuk!” dan Wi Hong yang
maju membentak marah tiba-tiba melengking dan tidak
memperdulikan dirinya sendiri, menyambar pedang dan
sudah menusuk dengan senjatanya yang bengkok itu.
Tanpa perduli dan menghiraukan apa-apa lagi mendadak
wanita ini sudah membantu Golok Maut, menusuk dan
menikam Pek-mo-ko. Dan ketika Pek-mo-ko tentu saja
kaget namun tertawa aneh tiba-tiba tusukan Wi Hong
ditangkis dan tongkatnya mementalkan senjata wanita itu.
“Pergi kau… trak!”
Wi Hong terjengkang. Memang dia sudah tak dapat
bertanding karena kehabisan tenaga, selayaknya beristirahat
dan wanita inipun sedang dalam keadaan hamil muda. Tapi
karena Golok Maut dicurangi seperti itu dan tiba-tiba
kemarahannya bangkit dan cintanya timbul tiba-tiba gadis
atau wanita ini sudah nekat menyerang lagi, membentak
dan maju membela Golok Maut dan tertegunlah Golok
Maut itu.
Wi Hong sungguh-sungguh membantunya dan gadis
itupun menangis. Golok Maut terharu dan tiba-tiba
pandangannya pun menjadi hidup. Mata pemuda ini
bersinar-sinar dan berserulah Golok Maut agar kekasihnya
itu mundur. Tapi ketika Wi Hong, malah nekat dan
melengking menusuk lawannya maka ketua Hek-yan-pang
itu berseru biarlah dia mati bersama.
“Aku tak akan membiarkanmu dibunuh. Aku tak dapat
melihat kecurangan ini. Biarlah kita mati bersama atau
semua jahanam-jahanam ini kita basmi!”
“Tapi, ah… kandunganmu, anak kita, ah, tidak. Jangan,
Wi Hong. Jangan kau bantu aku dan menjauhlah kesana.
Kau kehabisan tenaga, kau letih. Biarkan aku sendiri karena
aku dapat menghadapi musuh-musuhku ini!” dan Golok
Maut yang melengking panjang melemparkan tangannya .
ke kiri kanan tiba-tiba mendorong empat orang lawannya.
Lalu begitu berkelebat dan melihat Wi Hong terjengkang
tiba-tiba Golok Maut menghantam Pek-mo-ko. Iblis muka
putih ini tidak menyangka bahwa Golok Maut masih bisa
bertanding sehebat itu. Maka ketika empat temannya
terhuyung dan Golok Maut menampar tiba-tiba kakek ini
menjerit dan terlempar ke kiri. Dan ketika dia bergulingan
meloncat bangun dan kaget berseru keras tiba-tiba Golok
Maut berkelebat kearah Swi Cu. Lalu begitu tangannya
bergerak dan menotok pergelangan tiba-tiba Golok
Penghisap Darah, golok yang masih dipegang gadis itu
sudah dirampas!
“Mo-ko, sekarang aku akan membunuhmu!”
Semua kaget. Golok Maut tiba-tiba berubah seperti
harimau haus darah. Gerakannya yang cepat dan diluar
dugaan sungguh mengejutkan siapa pun. Swi Cu sendiri
sampai tertegun ketika golok di tangannya terampas.
Namun karena dia memang bermaksud menyerahkan golok
itu dan diapun melihat kecurangan Mo-ko dan kawankawannya
ini maka gadis itu terbelalak melihat GolokMaut
berkelebat tiga kali.
Pemuda itu membentak ke arah si putih, Pek-mo-ko baru
saja melompat bangun dan saat itulah cahaya menyilaukan
berkeredep. Dan karena kakek ini sedang terhuyung
sementara golok sudah menyambar luar biasa cepat maka
kakek ini tak dapat mengelak kecuali menggerakkan
tongkatnya, menangkis tapi tentu saja putus. Golok terus
menyambar ke depan seperti kilat yang amat mengejutkan.
Dan ketika kakek itu terbang semangatnya dan berteriak
mengerikan maka tangannya dipakai untuk menangkis
namun tentu saja terbabat. Dan persis kakek itu menjerit
maka tangannya kutung sementara dengan cepat dan tepat
golok di tangan Si GolokMaut membelah dadanya.
“Oak!”
Satu jeritan tertahan menyusul robohnya tubuh si kakek
iblis. Pek-mo-ko mandi darah dan tubuhnya menjadi dua,
putus secara mengerikan. Dadanya itu terpotong dan
berteriaklah Hek-mo-ko melihat saudaranya tewas. Dan
ketika yang lain-lain tertegun dan terkejut melihat itu maka
Golok Maut sudah menggeram dan membalik menyerang
mereka.
“Sekarang kalian. Bersiaplah kuhabisi!”
Semuanya gentar. Sekarang GolokMaut mengamuk dan
golok di tangannya itu menyambar-nyambar bagai naga
murka. Mindra dan teman-temannya pucat dan mundurlah
mereka mengelak sambaran itu. Dan karena nenggala
sudah putus sementara cambuk tak mungkin dipakai
menghadapi Golok Penghisap Darah akhirnya Sudra
maupun Mindra membalik memutar tubuhnya, lari!
“Bocah, bantu kami. Atau kau kulaporkan Coa-ongya!”
Beng Tan membelalakkan mata. Dia ngeri melihat sepak
terjang Si Golok Maut yang demikian haus darah. Dia tak
setuju orang-orang itu melakukan pengeroyokan namun
tentu saja dia juga tidak bermaksud untuk membiarkan
teman-temannya dibunuh.Maka ketika dua kakek India itu
melarikan diri dan Yalucang serta Hek-mo-ko tentu saja tak
kuat menghadapi sendirian maka dua orang itupun
melarikan diri dan memutar tubuhnya, takut menghadapi Si
GolokMaut!
“Beng Tan, bantu kami. Keparat kau!”
Beng Tan sekarang bergerak. Mo-ko dan kawan-kawan
akhirnya melarikan diri. Mereka terang gentar dan
kapoklah orang-orang itu meneriaki Beng Tan. Dan ketika
Golok Maut menggeram dan mengejar mereka, terhuyung
dan mendelik memutar-mutar goloknya tiba-tiba pemuda
ini berkelebat menahan.
“GolokMaut, berhenti. Akulah lawanmu!”
Golok Maut beringas. Melihat Beng Tan maju dengan
bentakannya tiba-tiba tanpa banyak cakap ia menyerang
lawannya ini. Golok bergerak namun Beng Tan mengelak,
diserang lagi dan berkelebatanlah pemuda itu melayani
lawannya. Namun karena Golok Maut sudah gemetar
sementara racun di tubuh juga mengalir semakin cepat
akhirnya ketika Beng Tan mengetuk tiba-tiba Golok Maut
roboh dan mengeluh pingsan.
“Bluk!”
Golok Maut memang tidak mungkin menyerang terus.
Dia sudah terlalu lama bertahan dan tubuhnya yang
kehitaman itu membutuhkan pertolongan cepat. Hanya
kemarahan dan kebenciannya yang amat besar sajalah yang
mampu membuat dia bertahan selama itu.
Maka ketika Beng Tan bergerak dan memang hanya
pemuda lnilah yang dapat menghadapinya maka begitu
diserang dan diketuk pergelangannya terlepaslah golok di
tangan Si Golok Maut itu, Golok Maut sendiri terguling
dan sudah roboh pingsan.Mo-ko dan lain-lain sudah lenyap
melarikan diri dan tinggallah disitu Beng Tan
menyelesaikan tugasnya. Dan ketika pemuda ini berkerutkerut
kening melihat lawan roboh maka Beng Tan
menyambar dan sudah menangkap tawanannya itu.
“Lepaskan dia!” tapi bayangan merah tiba-tiba
membentak. “Kau tak boleh membawanya pergi, Beng Tan.
Serahkan padaku dan jangan kau ganggu dia!”
Beng Tan terkejut. “Kau mau apa?”
“Dia… dia ayah dari calon anakku. Aku akan
membawanya pergi, menyelamatkannya!”
“Tapi..” Beng Tan tertegun. “Aku mendapat perintah
kaisar untuk menangkap dan membawanya ke kota raja,Wi
Hong. Tak mungkin aku menyerahkannya padamu!”
“Hm!” Wi Hong tegak, berapi-api. “Dengan caramu yang
demikian rendah? Menangkap dan menawan seseorang
yang sudah tidak berdaya?”
“Aku akan mengobatinya,Wi Hong. Dan lihat ini!” Beng
Tan memberikan sebutir pil, langsung dimasukkan ke mulut
Si GolokMaut tapiWi Hong tetap menggeleng.
Gadis atau wanita itu berkata bahwa Golok Maut harus
diserahkan padanya, tak boleh dibawa pergi. Dan ketika
Beng Tan terbelalak dan menjadi marah maka wanita ini
menutup,
“Kau tidak mendapatkannya secara ksatria. Kau
merobohkan Golok Maut karena sebelumnya dia sudah
terluka. Nah, apakah ini jantan, Beng Tan? Apakah ini
tidak membuatmu malu dan kehilangan harga diri? Kalau
kau begitu maka aku siap mati disini, membela suamiku!”
Beng Tan kaget. SekarangWi Hong menangis dengan air
mata bercucuran dan gadis atau ketua Hek-yan-pang itu
menyebut GolokMaut sebagai suaminya.
Bukan main, satu pernyataan yang berani dan tidak
malu-malu. Hal yang dilakukan gadis itu karena kepepet,
terdesak! Dan ketika Beng Tan tersentak dan bingung
disana maka Swi Cu berkelebat dan menangis menyambar
sucinya itu pula.
“Suci, kau benar. Tapi, ah… pemuda ini juga berbahaya
dan sekaranglah saatnya yang paling baik bagi Beng Tan
untuk menangkap dan membawanya ke kota raja. Mereka
berdua setanding. Kalau Golok Maut sehat dan sama-sama
bertempur maka keduanya akan menjadi korban dan samasama
celaka. Sebaiknya biarkan dia dan Golok Maut
paling-paling akan diadili di istana, seperti kata Coa-ongya!”
“Hm, tidak!” Wi Hong membalik, mendorong sumoinya.
“Aku tak mempercayai Coa-ongya, Swi Cu. Dan aku tak
percaya orang-orang istana. Dia tetap milikku dan kalian
pergi!”
“Tapi…” Swi Cu tersedu. “Aku takut kalau keduanya
bertanding lagi, suci. Aku ngeri!Mereka itu sama-sama kuat
dan setanding!”
“Aku tak perduli. Dan Beng Tan kutantang untuk
mendapatkannya secara gagah! Kalau dia ingin menangkap
dan membawa GolokMaut lebih baik bunuh aku dulu, atau
dia pergi dan serahkan pemuda itu padaku!”
“Suci,” Swi Cu gemetar, memandang sucinya,
“Bukankah kau membenci pemuda ini? Bukankah dia…”
“Tidak, aku mencintainya, Swi Cu. Aku tak pernah
diperkosanya dan apa yang terjadi adalah atas kemauanku
juga. Aku sudah mengikat diriku, dan dia ayah dari calon
anakku nanti. Kalian pergi atau….aku akan mati disini
membela suamiku!”
Swi Cu mengguguk. Akhirnya dia menubruk dan
memeluk Beng Tan, menutupi mukanya. Sucinya sudah
berkata seperti itu dan tak mungkin dia mencegah. Dan
karena dia tahu watak sucinya ini dan kekerasan sucinya
memang tak perlu diragukan lagi maka Swi Cu menangis
dan berkata pada kekasihnya, agar GolokMaut dilepaskan.
“Berikan dia… berikan dia. Biarlah lain kali kita datang
lagi dan laksanakan tugasmu secara ksatria, kalau Golok
Maut sudah sembuh!”
Beng Tan tertegun. Sebenarnya kata-kata Wi Hong tadi
membuat mukanya menjadi merah juga. Memang, kalau
dipikir, adalah kurang jantan menangkap lawannya itu
setelah Golok Maut terluka dan habis tenaganya.
Lawannya itu tidak sehat dan seolah dia tinggal menangkap
saja. Tindakan kurang ksatria. Tapi karena Beng Tan tidak
takut dan sebenarnya bukan maksudnya untuk menangkap
Golok Maut begitu mudah akhirnya dia mengangguk dan
mengepal tinju.
“Baiklah,” katanya. “Aku bukan laki-laki pengecut, Wi
Hong. Kalau kau menghendaki begitu kuterima
permintaanmu. Nih, aku masih mempunyai obat lagi dan
biarkan dia sembuh!”
Wi Hong bersinar matanya. Kalau Beng Tan berkata
seperti itu maka sungguh bukan main girangnya sang hati.
Tapi karena dia tak mau menunjukkan kegirangannya itu
dan bersikap dingin maka dia pura-pura mengangguk dan
berkata,
“Baik, terima kasih, Beng Tan. Dan aku juga akan
menyuruh GolokMaut datang menemuimu. Ambil obatmu
kembali, dia urusanku!”
Tapi Beng Tan melemparkan obat itu. Dia menggeleng
dan tetap ingin menolong Golok Maut, atau, sebenarnya,
menolong Wi Hong, karena dia tak ingin membuat wanita
atau gadis itu repot. Dan begitu dia menyendal dan menarik
lengan kekasihnya maka Beng Tan berkelebat dan pergi
meninggalkan Lembah Iblis.
“Wi Hong, sampaikan padanya bahwa hidup atau mati
aku pasti akan menangkapnya lagi. Jangan biarkan dia
bersembunyi!”
Wi Hong sudah terlalu girang. Dia gembira bahwa
lawan-lawan berat telah pergi. Sekarang dia tahu keadaan
kekasihnya ini dan aneh tapi nyata Wi Hong tak lagi
membenci pemuda itu.
Golok Maut secara ksatria dan jantan menghadapi
semua keadaan dengan gagah. Watak itu betul-betul
mengagumkan dan timbullah cinta di hati wanita ini. Dan
karena GolokMaut tak membunuhnya dan dia juga tak jadi
membenci orang yang masih dicintanya ini makaWi Hong
membungkuk dan menyambar pemuda itu. Dan begitu
bergerak dan mengayunkan kakinya tiba-tiba ketua Hekyan-
pang ini telah berkelebat ke puncak tebing.
“Apa? Beng Tan melepaskan Golok Maut? Dia tak
menangkap dan membawa pemuda itu?”
“Maaf,” Mindra memberi hormat. “Begitulah yang kami
lihat, ong-ya. Dan Mo-ko serta Yalu menjadi saksi!” begitu
empat orang ini menghadap dengan muka terengah,
melapor dan Coa-ongya, pangeran yang amat
berkepentingan itu melotot.
Pangeran ini merah mukanya dan tentu saja dia marah.
Dan ketika semua mengangguk dan menyatakan Golok
Maut dibiarkan Beng Tan maka pangeran ini gusar
meminta pemuda itu dipanggil menghadap.
“Aku disini,” Beng Tan tahu-tahu muncul, seperti iblis.
“Apa yang dikata mereka benar, ong-ya, Tapi kesalahan
juga justeru gara-gara mereka.Mereka inilah yang membuat
gagal. Dan karena mereka bersalah sebaiknya dihukum!”
Coa-ongya terkejut, berkerot giginya. “Beng Tan, apa arti
kata-katamu ini? Bagaimana mereka bisa bersalah?
Bukankah kau yang melepaskan Golok Maut padahal dia
sudah terluka dan tinggal menangkap? Dan kau sudah
merobohkannya pula, tapi kau melepaskan jahanam itu.
Keparat!”
“Hm!” Beng Tan mengedikkan kepala, tidak gentar.
“Jangan marah-marah dulu, ong-ya. Apa yang paduka
ketahui belumlah lengkap. Sebaiknya paduka dengar dulu
ceritanya dan ketahuilah kenapa Golok Maut terpaksa
kulepaskan lagi, meski-pun sudah roboh!” Beng Tan lalu
menceritakan jalannya peristiwa, betapa mula-mula dia
sudah berhadapan dengan musuhnya itu tapi tiba-tiba
kelima kakek ini datang mengacau. Mereka mengeroyok
dan lancang mendahuluinya. Dan karena mereka
melanggar peraturan dan mengambil alih pekerjaan maka
Beng Tan membiarkan mereka.
“Tanpa bertanya atau meminta persetujuanku tiba-tiba
mereka mengeroyok, mengira Golok Maut sudah tak kuat
lagi. Siapa salah kalau Golok Maut mengamuk? Kakekkakek
inilah yang tak tahu diri, ong-ya. Dan mereka
pengecut! Aku memang membiarkan mereka karena siapa
tahu kalau mereka berhasil menangkap dan membunuh
GolokMaut maka mereka inilah yang mendapat pahala!”
Mindra dan keempat kawannya merah padam. Mereka
disemprot dan dikatai habis-habisan. Beng Tan menyesali
namun sekaligus juga mengejek perbuatan mereka, yang
dianggap pengecut. Dan karena mereka memang mengira
Golok Maut sudah tak bertaring lagi dan mengira gampang
merobohkan maka Beng Tan tak salah kalau membiarkan
mereka berhadapan langsung.
“Nah, paduka tanyakan pada mereka ini apakah betul
atau tidak!”
“Hm, betulkah, Mo-ko?” Coa-ongya beralih. “Kalian
lancang mendahului dan tidak menunggu diluar lembah?”
“Maaf, kami tak sabar, ong-ya. Kami diluar lembah tapi
melihat Beng Tan bicara saja dengan Si Golok Maut itu,
seolah kawan!”
“Hm, kami bicara apa perdulimu, Mo-ko? Kalian semua
lancang, tidak menuruti perintahku! Kalau sekarang
suhengmu tewas jangan marah-marah kepadaku!”
Hek-mo-ko merah padam. Kalau saja Beng Tan tidaklah
lihai mungkin dia akan menggeram dan menerjang pemuda
ini, Memang hatinya masih sakit dan panas kalau teringat
kematian suhengnya itu. Suhengnya tewas dan
kematiannya pun mengerikan. Ah, selama hidup tak
mungkin dia lupakan itu. Dan ketika Beng Tan mengejek
dan mencibir padanya maka kakek ini tak berani bicara apaapa
selain memendam kebencian di hati.
“Awas kau,” pikirnya, “Sekali waktu kesempatan itu ada
tentu aku akan mencelakaimu, anak muda. Aku akan
membalas sakit hatiku atas kata-katamu!”
“Hm!” Coa-ongya kini memandang ke pembantupembantunya
yang lain. “Betulkah itu, Mindra? Kalian
datang dan mengambil alih tugas Beng Tan?”
“Maaf, kami memang tak sabar,” Mindra menirukan,
menjawab sambil menunduk. “Anak muda ini kami rasa
terlalu lamban, ong-ya. Padahal Golok Maut sudah letih
dan luka-luka. Kami memang mengambil alih pekerjaan
karena menyangka Golok Maut gampang dibunuh. Tapi,
ah… pemuda itu memang benar-benar lihai!”
“Dan kekasih pemuda ini memberikan Golok Penghisap
Darah itu pada Golok Maut!” Hek-mo-ko tiba-tiba berseru.
“Kalau saja Beng Tan mau mencegah tentu kami dapat
membunuhnya, ong-ya. Beng Tan tak mau berbuat apa-apa
dan semua menjadi saksi!”
“Hm, bagaimana itu? Apakah golok itu sudah berhasil
dirampas?”
“Benar, dan Beng Tan-lah yang merampas. Lalu
memberikannya pada kekasihnya. Hamba juga kecewa
kenapa Beng Tan membiarkan Golok Maut merampas
kembali senjatanya itu!” Mo-ko lalu bercerita, didengar
Coa-ongya dan yang lain-lain pun mengangguk. Memang
Golok Maut akan dapat mereka robohkan kalau saja tidak
mendapatkan kembali senjatanya. Golok itu dirampas dari
tangan Swi Cu dan Beng Tan diam saja. Dan ketika Mo-ko
menuduh bahwa Beng Tan rupanya diam-diam berkomplot
dengan musuh maka Coa-ongya bersinar-sinar memandang
pemuda ini, marah.
“Beng Tan, benarkah kata-kata Mo-ko ini? Kau
membiarkan saja Golok Maut mengambil senjatanya
padahal kau berada di dekat kekasihmu itu?”
“Maaf, pantang bagiku berbohong, ong-ya. Hal itu betul.
Tapi tidak semata seperti apa yang diceritakan Mo-ko ini.
Mereka mengeroyok, dan bersenjata pula.Mana kegagahan
mereka menghadapi lawan secara ksatria? Aku tak
menyukai Golok Maut, ong-ya. Tapi aku lebih tak
menyukai orang-orang yang bersifat pengecut. Mereka ini
licik, dan mengandalkan jumlah pula. Dan karena aku tak
suka mereka berbuat curang maka kubiarkan Golok Maut
itu mendapatkan senjatanya agar pertandingan berjalan
adil, masing-masing sama-sama bersenjata!”
“Dan untuk itu suhengku tewas!” Hek-mo-ko naik darah,
mendelik. “Kau tak setia kawan, Beng Tan. Kau membela
musuh. Dan aku ragu apakah kesungguhanmu untuk
membunuh GolokMaut juga benar-benar dapat dipercaya!”
“Hm, kau lihat saja,” Beng Tan mendengus. “Suhengmu
tewas karena kalian semua tak menuruti perintahku, Moko.
Sudah kubilang agar kalian berjaga dan biarkan aku
berhadapan satu lawan satu. Dan karena kalian sombong
dan licik mengeroyok lawan yang disangka tak ada
tenaganya maka jangan salahkan aku kalau seandainya
kalian semua pun mampus!”
“Apa kau bilang?” Hek-mo-ko semakin gusar. “Kau
menghina kami yang merupakan pembantu ong-ya? Kau
merendahkan Coa-ongya pula?”
“Hm,” Beng Tan tak menghiraukan. “Sudah kita sepakati
bahwa yang maju adalah aku, Mo-ko, bukan kalian. Dan
karena kalian lancang dan tidak tahu diri maka itulah
akibatnya kalau bersifat sombong. Kalau kalian meragukan
niatku membekuk Golok Maut baiklah, aku mundur dan
kalian yang menangkap!”
“Heii..!” Coa-ongya kaget, berseru keras. “Kembali, Beng
Tan. Tunggu dulu!”
Kiranya Beng Tan pergi, Pemuda itu marah
meninggalkan ruangan, berkelebat dan membalik tanpa
minta ijin lagi pada Coa-ongya, tuan rumah. Tapi ketika
Coa-ongya berseru dan Beng Tan mengeluarkan suara dari
hidung tiba-tiba pemuda ini berkelebat dan muncul kembali.
“Paduka mau apa? Apa lagi yang dapat paduka perlukan
dari orang yang sudah tidak dapat dipercaya?”
“Tidak… tidak!” sang pangeran menggoyang lengan.
“Aku tetap percaya padamu, Beng Tan. Jangan
kemarahanmu kepada Mo-ko kau timpakan disini pula.
Aku tetap memerlukan bantuanmu, jangan kau pergi!”
“Sementara ini biarkan hamba istirahat. Paduka bersama
pembantu-pembantu paduka itu!”
“Ah, tapi aku tak marah padamu, Beng Tan. Kau jangan
salah paham!”
“Tidak, bukan salah paham, ong-ya. Tapi kulihat
semuanya begitu. Biarlah hamba istirahat dan lain kali kita
bicara lagi. Maaf!” dan Beng Tan yang membalik
membungkukkan tubuhnya tiba-tiba sudah berkelebat dan
meninggalkan pangeran, memberi hormat dan sang
pangeran pun tertegun. Coa-ongya tak dapat berbuat apaapa
dan kini giginya berkerot-kerot. Dan karena Beng Tan
benar-benar tak dapat dibujuk dan pemuda itu masih
menunjukkan kemarahannya akhirnya pangeran membalik
dan menghadapi keempat pembantunya itu.
“Kalian lihat, pemuda itu ngambek. Lain kali harap lebih
berhati-hati karena betapapun tenaganya masih kita
perlukan!” dan melotot menegur Hek-mo-ko sang pangeran
melanjutkan, “Mo-ko, malam nanti kau panggil seorang
pembantuku yang rahasia. Pergi keluar kota raja dan cari Si
Kedok Hitam, di kuil di timur pintu gerbang. Nah, kalian
semua pergi dan malam nanti bertemu lagi!”
Semua mengangguk. Mo-ko diam-diam heran dan
terkejut karena tak menyangkaCoa-ongya memiliki seorang
pembantu lain, yang tidak diketahui. Dan ketika Coa-ongya
bangklt berdiri dan meninggalkan ruangan maka semuanya
bergerak dan kembali ke tempat masing-masing, Mindra
dan Sudra diam-diam juga heran dan mengerutkan kening
bahwa Coa-ongya memiliki pembantu rahasia. Mereka
saling lirik dan memberi tanda. Namun ketika mereka
berpisah dan menunggu malam nanti maka semuanya
berkelebat dan lenyap di empat penjuru gedung.
-0de0wi0-
Malam itu Mo-ko menuju timur pintu gerbang. Dia tahu
akan adanya sebuah kuil tua dan di kuil itulah katanya
seorang pembantu Coa-ongya tinggal. Dia penasaran dan
ingin tahu.
Sejak siang tadi dia tak sabar menunggu datangnya
malam. Maka ketika malam menjelang tiba dan dia
diperintah memanggil Si Kedok Hitam, tokoh yang belum
dikenal maka iblis muka hitam itu berkelebat dan sudah tiba
di depan kuil.
Mo-ko adalah iblis yang sombong. Pembantu-pembantu
Coa-ongya biasanya adalah orang-orang yang harus
“berkenalan” dulu dengannya. Kalau ilmu silatnya biasabiasa
saja tentu dia akan menghajarnya habis-habisan.
Maklumlah, setiap pembantu baru berarti saingan cari
makan dan gengsi.
Sudra maupun Mindra pun juga tak luput dari “ajar
kenal” ini, dicoba kepandaiannya. Dan ketika dia masuk
dan berkelebat memasuki kuil maka Mo-ko sudah berteriak
agar Si Kedok Hitam muncul.
“Hei…!” kakek itu berseru. “Aku mencarimu, Kedok
Hitam. Keluarlah dan tampakkan dirimu. Aku diutus Coaongya!”
Tak ada jawaban. Bentakan atau seruan kakek Itu malah
bergema namun tak ada siapa-siapa di kuil kosong itu.
Rupanya tak ada orang dan marahlah kakek ini memanggilmanggil
lagi.
Kalau Coa-ongya menyuruh tak mungkin majikannya
bohong. Di kuil itu pasti ada seseorang tapi entah kemana
orang yang dicari itu. Dan ketika iblis ini berkelebatan dan
mencari sambil berteriak-teriak maka seluruh ruangan
sudah dijelajahi namun hasilnya nihil.
“Keparat!” kakek ini memaki-maki. “Kau llcik dan
pengecut, Kedok Hitam. Sepantasnya orang macammu ini
tak patut menjadi pembantu Coa-ongya, apalagi pembantu
rahasia! Cih, kau gentong kosong yang menikmati gaji
buta!”
Mo-ko marah-marah. Dia sudah mengelilingi dan
mencari kemana-mana. umpatan dan makian pun tak
pernah kendor. Tapi ketika dia tiba diruangan singa, yakni
tempat yang penuh patung binatang tiba-tiba terdengar
dengus dan suara yang tak jelas arahnya.
“Mo-ko, aku sudah tahu maksud kedatanganmu.
Pergilah, dan beritahukan Coa-ongya aku datang!”
“Keparat!” Mo-ko membalik. “Dimana kau, Kedok
Hitam? Kau benar-benar ada disini?” ,
“Ya, aku ada disini, sedang tidur. Tapi kau mengganggu
dan berkaok-kaok bagai babi disembelih. Kalau kau bukan
pembantu Coa-ongya tentu tubuhmu sudah kulempar
keluar. Pergilah, dan beritahukan Coa-ongya bahwa aku
datang!”
Mo-ko melotot. Dia menangkap suara disebelah kiri,
dibelakang patung singa. Maka berkelebat dan membentak
menyuruh lawan keluar tiba-tiba kakek ini menghantam
dan melepas pukulannya.
“Kau keluarlah…. dess!” patung singa hancur, Mo-ko
terbelalak menajamkan matanya karena orang yang dicari
tak ada disitu. Dan ketika dia mendengar tawa mengejek
dan suara itu kini ada dibelakang tubuhnya maka dia
membalik dan menghantam lagi.
“Dess!”
Inipun gagal. Mo-ko mendelik dan marah bukan main,
mendengar suara di kiri kanan tubuhnya dan tentu saja
kakek itu berubah-ubah tempat. Dia mengikuti dan
menghantam lagi, membabi-buta. Tapi ketika belasan
patung hancur dan orang ^ang dicari tak ada juga maka
kakek ini kaget dan mulai gentar!
“Kedok Hitam, keluarlah. Jangan main-main seperti
pengecut!”
“Hm, apa maksudmu?”
“Aku ingin melihat tampangmu!”
“Tak perlu sekarang, nanti pun bisa.”
“Tidak, kau keluarlah, Kedok Hitam. Atau kau mampus
kuhajar…. des-prakk!” sebuah patung lagi hancur, patung
satu-satunya yang ada disitu dan Mo-ko melihat sesosok
bayangan berkelebat luar biasa cepatnya.
Dia sudah menduga bahwa lawannya bersembunyi disitu
dan benar saja orang ini keluar. Tapi ketika dia tak melihat
siapa lawannya itu karena gerakannya demikian cepat dan
luar biasa maka tahu-tahu kakek ini telah kehilangan
lawannya itu. Seperti iblis!
“Mo-ko, aku diluar. Keluarlah kalau ingin melihat aku!”
Mo-ko berdetak. Gerakan demikian cepat hanyalah dua
orang saja yang selama ini dialaminya. Satu Golok Maut
dan ke-dua adalah Beng Tan, pemuda baju putih itu.Maka
begitu lawan lenyap tapi sudah menunggunya di depan
maka kakek ini. berkelebat dan benar saja seseorang telah
menunggunya di halaman, seseorang yang berkedok!
“Ah, siapa kau?” kakek ini berjungkir balik, turun dan
sudah melayang ke bawah dan berhadapanlah kakek itu
dengan lawannya.
Si Kedok Hitam tertawa mengejek dan merasa
meremang mendengar tawa ini, begitu dingin dan
menyeramkan. Jantung di dadanya serasa beku dan tawa
itu juga seperti tawa Si GolokMaut yang kejam dan dingin.
Tapi ketika dia membentak dan lawan menghentikan
tawanya maka Si Kedok Hitam, laki-laki yang tinggi
jangkung ini mendengus padanya.
-ooo0dw0ooo-
Jilid : XXV
“AKU adalah si Kedok Hitam, kau sudah menyebut
namaku. Kenapa bertanya dan bersikap bodoh?”
“Bukan itu, tapi siapa kau sebenarnya!”
“Heh, tidak berotakkah kau ini, Mo-ko? Sudah kusebut
bahwa dlriku adalah si Kedok Hitam, dan kau bertanya
lagi. Apakah ingatanmu demikian buram hingga perlu
diketok sekali dua?”
Hek-mo-ko menggeram. Dia bingung juga dengan
pertanyaannya itu. Betul, lawan sudah menyebut dirinya, si
Kedok Hitam. Tapi karena yang dia maksudkan adalah
lebih luas lagi dengan siapa sesungguhnya bayangan di
balik kedok itu dan bagaimana si Kedok Hitam bisa
menjadi pembantu Coa-ongya maka kakek ini membentak
dan tiba-tiba menyerang.
“Kau manusia busuk! Biar kurobohkan dirimu dan
kulihat pantaskah kau bersikap sombong!” namun lawan
yang mengelak dan mengejek kakek ini tiba-tiba tertawa
mengeluarkan tawa menghina.
“Mo-ko, tak perlu kalap. Dikeroyok empat dengan tiga
temanmu yang lain aku masih juga menang. Pergilah, dan
katakan pada Coa-ongya bahwa aku datang….. plak-plak!”
kakek iblis itu terpental, kaget berteriak keras dan
menyerang lagi namun lawan dengan mudah menangkis
dan menghalau. Dan ketika enam tujuh kali tetap begitu
dan kakek ini terkejut tiba-tiba Mo-ko mencabut tongkatnya
dan kalap menyerang, berseru menerjang dengan senjatanya
itu dan tangan kiri pun bergerak melakukan tamparantamparan
Hek-see-kang (Pukulan Pasir Hitam), dahsyat
menyambar namun lawan tertawa aneh. Tubuh yang
diserang itu mendadak berkelebatan cepat dan lenyap
mendahului serangan-serangan kakek itu. Dan ketika Moko
terkejut karena lawan benar-benar tak dapat diikuti
bayangannya maka sebuah tamparan ganti mengenai
pundaknya, terpelanting dan kakek itu menjerit keras
karena sentuhan lawan demikian menyengat, rasanya
seperti api! Dan ketika Mo-ko berteriak gusar dan
memencet ujung tongkatnya, menghamburkan jarum-jarum
beracun maka lawan mengebut dan berkata,
“Mo-ko, kecurangan macam ini tak perlu kau perlihatkan
padaku. Robohlah, dan sekarang kita berhenti!”
Mo-ko meraung. Belasan jarum-jarum hitamnya yang
menyambar dalam jarak begitu dekat ternyata dikebut
runtuh dengan satu kibasan ringan, tampaknya ringan tapi
nyatanya dia terdorong. Dan karena jarum-jarumnya itu
dikebut balik dan tentu saja menyambar dirinya sendiri
maka kakek iblis itu roboh terbanting dengan tujuh belas
jarum menancap di hampir seluruh tubuhnya.
“Aduh!” Mo-ko terguling-guling. Kakek ini mengeluh
dan berteriak kesakitan. Apa yang terjadi sungguh di luar
dugaan. Dan ketika dia merintih dan mengerang tak keruan
maka lawan berkelebat lenyap dan menghilang entah ke
mana, berkata dari jauh bahwa dia akan menghadap Coaongya,
melaporkan tindakan kakek itu dan tentu saja kakek
ini pucat. Namun ketika dia mencabuti semua jarum-jarum
itu dan menelan obat penawar, karena dia bisa tewas kalau
tidak mengobati dirinya maka kakek ini bangkit terhuyung
dan lari terpincang-pincang menuju istana.
“Kedok Hitam, bangsat keparat kau! Awas, tantanganmu
akan kulaporkan pada tiga orang rekanku!”
“Hm!” suara itu terdengar amat jauh. “Boleh laporkan
kalau ingin coba-coba kepandaianku, Mo-ko. Dan lihat
berapa jurus kalian berempat kurobohkan!”
“Ah, kau sombong. Jahanam takabur!” namun lawan
yang tidak menjawab lagi karena sudah lenyap akhirnya
membuat kakek ini terseok-seok berlari, di sepanjang jalan
mengumpat caci namun diam-diam kakek iblis ini gentar.
Kalau saja si Kedok Hitam itu musuh barangkali dia sudah
dibunuh, kenyataan itu diyakininya. Namun ketika kakek
ini jatuh bangun meninggalkan kelenteng tua itu maka di
Sana, di istana, telah menunggu pangeran she Coa.
“Hm, kau terlambat!” teguran itu bernada dingin. “Dan
kau menghina si Kedok Hitam pula. Benarkah,Mo-ko?”
Kakek ini tertegun. “Dia sudah di sini?”
“Satu jam yang lalu, dan kau katanya bersikap kurang
ajar! Mo-ko, sesama rekan tak seharusnya kau melakukan
itu. Besok kau harus minta maaf padanya dan kalian
berempat tunduk pada si Kedok Hitam. Aku besok tak ada
di istana, melaksanakan tugas kaisar. Kedok Hitam
mewakiliku dan kalian tak boleh membantah!”
“Paduka mau pergi? Berapa lama? Dan Kedok Hitam itu
mewakili paduka?”
“Benar, dan tadi aku sudah memanggil tiga temanmu,
Mo-ko. Mindra dan Sudra serta kakek Yalucang
kuperintahkan untuk datang ke sini besok. Kedok Hitam
akan membawa kalian ke Lembah Iblis!”
“Astaga!” kakek ini terkesiap. “Hamba dan kawan-kawan
belum tahu betul kepandaian si Kedok Hitam itu, pangeran.
Meskipun dia lihai namun baru mengalahkan hamba
seorang. Dan Colok Maut, ah….. dia itu mampu
menandingi kami berlima! Hamba khawatir….”
“Tak perlu khawatir!” sang pangeran memotong. “Kalian
besok boleh mengujinya, Mo-ko. Kedok Hitam telah
meminta persetujuanku untuk menundukkan kalian
berempat. Kalian semua gentong-gentong kosong belaka.
Lihatlah dan tiruiah pembantuku yang rahasia itu. Kalau
saja kalian dapat mengalahkan Golok Maut tentu dia tak
akan kupanggil. Sudahlah, besok kalian berkumpul dan
ingat bahwa Kedok Hitam adalah wakil diriku pribadi!”
Hek-mo-ko tertegun. Coa-ongya sudah membalikkan
tubuhnya dan melangkah pergi, dia disemprot dan diamdiam
timbul rasa benci dan tak suka kakek itu kepada si
Kedok Hitam. Memangnya siapa laki-laki misterius itu?
Mampukah dia menghadapi Golok Maut? Kalau benar
dapat mengalahkan mereka berempat barangkall hal itu
dapat dijadikan jaminan. Tapi Golok Maut, ah… belum
tentu. Tokoh itu memiliki Golok Penghisap Darah, golok
yang luar biasa ampuh dan mengerikan! Dan teringat
bahwa dengan mengalahkan mereka berempat saja masih
bukan merupakan jaminan bagi si Kedok Hitam untuk
mengalahkan Golok Maut maka Mo-ko maju mundur dan
akhirnya menggeram, tetap kurang percaya namun
akhirnya kakek ini berkelebat pergi juga. Biarlah besok
dilihat saja bagaimana baiknya. Ketiga temannya akan
dihubunginya dulu dan ternyata benar Mindra dan lainlainnya
itu sudah diberitahu Coa-ongya. Mereka diminta
datang menghadap dan besok mereka akan berhadapan
langsung dengan si Kedok Hitam itu, tokoh baru bagi
mereka namun yang agaknya amat dipercaya Coa-ongya,
bahkan lebih dipercaya daripada mereka! Dan ketika
semuanya mengangguk dan tentu saja penasaran, di
samping tak suka maka keesokannya Mo-ko dan tiga
temannya sudah menunggu di tempat yang dijanjikan.
ooooo0de0wi0ooooo
Laki-laki itu sudah duduk di kursi Coa ongya. Sikapnya,
dan gayanya, sungguh menggantikan Coa-ongya benar,
sombong dan angkuh. Dan ketika Mo-ko dan kawan-kawan
berkelebatan masuk ternyata si Kedok Hitam itu sudah
mendahului di sana.
“Hm, tak tepat waktu! Kenapa kalian terlambat, Mo-ko?
Sudah sejam aku menunggu di sini, dan baru sekarang
kalian datang. Kalau musuh datang menyerbu maka kalian
sudah percuma melindungi istana!”
Mo-ko dan kawan-kawan semburat merah. Mereka
terlambat karena diam-diam mereka mengelilingi gedung,
menjaga dan ingin menghadang si Kedok Hitam itu di luar.
Tapi karena dicegat tak ada juga maka mereka masuk dan
memang benar satu jam sudah mereka terlambat. Dan kini
“wakil pribadi” Coa-ongya itu menegur mereka mirip atasan
kepada bawahan yang bersalah. Dingin dan sombong! Dan
ketika Mo-ko bersinar-sinar sementara Mindra dan dua
temannya menatap tajam maka Kedok Hitam minta agar
mereka berlutut.
“Aku adalah pemimpin kalian. Selama ongya tak ada di
sini maka segala perintah dan keputusan ada di tanganku.
Berlututlah, dan beri hormat sebagaimana layaknya
pembantu yang baik!”
“Keparat!” Mo-ko melotot. “Kau pongah dan sombong,
Kedok Hitam! Mentang-mentang dapat mengalahkan aku
seorang kau lalu bersikap takabur! Jangan tergesa dulu, di
sini masih ada tiga temanku yang lain dan mereka belum
tentu tunduk padamu!”
“Hm, kalian semua akan kutundukkan, dan memang
harus tunduk! Apa yang keluar dari mulutku adalah sama
dengan Coa-ongya. Bukankah kalian sudah diberi tahu dan
tak boleh membantah? Berlututlah, atau kalian kuhajar!”
“Ha-ha!” Mindra tiba-tiba tertawa bergelak. “Kau orang
yang sombong sekali, Kedok Hitam. Sikapmu sungguh
melebihi Coa-ongya. Baiklah, kami akan berlutut di
hadapanmu tapi bukalah dulu kedokmu itu dan baru setelah
itu kami memenuhi permintaanmu!”
“Hm, tak ada bawahan memerintah atasannya. Kau tak
usah bicara seperti itu,Mindra. Atau kau kuhajar!”
“Ah, kau mau memberi petunjuk? Bagus, aku tentu
senang…. heii!” dan Mindra yang kaget bukan main tibatiba
melihat Kedok Hitam mencelat dari kursinya, terbang
dan meluncur ke arahnya dan gerakan itu bukan main
cepatnya. Dia sedang bicara ketika tahu-tahu lawan
menyerang. Dan karena tak ada waktu untuk mengelak
maka kakek ini menggerakkan tangannya menangkis.
“Dess…!”
dan…. kakek ini terlempar mencelat empat tombak!
“Aiihh…!” Mindra berjungkir balik meloncat bangun,
kaget dan pucat. “Kau… kau hebat, Kedok Hitam. Tapi kau
curang!”
Sudra, yang ada di sampingnya juga terbelalak kaget.
Kakek yang bersenjata cambuk ini sudah meraba
cambuknya dan siap berjaga-jaga. Kedok Hitam sudah
kembali ke tempat duduknya tadi dan duduk dengan
tenang, tegak dan dingin. Sungguh cepat namun
menyeramkan! Dan ketika temannya kaget dan marah
maka Kedok Hitam tertawa mengejek.
“Mindra, kalian semua pasti akan merasakan
kehebatanku. Dan jangan sombong dengan Hwi-sengciangmu.
Siapa takut akan Pukulan Bintang Api itu? Nah,
segebrak ini buat pelajaran untukmu, tua bangka. Atau kau
akan kubuat jungkir balik dengan lebih hebat lagi!”
“Keparat!” kakek itu menggigil, melirik temannya.
“Agaknya main-main ini tak usah ditunda lagi, Sudra.
Kawan kita ini rupanya sengaja ingin pamer! Kau mau
mencobanya pula dan menerima tantangannya!”
“Hm…. tar-tar!” Sudra meledakkan cambuk. “Aku suka
melihat kepongahannya,Mindra. Tapi aku tak suka melihat
tarttangannya yang amat merendahkan kita. Dia berani
dikeroyok, begitu kata Mo-ko. Apakah dia memang ingin
kita maju berempat?”
“Nanti duiu!” Yalucang tiba-tiba melompat maju,
terkejut dan juga membelalakkan mata melihat kecepatan
dan serangan si Kedok Hitam itu. “Aku ingin mencobanya,
Mindra. Biarlah kau mundur dulu dan kita bertempur
seorang lawan seorang!”
“Hm!” Mo-ko tersenyum. “Apa yang dikata Yalu benar,
Mindra. Biarlah kau mundur dan lihat dulu apakah Kedok
Hitam dapat mengalahkan rekan kita ini. Kalau benar,
barulah kita maju semua tapi sebaiknya kau pribadi
mencobanya dulu bersama Sudra!”
