golok maut jilid 3


bugiskha ~aku adalah selembar daun kering yang terhembus angin~ Menu Skip to content ADVENTURE LIFE KUMPULAN CERITA LITERATURE MUSIK PENGEMBANGAN DIRI PUSTAKA ISLAMI TIPS & TRIK TOKOH UNIK ~Blog Sahabat~ Draft Corner Draft Corner Arumsekartaji Iwanbanaran's Blog blognoerhikmat Langkah Catatanku rifdanella DeRie Berbagi blumbungannews Lostmyidea Puspaloving Otto-X castorian iRFAN HANDi putracisc Pemimpi Sejati Kaaeka's Blog Sainspedia Rahasia Otak Rizalean's Digital Nest onesetia82 catatan kecil keluarga antaraws Tuaffi's Weblog udikhangeblog OpensTutor sarungbiru yisha Muhammad Amirullah FIKSIKULO A z M i Blog Catatan Akhwat Pejuang olives' diary Diary Kehidupan Jejak Jejak Hati blog SRI IZAWATI Rahassia D'arie Ku ufikmuckraker lombokdihati nimadesriandani Rumput Pencerita krispantoro SISBBCLUB celot3hku Faisal Rachmadin Blog Ucap Semilir temonsoejadi ABU FAQIH'S WEBLOG Misstreeantoz's Weblog Warung Infor Nasi "Mas Arul" bulbenbeach DIAN ARFIANTI BLOG Navigasi Kehidupan CATATAN HATI mintarsih3 Komunitas Pecinta Puisi Naufal Hisyam Blog BERBAGI ILMU Goresan Hitam Boneka Hantu Little's Blog ~Komentar~ Much Machally Asr di IM YANG (Hawa Panas dan Hawa D… ismail di Sejarah Suku Bugis dan Asal Ka… Tanah laut Kal sel di Bu Kek Kang Sinkang (Seri… Mr Black di Api di Bukit Menoreh – S… Denjaka di Manggala Majapahit Gajah Kenca… panduanpenulismuda di 10 Langkah Mudah Jadi Penulis… andi sahar di Awal Mula Suku Bugis Forum WP ID Check PageRank ~Statistik~ 2,818,362 hits ~Meta~ Daftar Masuk RSS Entri RSS Komentar WordPress.com Golok Maut – (Bag 3 Tamat) 13 Agustus 2013 by chuckybugiskha New Picturebb Golok Maut (Bag 3 Tamat) Karya : Batara Djvu by : Orangstress di Dimhad Convert & Editor : aaa & Lavender Final edit & Ebook pdf oleh : Dewi KZ Urusan kitab sesungguhnya tak ada orang lain tahu kecuali mereka berdua. Tapi karena Eng Hwa keburu mendengar karena itu kesalahannya sendiri buru-buru membuka pintu kamar adiknya maka pangeran ini mengangguk dan berkata melempar senyum, “Sudahlah, aku tahu. Kalau kau boleh membiarkan aku membawa gadis ini maka sungguh merupakan satu kegembiraan besar bagiku. Mari, temani aku, Eng Hwa. Kau ke gedungku!” Eng Hwa tertawa. Dia sudah ditarik dan hendak dibawa pangeran she Coa ini. Ah, dirinya seperti barang mainan saja, dibawa dan sudah berganti-ganti lelaki. Tapi ketika Eng Hwa melepaskan diri dan berkata biarlah pangeran itu lebih dulu dan dia menyusul maka gadis atau wanita ini berkelebat, “Ongya silahkan duluan. Nanti aku tak enak terhadap Ci Fang!” Coa-ongya tertegun. Adiknya tiba-tiba juga sadar dan mengangguk, memang mereka harus berhati-hati kalau Ci Fang tahu. Eng Hwa dan dirinya telah sepakat bahwa hubungan mereka tak boleh diketahui. Ci Fang bisa marah dan menciptakan bahaya. Itu tak boleh terjadi.Maka ketika tertawa dan mengangguk pada kakaknya pangeran Ci ini berseru, “Benar, memang tak boleh diketahui Ci Fang, kanda. Sebaiknya diam-diam dan kau pergi lebih dulu!” Coa-ongya mengangguk. Di sana adiknya sudah memberi isyarat dan tersenyumlah dia. Membayangkan Eng Hwa yang cantik dan menggairahkan tiba-tiba saja nafsunya memang timbul, apalagi adiknya berkata bahwa Eng Hwa pandai melayani laki-laki, jadi tentu memuaskan. Dan ketika hari itu Eng Hwa sudah pindah ke pelukan Coaongya, tertawa dan terkekeh di sana maka hari-hari berikut wanita ini sudah menjadi milik beberapa laki-laki. Pertama tentu saja Ci Fang. Eng Hwa tak berani melupakan pemuda ini agar keadaan tak menjadi gawat. Kedua lalu ayah kekasihnya itu, Ci-ongya. Dan ketika yang terakhir adalah Coa-ongya dan Eng Hwa mulai sibuk membagi-bagi waktunya, hal yang mulai merepotkan maka suatu hari Ci Fang mulai curiga. “Aneh, kenapa kau sering bepergian! Ke mana saja kau ini’ Dan mana Golok Maut yang kaukatakan akan datang itu?” “Ih, sabar. Aku bepergian tidak jauh meninggalkan istana, Ci Fang. Aku meronda dan jalan-jalan di sekitar sini saja Dan tentang Golok Maut, hmm… sebentar lagi dia pasti datang. Aku telah mengatur rencana!” Ci Fang tak puas. “Kau sekarang banyak menolak keinginanku, Eng Hwa. Tidak seperti dulu. Apakah kau tidak cinta lagi kepadaku?” “Ih, omongan apa ini, Ci Fang? Siapa bilang aku tidak mencintaimu lagi? Aku masih tetap cinta padamu, dan lihat ini …. cup!” Eng Hwa memberikan ciumannya, mendarat mesra dan tertawalah wanita itu membelai Ci Fang. Sebenarnya dia lelah karena baru saja melayani Ci-ongya. Ayah kekasihnya itu harus dibujuk dan didekati agar menyerahkan kitab catatan satunya. Dia sudah mencoba kepada Coa-ongya secara hati-hati namun belum berhasil, hal yang diam-diam membuat wanita ini gemas. Maka ketika hari itu Ci Fang cemberut padanya dan menegur serta merengut maka Eng Hwa sadar bahwa sudah empat hari dia meninggalkan Ci Fang, sibuk dengan Coa-ongya dan Ci-ongya, yang lagi panas-panasnya mencumbu dan menginglnkan dirinya! “Aku tak mana-mana, Ci Fang. Aku hanya di sekitar sini saja. Eh, apakah kau cemburu?” “Hm, cemburu sih tidak, tapi pelajaran ilmu silat tak pernah kau tambah lagi!” “Ah, hi-hik, aku lupa!” dan Eng Hwa yang teringat dan tertawa mendengar itu lalu mengajak Ci Fang ke belakang, memberi tambahan ilmu-ilmu silat karena memang selama ini dia lupa. Biasanya Ci Fang ingin bercumbu dan bermesraan melulu, seperti paman dan ayahnya itu. Tapi karena pemuda ini sudah terlampau sering dan rupanya Ci Fang juga mendapatkan seorang dua orang selir di istana itu maka mereka tiba-tiba agak jauh satu sama lain dan Eng Hwa selalu memberi alasan ini-ltu kalau sibuk melayani kekasih-kekasih barunya. Hebat wanita ini. Ci Fang tentu saja tak tahu semuanya itu. Sama sekali dia tak curiga bahwa ayah dan pamannya ada main dengan kekasihnya ini, karena dia percaya Eng Hwa tak akan melanggar larangannya. Yakni, Eng Hwa boleh bergaul dengan siapa saja asal tidak bergaul atau bercinta dengan ayah dan pamannya itu, hal yang tak disuka pemuda ini, sesuatu yang aneh. Dan ketika hari itu Eng Hwa tertawa dan membelai Ci Fang, di sela-sela pelajaran silatnya maka wanita ini berpikir bagaimana dia dapat pergi dari situ, karena kebosanan sudah mulai timbul, diam-diam sudah mulai mempelajari kitab catatan Giam-tohoat dan dia ingin menyendiri, setelah mendapatkan kitab catatan secara lengkap. Dan ketika hari itu Ci Fang terpaksa dilayani dan dia kelelahan, karena semalam melayani tiga lelaki sekaligus maka Eng Hwa berkata bahwa besok dia tak mau diganggu. “Aku akan bersamadhi di kamarku, ingin sendiri. Kalau ada keperluan datanglah pada hari berikutnya.” “Kau tak keluar?” “Tidak, aku lelah, Ci Fang. Aku ingin beristirahat.” “Kalau begitu kupuaskan dulu diriku. Biarlah hari ini kita habiskan waktu dengan bersenang-senang!” Eng Hwa tersenyum. Ci Fang seperti biasa lalu memeluk dan menciuminya, ganas. Empat hari tak bertemu membuat pemuda ini seakan kelaparan. Dan ketika esoknya dia tak mau diganggu dan Eng Hwa minta agar pemuda itu keluar maka diam-diam wanita ini menemui Ci-ongya, ayah kekasihnya yang juga sekaligus kekasihnya pula! “Aku tak mau kau tipu. Cukup sebulan ini kau berjanji. Nah, berikan kitab catatan satunya, ongya. Atau aku melapor pada kakakmu bahwa kaulah orangnya yang mencuri itu!” Ci-ongya terkejut. Datang-datang Eng Hwa berkata marah. Memang akhirnya ia mengaku bahwa kitab yang diberikan baru sebuah, yang lain tak berani diambil karena itu saja sudah cukup membangkitkan kecurigaan kakaknya, Coa-ongya. Dan ketika pagi itu si cantik ini datang dan marah kepadanya maka Ci-ongya terbelalak dan bangkit dari kursinya. “Eng Hwa, kenapa kau bicara begini? Bukankah sudah kuberi tahu bahwa kau harus bersabar? Kitab catatan itu telah dipindah, Eng Hwa. Dan terus terang aku tak tahu!” “Tapi kau menyatakan janjimu, berusaha sebulan!” “Benar, tapi jangan marah-marah, dewiku. Aku telah berusaha namun sampai hari ini masih belum berhasil. Sudahlah, ke marilah dan jangan marah-marah!” Eng Hwa berkelebat. Tiba-tiba dia memaki dan menampar pangeran ini, yang seketika terjengkang dan menjerit roboh! Dan ketika Ci-ongya merintih dan kaget bukan main, karena baru kali ini Eng Hwa menyerangnya maka gadis atau wanita itu berkata, “Aku tak percaya mulutmu lagi, ongya. Kau pembohong dan penipu. Aku akan menghadap kakakmu, minta tukar!” “Apa… apa maksudmu?” “Aku akan menukarkan yang sudah kubaca ini dengan yang lain. Dan berkata bahwa kau yang memberikan!” “Tidak… tidak…! Jangan, Eng Hwa. Kalau begitu beri aku waktu seminggu lagi untuk kuusahakan!” “Aku tak sabar, kau selalu bohong!” dan Eng Hwa yang gemas meloncat pergi lalu menghadap Coa-ongya dan menemukan kekasihnya yang satu ini, yang tentu saja terkejut dan berobah mukanya begitu melihat kitab catatan di tangan Eng Hwa, kitab yang dikenal! “Ongya, aku menemukan ini. Barangkali ini yang kaucari-cari. Benarkah?” “Beb… benar. Dari mana kaudapatkan itu, Eng Hwa? Dari mana kaudapatkan? Ah, berikan padaku. Itu punyaku!” namun Eng Hwa yang tertawa dan terkekeh mengelak berseru, “Ongya, kitab ini kebetulan saja jatuh ke tanganku, dan sudah kubaca. Bagaimana kalau kita sekarang saling tukar-menukar? Aku tertarik isinya, sukalah kau keluarkan yang satu dan yang ini kuserahkan