Mindra tertegun. Dia mendapat kedipan dan isyarat ini
segera ditangkapnya dengan baik. Kalau satu per satu, tentu
Kedok Hitam akan terkuras tenaganya dan nanti kalau
mereka maju berbareng pastilah lawan sudah kehabisan
tenaga. Siasat itu bagus dan tentu saja kakek India ini
tertawa, mengangguk. Dan ketika dia mundur dan kakek
tinggi besar Yalu-cang sudah menggosok-gosok tangannya
maka keluarlah asap dari pengerahan tenaga Hwee-kang
(Api).
“Aku ingin melihat kepandaianmu secara pribadi.
Marilah, kita main-main dan lihat berapa jurus aku
merobohkanmu!”
“Hm!” Kedok Hitam tertawa. “Bukan kau yang
merobohkan aku, Yalu. Melainkan akulah yang akan
merobohkanmu. Aku berjanji tak lebih dari dua puluh jurus
kau sudah terkapar!”
“Sombong!” kakek ini menggeram. “Kau bermulut besar,
Kedok Hitam. Baiklah, mari kita mulai dan buktikan mulut
besarmu itu… wut!” si kakek berkelebat, tangannya yang
lebar dan kuat sudah menghantam sementara mulut siap
meniup. Yalucang kakek tinggi besar ini memang ahli
penyembur api dan Hwee-kang atau ilmu Apinya itu akan
bekerja, dia sudah mengumpulkan tenaganya dan begitu
lawan menangkis diapun akan meniup. Dan ketika benar
saja Kedok Hitam bergerak dan menangkis pukulannya
maka kakek ini sudah membuka mulutnya dan
menyemburkan api.
“Wushh… dess!”
Kakek ini kaget bukan main. Tepat dia terpental dan
menyemburkan apinya mendadak lawannya itu ikut
meniup. Tenaga khikang yang amat hebatnya menolak
balik tiupan apinya itu. Dan karena Hwee-kang atau
semburan api membalik mengenai dirinya maka kakek ini
terbakar dan terjilat apinya sendiri!
“Jahanam!” kakek itu bergulingan memaki kaget. Dia tak
menyangka bahwa lawan demikian lihai. Benturan pukulan
di antara mereka jelas menunjukkan lawan lebih unggul,
lebih kuat. Dan ketika kakek itu meloncat bangun dan kaget
membelalakkan mata maka si Kedok Hitam sudah tertawa
dan menendang kursinya, siap menghadapi kakek itu dan
menggapai dengan sikap sombong. Gebrakan pertama itu
jelas memberi pelajaran pada si kakek tinggi besar ini. Dan
karena kakek itu marah dan jelas masih penasaran maka
Yalucang membentak dan bangkit menyerang lagi, melepas
pukulan-pukulan kuat dan api pun mulai menyemburnyembur
dari mulutnya. Kakek ini menggereng-gereng
karena kekagetannya tadi sungguh membuat dia gusar. Dan
ketika tak lama kemudian pukulan Hwee-kang maupun
semburan api sudah mengelilingi lawannya maka si Kedok
Hitam terkepung dan tak dapat keluar.
“Mampus kau, kubunuh kau!” Yalucang bersinar-sinar.
“Tak dapat kau melarikan diri, Kedok Hitam. Ayolah
keluar dan tunjukkan kepandaianmu!”
Mindra dan kawan-kawan melebarkan mata. Mereka
melihat bahwa si Kedok Hitam benar-benar sudah
terkurung. Pukulan dan semburan api sudah mengelilingi
laki-laki itu dan Kedok Hitam tampak terdesak. Mo-ko
mulai tertawa-tawa dan berseru menghitung jurus-jurusnya.
Dia ingat bahwa Kedok Hitam akan merobohkan Yalucang
dalam waktu dua puluh jurus saja, sebuah ucapan yang
dinilai terlalu besar. Tapi ketika Kedok Hitam tertawa dan
terus mengelak maju mundur, menangkis dan menggerakgerakkan
kedua tangannya ke kiri kanan maka aneh tetapi
nyata pukulan-pukulan kakek Yalu terpental. Dan ketika
Kedok Hitam berseru meniup-niupkan mulutnya,
mengerahkan sinkangnya tiba-tiba semburan api itu juga
ikut terdorong dan terhalau, kian lama kian jauh dan kakek
Yalu tampak membentak sekuat tenaga mengerahkan
kekuatannya. Kakek ini sampai merah dan mendelik
karena semua pukulannya itu tertolak. Dan ketika
semburan apinya juga tertiup dan membalik menyerang
dirinya maka kakek itu pucat sementara Hek-mo-ko sudah
menghitung pada junis ke enam belas,
“Keparat, kau tak dapat merobohkan aku dalam jurus
kedua puluh, Kedok Hitam. Aku akan bertahan dan
membuat malu dirimu!”
“Ha-ha, sekarang mulai ketakutan! Ayolah,
kautunjukkan kepandaianmu, Yalu. Bertahan dan
perhebatlah seranganmu. Aku sengaja bertahan, tapi setelah
itu aku pasti membalas. Tinggal empat jurus lagi!”
Kakek Yalu menggigil. Dalam pertempuran yang sudah
berjalan enam belas jurus itu sebenarnya dia sudah
mengerahkan segenap kemampuan. Pada jurus-jurus
pertama memang dia dapat mendesak, mengira dapat
mengalahkan lawan tapi tak tahunya si Kedok Hitam ini
sengaja mengalah, bertahan dan mempermainkannya
sedemikian rupa. Dan ketika pada jurus ke sepuluh dan
selanjutnya lawannya itu mulai membalas dan setiap
tangkisan atau benturan tenaga di antara mereka tentu
membuat kakek ini terdorong dan terhuyung-huyung maka
pada hitungan ke enambelas itu kakek tinggi besar ini
terdesak. Semburan apinya atau pukulan Hwee-kangnya
tertolak balik, kian lama kian kuat dan empat kali kakek ini
sudah menghindar jilatan apinya sendiri, gagal dan pipinya
gosong terjilat! Dan ketika kakek itu terbelalak pucat dan
marah tapi juga gentar akhirnya pada jurus kedelapanbelas
dia terpental. Waktu itu lawan sudah mulai membalas dan
pukulan atau dorongan tangan si Kedok Hitam
mengeluarkan angin dahsyat, menghantam dan menyambar
kakek ini dan Hwee-kang tertolak. Dan ketika lawan
meniup dan semburan api melejit menyambar muka kakek
ini maka Yalucang berteriak karena dua serangan sekaligus
menghantam dirinya. Satu dari tangan lawan sementara
yang lain dari tiupan mulut itu. Ah, sin-kang yang dimiliki
Kedok Hitam memang jauh lebih kuat! Dan ketika kakek
itu terpental dan kaget berteriak keras maka lawan
berkelebat dan Kedok Hitam tertawa mengakhiri
pertandingan.
“Nah, ini dua jurus terakhir. Roboh-lah!”
Yalu bergulingan. Dia berusaha menjauh tapi lawan
membayangi, selalu menempel dan tak mungkin dia dapat
mengelak lagi. Dan ketika kakek itu pucat berseru keras
karena lawan melepas pukulan dua kali ke tengkuk dan
dadanya maka kakek ini menangkis sebisanya tapi tetap
juga dia kalah cepat.
“Des-plak!”
Kakek itu terkapar. Akhirnya Yalucang kakek tinggi
besar ini mengeluh. Dia serasa dihantam palu godam dan
kelenger, merintih tak dapat bangun. Dan ketika lawan
menendang dan kakek itu terbanting di sudut maka
selesailah pertandingan dan tepat duapuluh jurus si Kedok
Hitam ini mengalahkan lawannya!
“Ha-ha, bagaimana, Mindra? Kalian sudah melihat
kepandaianku?”
Mindra terkejut. Akhirnya dia melihat bahwa si Kedok
Hitam ini betul-betul lawan yang tangguh. Kemarin Mo-ko
sudah bercerita padanya tapi dia tak yakin. Belum
bertempur belum percaya, begitu biasanya watak orangorang
kang-ouw. Maka begitu melihat dan membuktikan
maka tergetarlah hati kakek ini namun. itu masih bukan
berarti dia takut!
“Bagus!” Mindra tiba-tiba mencabut nenggalanya. “Kau
hebat, Kedok Hitam. Tapi aku masih tak tunduk padamu.
Kau sudah merobohkan Yalu, tapi belum merobohkan aku.
Nah, biarlah kurasakan kepandaianmu dan kita
bertanding… cus!”
nenggala tiba-tiba bergerak, maju menusuk karena
dengan kecepatan luar biasa tiba-tiba kakek India ini
berkelebat. Dia mempergunakan kesempatan selagi lawan
tersenyum-senyum, kaget dan mengelak dan berlubanglah
ujung baju lawan! Dan ketika Kedok Hitam terkejut berseru
keras tiba-tiba kakek India ini sudah menyerangnya ganas.
“Wut-wut!” nenggala menyambar-nyambar. Mindra
ternyata licik ingin mendahului lawan. Sementara bicara
serangannya pun sudah dimulai. Dan ketika lawan
mengelak sana-sini dan untuk beberapa saat si Kedok
Hitam terdesak maka Sudra, temannya, tertawa bergelak.
“Bagus, desak dia ke sini,Mindra. Biar sekalian kuhajar!”
Mindra mengangguk. Tadi mereka sudah saling memberi
isyarat dan maklum bahwa pertempuran seorang lawan
seorang rupanya tak menguntungkan mereka. Yalu hampir
setingkat dengan mereka, kalau kakek itu kalah maka tak
ada harapan bagi mereka untuk menang pula. Maka begitu
saudaranya berseru dan Mindra mengangguk bersinar-sinar
maka kakek ini sudah mendesak dan menggiring lawan agar
mendekati temannya, terus mendesak dan merangsek dan
kerut di balik kedok itu berkernyit. Kedok Hitam mengelak
sana-sini sementara matanya pun mengeluarkan cahaya
aneh. Mata itu mencorong dan mulai marah. Dan ketika
dia didesak dan terus mendekati Sudra, yang sudah siap
dengan cambuknya tiba-tiba senjata itu menjeletar
menyerang dirinya.
“Tarr!”
Kedok Hitam berjengit. Pundaknya termakan dan dua
kakek India itu sudah tertawa-tawa. Kini Sudra bergerak
maju pula dan dikeroyoklah laki-laki berkedok ini. Yalu
masih merintih-rintih dan mende-sis di sana Kakek itu
kelengar dan merasakan sakitnya. Tapi karena dia seorang
kuat dan betapapun kakek ini memang bukan orang
sembarangan maka tak lama kemudian dia sudah bangkit
berdiri, terhuyung dan membelalakkan matanya
memandang pertempuran dan kakek itu mendelik marah.
Dia gentar dan kagum terhadap lawannya ini. Tapi karena
dia dikalahkan begitu mudah namun harus diingat bahwa
senjatanya, roda bergigi itu belum dlkeluarkan maka kakek
ini merasa penasaran juga dan masih tidak mau menyerah.
Dan ketika Kedok Hitam sudah dibuat berlompatan
menghindari tusukan nenggala atau ledakan cambuk maka
Mo-ko mendekatinya dan berbisik-bisik.
“Kau harus maju kembali. Kita semua mengeroyok!”
“Hm, aku memang masih penasaran!” kakek itu
mengangguk. “Aku kalah tapi masih belum sempurna, Moko.
Aku masih belum mengeluarkan senjataku dan belum
tentu lawanku menang!”
“Benar, tapi betapapun dia hebat. Aku juga masih
penasaran. Kalau Mindra dan Sudra tak dapat
merobohkannya marilah kita maju berbareng dan keroyok
berempat!”
“Hm, aku setuju. Mari kita lihat dan saksikan
perkembangannya dulu!”
Dua orang itu sepakat. Mo-ko telah berbisik dan siap
mengajak temannya mengeroyok, dua-duanya memang
masih sama-sama penasaran dan kakek tinggi besar itu
geram. Dan ketika mereka menonton dan tampak
kerubutan ini menguntungkan Mindra dan Sudra maka
Kedok Hitam terlihat keteter.
“Ha-ha, lihat, Mo-ko. Berdua saja rupanya sudah
cukup!”
“Benar, kalian menonton saja di situ. Kalau Kedok
Hitam tak dapat kami selesaikan tigapuluh jurus barulah
kalian maju!”
“Hm, jangan sombong!” Kedok Hitam membentak. “Aku
belum mengeluarkan semua kepandaianku, Mindra. Kalian
licik dan curang mempergunakan senjata. Aku masir belum
kalah!”
“Ha-ha, kalau begitu keluarkan senjatamu….”
“Dan juga semua kepandaianmu!” Sudra menyambung,
mengejek. “Kami ingin melihat seberapa hebat kau, Kedok
Hitam. Atau kau pecundang secara konyol kalau
memandang rendah kami!”
“Hm, baiklah!” Kedok Hitam mendengus. “Semua
permintaan kalian kupenuhi, Sudra. Dan lihat baik-baik
siapa yang akan pecundang… clap!” sebuah sinar kebiruan
tiba-tiba muncul, melesat dari balik punggung laki-laki ini
dan Sudra maupun Mindra terkejut karena mereka silau
melihat sebuah golok yang tajam mengkilat. Cahaya golok
itu demikian keras dan menyakitkan mata. Dan ketika
mereka terkejut dan masih menggerakkan senjata untuk
mendesak atau merangsek lawan tiba-tiba Kedok Hitam
melanjutkan gerakan sinar kebiruan itu.
“Cring-tas!”
Sudra dan temannya berseru kaget. Mereka tersentak
karena tiba-tiba nenggala dan cambuk putus, putus dibabat
sinar kebiruan itu. Dan ketika mereka terbelalak dan
terhuyung mundur, kaget dan tergetar oleh sinar kebiruan
itu maka golok bergerak dua kali dan…. robeklah baju
pundak berikut sedikit daging dua orang kakek ini.
“Aiihhh…!” dua kakek itu berteriak panjang. Mereka
membanting tubuh bergulingan namun sebentar kemudian
sinar kebiruan itu sudah bergulung-gulung mengejar
mereka, menusuk dan membacok dan kagetlah dua orang
ini karena mengenal itulah gerakan atau jurus-jurus Giamto-
hoat (Ilmu Silat Golok Maut), ilmu yang dimiliki Si
Golok Maut dan tentu saja dua kakek itu berteriak keras.
Mo-ko dan Yalu yang ada di luar tiba-tiba juga terkejut dan
berseru tertahan. Pertemuan mereka yang berkali-kali
dengan Si Golok Maut tentu saja membuat mereka hapal
akan jurus-jurus ilmu golok itu, yang ganas dan
berbahayanya bukan alang-kepalang. Dan ketika mereka
tertegun dan menjublak di tempat, menyaksikan dua orang
rekan mereka yang bergulingan ke sana ke mari maka
nenggala putus dibabat lagi dan cambuk yang meledakledak
akhirnya tinggal sejengkal!
“GolokMaut…. ! Kau GolokMaut…!”
Mo-ko dan kakek Yalu terkesiap. Mindra dan Sudra
berteriak-teriak menyebut nama ini, belum apa-apa sudah
terbang nyalinya karena nama tokoh bercaping itu memang
menggetarkan. Hanya Beng Tan sajalah yang dapat
mengatasi Si Golok Maut itu. Tapi ketika keadaan menjadi
geger dan Mo-ko siap memanggil pengawal, karena ributribut
itu sudah didengar dan ditangkap pengawal maka
Kedok Hitam berseru menyelesaikan pertempuran dengan
suaranya yang tinggi.
“Bukan, aku bukan Golok Maut. Kalau aku Si Golok
Maut tentu kalian sudah ku-bunuh! Nah, berhenti dan
sekarang kalian harus percaya kelihaianku… crat-bluk!”
Dua kakek itu terlempar, leher mereka tergurat berdarah
dan si Kedok Hitam melakukan tendangan. Gentar dan ciut
mengira lawannya Si Golok Maut maka dua kakek itu
sudah terbang semangatnya. Ilmu silat mereka menjadi
kacau dan terlemparlah mereka ketika lawan menendang.
Dan ketika keduanya terkejut melompat bangun dan
Mo-ko serta kakek Yalu terguncang di sana maka sinar
kebiruan itu sudah lenyap di belakang punggung dan si
Kedok Hitam ini berdiri tegak.
“Aku bukan Golok Maut. Aku adalah si Kedok Hitam.
Nah, siapa tidak percaya kepadaku dan ingin coba-coba
silahkan, boleh maju dan rasakan kepandaianku!”
“Kau… kau siapa sebenarnya? Bagaimana dapat mainkan
Giam-to-hoat yang menjadi andalan Si GolokMaut?”
“Hm, siapa aku tak usah kalian tahu, Mindra. Cukup
kalian ketahui bahwa aku adalah si Kedok Hitam. Kalian
tunduk?”
Mindra gentar. Akhirnya setelah dia tahu kehebatan
lawannya ini dan betapa senjata atau golok di tangan si
Kedok Hitam berturut-turut melukai tubuhnya maka dia
harus tahu diri dan mengangguk. Sudra juga melakukan hal
yang sama dan Mo-ko serta kakek Yalu terbengongbengong.
Mereka yang semula hendak mengeroyok tibatiba
saja gentar sebelum bertanding. Nyali pun tiba-tiba
sudah menciut begitu melihat Giam-to-hoat di-keluarkan si
Kedok Hitam ini, hal yang amat mengherankan dan
mencengangkan bagaimana ada orang selain Si Golok
Maut dapat memiliki ilmu silat itu, ilmu golok yang luar
biasa ampuhnya di mana mereka tak mungkin berani
bercuit-cuit lagi. Dan ketika mereka terbelalak dan gentar
memandang laki-laki ini maka Kedok Hitam minta agar
mereka berempat menjatuhkan diri berlutut.
“Sekarang kuulangi perintahku, kalian berlutut dan
memberi hormat padaku!”
Mindra tiba-tiba gemetar. Hampir berbareng mereka
berempat tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan si
Kedok Hitam itu, hal yang aneh, hal yang akan membuat
orang luar bakal terheran-heran dan tidak percaya. Tapi
ketika semuanya berlutut dan menyatakan menyerah,
menyerah secara total maka Hek-mo-ko memberanikan diri
bertanya tentang golok di balik punggung si Kedok Hitam
ini.
“Kami ingin membuktikan sekali lagi bahwa kau
bukanlah Si Golok Maut. Tunjukkan kepada kami bahwa
golok di belakang punggungmu itu bukanlah Golok
Penghisap Darah!”
“Benar,” Sudra tiba-tiba teringat. “Kami ingin
menenangkan diri, Kedok Maut. Perlihatkanlah kepada
kami bahwa kau benar-benar bukan Si GolokMaut!”
“Hm, kalian ingin menenteramkan hati? Baiklah, lihat
ini. Ini bukan Golok Penghisap Darah…. singg!” dan sinar
kebiruan yang muncul kembali dicabut laki-laki ini akhirnya
diperlihatkan kepada semua orang bahwa golok itu betulbetul
bukan Golok Penghisap Darah, senjata yang dimiliki
Si Golok Maut itu. Dan ketika mereka tenang dan percaya
karena bercak darah masih ada di situ, darah dari pundak
Mindra dan Sudra yang terbabat maka semuanya
mengangguk dan lega.
“Terima kasih!”
Kedok Hitam sudah mengembalikan goloknya ini.
Seperti orang main sulap saja tiba-tiba hampir tak terlihat
mata dia sudah mengembalikan goloknya di belakang
punggung, cepat dan luar biasa. Dan ketika semua lega dan
percaya maka laki-laki ini duduk dan berkata bahwa mereka
berlima semuanya besok akan menuju ke Lembah Iblis.
“Ongya memerintahkan padaku untuk membunuh Si
Golok Maut itu. Dan ongya sudah menghubungi jenderal
Gwe. Besok kita ke Lembah Iblis dan bersama lima ribu
pasukan kita tangkap dan bunuh Si GolokMaut itu!”
“Lima ribu pasukan? Padahal kau sudah dapat
mengalahkan kami?” Mo-ko, yang terkejut dan
membelalakkan matanya bertanya. Iblis ini heran dan kaget
karena orang sehebat si Kedok Hitam ini masih juga perlu
bantuan pasukan, tak tanggung-tanggung, lima ribu
jumlahnya! Dan ketika Kedok Hitam mengangguk dan
bersinar-sinar, matanya mencorong membayangkan nafsu
membunuh maka dia berkata,
“Benar, bukan karena aku takut menghadapi Si Golok
Maut itu, Mo-ko. Melainkan semata agar GolokMaut kali
ini benar-benar tidak dapat lolos lagi. Dan kalian tak perlu
memberi tahu bocah she Ju itu, kita bergerak secara diamdiam!”
Mo-ko melongo. Kedok Hitam akhirnya memberi
tahu mereka bahwa jenderal Gwe sudah dihubungi. Secara
diam-diam lima ribu pasukan akan bergerak dari kota raja,
menyertai mereka. Dan karena mereka harus bergerak
secara diam-diam dan Golok Maut kali ini harus ditumpas,
karena hanya akan menimbulkan huru-hara saja maka Moko
dan kawan-kawan bengong namun girang bukan main,
terutama kakek iblis itu, yang suhengnya sudah tewas dan
dibunuh Si Golok Maut. Tokoh bercaping itu memang
hebat dan tak ada orang selain Beng Tan yang dapat
mengatasi. Namun karena Beng Tan sedang marah-marah
dan pemuda itu entah ke mana maka rencana serbuan
besar-besaran ke Lembah Iblis ini tentu saja
menggembirakan mereka. Kedok Hitam berkata bahwa
inilah saatnya terbaik. Golok Maut sedang luka dan
gebrakan mendadak yang akan dilancarkan ini pastilah
berhasil.Mereka akan membasmi dan membunuh Si Golok
Maut itu. Dan ketika Mo-ko mengangguk dan Mindra serta
yang lain juga berseri-seri maka hari itu semua persiapan
dilakukan.
“Kalian ikuti perintahku, jangan ke mana-mana!”
Empat orang itu mengangguk. Akhirnya mereka melihat
bahwa benar saja lima ribu orang telah keluar dari kota raja
secara diam-diam. Rakyat tak banyak yang tahu karena
semuanya itu memang dirahasiakan. Dan ketika
keesokannya benar saja barisan ular yang panjang telah
bergerak ke selatan maka Lembah Iblis, tempat yang
berbahaya sedang mengalami bahaya! Tahukah Golok
Maut akan rencana serbuan itu? Tahukah dia akan badai
yang bakal mengguncangkan tempat tinggalnya ini?
Agaknya tidak. Karena Golok Maut, yang sedang terluka
dan dihantam pukulan bertubi-tubi ternyata sedang dirawat
Wi Hong yang selalu menangis melihat keadaan kekasihnya
itu. Dan mari kita lihat ke sana.
ooooo0de0wi0ooooo
Seperti diketahui, Golok Maut luka parah setelah
menghadapi keroyokan Mindra dan kawan-kawannya.
Sebelumnya tokoh ini baru mengamuk di kota raja. Ciongya
yang dibunuh dan menimbulkan geger bukanlah
berlalu begitu saja. Golok Maut juga luka-luka, terhuyung
dan letih memasuki Lembah Iblis, tempat tinggalnya. Tapi
ketika Wi Hong muncul dan marah-marah kepadanya,
menyerang dan membuat keributan maka Golok Maut
hampir saja membunuh kekasihnya ini, kalau saja Beng Tan
tidak muncul. Dan karena pemuda baju putih yang lihai itu
juga sedang mencari-cari dirinya dan minta pertanggungjawabannya
atas pembunuhan yang dilakukan Golok Maut
maka barulah terbuka bahwa Wi Hong hamil setelah
perbuatannya dulu dengan pemuda bercaping ini.
Golok Maut tentu saja terkejut, terpukul. Dia hampir
saja membunuh kekasihnya ini, juga jabang bayi dari hasil
hubungan mereka. Dan karena hal itu jauh lebih dahsyat
menghantam pemuda ini dari segala pukulan atau serangan
maka Golok Maut kaget dan terbelalak, serasa disambar
petir dan selanjutnya dimaki-makilah dia oleh Beng Tan.
Dia juga dituduh mau menggagahi Swi Cu, kekasih Beng
Tan. Dan ketika semuanya itu bertubi-tu-bi mendarat di
tubuh pemuda ini dan Golok Maut masih menjublak oleh
kehamilan Wi Hong yang hampir dibunuh maka serangan
Wi Hong nyaris saja menamatkan jiwanya, ketikaWi Hong
merampas dan mengayun Golok Penghisap Darah, yang
tidak dielak oleh pemuda bercaping ini. Tapi karena Beng
Tan tak membiarkan itu dan Golok Maut selamat maka
selanjutnya pemuda yang sedang diguncang pukulan batin
ini diserang Mindra dan kawan-kawannya. Kita telah
mengetahui itu dan terakhir Golok Maut pingsan setelah
membunuh Pek-mo-ko, suheng dari Hek-mo-ko. Dan
karena luka-lukanya ditambah lagi oleh jarum-jarum
beracun yang dihamburkan Mo-ko lewat ujung tongkatnya
maka pemuda itu roboh setelah Mindra dan sisa temannya
berhasil dipukul mundur.
Dan kini Wi Hong merawat pemuda itu. Dua hari dua
malam Golok Maut masih tak sadarkan diri. Wi Hong
sudah mendapat obat dari Beng Tan namun ketua Hekyan-
pang yang angkuh ini tak mau menerima begitu saja.
Dia juga memiliki sisa obat-obatan. Namun ketika tak
mencukupi dan racun di tubuh Golok Maut tak lenyap
dengan tuntas maka Wi Hong tersedu mengambil obat
pemberian Beng Tan.
“Jahanam keparat. Kami terpaksa berhutang budi
padamu, Beng Tan. Tapi biarlah, kuterima ini dan kelak
budimu akan kubalas dengan cara lain!”
Wi Hong tersedu-sedu. Sebenarnya, dia sudah
mengerahkan sinkang membantu kekasihnya ini, dua hari
dua malam menempelkan lengan dan tiada henti-hentinya
dia berseru memanggil Si GolokMaut. Tapi karena kondisi
tubuhnya juga lemah dan hamil muda yang dialaminya
sering disusul muntah-muntah, makaWi Hong tak berdaya
lagi dan apa boleh buat terpaksa menerima pemberian Beng
Tan, hal yang tak diingini karena dia berjanji akan
mempertemukan pemuda itu dengan Golok Maut, kalau
sudah sembuh. Jadi dua pemuda itu bakal bertarung lagi!
padahal masing-masing adalah orang-orang yang sama
dicinta. Dia mencintai Golok Maut sedangkan sumoinya,
Swi Cu, mencintai Beng Tan. Mereka kakak beradik bakal
terlibat permusuhan karena masing-masing tentu akan
membela kekasihnya sendiri, hal yang menyakitkan. Dan
ketika Wi Hong tersedu dan mengguguk teringat ini maka
dia menjejalkan obat pemberian Beng Tan kepada
kekasihnya.
Namun sayang, karena terlambat, sebab Wi Hong baru
memberikannya sekarang, setelah lewat dua hari maka
bayangan kehijauan dari racun yang mengeram di tubuh
tetap bersarang.Warna kehitaman sudah lenyap, tapi tubuh
yang terganti dengan warna kehijauan tetap saja membuat
Wi Hong gelisah, cemas. Dan ketika dia batuk-batuk dan
mengerahkan sinkang duduk bersila tiba-tiba saja satu jam
kemudian reaksi obat bekerja, meskipun tak menyeluruh.
Hal ini terlihat karena tiba-tiba Si Golok Maut sadar,
membuka mata dan mengeluh. Dan ketika Wi Hong
terkejut tapi tentu saja girang maka gadis atau wanita ini
cepat melepaskan tangannya berseru cemas,
“Ah, kau sudah sadar. Bangunlah, lihatlah…!”
Golok Maut nanar. Caping di atas kepalanya sudah
dibuka. Wi Hong memang tak membiarkan caping itu
melekat lagi di atas kepala karena mengeluarkan keringat
yang membanjir. Gadis ini girang karena pemuda itu
siuman. Tapi begitu dia berjongkok dan mengangkat kepala
itu, diletakkannya di atas pahanya tiba-tiba Golok Maut
terguling dan kesakitan,
“Aduh, mati aku, Wi Hong. Tubuhku tak keruan….
huak!” Golok Maut muntah, menyemburkan darah
kehitaman dan kental serta amis. Pemuda itu tak dapat
bangun dan girang melihat kekasihnya, mau bersandar tapi
tak sanggup, kepala serasa berputar dan begitu berat serta
pusing. Dan ketika dia menyemprotkan darah busuk dan
mendekap dada maka Wi Hong menangis dan tak jadi
gembira.
“Apamu yang sakit? Di mana?”
“Augh, aku… ah, di mana kita, Wi Hong? Dan kenapa
kau di sini pula? Di mana kita?”
“Kita di Lembah Iblis, tempat tinggalmu. Ah,
sembuhlah, GolokMaut. Sembuhlah!”
Wi Hong tersedu-sedu. Gadis ini tak dapat menahan
pilunya hati melihat kekasihnya mengerang dan mendesis
menahan sakit. Lontakan darah segar kembali terjadi dan
basahlah baju Wi Hong oleh semburan darah busuk itu.
Tapi ketika gadis ini tak menghiraukan dan menangis
merangkul kekasihnya maka Golok Maut terengah-engah
dan pucat mukanya.
“Menjauhlah, jangan dekat-dekat. Aku merasa demam
dan menggigil!”
“Tidak…. tidak, Golok Maut. Aku akan tetap di sini dan
tak perduli apapun yang terjadi!”
“Bodoh! Pakaianmu kotor, Wi Hong. Bersihkan dulu
dan bantu aku duduk…!”
Wi Hong bercucuran air mata. Akhirnya Golok Maut
minta disandarkan pada dinding, mereka berada di sebuah
guha di atas tebing. Itu adalah guha yang hangat meskipun
gelap. Wi Hong telah menyalakan lilin dan dua hari ini
gadis itu hampir tak tidur, kusut dan mengharukan Dan
ketika Golok Maut melihat semuanya ini dan tentu saja
terharu maka pemuda itu tertegun dan menangis.
“Kau…. berapa hari di sini? Berapa lama aku pingsan?”
“Dua hari…”
“Dan kau tetap menungguku?”
“Kau…. kita, ah…. aku wajib menunggumu, Golok
Maut. Kita bukan orang lain!”
“Hm, dan kau tak tidur. Wi Hong, bagaimana
kesehatanmu? Bagaimana dengan anak di kandunganmu
itu? Bolehkah aku mendengar detak jantungnya?”
Wi Hong tersedu-sedu. “Kesehatanku baik, Golok Maut.
Tak apa-apa. Kau jangan tanya itu. Lihat dan tanyalah
dirimu. Bagaimana aku bisa membantumu dan kau
sembuh!”
“Hm, aku… ah!” Golok Maut menggigil, menahan
sengatan rasa sakit di dada kirinya. “Aku terluka berat, Wi
Hong. Dan …. ah, keparat jahanam-jahanam itu. Jarum di
ujung tongkat Mo-ko menembus sebuah jalan darahku.
Apakah sudah kau cabut?”
Wi Hong terkejut. “Dicabut? Yang mana? Aku sudah
mencabut hampir semua jarum di tubuhmu!”
“Di selangkangan….” GolokMaut agak merah mukanya.
“Apakah kau tahu itu dan sudah mencabutnya?”
“Di selangkangan?” Wi Hong tiba-tiba merah padam.
“Tidak, aku tak tahu itu. Kalau begitu, ah… biar kuperiksa!”
“Tidak, jangan. Biarkan aku sendiri!” dan Golok Maut
yang membungkuk menahan sakit lalu merobek celananya
meraba bagian itu,Wi Hong melengos dan tentu saja merah
padam. Untung, mereka pernah melakukan hubungan intim
dan Wi Hong dapat menekan rasa malu. Kalau tidak,
barangkali dia akan melompat pergi, tidak hanya sekedar
melengos! Dan ketika Golok Maut mengeluh dan merintih
kesakitan maka pemuda ini berkata bahwa jarum itu sudah
tak ada lagi di situ.
“Terlambat, sudah masuk!” muka pemuda ini pucat.
“Jarum itu sudah mengikuti jalan darah,Wi Hong. Dan ini
berarti nyawaku tak dapat dipertahankan lagi!”
“Tidak!” Wi Hong tiba-tiba menjerit.
“Kau tak akan mati, Golok Maut. Aku akan mencari
itu!”
“Di mana? Dengan membedah tubuhku? Hm, terlambat,
Wi Hong. Tapi aku heran juga bagaimana aku masih dapat
bertahan hidup! Kau agaknya memberikan obat yang
istimewa!”
“Beng Tan yang memberikannya…” gadis ini tersedu,
gemetar. “Dan… dan… ah, tidak. Kau tak akan mati,
Golok Maut. Kau akan hidup dan aku akan membantumu
sebisaku!” dan Wi Hong yang mengguguk tak dapat
menahan dirinya lagi lalu terguncang-guncang di atas dada
pemuda ini, ngeri dan pucat karena dia tahu apa artinya
itu. Jarum selembut dan sehalus seperti yang dimilikiMoko
memang dapat menyusup dan mengikuti aliran darah,
kalau tidak cepat dicabut. Dan menyesal bagaimana dia
tidak tahu itu hingga kini Golok Maut terancam jiwanya
maka gadis ini tersedu-sedu dan akhirnya berteriakteriak,
mencaci dan mengumpat Pek-mo-ko yang sudah
terbunuh itu dan dia berjanji akan mencari dan
“membunuh” lagi kakek itu kalau bertemu di akherat. Satu
kebencian yang memperlihatkan betapa marahnya gadis ini.
Tapi ketika dia berteriak-teriak dan memaki-maki kakek itu
maka Golok Maut tersenyum dan tiba-tiba membelai
mukanya.
“Wi Hong, sudahlah. Aku akan mati, tak guna menangis
dengan air mata darah sekalipun. Kau mau diam dan
mendengarkan kata-kataku ini?”
“Tidak, kau tak akan mati, Golok Maut. Kau akan
kuselamatkan!”
“Sst, jangan berteriak-teriak. Kalau ajal sudah menanti
tiba tak dapat kita mengelak. Aku siap mati, ini memang
resikoku. Dan kau dengarkanlah kata-kataku sebelum aku
berangkat.”
“Tidak… tidak…!” dan Wi Hong yang mengguguk serta
meremas-remas pemuda itu akhirnya berteriak agar
kekasihnya tidak bicara seperti itu. Bicara tentang kematian
sungguh bukanlah hal enak dan tak mau gadis ini
mendengarkan. Namun ketika Golok Maut tetap berbisik
lembut dan mengusap rambutnya tiba-tiba Wi Hong
meloncat bangun dan beringas.
“Kalau begitu baiklah, aku ikut dan kita sama-sama
mencari Pek-mo-ko diakherat!”
“Apa?”
“Benar, aku akan mengiringimu dalam kematian, Golok
Maut. Kita sama-sama berangkat ke akherat dan mencari
kakek iblis itu!”
“Tidak… jangan!” GolokMaut tiba-tiba menggigil. “Kau
jangan gila, Wi Hong. Justeru aku menghendaki kau hidup
untuk melanjutkan pembalasanku!”
“Aku tak mau, dan aku merasa terlalu berat. Tanpa
kau di sampingku aku tak dapat berbuat apa-apa dan
lebih baik mati!” dan Wi Hong yang kembali
mengguguk dan tersedu menubruk pemuda ini akhirnya
menyatakan bahwa dia siap mengikuti pemuda itu ke
akherat. Gadis ini tak mau hidup sendiri dan biarlah dia
mengiringi serta. Pek-mo-ko dapat dicari di sana dan
mereka berdua akan sama-sama membalas dendam,
pembicaraan yang melantur dan tentu hanya menggelikan
orang-orang yang tak tahu akan kekuatan cinta. Dan ketika
gadis itu bersumpah pula tak mau hidup sendiri maka Wi
Hong menutup,
“Kau adalah suamiku. Meskipun kita belum terikat
secara resmi namun aku adalah isterimu. Ke mana kau
pergi ke situ pula aku ikut. Aku bersumpah tak mau
sendiri!”
“Tidak… jangan…!” Golok Maut terbata-bata. “Justeru
itu yang hendak kucegah, Wi Hong. Kerjaku belum selesai.
Orang-orang she Coa dan Ci masih hidup! Aku ingin kau
membalaskan itu dan Coa-ongya juga belum terbunuh! Ah,
tidak.., jangan, Wi Hong. Kau harus tunduk kepadaku dan
ingat jabang bayi itu. Dia harus hidup dan jangan menyertai
ayahnya. Kalau kau ingin menyusulku di alam baka
baiklah, tapi lahirkan dan besarkan dulu anak kita itu.
Suruh dia menuntut balas dan jangan menyertai ayah
ibunya!”
Wi Hong terkejut. Tiba-tiba dia teringat bahwa dia
sedang mengandung. Anak yang di perutnya itu akan ikut
ke alam baka pula kalau dia mengikuti Si GolokMaut, bela
pati! Dan ketika dia tertegun dan pucat teringat itu maka
GolokMaut berkata-kata lagi, gemetar,
“Ingat, baru Ci-ongya yang kubunuh, Wi Hong. Masih
ada dedengkotnya yang lain lagi, pangeran she Coa yang
keparat itu! Aku tak mau mati penasaran dan tak meram
kalau orang she Coa itu belum binasa. Aku menghendaki
kau hidup untuk mendidik anak kita itu. Suruh dia
melanjutkan tugasku dan bunuhlah jahanam terkutuk itu.
Atau aku tak mau menerimamu di akherat dan kau tak
kuakui sebagai isteriku!”
“Ooh…!” Wi Hong tersedu-sedu. “Kau kejam, Golok
Maut. Kau tak berperasaan. Kau menyakiti hatiku,
keparat! Kau……kau….”
“Kau bunuhlah aku!” Golok Maut bangkit berdiri, tibatiba
terhuyung. “Dan mana Golok Penghisap Darah itu,Wi
Hong. Tusuk dadaku kalau kau tak mau turut kata-kataku!”
“Tidak… tidak!” Wi Hong menjerit. “Aku…ah, aku akan
menurut kata-katamu, Golok Maut. Dan aku akan
melahirkan dan membesarkan anak ini. Tapi aku masih
akan berusaha untuk menyelamatkan jiwamu!”
“Tak ada harapan lagi….”
“Siapa bilang?” gadis itu cepat memotong. “Kau bilang
mengenal seorang yang hebat, Golok Maut, Kau pernah
bicara padaku tentang Sian-su! Nah, tunjukkan di mana
kakek dewa ini dan biar kucari dia!”
Golok Maut tertegun. Tiba-tiba roman berserl terbayang
di wajah itu, Golok Maut kaget namun girang. Dan ketika
Wi Hong berkata bahwa dulu dia pernah menceritakan
tentang Sian-su, kakek dewa yang menyelamatkannya dari
kekejaman Coa-ongya maka Golok Maut tertawa dan
menyeringai menahan sakit.
“Ah, kau benar, Wi Hong. Kalau kita dapat menemui
Sian-su barangkali aku selamat! Tapi, hmm… aku tak yakin.
Kakek itu tak tentu tempat tinggalnya, tak tentu
rimbanya…!”
“Bukankah kau pernah bilang dia di Jurang Malaikat? Di
mana tempat itu? Katakan padaku, GolokMaut. Dan akan
kucari kakek itu. Aku ingin hidup berdua bersamamu dan
sama-sama membesarkan anak di kandunganku ini!”
“Hm,” Golok Maut menyeringai. “Aku lupa-lupa ingat
akan Jurang Malaikat ini. Tempatnya jauh, dan asing. Aku
tak hapal…”
“Tapi waktu itu kau dibawanya!”
“Benar, tapi harap diingat bahwa waktu itu aku pingsan,
Wi Hong. Tempat itu hanya samar-samar saja kuingat!”
“Kalau begitu kita gagal!” Wi Hong menangis lagi,
membanting-banting kakinya. “Kau menghancurkan
harapanku, GolokMaut. Kau tak kasihan kepadaku!”
“Hm, nanti dulu,” pemuda ini tiba-tiba bergerak. “Ada
kuingat sebuah tempat lain, Wi Hong. Lembah Malaikat!
Ya, di situ kakek itu sering juga tinggal dan aku mengenal
beberapa ciri-cirinya. Tempat itu merupakan tebing yang
tinggi dan terjal, di atasnya ada sebuah guha!”
“Di mana itu?” Wi Hong tiba-tiba menghentikan
tangisnya, bersemangat. “Aku akan mencarinya dan mari
segera berangkat!”
“Tempat itu di tepi batas propinsi Shansi dengan Honan.
Kauikuti arah aliran sungai Huang-ho ke timur!”
“Hah? Berapa hari perjalanan? Tempat itu jauh sekali,
Golok Maut. Dan aku tak dapat ke sana dalam waktu tiga
atau empat hari! Ah, tapi aku akan berusaha. Kita
membawa kereta dan menukar kuda sepanjang perjalanan!”
Wi Hong tiba-tiba gembira, bangkit semangatnya meskipun
mula-mula terkejut. Tempat yang ditunjukkan itu cukuplah
jauh namun dia tak kecil hati. Dan ketika dia bergerak dan
menyambar pemuda ini maka GolokMaut sudah dipanggul
tapi mereka berdua jatuh terguling!
“Ah, kaupun kehabisan tenaga. Semangatmu besar tapi
tenagamu kurang! Wi Hong, biarkan aku sendiri dan kita
berjalan bersama!”
Wi Hong pucat. “Aku tolol, aku lemah ….!”
“Tidak, kau memang letih, Wi Hong. Dan lagi kau
sedang mengandung. Kau tak dapat memanggulku dan
turun ke bawah. Lebih baik tuntun aku dan kita bersamasama
menuruni tempat ini.”
Wi Hong gugup mengangguk. Setelah sebuah harapan
terbersit di depan mata tiba-tiba gadis itu menyala
semangatnya. Golok Maut harus disembuhkan dan dia
akan mencari Sian-su, Bu-beng Sian-su si kakek dewa. Dulu
kakek itu menolong pemuda ini dan sekarang dia akan
mencari-nya. Tak boleh kekasihnya itu tewas dan dia hidup
sendiri. Dan ketika gadis itu bangkit semangatnya dan
menyambar serta menuntun hati-hati maka dua orang ini
sudah mulai menuruni tebing untuk keluar mencari
pertolongan. Golok Maut diam-diam mendesis mudahmudahan
maksudnya itu kesampaian. Bu-beng sian-su
adalah kakek aneh yang tak dapat diikuti bayangannya.
Acapkali muncul kalau tidak dicari tapi tak muncul kalau
sedang ditunggu-tunggu. GolokMaut diam-diam kecil hati.
Namun melihat betapa kekasihnya demikian besar menaruh
harapan dan betapa ketua Hek-yan-pang itu amat
mencintanya tiba-tiba keharuan mendalam muncul lagi di
hatinya, meremas dan menggenggam tangan kekasihnya itu
erat-erat. Dan ketika Golok Maut batuk-batuk dan berhenti
di tengah jalan makaWi Hong ikut berhenti dan khawatir.
“Kau telan ini lagi, masih sebutir!”
“Hm, berapa kaudapatkan dari Beng Tan?”
”Tiga butir, yang dua sudah kau minum!”