padamu!” Coa-ongya terkejut. Eng Hwa tiba-tiba saja bersikap aneh dan berani, belum pernah wanita itu coba menguasainya. Tapi begitu. sadar dan mampu mengendalikan hatinya tibatiba pangeran ini tersenyum dan menekan debaran jantungnya. “Eng Hwa, kau adalah kekasihku. Kita sudah bersenangsenang dan sering bermesraan berdua. Kenapa kau ingin tukar-menukar? Masalah ini tak pernah kau bicarakan, kini mendadak saja kau memegang kitab itu. Ah, tanpa tukarmenukar pun kalau kau ingin membaca tentu aku sedia memberikannya, Eng Hwa. Tapi sifatnya pinjam!” “Hm, aku memang ingin pinjam. Bukan bermaksud mengangkangi. Kau tak marah padaku, ongya?” “Ah, marah? Ha-ha, terhadap wanita secantik dirimu aku tak mungkin marah, Eng Hwa. Kau minta kepalaku pun pasti kuberi. Mari, kuambilkan kitab yang satu itu tapi berikan itu padaku!” Eng Hwa ragu, bersinar-sinar. “Aku ingin berhati-hati dan sebaiknya kita saling memberikan saja. Kau ambil yang satu itu dan serahkan padaku dan aku memberikan serta menyerahkan ini padamu.” “Ha-ha, kau takut? Tak ada alasan, Eng Hwa. Aku tak bisa silat dan kau tahu itu, tak perlu khawatlr!” “Benar, tapi… hm!” Eng Hwa tertawa. “Aku perlu berhati-hati, ongya. Sudahlah ambilkan saja kitab itu dan ini nanti kuserahkan padamu!” “Baiklah, kau tunggu sebentar!” dan Coa-ongya yang tersenyum mengangguk pergi lalu ke dalam dan tak lama kemudian sudah mengambil sebuah kitab, bentuk dan sampulnya persis seperti yang dibawa Eng Hwa dan Siluman Kucing itu berseri-seri. Ah, itu yang diincar! Dan ketika sang pangeran sudah mendekat dan tertawa meminta kitabnya maka wanita ini mau menyambar namun sang pangeran mengelak. “Ha-ha, nanti dulu, Eng Hwa. Berikan itu padaku!” “Tidak, berikan itu dulu, ongya. Nanti kuserahkan!” “Tapi kita harus adil, kau tak boleh menipu. Hayo, kita sama melempar dan mari sama-sama menerima!” dan ketika Siluman Kucing tertawa dan mengangguk maka keduanya sudah melempar dan memberikan kitab masingmasing, disambut dan diterima dan keduanya sama memeriksa. Tapi begitu Eng Hwa melihat bahwa sambungan kitab kedua ini tidak sama dengan kitab pertama, mengherankan dan membuat dia terkejut maka Coa-ongya di sana tertawa bergelak memeriksa kitab yang diberikan Siluman Kucing itu. “Ha-ha, tidak sama. Aih, mana yang salah mana yang benar aku jadi tidak tahu, Eng Hwa. Tapi sekarang aku tahu bahwa maksud kedatanganmu ke mari sebenarnya adalah untuk kitab ini!” dan ketika Siluman Kucing itu terbelalak dan mengerutkan kening, tak mengerti maksud si pangeran tiba-tiba pangeran itu bertepuk tangan dan berkelebatlah di situ dua bayangan laki-laki. “Mindra, tangkap dan bekuk siluman betina ini. Kalian benar, dia kiranya adalah Maosiao Mo-li Siluman Kucing!” Eng Hwa kaget sekali. Di ruangan itu tahu-tahu berkesiur dua bayangan biru dan kuning dan muncullah Mindra dan Sudra, dua kakek India yang amat lihai dan yang dulu pernah bertemu dengannya, bahkan yang pernah mengebut dia hingga roboh! Bukan main kagetnya wanita ini. Dan ketika dua kakek itu tertawa dan menyeringai padanya, penuh ejekan maka Sudra, kakek kedua itu sudah berkata, “Siluman Kucing, selamat bertemu. Kiranya kau ada maksud merampas kitab!” “Keparat!” Eng Hwa tiba-tiba berteriak nyaring, berkelebat ke arah pangeran Coa. “Kalian tak dapat menangkapku, Sudra. Karena aku akan menangkap pangeran Coa!” tapi ketika sang pangeran terbahak dan berkelit di belakang sebuah kursi tiba-tiba terdengar dentuman dan tembok rahasia muncul menghadang, menutup dengan cepat dan Siluman Kucing ini hampir saja tergencet. Tak pelak dia berjungkir balik menendang tembok rahasia itu dan lenyaplah sang pangeran di balik dinding tak tampak. Dan ketika suara sang pangeran ikut menghilang dan tinggallah suara tawa dua orang kakek itu maka Li Eng Hwa Siluman Kucing ini pucat. “Coa-ongya, kau manusia keparat. Penipu!” “Ha-ha, tak tahulah. Entah kau atau aku yang menipu, Eng Hwa. Tapi sekarang kau hadapi dulu dua pembantuku itu!” suara sang pangeran tiba-tiba terdengar lagi, entah dari mana namun gaung suaranya cukup jelas. Eng Hwa tak sempat mencari karena dua kakek di depannya itu sudah bergerak, Mindra dengan tawanya yang parau sementara Sudra dengan bentakan pendeknya. Kedua-duanya menubruk dan siap menangkapnya. Dan karena lawan tak mungkin dihadapi karena dia bukanlah tandingannya maka Siluman Kucing ini tiba-tiba meledakkan granatnya dan memaki dua kakek itu. “Kalian tua-bangka-tua bangka busuk.Mampuslah!” Mindra dan Sudra terkejut. Mereka berseru keras mengebutkan lengan, granat diterima dan digulung lengan baju. Namun