“Keparat, aku berhutang budi!” Golok Maut, yang
merasa terpukul tapi terpaksa menerima obat itu lalu
menelannya dan diam-diam mengepal tinju. Kaiau saja
tidak kasihan kepada Wi Hong yang demikian sungguhsungguh
ingin menyelamatkan jiwanya barangkali dia lebih
baik mati daripada menerima obat lawan. Obat itu memang
manjur karena sesak di dada tiba-tiba agak berkurang. Dan
ketika mereka turun lagi dan tertatih berpegangan batu-batu
tebing maka tak lama kemudian mereka sudah hampir tiba
di bawah. TapiWi Hong tiba-tiba tertegun.
Golok Maut juga menoleh dan tersiraplah dua mudamudi
ini melihat ular-ularan yang panjang. Dan karena
mereka kebetulan masih berada di tempat yang agak tinggi,
di pinggang tebing terjal itu maka tampaklah oleh keduanya
gerakan pasukan besar yang sedang menuju Lembah Iblis!
“Kita kedatangan musuh!” Wi Hong tiba-tiba pucat.
“Lihat, dari depan tak kurang dari seribu orang, Golok
Maut. Kita harus turun cepat-cepat, berputar!”
“Hm, keparat. Siapa itu?”
“Pasukan dari kota raja! Siapa lagi?”
“Bukan, bukan itu maksudku. Maksudku, siapa
pemimpinnya dan apakah mereka hendak membunuh aku!”
“Tentu, mereka akan membunuhmu. Dan Beng Tan
barangkali ada di sana. Celaka!”
“Tak mungkin,” Golok Maut tiba-tiba mencekal lengan
kekasihnya. “Pemuda she Ju itu tak mungkin memimpin
pasukan, Wi Hong. Dia adalah manusia gagah dan dapat
menghadapiku sendiri. Pasukan itu pasti dipimpin orang
lain!”
“Aku tak perduli siapa, pokoknya kita pergi dan lari!” Wi
Hong menarik, cemas menyambar kekasihnya ini dan
GolokMaut marah. Sebenarnya, kalau saja dia tidak dalam
keadaan luka-luka tentu dia tak akan pergi dan justeru
menyambut musuh. Namun karena dia sedang luka-luka
dan racun di tubuhnya itu harus segera dilenyapkan kalau
dia tak ingin membuat kekasihnya gelisah maka Golok
Maut mengikuti meskipun sambil menggeram marah,
mengepal tinju dan Wi Hong sudah membawanya cepat
turun ke bawah, melempar tubuh dan terjun dan hampoir
saja Wi Hong terkilir! Namun ketika gadis itu tak perduli
dan sudah berlari tergesa-gesa makaWi Hong berputar dan
mau menghindari pasukan yang ada di depan itu.
Tapi Wi Hong kaget. Lembah Iblis, yang mempunyai
dua pintu masuk dari muka dan belakang ternyata sudah
terkurung. Dia bermaksud melalui jalan belakang namun di
sanapun sedang mendatangi pasukan yang lain. Dan ketika
Wi Hong mengeluh dan mengutuk marah maka di kiri dan
kanan tiba-tiba terlihat gerakan-gerakan panjang dan
nyatalah di empat penjuru lembah semua pasukan sudah
mengepung!
“Celaka, kita tak dapat keluar!”
Golok Maut berobah. Kalau saja dirinya dalam keadaan
sehat tentu hal itu tak perlu membuatnya khawatir. Tapi
sekarang keadaan lain. Dia justeru sedang keracunan, lukaluka.
Dan ketika pemuda itu mengepal tinju dan marah
makaWi Hong menangis.
“GolokMaut, kita rupanya harus mati bersama di tempat
ini. Biarlah, aku akan mengadu jiwa!”
“Tidak, yang mereka cari adalah aku, Wi Hong. Kau tak
akan apa-apa. Sebaiknya kau pergi dan kembali ke atas.
Kalau mereka sudah menangkapku tentu kau tak akan
diperhatikan!”
“Apa? Kau menyuruhku lari? Menyuruh aku
menyelamatkan diri sementara kau terancam bahaya?
Keparat, jaga mulutmu, GolokMaut.Otakmu tidak waras!”
“Hm, aku ingin menyelamatkanmu…”
“Aku lebih baik mati kalau kau binasa!”
“Hm, kalau begitu baik. Kita berdua sama-sama kembali
ke tebing!” Golok Maut bergegas, bingung dan tak mau
membuat kekasihnya marah-marah lagi. Pertikaian di
antara mereka tak akan membawa keuntungan apa-apa
sementara musuh tentu akan kian mendekat saja. Dia harus
mencari akal dan terutama kekasihnya ini biarlah selamat.
Dan ketika Wi Hong mengangguk dan menangis
mencengkeram lengannya maka mereka kembali dan naik
ke atas, merayap, tak dapat beriompatan.
“Hati-hati, jangan terpeleset!”
“Kaulah yang hati-hati!” Wi Hong menegur, menangis.
“Kau lebih parah daripada aku, Golok Maut. Perhatikan
dirimu dan jangan perhatikan orang lain!”
Golok Maut menutup mulut. Akhirnya dia menggigit
bibir dan cepat mendaki dengan susah payah. Tebing itu
tinggi dan mereka sama-sama letih. Yang satu karena akibat
pukulan sedang yang lain karena tak pernah istirahat. Wi
Hong juga sedang hamil dan tentu saja gadis itu menahan
sakit. Perutnya serasa dikocok-kocok dan Wi Hong
menangis bercucuran air mata. Tapi ketika mereka sudah
sampai di tengah dan siap mendaki lagi ternyata pasukan
sudah melihat bayangan mereka dan bersorak-sorak.
“GolokMaut, berhenti. Turunlah!”
“Atau kau kami panah dari sini!”
Wi Hong pucat. Musuh ternyata sudah memasuki
lembah dan bersorak-sorailah mereka itu meneriakkan
ancaman. Golok Maut berhenti dan menoleh. Dan ketika
sebatang panah menyambar dan disusul panah-panah yang
lain maka pemuda ini menyampok dan panah-panah itu
runtuh meskipun dia mengeluh menahan dada kirinya.
“Jangan hiraukan, kita terus ke atas!” WI Hong tersedu,
melihat panah menyambar lagi dan gadis inilah yang
sekarang menghalau semua serangan. Golok Maut
mendesis dan cepat didorong naik, terpaksa membiarkan
Wi Hong yang menangkis panah-panah itu dan bergeraklah
mereka mendaki susah payah. Hujan senjata dan sorakan
sungguh membuat nyali menciut. Lembah Iblis seolah
tergetar dan diguncang gempa oleh pekik sorak pasukan di
bawah itu. Namun ketika mereka berhasil naik dan selamat
di atas ternyata sebatang panah menancap di pundak Wi
Hong.
“Kau terluka!” Golok Maut terkejut. “Ah, jahanam
keparat orang-orang itu, Wi Hong. Mari kucabut dan
jangan sampai panah itu beracun!”
WI Hong berteriak. Golok Maut mencabut anak panah
Itu dari pundaknya dan luka pun mengucur. Namun ketika
Golok Maut mengecup dan membalut dengan merobek
sebagian bajunya maka luka itu tertutup dan Golok Maut
lega bahwa panah itu tidak beracun.
“Kita kumpulkan batu-batu besar.Mereka pasti naik!”
Wi Hong mengguguk.Memang pasukan di bawah mulai
ada yang mendaki. Mereka rupanya tahu bahwa Golok
Maut sedang terluka, tidak berbahaya dan mendakilah
orang-orang yang berani ke atas tebing itu, hal yang sudah
dilihat dan diperhitungkan Qolok Maut. Namun ketika
golokMaut bergerak dan menggelindingkan batu-batu besar
yang banyak terdapat di atas maka orang-orang itu berteriak
ketika tertimpa.
“Buummm..!”
Empat tubuh hancur di bawah sana. Korban mulai jatuh
dan yang lain ngeri. Tapi ketika seseorang memberi abaaba
dan menyuruh orang-orang itu terus naik maka belasan
orang memberanikan hati-nya lagi karena seruan atau
bentakan itu menggetarkan nyali.
“Bum-buummm…!”
Beberapa orang menjadi korban lagi. Golok Maut dan
Wi Hong terus menggelindingkan atau melempar batu-batu
dari atas, menahan dan tentu saja tak mau orang-orang itu
naik. Dan ketika belasan orang akhirnya mati sia-sia maka
pasukan yang panik akhirnya disuruh melepas panah api.
“Semua turun, lancarkan panah api!” Golok Maut
terkejut. Hujan panah tiba-tiba berhamburan. Namun
karena tebing cukup tinggi dan serangan panah itu tak
sampai maka banyak di antaranya yang gagal dan jatuh di
tengah tebing, menyala dan membakar tempat-tempat
kering dan Wi Hong ngeri. Kalau itu terjadi terus-menerus
tentu mereka akan tertembus hidup-hidup, bukan main
kejinya. Musuh teramat kejam! Tapi ketika Golok Maut
menyambar tong-tong kayu yang berisi air minum maka
pemuda ini sudah menuangkan air dan tempat-tempat yang
terbakar seketika padam!
“Wi Hong, bantu aku. Ambil air di dalam guha!”
Wi Hong terkejut. Tiba-tiba dia teringat bahwa di dalam
guha, di atas tebing itu terdapat mata-air yang besar. Air
terus bergemiricik dan di situlah biasanya orang mandi atau
minum. Maka begitu melihat kekasihnya menyambar tongtong
kayu itu dan menyiramkan airnya ke bawah maka Wi
Hong mengikuti dan sudah menuangkan hujan air ini,
memadamkan tempat-tempat lain yang terbakar dan tentu
saja musuh mengumpat-caci. Tempat itu seketika basah dan
gagallah pasukan api. Dan ketika sehari itu mereka
dikepung dan musuh tak berani naik, karena bakal dihujani
batu-batu besar maka malam mulai tiba dan pasukan di
bawah diam tak berteriak-teriak lagi.
Golok Maut tak tahu apa yang akan dilakukan lawan
namun dia berdebar keras. Kalau malam tiba dan keadaan
menjadi gelap tentu mereka itu akan naik.
Hm, berbahaya! Apa akal? Dan ketika Wi Hong juga
merasakan itu dan bertanya maka pemuda ini menggigit
bibir.
“Ada dua jalan. Pertama membiarkan mereka naik dan
kita menghadapinya di sini atau kita turun dan menyerbu
mereka di sana!”
“Tapi kau tak dapat bertempur. Kau luka-luka!”
“Hm, dalam keadaan terdesak dan terancam aku masih
dapat melakukan apa saja, Wi Hong. Berikan senjataku itu
dan aku akan berbuat sesuatu!”
“Kau mau apa?”
“Menyambut mereka tentu saja! Kau masih menyimpan
pedangmu?”
“Masih…” Wi Hong gemetar, menahan tangisnya. “Aku
akan menyertaimu, Golok Maut. Sampai titik darah
terakhir!”
“Hm!” Golok Maut tiba-tiba mencengkeram jari
kekasihnya. “Tidakkah kau dapat memanggilku dengan
namaku, Wi Hong? Kenapa mesti selalu menyebut nama
julukanku? Itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang
tak suka padaku. Kau tak seharusnya menyebut nama
julukanku!”
“Hauw-ko (kanda Hauw)….” suara itu tiba-tiba bergetar
lembut, lembut dan mesra. “Aku… aku… maafkan aku. Aku
lupa, aku bingung. Aku, ah… aku khawatir akan
keselamatanmu!” dan Wi Hong yang mengguguk menubruk
kekasihnya lalu menangis dan tak henti-hentinya
mencucurkan air mata membasahi baju pemuda ini. Golok
Maut, yang dipanggil nama kecilnya tiba-tiba tersenyum.
Dan ketika gadis itu tersedu dan menyusupkan kepala di
dada tiba-tiba Golok Maut meraih dan mengangkat wajah
jelita itu.
“Hong-moi (dinda Hong)…” suara ini pun bergetar dan
menembus perasaan gadis baju merah itu. “Aku menyesal
bahwa aku telah membawamu ke tempat yang begini
buruk. Ah, aku berdosa padamu. Aku manusia terkutuk..”
“Tidak… tidak, Hauw-ko. Apa yang terjadi adalah atas
kehendak kita berdua juga. Kau tak perlu menyesal, tak
perlu menyalahkan diri sendiri!”
“Tapi kau mengandung, hasil perbuatanku!”
“Memangnya kenapa?” Wi Hong tiba-tiba mengangkat
tegak tubuhnya itu. “Aku menghendaki itu, Hauw-ko. Aku
ingin benih dan melahirkan keturunanmu. Aku tak
menyesal!”
“Tapi kau terancam bahaya!”
“Hidup selalu mengandung resiko bahaya! Tidak, tak
perlu kau menyesall ini, Hauw-ko. Aku mencintamu dan
siap mati untukmu!”
“Ah!” dan Golok Maut yang terharu dan cepat
mendekap kepala ini lalu mencium dan berbisik gemetar.
“Hong-moi, kalau saja kau dapat selamat, maukah kau
memenuhi permintaanku?”
“Apa yang kau minta? Menyuruh aku melarikan diri dan
pergi dari sini? Tidak, jangan katakan itu, Hauw-ko. Aku
tak mau dan tak sudi!”
“Maaf, bukan itu,” Golok Maut mendekap menggigil.
“Aku tahu kau siap mati di sini. Tapi kalau seandainya…
hm, seandainya saja aku terbunuh dan kau tidak
dikehendaki orang-orang itu maukah kau melahirkan dan
merawat anak kita, Hong-moi? Maukah kau
membesarkannya dan membalaskan dendamku?”
“Aku… aku tak ingin selamat. Kuharap orang-orang itu
membunuhku pula dan kita sama-sama ke alam baka!”
“Tidak! Orang-orang itu mencariku, Hong-moi, bukan
kau. Aku hanya mengandalkan seumpamanya kau tidak
dikehendaki, tidak dibunuh! Maukah kau memenuhi
permintaanku dan menyuruh anak kita membalas
dendam?”
“Hauw-ko, aku ingin mati bersamamu!”
“Dengarlah, jangan tolol!” Golok Maut mencengkeram
kekasihnya ini.”Selama dari sini belum tentu aku selamat
dari racun jahanam ini, Wi Hong. Maksud kita mencari
Sian-su telah terhalangi orang-orang itu. Aku merasa
umurku tak akan panjang!”
“Hauw-ko…!”
“Tidak!! kau dengarlah Mo-bin-lo telah menjumpai aku
dan aku harus membayar kutukannya!”
“Mo-bin-lo (SiMuka lblis)? Siapa itu?”
“Hm, dialah pencipta Golok Penghisap Darah, Hongmoi.
Dan aku telah bertemu dengannya dan tak dapat
menghindar. Nyawaku terancam, dan maut pasti
menjemputku. Semua yang terjadi ini kukira adalah garis
nasib yang harus kujalani karena aku melanggar larangan,
sebuah kutukan!”
“Ah, kau bicara tentang sesuatu yang mengerikan. Bulu
romaku berdiri!”
-ooo0dw0oo-
Jilid : XXVI
“TIDAK, aku tak bermaksud menakut-nakutimu, Hongmoi.
Apa yang hendak kubicarakan ini adaiah berdasarkan
kenyataannya. Kau diamlah, dengarkan ceritaku!” dan
Golok Maut yang menceritakan pertemuannya dengan si
kakek iblis, Mo-bin-lo yang amat sakti akhlrnya membuat
Wi Hong ketakutan dan ngeri. Betapa kekasihnya itu tak
akan mungkin lepas dari kutukan kakek iblis itu karena
Golok Maut, Golok Penghisap Darah itu telah dikotori
perbuatan mereka berdua. Golok itu hanya boleh dipegang
atau dimiliki oleh jejaka-jejaka atau perawan ting-ting, tak
boleh dimiliki suami isteri atau calon suami isteri. Dan
karena keampuhan golok ini akan menjadi pudar kalau
sudah dikotori hubungan suami isteri maka barang siapa
yang mengotorinya haruslah menebus dengan nyawanya
agar keampuhan atau kekeramatan golok itu tetap terjaga.
“Itulah sebabnya aku hendak membunuhmu. Aku
merasa kau perdayai, kau tipu. Karena setelah perbuatan itu
maka aku telah melanggar larangan Golok Penghisap
Darah ini. Tapi, ah… kau ternyata hamil, Hong-moi.
Perbuatan kita dulu ternyata membuahkan anak dalam
kandunganmu itu. Aku tak mungkin membunuhmu, dan
sekaranglah saatnya aku yang menebus dosa!”
Wi Hong pucat. “Jadi karena itu kau hendak
membunuhku? Kau menganggap aku memperdayai?”
“Maaf, tadinya begitu, Hong-moi. Tapi setelah kini
semuanya kuketahui ternyata aku salah. Cintamu…”
“Benar!” gadis ini bangkit berdiri. “Aku mencintamu
lahir batin, Hauw-ko. Aku tidak memperdayai atau
bermaksud menipumu. Aku sama sekali tak tahu akan
peristiwa kutukan itu, Kau melukai hatiku, kau kejam!”
“Maaf, kau benar, Hong-moi. Aku memang kejam, aku
ternyata kejam. Terbawa oleh kebiasaanku yang bersifat
kejam ternyata aku telah salah sangka denganmu. Maaf,
aku kini menyesal!”
Wi Hong tersedu-sedu. Tiba-tiba perasaannya menjadi
sakit dan benci bukan main kepada Si GolokMaut ini. Tapi
karena orang yang dia benci sekaligus juga dicintanya maka
gadis atau ketua Hek-yan-pang ini mengguguk-guguk, itulah
jalan pelampiasannya.
“Hauw-ko, kau tak berperasaan. Kau merendahkan
cintaku. Kau… kau, ah!” dan Wi Hong yang meremas serta
mencengkeram baju pemuda ini akhirnya menarik-narik
dan gemas memukul-mukul pemuda itu, dibiarkan saja dan
GolokMaut akhirnya menggigil, menjatuhkan diri berlutut,
memeluk gadis itu. Dan ketika Wi Hong masih
menumpahkan semua kesal dan marahnya maka pemuda
ini berkata, gemetar,
“Hong-moi, aku mengakui salah. Aku mengakui berdosa.
Nah, daripada mati di tangan musuh lebih baik kau bunuh
aku dan lunaslah hutangku. Inilah Golok Penghisap Darah,
lampiaskan kebencianmu dan aku reia mati di tanganmu!”
“Kau gila? Kaukira aku suka membunuh? Tidak, lebih
baik kita mati berdua, Hauw-ko. Dan simpan kembali golok
keparat itu!”
Wi Hong malah menangis deras. Menerima tapi
membuang golok itu gadis ini menubruk dan memeluk
pemuda itu. Betapapun Golok Maut adalah ayah dari anak
di kandungannya. Betapapun Golok Maut adalah
kekasihnya, suaminya, meskipun mereka belum diikat oleh
suatu perkawinan resmi. Dan ketika gadis itu mengguguk
dan menerkam pemuda ini maka Golok Maut terharu dan
mencium kekasihnya ini.
“Hong-moi, aku benar-benar buta. Aku tak dapat
menghargai clnta sucimu. Ah, aku benar-benar manusia
terkutuk!”
Wi Hong tersedu-sedu. Akhirnya mereka sama-sama
menangis dan keduanya lalu berciuman. Golok Maut tibatiba
mengeluh karena mendadak dada kirinya sakit,
mengerang dan Wi Hong melepaskan pelukannya. Dan
ketika gadis itu pucat bertanya maka Golok Maut
menggeleng dan menyembunyikan keadaannya.
“Tak apa-apa…. aku tak apa-apa…”
“Tapi kau mengerang, kau kesakitan!”
“Hm, sedikit saja di sebelah kiri ini, Hong-moi. Tapi
sekarang sudah tidak!”
“Kau sungguh-sungguh?”
“Aku sungguh-sungguh…”
“Ooh..!” dan Wi Hong yang kembali memeluk dan
menangis di dada pemuda itu akhirnya bertanya apa yang
akan mereka lakukan.
“Sudah kubilang tadi, turun ke bawah atau kita
menunggu mereka di sini!”
“Bagaimana kalau turun?”
“Boleh saja, Hong-moi. Siapa tahu kita bisa lolos!”
“Ya, aku mengharap itu. Malam yang gelap begini
barangkali membantu. Sebaiknya kita turun dan coba-coba
meloloskan diri!”
“Kau siap?”
“Aku siap, Hauw-ko. Sejak tadi!”
“Hm, kalau begitu mari kita coba…!” dan Golok Maut
yang meringis melepas kekasihnya lalu minta agarWi Hong
menyiapkan pedangnya. “Kita turun, dan melingkar secara
hati-hati di pinggang tebing.”
“Kau kuat?”
“Kukira kuat, marilah…!” dan Si Golok Maut yang
kembali menyembunyikan sakitnya lalu bersikap gagah dan
tegak bangkit berdiri, berkata kuat tapi sebenarnya seluruh
tubuh sudah gemetar. Dipikir-pikir memang sebaiknya
menyongsong musuh dan mati di bawah daripada
menunggu dan menyambut mereka di atas. Dan ketika Wi
Hong menggandeng lengannya dan mencabut pedang
dengan tangan gemetar maka dua orang ini mulai berhatihati
turun dari puncak tebing itu, tak mendengar apa-apa di
bawah tapi obor yang jumlahnya ribuan menerangi lembah.
Bayangan mereka tiba-tiba tampak dan Wi Hong tertegun.
Dan ketika ke mana-pun mereka bergerak pasti bayangbayang
mereka memantul di dinding, oleh cahaya obor
yang ternyata sudah dipasang musuh maka Wi Hong
mendesis.
“Mereka menerangi bawah lembah, sengaja agar kita tak
dapat melarikan diri!”
“Benar, dan itu berarti kita tetap di atas, Hong-moi. Atau
kita nekat dan terus ke bawah!”
“Aku khawatir…” Wi Hong ragu, berhenti. “Kita akan
segera terlihat, Hauw-ko. Dan ini berbahaya… sing!”
sebatang panah tiba-tiba menyambar, tepat baru saja gadis
itu menghentikan kata-katanya dan terdengarlah teriakan
atau ribut-ribut di bawah. Dan ketika sebatang panah
kembali menyambar dan di bawah cahaya obor tiba-tiba
bergerak maka ribuan orang bangkit seperti siluman.
“Mereka mau turun! itu, lihat di atas ….!”
Golok Maut menggeram. Kalau belum apa-apa mereka
sudah kepergok dan disambut musuh tentu gerakan mereka
luar biasa sulit. Turun dalam keadaan begitu sama artinya
dengan menyambut kematian. Tempat di bawah tiba-tiba
menjadi terang luar biasa karena semua obor digabung. Dan
ketika anak-anak panah kembali menyambar dan Wi Hong
serta Golok Maut mengibas maka Wi Hong menangis dan
mengajak untuk naik lagi ke atas, tak jadi turun.
“Kita tak mungkin berhasii, kita gagal. Sebaiknya
kembali naik dan kita tunggu mereka di sana!”
Golok Maut mengangguk. Sambil memaki dan
menggeram terpaksa pemuda ini mendaki lagi. Sorakan
atau teriakan di bawah tak dihiraukan. Mereka
menyelamatkan diri dari hujan panah yang tiba-tiba saja
sudah berhamburan. Dan ketika dengan terengah dan napas
memburu mereka berdua sudah tiba di puncak maka Wi
Hong mengguguk dan membanting kakinya.
“Kita gagal, kita tak dapat. turun!”
GolokMaut menggigit bibir. Malam itu terpaksa mereka
tak dapat turun setelah musuh memergoki mereka. Belum
apa-apa sudah ketahuan dan tentu saja mereka masygul, di
samping marah. Dan ketika malam itu musuh ribut-ribut di
bawah tapi mereka sudah naik lagi ke atas maka tak ada
apa-apa dan keesokannya barulah musuh bersorak-sorai.
Pada hari kedua ini mereka melakukan serangan lagi,
naik tapi kembali Golok Maut maupun Wi Hong
menggelindingkan batu-batu besar. Musuh banyak yang
menjadi korban dan panah-panah api kembali berluncuran.
Tapi ketika Golok Maut menghadapinya dengan siraman
air dan panah-panah itu padam maka musuh kembali gagal
namun Wi Hong dan Golok Maut gemetaran. Dua hari
mereka bertahan dan persediaan makan pun menyusut
cepat. Tenaga yang dicurahkan untuk melawan musuh di
bawah sungguh bukan tenaga main-main. Wi Hong sendiri
tak pernah memikirkan untuk mengumpulkan ransum di
situ, sewaktu Golok Maut pingsan dan masih belum
sadarkan diri. Dan ketika serangan itu muncul dan musuh
tiba-tiba sudah mengepung dan menyerang dengan caracara
mereka akhirnya pada hari keempat sisa makanan di
atas tebing habis.
“Aku tak kuat lagi… tubuhku lemah!” Wi Hong jatuh
terduduk, menangis tersedu-sedu dan Golok Maut sendiri
bersandar dinding dengan muka pucat. Empat hari bertahan
sungguh merupakan siksaan yang luar biasa bagi mereka
berdua, terutama bagi Golok Maut yang sedang terluka.
Dan karena pemuda bercaping itu betul-betul lelah lahir
batin maka Golok Maut jatuh terduduk ketika kekasihnya
menangis.
“Wi Hong, akupun lemah. Ah, tubuhku gemetar… tak
ada jalan lain kecuali menanti maut!”
“Dan kita akan mati…. mati bersama! Ah, lebih baik
begini, Hauw-ko. Aku ingin berangkat bersamamu ke alam
baka!”
“Tapi anak kita…” Golok Maut tiba-tiba bangkit
terhuyung. “Tak boleh anak itu mati, Hong-moi. Tak boleh
keturunanku ini menyertai orang tuanya. Kita masih ada
jalan…. jalan terakhir!”
“Apa maksudmu?”
“Di balik batu itu ada sebuah terowongan rahasia. Kita
masuk ke sana dan mari ikuti aku!”
Wi Hong tertegun. Kekasihnya sudah terhuyung
menghampiri sebuah batu hitam yang permukaannya kasar.
Batu ini berada di puncak dan dari jauh tak memperlihatkan
tanda-tanda adanya sebuah terowongan. Tapi ketika
kekasihnya tiba di sana dan menggapai minta agar dia
membantu makaWi Hong terbelalak.
“Kita dorong batu besar ini, geser kedudukannya.”
“Kau maksudkan terowongan itu ada di bawah batu ini?”
“Benar, dan mari bekerja cepat, Hong-moi. Aku
mendengar beberapa gerakan orang!”
Wi Hong terkejut. Dalam keadaan seperti itupun
ternyata kekasihnya ini masih memiliki pendengaran yang
tajam. Dia tak mendengar apa-apa namun ia percaya.
Telinga seorang tokoh macam Golok Maut tak mungkin
menipu. Dan ketikaWi Hong tertegun dan membelalakkan
mata tiba-tiba dia dibentak agar cepat melaksanakan
tugasnya.
“Dorong batu ini, geser kedudukannya!”
Wi Hong tersentak. Akhirnya sambil mengusap sisa-sisa
air mata cepat gadis ini mengerahkan sinkangnya,
mendorong dan bersatu mengeluarkan aba-aba tiba-tiba
mereka bergerak. Batu bergoyang namun belum tergeser,
hanya bergoyang dan bergetar saja seperti pohon raksasa
ditiup angin lembut! Dan ketika Golok Maut terbelalak dan
merah mukanya maka pemuda itu kembali berseru memberi
aba-aba.
“Dorong!”
Wi Hong melepas sinkangnya. Gadis ini sudah
mengempos semangat dan masing-masing mengeluarkan
seruan keras. Tapi ketika batu tak bergeming juga karena
tenaga kurang kuat maka Golok Maut mendesis dan Wi
Hong kembali menangis.
“Kita benar-benar kehabisan tenaga. Kalau tidak, hmm…
cukup aku sendiri biasanya pasti terangkat!”
“Kau lelah… kau luka…!” Wi Hong ter sedu-sedu.
“Gagalkah untuk kedua kalinya usaha kita ini, Hauw-ko?
Apakah kita memang harus mati konyol?”
“Tidak, ulangi sekali lagi, Hong-moi”.
”Mari…. hup!” Golok Maut mengerahkan tenaganya,
mendorong dan Wi Hong pun cepat membantu. Meskipun
menangis tapi gadis baju merah itu bangkit juga,
mendorong dan mengerahkan sinkangnya. Dan ketika dua
lengan mereka sama-sama mengeluarkan suara berkerotok
maka batu terdorong dan bergeser sejengkal. “Kita berhasil!
Batu ini bergeser…!”
“Jangan berteriak!” Golok Maut berseru. “Kita masih
harus mendorong lagi, Hong-moi. Ayo cepat, di bawah kita
mulai terdengar dengus dan gerakan-gerakan seseorang!”
Wi Hong pucat. Setelah suara yang ditangkap
kekasihnya itu semakin dekat barulah dia mendengar
gerakan-gerakan itu. Ada seseorang mendengus dan tentu
saja dia pucat. Dan ketika dia mencabut pedang dan mau
membalik ternyata kekasihnya membentak dan menyuruh
dia mem perhatikan pekerjaan mereka.
“Biarkan jahanam itu, batu ini harus secepatnya kita
geser!”
“Kalau orang itu menyerang?”
“Aku dapat menghajarnya, Hong-moi. Dengan ini….!”
Golok Maut memperlihatkan segenggam batu di tangan,
hancur menjadi pasir-pasir lembut dan Wi Hong girang
karena itulah senjata rahasia yang hebat juga. Di tangan
kekasihnya tentu pasir-pasir halus itu akan mencelakai
pendatang gelap, dan tentu kekasihnya tak akan gagal. Dan
ketika Wi Hong mengangguk dan percaya akan itu maka
gadis ini membentak dan keduanya mendorong lagi.
“Satu…. dua— tiga…!”
Bentakan itu disusul bergetarnya tanah yang mereka
pijak. Batu yang mereka dorong tiba-tiba bergeser lagi, dua
jengkal! Jadi, sudah setengah meter dan terlihatlah oleh Wi
Hong sebuah terowongan bawah tanah. Lubang yang geiap
namun memberi harapan tiba-tiba membuat Wi Hong
bersorak girang, lupa pada pendatang gelap itu dan
muncullah di belakang gadis ini lima orang laki-laki yang
hampir semuanya mencapai puncak tebing. Jari-jari mereka
tampak mencengkeram dan mengait kuat, berhati-hati. Lalu
ketika gadis itu berteriak girang dan ini menunjukkan abaaba
bagi lima orang itu mendadak mereka sudah melayang
dan berjungkir balik tiba di puncak tebing, Mindra dan
kawan-kawan serta si KedokHitam!
“Awas!” GolokMaut berseru kaget. Saat itu mereka baru
saja mendorong batu besar, girang namun terkejut karena
Mindra dan kawan-kawannya muncul di situ. Dan ketika
GolokMaut tertegun karena tak mengenal si Kedok Hitam,
lawan yang menyembunyikan muka di balik sapu-tangan
hitamnya maka lima orang itu bergerak dan Kedok Hitam
sudah melakukan satu pukulan jarak jauh ke punggung Wi
Hong, karena gadis itulah yang ada di depannya. Dan
ketika yang lain-lain juga melakukan hal yang sama karena
menyerang Golok Maut masih merupakan satu keraguraguan
bagi Mindra dan kawan-kawannya maka gadis baju
merah itulah yang dihantam!
“Dess!” Golok Maut terang tak membiarkan ini. Dia
sudah membentak dan menangkis pukulan-pukulan itu.
Pasir di tangannya juga ikut bergerak dan menangkis
pukulan-pukulan itu. Pasir di tangannya juga ikut bergerak
dan menyambar kelima lawannya itu. Dan ketika lawan
terkejut dan terpekik kaget maka pukulan yang sudah
menyambar ditangkis pemuda ini sementara kakinya
bergerak menendang Wi Hong, yang menjerit dan
terlempar ke bawah terowongan dan terdengarlah suara
hiruk-pikuk di luar ini. Wi Hong sendiri sudah terbanting
dan terguling-guling di dalam terowongan gelap itu, nyaris
kena bokongan namun Golok Maut di sana terlempar,
terlempar dan jatuh berdebuk sementara lawan-lawannya
kelabakan karena mata mereka tiba-tiba kemasukan pasir,
mengumpat dan mencaci-maki dan terhuyunglah mereka
oleh kejadian yang tidak diduga ini. Dan ketika Golok
Maut mengeluh dan melihat betapa dari lima pukulan itu
yang terhebat adalah dari si Kedok Hitam maka pemuda ini
terbeialak dan terkejut karena mengenal pukulan itu adalah
Kim-kong-ciang (Pukulan Sinar Emas), pukulan yang
dimilikinya!
“Ah!” Golok Maut hampir tak percaya, Dia terbelalak
dan melotot memandang si Kedok Hitam itu, yang sedang
mengucek dan mengumpat caci karena matanya kemasukan
pasir. Namun ketika Golok Maut tertegun dan
membelalakkan mata tiba-tiba Wi Hong berteriak dari
dalam dan meloncat keluar.
“Ayo, masuk.Musuh terlaiu berbahaya!”
“Tidak, nanti dulu…!” Golok Maut terkejut, melepaskan
dirinya. “Orang ini… jahanam itu, ah… dia memiliki Kim
kong-ciang, Hong-moi. Dia mempunyai ilmu yang
kumiliki!”
“Apa?”
“Benar. Pukulan tadi, ah… pukulan itu … benar Kimkong-
ciang! Aku harus mengetahui siapa dia dan dari mana
dia mendapatkan ilmu itu!” dan Golok Maut yang
menggigil dan membentak maju tiba-tiba menggerakkan
senjatanya menusuk laki-laki yang sedang mengucek-ucek
matanya ini, terkejut dan mengelak sana-sini dengan
pandangan kabur dan Golok Maut terus mengejarnya,
membentak dan menggigil melakukan tikaman-tikaman
atau bacokan berbahaya. Tapi sayang, karena tenaganya
lemah dan kecepatan juga jauh berkurang dibanding
biasanya maka lawan tetap dapat mengelak dan anehnya
semua jurus-jurus yang dilakukan GolokMaut seolah sudah
diketahui si Kedok Hitam ini, mundur dan berkelit atau
berjongkok ke sana ke mari dan luputlah serangan-serangan
berbahaya itu. Dan ketika lawan selesai mengucek matanya
dan satu tikaman golok ditangkis kuat tiba-tiba GolokMaut
terpelanting dan hampir saja golok di tangannya itu
mencelat.
“Ha-ha, mampus kau, Sin Hauw. Sekarang kau mati!”
Golok Maut dan Wi Hong terkejut. Selama ini belum
pernah orang lain mengenal siapa Si Golok Maut ini, tak
pernah menyebut namanya dan baru kali itulah si Kedok
Hitam menyebut, lawan yang tidak dikenal siapa karena
menyembunyikan diri di balik saputangan hitamnya. Dan
ketika Golok Maut bergulingan sementara Wi Hong
menjerit kaget tiba-tiba lawan yang menubruk serta
menyerang Golok Maut tiba-tiba ditusuk Wi Hong dari
belakang, mempergunakan pedangnya yang baru dicabut.
“Crat-plak!”
Golok Maut dan Wi Hong terpental. Wi Hong berhasil
menusukkan pedangnya namun laki-laki itu menggerakkan
tangan ke belakang, menangkis dan terpentallah gadis itu
karena tangkisan yang demikian kuat membuat pedangnya
hampir terlepas. Dan ketika Wi Hong berteriak sementara
Golok Maut di sana juga mengeluh dan menerima
hantaman lawan, yang untung terpaksa membagi tenaganya
karena harus menangkis pedangWi Hong maka pemuda ini
terlempar dan kebetulan sekali bergulingan di dekat Wi
Hong.
“Kita masuk, jangan paksakan diri!” Wi Hong berteriak,
merangkul dan mengajak kekasihnya memasuki lubang
namun Golok Maut berseru bahwa dia ingin melawan dan
melihat siapa si Kedok Hitam itu, lawan yang membuatnya
kaget lahir batin. Namun ketika Wi Hong menangis dan
memperingatkan kandungannya, anak mereka berdua tibatiba
Golok Maut tertegun dan mereka berdua sudah
berguiingan di bawah batu besar itu.
“Anak kita! Atau aku tak dapat melaksanakan
perintahmu…!”
Golok Maut sadar. Akhirnya dia menggigit bibir dan
menahan kemarahan yang bergolak. Wi Hong telah
mengajaknya mendekati batu besar itu dan tiba-tiba… bles
mereka pun sudah masuk ke terowongan gelap itu. Dan
ketika lawan di atas berteriak kaget dan si Kedok Hitam
rupanya kecewa tiba-tiba angin pukulan menyambar dari
atas dan serangan sekuat prahara menghantam permukaan
lubang itu.
“Bress!”
Batu tiba-tiba terguling. Cepat dan luar biasa mendadak
lubang terowongan yang dihantam hancur kedua tepinya,
tak kuat menerima pukulan dahsyat itu. Dan karena batu
besar di atasnya merupakan penutup dan kini amblong ke
tempat yang lebar maka otomatis batu menutup kembali
dan terowongan itu gelap gulita!
“Dorong batu ini! Kejar Si GolokMaut itu!”
Mindra dan kawan-kawannya terbelalak.
Mereka ternganga melihat gempuran dahsyat itu. Si
Kedok Hitam menggerakkan kedua tangannya dan lubang
bawah tanah ambrol. Tapi ketika batu menutup kembali
dan mereka dibentak agar mendorong batu maka Mindra
dan kawan-kawan sudah bergerak, mendesak dan
mengerahkan sinkang agar batu bergulir dari tempatnya.
Tapi karena lubang itu terlalu besar dan batu raksasa ini
rupanya juga ambles hampir separohnya maka Mindra dan
empat temannya tak kuat!
“Bodoh, minggir kalian!” Kedok Hitam marah, tak sabar
dan tiba-tiba menggerakkan tangannya ke depan. Angin
pukulan dahsyat menyambar batu raksasa ini, sinarnya
keemasan dan terdengarlah suara bercuit sebelum batu itu
terkena pukulan. Dan ketika angin dahsyat ini menyambar
dan batu itu kena gempur tiba-tiba batu raksasa ini hancur
dan pecah seperti didinamit.
“Blarr!”
Celaka sekali. Pukulan dahsyat yang menghantam batu
ini tiba-tiba malah menutup lubang terowongan. Batu yang
hancur dan ambles ke bawah malah menimbun lubang itu.
Dan ketika Kedok Hitam mengumpat-umpat dan Mindra
serta teman-temannya meleletkan lidah, tanda ka-gum,
maka Kedok Hitam menempeleng kepala mereka agar tidak
mendelong saja.
“Bodoh! Gentong-gentong kosong! Hayo turun dan
semua berputar mengelilingi lembah!”
Mindra dan empat temannya terpelanting. Ditampar dan
dltempeleng begitu tiba-tiba mereka serasa anak kecil yang
tak berdaya. Mindra dan teman-temannya meiompat
bangun dan tentu saja mereka mencaci-maki, tak berani di
mulut melainkan di hati. Tentu saja! Dan ketika Kedok
Hitam sudah berkelebat dan turun dari puncak tebing maka
laki-laki itu meluncur dan mengembangkan tangannya
seperti sayap rajawali. Gagah namun menyeramkan!
“Hayo turun. Semua turun…!”
Mindra tak berani bercuit. Mereka sudah merasakan
kelihaian Kedok Hitam ini dan tak ada satu pun di antara
mereka yang berani banyak bicara. Satu-satunya jalan
selamat adalah mengikuti perintah laki-laki itu, atau mereka
malah menjadi korban dan salah salah mampus. Dan ketika
semuanya bergerak dan turun tergesa-gesa maka Mo-ko
terpeleset dan jatuh meluncur seperti sebuah bola.
“Hei-hei…. tolong aku…!”
Tak ada yang menolong. Karena ceroboh dan tergesagesa
maka iblis hitam itu terpeleset dari tebing yang tinggi,
jatuh dan bergulingan ke bawah dan tentu saja dia berteriakteriak.
Batu-batu tajam menerima dan menggigit tubuhnya
namun untung kakek iblis ini bukan orang biasa. Kalau
orang biasa tentu sudah hancur tubuhnya dan babak-belur.
Jatuh dari ketinggian seperti itu bukanlah main-main. Tapi
karena Mo-ko adalah orang yang lihai dan meskipun
terpeleset serta terjatuh seperti itu dia tetap dapat
mengerahkan sinkangnya menjaga diri maka kakek iblis ini
lebih dulu tiba di bawah dan berdebuk seperti buah nangka
lepas dari induknya.
“Bukk!”
Kakek itu tak apa-apa. Meluncur dan menggelinding
seperti bola kakek ini sudah terbanting ke bawah,
mendahului kawan-kawannya dan tiba-tiba ribuan perajurit
terbahak-bahak. Mereka itu serasa mendapat pemandangan
lucu yang membuat perut terkocok, geli dan tak tahan
mereka untuk tidak tertawa. Tapi begitu Mo-ko membentak
dan ribuan mulut diam maka si Kedok Hitam juga
membentak dan melengking agar semuanya tidak tertawa.
“Semua jangan meringkik, ini bukan lelucon! Hayo
bergerak seputar lembah dan cari Si GolokMaut itu!”
Ribuan orang diam. Mereka telah dikatakan meringkik
dan tentu saja diam-diam mereka mendongkol. Ketawa
mereka dianggap kuda, jadi mereka tiada ubahnya
binatang. Makian pedas yang membuat muka merah! Tapi
karena mereka tak ada yang membantah dan komandan
mereka sendiri juga membentak agar jatuhnya Mo-ko
seperti bola tidak dianggap lelucon maka semua orang
disuruh bergerak dan keluar dari lembah.
“Semua berpencar. GolokMaut telah melarikan diri!”
Orang-orang terkejut.Mereka merasa tak percaya karena
bagaimana Golok Maut itu bisa melarikan diri. Bukankah
masih di atas dan bayangannya tak tampak turun? Tapi
ketika mereka mendapat tahu bahwa tokoh itu melarikan
diri lewat terowongan rahasia di puncak tebing maka
semuanya terkejut dan bergegas memutar tubuh,
berhamburan keluar lembah dan Kedok Hitam sudah
membentak-bentak agar semua tempat dikepung. Bahkan
mereka disuruh ke bawah gunung dan dalam radius empat
kilometer dari titik pusat mereka diperintahkan untuk
berjaga ketat. Golok Maut tak mungkin melarikan diri
kalau sudah seperti ini. Dan ketika mereka ribut-ribut dan
Mindra serta kawan-kawannya sibuk mengelilingi lembah
maka di sana, di dalam terowongan itu GolokMaut batukbatuk
dan muntah darah.
“Orang itu, ah… dia tentuiah dia..Keparat, tentu
jahanam itu,Wi Hong. Tentu dia!”
“Sudahlah,” Wi Hong tersedu-sedu. “Kita sudah di sini,
Hauw-ko. Kita harus menyelamatkan diri…!”
“Aku tahu. Tapi, uhh…!” GolokMaut batuk-batuk, jatuh
terduduk. “Sakitku tak tertahankan, Wi Hong. Aku… aku
letih!”
“Aku juga, tapi… tapi kita harus keluar, Hauw-ko. Kita
sudah berhasil melarikan diri dari musuh-musuh kita!”
“Benar, tapi…. hm!” GolokMaut terengah, mata tiba-tiba
meredup. “Racun di tubuhku bekerja lagi, Wi Hong. Dan
obat itu habis!”