ketika mereka menangkap dan menggulung granat, yang tak jadi meledak maka Siluman Kucing itu melepas lainnya lagi menghantam tembok. “Dar-dar!” Ruangan menjadi gelap. Memang inilah yang dikehendaki Eng Hwa karena wanita itu sudah terbang menyelinap di bawah ketiak lawan, lolos dan melarikan diri dan tentu saja dua kakek India itu marah. Mereka belum apa-apa sudah dikecoh dan siluman betina itu pun kabur. Dan ketika dua kakek itu menjadi marah dan memukup asap tebal agar buyar maka keduanya berkelebat melihat bayangan Siluman Kucing, yang sudah meloncat diluar. “Berhenti, atau kau mampus!” Sudra melepas cambuk baja, meledak, dan menjeletar namun Eng Hwa melepas lagi dua granatnya. Cerdik wanita ini, bukan Mindra atau Sudra yang dihantam melainkan tanah di depan mereka, yang seketika meledak dan kembali mengeluarkan asap tebal. Dan ketika dua kakek itu memaki-maki sementara Eng Hwa sudah lolos lagi dengan cepat maka di sana wanita ini mengumpat ketika belasan pengawal tiba-tiba menghadang. “Pergi kalian, minggir!” Pengawal berpelantingan.Mereka itu adalah orang-orang yang segera datang begitu mendengar keributan. Granat yang meledak serta bentakan dua kakek India di dalam mengisyaratkan mereka akan adanya bahaya, sang komandan sudah membentak dan menyuruh mereka bergerak. Dan ketika bayangan Eng Hwa sudah mereka lihat dan wanita itu belum mereka lihat maka tentu saja mereka menganggap musuh dan langsung diserang, sayangnya tak mampu dan mereka justeru dipukul balik, tunggang-langgang dan menjerit sambil berteriak-teriak. Memang mereka bukan tandingan wanita ini dan Eng Hwa sudah berkelebat dan melarikan diri lagi, tak mau tertahan karena dia maklum akan bahaya di belakang, dua kakek India yang lihai itu. Dan ketika benar saja Sudra maupun Mindra sudah membentak dan mengejar di belakang maka wanita ini memaki dan melepas lagi granat-granat tangan. “Dar-dar!” Siluman Kucing coba meloloskan diri. Wanita ini mengumpat dan bersicepat menggerakkan kakinya, untung hapal jalan-jalan di situ namun dia tak mau lewat bawah, melayang dan sudah berlarian di atas genteng. Tapi ketika terdengar dengus seseorang dan entah dari mana mendadak muncul seorang kakek tinggi besar, yang bukan lain Yalucang si kakek Tibet maka Eng Hwa terkejut setengah mati oleh kehadiran kakek ini, yang muncul dan tahu-tahu sudah ada di depannya seperti iblis. “Siluman betina, Coa-ongya menyuruhku menangkap dan membekukmu, bukan membunuh. Menyerahlah dan kembalikan kitab di tanganmu itu!” “Jahanam!” Siluman Kucing ini melengklng. “Kaupun sama dengan Mindra mau pun Sudra, kakek busuk. Menyerah hidungmu dan kau mampuslah… dar-dar!” Eng Hwa kembali mengayun granat tangannya, meledak di depan si kakek dan Yalucang mengelak. Kakek ini mendengus namun mulutnya tiba-tiba dibuka, mendesis dan menyemburlah segumpal api menyibak asap tebal yang dihasilkan granat. Dan ketika Eng Hwa terkejut dan kakek itu menggeram maka Yalucang sudah menubruk dan berkelebat marah. “Menyerahlah!” Eng Hwa putus asa. “Kau tak dibunuh,Mao-siaoMo-li.Melainkan ditangkap dan sekedar menerima hukuman ringan. Atau pangeran akan gusar dan salah-salah kau bakal dlbunuh…wut-plak!” Siluman Kucing terlempar, gugup menerima semburan api kakek itu dan melempar tubuh bergulingan. Apa boleh buat dia harus ke bawah dan di sana ternyata menunggu dua kakek India itu, Sudra dan Mindra yang tertawa menggerakkan lengannya, Sudra bahkan meledakkan rambut dan tubuh Eng Hwa disengat ujung cambuk, yang bukan main sakitnya. Dan ketika dia menjerit dan jatuh ke tanah, langsung menggulingkan diri dan melempar-lempar lagi granat tangannya tiba-tiba semua granat tangannya itu sudah dililit cambuk, yang amat lihai menangkap dan menerima! “Ha-ha, tak guna lagi, bocah. Hayo menyerah dan menghadap Coa-ongya!” Eng Hwa pucat. Kalau tiga orang ini sudah siap di bawah dan di sana masih banyak terlihat pengawal yang berlari-lari maka harapan lolos sungguh tipis sekali. Dia tak bermaksud melakukan perlawanan kecuali meloloskan diri, itu maksudnya, karena Mindra maupun Sudra bukanlah lawan-lawan yang dapat dihadapi, apalagi masih ada kakek tinggi besar yang menyeramkan itu, Yalucang. Dan ketika dia memaki namun juga mengeluh bergulingan meloncat bangun maka di Sana tiga orang itu mengejarnya dan Sudra tertawa-tawa. “Ha-ha, hayo lepaskan lagi granat-granat tanganmu, siluman betina. Biar kurampas dan kubuang semua!” Eng Hwa gelisah. Kalau begini terus-terusan tentu dia celaka, tiga orang itu sudah mengurung namun dia mencabut payungnya, menusuk kaki si kakek tinggi besar. Dan ketika Yalucang mengangkat kakinya dan menggeram serta menyemburkan apinya lagi mendadak Ci Fang muncul dan membentak tiga orang itu. “He, kalian. Berhenti! Apa yang kalian lakukan ini dan kenapa kekasihku diserang!” Tiga orang itu terkejut. Ci Fang adalah pemuda pemberani dan mereka mengenalnya, maklumlah, Ci Fang adalah keponakan Coa-ongya, majikan mereka. Dan ketika bentakan itu memberi kesempatan pada wanita ini untuk melompat bangun maka Ci Fang sudah berkelebat dan menghadang tiga orang kakek itu. “Ci Fang, mereka manusia-manusia kurang ajar. Pukul mereka!” Ci Fang bergerak. Dia menyerang dan memukul tiga kakek itu, yang tentu saja menangkis dan Ci Fang pun tergetar, terhuyung hampir roboh. Namun ketika pemuda itu marah-marah dan memaki mereka maka Eng Hwa berkelebat dan melarikan diri. “Tahan mereka, jangan biarkan mengganggu aku!” “He!” Ci Fang berseru. “Kau sendiri mau ke mana, Eng Hwa? Kenapa keluar? Hei, tunggu aku. Jangan lari!” dan Ci Fang yang bergerak dan mengejar kekasihnya lalu mendengar seruan Mindra, “Siauw-ya (tuan muda), dia merampas kitab pamanmu. Suruh dia menyerahkan kitab itu dan baru kita membiarkannya pergi!” “Apa? Dia merampas kitab?” “Ya, lihat di tangannya itu, siauw-ya. Siluman betina ini mau melarikan diri setelah mengambil kitab!” Ci Fang tertegun. Dia melihat kekasihnya memang membawa kitab namun Eng Hwa sudah cepat menyembunyikan kitab itu di balik bajunya. Gerakan menyentuh buah dada ini mendebarkan hati para pengawal yang tentu saja melotot. Eng Hwa tak malu-malu melakukan itu dengan membuka bajunya, ketika melewati pengawal. Dan ketika Ci Fang tertegun namun membentak dan segera mengejar lagi maka tiga kakek di belakang berani mengikuti dan berseru, “Berhenti, atau kami akan merobohkanmu!” “Benar,” Ci Fang juga berseru. “Berhenti, Eng Hwa. Atau aku akan menyangkamu buruk dan kau ditangkap!” “Aku tak mau ditangkap, kitab ini punyaku!” “Apakah Giam-to-hoat?” Eng Hwa tak menjawab. “Hei, kalau betul justeru jangan takut, Eng Hwa. Aku akan menolongmu dan kita berdua sama-sama pergi, seperti janji semula!” Tiga kakek di belakang melengak.Mereka jadi heran dan mengerutkan kening ketika mendengar itu. Kalau betul begitu maka justeru putera Ci-ongya ini harus dihajar, karena jelas mau bersekongkol dengan musuh. Tapi sebelum mereka melakukan itu dan Eng Hwa di sana melempar dan membanting pengawal maka sebuah panggilan membuat wanita ini terkejut, menoleh. “Sst, tak perlu meroboh-robohkan pengawal, Eng Hwa. Ke marilah, kutolong..!” Eng Hwa melihat seseorang di situ. Sebuah kepala melongok dari balik dinding dan itulah Ci-ongya, ayah kekasihnya, atau juga kekasihnya, pangeran yang baru saja dihajar. Dan ketika Eng Hwa ragu dan tertegun melihat Ciongya menggapai maka adik Coa-ongya itu berseru, “Hei, di luar ada Pek-mo-ko dan Hek-mo-ko. Jalan larimu tertutup.Marilah dan ikut aku, lewat jalan rahasia!” Eng Hwa berjungkir balik. Akhirnya dia tertarik melihat tawaran ini dan girang menyambut, melayang dan sudah turun di dekat pangeran itu. Dan ketika ia langsung menangkap dan mencengkeram leher baju maka dia membentak, “Kau jangan menipu, atau aku akan membunuhmu!” “Ah,” pangeran ini kesakitan. “Kau terlalu, Eng Hwa. Sudah melaporkan pencurianku masih juga kau tidak percaya kepadaku. Lepaskan, atau aku tak dapat bergerak!” “Kau mau bawa aku ke mana?” “Keluar tentu saja. Bukankah kau ingin menghindari tiga orang itu?” “Benar.” “Nah, mari, Eng Hwa. Di lorong bawah tanah kita bisa selamat. Tapi beri imbalannya agar kau dapat keluar!” Eng Hwa terkejut, ganti disambar tangannya dan dicium. Dalam saat seperti itu ternyata ayah kekasihnya ini masih bernafsu, dirinya sudah dipeluk dan dadanyapun diremas. Terlalu si tua bangka ini! Tapi karena dia ingin selamat dan tersenyum membiarkan itu maka Ci-ongya menekan sebuah tombol dan mereka tahu-tahu terjeblos ke dalam sebuah sumur rahasia. “Hati-hati, pegang aku erat-erat!” Eng Hwa merasa luncuran yang cepat. Entah berapa lama dia tak tahu tapi mereka tiba-tiba sudah berada di sebuah, ruangan bawah tanah, terang dan tidak gelap. Dan ketika pangeran itu tertawa dan dia melepas pelukannya maka Ci-ongya terkekeh dan berseru, “Heh, di bawah sini kita aman, Eng Hwa. Hayo beri imbalannya sebelum kau benar-benar kuantar keluar!” “Kau mau apa?” “Eh, bukankah mau mengantarmu keluar? Eit, jangan kira aku menipumu, Eng Hwa. Justeru kaulah yang menipu dan tidak dapat kupercaya! Hayo, lepas bajumu dan kita bersenang-senang sejenak!” Eng Hwa gemas-gemas geli. Dia tak bergairah dan saat itu keinginannya hanya keluar, secepatnya