“Lalu bagaimana? Apakah kita diam saja? Katakan
padaku di mana jaian terowongan ini, dan kau akan
kupondong. Aku dapat membawamu!”
“Tidak…, terlambat!” Golok Maut memejamkan mata.
“Percuma kau menolongku, Wi Hong. Sebaiknya kau saja
yang keluar dari sini dan biarkan aku tewas!”
“Kau gila?” Wi Hong menjerit. “Mati hidup aku tetap
ingin bersamamu, Hauw-ko. Atau biar aku mati di sini pula
dan kita sama-sama binasa!”
Wi Hong mengguguk. Akhirnya gadis itu menangis dan
tersedu-sedu meremas kekasihnya. Dalam bayang-bayang
gelap begitu dia tak melihat betapa pemuda ini sudah mulai
kuyu. Pandang mata Golok Maut sudah meredup dan
seakan kehilangan cahayanya. Mata itu memudar namun
tiba-tiba bersinar lagi ketika Wi Hong mengguncangguncang
tubuhnya, menjerit dan memanggil-manggil
namanya karena beberapa kali pertanyaan gadis itu tak
dijawab. Dan ketika Golok Maut membuka mata dan
tertegun maka dia mendengar kata-kata kekasihnya bahwa
Wi Hong akan bunuh diri di situ apabila dia mati!
“Aku tak mau melahirkan anak ini. Kau kejam, kau tak
mau menjawab pertanyaanku! Biarlah… biar kita semua
binasa, Hauw-ko. Kau tak mau kubawa dan
memberitahukan di mana jalan keluar terowongan ini!”
“Hm!” Golok Maut tiba-tiba bergerak, hidup dan
bersinar-sinar matanya itu. “Aku sedang mengumpulkan
ingatan, Hong-moi, sabarlah, dan dengar ini….” lalu
mengumpulkan segenap kekuatan dan Ingatannya tiba-tiba
pemuda ini menuding. “Kau dapat lurus mengikuti anak
tangga itu, berbelok tujuh kali. Lalu kaiau kau menemui
persimpangan dan melihat mata-air maka kau harus
berbelok ke kanan sebanyak tujuh kali pula dan setelah itu
lurus ke bawah. Kita… kau…. akan tiba di luar setelah
melakukan perjalanan sepenanakan nasi…!”
“Begitukah? Kenapa tidak tadi-tadi kau memberitahukan
ini? Dan kau tak berperasaan, Hauw-ko. Sebenarnya sejak
empat hari yang lalu kau harus menunjukkan tempat ini
dan bukannya sekarang, setelah semuanya terlambat!”
“Tidak… tidak terlambat, Hong-moi. Aku tak segera
mengatakannya karena ini adalah jalan terakhir, kalat kita
benar-benar terdesak. Aku sebenarnya lebih ingin
menyambut mereka dan mati secara gagah, bukan konyol
atau melarikan diri seperti ini!”
“Tapi kita sekarang terkubur hidup-hidup. Si Kedok
Hitam itu menghancurkan batu menimbuni mulut guha!”
“Sudahlah, dia… dia memang hebat, Hong-moi. Dan
baru sekarang dia menampakkan diri. Keparat, binatang itu
memang jahanam! Tapi aku akan berusaha
membunuhnya!”
“Siapa dia?”
“Musuh besarku! Orang yang memperkosa enciku!”
“Dia?”
“Ya, dia, Hong-moi. Tak ada lain! Tapi sudahlah, kau
harus pergi dan keluar dari terowongan ini. Ikuti petunjukpetunjukku
tadi!”
“Apa? Kau menyuruhku sendirian? Kau mau…”
“Sst, jangan ribut-ribut. Kau sedang mengandung
anakku, Hong-moi, tak mungkin membawa beban lagi
dengan menggendong aku. Kau keluarlah, dan ikuti
petunjukku. Aku dapat bertahan di sini dan akan hidup
lebih lama kalau kau membawakan makanan untukku.
Pergilah ke sana dan ambilkan buah-buahan, aku
menunggu….”
“Tidak!” Wi Hong menjerit. “Aku akan membawamu,
Hauw-ko. Aku tak mau sendiri!”
“Hm, kau hendak membunuh anak di kandunganmu itu?
Membawa beban dan bekerja berat? Kau ingin keguguran?
Jangan bodoh. Kita di sini sudah aman. Hong-moi, tak ada
yang tahu dan aku tak apa-apa. Kau tinggal memilih
mencarikan makanan untukku di luar sana atau memaksa
diri dan anak di perutmu itu akan mati!”
Wi Hong tersedu. Akhirnya dia bingung namun dapat
menerima bahwa sementara itu mereka berdua selamat.
Kekasihnya tak akan ada yang mengganggul dan benarbenar
di tempat aman. Mulut terowongan di atas sudah
dihancurkan, jalan masuk hanya memasuki mulut yang
lain. Dan karena anak di kandungannya juga harus dijaga
dan kata-kata pemuda itu betul akhirnya Wi Hong
menubruk dan mencium kekasihnya ini ketika GolokMaut
menyuruhnya pergi, membelai rambutnya, gemetar.
“Aku dapat menjaga diri di sini, dan Golok Penghisap
Darah juga tetap bersamaku. Pergilah, dan keluarlah.
Carikan buah-buahan dan lihat apakah di luar sana aman.”
“Kau tak akan pergi? Kau akan tetap di sini?”
“Tentu, aku akan tetap di sini, Hong-moi, tak mungkin
dapat ke mana-mana karena kita berada di terowongan
bawah tanah. Kau pergilah, dan bawakan makanan
untukku.”
Wi Hong akhirnya melepaskan diri. Setelah dia yakln
dan dapat menerima kata-kata pemuda itu akhirnya gadis
ini menurut juga. Memang, mereka berada di satu tempat
yang aman, terowongan bawah tanah. Siapa dapat
mengejar mereka kalau mereka tetap bersembunyi di situ?
Tapi karena persedlaan makanan harus disiapkan dan
hanya dialah yang dapat melakukan itu maka gadis ini
menarik tubuhnya dan berbisik pada kekasihnya agar
menunggu di situ.
“Kau jangan ke mana-mana, aku akan keluar.”
“Ya, dan jangan khawatiri diriku, Hong moi. Aku dapat
menjaga diri dan Golok Penghisap Darah menemaniku di
sini. Pergilah!”
WI Hong terhuyung. Dengan gemetar dan sedikit
tenteram dia meninggalkan kekasihnya itu, berjalan lurus
menuruni anak tangga lalu berbelok tujuh kali. Dan ketika
dia tiba di persimpangan di mana terdapat mata-air maka
gadis ini berbelok ke kanan dan tujuh kali dia melakukan
hal itu secara berturut-turut, benar seperti kata pemuda itu
dan Wi Hong girang. Di ujung memang terdapat cahaya
terang dan itulah jalan keluar, mulut atau jalan melarikan
diri setelah guha di bawah batu besar dihancurkan. Cadis
ini berhati-hari dan berindap menghampiri cahaya terang
itu, celingukan ke sana-sini dan akhirnya dia merasa lega
karena tempat itu sunyi, aman. Tak ada siapa-siapa dan
tentu saja dia melompat keluar dengan perasaan bebas. Dan
ketika dilihatnya buah-buahan yang banyak di sebuah hutan
kecil dan cepat dia memunguti itu segera gadis ini kembali
lagi ke tempat semula, berseru memanggil kekasihnya dan
keranjang buah yang dibawanya hampir sarat oleh isi yang
penuh. Tapi ketika gadis itu tak menemukan GolokMaut di
sana dan dia tertegun serta kebingungan, serasa tak percaya
maka dia berteriak-teriak memanggil kekasihnya itu.
“Hauw-ko… Hauw-ko… aku datang..!”
Namun aneh, Golok Maut yang dipanggil-panggil tak
muncul juga.Wi Hong mengira bahwa dia salah masuk dan
berlari lagi keluar, balik menghitung tujuh tikungan kanan
dan kiri tapi tempat itu memang betul tempat yang semula
ditempati kekasihnya, tempat mereka berdua. Dan ketika
gadis ini bolak-balik tujuh kali naik turun dan menjerit
berteriak memanggil-manggil kekasihnya akhirnya
ditemukannya sepucuk surat dari kekasihnya itu yang
menyatakan dia menyambut musuh di luar, lewat jalan lain.
“Maaf, aku tak dapat tinggal di liang tikus ini dan mati
secara konyol. Kalau kau kembali ke tempat ini sebaiknya
keluarlah dari mulut terowongan yang kau temukan itu,
Hong-moi. Tempat itu jauh di luar lembah dan tak mungkin
musuh menemukan dirimu. Aku akan menghadapi musuhmusuhku,
membunuh atau terbunuh, Kalau anak itu lahir,
laki-laki, namakanlah dia Giam Liong, Naga Maut, atau
Naga Pembunuh! Tapi kalau anak itu perempuan, terserah
kau!”
Wi Hong menjerit. Akhirnya dia sadar bahwa dia telah
ditipu kekasihnya Itu. Golok Maut sengaja
menyingkirkannya dan membiarkan dia selamat. Diri
sendiri maju menghadapl musuh dan berteriaklah Wi Hong
dengan histeris. Dan ketika dia melempar keranjang buahbuahan
Itu dan memaki-maki kekasihnya maka gadis ini
pulang balik di terowongan bawah tanah, beberapa kaii
menemui jalan buntu atau persimpangan-persimpangan
pendek di mana semuanya itu merupakan jalan mati. Dia
tak tahu ke mana kekasihnya mendapatkan jalan keluar.Wi
Hong sadar bahwa GolokMaut sengaja pergi meninggalkan
dirinya, maju menghadapi musuh dan dia sudah diminta
untuk keluar. Jalan terowongan itu memang sudah
ditemukan dan memang mudah bagi gadis ini kalau dia
mau keluar. Tapi karena GolokMaut meninggalkan dirinya
dan Wi Hong marah serta gusar akhirnya gadis ini hanya
kembali ke tempat yang itu-itu juga, tak pernah ke tempat
yang lain dan robohlah Wi Hong tersedu-sedu. Gadis baju
merah ini tak dapat menahan dirinya lagi dan terguling
mengguguk-guguk. Kekasihnya menghadapi musuh di luar,
dia sendirian dan tak mungkin kekasihnya itu selamat lagi.
Ah, lima ribu orang akan mengeroyok pemuda yang
dicintainya itu. Dan karena Wi Hong marah serta bingung
tak dapat menemukan jalan keluar Si GolokMaut akhirnya
gadis ini pingsan dan roboh terguling. Ke manakah Golok
Maut? Benarkah menyambut musuh? Benar, dan Golok
Maut memang sedang mengamuk, dahsyat dan
mengerikan.Mari kita lihat!
ooooo0de0wi0ooooo
Seperti diketahui, pemuda ini menyuruh Wi Hong
berjalan lurus untuk akhirnya berbelok kanan kiri tujuh kali
menuruni anak-anak tangga di terowongan bawah tanah
itu. Golok Maut tampak berkilat-kilat dan gembira
mukanya. Ada perasaan puas bahwa gadis baju merah itu
akhirnya tunduk juga kepadanya, dapat dibujuk. Dan
karena Wi Hong tak melihat kilatan sinar mata ini dan
betapa cahaya aneh akhirnya mencorong dan memancar
dari pemuda itu maka Golok Maut terhuyung terseok
melangkah ketika kekasihnya pergi.
Golok Maut menghampiri sebuah dinding di sudut,
mengetuk-ngetuk dinding-dinding di situ dan akhirnya pada
dinding sebelah kiri dia mendengarkan suara berdengung.
ltulah tanda tempat kosong di sana dan pemuda ini segera
meraba-raba. Dan ketika sebuah tonjolan di celah-celah
batu dapat dltemukannya dan benda ini ditarik tiba-tiba
terdengar suara bergemuruh dan sebuah batu hitam besar
yang lain terbuka.
“Dhrr!”
Suara itu mirip getaran bumi yang diinjak ratusan gajah.
Dinding batu itu membuka dan tampaklah sebuah tempat
lain di situ. Golok Maut menyalakan lilin dan sebuah anak
tangga yang bersusun ke atas tampak, tinggi dan curam.
Bagian atasnya tak kelihatan karena masuk di sebuah celah
atau guha batu yang naik membentuk sudut tajam. Dan
ketika Golok Maut memasuki tempat itu dan menarik
kembali tonjolan di dalam tempat baru ini maka dinding
pun bergemuruh dan menutup kembali. ltulah sebabnyaWi
Hong tak menemukan tempat ini meskipun dia sudah lari
berputaran ke sana ke mari, bahkan menuju ke atas di mana
puncak atau tangga terowongan itu sudah dihancur kan
mulutnya oleh gempuran si Kedok Hitam. Dan ketika
Golok Maut mulai mendaki dan lilin di tangannya sering
bergoyang-goyang maka delapan sembilan kali pemuda ini
roboh dalam usahanya mendaki anak tangga.
Perjalanan itu berat bagi Si GolokMaut. Dia benar-benar
kehabisan tenaga tapi semangatnya yang luar biasa sungguh
mengagumkan semua orang. Berkat semangat dan
kemarahannya yang besar inilah dia mampu
mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, napas memburu dan
sering dia berhenti kalau dada terasa sesak. Empat kali
batuk-batuk darah tapi akhirnya dia meneruskan
perjalanannya juga. Jeritan atau teriakan Wi Hong
didengarnya sayup-sayup sampai. Mereka sebenarnya
bersebelahan karena hanya terpisah oleh dinding
terowongan yang tebal. Namun ketika Golok Maut tak
menghiraukan panggilan itu dan betapa berkali-kali dia
harus menyumbat telinganya agar jeritan atau teriakan Wi
Hong tak didengarnya akhirnya pemuda ini sampai juga di
puncak tebing di dekat batu hitam besar yang digempur
landasannya oleh si KedokHitam.
Golok Maut susah payah keluar dari tempat ini, muncul
di sebuah batu hitam yang lain dan musuh tentu saja tak
akan menyangkanya. Di tempat itu ada empat batu besar
yang masing-masing terletak di sudut, berdiri tegak sesuai
arah empat mata angin, timur-barat-selatan-dan utara.
Siapapun tak menyangka bahwa pada dasarnya batu-batu
hitam itu adalah penutup terowongan bawah tanah karena
di bawah batu-batu besar itulah terdapat guha atau mulut
terowongan. Golok Maut telah mempergunakan satu di
antaranya dan tiga yang lain selamat, artinya tak diketahui
si Kedok Hitam itu dan anak buahnya. Lembah Iblis
memang sebuah tempat yang penuh misteri. Dan ketika
Golok Maut keluar dari situ namun Kedok Hitam dan
kawan-kawannya sudah turun memutari lembah, karena
akan mencegat Golok Maut di bawah maka pemuda atau
tokoh bercaping ini mendengus-dengus.
Golok Maut merah padam dengan mata berkllat-kilat
penuh bahaya. Hawa pembunuhan tampak di sorot
matanya itu dan orang pasti akan gentar melihat pemuda
ini, apalagi Golok Penghisap Darah dllipatnya di bawah
siku. Sewaktu-waktu senjata ini akan bergerak dan korban
pasti akan jatuh, begitulah biasanya Golok Maut beraksi.
Dan ketika pemuda ini tertegun karena musuh turun di
bawah sana maka yang terdengar hanyalah teriakan atau
kegaduhan di bawah lembah. Perajurit atau pasukan besar
itu tampak berhamburan keluar lembah, mereka disuruh
mencegat dan mengepung di empat penjuru. Golok Maut
terbelalak tapi tiba-tiba menggeram. Dan ketika bawah
tebing menjadi bebas karena semua orang menganggap dia
tak ada di situ maka dengan terhuyung tapi cepat pemuda
ini bergerak kebawah.
Tak ada orang mengira bahwa orang yang dicari-cari
justeru turun ke bawah. Golok Maut kembali muncul di
atas dan kini dengan hati-hati namun cepat dia menuruni
tebing, hal yang akan membuat orang merasa heran dan
tercengang, karena Golok Maut sebenarnya terluka dan
tidak dalam kondisi sehat.Wajahnya yang mulai kehitaman
tampak menunjukkan bahwa racun memang mulai bekerja,
tak diperduiikan dan turunlah pemuda itu melewati bagianbagian
yang terjal, sering terpeleset namun Golok Maut
memang betul-betul tokoh yang hebat. Berpegangan dan
menancapkan goloknya di tempat-tempat tertentu sering dia
selamat. Dan ketika musuh berteriak-teriak di luar sana dan
pemuda ini merayap ke bawah akhirnya tebing yang
dituruni susah payah itu berhasil dilampaui.
Golok Maut sudah di bawah. Muka yang beringas dan
wajah yang kehitaman sungguh membuat tampangnya
semakin menyeramkan. Pemuda ini mendesis dan
mengepalkan tinjunya. Dan ketika dia mulai menyelinap
dan terhuyung keluar lembah maka yang pertama-tama
dicari adalah si KedokHitam itu.
Orang tak tahu siapa laki-laki ini namun Golok Maut
tahu. Geraman dan kepalan tinjunya itu sudah
menunjukkan betapa yakin dan percayanya pemuda ini
pada lawan yang menghantamnya dengan pukulan Kimkong-
ciang itu. Di dunia ini tak ada orang lain yang
memiliki pukulan itu kecuali dia dan lawan yang amat
dibencinya, musuh yang dicari-carinya dan selalu
menyembunyikan diri namun yang agaknya kali ini akan
membuka kartu, berkedok di balik saputangan hitam
namun Golok Maut sudah dapat menduga siapa lawannya
itu. Musuh yang dicari-cari! Namun ketika dia terhuyung
berindap-indap dan dengan hati-hati serta tidak bersikap
tolol dia selalu waspada terhadap banyaknya pasukan yang
ada di situ maka GolokMaut tak mudah menemukan orang
yang dicarinya ini.
Ada beberapa hal yang membuat Golok Maut bertindak
seperti itu, menentang bahaya. Tak takut mati dan siap
mengadu jiwa. Pertama adalah karena tak mungkin lagi dia
mencari Sian-su setelah empat hari terkepung musuh, hal
vang mengakibatkan racun semakin masuk ke dalam
tubuhnya dan tak mungkin diobati iagi. Kedua adalah
karena dia ingin menyelamatkan kekasihnya. Atau lebih
tepat, menyelamatkan anak di kandungan Wi Hong karena
kelak anak itulah yang diharap meneruskan cita-citanya,
perjuangannya. Golok Maut telah bertekad bahwa hari ini
adalah hari yang sebesar-besarnya dia membunuh musuh.
Ajal sudah dekat dan pemuncuian Mo-bin-lo yang
menuntut perbuatannya tak dapat dihindari lagi. Selamat
dari Lembah Iblis tak mungkin selamat dari racun yang
sudah memenuhi tubuhnya. lnilah yang membuat Golok
Maut mata gelap dan bersumpah untuk menghadapi
musuh-musuhnya. Daripada dia mati di terowongan bawah
anah lebih baik dia mati di luar. Di situ setidak-tidaknya dia
akan membunuh ratusan orang, paling tidak puluhan.
Orang orang yang akan dibabat karena mereka itu adalah
antekCoa-ongya, karena tentu atas suruhan pangeran itulah
pasukan besar ini berangkat. Dan karena Mindra dan
kawan-kawannya ternyata benar ada di situ dan ini
merupakan petunjuk bahwa dugaannya tidak meleset maka
Golok Maut ingin melampiaskan dendam dan
kebenciannya di hari terakhir itu.
Di sudah tak mungkin hidup iebih lama lagi. Musuh
terlalu banyak dan tak mungkin sendirian saja dia
menghadapi lima ribu orang, betapapu hebatnya dia,
betapapun saktinya. Dan karena racun sudah memasuki
tubuhnya dan pertemuan dengan Sian-su juga tak mungkin
dapat diharapkan lagi maka yang ada di hati Si GolokMaut
ini adalah tekad membunuh, mati bersama musuh!
“Aku akan menghabiskan seberapa saja musuh-musuh
yang dapat kubabat. Tapi yang paling kuingini adalah si
Kedok Hitam danMo-ko serta tiga temannya itu!”
Tekad ini sudah dicanangkan. Golok Maut tak perduli
lagi pada keseiamatan dirinya dan dia merasa bebaa karena
Wi Hong telah dijebaknya di terowongan bawah tanah.
Kekasihnya itu akan selamat dan untuk sementara waktu
Wi Hong tak akan dapat keluar. Dia dapat bebas bergerak
dan semua sepak terjangnya tak mungkin akan dihalangi
iagi. Bersama Wi Hong sungguh repot baginya. Dia harus
melindungi kekasihnya itu di samping melindungi dirinya
sendiri, hal yang terlampau berat baginya. Maka ketika hari
itu dia muncui di atas tebing dan kini turun ke bawah maka
yang dicari GolokMaut adaiah si KedokHitam itu.
Namun hal ini sulit. Di sekeliling lembah yang banyak
ditemui adalah ribuan orang-orang itu. Pasukan inilah yang
paling hiruk-pikuk mencaci-maki namanya. Mereka
berteriak-teriak dan memanggil dirinya, berlarian dan
menjaga sekeliling lembah dengan ketat. Dan ketika dia
menyelinap dan terhuyung mencari sana-sini akhirnya yang
ditemukan adalah si kakek iblis Hek-mo-ko!
“Kalian jangan berteriak-teriak, salah-salah dia malah
menyembunyikan diri! Kalian diam saja, bergerak di tempat
dan kepung dengan rapat. Kaiau dia muncul, nah, beri tahu
padaku. Biar aku yang menghadapinya!”
Golok Maut mendesis. Kakek itu bicara dengan
sombong di depan perajurit-perajurit itu dengan
mengatakan dialah yang akan menghajar dan membunuh
Golok Maut. Perajurit hanya diminta mengepung dan
jangan ribut-ribut. Golok Maut nanti takut dan salah-salah
menyembunyikan diri, hal yang membuat pemuda ini
bergetar keras dengan mata berapi-api. Dan ketika Hek-moko
melompat pergi dan kebetulan berkelebat ke kiri, mau
memasuki hutan kecii tiba-tiba Golok Maut bergerak dan
sudah berjungkir baiik di atas kepala si kakek berkulit hitam
itu.
“Mo-ko, aku di sini!”
Hek-mo-ko kaget bukan main. Dia baru saja sesumbar
bahwa kalau Golok Maut muncul biarlah dia yang
menghadapi. Para perajurit diminta menonton dan dialah
yang akan menghajar Si Golok Maut itu. Maka begitu
orang yang dibicarakan datang dan muncui membentaknya
tiba-tiba kakek ini seperti ketemu hahtu.
“Haiyaa… eitt, plak-dess!”
Hek-mo-ko mencelat. Kaget dan terkejut oieh munculnya
Golok Maut tiba-tiba kakek ini tak dapat berbuat banyak.
Golok Maut menggerakkan goloknya yang mengerikan itu
dan kakek ini melempar tubuh bergulingan. Tapi ketika
bahu pundaknya masih tersampok juga dan darah
memuncrat dengan deras tiba-tiba kakek ini bergulingan
menjauh dan berteriak-teriak.
“Heii… dia di sini! GolokMaut di sini!”
Gegerlah perajurit yang dekat dengan si kakek iblis ini.
Mereka baru saja disuruh diam dan mengepung tempat itu,
tak tahunya Golok Maut muncul dan sudah menyerang si
kakek hitam. Dan ketika Mo-ko bergulingan berkaok-kaok
dan mereka tentu saja terkejut dan marah maka mereka
berteriak dan berhamburan menolong kakek itu. Tapi begitu
Golok Maut berkelebat dan mengayun senjatanya tiba-tiba
sebelas tubuh telah roboh terpotong menjadi dua.
“Ke marilah, dan aku akan mengantar kalian ke
akherat…. eras-crass!”
Para perajurit menjadi gentar. Mereka berteriak tertahan
dan surut mundur, yang ada di depan tiba-tiba tak berani
maju lagi dan yang ada di belakang justeru memutar
tubuhnya, berteriak dan menyuruh teman yang lain maju,
lucu! Dan karena mereka tak ada yang menyerang dan Moko
berkaok-kaok serte berteriak sendirian maka terhadap
kakek inilah Si GolokMaut menggerakkan senjatanya.
“Sekarang kau, Mo-ko. Kau harus mampus menyusul
saudaramu…. crat-aduh!” Mo-ko kembali berteriak, baru
saja melompat bangun tahu-tahu sudah dikejar dan tak
dapat menangkis. Ngeri dia menangkis golok yang
berkeredep seperti perak itu. Dan ketika kakek ini kembali
bergulingan dan berkaok-kaok maka pasukan berteriakteriak
memanggil temannya, yang ada di empat penjuru
segera menoleh dan mereka berserabutan datang. Mo-ko
dikejar dan terus menerima tikaman-tikaman berbahaya,
tongkat sudah dicabut tapi putus dibabat golok yang iuar
biasa tajam itu. Dan ketika satu dua perajurit mencoba
maju namun selalu terbabat roboh, terjengkang putus dan
darah membanjir di mana-mana maka orangpun pucat
sementara Mo-ko sendiri menjadi ngeri dan gentar.
“Bantu aku. Bodoh kalian. Bantu aku!”
Namun siapa yang berani membantu? Gerakan Si Golok
Maut yang selalu menyambar-nyambar dan merobohkan
siapa saja yang datang mendekat cukup membuat nyali
orang-orang itu kuncup.Mereka meiihat betapa hebatnya Si
Golok Maut ini dan gerakan-gerakannya yang gemetar
namun masih berbahaya cukup membuat orang-orang itu
mengerti bahwa tokoh ini masih terlampau berbahaya,
biarpun katanya terluka dan lemah. Dan ketika mereka
mundur dan terus mundur sementara Mo-ko dikejar dan
didesak Si Golok Maut akhirnya satu jeritan tinggi
meluncur dari kakek ini ketika tangannya terbabat putus.
“Augh…!”
Raungan itu bagai srigala terluka. Mo-ko terlempar dan
roboh terguiing-guling, darah menyembur dari lukanya dan
pucatlah kakek itu karena Golok Maut masih mengejar
juga. Dan ketika dia mengeluh dan meiihat sinar putih
menukik menyambar dadanya tiba-tiba kakek ini lupa dan
menggerakkan tangan satunya.
”Crass!”
Tangan itu putus. Seperti membabat agar-agar saja tahutahu
Golok Penghisap Darah sudah menyentuh tangan
kakek itu, bergerak luar biasa cepat dan terlemparlah
kutungan tangan yang penuh darah. Mo-ko lupa dan ngeri
serta ketakutan hebat, menangkis dan tentu saja dia
terpapas kutung. Dan ketika kakek itu berteriak sementara
orang-orang yang ada di. situ menonton dengan jantung
terkesiap maka Golok Maut berkelebat dan mengeluarkan
satu bentakan dingin. . “Sekarang kau roboh!”
Mo-ko tak dapat menghindar. Sekarang semuanya sudah
terlambat dan jalan lari untuknya juga sudah tak ada lagi.
Dengan kedua tangan yang buntung tentu saja kakek ini tak
dapat berbuat apa-apa. Dengan tubuh sehat saja dia masih
bukan tandingan lawan, apalagi sekarang. Maka begitu
Golok Maut berkelebat dan Mo-ko membelalakkan mata
tahu-tahu sinar putih menyambar dan… kepala kakek iblis
ini terpenggal dari tubuhnya.
“Bluk!”
Tubuh itu mandi darah. Tubuh itu sudah tidak berkepala
lagi dan darah segar menyemprot bagai pancuran. Mo-ko
roboh binasa dan tewas seketika. Kakek iblis itu tak sempat
iagi berteriak dan gaduhlah pasukan meiihat robohnya
kakek ini. Dan ketika mereka ribut-ribut dan terbelalak oleh
kejadian itu maka GolokMaut membalik dan…. menerjang
mereka.
“Sekarang kalian, mampuslah!”
Tujuh tubuh terjengkang tak sempat mengelak. Mereka
itu adalah orang-orang yang terlambat memutar tubuhnya.
Golok Maut teiah mengayunkan senjatanya dan tujuh
kepala menggelinding hampir bersamaan. Dan ketika
mereka roboh sementara yang lain menjerit lintang-pukang
maka Golok Maut mendesis dan berkelebatan di antara
orang-orang ini, menggerakkan senjatanya dan satu per satu
kepala orang-orang itu dibabat terlepas, roboh dan
menggelinding menyusul kepala tujuh orang pertama ini,
juga kepala Mo-ko yang masih mendelik dan bergoyanggoyang
di sana. Mengerikan! Dan ketika puluhan orang
menjadi korban sementara pasukan menjadi panik dan
gentar maka Golok Maut menggeram-geram dan
memanggil-manggil nama si KedokHitam.
“Panggil dia itu ke mari. Suruh berhadapan dengan aku.
Atau kalian semua binasa dan tempat ini akan kujadikan
lembah bangkai!”
Semua pucat. Mereka akhirnya tunggang-langgang
karena Golok Maut benar-benar masih mengerikan dengan
senjatanya itu. Meskipun gemetar dan terhuyung-huyung
namun bagi mereka yang termasuk orang-orang lemah para
perajurit ini bukaniah tandingannya. Dan ketika seratus
kepala menggelinding seperti kelereng-kelereng kecil yang
berlumuran darah maka dari arah timur terdengar bentakan
dan seruan.
“Golok Maut, hentikan sepak terjangmu. Ini aku
datang!”
Sesosok bayangan hitam berkelebat. Golok Maut
bersinar-sinar dan lima tubuh kembali dipisahkan
kepalanya, roboh dan ditendang mayatnya. Dan ketika
bayangan itu berkelebat cepat dan sudah tiba di depannya
maka dari kiri dan kanan juga muncul Mindra dan kawankawannya.
“Keparat,Mo-ko telah dibunuh!”
Golok Maut tertawa aneh. Tiba-tiba pemuda bercaping
ini bergoyang-goyang ketika meiihat kedatangan musuhnya
itu. Mindra dan kawan-kawan dipandang dengan mata
berapi dan boia mata itu seakan terbakar. Tapi ketika
berhenti pada si Kedok Hitam ini di mana laki-laki atau
tokoh misterius itu tertegun oleh kematian Mo-ko maka
GolokMaut berseru, serak dan menyeramkan.
“Manusia hina, bukalah kedokmu. Aku tahu siapa kau!”
“Hm!” si Kedok Hitam, yang sadar dan hilang kagetnya
tiba-tiba tersenyum dingin, baias memandang Si Golok
Maut ini. Laiu ketika dua mata beradu dan masing-masing
meiihat dendam dan kemarahan di pihak yang lain maka
Kedok Hitam mendengus. “GolokMaut, akupun tahu siapa
sesungguhnya dirimu. Hm, kau membunuh-bunuhi marga
she Coa dan Ci. Kau bersikap telengas pula kepada kerabat
istana. Kau tak tahu diri, pemberontak dan pantas sebagai
putera bekas seorang pemberontak! Nah, aku di sini dan
akulah sekarang yang akan menghabisi jiwa-mu!”
“Ha-ha, kau sanggup? Majulah, dan buka kedokmu kalau
kau jantan, Kedok Hitam. Jangan bersembunyi dan
perlihatkan dirimu di depan semua orang! Hayo, kutantang
kau dan akupun akan membuang capingku ini!” Golok
Maut bergerak, membuka capingnya dan tampaklah wajah
seorang laki-laki gagah berusia sekitar tiga-puluh enam
tahun. Wajah yang tampan namun dingin kini
diperiihatkan untuk pertama kali dan mungkin terakhir
kalinya di depan umum. Golok Maut tak takut-takut
menyembunyikan dirinya dan terlihatlah siapa kiranya
tokoh yang selama ini ditakuti orang itu. Dan ketika caping
itu dibuang dan Golok Maut menantang agar lawan
membuka kedoknya maka Kedok Hitam terbelalak dan
mundur selangkah.
“Benar… hm, benar kiranya kau ini!” desisan atau katakata
perlahan itu terdengar dari mulut si Kedok Hitam.
Golok Maut menantangnya untuk memperlihatkan wajah
masing-masing namun nampaknya laki-iaki ini ragu. Kedok
Hitam mengerutkan kening dan tertawa. Dan ketika dia
menggeleng dan tersenyumdingin maka dia berkata,
“Golok Maut, kau gagah. Tapi aku, ah … biarlah aku
begini. Bukankah kau tahu siapa aku? Ha-ha, tanpa
membuka kedok pun kau sudah mengenal aku, Golok
Maut, dan ini tak perlu diperpanjang lagi. Nab, kau
menyerahiah baik-baik dan kutangkap atau aku akan
membunuhmu dan kepalamu kugantung di kota raja!”
“Kau jahanam busuk, pengecut!” dan Golok Maut yang
berkelebat dengan penuh kebencian tiba-tiba menusuk dan
menikam tenggorokan lawan, dikeiit dan menyerang lagi
namun lawan menghindar dengan mudah. Dan ketika
GolokMaut akhirnya membentak dan melengking-iengking
maka pemuda itu sudah menyerang lawannya bertubi-tubi,
cepat dan ganas namun si Kedok Hitam selaiu menghindar.
Namun ketika sebuah tendangan mencuat dari kaki kin
GolokMaut tiba-tiba lawan terlempar dan terbanting.
“Dess!”
Si Kedok Hitam mendesis. Dia ternyata kalah cepat dan
tendangan itu membuatnya terguling-guling. Tapi ketika
Golok Maut mengejar dan menusuknya lagi tiba-tiba dia
sudah menyelamatkan diri dengan cara melempar tubuh ke
kanan, menjauh dan kaki pun balas menendang. Hal ini tak
diduga dan ganti Si Golok Maut terpelanting. Dan ketika
lawan meloncat bangun dan para perajurit bersorak maka
Mindra dan Sudra maupun kakek Yalu tertegun.
Mereka heran melihat keluarbiasaan Si Golok Maut itu.
Tapi mereka merasa lebih heran dan terkejut lagi karena
Kedok Hitam seolah tahu ke mana golok akan menyambar.
Dan ketika Kedok Hitam tertawa dan mencabut sebatang
golok yang berkilat kebiruan maka Giam-to-hoat, Silat
GolokMaut sudah dilakukan laki-laki itu dan bertandinglah
keduanya dengan hebat. Bacok-membacok namun Kedok
Hitam berhati-hati dengan senjatanya itu, tak berani keras
lawan keras karena golok di tangannya ternyata kalah
ampuh, terpapas dan untuk selanjutnya laki-iaki ini
melayani lawan dengan cara berkelebatan ke sana ke mari,
terbang dan berputaran dan Golok Maut pun mengikuti
gerakan lawan. Dan ketika keduanya sudah melakukan
serangan-serangan cepat dan golok di tangan keduanya
bergulung naik turun maka tampak dua cahaya putih dan
biru berseliweran saling cengkeram.
“Crang-bret!”
Golok Maut terhuyung. Lawan terbabat ujung goloknya
lagi namun dia kalah tenaga, terdorong dan tergetar tiga
langkah. Namun ketika Golok Maut maju lagi dan
menyerang lawannya maka dua cahaya biru dan putih itu
sudah menari-nari lagi di udara.
“Crik-crangg!”
Golok Maut melepas hantaman tangan kiri. Lawan
terkejut dan mengelak ke kanan namun pukulan itu
mendarat juga, menghantam namun sesuatu di baiik baju si
Kedok Hitam rupanya melindungi laki-laki ini. GolokMaut
terbelalak karena lawan ternyata mengenakan baju besi, dua
kali membabat lagi namun bacokannya tak berhasil
sepenuhnya. Lawan hanya terdorong dan baju pundaknya
robek, memperiihatkan semacam benda mengkilap yang
bukan lain baju besi yang melindungi lawannya itu. Dan
ketika lawan terbahak dan maju membalas tiba-tiba Golok
Maut mendapat pukulan Kim-kong-ciang.
“Dess!”
Golok Maut terpental. Sekarang musuh bersorak-sorai
dan gegap-gempitalah tempat itu karena Kedok Hitam
mendesak lawannya. Golok Maut memang berkali-kali
terhuyung kalau terlibat pertemuan tenaga, bukan
pertemuan senjata karena dengan iicik dan cerdik si Kedok
Hitam itu seialu mengelak kalau dua golok hendak beradu.
Dan karena lawan berputaran semakin cepat sementara
pukulan-pukulan Kim-kong-ciang menyelinap atau
bersembunyi di antara jurus-jurus Ciam-to-hoat akhirnya
Golok Maut yang memang sudah luka-luka dan keracunan
mulai keteter, dua tiga kali menerima pukulan lawan dan
setiap kali kena tentu dia menggigit bibir. Ada sesuatu yang
menyakitkan di situ, yakni ilmu pukulan yang digunakan
lawan, Kim-kong-ciang itu. Dan ketika lawan tertawa-tawa
sementara Golok Maut harus menahan dua rasa sakit
sekaligus, satu di hati sedang yang lain di badan maka dia
memutar golok di tangannya dengan cepat sekali.
“Orang she Coa, kau jahanam busuk. Kau pencuri dan
maling rendah!”
“Ha-ha, tak perlu berkaok-kaok, Golok Maut. Sekarang
riwayatmu akan tamat dan tak perlu kau berteriak-teriak!”
“Aku akan membunuhmu. Aku… ah!” dan Golok Maut
yang marah membentak gusar tiba-tiba melakukan gerak
tipu yang disebut Golok Siluman Menyelam Di Air Laut,
memecah ujung goloknya menjadi belasan dan lawan
tampak berseru keras karena gerakan golok sukar diikuti.
Tapi ketika dia juga melengking tinggi dan melakukan
serangan yang sama, membentak dan menggetarkan
goloknya maka apa boleh buat senjata di tangannya harus
menangkis senjata di tangan lawannya itu.
“Cranggg…!”
Bunga api berpijar menyilaukan mata Golok Maut
terpental tapi lawan juga melempar tubuh bergulingan.
Golok di tangannya putus dan nyaris saja Golok Penghisap
Darah di tangan Si Golok Maut itu membelah jarinya.
Golok di tangan mereka berdua bertemu tapi golok di
tangan Si Golok Maut memang amat luar biasa tajamnya,
membelah dan langsung menyambar jari-jari lawan yang
memegang golok. Senjata di tangan si Kedok Hitam itu
terbelah dari atas ke bawah, persis seperti sapu lidi yang
dibelah pisau cukur. Dan ketika golok terus menyambar
sementara golok di tangannya sendiri sudah terbelah dan
menganga seperti daun dibelah pisau maka si Kedok Hitam
melempar tubuh bergulingan namun kakinya bergerak dari
bawah menendang selangkangan lawan, meleset dan
mengenai paha namun itu cukup membuat Golok Maut
terdorong mundur. Golok Maut tak dapat mendesak lagi
karena lawan melempar tubuh bergulingan. Tapi ketika
lawan meloncat bangun dan terbelalak memandangnya,
marah dan gusar tiba-tiba laki-laki ini membentak dan
mengeluarkan senjata lainnya, sebuah trisula dan dengan
senjata ini dia menerjang maju. Kedok Hitam mainkan
senjata trisulanya ini dan ternyata dia adalah laki-laki yang
pandai mainkan senjata apa pun. Kiranya Kedok Hitam
adalah seorang yang mahir mainkan delapanbelas macam
jenis senjata, karena gerakan trisula itu segera berobahrobah
seperti pedang atau tombak, juga menukik atau
menyambar seperti elang rajawali dalam permainan ganas.
Tapi ketika semua gerakan-gerakan dasarnya selalu
bertumpu pada gaya serangan golok dan trisula itu juga
membabat atau menusuk tiada ubahnya golok tajam maka
si Kedok Hitam ini ternyata tak dapat meninggalkan ilmu
silat Giam-to-hoat, dua tiga kali menangkis dari samping
dan setiap kali tangkisan tentu disertai pukulan tangan
kirinya. Pukulan bersinar emas selalu mengejutkan Golok
Maut karena dia pasti tergetar, kacau dan terdorong karena
untuk mengadu pukulan begini jelas sinkangnya kalah kuat.
Tenaganya sudah susut banyak dan dia melulu
mengandalkan kehebatan Golok Penghisap Darah itu. Dan
ketika berkali-kali pukulan Kim-kong-ciang mengganggu
dirinya karena lawan yang tahu kelemahannya selalu ingin
mengadu tenaga bukannya senjata maka Golok Maut
mendesis-desis mengutuk lawannya itu.
“Pangeran keparat, kau licik dan curang. Kau benarbenar
jahanam!”
“Ha-ha, boleh maki sepuas-puasmu, Sin Hauw. Tapi aku
tak akan mengadu senjata dan tetap akan mengajakmu
mengadu tenaga. Awas, terima pukulan ini dan kau
robohlah…. dess!” si Kedok Hitam mempergunakan
kesempatan, menangkis golok dari samping dan secepat
kilat dia melepas Kim-kong-ciangnya itu. Golok Maut tak
dapat mengelak kecuali menggerakkan tangannya pula,
melepas dan menerima pukulan. Dan ketika dua Kim-kongciang
bertemu di udara tapi Golok Maut terlempar maka
pemuda ini terguling-guling dan seorang perajurit yang
rupanya hendak mencari nama tiba-tiba bergerak menusuk
Si GolokMaut.
“Awas!”
-ooo0dw0ooo-
Jilid : XXVII
GOLOKMAUT menunjukkan kehebatannya.
Dalam keadaan terdesak dan bergulingan seperti itu lalu
tiba-tiba diserang seorang musuh yang licik tiba-tiba
pemuda ini bergerak luar biasa cepatnya. Golok di
tangannya itu melejit dua kali dan terdengarlah pekikan
ngeri ketika perajurit yang menyerang itu dibabat
senjatanya. Dan ketika sinar putih itu masih menyambar
dari kiri ke kanan tiba-tiba perajurit itu sudah roboh
terjengkang karena pinggangnya putus dibabat GolokMaut.
“Crass!”
Pemandangan ini mendirikan bulu roma. Golok Maut
dalam keadaan seperti itupun ternyata masih dapat
membunuh.
Orang yang menyerangnya kebetulan orang biasa dan
tentu saja perajurit itu mencari penyakit.
Si Kedok Hitam sudah membentak dan memperingatkan
perajurit itu, terlambat dan perajurit yang mau mencari
nama ini justeru menjadi korban. Tewas dengan keadaan
begitu mengerikan.
Dan ketika Golok Maut meloncat bangun dan semua
mata terbelalak ngeri memandang pemuda ini maka Kedok
Hitam berkelebat dan mengutuk musuhnya itu, memaki
dan mengumpat tak keruan dari trisula di tangannya
bergerak maju mundur bagai patukan rajawali, ditangkis
dan dikelit tapi tangan kiri menyambar.
Dan ketika Kim-kong-ciang atau Pukulan Sinar Emas
mengganggu dan mendesak GolokMaut maka GolokMaut
keteter dan lagi-lagi terdesak, terhuyung dan mengelak
sana-sini karena beradu pukulan sangat berbahaya baginya.
Dia ingin mengadu senjata karena itulah kelebihannya.
Dengan Golok Penghisap Darah dia akan mampu meraih
kemenangan. Tapi ketika lawan tak pernah mengadu
senjata dan selalu ingin mengadu tenaga maka GolokMaut
yang sudah lemas ini semakin lemas keadaannya, terkuras
dan empat lima kali pukulan lawan tak dapat dielak,
terhuyung namun golok di tangannya itu masih mampu
membuat lawan berhati-hati.