meninggalkan tempat itu. Tapi ketika Ci-ongya mengingatkan bahwa tanpa dia tak mungkin dirinya keluar dengan selamat maka wanita ini tertegun. “Kaulayani aku dulu, baru semuanya akan beres. Bukankah kitab yang diberikan kakakku adalah palsu?” Si cantik terkejut. “Lihat, aku tahu, Eng Hwa. Dan aku juga membawa aslinya. Kalau kau mau melayani aku dan baik-baik bersamaku maka semuanya akan kau peroleh. Buang kitab itu, itu palsu!” Eng Hwa tertegun. Ci-ongya sudah mengeluarkan kitab yang lain dan terdapatlah kitab seperti yang persis di tangannya, tersentak dia. Dan ketika dia menyambar dan merampas kitab itu maka Ci-ongya terkejut dan berseru, “Eng Hwa, jangan macam-macam. Kalau kau merampas dan membawa lari kitab itu maka aku akan memanggil tiga orang kakek di luar itu. Atau kakakku akan datang dan kau terkurung hidup-hidup di tempat ini!” Eng Hwa melotot. Memang dia menjadi jerih setelah melihat bahwa di tempat itu kiranya banyak tempat-tempat rahasia yang tidak diketahui umum. Tadi Coa-ongya menghilang di balik dinding dan sekarang Ci-ongya ini amblas di perut bumi, sumur rahasia. Dan karena mengakui bahwa kakak beradik dua orang pangeran ini adalah orangorang cerdik yang dapat membuat orang lain celaka kalau tidak berhati-hati maka EngHwa tertawa, memancing. “Ongya, jangan menggertak aku. Seandainya aku membunuhmu di sini dan keluar mencari jalan sendiri tentu dapat. Kenapa kau menakut-nakuti?” “Ha-ha, kau mau coba-coba itu? Cobalah, dan lihat apakah kau dapat keluar tanpa petunjuk jalan, Eng Hwa. Di sekitar tempat ini tak ada lubang kecuali dinding melulu!” Eng Hwa tak percaya. Dia melompat dan menghilang sejenak, membuktikan omongan itu. Dan ketika benar saja bahwa di sekeliling mereka hanya dinding melulu dan tampaknya tak ada jalan keluar maka gadis atau wanita ini tertawa, diam-diam menyembunyikan marahnya. “Ongya, kau benar. Tapi akupun tak sungguh-sungguh. Ah, keparat kau! Tempat ini memang dinding melulu dan mengherankan bagaimana kau mengajakku keluar dari sini. Apakah kau tak bohong dan dapat membuktikan omonganmu itu? Awas, jangan kau main-main, ongya. Atau aku akan membunuhmu dan kita berdua mampus di sini!” “Ha-ha, kaukira aku main-main? Ah, kau terlalu, Eng Hwa. Heran benar bahwa kau masih juga tak percaya padaku! Sudahlah, aku tak mungkin membohongimu dan kalau aku bohong tentu kau dapat membunuhku di sini. Sekarang, apakah kau menepati janjimu untuk melayaniku bersenang-senang? Kalau mau tentu aku akan membawamu keluar, tapi kalau tidak tentu saja kau akan tetap tinggal di sini!” “Dan membunuhmu!” “Ah, tak mungkin. Kau tak berani membunuhku kalau tak ingin keselamatan dirimu terancam. Sudahlah, kau mau melayaniku atau tidak?” “Hm!” Eng Hwa tertawa, mendongkol juga. “Kau cerdik, ongya. Kalau tidak mengenalmu barangkali tak semua orang tahu kelicikanmu ini. Baiklah, aku mau bersenangsenang tapi kubaca dulu kitab catatanmu ini. Kalau cocok, boleh kita teruskan. Tapi kalau tidak, hmm… aku tak mau bercakap-cakap lagi denganmu dan kau kupaksa untuk menunjukkan jalan keluar di sini!” “Ha-ha, kaukira aku bohong? Baiklah, boleh kau baca kitabku itu, Eng Hwa. Dan buang saja kitab yang kau dapat dari kakakku!” Eng Hwa mengangguk. Memang dia penasaran dan heran serta marah melihat dan mendengar semua Itu. Coaongya telah menipunya dan baru sekarang dia tahu. Maka membalik dan membuka-buka halaman kitab itu dia lalu mencocokkan dan mengecek isinya, memang betul dan akhirnya dia tertawa. Dan ketika lawan bertanya bagaimana pendapatnya maka dia mengangguk dan berkata, “Memang cocok, sungguh tidak salah. Baiklah, aku melayanimu, ongya. Tapi katakan dulu bagaimana kau tahu bahwa kitab yang itu palsu!” “Ah, gampang, Eng Hwa. Aku tahu watak kakakku yang tak dapat dipercaya. Mana mungkin dia mau memberimu kitab yang sungguhan? Itu palsu, dan pasti dengan kitab yang pertama sambungannya tidak cocok!” “Benar, memang tidak cocok, Dan kitab ini, hmm… dari mana kaudapatkan? Apakah kau mencurinya pula?” “Ha-ha, aku mengambilnya untukmu, Eng Hwa. Dan semua ini sebenarnya atas jasamu juga. Kalau kau tak mengacau dan membuat ribut di situ tentu aku tak dapat mengambilnya. Tapi karena kau telah mengacau dan ributribut di luar maka kakakku lengah dan kitabnya kuambil!” “Tapi dia juga mempunyai kitab lain!” “Benar, semata untuk menipu kalau seseorang menekannya, Eng Hwa. Berjaga-jaga dari segala kemungkinan buruk kalau hal itu datang!” “Hm-hm!” Eng Hwa kagum, mengangguk-angguk. “Kau dan kakakmu sungguh orang-orang luar biasa, ongya. Ah, kalian memang setan dan siluman