Golok itu memang luar biasa karena setiap sentuhan
berarti maut, siapa pun tahu ini dan Kedok Hitam itu tak
berani mendekat. Dan ketika dia selalu mengganggu dengan
pukulan-pukulan Kim-kong-ciangnya sementara Golok
Maut terhuyung dan berkali-kali terdorong mundur
akhirnya satu pukulan telak mengenai tengkuk pemuda ini.
“Dess!”
Golok Maut terpelanting. Sejenak pemuda itu mengeluh
dan merasa matanya gelap. Dalam keadaan seperti itu pun
ia tak lupa memutar golok melindungi diri, bangkit
terhuyung dan menghadapi lawan yang kembali
mengejarnya. Dan ketika sebuah pukulan kembali mendarat
dan Golok Maut terjengkang maka perajurit bersorak dan
minta agar pemuda itu segera dibunuh.
“Habisi dia! Rampas golok mautnya itu!”
Si Kedok Hitam bersinar-sinar. Sesungguhnya dia
merasa gemas dan marah juga melihat kehebatan lawannya
ini. Golok Maut dapat bertahan padahal sesungguhnya
luka-luka, terhuyung dan jelas kehabisan tenaga tapi entah
semangat dari mana membuat lawannya itu tangguh benar.
Kalau orang lain, tentu sejak tadi roboh dan tak dapat
melawan lagi. Tapi GolokMaut ini memang luar biasa. Dihantam
dan didesak dengan pukulan-pukulan Kim-kongciang
masih juga dia dapat bertahan, tubuhnya kuat benar
meskipun sudah te banting berkali-kali. Tanda sin-kang di
tubuh lawannya ini memang luar biasa dan melindungi
tuannya dengan ba-ik. Tapi karena Golok Maut mulai
kehabis-an tenaga dan hanya berkat tekad serta
semangatnya yang membaja saja yang membuat dia
mampu menerima segala ma-cam pukulan maka si Kedok
Hitam mulai mengincar golok di tangan lawannya itu,
mendengar teriakan dan sorakan para per-wira yang juga
mengharapkan senjata di tangan Si Golok Maut dirampas.
Agaknya hanya dengan dirampasnya senjata itu sa-ja lawan
yang tangguh ini dapat diroboh-kan. Kedok Hitam mulai
mengincar senjata itu dan pukulan-pukulan Kim kongciangnya
kini mulai licik diarahkan ke ber bagai tubuh
pemuda itu, atas bawah dan kiri kanan. Dan ketika lawan
bing ng menghadapi pukulan-pukulan Kim-kong-ciangnya
sementara trisula di tangan te-tap menusuk atau menikam
ke bagian-ba-gian yang berbahaya akhirnya satu saat trisula
itu menyambar mata
“Cret!”
Golok Maut lambat mengelak. Keningnya tergores dan
tampak benar betapa pemuda ini sudah kehabisan tenaga.
Gerakannya lemah dan Golok Maut mulai batuk-batuk.
Tak ada yang tahu betapa diam-diam dada pemuda ini
serasa terbakar.
Racun di tubuh sudah mulai mendekati jantung dan
pengerahan tenaga berlebih-lebihan membuat Golok Maut
menerima akibat buruk. Racun yang naik ke atas semakin
cepat bergerak, mukanya sudah kehitaman dan orang
mengira itulah akibat kemarahan yang sangat. Tak tahu
bahwa sebenarnya Si GolokMaut ini menghadapi serangan
luar dalam. Dari luar oleh serangan dan pukulan-pukulan si
Kedok Hitam itu sedang dari dalam oleh serangan racun
yang semakin ganas.
Pemuda ini terhuyung-huyung karena dia merasakan
sakit di sekujur tubuhnya. Maka ketika trisula menusuk
mata dan gerakannya lamban dalam berkelit maka
keningnya terluka dan saat itu pukulan kiri lawan
menghantam dadanya, dikelit tapi juga kalah cepat dan dia
terbanting. Dan ketika Golok Maut merintih dan
pandangan matanya gelap tiba-tiba lawan tertawa bergelak
dan menusuk perutnya dengan satu ayunan tubuh seperti
lompatan seekor harimau jalang.
“Ha-ha, sekarang kau roboh, Sin Hauw Aku akan dapat
tenang menikmati tidur dan makanku sepanjang hari!”
Golok Maut nanar. Dalam keadaan seperti itu dia sudah
tak mampu berbuat banyak. Pandang matanya gelap dan
berkunang-kunang. Tapi begitu lawan menubruk dirinya
dan menikam dari atas ke bawah tiba-tiba dia
menggerakkan goloknya tapi celaka sekali lawan
menjentikkan sesuatu dan siku kanannya tiba-tiba
kesemutan.
Tak ada orang tahu bahwa saat itu dengan licik Kedok
Hitam melepas sebuah kerikil hitam, tepat menotok jalan
darah di siku lawannya dan tertegunlah Golok Maut oleh
kecurangan ini. Tapi karena lawan sudah bergerak dan
golok tak dapat diangkat tiba-tiba trisula itu bergerak ke
bawah dan senjata di tangannya dicongkel.
“Lepas!”
Golok Maut terkejut. Saat itu dia sudah berobah
mukanya karena siku yang terkena totokan kerikil hitam tak
dapat digerakkan. Sebenarnya, kalau saja sinkangnya masih
kuat tak mungkin lawan dapat melumpuhkan dirinya. Tapi
saat itu lain, dia kehabisan tenaga dan racun yang naik ke
atas juga bergerak semakin cepat. Apa yang seharusnya tak
terjadi tahu-tahu terjadi.
Dan ketika Golok Maut mengeluh dan tertikam
pundaknya maka Golok Penghisap Darah mencelat dari
tangannya disontek trisula si Kedok Hitam, terbang dan
meluncur di tangan laki-laki itu dan Kedok Hitam tertawa
bergelak.
Semua orang melihat betapa golok yang ampuh itu telah
berpindah tangan, Kedok Hitam telah menangkapnya dan
Golok Maut terhuyung menerima sebuah tendangan. Dan
ketika perajurit bersorak karena itu sebuah kemenangan
bagi si Kedok Hitam maka laki-laki ini melompat dan
membabat Si GolokMaut, dengan Golok Penghisap Darah
itu.
“Ha-ha, sekarang kau mampus, Sin Hauw. Inilah saat
ajalmu dan terima kemenanganku!”
Golok Maut terbelalak. Dia tak bersenjata lagi dan kini
lawan berkelebat dengan senjata miliknya itu. Golok
Penghisap Darah berkelebat menyilaukan mata dan Golok
Maut berkelit. Namun karena tubuhnya lemah dan
tenaganya habis maka golok masih menyambar juga dan….
daging pundaknya sompal.
“Crat!”
Pasukan bersorak gemuruh. Golok Maut terbanting dan
mengeluh kesakitan, disambar lagi dan terbabatlah bahu
sebelahnya oleh sambaran golok yang amat cepat. Dan
ketika dia terguling sementara darah mengucur dan pasukan
bersorak-sorai maka tiga empat kali golok berkelebatan lagi,
menyambar dan memapas tubuh pemuda ini dan berturutturut
pinggang dan paha GolokMaut terkuak lebar.
Golok Penghisap Darah itu menikmati tubuh tuannya
sendiri dan gemuruhlah pasukan oleh pemandangan ini.
Mereka meli-hat Si GolokMaut yang amat ditakuti i-tu kini
mandi darah, jatuh bangun dan a-khirnya satu babatan
membuat lengan pemuda itu buntung. Dan ketika si Kedok
Hitam terbahak gembira sementara Min-dra dan Sudra
terbelalak ngeri oleh pemandangan itu maka golok
menyambar kaki dan putuslah kedua kaki Si GolokMaut!
“Crak-craakk!”
GolokMaut roboh mandi darah. Akhirnya pemuda yang
kehilangan kaki dan sebelah lengannya itu terguling tanpa
dapat melawan lagi. Darah bergelimang menerima
tubuhnya yang terbanting tak berujud lagi. Tokoh yang
gagah ini tiba-tiba saja sudah menjadi pendek dan buntung.
Entah hidup atau mati! Dan ketika tubuh yang mandi
darah itu ditendang si Kedok Hitam maka akhirnya laki-laki
ini terbahak-bahak mempermainkan lawan. Tubuh Si
Golok Maut dibuat seperti bola, ditendang dan berdebuk
lagi disana untuk ditendang lagi, begitu berturut-turut.
Para perajurit mula-mula tersentak oleh kejadian ini.
Tubuh yang sudah tidak berdaya itu ternyata masih
mendapat siksaan demikian kejam karena berulang kali
ditendang dan ditendang, berdebuk dan akhirnya Kedok
Hitam membabat buntung lagi lengan yang tinggal sebelah
dari Si Golok Maut itu. Perbuatan ini membuat jantung
semua orang berdetak.
Betapapun, orang menjadi terguncang oleh perbuatan
yang tidak berperikemanusiaan ini.
Golok Maut yang rupanya sudah tewas masih juga
dibantai dengan cara begitu keji. Sungguh si Kedok Hitam
bukan manusia yang berperasaan. Tapi ketika laki-laki itu
membentak agar pasukan bersorak dan memuji
perbuatannya akhirnya ribuan orang itu terkejut dan
bersorak juga, mula-mula masih tertegun oleh perbuatan
yang dinilai biadab ini. Maklumlah, Si Golok Maut sudah
tinggal sepotong daging gundukan besar. Betapapun
kejamnya tokoh bercaping itu tapi perbuatan si Kedok
Hitam ini dianggap lebih kejam lagi. Dan ketika laki-laki itu
menendang tubuh Si Golok Maut yang mencelat ke jurang
maka muncullah bentakan mengejutkan yang suaranya
menggelegar menghantam dinding tebing.
“KedokHitam, hentikan perbuatanmu!”
Sesosok bayangan putih berkelebat. Para perajurit yang
tadi bersorak tiba-tiba berhenti, kaget dan yang dekat
dengan suara bentakan itu terpelanting roboh oleh getaran
suara yang demikian dahsyat. Suara atau bentakan itu
seperti dentuman gunung berapi yang sedang murka, atau
teriakan seratus ekor gajah yang membuat tanah yang
mereka pijak berderak.
Mindra dan temannya sendiri terpeleset dan jatuh
dengan kaget. Bukan main dahsyatnya bentakan itu. Dan
ketika bayangan putih ini berkelebat dan tahu-tahu sudah di
depan si Kedok Hitam maka banyak orang tertegun pucat
karena itulah Beng Tan, pemuda yang sudah diketahui
sebagai orang kepercayaan kaisar!
“Kau keji! Kau tak berjantung!” Beng Tan mengulangi
bentakannya yang dahsyat. “Kau tak berperikemanusiaan
dan jahat sekali, Kedok Hitam. Kau membunuh orang yang
sebenarnya sudah tidak berdaya. Kau pengecut, licik. Kau
melanggar perintah kaisar!”
Kedok Hitam, yang terkejut dan juga kaget oleh
munculnya pemuda ini tampak mengerutkan kening dan
mundur setindak. Dia rupanya tak menyangka pemuda ini
akan datang di Lembah Iblis, disaat dia menghajar Golok
Maut dan menghukum lawannya dengan keji.Memang apa
yang dia lakukan tadi adalah sebagai pelampiasan dendam
yang membakar hatinya. Orang tak tahu kenapa laki-laki ini
mampu melakukan kekejaman yang jauh melebihi
kekejaman Golok Maut sendiri. Selama hidupnya, Golok
Maut belum pernah mencincang musuh yang sudah
menjadi mayat! Si Kedok Hitam ini dinilai kelewatan dan
Beng Tan kini menghadapinya, membentak dan muka
pemuda itu merah padam penuh rasa marah yang besar.
Tapi ketika Kedok Hitam rupanya sudah berhasil
menguasai dirinya lagi dan laki-laki itu tertawa mengejek
maka Kedok Hitam, tokoh misterius yang hanya dikenal
sebagai orang kepercayaan Coa-ongya itu mendengus.
“Beng Tan, kau mau apa marah-marah disini? Kau mau
membela Golok Maut yang membunuh-bunuhi orang
seenaknya itu?”
“Kau tancang! Kau mendahului perintah kaisar! Sri
baginda tak menghendaki GolokMaut dibunuh. Kita hanya
dimintanya menangkap karena aku ingin menghukum Si
Golok Maut. dengan hukum negara, bukan hukum
perorangan!”
“Hm, kau tahu apa tentang hukum negara dan
perorangan? GolokMaut ini jelas manusia yang berbahaya,
Beng Tan. Dan dia telah membunuh ratusan orang kita!
Lihat mayat-mayat yang bergelimpangan itu, lihat dan ingat
mayat-mayat yang roboh terkapar di istana beberapa waktu
yang lalu pula! Apakah hukuman ini tidak cukup untuknya?
Apakah kau hendak membantu dan membela orang yang
telah dianggap pemberontak dan pengacau istana?”
“Baik, kalau begitu kutanya kau. Apakah kau melakukan
semuanya ini sudah atas petunjuk sri baginda? Apakah kau
membawa pasukan sebanyak ini sudah atas persetujuan sri
baginda? Dan kau… he!” Beng Tan tiba-tiba membentak
seorang panglima tinggi tegap bermuka merah. “Kau pergi
meninggalkan istana tanpa ijin kaisar, Gwe-goanswe. Kau
membawa pasukan sedemikian banyak hanya atas suruhan
Coa-ongya. Kau tidak bertanya kepada kaisar dan berbuat
melanggar hukum. Kau tak hormat pada junjunganmu. Kau
perwira keparat! Sri baginda menghendaki aku
menangkapmu dan menyuruh pulang semua orang disini,
dan menangkap si Kedok Hitam ini!”
“Apa?” Kedok Hitam terkejut, marah. “Kau bicara apa,
bocah? Menangkap dan membawa aku? Ha-ha, kau
melantur. Dan Gwe-goanswe tak bersalah. Dia telah
mendapat ijin dan mandat penuh dari sri baginda kaisar.
inilah buktinya!” Kedok Hitam mengebut sebuah bendera,
ditariknya keluar dari saku baju dan Gwe-goanswe
mengangguk-angguk.
Dia tadinya pucat tapi kini berseri-seri melihat bendera
itu. itulah tanda dari kaisar bahwa dia telah mendapat
persetujuan. Tapi ketika Beng Tan membentak marah dan
mengebutkan sebuah benderanya pula maka disitu terdapat
dua buah bendera bergambar naga, bendera atau tanda dari
kaisar bahwa pemegangnya adalah orang yang mendapat
titah langsung.
“Kau penipu. Kau mencuri sembarangan. Akulah yang
menerima bendera ini dan bendera ditanganmu adalah
palsu!” Beng Tan marah besar, menunjukkan benderanya
pada semua orang dan semua orang terbelalak.
Di tangan dua orang itu sama-sama terdapat sebuah
bendera kuning yang ditengahnya terdapat gambar seekor
naga dalam sulaman benang emas. Mereka yang ada di
depan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut karena pembawa
bendera sama halnya kaisar sendiri yang sedang diwakili.
Dan ketika Kedok Hitam tampak terkejut dan
membelalakkan matanya tiba-tiba orang ini tertawa aneh
dan berseru,
“Bocah, kaulah yang membawa bendera palsu. Tak
mungkin sri baginda mengutus dua orang yang sama untuk
sebuah urusan yang sama! Heh, aku tak percaya. Sebaiknya
setiap orang boleh memeriksa bendera kita siapa yang asli
dan palsu. Tunjukkan benderamu itu pada Gwe-goanswe
dan biar kuberikan pula benderaku ini pada Gwe-goanswe…
wut!” si Kedok Hitam melempar benderanya pada panglima
bermuka merah itu, ditangkap dan Gwe-goanswe
mengangguk-angguk.
Dia melihat bahwa ini adalah benar, menggapai dan
beberapa perwira pembantunya juga mendekat dan siap
memeriksa bendera itu, siapa yang benar dan salah. Dan
ketika Beng Tan dengan marah, juga melempar benderanya
dan menyuruh orang-orang itu memeriksa maka dengan
cermat setelah mencium bendera dan menjatuhkan sebelah
kaki sebagai tanda hormat Gwe-goanswe dan kawan-kawan
memeriksa. Tapi apa yang mereka katakan? Justeru bendera
di tangan si Kedok Hitam itulah yang sah adanya!
“Maaf, Ju-siauwhiap (pendekar muda Ju) barangkali
salah ambil. Bendera ini memang asli tapi tidak sah.
Bendera di tangan si Kedok Hitam inilah yang sah adanya!”
“Apa?” Beng Tan berkelebat, menyambar dua bendera
itu. “Kalian bilang benderaku palsu? Kalian menganggap
aku mencuri bendera dan kini menakut-nakuti kalian
dengan nama kaisar? Keparat, jaga mulutmu, Gwegoanswe.
Aku mendapatkan ini langsung dari sri baginda
sendiri!”
“Ha-ha, tak perlu marah-marah!” si Kedok Hitam
berseru. “Kalau Gwe-goanswe bohong biarlah yang lain
ikut memeriksa, anak muda. Jangan-jangan kau menyangka
Gwe-goanswe ini komplotanku.”
“Tapi aku membawa bendera asli. Aku tidak bohong!”
“Ha, asli boleh jadi asli. Tapi asli yang tidak sah juga
terdapat. Tanya Gwe-goanswe apa perbedaan itu!”
Beng Tan marah, tahu-tahu sudah mencengkeram
panglima muka merah ini. “Goanswe, jangan sampai
kukatakan bahwa karena rasa takutmu terhadap si Kedok
Hitam maka kau menjadi anteknya. Nah, katakan padaku
apa perbedaan dua bendera itu. Berikan buktinya!”
Gwe-goanswe menggigil, pucat pasi. “Siauw-hiap, harap
lepaskan tanganmu. Aku tak dapat bicara kalau kau cekik!”
Beng Tan gemas, melepaskan cengkeramannya dan
mendorong mundur panglima itu. “Katakan!”
Panglima ini gemetar. “Dua bendera ini sama-sama asli,”
katanya. “Tapi… tapi milik siauwhiap tidak sah!”
“Kenapa begitu?”
“Sebab…. sebab milik siauw-hiap tidak ada cap atau
tanda tangan sri baginda!”
“Heh?”
“Benar, siauwhiap. Lihatlah!” dan panglima itu yang
ketakutan menunjukkan perbedaannya lalu memperlihatkan
pada Beng Tan apa yang dimaksud. Benar saja bahwa
bendera yang dimiliki si Kedok Hitam ada tanda atau cap
kaisar sementara yang dimiliki pemuda ini tidak ada.
Bendera itu memang betul dari kaisar tapi barangkali
kaisar lupa memberikan capnya, padahal cap itu akan
merupakan bukti kuat bahwa pemegangnya adalah orang
yang benar-benar mewakili kaisar. Bendera di tangan Beng
Tan ternyata absah, tak dapat diakui. Dan karena bendera si
Kedok Hitam memang mempunyai cap atau tanda itu maka
justeru bendera si Kedok Hitam inilah yang benar-benar sah
adanya!
Beng Tan tertegun.
“Ha-ha, bagaimana, bocah? Kau sekarang tahu?”
Beng Tan merah padam. Tiba-tiba dia teringat ketika
kaisar memberikan bendera itu. Jelas diingatnya bahwa
bendera itu benar-benar diterimanya dari kaisar, bukan
barang curian. Dan kaisar, kenapa tidak memberikan tanda
capnya? Lupa? Ah, tak mungkin. Ada sesuatu yang rupanya
memang disengaja dan Beng Tan bersinar-sinar matanya.
Aneh bahwa Kedok Hitam yang belum banyak dikenal
ini tiba-tiba saja mendapat kepercayaan begitu besar.
Padahal dia, yang jelas dan terang sebagai pembantu kaisar
yang terpercaya tiba-tiba saja mendapatkan kekuasaan yang
“tidak sempurna” adanya. Ada apakah ini? Permainan
dibalik tangan? Beng Tan tiba-tiba membalik, naik pitam.
“Kedok Hitam, kau mencurigakan. Katakan padaku
bagaimana kau bisa mendapatkan bendera ini. Atau aku
akan membekukmu dan terpaksa membawamu kepada sri
baginda untuk kumintai tanggung jawab!”
Kedok Hitam terkejut. “Kau gila? Kau mau
memberontak?”
“Jangan gunakan dalih itu di sini, Kedok Hitam. Aku
selamanya membantu sri baginda dan tak pernah melanggar
perintahnya. Katakan padaku darimana kau dapatkan
bendera itu atau aku terpaksa menangkapmu!”
“Aku mendapatkannya dari Coa-ongya!”
“Dimana?”
“Di kota raja, tentu saja!”
“Kapan?”
Kedok Hitam tertegun. “Dua hari yang lalu…” suaranya
agak ragu-ragu.
“Bohong!” Beng Tan membentak. “Dua hari yang lalu
Coa-ongya tak ada di kota raja, Kedok Hitam. Kau jelas
berdusta dan menipu. Kau menyerahlah atau buka
kedokmu dan perlihatkan siapa dirimu sebenarnya!”
“Beng Tan!” Kedok Hitam tiba-tiba menghardik. “Tutup
mulutmu dan jangan lancang. Aku tak dapat memenuhi
permintaanmu yang bersifat paksa. Kalau kau mau
menangkap aku justeru keliru. Akulah yang akan
menangkapmu dan membawamu pada sri baginda
bagaimana kau bisa mendapatkan bendera itu. Kau tentu
mencurinya!”
“Keparat! Kau rupanya menyembunyikan rahasia dan
tak berani membuka kedokmu. Biarlah kulihat siapa kau
dan mari bertanding untuk melihat siapa yang licik!” dan
Beng Tan yang bergerak luar biasa cepat menyerang
lawannya tiba-tiba telah melakukan pukulan jarak jauh
menghantam. laki-laki ini, melepas Pek-lui-ciang atau
Tangan Kilat dan Kedok Hitam terkejut. Dan ketika dia
mengelak namun Beng Tan terus memburu dan
mengejarnya tiba-tiba apa boleh buat dia menangkis dan
mengerahkan Kim-kong-ciangnya.
“Dukk!”
Kedok Hitam terpental. Dahsyat dan marah tapi juga
kaget Beng Tan sudah menyerangnya bertubi-tubi.
Beng Tan kaget karena tentu saja dia mengenal ilmu
pukulan itu. Kim-kong-ciang adalah ilmu yang dipunyai
Golok Maut. Bagaimana bisa dimiliki si Kedok Hitam?
Maka ketika Beng Tan berteriak keras dan sudah melepas
pukulan sambil berkelebatan menyambar-nyambar maka
Kedok Hitam tak dapat membalas kecuali harus menangkis
saja, tiga empat kali dan selalu dia terpental. Nyata bahwa
sinkang yang dimiliki pemuda baju putih itu lebih kuat dari
pada dirinya sendiri dan tentu saja Kedok Hitam terkejut.
Dia juga marah dan memaki-maki pemuda ini agar
menghentikan pukulannya, atau dia akan mengerahkan
semua orang yang ada disitu untuk menyerang dan
membunuh pemuda ini, kalau Beng Tan tak mau
mendengar kata-katanya.
Tapi ketika Beng Tan malah mempercepat serangannya
dan pemuda itu sudah lenyap bagai burung rajawali yang
beterbangan disekeliling lawan maka Kedok Hitam tak
dapat berbuat banyak kecuali menangkis terus.
“Duk-dukk!”
Kedok Hitam menjadi gusar. Beng Tan benar-benar tak
mau menghentikan serangannya dan kini pukulan-pukulan
pemuda itu bahkan mencecar kian cepat. Pek-lui-ciang atau
Pukulan Kilat menyambar naik turun bagai petir bersahutsahutan.
Kemarahan Beng Tan tak dapat diredam lagi. Dan ketika
Kedok Hitam harus menangkis sana-sini sementara dia
terus terhuyung dan terdorong mundur akhirnya laki-laki
ini berteriak agar Gwe-goanswe dan pasukannya maju
membantu.
“Jangan ndomblong saja. Maju dan serang pemuda ini!”
dan menoleh serta mengelak sebuah serangan lain si Kedok
Hitam melotot pada Mindra, berseru, “Kau! Kenapa
bengong dan terlongong saja disitu, Mindra? Hayo serang
dan bantu aku atau kalian kuhajar dan jangan tanya dosa!”
Mindra dan temannya terkejut. Mereka memang
bengong dan terlongong memandang pertempuran itu.
Sudah tahu kelihaian Beng Tan dan mereka merasa jerih.
Bagaimana mereka berani maju kalau sebenarnya bukan
tandingan pemuda ini? Maka begitu mendengar bentakan si
Kedok Hitam dan mereka juga sudah merasakan kelihaian
laki-laki ini maka Mindra dan Sudra bingung karena baik
Beng Tan maupun Kedok Hitam sama-sama mereka takuti,
sama-sama lihai dan mereka bukan lawannya. Dan ketika
disana Gwe-goanswe juga tampak ragu dan maju mundur
maka Beng Tan membentak pada mereka.
“Siapa berani maju dia akan kuhajar. Jangan macammacam,
mundur dan biarkan aku menyelesaikan masalahku
dengan lawanku ini!”
“Keparat!” Kedok Hitam marah. “Kau harus
menghentikan seranganmu, Beng Tan, kalau kau
menghendaki orang-orang itu tak menyerangmu. Berhenti,
dan jangan seperti setan kelaparan!”
“Aku akan berhenti kalau kau memperlihatkan dirimu
Buka dan buang kedokmu!”
“Kau main paksa? Keparat, kubunuh kau, Beng Tan.
Jangan kira aku takut…. singg!” dan Golok Penghisap
Darah yang dicabut serta dipergunakan laki-laki ini
mendadak berkelebat dan menyambar tangan Beng Tan,
memapak dan menerima pukulan pemuda itu dan
terkejutlah Beng Tan karena lawan sudah mempergunakan
senjata.
Kalau senjata itu senjata biasa tentu dia tak akan takut,
dengan sinkangnya sanggup menerima dan menghancurkan
lawan. Tapi karena yang dipegang Kedok Hitam adalah
golok maut dan Golok Penghisap Darah itu bukanlah golok
sembarang golok terpaksa Beng Tan menarik serangannya
dan lawan kini tiba-tiba membalas, mengejar dan
menusuknya cepat dengan jurus-jurus Giam-to-hoat.
Silat Golok Maut diperlihatkan dan Beng Tan kaget
untuk kedua kali. Tadi Kim-kong-ciang dan sekarang Giamto-
hoat. Bukan main, si Kedok Hitam ini sungguh
misterius! Dan ketika Beng Tan mengelak namun golok
mengejar dan mengikuti larinya tiba-tiba rambutnya
terbabat dan ikat kepala pemuda ini putus.
“Bret!”
Beng Tan membelalakkan mata. Rambutnya
berhamburan dan segumpal yang terbabat itu sudah dibabat
lawannya lagi hingga menjadi potongan kecil-kecil. Kedok
Hitam tertawa bergelak dan kini lawannya itu tiba-tiba
didesaknya. Beng Tan harus banyak menghindar karena tak
mungkin dia menangkis golok seampuh itu. Dan ketika dia
terus terdesak dan lawan mainkan goloknya demikian ganas
dan beringas akhirnya apa boleh buat Beng Tan mencabut
Pedang Mataharinya dan secepat kilat menangkis Golok
Penghisap Darah yang menusuk ulu hatinya.
“Crangg!”
Golok terpental. Nyata dari adu tenaga ini bahwa dalam
hal sinkang Beng Tan memang lebih kuat. Golok bertemu
pedang dan Pek-jit-kiam atau Pedang di tangan pemuda itu
mampu menolak senjata lawan. Pedang Matahari
menerbitkan sinar yang putih terang ketika bertemu dengan
Golok Penghisap Darah, yang tiba-tiba mengeluarkan sinar
kemerahan yang mengejutkan mata. Namun karena
sinkang si Kedok Hitam kalah kuat dan golok terpental
maka Beng Tan menggeram dan kini berhasil memperbaiki
dirinya, menyerang dan membalas lawannya itu.
“Jangan takabur. Akupun mempunyai senjata
andalanku, Kedok Hitam. Dan pedang ini adalah milikku
sendiri, bukan seperti Golok Maut yang kau rampas dari
tangan pemiliknya!”
Kedok Hitam menyumpah-serapah. Akhirnya
pertandingan berjalan kembali dan pedang maupun golok
bertemu berulang-ulang. Suara crang-cring-crang-cring
memekakkan telinga dan cahaya atau sinar putih dan merah
berbaur menjadi satu, kian lama kian tebal dan akhirnya
dua orang yang sedang bertanding ini tak dapat diketahui
bayangannya lagi. Masing-masing lenyap dan terbungkus
dua sinar itu, hal yang membuat Gwe-goanswe dan lainlain
tentu saja tak dapat membantu!
Dan ketika Kedok Hitam mengumpat caci sementara
golok di tangan laki-laki itu rupanya sering terpental dan
kalah kuat maka sedikit tetapi pasti pemuda baju putih ini
kembali mendesak lawan, membuat lawan gusar dan marah
bukan kepalang dan kembali berteriak agar orang-orang
disekitarnya maju membantu.
Gwe-goanswe diumpat habis-habisan namun dengan
bingung panglima itu berkata bahwa dia tak dapat
menyerang. Dia tak tahu mana bayangan Beng Tan dan
mana bayangan si Kedok Hitam, yang lain mengangguk
dan mengiyakan pendapat yang sama. Dan karena hal itu
dapat diterima laki-laki ini sementara Pek-Jit-kiam terus
mendesak dan menekan Golok Penghisap Darah akhirnya
kepada Mindra dan dua temannya laki-laki itu melengking.
“He, kau! Masa kalian Juga tak dapat membedakan
kami, Mindra? Bukankah kalian berkepandaian tinggi dan
tidak goblok seperti Gwe-goanswe dan lain-lainnya itu?
Maju, atau kalian bakal menerima hukuman dariku!”
Mindra terbelalak. Memang dibanding Gwe-goanswe
dan pasukannya tentu saja mereka sebagai orang-orang
yang berkepandaian tinggi dapat membedakan mana
bayangan Beng Tan dan mana bayangan si Kedok Hitam.
Meskipun buram namun orang seperti kakek lihai ini dapat
melihat jelas.
Diantara gulungan cahaya dua senjata itu Mindra masih
dapat membedakan mana Beng Tan mana Kedok Hitam,
karena dua orang ini mengenakan pakaian yang berbeda
pula. Beng Tan dengan baju putihnya yang bersih
sementara lawan dengan kedok hitamnya yang menutupi
muka.
Mindra dan kawan-kawannya dapat mengikuti jalannya
pertandingan, meskipun mata mereka lama-lama berkunang
juga karena Beng Tan akhirnya menambah kecepatan
hingga tubuhnya menyambar-nyambar bagai seekor naga
menari, atau burung beterbangan yang luar biasa cepatnya.
Dan ketika Kedok Hitam mulai mengancam mereka bahwa
mereka akan mendapat hukuman kalau tidak cepat
membantu akhirnya Mindra menggigit bibir dan saling
pandang dengan temannya.
“Bagaimana? Kita maju?”
“Tak ada lain jalan. Kedok Hitam jauh lebih ganas
daripada pemuda itu. Sebaiknya kita turuti permintaannya
dan biarlah kita dihajar Beng Tan!”
“Benar,” Yalu si kakek tinggi besar juga mengangguk.
“Dihajar pemuda ini masih mending daripada dihajar si
Kedok Hitam, Mindra. Lebih baik kita maju dan turuti
permintaannya!”
“Kalau begitu marilah… wut!” dan Mindra yang sudah
menggerakkan nenggalanya menusuk kedepan tiba-tiba
membentak dan berseru keras menyerang Beng Tan, disusul
dua temannya yang lain dan berturut-turut Sudra
meledakkan cambuknya sementara kakek tinggi besar
Yalucang mencabut rodanya, menderu dan sudah
menghantam dahsyat pemuda baju putih ini. Dan ketika
Beng Tan mengelak dan tentu saja marah maka pemuda itu
menghardik orang-orang ini,
“Jangan mengeroyok, atau aku akan menghajar kalian!”
“Ha-ha, pilih saja, Mindra. Dihajar bocah ini atau
menerima hukuman dariku. Kalau kalian baik-baik, tentu
akan terus menyerang dan membantu aku. Tapi kalau
kalian berbalik sikap, hmm… contoh Si Golok Maut itu
akan menimpa diri kalian!”
Mindra jelas lebih ngeri kepada si Kedok Hitam ini.
Lawan telah mengancam dan mereka tak berani mainmain.
Ancaman Kedok Hitam itu jauh lebih menyeramkan
daripada Beng Tan. Pemuda ini lebih lembut dan lunak
menghadapi lawan, tidak seperti si Kedok Hitam yang sadis
dan kejam itu. Maka ketika mereka bergerak dan
menyerang Beng Tan, tak perduli bentakan pemuda itu
maka Kedok Hitam terbahak mengejek lawannya.
“Ha-ha, mereka lebih takut kepadaku, Beng Tan, tak
takut kepadamu. Bagus, itu benar dan aku akan
merobohkanmu!”
Beng Tan marah. Dikeroyok dan diserang empat orang
lawannya tiba-tiba pemuda itu melengking memutar
pedangnya. Pek-jit-kiam menyambar dan berobah menjadi
kilatan cahaya putih ketika bergerak dari kiri ke kanan. Lalu
ketika pedang itu melejit ke atas dan dari atas menukik
turun ke bawah maka nenggala dan cambuk serta roda di
tanganMindra dan kawan-kawannya terbabat putus.
“Crik-crik-cringgg…!”
Mindra dan kawan-kawan berteriak keras. Mereka kaget
karena Beng Tan tiba-tiba bersikap keras, mengeluarkan
semua kelihaiannya dan tapi dengan cepat serta luar biasa
pemuda itu menyambut senjata mereka.
Tidak tanggung-tanggung, tiga senjata sekaligus dan
mereka tak sempat menarik atau menghindari babatan
pedang itu. Pek-jit-kiam bergerak dengan jurus yang indah
dan amat luar biasa dan tahu-tahu roda serta nenggala dan
juga cambuk putus disambar, maklumlah, Pek-jit-kiam
setingkat dengan Golok Maut karena kedua senjata itu
sama-sama senjata ampuh.
Ketajamannya berimbang dan selama ini tak ada senjata
yang dapat mengalahkan ketajaman atau keampuhan
Golok Maut maupun Pedang Matahari. Keduanya samasama
hebat dan hanya dua senjata yang setanding itulah
yang dapat menghadapi yang lainnya. Senjata-senjata biasa
akan termakan dan tentu saja cambuk atau nenggala dan
roda bukan tandingan pedang di tangan pemuda itu. Dan
ketika pedang bergerak dan cambuk serta nenggala atau
roda di tangan Yalucang putus bagai agar-agar disambar
pisau tajam maka tiga orang kakek itu bergulingan
melempar tubuh ketika pedang di tangan Beng Tan masih
meneruskan gerakannya.
“Cet-cet!”
Tiga kakek itu mengeluh. Pundak mereka sedikit tersayat
dan dalam satu gebrakan itu saja mereka sudah dibuat
tunggang-langgang oleh pemuda baju putih ini.
Mindra dan temannya pucat dan mereka terbelalak
memandang pemuda itu. Dan ketika mereka meloncat
bangun dan gentar serta ngeri melihat pedang di tangan
pemuda itu maka Kedok Hitam terkejut melihat segebrakan
saja pembantu-pembantunya itu jungkir balik, kini
mendelong tak berani maju!
“Hei, maju lagi. Jangan takut!”
Mindra ragu. Sebenarnya sejak pertama mereka
mengenal kelihaian pemuda baju putih ini ada rasa segan
dan takut di hati. Kalau saja Beng Tan seganas GolokMaut
atau sekejam si Kedok Hitam tentu mereka tak berani
menyerang. Tapi Kedok Hitam mengancam mereka, marah
dan menyuruh mereka maju lagi. Dan karena Beng Tan
betapapun memang lebih lunak daripada Kedok Hitam
akhirnya apa boleh buat mereka bertiga maju lagi, dengan
senjata buntung di tangan dan Kedok Hitam terbahakbahak.
Laki-laki itu geli disamping merasa puas, melihat Beng
Tan melotot dan gusar memandang tiga kakek itu, yang
dinilai tak tahu diri. Tapi begitu mereka bergerak dan
Mindra kini bahkan melepas Hwi-seng-ciang untuk
membantu senjatanya maka yang lain-lain juga melakukan
hal yang sama dan kakek tinggi besar Yalucang
menyemburkan apinya lewat ilmu Hwee-kang.
“Phuppp…'”
Tiupan itu dahsyat bagi orang biasa. Beng Tan diserang
tiga pukulan dan api yang menyembur dari mulut si kakek
tinggi besar, membentak dan memutar pedangnya serta
menggerakkan tangan kirinya pula. Dan ketika pemuda itu
melepas Pek lui-ciang yang menyambut serta menangkis
Hwi-seng-ciang atau semburan api dari ketiga lawannya
maka tiga orang kakek itu terpelanting dan roboh menjerit.
“Aduh…. des-des-dess!”
Kedok Hitam terbelalak.
Dia melihat tiga pembantunya itu terguling-guling dan
mengeluh panjang pendek. Beng Tan gemas melepas Peklui-
ciangnya dan pukulan tadi dikerahkan dengan sinkang
tiga perempat bagian, membentur yang lain dan
menghantam yang lainnya lagi. Dan karena pemuda ini
mempergunakan daya tolak pukulan untuk menambah atau
mendorong ..kekuatannya sendiri maka tentu saja tiga
orang kakek itu terguling-guling, tak dapat menahan dan
mereka merasa dadanya sesak.
Kakek Yalu bahkan terbatuk dan tiupan mulutnya tadi
membalik dan memasuki rongga hidungnya, sesak napas
dan terbanting disana, kaku dengan sebagian tiupan apinya
mengenai muka sendiri, gosong! Dan ketika kakek itu
merintih tak keruan dan cepat menyelamatkan diri menjauh
maka Beng Tan menyerang dan mendesak lagi lawannya
yang berkedok ini.
“Sekarang kita berdua lagi, tak ada yang membantumu!”
Kedok Hitam pucat. Dia benar-benar membuktikan
kelihaian Beng Tan dan golok di tangannya kembali
terpental ketika bertemu pedang. Bunga api berpijar dan
laki-laki ini terhuyung karena dia memang kalah kuat. Dan
ketika Beng Tan mendesak dan terus menekannya dengan
serangan bertubi-tubi akhirnya Pek-lui-ciang pemuda ini
menyambar dan mengenai lawannya.
“Dess!”
Kedok Hitam terbanting. Dia marah dan kaget berteriak
keras karena untuk kesekian kalinya dia didesak pemuda
ini. Beng Tan benar-benar lihai dan luar biasa. Tapi ketika
pemuda itu mengejar dan satu tikaman pedang menuju
lehernya maka Kedok Hitam membentak dan…
menimpukkan golok mautnya keleher pemuda itu pula.
Satu serangan yang hendak mengadu jiwa!
“Aiihhhh….!”
Beng Tan mengeluarkan pekikan panjang. Jarak sudah
demikian dekat dan golok yang ditimpukkan lawannya itu
juga tak diduga. Kalau dia meneruskan serangannya tentu
lawan roboh binasa tapi dia juga tak selamat menerima
timpukan luar biasa itu.
Golok maut terbang luar biasa cepat dan hanya ada satu
jalan untuk menyelamatkan diri, yakni menarik seranganya
untuk menangkis golok terbang ini. Dan karena Beng Tan
tak ingin celaka dan tentu saja tak mau terbunuh tiba-tiba
pemuda ini memutar tikaman pedangnya untuk menangkis
sekaligus menghantam golok maut itu.
“Tranggg!” benturan luar biasa yang memercikkan bunga
api warna-warni ini menyilaukan mata semua orang.
Pedang Matahari sudah menyambut dan menghantam
Golok Penghisap Darah. Golok itu meledak namun
anehnya tidak runtuh ke tanah, karena sudah melekat dan
menjadi satu dengan pedang Pek-jit-kiam. Dan ketika Beng
Tan tertegun dan teringat akan daya tarik masing-masing
senjata itu yang saling menyedot kalau sudah bertemu
tenaga sebanding tiba-tiba saja si Kedok Hitam meloncat
bangun dan melarikan diri.
“Hei, kalian. Tangkap pemuda itu, bunuh!”
Gwe-goanswe terkejut. Panglima bermuka merah yang
kini sudah dapat melihat jalannya pertandingan lagi tibatiba
melihat si Kedok Hitam melarikan diri.
Beng Tan masih bengong disana tapi mendadak melepas
golok maut yang melekat bagai besi sembrani di tubuh
pedang Pek-jit-kiam. Disentak dan ditarik oleh tenaga yang
tidak berlawanan ternyata golok ini mudah dicabut. Beng
Tan memasukkannya ke pinggang dan terbelalak
memandang lawan yang melarikan diri.
Dia belum tahu siapa si Kedok Hitam itu dan melihat
mukanya. Tokoh itu harus dibekuk karena dia ingin tahu,
penasaran! Dan ketika Beng Tan tiba-tiba mendengar abaaba
dan bentakan Gwe-goanswe sekonyong-konyong dia
sudah. diserang dan pasukan besar itu menerjangnya.
“Ju-siauwhiap (pendekar muda Ju), menyerahlah!”
Beng Tan marah. Gwe-goanswe tiba-tiba sudah
menusuknya dan para perwira pembantu dari panglima ini
juga sudah ikut bergerak.Mereka terpaksa karena ketakutan
terhadap si Kedok Hitam itu. Hm, tokoh ini agaknya amat
berpengaruh, Beng Tan marah. Dan ketika pasukan
bergerak dan Gwe-goanswe serta yang lain-lainnya juga
menerjang maka Beng Tan berkelebat dan menyimpan
pedangnya untuk mendorong atau memukul roboh orangorang
itu, karena tentu saja dia tak bermaksud membunuh,
apalagi dengan senjata.
“Minggir! Kalian minggir….!”
Gwe-goanswe dan para pembantunya terpelanting.
Menghadapi pukulan Beng Tan tentu saja mereka tak
sanggup. Pemuda itu terlalu lihai bagi mereka. Dan ketika
mereka bergulingan dan berteriak-teriak tiba-tiba pasukan
panah sudah menyerang pemuda ini.
“Sing-sing-sing!”
Beng Tan mengebut. Dia geram dan marah pada orangorang
ini yang demikian mudah dibentak si Kedok Hitam,
berkelebat dan tahu-tahu sudah mengejar si Kedok Hitam
itu, yang dilihatnya menyusup dan menyelinap di balik
ribuan orang yang bergerak menyerangnya.
Dan ketika Beng Tan dihalang-halangi dan tentu saja
pemuda itu marah bukan main maka Beng Tan mengamuk
dan mendorong-dorong pasukan yang ada di depannya,
menyibak dan memukul mundur mereka dengan kedua
pukulannya yang dahsyat. Beng Tan menahan diri untuk
tidak sampai membunuh. Pukulan Pek-lui-ciangnya itu
menimbulkan hawa panas dan orang-orang yang kena
dorongannya berteriak ngeri. Mereka seperti terbakar dan
kulit melepuh, tentu saja bergulingan mengaduh-aduh. Dan
ketika kesempatan itu dipergunakan pemuda ini untuk
mengejar si Kedok Hitam maka lawannya itu terkejut dan
melempar-lemparkan tombak atau lembing agar pemuda itu
terhalang larinya. .
“Tahan pemuda itu. Hadang larinya, jangan sampai
kesini. Bodoh!”
Kedok Hitam memaki-maki. Rupanya dia panik dan
khawatir juga kalau Beng Tan berhasil mendekatinya.