jahanam!” “Ha-ha, kau memaki kami? Eh, saat ini kita bersahabat, Eng Hwa, bukan musuh. Hayo layani aku dan kita bersenang-senang!” Eng Hwa terfwa. Ci-ongya sudah menubruknya dan menciumi mukanya, dibiarkan dan akhirnya pakaiannya pun dilepas. Dan ketika dia roboh dan menyambut ciumanciuman lawannya itu maka mereka berdua sudah bergulingan dan melepas hawa nafsu. Bagi Siluman Kucing ini tak jadi soal karena akhirnya diapun terangsang ciumanciuman ganas itu, terkekeh dan balas mencium lawan dan lekatlah mereka seperti lintah. Dan ketika setengah jam kemudian Ci-ongya sudah mendapat kepuasannya dan wanita ini menepati janji maka Eng Hwa mengenakan pakaiannya kembali dan melompat bangun. “Cukup, sudah puas. Lain kali kita lanjutkan dan bawa aku keluar!” “Heh-heh, kau tak ingin lagi?” “Tidak, ini cukup, ongya. Aku tak mau berlama-lama lagi dan bawa aku keluar dari sini!” “Baiklah, mari,” dan Ci-ongya yang tertawa bangkit berdiri akhirnya menyambar pakaiannya pula dan sekali dua masih menciumi Siluman Kucing itu. Eng Hwa mengelak dan mendorongnya. Dan ketika dia berkata bahwa semua permainan itu cukup maka Ci-ongya menghela napas dan membawanya keluar. Mula-mula dia menginjak sesuatu di lantai, menekan sebuah tombol dan terbukalah dinding sumur itu. Dan ketika lorong atau jalanan berliku mulai mereka lalui naik turun maka Eng Hwa mengumpat di dalam hati karena jalanan di situ benarbenar sukar diinga„ Jangankan diingat, menghadapi tembok-tembok buntu yang sering menghadang mereka saja sudah cukup memberatkan pikiran, tak gampang baginya untuk menghapal di mana kira-kira kunci atau tombol rahasianya. Namun ketika lima belas menit kemudian mereka sudah menghadapi sinar matahari dan di luar sana menganga sebuah guha lebar maka Ci-ongya tertawa dan mengusap pinggulnya. “Nah, Itu, Eng Hwa. Kau bebas!” Eng Hwa membalik. Dia tertawa dan siap melepas sebuah tamparan, sebenarnya sejak tadi menahan-nahan marah dan ingin menghantam mampus laki-)aki yang telah menidurinya ini. Tapi begitu melihat lawan memegang sebuah kelenengan dan berkata bahwa dengan kelenengan itu Ci-ongya dapat memanggil pengawal atau Sudra dan kawan-kawannya dalam sekejap maka Siluman Kucing ini tak jadi menggerakkan tangannya. “Kau mau apa? Membunuhku? Ha-ha, jangan begitu, Eng Hwa. Kehangatan tubuh kita berdua masih sama-sama menempel. Pergilah, dan kutanggung kau selamat. Atau kelenengan ini akan bergoyang dan sekejap saja kakakku dan para pembantunya datang!” “Keparat, siapa mau membunuhmu? Kau cukup tengik, Ci-ongya. Tapi aku berterima kasih bahwa kitab-kitab catatan kakakmu telah kudapatkan. Hi-hik, inilah maksudku sebenarnya, mendekati puteramu dan mempergunakan dirinya untuk menemukanGiam-to-hoat!” “Hm, begitukah?” sebuah suara tiba-tiba menguak. “Kau kejam, Eng Hwa. Kalau begitu kau tak berperasaan. Dan kau kiranya Siluman Kucing, penipu!” Eng Hwa membalik. Dia melihat Ci Fang tiba-tiba muncul di situ, di luar sana. Dan ketika dia terkejut tapi tertawa berkelebat ke depan tiba-tiba dilihatnya bayangan dua kakek India dan si tinggi besar itu, kakek Yalucang. “Maaf, kau kiranya di sini, Ci Fang. Tapi apa boleh buat, aku harus mengaku. Baiklah, sampai ketemu lagi dan banyak terima kasih atas semua kesetiaanmu selama ini!” Eng Hwa melesat di luar guha, terbang dan cepat mengerahkan ginkangnya karena saat itu bayangan tiga kakek lihai semakin dekat. Dia tak berani berlama-lama lagi setelah mereka muncul. Dan ketika wanita itu lenyap dan Ci Fang mendengus dengan marah maka Coa-ongya datang dan tertawa-tawa memuji adiknya. “Ha-ha, kitab itu telah kembali lagi, Ci-te. Siluman Kucing itu kau pedayai lagi?” Ci-ongya tertawa. “Dia lumayan, sayang memperdayai puteraku. Hm, ini kitabmu, kanda. Dan maaf hampir saja aku teledor!” “Ah, kau tak melakukan kesalahan. Untung saja kita waspada. Terima kasih, ha-ha…!” dan Coa-ongya yang menerima kitab dan menepuk-nepuk pundak adiknya lalu melihat tiga bayangan kakek-kakek itu. “Sudra, tak perlu dikejar. Biarkan ia pergi. Ha-ha, Siluman Kucing akan mempelajari Giam-to-hoat palsu!” -ooo0dw0ooo- Jilid : XXI SUDRA, kakek bersenjata cambuk tertawa. Dia menjeletarkan cambuknya dengan nyaring ketika tiba disitu, berkelebat dan saudaranya, Mindra, menyeringai. Dan ketika Coa-ongya berkata mereka tak usah mengejar wanita itu maka kakek ini berseru, “Ha-ha, baik, pangeran. Tapi agaknya kami ingin memberinya sedikit hajaran!” “Tak usah, kalian pergi saja dan jaga gedung seperti biasa. Kami telah mengetahui maksudnya dan untung semua selamat,” lalu menghadapi Ci Fang yang melotot disitu