Mindra dan dua temannya entah kemana karena tiga
kakek itu juga tiba-tiba menghilang. Mereka rupanya lebih
baik menyembunyikan diri daripada diperintah si Kedok
Hitam itu, tokoh yang menakutkan. Tapi ketika Beng Tan
juga membentak dan terus meroboh-robohkan pasukan,
yang menjerit dan berteriak merasa hawa panas Pek-luiciangnya
maka perlahan tetapi pasti pemuda ini mendekati
lawan, yang kian gugup.
“Kedok Hitam, kau harus memperlihatkan dirimu dulu.
Baru aku berhenti!”
“Keparat!” Kedok Hitam menyambar sebatang anak
panah, melayangkannya dengan cepat sekali ke arah Beng
Tan. “Kau mampuslah, Beng Tan. Dan jangan harap itu!”
Beng Tan menyampok. Dia bersinar-sinar dan marah
sekali karena Kedok Hitam akhirnya menyambar apa saja,
menimpukkannya kepada dirinya tapi selama itu dia
berhasil menolak. Panah atau tombak selalu dikebut runtuh
dan Kedok Hitam rupanya kalap, gentar dan ngeri tapi juga
marah kepada pemuda itu, akhirnya melempar-lemparkan
para perajurit dan Beng Tan tentu saja terkejut.
Para perajurit ini tak dapat disampok runtuh seperti
kalau dia menyampok senjata-senjata tajam, panah atau
tombak yang dipukulnya runtuh itu, runtuh dan patahpatah.
Dan ketika Beng Tan marah dan lemparan perajurit
itu dikelit atau ditamparnya perlahan akhirnya Beng Tan
menjejakkan tubuhnya ke atas dan dari atas pemuda ini
tiba-tiba sudah bergerak secepat burung menotol kepalakepala
para perajurit untuk mendekati lawannya. Satu
kepandaian ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang
tentu saja membuat para perajurit kagum, tercengang!
“Kau tak dapat lepas dariku. Menyerahlah, dan
berhenti!”
Kedok Hitam terkejut. Dia melihat Beng Tan yang
terbang di atas kepala para perajurit untuk mendekatinya.
Gerakannya begitu luar biasa dan ringan, lari di atas kepala
demikian banyak orang seperti kucing yang lari di atas
genteng, demikian cepat dan enteng!
Dan ketika pemuda itu sudah dekat dengannya dan
Kedok Hitam hilang kagetnya tiba-tiba lelaki ini
menyambar dua orang perajurit untuk dilempar ke arah
pemuda itu dan diri sendiri sudah berjungkir balik di atas
kepala perajurit yang lain untuk terbang dan…. lari lewat
udara, persis seperti perbuatan lawannya itu.
“Gentong-gentong kosong semua. Bodoh!”
Perajurit ternganga. Yang diinjak kepalanya tentu saja
mengaduh-aduh. Tidak seperti Beng Tan yang hampir tak
mengerahkan tenaganya pada injakan yang kuat adalah
sebaliknya si Kedok Hitam itu melakukan “tempelengan”
dengan satu kakinya yang lain.
Kalau kaki kanan meluncur dan terbang ke kepala
perajurit yang di depan maka perajurit yang dibelakang ini
diberi “hadiah” sepakan kecil, kecil bagi si Kedok Hitam itu
tapi cukup besar bagi para perajurit biasa ini. Sepakan si
Kedok Hitam seperti sepakan seekor kuda yang marah,
menendang dan membuat mereka mengaduh-aduh. Setelah
kepala dipakai untuk tempat meloncat ternyata tubuh juga
disakiti. Itulah perbedaan si Kedok Hitam!
Dan ketika Kedok Hitam melarikan diri dan tadi
menahan Beng Tan sejenak dengan lemparan dua orang
perajurit maka Beng Tan mengumpat karena harus
menangkap dan menerima dua tubuh ini untuk akhirnya
ganti dilempar ke tanah.
“Pengecut! Licik, curang!”
Beng Tan mengejar lagi. Pasukan yang ada disitu
akhirnya melihat dua orang ini terbang di atas kepala para
perajurit. Kedok Hitam mencaci-maki dan menendangi
kepala perajurit-perajurit yang diinjak kepalanya sementara
Beng Tan hanya mempergunakan kepala para perajurit itu
sekedar sebagai batu loncatan. Akhirnya para perajurit yang
melihat dua orang ini siap di depan mata tiba-tiba sudah
menjatuhkan diri semua, tak mau memasang kepala dan
membungkuk melindungi bagian itu.
Sialnya punggung mereka kini menjadi penggantinya
karena dengan posisi seperti itu mereka seperti tengkurap
memberikan punggung. Bagian inilah yang dipergunakan
Kedok Hitam dan Beng Tan untuk berlarian, tiada ubahnya
orang berloncat-loncatan atau berlarian di punggung seekor
ikan lumba-lumba. Lucu, tapi juga menyedihkan.
Maklumlah, Kedok Hitam yang semakin gelisah dan marah
melihat ulah para perajurit itu tiba-tiba menginjak keras,
beberapa diantaranya patah punggungnya dan menjerit!
Mereka itu roboh dan Beng Tan tentu saja tak dapat
mempergunakan perajurit ini, berkelebat dan turun serta
mempergunakan perajurit lainnya yang ada, kembali
mengejar dan dua orang itu akhirnya tiba di ujung.
Kedok Hitam berteriak dan tiba-tiba melepas huito-huito
(golok terbang) kecil sebelum turun dari punggung perajurit
terakhir, membalik dan melepaskan itu ke arah Beng Tan
yang sudah dekat. Dan ketika Beng Tan berhenti untuk
menangkis hujan golok terbang ini maka lawannya lari lagi
dan kini menuju hutan di depan.
“Ah, keparat. Terkutuk!”
Beng Tan marah. Lawan benar-benar licik dan keji,
beberapa kali melakukan serangan gelap tapi untung dia
berhasil menghalau itu semua. Kedok Hitam benar-benar
pengecut dan kini hendak menghilang di hutan itu, hal yang
tentu saja tak akan dibiarkan Beng Tan. Dan ketika Beng
Tan membentak dan mengejar lagi maka dua orang ini
sudah jauh meninggalkan pasukan dan masing-masing
seolah dahulu-mendahului mendekati hutan.
Beng Tan melepas Pek-lui-ciangnya dan lawan terguling,
bangkit dan lari lagi sambil memaki-maki. Dan ketika dua
tiga kali pukulan Beng Tan berhasil menghambat lari lawan
akhirnya Beng Tan mengerahkan ilmunya berjungkir balik
dan tahu-tahu sudah melewati kepala lawan yang siap di
mulut hutan.
“KedokHitam, berhenti kataku. Perlihatkan dirimu!”
Kedok Hitam pucat. Tiba-tiba jalan larinya sudah
dihadang, Beng Tan berjungkir balik melayang turun di
mulut hutan, persis di depannya. Dan ketika dia marah dan
beringas tiba-tiba lelaki ini menggeram melepas Kim-kongciangnya.
“Dess!”
Beng Tan menangkis. Dia mengerahkan Pek-lui-ciang
dan lawan mencelat setombak, jatuh bangun dan rupanya
kehabisan tenaga disana. Kedok Hitam memang mulai
payah karena Beng Tan terlampau lihai baginya. Pemuda
itu juga memiliki napas yang panjang dan tenaga yang kuat,
dia kalah fisik, di samping kalah kepandaian.
Namun ketika laki-laki ini membentak dan meloncat
bangun lagi maka dia menyerang dan mencabut trisulanya,
karena golok sudah dirampas Beng Tan. Lalu menggeram
dan memaki-maki laki-laki ini sudah melampiaskan
gusarnya.
“Beng Tan, kau jahanam keparat. Kau pemuda yang
suka campur urusan orang lain!”
“Hm, tidak begitu. Kalau kau bertindak dalam kebenaran
tentu aku tak akan mencampuri semuanya ini, Kedok
Hitam. Dan engkau membunuh Si GolokMaut dengan cara
yang diluar kemanusiaan. Kau tunjukkan mukamu dan
baru aku tak akan mendesak!”
“Kau berani bicara seperti itu? Kau selalu ingin memaksa
dan menekan orang? Mampuslah, dan aku tak mau bicara
lagi… dess!” dan pukulan Kim-kong-ciang yang kembali
menyambar dan menghantam Beng Tan lagi-lagi ditangkis
dan Kedok Hitam mencelat, mengeluh dan memaki-maki
lagi namun dia dapat meloncat bangun, menyerang dan
pukulannya kembali bergerak disusul senjata trisula di
tangan kanannya itu.
Kedok Hitam lalu mengeluarkan semua kepandaiannya
lagi namun dia tetap bukan lawan pemuda ini. Beng Tan
menghadapi pukulan-pukulannya dengan Pek-lui-ciang,
yang selalu membuat laki-laki ini tergetar dan terpental
mundur. Dan ketika Kedok Hitam tetap keras kepala dan
nekat tak mau berhenti akhirnya tusukan trisula yang kalap
dan mulai ngawur ditangkis Beng Tan dengan Pek-jitkiamnya.
Pemuda ini mencabut pedang dan ingin segera
menyelesaikan pertandingan. Setelah Golok Penghisap
Darah tak ada di tangan lawannya itu maka keganasan
lawan dapat diredam. Si Golok Maut pun juga hebat kalau
sudah memegang Golok Penghisap Darah Itu, selebihnya
biasa.
Maka ketika lawan memekik dan menusuk serta
menggerakkan tangan kirinya tiba-tiba Beng Tan mencabut
Pek-jit-kiam dan begitu sinar putih berkelebat tahu-tahu
lawan berteriak karena trisula ditangannya mencelat, putus
terbabat. Lalu ketika Kim-kong-ciang kembali bertemu Peklui-
ciang maka Kedok Hitam pun roboh sementara dengan
cepat dan gemas Beng Tan sudah menyambar dan
merenggut kedok di muka lawannya itu.
“Brett!”
Sebuah wajah tampak. Kedok Hitam tak dapat
menyembunyikan diri lagi tapi laki-laki itu melempar tubuh
bergulingan. Dia marah dan memaki Beng Tan dengan
nada meluap-luap.
Beng Tan yang hendak memaki dan balas membentak
lawan sekonyong-konyong tertegun. Lawan sudah melompat
bangun dan kini berdiri menggigil di depannya,
menuding-nuding. Dan ketika Beng Tan terkejut dan
membelalakkan mata maka lawannya itu, si Kedok Hitam
yang sudah tidak berkedok lagi membentak,
“Beng Tan, kau ingin tahu siapa aku? Kau mau
mengenal? Nah, lihatlah. Siapa aku dan apakah kau masih
berani kurang ajar!”
Beng Tan terkejut dengan muka berubah. Pemuda ini
tiba-tiba menjadi pucat dan tak dapat bicara. Kedok Hitam
telah memperlihatkan diri namun justeru pemuda ini
terbungkam. Apa yang dilihat sungguh mengagetkan.
Kedok Hitam ternyata adalah…..
“Ah…!” Beng Tan mundur dan menggigil.”Kau….
kau….?” pemuda ini tak dapat melanjutkan bicaranya,
saking kagetnya.
“Ya, aku, Beng Tan. Kau sekarang mau apa? Kau mau
membunuhku? Bunuhlah, aku tidak takut!”
Beng Tan berkejap gemetar. Tiba-tiba dia surut dan surut
saja kebelakang. Apa yang dilihat memang sungguh tak
disangkanya. Lawan adalah tokoh tak diduga, orang yang
ternyata sudah dikenal! Tapi ketika pemuda ini ditantang
dan Beng Tan mengeluh menggoyang tangan akhirnya
pemuda ini merasa bingung.
“Aku, ah… aku… aku tak mungkin membunuhmu. Kau..
ah…!” pemuda ini bengong saja, tak dapat berbuat apa-apa
dan Kedok Hitam tertawa mengejek.
Dia menantang pemuda itu untuk membunuhnya tapi
Beng Tan terlongong-longong saja di depan. Pemuda itu
pucat, mau bicara banyak tapi tenggorokan rupanya kering,
alhasil hanya ah-oh-ah-oh saja dan saat itu terdengarlah
jeritan dan bayangan dua orang wanita.
Bayangan hitam dan merah berkelebat, berteriak dan
memanggil-manggil Beng Tan dan GolokMaut, yang sudah
terlempar ke jurang. Dan ketika Beng Tan terkejut karena
itulah suara kekasihnya dan Wi Hong, maka Kedok Hitam
menyambar tutup kepalanya lagi dan berseru,
“Beng Tan, aku pergi kalau kau tak dapat membunuhku.
Nah, terima kasih dan mudah-mudahan kita kelak dapat
bertemu dalam suasana yang lebih baik. Budimu tak akan
kulupakan!”
Beng Tan mendelong. Wi Hong dan Swi Cu berteriakteriak
memanggil namanya sementara lawan sudah lenyap.
Kedok Hitam meninggalkan dirinya dalam pikiran kalut
dan gundah. Beng Tan dibuat kacau. Tapi ketika dua
wanita itu berkelebat datang sementara Beng Tan masih
termangu-mangu maka Wi Hong, gadis atau wanita baju
merah itu melengking,
“Beng Tan, mana GolokMaut?Mana dia?”
Beng Tan terkejut. Akhirnya dia sadar dan melihat
betapa gadis atau ketua Hek-yan-pang ini mangar-mangar.
Pipinya seperti terbakar dan gadis itu memandangnya
marah.
Swi Cu juga bertanya dan Beng Tan merasa ditodong
dua ujung pedang yang tajam. Kekasihnya itu rupanya
mencurigainya bertempur dengan Golok Maut,
membunuhnya, atau mungkin menangkapnya dan
memberikannya kgpada pasukan kerajaan. Tapi ketika Beng
Tan menggeleng lemah dan menoleh ke kiri maka dia
berkata,
“Golok Maut tak ada disini, dia tidak bersamaku. Kita
sama sekali belum bertanding.. ..”
“Kalau begitu dimana dia?” Wi Hong membentak. “Kau
tentu tahu, Beng Tan, dan jangan bohong!”
“Dia…. dia dirobohkan si KedokHitam.”
“Dimana!”
“Jatuh ke jurang. ..” Beng Tan tak berani
memberitahukan keadaan Golok Maut yang begitu
menyedihkan. “Aku… aku hanya tahu itu, terlambat
datang….”
“Dan kau ikut membantu pasukan!” Wi Hong tiba-tiba
melengking. “Kau jahanam keparat, Beng Tan. Kau tak
dapat menunggu sampai dia sembuh dulu dan baru
bertanding. Kau antek kerajaan!” dan Wi Hong yang
memekik serta menusukkan pedangnya tiba-tiba berteriak
kalap dan sudah menyerang pemuda itu, dikelit dan Beng
Tan tentu saja terkejut.
Dia dituduh membantu pasukan, merobohkan dan
membunuh Si Golok Maut itu. Dan ketika Beng Tan
terkejut berteriak kaget maka pemuda ini berseru berulangulang
bahwa gadis itu salah sangka.
“Aku tidak menyerang pemuda itu. .Aku baru datang!”
“Tapi kau mempunyai andil dalam mencelakakan
kekasihku, Beng Tan. Kau jahanam keparat dan kubunuh
kau!”
“Hei, tidak! Aku….ah!” dan Beng Tan yang sibuk
mengelak sana-sini akhirnya menjadi sasaran hujan
serangan, menyampok dan berkelit dan Wi Hong memakimaki
pemuda ini.
Gadis itu menangis ter-sedu-sedu sementara Swi Cu yang
menonton dengan muka pucat tak dapat berbuat banyak.
Gadis ini ditinggalkan dalam perjalanan oleh kekasihnya itu
dan Wi Hong yang pingsan diterowongan bawah tanah
akhirnya siuman, sadar dan mencari jalan lagi dan akhirnya
mau tak mau gadis ini menuju mulut terowongan di luar
guha, tempat dimana dia keluar dan mencari buah-buahan
untuk Si Golok Maut, tak tahu kalau ditipu dan
ditinggalkan kekasihnya itu dan dia ditinggal sendirian, hal
yang membuat Wi Hong jatuh bangun dan menangis. tak
keruan berteriak memanggil-manggil kekasihnya itu.
Dan ketika Wi Hong pingsan namun sadar kembali
maka apa boleh buat gadis ini keluar melalui petunjuk
Golok Maut dan ingin mencari kekasihnya disana, melihat
ribuan pasukan sudah keluar dari Lembah Iblis dan gadis
ini tak melihat kekasihnya disitu, mungkin dibawa orang
pandai dan Wi Hong teringat si Kedok Hitam itu dan
orang-orang seperti Mindra dan Sudra, juga kakek tinggi
besar Yalucang.
Dan sementara Wi Hong mencari-cari dan ingin
menemukan Golok Maut maka muncullah Swi Cu yang
bercucuran keringat menyusul Beng Tan. Suci dan su-moi
bertemu dan Swi Cu menubruk sucinya itu, mengguguk.Wi
Hong sendiri juga menangis tak keruan namun wanita yang
hampir pulih tenaganya setelah pingsan di terowongan itu
dapat bertanya banyak.
Swi Cu ditanya apakah dia bertemu Golok Maut
sementara Swi Cu sendiri justeru bertanya apakah sucinya
itu bertemu Beng Tan, masing-masing menanyakan
kekasihnya dan masing-masing sama-sama menggelengkan
kepala pula.
Memang mereka tak tahu dan tentu saja keduanya
cemas. Swi Cu cepat mengajak sucinya pergi dan di hutan
itulah mereka melihat Beng Tan. Bayangan si Kedok Hitam
tak tertangkap karena orang itu sudah melarikan diri.
Mereka heran melihat Beng Tan sendirian. Tapi ketika Wi
Hong curiga dan menganggap Golok Maut ada bersama
pemuda ini maka Beng Tan menjadi sasaran kemarahan
dan pemuda itu diserang!
Namun Beng Tan bukanlah tandingan Wi Hong Pemuda
ini terlalu lihai untuk gadis itu. Karena ketika pemuda itu
berkelit dan mengelak serta menampar sana-sini akhirnya
Wi Hong terhuyung-huyung dan menjerit memaki-maki
pemuda itu, menerima satu tamparan lagi dan mencelatlah
pedang ditangan gadis itu. Dan ketikaWi Hong mengguguk
dan roboh terpelanting maka Beng Tan berkelebat
menolong gadis itu.
“Maaf, harap percaya padaku bahwa aku belum bertemu
kekasihmu itu, Wi Hong. Golok Maut bertanding dan
dirobohkan si Kedok Hitam.. Kekasihmu itu. dikeroyok
ribuan orang roboh dan jatuh ke jurang.”
“Dan kau!” Wi Hong mengipatkan tangannya. “Jangan
sentuh aku Beng Tan. Kau tentu tahu bagaimana nasib
GolokMaut dan pasti kau membantu pasukan!”
“Aku tidak membantu, bahkan bertempur!” Beng Tan
merah mukanya. “Aku justeru menolong Si Golok Maut,
Wi Hong. Tetapi terlambat'” Beng Tan lalu menceritakan
peristiwanya, didengar dengan marah tapi Wi Hong
akhirnya percaya.
Sebelumnya Swi Cu sudah memberi tahu bahwa Beng
Tan kaget sekali ketika akhirnya tahu bahwa pasukan kota
raja menuju Lembah Iblis. Dulu saja pemuda ini sudah
pernah menolak balatentara sebesar ini meluruk Lembah
Iblis. Dia tak mau dan biarlah sendirian saja menangkap
Golok Maut, sesuai perintah kaisar. Tapi ketika hal itu
terjadi juga dan Kedok Hitam membawa pasukan
memerintahkan Gwe-goanswe maka Beng Tan menyusul
dan marah-marah, bahkan meninggalkan Swi Cu
dibelakang.
“Kau tanya saja sumoimu itu. Aku berangkat tergesagesa
karena mengkhawatirkan kekasihmu. Golok Maut
terluka, tak dapat cepat sembuh. Kalau di saat seperti itu dia
diserang dan diserbu demikian banyak orang tentu dia
celaka Maka aku meninggalkan Swi Cu dan mengejar ke
tempat ini tapi masih terlambat juga!” Beng Tan menyesal,
memukul dahinya dan tampak betapa kekecewaan dan
kemarahan besar melanda pemuda ini.
Beng Tan tak berani menceritakan betapa Golok Maut
disiksa dengan keji oleh si Kedok Hitam itu. Betapa
pemuda yang menggegerkan dunia kang-ouw dengan
kebenciannya terhadap orang-orang she Coa dan Ci dirajam
seperti anjing. Golok Maut dikutungi dan keempat kaki
tangannya putus, tak mungkin dapat hidup lagi dalam
keadaan seperti itu. Sungguh Golok Maut mengalami nasib
yang amat mengerikan, disamping menyedihkan. Dan
ketikaWi Hong bercucuran air mata dan mengepal tinjunya
tiba-tiba dia melihat Golok Penghisap Darah yang
disisipkan di punggung pemuda ini.
“Kau?!” Wi Hong terkejut. “Kau mendapatkan dari mana
itu, Beng Tan? Dan kau bilang bahwa kau sama sekali
belum bertemu dengannya?”
Beng Tan terkejut, sadar. “Jangan marah,” dia buru-buru
berkata. “Golok ini kurampas dari si Kedok Hitam. Orang
itulah yang melukai kekasihmu tapi Golok Penghisap
Darah dapat kuambil. Kau bawalah, aku tak bohong.”
Wi Hong pucat pasi. Melihat golok tidak bersama
tuannya lagi tahulah gadis ini apa yang terjadi. Golok itu
tak pernah berpisah dari kekasihnya. Kalau sampai golok
berada di tangan orang lain tentulah sesuatu yang hebat
benar-benar telah terjadi. Wi Hong menjerit dan
menyambar golok itu. Dan ketika dengan menggigil dan
pucat gadis ini bertanya dimana jurang yang katanya
menerima tubuh Golok Maut maka Beng Tan tergetar
menuding,
“Disana!”
Wi Hong melengking. Tiba-tiba gadis ini telah berkelebat
dan menuju ke arah yang ditunjuk. Swi Cu tertegun dan
berteriak memanggil kekasihnya. Tapi ketika Wi Hong tak
memperdulikan dan terbang bagai setan haus darah maka
Swi Cu berkelebat dan menangis menyusul sucinya.
“Tunggu, aku juga ikut!”
Swi Cu terbang mengerahkan ginkang. Kalau sudah
begini Beng Tan pun tak dapat tinggal diam lagi, pemuda
itu juga berkelebat dan menyusul kekasihnya ini. Dan
ketika mereka terbang dan menuju jurang di mana Golok
Maut terjatuh maka Wi Hong meraung-raung dan
menuruni jurang dengan cepat, tak perduli pada bahaya dan
tiga kali gadis ini jatuh terpeleset. Jurang itu dalam dan di
tengahnya terdapat kabut. Untung, Beng Tan yang
melindungi dan selalu tak jauh dari gadis ini selalu
bertindak cepat.
Wi Hong juga mempergunakan golok ditangannya itu
untuk menyelamatkan diri dan bergelantungan. Mereka
bertiga terus ke bawah dan ke bawah, semakin ke bawah
semakin gelap dan kabut di tengah jurang membuat
pandangan tertutup.
Dalam keadaan seperti ini kalau mereka tidak berhatihati
tentu siapapun bakal terlempar dan jatuh ke bawah.
Beng Tan tak tahu berapa jauh mereka memasuki
kedalaman jurang itu. Tapi ketika di dasar jurang kabut tak
ada lagi dan samar-samar tetapi jelas tampak sesosok tubuh
menggeletak dengan keadaan mandi darah maka Wi Hong
menjerit dan langsung terjun ke bawah.
“Sin Hauw….!”
Lengkingan itu mendirikan bulu roma. Wi Hong sudah
terjun dan langsung mengenal tubuh yang buntung itu.
Gadis ini menjerit dan menangis meraung-raung bagai
harimau kehilangan anaknya. Kemarahan dan
kekagetannya tak dapat dicegah lagi. Juga kengeriannya.
Dan ketika gadis itu menjerit dan menubruk tubuh yang
tinggal seonggok daging dan kepala yang berlumuran darah
itu makaWi Hong roboh pingsan dan tak sadarkan diri!
“Dia pingsan.Mari cepat kita tolong!”
Swi Cu membelalakkan matanya dengan muka ngeri.
Golok Maut, pemuda yang gagah tampan itu ternyata
sekarang sudah menjadi mayat yang begitu mengerikan.
Tubuh itu sudah demikian pendek tanpa lengan tanpa kaki,
buntung, mandi darah dan tidak berujud lagi. Ah, orang
yang membunuh Si Golok Maut ini sungguh kejam! Dan
ketika Swi Cu terhuyung dan hampir muntah oleh rasa jijik
maka Beng Tan menyambar tangannya dan berseru agar
cepat menolongWi Hong.
“Kita harus menolong gadis ini, dan menemukan Siansu.
Mencari Sian-su!”
Swi Cu menutupi muka dan terhuyung roboh. Gadis ini
tak kuat menyaksikan pemandangan itu dan Beng Tan
terpaksa menolong Wi Hong sendirian. Pemuda itu
terguncang hebat oleh kematian Golok Maut, setelah tadi
terguncang oleh siapa adanya si Kedok Hitam. Dan ketika
pemuda itu menyadarkan dan menotok Wi Hong maka
gadis ini menjerit dan menangis tersedu-sedu teringat apa
yang dilihat.
-ooo0dw0ooo-
Jilid : XXVIII
“BIARKAN aku…. biarkan aku.Mana Sin Hauw….!”
Beng Tan menyambar lengan si gadis. Wi Hong menjadi
kalap dan gadis itu melompat begitu saja sambil menjerit
histeris. Yang diingat pertama kali begitu sadar adalah
kekasihnya, pemuda yang sudah menjadi mayat itu.
Buntung, seperti anjing! Namun ketika Beng Tan mencekal
dan menyambar lengan gadis ini maka Wi Hong merontaronta
dan membentak melepaskan dirinya.
“Kalau kau menahan berarti kau mau kurang ajar
denganku. Lepaskan…. plak-plak!” Beng Tan mendapat
tamparan dua kali, malah dihadiahi makian dan tendangan
segala. Terpaksa pemuda itu melepaskan lawannya dan
larilah Wi Hong menubruk jenasah itu. Gadis atau ketua
Hek-yan-pang ini menjerit dan tersedu-sedu menciumi
tubuh penuh darah itu, tak jijik atau ngeri dan bahkan
memeluk mayat Si Golok Maut penuh kesedihan. Tangis
dan raung yang keluar dari mulutnya sungguh menikamnikam
ulu hati. Beng Tan sampai tak tahan dan bercucuran
air mata pula, apalagi kekasihnya, Swi Cu, yang sudah
sejak tadi tersedu-sedu dan menutupi muka dengan pucat.
Gadis ini adalah sumoiWi Hong dan tentu saja melihat dan
menyaksikan kedukaan sucinya itu Swi Cu tak kuat. Gadis
ini mengeluh dan akhirnya mencengkeram lengan Beng
Tan. Si pemuda hanya mendelong dengan air mata
kebingungan, juga haru dan marah. Namun ketika Wi
Hong sadar dan meloncat bangun, bagai singa betina haus
darah maka gadis ini meloncat mencengkeram Beng Tan.
“Siapa yang membunuhnya! Apakah betul si Kedok
Hitam!”
“Hm,” Beng Tan mengangguk, tak dapat berbuat lain.
“Kedok Hitam memang pembunuhnya,Wi Hong. Dan aku
menyesal sekali kenapa terlambat datang.”
“Dan siapa manusia keparat itu? Kau mengenalnya?
Siapa binatang terkutuk itu?”
“Aku tak mengenal, pertemuanku juga baru sekilas….”
dan belum Beng Tan menyelesaikan kata-katanya, yang
tentu saja bohong maka Wi Hong memekik dan
menyambar ke belakang, berkelebat dan sudah membawa
lari mayat kekasihnya ke atas. Cepat dan luar biasa seolah
melupakan duka atau lelahnya gadis ini keluar dari jurang
dengan beban di pundak. Swi Cu sampai kaget dan Beng
Tan sendiri berteriak tertahan melihat perbuatan itu. Jurang
yang tinggi kini dinaiki dengan cepat dengan membawa
sebuah mayat pula, meskipun mayat yang sudah buntung
dan tidak berujud sebagai manusia yang utuh. Namun
ketika dua orang itu berteriak dan melompat kaget makaWi
Hong sudah naik dengan cepat dan Golok Penghisap Darah
yang dipakai untuk menancap-nancapkan kaki sudah
berada di atas, luar biasa cepatnya.
“Aku akan mencari jahanam terkutuk itu. Aku akan
mengadu jiwa. Aku akan membunuh!”
“Tidak!” Beng Tan berjungkir balik keluar jurang. “Kau
tak dapat mencarinya sekarang, Wi Hong. Kau lelah, kau
sedang terguncang. Tunggu dulu dan biar kita rawat jenasah
Si GolokMaut itu!”
“Jangan menghalangi!” Wi Hong sudah membentak,
terkejar. “Jangan macam-macam di depanku, Beng Tan.
Atau aku akan membunuhmu atau kau membunuhku!”
“Ah, kau salah paham. Aku bermaksud baik…. singg!”
namun golok yang maju menyambar lehernya tiba-tiba
sudah bergerak tanpa ampun, menerjang dan pemuda
itupun segera berkelebatan ke sana-sini karena Wi Hong
menyerangnya. Beng Tan menghalangi dan gadis baju
merah itu tentu saja marah. Dan ketika Beng Tan berteriakteriak
dan empat kali nyaris terbacok golok maka Swi Cu
muncul di atas dan gadis itu menjerit melihat kekalapan
sucinya.
“Berhenti…. berhenti! Jangan menyerang…!”
Namun Wi Hong semakin beringas. Melihat sumoinya
hendak membela pemuda baju putih itu mendadak gadis ini
melengking dan menyerang sumoinya itu pula. Swi Cu
dibabat dan gadis baju hitam itu menjerit seraya melempar
tubuh bergulingan. Sucinya sudah kesurupan dan Wi Hong
memaki sumoinya itu yang dikata menghina dirinya, yang
sudah tidak memiliki pelindung dan beda dengan sumoinya
Itu yang masih memiliki kekasih. Kebencian dan
kemarahan bertumpuk-tumpuk yang membakar ketua Hekyan-
pang ini membuat Wi Hong mata gelap. Dia tak
perduli lagi apakah yang diserang itu sumoinya atau Beng
Tan. Kedua-duanya dianggap musuh dan Swi Cu tentu saja
mengeluh melihat tanda sucinya yang beringas ini. Wi
Hong sudah bukan lagi gadis yang normal melainkan
seperti kuntilanak haus darah. Dua kali Swi Cu terbabat
dan gadis baju hitam itu menjerit pada Beng Tan. Dan
ketika Beng Tan terbelalak dan apa boleh buat harus
mencabut Pek-jit-kiamnya, Pedang Matahari itu maka
Golok Penghisap Darah terpental dan terlepas dari tangan
Wi Hong ketika beradu sama keras dengan pemuda yang
memiliki kelebihan sinkang ini, menendang dan Wi
Hongpun mencelat terguling-guling. Beng Tan tak
menunggu waktu lagi dan ditotoklah gadis baju merah itu.
Dan ketika Wi Hong mengeluh dan pingsan dilanda
dendam maka Swi Cu mengguguk menubruk kekasihnya
itu sementara Beng Tan menyimpan kembali pedangnya
dan memungut Golok Penghisap Darah.
“Berbahaya, tak kenal ampun. Hm, kau berhentilah
menangis, Swi Cu. Jangan buat aku menjadi semakin
bingung saja. Kita tolong sucimu ini, dan kita kubur mayat
Si GolokMaut.”
Swi Cu masih saja tersedu-sedu. Gadis ini sedih dan
ngeri melihat keadaan sucinya. Sucinya itu tak berpikiran
normal lagi dan siapapun rupanya mau dibunuh. Ah, takut
dia. Tapi ketika kekasihnya mengajak bangkit berdiri dan
mayat Si GolokMaut memang harus dikubur maka dengan
menggigil dan muka ngeri gadis ini membantu Beng Tan,
sering menutupi muka karena bentuk mayat itu sungguh tak
kuat dipandang. Swi Cu hampir muntah-muntah. Namun
ketika semuanya selesai dan Golok Maut sudah dikubur
makaWi Hong disadarkan dan gadis baju hitam inilah yang
menolong sucinya.
“Mana GolokMaut, mana suamiku!”
Swi Cu tertegun. “Golok Maut tewas, suci. Suami atau
kekasihmu itu tak ada lagi…”
“Aku tahu!” Wi Hong membentak, mata bersinar-sinar,
liar. “Aku bertanya di mana mayatnya, Swi Cu. Di mana
kalian sembunyikan!”
“Aku tak menyembunyikan, kami menguburnya….”
“Di mana!”
“Itu….”
Dan begitu Swi Cu menunjuk tiba-tiba Wi Hong
melengking perlahan dan berkelebat ke makam yang baru
itu, baru sekarang dilihat karena tadi berada di
belakangnya. Gadis baju merah ini menjerit lirih dan
menangis tersedu-sedu. Dia baru saja sadar, Swi Cu
menyadarkannya. Tapi begitu ingat dan membentak
panjang, di sela-sela tangisnya, mendadak gadis ini bergerak
dan makam yang masih baru serta gembur itu digali dengan
cepat!
“Heii..!” Swi Cu dan Beng Tan berseru kaget. “Jangan
gila, suci. Kami baru saja menguburnya!”
“Aku tak perduli. Mayat suamiku tak boleh dikubur di
sini, tak boleh dikubur orang lain. Akulah yang berhak, aku
yang akan menguburkannya!” dan ketika sebentar
kemudian mayat itu sudah terlihat dan disambar naik,
membuat Beng Tan dan Swi Cu terbelalak maka Wi Hong
sudah tertawa dan menangis mirip kuntilanak yang sedang
gila.
“Hi-hik, heh-heh…. kau akan kutidurkan di tempat lain,
Hauw-ko (kanda Hauw), kubawa ke tempat lain. Marilah,
kita pergi dan biarkan dua manusia yang lagi berasyikmasyuk
ini melihat kita bercumbu di tempat lain!” dan Wi
Hong yang berkelebat serta membawa mayat itu tiba-tiba
memutar tubuhnya dan terbang meninggalkan Swi Cu
berdua. Beng Tan dan kekasihnya ini kaget dan mereka
berdua sampai tak dapat bicara, menjublak. Tapi ketika
mereka sadar dan berteriak keras tiba-tiba Beng Tan dan
kekasihnya ini sudah berkelebat mengejar.
“Heii…!” Beng Tan berseru pucat. “Jangan dibawa ke
mana-mana mayat itu,Wi Hong. Biarkan dia beristirahat di
slni dan kau tinggalkanlah!”
“Benar!” Swi Cu juga menjerit, berseru pada sucinya itu.
“Jangan dibawa ke mana-mana mayat itu, suci. Berhenti
dan serahkan kepada kami!”
“Tidak, aku yang lebih berhak!” dan Wi Hong yang
tancap gas sambil terkekeh-kekeh akhirnya membuat Swi
Cu gemetar dan melihat bahwa sucinya itu benar-benar
sudah tidak waras lagi. Mayat Golok Maut yang buntung
dibawa terbang dan berlepotan tanah, juga darah, darah
yang tentu saja sudah mengering. Namun ketika dia
mengeluh dan Beng Tan berjungkir balik mengerahkan
ginkangnya tiba-tiba sudah menghadang dan turun di depan
ketuaHek-yan-pang ini, membentak,
“Berhenti…. dess!” dan Wi Hong yang menumbuk serta
menabrak pemuda itu dengan keras akhirnya terbanting dan
memaki-maki Beng Tan akibat tabrakan yang keras itu, tak
dapat diiiindarkan lagi dan gadis atau ketua Hek-yan-pang
ini menjerit dan mengaduh kesakitan. Dia terlempar dan
terguling-guling namun hebatnya mayat yang ada di
pundaknya itu masih saja dicekal erat. Nyata,Wi. Hong tak
mau kehilangan mayat ini, mayat suaminya, kekasih
tercinta! Dan ketika gadis itu bergulingan meloncat bangun
dan Swi Cu berkelebat serta menggigil di samping
kekasihnya maka gadis baju hitam ini menjerit, serak,
“Suci, jangan gila, Jangan dibawa ke mana-mana mayat
itu. Serahkan kepada kami, biar dikubur di sini saja!”
“Tidak, hi-hik! Aku akan mempertahankan mayat
suamiku ini, Swi Cu. Kalian tak boleh merebutnya karena
dia suamiku. Mampuslah, atau aku kalian bunuh!” Wi
Hong menerjang, terkekeh dan tertawa-tawa namun Beng
Tan cepat melindungi kekasihnya. Swi Cu ditarik ke
belakang dan pukulan lawan ditangkis. Wi Hong terpental
dan terpelanting namun mayat itu masih juga tidak jatuh.
Gadis ini terkekeh-kekeh dan malah menciumi mayat itu,
menerjang dan menyerang lagi dan Beng Tan sendiri
sampai mengkirik melihat kejadian ini. Wi Hong benarbenar
tidak waras, gila! Namun ketika dia mengelak sanasini
dan akhirnya satu pukulan membuat lawannya itu
terlempar, terbanting, maka Wi Hong meraung-raung dan
gadis itu menggigit lengannya sendiri.
“Beng Tan, kau bunuhlah aku. Antar aku agar menyusul
arwah Si Golok Maut. Atau aku akan memecahkan
kepalaku sendiri dan kalian kubur kami dalam satu lubang!”
“Heii!” Beng Tan membentak. “Jangan gila, Wi Hong.
Tahan…. dess!” dan Wi Hong yang roboh terpelanting dan
kini melepaskan mayat setelah tadi menghantam ubunubunnya
sendiri mendadak menangis menggerung-gerung
dan Beng Tan menotoknya lumpuh. Gadis atau ketua Hekyan-
pang itu menjerit-jerit dan Swi Cu tersedu mengguguk
tak tahan lagi, melompat dan menangis memeluk sucinya
Itu. Dan ketika Wi Hong terkekeh dan meludah ke sana ke
mari maka Swi Cu berkata agar mayat itu diserahkan saja
kepada sucinya ini.
“Dia mungkin akan menguburnya ke tempat lain.
Biarlah…. biarlah…. kita serahkan saja dan tak usah kita
campuri lagi…!”
“Hm,” Beng Tan pucat, ngeri. “Kau yakin tak akan ada
apa-apa dengan sucimu ini, Cu-moi? Dia tak akan
melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya
sendiri? Dia sedang mengandung, dan pukulan ini
terlampau berat baginya!”
“Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Kalau suci
sudah menghendaki begitu tak dapat kita mencegahnya
lagi, Tan-ko. Salah-salah dia akan bunuh diri seperti katakatanya
tadi. Tidak, tidak. Biarkan ia pergi karena mungkin
mayat itu akan dikuburnya di tempat lain!”
Dan Beng Tan yang tak dapat bicara apa-apa lagi dan
menurut kata-kata kekasihnya lalu membebaskan Wi Hong
dan seketika gadis baju merah itu tertawa berseri-seri.
“Swi Cu, kau baik. Kau, ah…. kau baik dan cantik
sekali!” dan Wi Hong yang terkekeh melompat bangun lalu
mencium sumoinya itu dan berkelebat menyambar mayat di
atas tanah, terbang dan pergi meninggalkan dua orang itu
sambil tertawa-tawa mengerikan namun mendadak baru
beberapa langkah berhenti lagi, membalik dan sudah
berkelebat ke arah Beng Tan. Dan ketika Beng Tan terkejut
dan tak tahu apa yang mau dikehendaki ketua Hek-yanpang
ini tiba-tiba Wi Hong membentak agar dia
menyerahkan Golok Penghisap Darah itu, milik Si Golok
Maut.
“Serahkan golok itu dan aku tak akan mengganggu lagi.
Barang milik suamiku tak boleh dipegang orang lain!”
Beng Tan mundur. Dia terkejut dan berobah oleh katakata
ini, sejenak berkerut-kerut dan berpikir bagaimana
baiknya. Tapi ketika Swi Cu menangis dan berkata padanya
bahwa biarlah golok itu diserahkan sucinya, hitung-hitung
sebagai pelindung diri bagi sucinya itu maka Beng Tan
menarik napas dalam dan apa boleh buat menyerahkan
golok itu, Golok Penghisap Darah. Dan begitu Wi Hong
menerima dan terkekeh, mengelebatkan golok di depan
mukanya maka gadis itu sudah terbang dan meninggalkan
mereka, benar-benar tak kembali lagi.
“Hi-hik, terima kasih, Swi Cu. Dua kali kau melepas
kebaikan padaku. Baiklah, lain kali akan kubalas dan
selamat tinggal!”
Swi Cu dan Beng Tan menjublak membelalakkan mata.
Swi Cu sendiri tak henti-hentinya menangis sampai sucinya
itu lenyap di bawah, tapi begitu sucinya lenyap dan tidak
kelihatan lagi, entah ke mana maka gadis ini mengguguk
dan menubruk kekasihnya.
“Aku mungkin tak akan melihat suci lagi. Kita mungkin
lama tak akan bertemu lagi. Ah, perasaanku tersayat-sayat,
koko. Sungguh kejam dan keji benar orang yang membunuh
GolokMaut itu!”
“Hm, sudahlah,” Beng Tan menekan guncangan hatinya
yang berkali-kali. “Aku tak dapat berbuat apa-apa dalam
masalah ini, Cu-moi. Aku menyesal dan juga mengutuk
kekejian itu. Tapi, ah… GolokMaut juga kejam!”
“Tapi dia membunuh karena dendam! Aku sudah mulai
mendengar sebagian kisahnya dari suciWi Hong!”
“Hm, benar. Dan persoalan ini rumit. Dendam dapat
menciptakan manusia baik-baik seperti iblis! Sudahlah, aku
sendiri sedang terguncang oleh semua kejadian ini, Cu-moi.
Kita pergi dan cari Sian-su!”
“Benar,” Swi Cu tiba-tiba menarik lepas tubuhnya,
tertegun. “Berkali-kali kau menyebut nama ini, Tan-ko.
Siapa orang yang kau maksud itu? Gurumu?”
“Hm, bagiku begitu. Tapi bagi Sian-su tak sepenuhnya.
Orang yang kumaksud memang benar kakek dewa yang
pernah kuceritakan padamu itu, Cu-moi. Dialah Sian-su,
Bu-beng Sian-su yang terhormat!”
“Dan kau tak kembali ke istana? Tak ke kota raja?”
“Ah, aku tertipu,” Beng Tan tersenyum pahit. “Untuk
apa ke sana lagi, Cu-moi? Semuanya ini cukup. Kita tak
perlu ke sana dan mari mencari guruku itu. Ada sesuatu
yang hendak kutanyakan!”
“Apa?”
“Ini…” Beng Tan mengeluarkan sepucuk lipatan surat.
“Aku heran bahwa di saku baju Si GolokMaut itupun ada
surat seperti ini.”
Swi Cu mengerutkan kening. Dia heran melihat Beng
Tan mengeluarkan sebuah surat yang dilipat baik-baik itu,
dibuka dan membaca isinya. Dan ketika Beng Tan merogoh
dan mengeluarkan benda yang sama dari saku yang lain
maka Swi Cu tertegun membelalakkan mata
“Syair! Syair yang mirip dan sama! Eh apa artinya itu,
Tan-ko? Rahasia apa yang terkandung di tulisan-tulisan
ini?”
“Aku tak tahu, tapi Sian-su bilang bahwa ada sesuatu
yang amat berharga di situ. Aku disuruh mencari, tak dapat.
Sudah berusaha kutemukan tapi sampai saat inipun otakku
rasanya bebal. Hm, Sian-su adalah kakek dewa yang amat
mengagumkan, Cu-moi. Apa yang dia berikan tak pernah
kosong, pasti selalu ada isinya. Marilah, kita berangkat dan
temui kakek itu!”
“Nanti dulu!” Swi Cu menahan, melihat Beng Tan sudah
menyambar lengannya untuk diajak pergi. “Katakan dulu
kepadaku ke mana kita pergi, Tan-ko. Dan bagaimana
selanjutnya urusan kita sendiri!”
“Maksudmu?”
“Hubungan kita ini,” Swi Cu merah mukanya, terisak.
“Aku ingin tahu bagaimana kau mewujudkan cita-cita kita,
koko. Apa yang kaulakukan setelah ini!”
“Ah, aku akan menikahimu!” Beng Tan tertegun,
memeluk kekasihnya. “Urusan kita sudah selesai, Cu-moi.
Golok Maut telah tewas dan tak ada ikatanku lagi dengan
sri baginda kaisar. Aku akan membawamu kepada Sian-su
dan sekaligus minta restunya!”
“Kalau begitu di mana kakek itu tinggal?”
“Di Lembah Malaikat.Marilah, aku tak akan melupakan
janjiku tapi kita temui dulu kakek itu!” dan Beng Tan yang
mengecup serta mencium kekasihnya lalu membuat Swi Cu
lega dan girang, bahagia tapi sayang kebahagiaannya itu
terganggu oleh urusan sucinya. Di sana sucinya menderita
sementara dia di sini mendapatkan kebahagiaannya. Ah,
betapa beda keberuntungan mereka. Tapi begitu Beng Tan
membawanya pergi dan berkelebat meninggalkan tempat
itu maka Swi Cu pun termenung-menung antara senang dan
susah!
ooooo0de0wi0ooooo
“Berhenti, ini Lembah Malaikat,” Swi Cu mendengar
kekasihnya bicara setelah dua malam melakukan
perjalanan. Letih dan penat diajak kekasihnya berputarputar
di tempat yang penuh Jurang dan lembah akhirnya
Beng Tan menghentikan larinya dan mengusap keringat.
Swi Cu sendiri setengah bersandar dan agak mengantuk di
pundak kekasihnya tadi. Dua malam ini dia diaduk
bermacam perasaan yang silih berganti, haru dan duka serta
entah perasaan macam apa lagi yang bergalut semuanya,
menjadi satu dan berbaur seperti benang ruwet. Tapi begitu
Beng Tan berhenti dan mendorong tubuhnya dengan halus,
menyadarkan kekasihnya maka Swi Cu tertegun mendengar
kicau burung yang merdu di atas pohon-pohon yang
rindang. Monyet dan segala jenis blnatang-binatang kecil
tiba-tiba bermunculan. Kelinci dan katak tiba-tiba
berlompatan, datang dan menghampiri Beng Tan dengan
berani. Alangkah herannya dia! Tapi ketika Beng Tan
tersenyum dan mengambil pisang atau kacang di dalam
buntalannya maka monyet dan kelinci datang berebut.
“Ah,” gadis ini berseru tertahan. “Jadi ini kiranya kenapa
di luar dusun tadi kau membeli pisang dan semuanya itu,
koko? Kau hendak memberi makan mereka?”
“Ya,” Beng Tan tersenyum gembira. “Semua binatang di
sini tak takut-takut kepada manusia, Cu-moi. Sian-su telah
melatih mereka dengan memberinya makan setiap hari.”
“Dan kaupun agaknya dikenal!”
“Benar, aku juga sering memberi makan mereka seperti
Sian-su, setiap hari. Dan Itu Pek-kauw!” Beng Tan tiba-tiba
menuding, melihat seekor kera putih muncul dari balik
pohon dan kera itu bercecowetan menghampiri Beng Tan.
Larinya yang cepat dan sebentar kemudian sudah melompat
di pundak pemuda ini membuat Swi Cu tiba-tiba
tercengang, heran dan kagum dan tiba-tiba dia terkekeh
ketika monyet putih ini merogoh semua saku Beng Tan.
Pek-kauw, monyet itu, rupanya mencari sesuatu dan Beng
Tan tertawa mengeluarkan sebungkus kembang gula,
permen. Dan ketika bungkusan itu direbut dan Pek-kauw
sudah cecowetan membuka isinya maka monyet ini
berjingkrak-jingkrak di kepala Beng Tan!
“Hi-hik,” Swi Cu tiba-tiba tak dapat menahan geli,
lenyap kemurungannya. “Kera ini lucu sekali, koko. Dia
manja dan rupanya paling akrab denganmu!”
“Benar,” Beng Tan juga tertawa. “Pek-kauw paling berani
dan kurang ajar pula, Cu-moi. Tapi dia tak pernah
menyakiti aku. Lihat, kesukaannya adalah kembang gula
itu sementara teman-temannya yang lain adalah pisang atau
kacang!”
Swi Cu terkekeh-kekeh. Gembira dan geli melihat
tingkah si monyet yang lucu, tiba-tiba diapun ingin
bercanda. Dia minta agar Beng Tan memberikan monyet
putih itu. Tapi ketika Pek-kauw bercecowetan dan meloncat
turun, lari bersembunyi di balik pohon besar tadi maka
Beng Tan tertawa memberi tahu bahwa binatang itu ingin
menikmati kembang gulanya dulu, mungkin takut direbut
yang lain.
“Ha-ha, belum mau. Tapi lihatlah, kenari dan burungburung
kutilang itu mendekatimu, Cu-moi. Berikan
makanan ini kepada mereka dan bersikaplah sebagai
seorang sahabat!”
Swi Cu terkejut. Tujuh ekor burung beterbangan di
mukanya dan berkicau saling sahut.Mereka melihat pisang
dan makanan berbiji yang ada di tangannya, pemberian
Beng Tan. Dan ketika dia terbelalak dan melebarkan
matanya tiba-tiba lima ekor kenari dan sepasang kutilang
menyerbu dirinya, berkicau mematuk makanan di
tangannya itu dan hinggap di sana-sini, tak takut-takut!
“Ha-ha, itulah mereka, Cu-moi. Bersenang-senanglah.
Bergembiralah!”
Swi Cu terkekeh. Akhirnya dia menangkap satu di antara
lima ekor burung kenari itu, burung berwarna kuning.
Burung ini jinak dan mandah saja ditangkap. Tadi dia
mengepak-ngepakkan sayapnya dan juga ekor, lucu. Swi Cu
gemas dan lupalah gadis itu akan persoalannya dua hari
yang lalu, mencium dan menangkap yang lain lagi dan tak
lama kemudian gadis ini sudah terkekeh-kekeh melupakan
maksud kedatangannya pula ke situ, bermain dan
bergembira bersama penghuni lembah dan Beng Tanpun
juga terbawa oleh suasana yang penuh riang ini. Kelinci dan
monyet serta katak adalah teman-temannya sejak dulu.
Mereka itu sahabat-sahabat penghuni Lembah Malaikat.
Dua muda-mudi ini tiba-tiba bergembira dan Beng Tan pun
lupa akan maksud kedatangannya di situ. Tapi ketika dua
jam mereka bermain-main dan monyet atau kelinci disuruh
menari-nari oleh Beng Tan, ditonton dan membuat Swi Cu
terkekeh-kekeh maka terdengarlah sapaan lembut dan
tiupan angin yang halus menerpa mereka.
“Beng Tan, kau main-main di sini? Kau tidak di istana
lagi?”
Beng Tan dan Swi Cu terkejut. Mereka menengok dan
terpekiklah Swi Cu melihat apa yang dilihat. Seorang
kakek, entah dari mana munculnya tahu-tahu telah berada
di dekat mereka di bawah pohon besar di mana tadi Pekkauw
menyembunyikan diri. Kakek itu berdiri namun
kakinya tidak menginjak tanah, seolah melayang, atau
mengambang. Dan ketika Swi Cu terkejut dan pucat karena
wajah itu tak kelihatan jelas seolah tertutup halimun atau
kabut tebal maka Beng Tan yang ada di sisinya sudah
berseru nyaring menyebut kakek itu, menjatuhkan diri
berlutut.
“Sian-su….!”
Swi Cu terguncang. Mendadak iapun roboh berlutut dan
tak dapat menahan diri lagi, gemetar. Perasaannya tergetar
dan entah kenapa tiba-tiba ia menggigil. Kakek itu seolah
bukan manusia saja melainkan siluman, atau mungkin roh
halus, hantu! Tapi ketika Beng Tan menjatuhkan diri dan
menyebut nama kakek itu, sebagai Sian-su, maka sadarlah
Swi Cu bahwa inilah kiranya kakek yang dicari-cari
kekasihnya itu. Sian-su, atau Bu-beng Sian-su, kakek amat
hebat yang katanya maha sakti hingga dapat terbang ke
langit atau masuk ke dalam bumi. Berkepandaian demikian
tinggi hingga tak dapat diukur lagi. Itulah kakek yang
menjadi guru kekasihnya, datang dan muncul seperti
siluman saja! Tapi ketika dua orang itu menjatuhkan diri
berlutut dan Swi Cu gemetar tak berani mengangkat
mukanya mendadak Bu-beng Sian-su, kakek itu, bergerak
dan sudah membangunkan mereka.
“Bangunlah!” tawa lembut itu menyejukkan hati, sudah
disertai usapan ke wajah. “Bangkit dan berdirilah kalian,
anak-anak. Tak perlu berlutut!”
Beng Tan dan Swi Cu merasakan sesuatu yang
menggetarkan. Mereka tiba-tiba merasa betapa wajah yang
diusap menjadi dingin dan segar, begitu segar dan dingin
hingga segala kepenatan tiba-tiba lenyap. Swi Cu yang
merasa paling lelah mendadak tak merasakan lagi
kelelahannya itu, sirna dan lenyap oleh usapan si kakek.
Begitu mengherankannya! Dan ketika ia berdiri dan melirik
Beng Tan, aneh bin ajaib, wajah Beng Tan mendadak
dilihatnya begitu mencorong dan gagah serta bersinar-sinar,
begitu bersinar-sinar dan gagah hingga ia bengong. Beng
Tan tiba-tiba dilihatnya jauh lebih gagah dan tampan
daripada sebelumnya. Pemuda itu mengeluarkan cahaya
yang membuat wajahnya seperti dewa. Ah, mendecak gadis
ini, Kagum! Tapi ketika dia terbelalak dan bengong
memandang kekasihnya maka Beng Tan, yang juga berdiri
dan memandang kekasihnya itu tiba-tiba dibuat bengong
dan kagum karena wajah Swi Cupun bersinar-sinar dan
cemerlang seperti bulan purnama. Wajah itu menjadi
gemilang dan hidup dan Beng Tan melihat kecantikan luar
biasa yang belum pernah dilihat sebelumnya. Kekasihnya
itu tiba-tiba menjadi cantik jelita dan Beng Tan bengong,
takjub. Wajah gemilang itu serasa seorang dewi saja dan
bukan manusia. Ah, Beng Tan melongo dan terbuka
mulutnya. Wajah sang kekasih yang mendadak begitu
cantik jelita dan gemilang membuat dia mendelong. Wajah
itu seolah Swi Cu dalam ujudnya yang baru, Swi Cu yang
cantik jelita dan anggun, bak dewi kahyangan! Tapi ketika
dua muda-mudi itu sama-sama takjub dan masing-masing
bengong memandang pasangannya, yang tiba-tiba begitu
cantik dan gagah perkasa melebihi yang sudah-sudah maka
tawa Bu-beng Sian-su menyadarkan dan mengejutkan
keduanya bahwa di situ masih ada orang ketiga.
“Beng Tan, kalian bengong saja saling pandang? Kalian
tidak segera memberi tahu maksud kedatanganmu?”
“Ah-ah!” Beng Tan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut,
kembali menghormat. “Teecu datang memang membawa
sesuatu keperluan, Sian-su. Maaf bahwa teecu tidak
memberi tahu dulu!”
“Hm, bangkitlah. Tak usah berlutut!” tangan itu
bergerak, menyentuh pundak. “Aku tahu kedatanganmu,
Beng Tan, tapi tidak tahu siapa gadis ini. Apakah dia
temanmu?”
“Beb…. benar…” Beng Tan tergagap. “Dia… dia Swi Cu,
Sian-su. Kekasih teecu, calon isteri teecu!”
“Hm, baiklah, calon isterimu kiranya,” kakek itu
tersenyum, menghadapi Swi Cu “Benarkah, nona? Kau
calon isteri Beng Tan?”
“Beb….. benar….!” Swi Cu ikut tergagap, tiba-tiba merah
padam. “Aku… aku Swi Cu, Sian-su…. datang
menghaturkan hormat!”
“Sudahlah,” kakek itu juga menarik berdiri. “Kau berdua
tak perlu takut-takut, nona. Beng Tan tentu telah memberi
tahu padamu bahwa aku adalah kakek yang sederhana saja.
Marilah, duduk dan ceritakan maksud kalian datang ke
mari.”
Swi Cu terkejut. Sang kakek mengibaskan lengan dan
tiba-tiba segumpal mega, atau asap putih, menderu di
bawah mereka. Dan ketika dia terkejut dan sang kakek
tertawa tahu-tahu dia dan Beng Tan sudah jatuh terduduk
dan sudah berada di atas gumpalan mega ini, yang ternyata
empuk dan dingin, seperti bantal!
“Tanah itu kotor, dan bumi juga kotor. Sebaiknya kita ke
tempat yang enak dan bicara di tempat yang bersih!”
Swi Cu membelalakkan mata. Sang kakek mengibaskan
lengannya sekali lagi dan muncullah bantalan mega itu,
tepat di bawah sang kakek. Dan ketika Bu-beng Sian-su
duduk dan melipat kakinya, bersila, maka kakek itu berseru
bahwa mereka tidak di atas bumi iagi. Swi Cu berteriak
karena tiba-tiba bantal mega yang diduduki bergerak,
melayang dan sudah mengikuti si kakek terbang ke angkasa.
Dan ketika Beng Tan di sana juga terkejut dan
mengeluarkan seruan tertahan maka dua muda-mudi itu
sudah mengikuti Bu-beng Sian-su ke langit, terbang,
mungkin ke tempat para dewa!
“Heii…!” gadis ini pucat. “Aku… aku takut, Beng Tan.
Kita meluncur dan terbang ke langit!”
“Tenanglah,” suara Bu-beng Sian-su terdengar lembut di
depan. “Kalian tak apa-apa, nona. Bantal itu akan melekat
penuh di kakimu, tak akan lepas. Aku ingin mengajak
kalian ke tempat yang tenang dan jauh dari keramaian
manusia. Duduk sajaiah di situ, tak usah melihat ke
bawah!”
Swi Cu ngeri. Segera dia menutup mulut rapat-rapat dan
tak memandang ke bawah lagi.Memang benar, dia menjadi
ketakutan dan ngeri ketika tadi melihat ke bawah. Bantal
ajaib itu membawanya terbang ke langit dan Lembah
Malaikat tampak di sana, jauh di bumi, kecil dan akhirnya
tak dapat dilihat secara jelas lagi karena dia sudah terbang
bersama kakek dewa itu. Beng Tan ada di sampingnya dan
untunglah kekasihnya itu tak berada jauh. Bantal merapat
dan tiba-tiba keduanya sudah bersatu. Terbang dan berada
di angkasa bebas seperti dongeng begini barulah kali itu
dialami Swi Cu. Gadis ini terisak dan gembira namun juga
tegang. Bayangkan, bagaimana kalau dia jatuh! Tapi ketika
Beng Tan berbisik bahwa dia tak usah takut, Sian-su akan
melindungi dan menjaga mereka maka menangislah gadis
ini penuh bahagia.
“Oh, aku… ah… baru sekali ini mengalami hal seperti ini,
Tan-ko. Gurumu benar-benar luar biasa dan bukan manusia
lagi. Ah, dia memang dewa, kakek dewa. Tapi ke mana kita
akan dibawa? Ke tempat para malaikatkah?”
“Aku tak tahu,” Beng Tan menggeleng “Yang jelas tentu
ke tempat yang baik, Cu-moi. Sudahlah kau duduk saja dan
peluk aku rapat-rapat. Pejamkan matamu kalau takut!”
Hal itu sudah dilakukan Swi Cu. Gadis ini memang takut
tapi juga gembira. Takut-takut gembira, begitulah
barangkali. Dan ketika dia mendekap tubuh Beng Tan dan
bantal mega itu, terus melayang dan mengikuti Sian-su,
mirip selempang Aladin maka tibalah mereka di suatu
tempat yang sukar disebut namanya. Tempat itu seperti
taman di tengah surga, pohon warna-warni ada di situ dan
Beng Tan takjub melihat ini. Daun yang ada di situ bukan
hanya berwarna hijau melainkan berwarna-warni. Biru,
hitam dan putih. Bahkan, ada yang jambon dan perpaduan
dl antara tujuh warna sinar pelangi. Beng Tan takjub dan
bingung, untuk menentukan warna apakah yang dilihatnya
itu. Pokoknya, bukan warna yang ada di bumi. Semuanya
lebih indah dan jauh lebih mempesona daripada di bumi.
Warna itu tak dapat dilukiskan atau digambarkan dengan
kata-kata. Pokoknya, indah dan mentakjubkan. Titik! Dan
ketika Beng Tan bengong dan takjub memandang semua itu
maka Swi Cu, yang juga sudah membuka mata dan
melepaskan diri dari kekasihnya berseru kagum tak dapat
menahan mulut.
“Luar biasa… mentakjubkan! Ah, seperti Taman
Firdaus…!”
“Benar,” Beng Tan tiba-tiba teringat kitab suci. “Taman
ini seperti Taman Firdaus, Cu-moi. Dan pohon-pohon itu,
ah… mereka dapat bergerak… menari!”
Swi Cu membelalakkan matanya., Tiba-tiba pohon yang
ada di situ mendadak semuanya bergoyang, bergerak dan
sudah berpindah-pindah tempat. Mereka seolah bermain
satu sama lain, atau mungkin menari-nari, karena pohon
yang daunnya putih dan hitam berlenggak dan berlenggok.
Dahan dan ranting mereka saling bergerak maju mundur.
Itulah pemandangan yang seumur hidup belum pernah
mereka saksikan. Seperti dongeng! Tapi ketika mereka
terbelalak dan takjub serta bengong tak habis-habisnya
maka Bu-beng Sian-su tertawa dan menyadarkan mereka.
“Beng Tan, mari sini. Inilah tempat yang enak, bebas
dari pengaruh hawa nafsu manusia.”
Beng Tan terkejut. Segera dia sadar dan turun dari bantal
meganya itu, lupa tidak menginjak tanah tapi bengong
karena kakinya menapak di sesuatu yang lembut, seperti
awan atau beludru tebal, lunak. Entahlah, tak tahu dia apa
namanya itu tapi pemuda ini sudah menghampiri Sian-su.
Kakek itu sudah bersila dan wajahnya yang bersinar tampak
semakin bersinar saja, tidak menyilaukan namun tetap saja
Swi Cu dan Beng Tan tak dapat menembus kabut atau
halimun di wajah sang kakek. Dan ketika Beng Tan duduk
dan Swi Cu menyusul, heran dan terkagum-kagum maka
kakek itu bertanya apa yang hendak dibicarakan pemuda
itu.
“Teecu…. teecu hendak meminta jawaban tentang syair.
Juga sekalian memberi tahu bahwa GolokMaut tewas!”
“Aku tahu,” kakek itu tersenyum, menghela napas.
“Kematian Golok Maut sudah kuketahui dulu-dulu, Beng
Tan. Dia telah menentukan garis nasibnya sendiri. Hm,
akibat dendam!”
“Dan teecu akan bertanya tentang syair…..”
“Nanti dulu!” Swi Cu tiba-tiba memotong. “Aku hendak
bertanya tempat apakah ini namanya, Sian-su. Bagaimana
begini mempesona dan mentakjubkan. Semua nya serba
lain dengan di bumi!”
“Hm, ini adalah It-thian (Langit Pertama).”
“It-thian?”
“Ya, perpindahan pertama kalinya dari alam kasar ke
alam halus, nona. Sebelum menaiki jenjang-jenjang
berikutnya.”
“Ih, tempat orang mati?”
“Bukan orang mati saja, melainkan segala yang ada di
bumi, tanaman dan binatang. Sudahlah, kau tak akan
mengerti dan sebaiknya kita ikuti pertanyaan Beng Tan ini.”
Swi Cu ngeri. Tiba-tiba dia mengkirik dan memandangi
pohon-pohon yang menari-nari itu. Jangan-jangan itu
adalah pohon yang mati di bumi dan kini “hidup” di tempat
ini. Atau, mungkin roh orang yang “nyasar” ke pohon itu.
Hii, merinding dia! Dan ketika dia mencekal lengan Beng
Tan erat-erat dan tanpa terasa menjadi takut dan ngeri
maka Bu-beng Sian-su tersenyum memandang pemuda itu,
yang juga pucat dan berkeringat!
“Kau takut?”
“Tidak, tapi… tapi… ah, berada di suatu tempat yang
asing untuk pertama kalinya memang terasa menyeramkan,
Sian-su. Tapi ada kau di sini. Aku tak takut!”
“Hm, perasaan itu adalah wajar. Tapi mereka semua
adalah sahabat. Lihatlah, tak ada satupun di antara mereka
yang mengganggu. Lihat mereka tersenyum padamu!”
Beng Tan melongo. Pohon-pohon yang tadi bergerak dan
menari-nari mendadak menghadap ke arahnya semua.
Mereka menunduk dan…. tersenyum padanya. Ah, tidak.
Mereka tak mempunyai mulut. Tapi, ah… dapat tersenyum!
Bagaimana ini? Beng Tan bingung karena tak dapat
menerangkan. Hal itu memang ganjil dan sukar dilukiskan
kata-kata. Tapi, senyum itu… ah, dia dapat merasakannya
jelas. Senyum itu seperti gunung yang segar menyambut
manusia, atau ombak yang lembut di pesisir yang halus.
Senyum itu memang lain dengan senyum manusia tapi
getaran hangat itu dirasanya. Itulah senyum Cinta Kasih!
Beng Tan tak tahu ini tapi getaran cinta kasih itu dirasanya,
ditangkapnya, Dan ketika Bu-beng Sian-su tertawa dan
memberi tahu bahwa pohon dan semua yang ada di situ
sedang menyambut Beng Tan dengan gembira,
sebagaimana layaknya seorang tamu memasuki rumah
orang lain maka kakek itu mengajak lagi ke pembicaraan
semula.
“Kau akan tahu kelak, akan mengerti bagaimana cara
mereka bercakap-cakap atau berkomunikasi. Marilah,
lanjutkan pembicaraanmu, Beng Tan. Kita memiliki batas
waktu di sini.”
Beng Tan sadar. Akhirnya dia merasakan juga
kebutuhan akan pembicaraan pokok itu, tentang syair. Dan
ketika dia bersinar-sinar dan mengeluarkan lipatan surat
yang selalu disimpannya rapi maka pemuda ini mulai
dengan sikapnya yang serius, sudah dapat mengatasi
perasaannya yang berdebar-debar bahwa dia berada di
Langit Pertama, tempat perpindahan dari alam kasar ke
alam halus!
“Teecu hendak menanyakan tentang isi syair ini, juga
bertanya bagaimana Golok Maut juga mempunyai atau
membawa syair yang sama!”
“Hm, syair yang manakah itu, Beng Tan? Dapatkah kau
membacanya?”
“Inilah…” Beng Tan memperlihatkan, juga sekaligus
meminta sebuah syair lain yang disimpan Swi Cu, karena
kekasihnya itu membaca dan menyimpan syair yang
dimiliki Si GolokMaut.
“Teecu tak dapat menemukan inti jawaban syair ini,
Sian-su. Dan teecu gagal memenuhi permintaanmu!”
“Hm, bacalah. Atau, biar kekasihmu saja yang membaca,
tentu lebih merdu dan nyaring!”
Swi Cu semburat. Beng Tan memandangnya tersenyum
dan tak jadi meminta syair yang dibawanya. Pemuda itu
menyerahkannya kepadanya dan Swi Cu terpaksa
membaca. Dan ketika lipatan surat sudah dibuka dan Swi
Cu membacanya, sudah dapat menekan perasaannya yang
berdebar-debar dan kagum tapi juga gentar seperti yang tadi
dirasa Beng Tan maka gadis ini sudah mengeluarkan
suaranya yang merdu dan nyaring, lantang tapi sedap
didengar teiinga:
“Bukan benang sembarang benang halus menawan di kiri
kanan kalau dijaga menimbulkan senang kalau rusak
menimbulkan dendam inilah benang yang minta perhatian!”
“Hm, itu kiranya,” Bu-beng Sian-su tersenyum
mengangguk-angguk, tertawa. “Benar sekali pertanyaan
yang kaubawa, Beng Tan. Sesuai dengan apa yang ada.
Baiklah, akan kujawab!” dan ketika kakek itu bersinar dan
tajam memandang Beng Tan, yang harus menunduk dan
tak kuat menghadapi sorot cahaya yang tiba-tiba menembus
di balik kabut maka kakek itu bertanya apa yang dilihat
pemuda ini.
“Teecu tak melihat apa-apa, tak tahu apa-apa!”
“Hm, jangan terburu menjawab,” kakek itu tersenyum
menegur, menghadapi Swi Cu. “Kau sendiri juga tak tahu,
nona? Seperti Beng Tan?”
“Aku… aku juga tak tahu, tak mengerti!”
“Kalian akan mengerti kalau sudah tahu, dan kalian akan
tahu kalau sudah mempelajari. Baiklah, syair ini sederhana
saja. Seluruh kekuatan yg bertumpu pada Si GolokMaut!”
“Maksud Sian-su?” Beng Tan tertegua “Apakah hendak
membicarakan yang sudah mati?”
“Ah, tidak. Bukan begitu,” kakek ini tertawa. “Yang
sudah mati tak perlu dibicarakan, Beng Tan. Tapi apa yang
pernah terjadi perlu disimak dan direnungi hikmah nya!”
“Teecu masih tak mengerti,” Beng Tan bicara, bingung.
“Dan aku juga….” Swi Cu menyambung, sama-sama
bingung.
“Baiklah, perhatikan ini, anak-anak. Jawaban syair
sebenamya hanya satu kata-kata saja. Tapi karena
menjelaskan begitu saja tak akan mengesankan maka
baiklah kalian kubawa berputar-putar sedikit.”
Beng Tan dan Swi Cu terbelalak. Mereka tak mengerti
maksud kakek itu dan Swi Cu tiba-tiba bangkit berdiri. Kata
berputar-putar dikiranya hendak berjalan-jalan, kakek itu
terkejut tapi tertawa menyuruhnya duduk lagi. Bukan begitu
yang dimaksud kakek ini. Dan ketika Bu-beng Sian-su
mengebutkan lengan dan menarik napas dalam maka yang
meluncur adalah pertanyaan-pertanyaan juga, sebagai
sendal pancing!
“Kalian tahu apa yang dimaksud benang di situ? Kalian
tak melihat hubungannya dengan Si GolokMaut?”
“Tidak.”
“Baiklah, kalau begitu kutanya Beng Tan,” kakek ini
menghadapi Beng Tan, yang tiba-tiba berdebar dan gelisah.
“Dulu sudah kuberi tahu bahwa inti syair berada pada kisah
ini, Beng Tan. Kisah Si Golok Maut. Sekarang kau
ceritakanlah apa yang kauketahui tentang pemuda itu.”
“Sin Hauw pemuda yang ganas dan kejam, telengas!”
“Bukan, bukan itu. Menjawab ekornya tak akan
menemukan pokok persoalannya. Kutanya kau kenapa Sin
Hauw telengas dan kejam!”
“Dia… dia….” Beng Tan tiba-tiba terkejut, gagap. “Aku…
aku tak tahu kenapa dia kejam, Sian-su. Tapi yang jelas
akibat dendam!”
“Bagus, dan kau, nona?” Bu-beng Sian-su tiba-tiba
menoleh pada Swi Cu, mengejutkan sang gadis. “Kau juga
melihat begitu? Kau membenarkan kata-kata Beng Tan ini?”
“Ya!” Swi Cu mengangguk, tergetar tapi dapat mengikuti
pertanyaan orang. “Golok Maut memang kejam karena
dendam, Sian-su. Dan suciku juga sudah menceritakan
tentang itu!”
“Sucimu?”
“Dia sumoi dari Hek-yan-pangcu Wi Hong,” Beng Tan
tiba-tiba menjelaskan. “Dan Wi Hong adalah kekasih Golok
Maut, Sian-su. Swi Cu mengetahui itu dari sucinya!”
“Hm, bagus kalau begitu. Kita sejalan!” kakek ini berseriseri,
tiba-tiba gembira. “Dan kudesak kalian lagi kenapa
GolokMaut dendam, Beng Tan. Apa sebabnya dia menjadi
dendam!”
“Dia marah kepada Coa-ongya!”
“Dan juga Ci-ongya!” Swi Cu menyambung, mulai
tertarik, mendengarkan dan entah kenapa tiba-tiba
pertanyaan-pertanyaan yang dilancarkan kakek itu
menggugah minatnya untuk mengetahui. Swi Cu berbicara
cepat dan Bu-beng Sian-su pun tersenyum. Dan ketika
kakek itu tertawa dan bertanya kenapa GolokMaut marah,
maka Swi Cu dan Beng Tan hampir serentak menjawab
bahwa karena GolokMaut itu ditlpu dan dihina Coa-ongya.
“Ha-ha, bagus. Sebutkan lagi. Ulangi!”
“Golok Maut marah karena ditipu dan dihina Coaongya!”
“Juga Ci-ongya!”
“Dan kalian tahu bagaimana rasanya orang ditipu?”
Beng Tan tertegun. “Marah, gusar…”
“Dan cukup itu saja?”
“Eh,” Beng Tan melengak. “Kukira itu saja, Sian-su, tak
ada lain….”
“Hm, kau mengukur baju orang dengan bajumu sendiri.”
“Maksud Sian-su?”
“Kau hendak membandingkan perasaanmu dengan
perasaan Si GolokMaut itu, Beng Tan. Kau berkata hanya
itu saja karena memang itulah yang kau rasakan dari
perbuatan kaisar!”
“Eh!” Beng Tan terkejut. “Aku tak mengetahui maksud
kata-katamu, Sian-su. Kenapa kaisar dibawa-bawa!”
“Hm, bukankah kaisar juga menipumu? Bukankah orang
yang berkedok hitam itu juga menipumu? Tak usah
mengelak. Aku tahu semua apa yang terjadi, Beng Tan.
Dan aku tahu betapa kau marah-marah dan gusar kepada
kaisar karena secara diam-diam mengijinkan Coa-ongya
menyerbu Lembah Iblis, padahal sebelumnya kaisar berjanji
padamu untuk menyerahkan Si Golok Maut itu kepadamu
seorang!”
Beng Tan kaget. Pemuda ini tiba-tiba mencelat bangun
dan pucat memandang kakek itu. Bu-beng Sian-su ternyata
mengetahui rahasia itu. Rahasia kemarahannya kepada
kaisar dan terlebih kepada si Kedok Hitam. Ah, dia lupa
bahwa kakek ini memang kakek maha sakti yang seolah
mengetahui segalanya. Bu-beng Sian-su adalah manusia
dewa yang bakal mengetahui apa saja, semut di lubang
bumi sekalipun! Dan ketika dia tertegun dan
membelalakkan matanya lebar-lebar maka kakek itu berkata
agar Beng Tan duduk kembali, menggapaikan lengannya.
“Duduklah, dan tak usah bengong. Aku tahu bahwa
kaupun tahu siapa si Kedok Hitam itu,
menyembunyikannya dari semua orang. Tapi karena belum
ada sesuatu yang direnggut darimu dan apa yang kaualami
hanyalah secuil dari apa yang dialami Sin Hauw maka
kemarahanmu hanya berhenti di situ saja, Beng Tan. Tidak
sampai menjadi dendam yang sedalam lautan!”
Beng Tan pucat, menggigil. “Sian-su, kau…. kau tahu
semuanya itu? Kau melihat apa yang terjadi?”
“Hm, aku tahu semuanya itu, Beng Tan Tapi jangan
tanya kenapa aku tidak menolong Si GolokMaut itu!”
Beng Tan tertegun. Seolah tahu apa yang hendak
ditanyakan tiba-tiba kakek dewa itu telah mendahuluinya
memotong. Dengan jitu dan tepat kakek ini telah menutup
mulut Beng Tan untuk tidak bertanya kenapa kakek itu
tidak menolong Golok Maut, pemuda yang jelas diancam
bahaya itu, yang sampai menimbulkan kematiannya. Dan
ketika Beng Tan tertegun dan tak mampu bertanya apa-apa,
mulut serasa terkunci maka Swi Cu yang terkejut
mendengar bahwa Beng Tan mengetahui siapa adanya si
Kedok Hitam tiba-tiba meloncat bangun.
“Tan-ko, kau tahu itu? Kau tahu siapa si Kedok Hitam
itu?”
“Ini… ini…” Beng Tan terhuyung, menutupi mukanya.
“Aku tak dapat menceritakannya, Cu-moi. Waktu itu ada
Wi Hong….!”
“Ah, kalau begitu kaupun menipu. Kau berkata pada
suciku bahwa kau tidak mengetahui siapa si Kedok Hitam
itu!”
“Jangan salah faham!” Beng Tan kaget, melihat
kekasihnya tiba-tiba marah-marah. “Aku tak
memberitahunya karena sucimu sedang hamil, Cu-moi.
Kalau dia tahu siapa itu jangan-jangan dia bakal
keguguran!” dan cepat memberi tahu bahwa dia tak
bermaksud melindungi laki-laki kejam itu karena
kebohongannya semata ditujukan buat menyelamatkan Wi
Hong maka Swi Cu menggigil namun pandangan tidak
senang tetap saja terpancar di matanya, hal yang membuat
Beng Tan tidak enak!
“Aku tidak bermaksud berbohong, tidak bermaksud
menipu. Kalau kau tidak percaya silahkan tanya Sian-su
yang dapat membaca pikiran orang ini!”
Swi Cu menoleh. Tawa dan senyum lembut kakek itu
tiba-tiba menghilangkan kemarahannya bagai api tersentuh
air. Kakek itu mengangguk dan berkata bahwa apa yang
dikata Beng Tan benar. Kekasihnya itu tak bermaksud
berbohong selain tujuan menyelamatkan Wi Hong belaka,
karena wanita itu sedang mengandung dan berkali-kali
menerima pukulan batin. Dan ketika kakek itu berkata agar
mereka duduk kembali, tenang dan mendinginkan pikiran
maka Bu-beng Sian-su menghela napas menunjuk Beng
Tan.
“Kau kelak harus menebus kesalahanmu Ini. Jangan
biarkan wanita itu dan kekasihmu ini tertipu selamanya!”
“Baik, aku berjanji, Sian-su. Dan ampunkan teecu!” Beng
Tan menjatuhkan diri berlutut, membenturkan Jidat tiga
kali dan ditepuklah pemuda ini agar bangun lagi. Swi Cu
bertanya siapa gerangan si Kedok Hitam itu, penasaran.
Tapi ketika Bu-beng Sian-su berkata bahwa Swi Cu dapat
menanyanya belakangan maka gadis ini menahan perasaan
dongkolnya.
“Kalau Beng Tan tak memberitahumu maka kelak
akulah yang akan menerangkan padamu. Jangan khawatir,
orang setua aku tak mungkin ingkar janji!”
Swi Cu tersipu. Kalau Bu-beng Sian-su sudah berkata
seperti itu tentu saja ia tak berani mendesak. Penasarannya
di-pendam dan Beng Tan pun sudah diajak lagi untuk
kembali ke persoalan semula. Kakek itu belum bicara habis
dan Swi Cu mendengarkan. Dan ketika kakek itu bertanya
apa saja yang diketahui Beng Tan maka pemuda ini ngeri
menerangkan.
“Teecu…. teecu takut. Biarlah Sian-su saja yang
menceritakan karena Sian-su tentu lebih tahu daripada
teecu!”
“Hm, jangan begitu. Betapapun kau harus menjawab,
Beng Tan, jangan semua persoalan diserahkan kepadaku.
Baiklah, coba kekasihmu saja yang bercerita!”
“Aku… aku ngeri. Aku tak mengerti ….!” Swi Cu pucat.
“Eh, kenapa begitu?” kakek ini tersenyum. “Kau sendiri
bilang bahwa sedikit atau banyak kau mengetahui riwayat
Golok Maut, nona. Dan kau juga ingin tahu rahasia syair
ini. Seharusnya kau masuk dan melibatkan diri dalam
percakapan. Nah, jangan takut atau ngeri dan bersikaplah
tenang saja kenapa GolokMaut demikian dendam!”
“Karena… karena Coa-ongya dan adik-nya menipu!”
“Bagus, tentang apa?”
“Banyak sekali, Sian-su. Tapi…. tapi agaknya Beng Tan
lebih tahu!”
Lucu sekali, Swi Cu tiba-tiba melempar persoalan! Gadis
ini ngeri dan gentar berhadapan dengan kakek dewa itu. Bu
beng Sian-su dirasanya akan menggiring dan dia tak tahu ke
mana dia akan digiring. Entahlah, Swi Cu jadi takut dan
gentar untuk bercakap-cakap dengan kakek ini. Dia lebih
baik menjadi pendengar daripada pembicara! Dan ketika
kakek itu tertawa dan mengebutkan bajunya maka kakek ini
menarik napas dalam.
“Baiklah, kalau begitu kalian anggukkan kepala kalau
aku mulai bercerita. Kita mulai dari bawah…” dan tajam
bersinar-sinar memandang dua orang itu kakek ini mulai
membuka tabir. “Pertama, tentu kalian tahu bahwa Sin
Hauw atau Si Golok Maut itu adalah putera dari mendiang
Sin Lun yang dianggap membantu pemberontak oleh
penguasa sekarang, Li Ko Yung. Dan karena Sin Lun
adalah seorang laki-laki gagah yang amat setia maka Li Ko
Yung atau pembantu-pembantunya mulai membujuk lakilaki
itu untuk berpihak pada mereka. Tapi sayang, usaha
mereka gagal!”
“Dan Sin Lun akhirnya dibunuh!”
“Ya, benar, Beng Tan. Dan kau tahu siapa
pembunuhnya, bukan?”
“Jenderal Kwi..”
“Bagus, dan kau tahu siapa jenderal Kwi ini!”
“Adik dari ibu Sin Hauw…”
“Nah, apalagi?”
“Jenderal ini pembantu Coa-ongya, Sian-su, kebetulan di
pihak Li Ko Yung sementara ayah Sin Hauw di pihak
pemberontak!”
“Hm, istilah pemberontak sebenarnya kurang enak, lebih
tepat disebut sebagai berdiri di pihak musuh saja. Baiklah,
lalu apalagi yang kau ketahui?”
“Sin Hauw marah-marah kepada pamannya itu,
bermaksud menuntut balas!”
“Tapi ibunya melarang,” tiba-tiba Swi Cu ikut bicara,
berani setelah kekasihnya ikut bertanya jawab. “Dan Kwigoanswe
marah-marah, Sian-su. Sin Hauw akhirnya
ditangkap dan dihukum!”
“Bagus, dan ibu Sin Hauwpun akhirnya tewas, dalam
membela anak. Kalian tahu apa yang terjadi dengan
keluarga itu setelah Kwi-goanswe memusuhi Sin Hauw
pula!”
“Ini….” Beng Tan bersinar-sinar, teringat kisah Si Golok
Maut itu. “Kwi-goanswe memang kejam, Sian-su. Terhadap
seorang anak kecilpun ia tak segan-segan berlaku keras!”
“Ya, dan ada sesuatu yang barangkali tak kalian ketahui,
tentang enci atau kakak perempuan Sin Hauw itu.”
“Apa?”
“Perbuatan biadab Kwi-goanswe terhadap gadis itu.”
“Eh, maaf. Kami lupa nama gadis itu, Sian-su. Dan apa
yang dilakukan Kwi-goan swe terhadap kakak Sin Hauw!”
“Gadis itu bernama Hwa Kin, dan Kwi-goanswe
memperkosanya!”
“Apa?” Swi Cu terpekik. “Paman memperkosa
keponakan sendiri?”
“Hm, itulah yang terjadi, nona. Dan Sin Hauw sendiri
baru tahu beberapa saat sebelum encinya tewas.”
“Jahanam! Terkutuk!” Swi Cu tiba-tiba melompat
bangun, mengepal tinju dengan menggigil. “Sungguh biadab
sekali jenderal she Kwi itu, Sian-su. Kalau aku ada di sana
tentu waktu itu juga aku akan membunuh Kwi-goanswe
itu!”
“Hm, kaupun mulai terbakar, ikut merasakan atau
menghayati kisah ini,” kakek itu mengangguk-angguk,
menghela napas. “Bagaimana kalau peristiwa itu menimpa
dirimu, Beng Tan? Bagaimana kalau umpamanya encimu
atau kekasihmu ini diperkosa orang? Cukup hanya marah
dan gusar saja? Tidak mendendam?”
Beng Tan terkejut. Tiba-tiba dia terpukul dan kaget,
muka seketika menjadi merah dan semburatlah dia akan
kata-katanya sendiri tadi. Dia tak menambahi dengan katakata
dendam karena perbuatan kaisar memang masih belum
sehebat itu. Tapi kalau dia membayangkan bahwa Swi Cu
atau saudara perempuannya mau diperkosa orang tiba-tiba
pemuda ini terbakar dan mendadak peristiwa di kamar Swi
Cu teringat kembali, muncul dengan cepat. Waktu itu Swi
Cu juga mau diperkosa orang dan orang itu mereka sangka
Si Golok Maut, padahal bukan. Dan terkejut serta tergetar
oleh todongan kakek dewa ini tiba-tiba Beng Tan mulai
menggigil dan marah, kemarahan yang sudah bercampur
dengan benci dan dendam!
“Bagaimana, Beng Tan? Kau mulai dapat merasakan
kebenaran ini?”
“Ya-ya… teecu…. teecu terbakar!”
“Bagus, dan kalian duduklah kembali,” kakek itu
mengulapkan lengan, menyuruh Swi Cu dan pemuda ini
duduk dengan tenang. “Apa yang diketahui Sin Hauw
memang tidak seketika, Beng Tan. Dan waktu itu Sin Hauw
juga belum dewasa benar.”
“Hm-hm, dan bagaimana selanjutnya, Sian-su?”
“Kalian tahu, anak ini akhirnya ditemukan Hwa-liong
Lo-kai dan diambil murid.”
“Ya-ya, kami tahu itu. Tapi akhirnya Sin Hauw menjadi
murid utama Sin-liong Hap Bu Kok dan isterinya yang
hebat Cheng-giok Sian-li!”
“Hm, itu benar. Karena Sin-liong Hap Bu Kok maupun
isterinya adalah sahabat kakek pengemis itu, Hwa-liong Lokai.
Mereka sama-sama pelindung Chu Wen, yang
dianggap memberontak, dan memusuhi Li Ko Yung.”
“Ya, teecu teringat bahwa Hwa-liong dan suami isteri itu
memang orang-orang kepercayaan yang setla kepada Chu
Wen.”
“Dan ayah Sin Hauwpun juga begitu!”
“Benar, kalian tahu baik, nona. Dan sekarang kalian tahu
bahwa berturut-turut Sin Hauw mengalami pukulanpukulan
batin yang tidak enteng!”
“Hm-hm…!” Beng Tan dan kekasihnya menganggukangguk.
“Kau benar, Sian-su. Tapi heran bahwa ayah Sin
Hauw demikian gigih dan tegar mempertahankan
sikapnya.”
“Maksudmu?”
“Dia tak mau bergabung dengan Kwi-goanswe yang
jelas-jelas masih saudaranya sendiri. Mungkin dia
menganggap bahwa perjuangan Chu Wen adalah benar dan
mulia, patut dibela!”
“Bukan itu,” kakek ini tersenyum. “Ada sesuatu yang tak
diketahui orang banyak, Beng Tan. Dan semuanya itu
bersumber pada Coa-ongya, juga kaisar. Mendiang Sin Lun
tak mau membantu Li Ko Yung karena dilihatnya cacad
yang besar dari orang-orang itu!”
“Cacad apa?”
“Ini yang sedang hendak kuterangkan. Dan kita maju
setapak lagi.”
Beng Tan tertegun. Dia melihat kakek itu tersenyum dan
senyumnya penuh rahasia. Ah, dia berdebar dan ingin tahu.
Tapi ketika kakek itu tertawa dan berkata padanya agar
bersabar, maka Bu-beng Sian-su melanjutkan ceritanya lagi,
tentang Si GolokMaut itu.
“Kalian tahu bahwa suami isteri Hap Bu Kok dan
Cheng-giok Sian-li menggembleng Sin Hauw di Lembah
Iblis. Di situlah suami isteri itu menemukan Golok
Penghisap Darah dan kelak golok inilah yang diwariskan
kepada muridnya…”
“Nanti dulu!” Swi Cu memotong. “Bolehkah kutahu dari
mana suami isteri itu mendapatkan Golok Penghisap
Darah, Sian-su? Dan apakah benar mereka pernah bertemu
denganmu?”
“Hm, benar.Mereka memang pernah bertemu denganku.
Tapi tentang dari mana mereka mendapatkan golok itu
sebaiknya tak usah kujelaskan, tak perlu. Kejadian itu telah
lewat, dan merupakan urusan pribadi suami isteri itu
sendiri.”
Swi Cu kecewa. Ia tak berhasil mengetahui sejarah golok
maut itu namun kekasihnya menjawil. Beng Tan berbisik
agar tak usah dia kecewa dan marilah sama-sama mereka
dengarkan kata-kata kakek dewa itu. Beng Tan sendiri
justeru ingin tahu apa gerangan “cacad” yang ada padaCoaongya
dan kaisar itu, karena dia telah bersama mereka
beberapa waktu. Dan ketika kakek itu tersenyum dan
menganggukkan kepala meneruskan pembicaraan maka Bubeng
Sian-su menggerakkan lengannya.
“Cacad yang dimiliki dua orang ini terlampau besar, tapi
yang menyolok dan menonjol adalah Coa-ongya itu, juga
adiknya Dan karena cacad inilah maka ayah Sin Hauw tak
pernah mau bergabung dengan mereka, meskipun iparnya,
jenderal Kwi, ada di sana!”
“Hm, aku penasaran,” Beng Tan tak tahan lagi. “Dua kali
kau menyebut ini, Sian-su. Dan aku ingin tahu apa cacad
yang kau maksudkan itu!”
“Bukan lain adalah ‘benang’ dalam syair ini. Dan Sinliong
Hap Bu Kok sendiri pernah kuberi tahu tapi tak dapat
menangkap ini. Sayang, lain dengan ayah Sin Hauw yang
justeru lebih dulu tahu dan itulah sebabnya dia berpihak
pada ChuWen!”
Beng Tan dan Swi Cu tak mengerti. Mereka bingung
karena Bu-beng Sian-su tiba-tiba menghela napas berulangulang,
kakek itu merenung dan rupanya memikiri sepak
terjang manusia. Tapi ketika Beng Tan batuk-batuk dan
bertanya bagaimana selanjutnya maka Bu-beng Sian-su tibatiba
menodong.
“Beng Tan, kau masih demikian bodoh juga? Kau tak
melihat apa yang pernah dilihat ayah Sin Hauw itu?”
“Teecu… teecu tak melihat!” Beng Tan tiba-tiba gugup,
tergagap. “Teecu masih belum mengerti apa yang kau
maksudkan, Sian-su. Teecu rupanya bebal!”
“Hm, kau sudah mendengar kisah Si Golok Maut ini,
dan tentunya mulai dapat mengerti. Kenapa belum
menangkap juga? Baiklah, kuulangi lagi, Beng Tan.
Jawablah kenapa Golok Maut demikian kejam dan
telengas!”
“Dia… dia dilanda dendam!”
“Dan kenapa dia mendendam!”
“Karena Sin Hauw marah kepada Coa-ongya!”
“Dan kenapa Sin Hauw marah!”
“Karena Coa-ongya menipu dan…”
“Stop!” kakek itu mengebutkan lengan. “Jawaban sudah
jelas, Beng Tan. Sampai di sini seharusnya kau mengerti!”
Beng Tan terkejut. Bagai disentak air dingin saja tiba-tiba
secercah kilatan cahaya menerangi pikirannya. Dia mau
menambahi “menghina dan tak menghargai Sin Hauw”
ketika tiba-tiba kakek itu memutus pembicaraannya. Dan
yang diputus adalah kata-kata menipu! Ah, Beng Tan
tergetar dan menggigil. Bu-beng Sian-su tiba-tiba tertawa
aneh dan kilatan cahaya tiba-tiba menerangi batin pemuda
itu. Menipu, inilah biang keladinya. Dan ketika Beng Tan
menggigil dan bangkit berdiri, Swi Cu di sampingnya juga
terkejut dan berdiri maka Beng Tan berseru tertahan dengan
suara serak,
“Sian-su, kau… kau hendak maksudkan bahwa jawaban
syair itu terletak pada penipuan? Kau hendak memberi tahu
aku bahwa inilah inti jawaban syair itu?”
“Baru lima puluh persen, yang lima puluh persen lagi
belum kau jawab. Nah, siapa dapat menjawab kenapa kirakira
ayah Sin Hauw tak mau bergabung dengan
saudaranya, Kwi-goanswe itu!”
“Karena Kwi-goanswe pembantu Li Ko Yung, musuh
ChuWen!”
“Hm, kau, nona?” Bu-beng Sian-su tersenyum,
memandang Swi Cu. Gadis ini hendak bersuara namun
sudah didahului kekasihnya itu. Maka ketika Beng Tan
bicara namun agaknya kurang cocok, karena kini kakek itu
ganti memandangnya maka Swi Cu bersinar-sinar berkata
gemetar,
“Karena…. karena Kwi-goanswe adalah orang dekat
Coa-ongya!”
“Bagus, bisa lebih dekat lagi? Kau dapat memberi tahu
kenapa mendiang ayah Sin Hauw itu tak suka kepada Coaongya?
“Karena Coa-ongya tak dapat dipercaya!” Swi Cu tibatiba
berteriak, menemukan jawabannya. “Ayah Sin Hauw
tak mau bergabung dengan saudaranya karena pangeran she
Coa itu tak dapat dipercaya, Sian-su, penipu dan barangkali
inilah jawabannya!”
“Ha-ha, betul. Cocok sekali! Wah, kau kalah cerdas
dengan kekasihmu ini, Beng Tan. Itulah yang hendak
kumaksudkan kepadamu. Coa-ongya tak dapat dipercaya,
omongannya selalu tak ditepati. Dan karena ayah Sin
Hauw rupanya sudah melihat itu dan tak suka maka
berpihaklah dia kepada Chu Wen yang dianggap jauh lebih
dapat dipercaya dan diikuti! Nah, kau mengerti?”
Beng Tan bengong. Pemuda ini melayang-layang dalam
jawaban itu dan tiba-tiba sadarlah dia bahwa sebenarnya
yang ingin dimaksudkan gurunya itu adalah jawaban ini.
Menipu atau sebangsanya adalah indikasi kuat untuk
menunjuk bahwa orang yang seperti itu adalah orang yang
tidak dapat dipercaya. Dan dia sudah membuktikan sendiri.
Pertama dengan kaisar dan kedua dengan….
“Ah,” Beng Tan terbengong-bengong. “Jadi ini kiranya
yang hendak kau terangkan, Sian-su? Tapi…. tapi apa
hubungannya itu dengan benang yang kau sebut-sebut
dalam syair ini? Benang apa itu?”
“Hm, benang itu adalah benang kepercayaan, tak usah
kusebut lagi. Kenapa harus dijelaskan dan tak dapat
kautangkap? Gara-gara benang ini maka Sin Lun atau ayah
Sin Hauw itu tak berdiri di belakang Li Ko Yung, Beng
Tan. Karena baik Li Ko Yung terutama sekali Coa-ongya
adalah orang-orang yang tak dapat dipercaya. Barangkali
kau tahu bagaimana nasib seorang teman ayah Sin Hauw
yang menjadi korban dari sepak terjang Coa-ongya itu, yang
berhasil dibujuk!”
“Teecu tak tahu…”
“Hm, sekarang kuberi tahu. Sin Lun mempunyai seorang
sahabat kental, Yang Jin namanya. Mereka dua laki-laki
hampir ada di mana saja. Di mana ada Sin Lun di situ pasti
ada pula Yang Jin. Tapi sayang, ketika pecah perang antara
Chu Wen dengan Li Ko Yung maka terjadi selisih pendapat
di mana dua bersahabat ini pecah. Kwi-goanswe, adik dari
isteri Sin Lun itu membujuk Yang Jin, murid seorang tokoh
Hwee-san. Memberi kedudukan empuk dan langsung saja
mengangkat Yang Jin sebagai jenderal pula, berdampingan
dengan diri jenderal she Kwi itu, tentu saja atas perkenan
atau petunjuk Coa-ongya, karena Coa-ongya adalah tangan
kanan pertama Li Ko Yung. Tapi ketika Yang Jin tak dapat
memenuhi tugasnya membujuk bekas teman-temannya
yang lain, yang masih bergabung pada Chu Wen itu maka
Coa-ongya merasa bahwa Yang Jin ini tak banyak
bermanfaat. Yang Jin akhirnya diketemukan tewas di
sumur yang dalam, setelah mendapat siksa dan derita!”
“Ah, siapa yang melakukan?”
“Coa-ongya dan pembantu-pembantunya itulah,
termasuk Kwi-goanswe. Sudah menjadi garis kebijaksanaan
politik Li Ko Yung dan Coa-ongya ini bahwa semua orangorang
setia di pihak Chu Wen harus dibujuk. Mereka
hendak ditarik semua agar membantu penguasa sekarang,
tapi tidak semuanya berhasil. Tapi karena ada yang berhasil
juga dan justeru yang berhasil inilah yang lalu disuruh
meneruskan kebijaksanaan politik itu untuk ganti
meneruskan bujukan pada teman-temannya di pihak lawan
maka mereka yang berhasil ini mendapat tambahan pangkat
atau kedudukan tapi yang gagal langsung dibuang,
disingkirkan. Seperti yang terjadi pada diri orang she Yang
itu!”
“Ah, kejam!”
“Ya, tapi’ ada yang lebih kejam lagi. Coa-ongya telah
menetapkan bahwa kelak, bila Chu Wen telah kalah dan
hancur, maka semua bekas pengikut setia raja muda itu
yang berpindah haluan harus dibunuh juga. Jadi orangorang
setia yang berhasil dibujuk membantu Coa-ongya ini
kelak dibasmi juga, karena Coa-ongya menganggap bahwa
seorang yang telah berkhianat satu kali pasti dapat juga
berkhianat dua atau tiga kali. Tak dapat dipercaya!”
“Ah, seperti dirinya sendiri!”
“Ya, Coa-ongya mengukur baju orang lain dengan
bajunya sendiri, nona. Karena itu betapa kagum dan
kecewanya dia ketika tak dapat membujuk ayah Sin Hauw
itu. Dan ayah Sin Hauw semakin tegar setelah mengetahui
kekejian yang tersembunyi di balik maksud Coa-ongya itu.
Sin Lun menemukan sahabatnya tewas di sumur tapi
sebelum tewas sahabatnya itu menceritakan rencana Coaongya!”
“Ah, dua sahabat itu akhirnya bertemu juga, Sian-su?”
“Ya, tapi dalam keadaan yang menyedihkan. Coa-ongya
tak menyangka bahwa Yang Jin ini masih hidup, karena
ketika orang itu dibuang dan dilempar ke sumur yang dalam
maka secara kebetulan Sin Lun menemukannya dan di
situlah ayah Sin Hauw ini tahu betapa licik dan culasnya
Coa-ongya itu, karena sahabatnya sempat bercerita!”
“Ah-ah!” Beng Tan ternganga. “Keji dan kejam sekali
Coa-ongya itu, Sian-su. Dan aku, hm… aku telah
membantunya beberapa lama. Mungkin kalau kelak
tenagaku juga dianggap tak penting lagi barangkali aku juga
akan dibuang atau di-singkirkannya!”
“Hm, kau tahu itu, dan semuanya terserah dirimu.
Sekarang kalian tahu kisah mendiang Sin Lun ini kenapa
dia tak membantu Coa-ongya. Sin Lun telah menarik garis
keputusan tegas bahwa sekali orang itu tak dapat dipercaya
maka selamanya dia tak dapat dipercaya! Dan inilah
‘benang’ yang kumaksudkan seperti dalam syair itu. Karena
kepercayaan, seperti kalian lihat, adalah seperti seutas
benang yang halus dan ringkih. Kepercayaan itu harus
dijaga hati-hati. Atau selamanya orang tak akan
mempercayai kita lagi dan celakalah kita sendiri!
Mengerti?”
“Hm-hm..!” Beng Tan mengangguk-angguk. “Aku
mengerti, Sian-su…. aku mengerti. Kiranya inilah yang
kaumaksudkan. Kau hendak mengumpamakan
kepercayaan itu seperti seutas benang, bukan benang
sembarang benang melainkan benang yang harus dijaga
baik-baik. Kau benar. Benang kepercayaan yang tak dapat
dijaga memang akan menimbulkan kebencian orang kepada
kita, apalagi kalau bobot persoalannya serius! Hm-hm… aku
mulai melihat ini tapi kau agaknya masih belum selesai!”
“Ha-ha, belum selesai apalagi? Kisah Sin Lun sudah
kauketahui, Beng Tan. Dan Si Golok Maut Sin Hauw juga
begitu.”
“Tidak, nanti dulu!” Beng Tan berseru. “Kenapa Golok
Maut tak mengetahui itu dari ayahnya, Sian-su? Atau
kenapa isteri laki-laki itu tak memberi tahu anaknya?”
“Hm, Sin Lun tewas sebelum memberi tahu isterinya.
Dan lagi isterinya belum tentu percaya karena waktu itu
Kwi-goanswe juga selalu bersikap baik padanya, meskipun
dua bersaudara Ipar itu saling membela pihak-pihak yang
berlawanan!”
“Dan SinHauw akhirnya mencari Coa-ongya!”
“Hm, mula-mula bukan begitu. Yang dicari pertama kali
adalah pamannya itu, Kwi-goanswe. Tapi karena Kwigoanswe
berlindung di balik Coa-ongya dan pangeran itu
bersama adiknya lalu memperdayai Sin Hauw maka
pemuda ini terjebak dan seperti kalian tahu akhirnya ilmu
silat GolokMautnya dipelajari Coa-ongya, lewat Miao In!”
Beng Tan dan Swi Cu mengangguk-angguk. Swi Cu
sendiri telah mendengar itu dari sucinya karena Golok
Maut sudah menceritakannya kepadaWi Hong.
Miao in itulah gadis pertama yang dicinta Golok Maut,
menjadi kekasih tapi ternyata gadis itu perangkap yang
dipasang Coa-ongya. Miao In adalah orang kepercayaan
Coa-ongya yang ditugaskan untuk mendapatkan catatan
atau ilmu silat Giam to-hoat itu, Silat Golok Maut. Tapi
ketika Miao In terbuka rahasianya dan gadis itu ternyata
kekasih Kwi Bun, putera Kwi-goanswe maka akhirnya
gadis itupun terbunuh dan tewas di tangan Coa-ongya ini,
setelah diperkosa beramai-ramai!
“Hm-hm..!” Beng Tan lagi-lagi bergidik. “Semula aku tak
tahu, Sian-su. Tapi setelah semuanya ini kudengar maka
aku menjadi lebih berhati-hati lagi.”
“Dan kau sudah merasakan sesuatu ganjalan dengan
kaisar.”
“Ya, sri baginda menipuku!”
“Dan kau beruntung belumseparah SinHauw diperdayai
Coa-ongya!”
“Hm, aku tak akan berdekatan lagi, Sian-su. Aku tak
akan berhubungan lagi dengan orang-orang itu. Aku tak
akan menginjak istana!”
Kakek ini tersenyum. Beng Tan yang mengepal tinju dan
tampak marah dipandangnya bersinar-sinar. Kakek ini
bangkit berdiri tapi tiba-tiba Swi Cu melompat bangun. Dan
ketika gadis itu berseru apakah kepercayaan tak dapat
diobati lagi maka kakek ini mengerutkan keningnya.
“Maksudmu?”
“Maaf, apakah kepercayaan yang ternoda begitu tak ada
obatnya, Sian-su. Apakah orang yang sudah tidak dapat
dipercaya memang selamanya tetap tidak dapat dipercaya,
seperti keputusan atau pendapat ayah Sin Hauw itu!”
“Hm,” kakek ini tersenyum. “Kalau maksudmu bahwa
seorang pembohong ingin menjadi baik dan dapat dipercaya
lagi seperti dulu-dulu maka semuanya itu tergantung orang
yang bersangkutan, nona. Tapi dia harus bekerja keras
untuk itu. Dan biasanya jarang ada yang seperti ini.
Kepercayaan, seperti kataku tadi, ibarat seutas benang.
Cobalah kau lihat ini dan pegang.” Bu-beng Sian-su tiba-tiba
mengeluarkan seutas benang, lembut dan halus dan
menyerahkannya kepada Swi Cu. Gadis ini heran dan tak
mengerti tapi menerimanya juga. Dan ketika kakek itu
mundur dan meniup perlahan tiba-tiba benang di tangan
Swi Cu putus.
“Nah,” kakek itu tertawa. “Coba satukan lagi benang itu,
nona. Buatlah seutuh semula dan lihat bisa atau tidak!”
Swi Cu tertegun. Tentu saja dia segera menyambung
benang ini dan mengikatnya. Tapi ketika kakek itu
memintanya dan bertanya apakah benang yang diutuhkan
itu sudah utuh atau belum maka Swi Cu mengangguk,
mengira utuh.
“Benang ini sudah kusatukan, kusambung. Dan kukira
utuh!”
“Ha-ha!” kakek itu menoleh pada Beng Tan,
menunjukkannya. “Benarkah benang ini utuh, Beng Tan?
Benarkah sudah seperti semula lagi?”
Beng Tan terkejut. Dia melihat Bu-beng Sian-su
menunjuk tali simpul di tengah-tengah benang,
menjentiknya. Bertanya padanya apakah benang itu sudah
benar-benar utuh seperti semula. Dan ketika dia terkejut
dan sadar bahwa benang itu sudah tidak utuh lagi, hal yang
masih tidak dimengerti dan mengherankan Swi Cu maka
pemuda ini menggeleng, berseru tegas dan lantang, “Tidak!”
Swi Cu terkejut. “Kenapa tidak?” gadis itu penasaran.
“Benang itu tak berkurang sedikit pun, Tan-ko. Aku tak
mengurangi atau menambahnya!”
“Tapi ada tali simpulnya di sini,” Beng Tan
menerangkan, sudah mengerti apa yang dimaksud gurunya,
bersinar-sinar. “Benang ini tidak utuh lagi, Cu-moi. Karena
kalau dia utuh seharusnya sudah seperti semula, tidak ada
cacad atau sambungan. Ah, Sian-su hendak menerangkan
kepada kita bahwa kepercayaan yang terlanjur putus tak
dapat dipulihkan lagi seperti semula, seperti benang ini.
Karena begitu kepercayaan putus maka betapapun
diusahakan seperti semula maka tetap saja ada grenjelannya
di situ, cacad. Seperti benang ini yang sudah tidak dapat
disatukan seperti semula karena ada tali simpul di
tengahnya!”
“Ah!” Swi Cu terkejut, tiba-tiba mengerti. “Begitukah?
Jadi…”
“Benar,” Beng Tan mengangguk, penuh semangat, tibatiba
tertawa bergelak. “Sian-su hendak memberi tahu
padamu bahwa kepercayaan yang putus adalah seperti
benang ini, Cu-moi. Disambung atau disatukan kembali
tetap saja tak bisa, cacad! Kita hendak diperlihatkan akan
adanya kenyataan itu bahwa kepercayaan yang putus tetap
saja putus, seperti benang ini. Ha-ha, mengerti aku
sekarang. Kepercayaan memang seperti seutas benang,
sekali putus maka tak dapat disatukan kembali, ha-ha!”
Swi Cu terbengong-bengong. Dia sadar dan terkejut
setelah mengerti itu. Ah, dia kurang tanggap. Tapi begitu
mengerti dan tahu apa yang dimaksudkan kakek ini tibatiba
gadis itu mendusin dan menganggap bahwa
perumpamaan itu cocok, tepat. Kepercayaan memang
seperti seutas benang, ringkih dan halus. Dan karena
benang atau kepercayaan yang putus memang tak mungkin
diutuhkan kembali karena sudah ada “grenjelannya” di situ
maka gadis ini menarik napas dan takjub memandang
kakek dewa itu.
“Ah, aku mengerti… sekarang aku mengerti…!” gadis itu
berteriak, setengah memekik. “Perumpamaan yang
ditunjukkan Sian-su memang tepat sekali, Tan-ko. Dan aku
sudah melihat itu!”
“Kalau begitu selanjutnya tak ada pembicaraan lagi,”
kakek ini tiba-tiba tertawa. “Pertanyaanmu sudah kujawab,
Beng Tan. Dan selanjutnya kalian tak memerlukan aku lagi.
Terimalah!”
Beng Tan terkejut. Sehelai kertas tiba-tiba menyambar ke
arahnya tapi cepat ditangkap dan diterima. Bu-beng Sian-su
memberikan sesuatu dan Beng Tan terkejut. Tapi ketika
pemuda itu menangkap dan menerima kertas ini mendadak
si kakek dewa berkelebat dan mendorongkan kedua
lengannya di mana Beng Tan dan kekasihnya berteriak
tertahan. Tubuh mereka terangkat naik dan tiba-tiba
bantalan mega yang tadi diam tak bergerak sekonyongkonyong
kini menyambar, terbang dan menerima tubuh
mereka yang jatuh ke bawah. Dan ketika dua muda-mudi
itu terkejut dan berteriak keras, Swi Cu sudah menyambar
dan menangkap lengan kekasihnya maka bantal mega itu
bergerak dan…. terbang mengikuti Sian-su, kembali ke
bumi!
“Anak-anak, cukup perjumpaan kita kali int. Kuantar
kalian ke bawah dan renungkan semua pembicaraan tadi!”
Swi Cu pucat. Dia melihat kakek dewa itu terbang di
depan, menukik dan lenyap ke bawah menembus awan dan
mega-mega tebal. Tapi ketika mereka sendiri juga bergerak
dan terbang mengikuti kakek itu, seperti dongeng, maka
Swi Cu menggigil mencengkeram lengan kekasihnya ini.
“Tan-ko, gurumu benar-benar bukan manusia biasa. Ah,
beruntung kau menjadi muridnya!”
“Hm, Sian-su sendiri tak mau kusebut begitu, Cu-moi.
Katanya guruku adalah diriku sendiri. Hm, dia memang
manusia luar biasa. Dan Sian-su rupanya memang pantas
disebut sebagai manusia dewa!”
“Dan kita meluncur turun, cepat sekali. Ah, aku takut,
koka Kita menukik…!”
Bfeng Tan juga terkejut. Menembus awan atau megamega
tebal tiba-tiba benda aneh yang mereka tumpangi itu
menukik lurus, cepat sekali. Rasanya mau menghunjam
bumi dan Beng Tan .tersirap serta takut jatuh tapi aneh bin
ajaib kaki mereka terpaku, lengket atau seolah terpantek
pada benda yang mirip bantalan mega ini. Dan ketika Swi
Cu di sebelahnya juga pucat dan ketakutan tapi tak jatuh,
hal yang membuat kekasihnya tenang maka Lembah
Malaikat tiba-tiba terlihat lagi dan Bu-beng Sian-su di depan
tiba-tiba sudah mendarat, disusul mereka berdua yang
terbengong-bengong bagai menumpang piring terbang!
“Sudah sampai, dan selamat tinggal!”
Swi Cu sadar. Gadis ini berteriak ketika kakek dewa itu
tiba-tiba mengangkat tangan kanannya, terbang dan naik
lagi ke atas bagaikan mahluk angkasa. Bu-beng Sian-su
lenyap dan hilang entah ke mana, yang jelas ke langit. Dan
ketika Swi Cu berteriak dan memanggil kakek itu, yang
hanya dijawab senyum maka Beng Tan juga sadar dan
berteriak memanggil gurunya.
“Sian-su…!”
Tak ada jawaban. Bu-beng Sian-su telah lenyap dan Beng
Tan serta kekasihnya bengong. Mereka mendelong dan
takjub memandang ke angkasa, terlihat setitik cahaya putih
tapi setelah itu hilang. Dan ketika dua muda-mudi ini
mendelong dan terkesima, terbelalak, maka terdengarlah
cecowetan Pek-kauw dan kera atau monyet putih itu
muncul.
“Ah, kita sudah di bumi.Mimpi kita habis!”
“Hm,” Beng Tan mepgusap keningnya, bingung.
“Mimpikah kita tadi, Cu-moi? Berada di alam sihirkah kita
tadi?”
“Kita mimpi, mimpi yang indah! Kita memasuki alam
gaib bersama Sian-su!”
“Ya, dan kita mendengar wejangannya. Ah, kata-katanya
tak dapat kulupakan, moi-moi. Aku terkesan dan kagum
benar akan kata-kata guruku itu!”
“Hm, dan aku juga. Bu-beng Sian-su sungguh kakek
dewa yang memiliki kesaktian luar biasa!” dan ketika Swi
Cu terkejut karena Pek-kauw melompat dan bercecowetan
di pundaknya, menyatakan selamat datang maka Beng Tan
di Sana termangu-mangu namun wajah pemuda ini
memancarkan cahaya gemerlap.
Beng Tan berhasil mengetahui inti syair itu dan pemuda
ini bersinar-sinar. Segala peristlwa dan kisah yang terjadi
berulang kembali, cepat, susul-menyusul dan teringatlah dia
akan Coa-ongya dan lain-lainnya itu, juga kaisar. Hm, dan
sekarang dia tak mempercayai kaisar juga. Kaisar telah
menipunya dan kematian Golok Maut yang langsung atau
tidak juga atas perintah kaisar membuat Beng Tan kecewa.
Kenapa orang sedemikian tinggi kedudukannya tak dapat
memiliki kata-kata yang dapat dipercaya? Kenapa kaisar
harus menipu dan menjilat kata-katanya sendiri? Dan untuk
itu semua dia tak sempat lagi bertanding dengan Si Golok
Maut. Dia telah kehilangan lawannya itu karena lawan
telah dibunuh dengan cara yang amat curang, juga licik.
Lima ribu orang yang dikerahkan ke Lembah Iblis jelas
menunjukkan kecurangan itu, padahal semua tahu bahwa
Golok Maut sedang terluka. Ah, ketidak-jujuran memang
mudah menimbulkan ketidak-percayaan. Dan sekali dia
tidak percaya maka seumur hidup dia tetap tak akan
percaya!
Beng Tan mengepal tinju. Sekarang ia mengerti kenapa
Golok Maut begitu membenci Coa-ongya. Dan pangeran
itu bersama adiknya juga melakukan perbuatan-perbuatan
yang seharusnya tak layak dilakukan orang-orang besar,
kaum bangsawan, orang-orang terhormat. Dan mengerti
kenapa kaisar selalu melindungi Coa-ongya, karena mereka
sebulu dan sejenis maka Beng Tan menggeram-geram dan
mengutuk orang-orang itu.
Hm, kepercayaan memang sesuatu yang amat
berbahaya. Harus dijaga hati-hati dan jangan sampai retak,
apalagi pecah. Kepercayaan itu ibarat benang yang halus
dan ringkih. Demikian ringkihnya hingga kalau putus tak
dapat disambung lagi. Kepercayaan yang putus sudah
menimbulkan cacad di situ, seperti benang dengan tali
simpulnya. Dan ketika Beng Tan mengangguk-angguk dan
juga marah bahwa Coa-ongya merencanakan sesuatu yang
keji dengan kelak melenyapkan semua pengikut-penglkut
Chu Wen yang berhasil dibujuk maka diam-diam dia
memuji juga kesetiaan dan ketegaran mendiang ayah Sin
Hauw terhadap junjungannya. Laki-laki itu gagah dan
mempunyai pendirian yang tegas, berkepribadian. Dan
rupanya tahu bahwa Coa-ongya adalah orang yang tak
dapat dipercaya. Buktinya, begitu sahabatnya berbalik
haluan dan membela pangeran itu, bersama Li Ko Yung
maka sahabatnya dibunuh setelah dianggap tak dapat
dipergunakan lagi. Padahal, janjinya semula adalah mulukmuluk!
Ah, orang yang bermulut manis memang justeru
harus dihadapi dengan hati-hati. Mulut manis belum tentu
memberikan madu, salah-salah racun! Dan membayangkan
bahwa Golok Maut demikian benci dan dendam kepada
Coa-ongya maka Beng Tan tak aneh atau merasa heran
lagi.
Sin Hauw atau Si GolokMaut itu juga berkali-kali ditipu
Coa-ongya. Mulai dari bujukannya tentang encinya yang
masih hidup sampai kepada kekasihnya yang ternyata
wanita siluman. Sin Hauw berkali-kali harus menekan api
kemarahannya kalau Coa-ongya sudah menyebut-nyebut
encinya itu, yang sebenarnya sudah lama tewas dan
dibunuh. Dan betapa Coa-ongya akhirnya menangkap dan
menyiksa Si GolokMaut, setelah melumpuhkannya dengan
obat pelupa ingatan maka Beng Tan muak dan benci betul
kepada Coa-ongya itu. Pangeran itu sungguh keji, Golok
Maut nyaris dibunuh kalau saja gurunya tidak muncul. Bubeng
Sian-su itulah yang dulu menyelamatkan Sin Hauw.
Dan ketika cerita demi cerita dimengerti Beng Tan dengan
cepat dan matang maka Beng Tan tiba-tiba teringat
pemberian Bu-Beng Sian-su berupa sehelai kertas yang
dilemparkan kepadanya tadi.
Beng Tan membuka, melihat, dan… tertegun. Beberapa
huruf-huruf rapi tercetak di situ, ditulis gurunya. Dan ketika
pemuda ini mengangguk-angguk dan membaca lagi maka
itulah inti atau ringkasan dari wejangan gurunya. Apa yang
tertulis? Sederet kata-kata indah, sekaligus peringatan
baginya:
KEPERCAYAAN ITU SEPERTI SEUTAS BENANG,
HALUS DAN RINGKIHHATI-HATI. JAGALAH!
Beng Tan mengangguk-angguk. Tanpa diulang lagi dia
sudah mengerti itu. Hm, kepercayaan memang seperti
seutas benang. Dan benang itulah yang kiranya
dimaksudkan gurunya di dalam syair, sederhana dan biasabiasa
saja. Tapi karena yang belum tahu memang tak akan
tahu maka apapun jawabannya memang pasti tak akan
diketahui kalau tidak diterangkan. Cocok!
Pemuda ini bersinar-sinar. Sekarang dia tahu akan inti
dari jawaban syair gurunya. Kepercayaan memang harus
dijaga, dan orang yang dapat dipegang kepercayaannya
biasanya lalah orang-orang jujur. Orang-orang jujur dapat
dipercaya, sedangkan orang yang tak dapat dipercaya ialah
orang yang tak jujur! Hm, mau apalagi? Dan ketika Beng
Tan tersenyum dan menyeringai pahit, mengangguk-angguk
maka pemuda itu melihat kekasihnya yang juga duduk
termenung di sana, tak menghiraukan cecowetan Pak-kauw
mau-pun binatang-binatang lain di lembah itu.
“Kau ingin tetap tinggal di sini? Tak ingin pulang?”
“Hm, pulang?” Swi Cu terkejut, bangkit berdiri. “Aku
terngiang kata-kata Sian-su, koko. Dan aku kerasan di sini!”
“Tapi kau harus pulang, kembali memimpin anak
buahmu!”
Swi Cu mengerutkan kening. Tiba-tiba dia ingat bahwa
dia adalah pemimpin Hek-yan-pang. Sucinya kini telah tak
ada di sana dan praktis dialah yang harus menjalankan
tugas. Dan ketika dia mengangguk namun melihat kertas di
tangan kekasihnya tiba-tiba dia teringat dan bertanya
apakah itu.
“Ringkasan dari Sian-su, tentang benang kepercayaan.”
Swi Cu membaca. Dia kagum dan bersinar-sinar
memandang tulisan kakek dewa itu. Sebenarnya dia tak
tahu kapan kakek itu menulis. Hebat! Tapi mengantongi tak
mengembalikan surat ini kepada Beng Tan tiba-tiba Swi Cu
berkelebat mengajak kekasihnya pulang, ke Hek-yan-pang.
“Heii…!” Beng Tan berseru. “Kembalikan itu padaku,
Cu-moi. Jangan dikantongi!”
“Hm, siapa punya siapa? Sian-su memberikannya untuk
kita berdua, Tan-ko, bukan untukmu seorang. Dan kau
masih berhutang sebuah janji!”
“Janji apa?” Beng Tan mengejar. “Kembalikan dulu surat
itu dan biar kusimpan!”
“Untuk apa? Disimpan di mana?”
“Di kamarku, di kamar kita nanti!” namun ketika Swi Cu
berhenti dan tiba-tiba membalik, mengejutkan pemuda ini
maka Swi Cu membentak,
“Cih, kau tak tahu matu. Sebelum menerangkan siapa si
Kedok Hitam itu jangan harap kau mempunyai kamar
untuk kita berdua!” dan berkelebat serta lari lagi akhirnya
Swi Cu meninggalkan kekasihnya tak perduli melihat Beng
Tan bengong, terkejut dan tiba-tiba bergerak menyambar
lengannya dan Beng Tan segera berkata bahwa hal itu tak
akan disembunyikannya. Dia telah berjanji dan janji tak
akan diingkari. Beng Tan bukanlah Coa-ongya dan pemuda
itu tak akan menodai kepercayaan kekasihnya kepadanya.
Dan ketika Swi Cu bertanya siapa orang itu dan Beng Tan
harus menjawab saat itu juga maka gadis ini tersentak dan
untuk kedua kali menghentikan larinya, begitu Beng Tan
membuka rahasia.
“Apa? Dia? Jahanam keparat itu?”
“Ya, dia, Cu-moi. Dan sekarang kau tahu. Hm, maafkan
aku bahwa saat itu aku terpaksa melepaskannya lagi.”
“Ooh…!” Swi Cu terhuyung. “Kalau begitu…. kalau
begitu…. jangan-jangan dia pula yang berusaha memasuki
kamarku, koko. Jangan-jangan jahanam keparat itu pulalah
yang akan memperkosa aku, berkedok sebagai Si Golok
Maut!”
“Hm, mungkin juga. Bisa jadi. Tapi, ah…, aku tak ingin
bicara ini lagi di saat sekarang. Aku sudah penat
menghadapi persoalan-persoalan berat yang bertubi-tubi.
Aku juga masih terguncang. Aku ingin menyelesaikan
urusanku dulu denganmu.”
Swi Cu mangar-mangar. Kalau saja Beng Tan tak
mengucapkan kata-katanya terakhir tadi barangkali dia
akan melompat dan terbang mencari si Kedok Hitam itu.
Kiranya dia! Tapi karena Beng Tan mencekal tengannya
dan memandangnya lembut dan mesra, rindu dan bergetar
ingin menyelesaikan urusan pribadi, menikah dan bersatu di
Hek-yan-pang maka Swi Cu tertahan dan keberingasan
mukanya itu tiba-tiba berkurang.
“Aku tak ingin mengurus apa-apa dulu. Aku ingin
menyelesaikan urusan kita berdua. Kembali dan menikah di
Hek-yan-pang! Kau tentu tak akan menolaknya bukan, moimoi?
Kau tentu dapat menunda semua persoalan-persoalan
itu di belakang hari saja?”
Swi Cu terisak, tiba-tiba menubruk kekasihnya.
“Terserah kau, koko… tapi berjanjilah bahwa si Kedok
Hitam itu harus kita cari! Dia telah menghina dan mau
mengganggu aku!”
“Aku tahu, tapi sudahlah, kita lupakan sejenak urusan ini
dan mari pulang!” dan Beng Tan yang mengecup serta
mendorong kekasihnya tiba-tiba berkelebat namun
mendadak berhenti lagi.
“Ada apa?”
“Kita lupa meminta restu, dari Sian-su!”
“Hm, tadi di saku bajuku ada ini. Lihatlah!” Swi Cu
tersenyum, tiba-tiba mengeluarkan sehelai surat dan Beng
Tan ganti tertegun. Ternyata dengan caranya yang luar
biasa Bu-beng Sian-su telah memberi tanda mata kepada
kekasihnya Di balik surat itu ada cincin, bertuliskan hurufhuruf
dari nama Beng Tan dan Swi Cu, pas benar di jari
manis gadis itu. Dan ketika Beng Tan bengong dan
membaca huruf kecil-kecil bertuliskan “selamat untuk
mempelai berdua” maka pemuda ini berjingkrak dan
bersorak.
“Ah, Sian-su telah tahu. Kita mendapat restunya!”
“Ya, dan ini pemberian darinya, koko, mewakilimu. Ah,
kakek dewa itu sungguh luar biasa!” dan ketika Swi Cu
dipeluk dan disambar, diciumi, maka Swi Cu meronta dan
terkekeh geli, melepaskan diri.
“Hush, jangan di sini. Nanti ada orang ….!” dan ketika
gadis itu terbang dan disusul Beng Tan, yang tentu saja tak
membiarkan kekasihnya maka dua muda-mudi ini telah
bergandengan tangan ke Hek-yan-pang. Bu-beng Sian-su
telah memberi restu mereka di samping nasihat. Kakek itu
telah memberikan wejangannya yang berharga pula. Dan
ketika Swi Cu terkekeh-kekeh dan tertawa bersama Beng
Tan, lupa akan yang lain karena akan menyongsong
kebahagiaan sendiri maka dua muda-mudi itu tak tahu akan
rintih dan tangis seseorang. Mereka tak tahu akan adanya
sesosok tubuh yang terhuyung-huyung naik turun bukit,
perut didekap karena sosok tubuh itu bukan lain adalah Wi
Hong, yang sedang hamil. Dan ketika Beng Tan serta Swi
Cu akhirnya menikah di Hek-yan-pang, mengatur dan
memimpin anggauta-anggauta yang sudah lama menunggu
maka Wi Hong atau wanita ini menangis tiada
berkesudahan serta berkali-kali menyebut-nyebut nama si
Kedok Hitam, penuh benci dan dendam.
Siapakah si Kedok Hitam itu? Berakhir begitu sajakah
ceritanya? Tidak, tentu tidak. Kisah ini baru merupakan
langkah awal dari sebuah cerita yang panjang. Orang-orang
yang seharusnya mendapat hukuman belumlah semua
terhukum.Wi Hong dan lain-lain itu tentu muncul kembali,
dan anda akan menemukannya dalam kisah berikut:
NAGA PEMBUNUH!
Anda akan bersua lagi dengan wanita ini dan keturunan
Sin Hauw, Si Golok Maut. Tentu saja dalam kisah yang
lebih menyeramkan dan tegang, di mana Bu-beng Sian-su
tak lupa pula muncul untuk menemui anda, Mudahmudahan
ada gunanya dan bermanfaat.
Salam buat pembaca tercinta!
T AM A T
Solo, 11-05-1988
Source : Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Iklan
Beri peringkat:
2 Votes
Share this:
ShareFacebookTwitterDownload PDFSurat elektronikCetakGoogle
Terkait
Golok Maut (Bag 2)dalam "Batara"
Mata Air Di Bayangan Bukit (Jilid : 21–23 Tamat)dalam "CERITA SILAT INDONESIA"
Cinta Bernoda Darah - Bag 2 (Seri 03 Bukeksiansu)dalam "CERITA SILAT MANDARIN"
Pos ini dipublikasikan di Batara, CERITA SILAT MANDARIN, KUMPULAN CERITA dan tag Batara, Cerita Silat, Golok Maut. Tandai permalink.
Navigasi pos
← Matahari Esok Pagi (Jilid 4-6)
Lembah Patah Hati →
~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~
HOME
BUKU TAMU
TUKARAN LINK
Tulisan Terakhir
Sakit Hati Seorang Wanita
Api di Bukit Menoreh (Buku 81-90)
Manggala Majapahit Gajah Kencana (Jilid 36-40)
7 Senjata – Gelang Perasa (Seri 4)
Ouw Yang Heng-te
GOLOK MAUT
Dendam Iblis Seribu Wajah
Bu Kek Kang Sinkang (Seri 1)
Amanat Marga
Serial Rumah Judi – Elang Pemburu (Seri 1)
7 Senjata – Golok Kumala Hijau (Seri 3)
Kun Lun Hiap Kek
Pendekar Pemabuk dari Kanglam
Pahlawan Harapan
Pendekar Gila
Perguruan Sejati
Walet Emas Perak
Misteri Rumah Berdarah
Pisau Kekasih
Duri Bunga Ju
Satria Gunung Kidul
7 Senjata – Bulu Merak (Seri 2)
Kitab Pusaka
Pedang Bunga Bwee
Sayap-Sayap Yang Terkembang (Jilid 46 – 55)
7 Senjata – Pedang Abadi (Seri 1)
Mestika Burung Hong Kemala – Kisah si Pedang Terbang (Seri 2)
Pendekar Binal – Bahagia Binal (Seri 3) Tamat
Darah Ksatria (Harkat Pendekar)
Si Pedang Tumpul – (Seri I Pendekar Pedang Tumpul)
Pendekar Cengeng
Maling Budiman Berpedang Perak
Rajawali Lembah Huai
Pendekar Bongkok (Seri 06 Bukeksiansu)
Pendekar Binal – Bakti Binal (Seri 2)
Pendekar 4 Alis – Keajaiban Negeri Es (Seri 5)
Sayap-Sayap Yang Terkembang (Jilid 41 – 50)
Api di Bukit Menoreh (Buku 71-80)
Pendekar Pengejar Nyawa
Matahari Esok Pagi (Jilid 7 – 9 Tamat)
Sepasang Naga Lembah Iblis (Seri I)
Lencana Pembunuh Naga
Nagasasra & SabukInten (Jilid 11-20 Tamat)
Laron Penghisap Darah
Naga Pembunuh (Lanjutan Golok Maut)
Pendekar Pedang Kail Emas
Pendekar Sakti dari Lembah Liar
Jago Kelana
Elang Terbang di Dataran Luas
Pendekar Naga Mas (Cerita Silat Dewasa)
Kategori
Kategori
Cari
Bergabunglah dengan 731 pengikut lainnya
RSS Feed
Blog di WordPress.com.
:)
Komentar
Posting Komentar