pangeran ini berkata, “Ci Fang, lain kali harap hatihati. Jangan sembrono membawa wanita cantik. Tahukah kau bahwa dirimu diperalat? Hm, kalau aku tak waspada tentu keadaan menjadi runyam, Ci Fang. Sebaiknya kau tak gampang percaya dan selidiki dulu siapa sahabatmu itu!” Ci Fang mengepal tinju. Kalau dia tidak tahu apa kiranya maksud kekasihnya itu barangkali dia akan membela Siluman Kucing mati-matian. Tapi Siluman Kucing ternyata memperalatnya, ingin memiliki Giam-tohoat catatan pamannya. Dia dipergunakan dan jadilah dia kerbau yang dungu. Ah, Eng Hwa benar-benar keparat. Maka begitu pamannya bicara seperti itu dan dia ditegur tiba-tiba pemuda ini membalik dan melompat pergi, entah kemana tapi sang ayah maupun sang paman tidak memanggil. Coa-ongya hanya tersenyum saja melihat sikap keponakannya itu. Dan ketika semua kembali dan catatan Giam-to-hoat selamat di tangan Coa-ongya maka keributan itu selesai dan disana Siluman Kucing Li Eng Hwa mempelajari kitab palsu! = *d*w* = “Aduh, keparat kau, Golok Maut. Jahanam kau! Terkutuk! Ah, kubunuh kau kalau nanti kita bertemu…!” Seorang wanita berjalan terhuyung-huyung sambil menangis di tepi jalanan berbatu itu, mengutuk dan mencaci-maki Golok Maut sementara tangannya yang lain memegangi atau mendekap perut. Sejak pagi dia menangis dan bercucuran air mata, jatuh terguling dua kali dipematang ketika muntah-muntah. Dan ketika dia bangkit terhuyung lagi dan berjalan dengan air mata bercucuran tiba-tiba wanita ini yang bertubuh ramping namun mengenakan kedok tiba-tiba dikejutkan oleh berkelebatnya sesosok bayangan seorang pemuda. “Ha-ha, kau disini, Hek-yan-pangcu? Mengutuk dan memaki-maki si Golok Maut? Bagus, aku juga benci padanya dan kita berdua dapat menjadi sahabat!” Hi-ngok, Si Hidung Belang Bhok-kongcu muncul, datang dan tertawa dan pemuda hidung belang ini berseri-seri memandang ketua Hek-yan-pang itu, yang tampak letih dan pucat. Dan ketika Hek-yan-pang-cu terkejut dan tertegun, berhenti, maka pemuda itu sudah menyambar lengannya dengan sikap ceriwis, kurang ajar. “Tak perlu berduka, ada aku disini.Mari, kita bersenangsenang, pangcu. Dan Bhok-kongcu akan mengajakmu melayang ke surga…” “Plak!” Wi Hong, ketua Hek-yan-pang itu tiba-tiba meronta, membentak dan melepas satu tamparan tapi Bhok-kongcu menangkis. Pemuda itu tentu saja waspada dan cepat mengelak, melepas tangan lawan. Dan ketika dia tertawa dan. mundur selangkah, mata berkejap bersinar-sinar maka dia mengagumi wajah di balik kedok itu, yang pasti cantik. “Kita tak perlu bermusuhan. Musuh kita sama, Golok Maut. Kenapa marah-marah, pangcu? Golok Maut memang jahanam, dia manusia keparat. Aku dapat mendampingimu dan mencarinya bersama, sama-sama kita bunuh!” “Diam kau!” Wi Hong, yang marah dan terkejut melihat siapa lawannya ini tiba-tiba menggigil. “Kau tak berhak bicara seperti itu, orang she Bhok. Lekas kau pergi dari sini atau aku segera membunuhmu!” “Ha-ha, dengan tubuh lemah dan muka pucat begini? Eh, tak usah bersombong, pangcu, Aku tahu kau tak seperti biasanya dan hari ini kau lelah lahir batin. Tamparanmu tadi menunjukkannya, dan aku tak dapat kau tipu, ha-ha!” Wi Hong mundur. Tiba-tiba dia menjadi marah namun juga cemas. Memang, tak dapat disangkal bahwa sesuatu sedang terjadi padanya. Beberapa hari ini dia muntahmuntah dan sakit, entah sakit apa dia tak mengerti. Sudah diberinya obat tapi tak sembuh juga. Kepalanya sering pening dan badan pun rasanya loyo. Makan tak enak tidur tak tenteram. Ada gangguan asing yang seumur hidup baru kali itu dialaminya. Dia muntah-muntah dan empat hari ini hampir tak terisi nasi, maklumlah, selera makan tak ada dan dia sama sekali tak tahu gejala apa itu. Maka ketika Bhokkongcu itu berkata bahwa dia tak seperti biasanya dan tenaganya memang lemah ketika menampar tadi maka ketua Hek-yan-pang yang lagi kacau hubungan asmaranya ini melotot. Seperti diketahui, terjadi pertengkaran antara wanita cantik ini dengan Golok Maut, setelah mereka melakukan hubungan suami isteri. Mereka berdua ternyata sama-sama jatuh cinta tapi Golok Maut akhirnya marah-marah. Pemuda itu mengutuk kekasihnya karena perbuatan yang mereka lakukan merupakan pelanggaran berat bagi sumpah Golok Penghisap Darah. Seharusnya mereka tak boleh melakukan itu sebelum musuh-musuh Golok Maut dibunuh, orang-orang she Coa dan Ci khususnya Coaongya dan Ci-ongya. Maka ketika sumpah itu turun dan dari angkasa Golok Maut mendengar suara tanpa rupa maka permulaan itu menjadi awal permusuhan mereka. Golok Maut meninggalkan wanita ini, berpisah. Asyikmasyuk mereka yang baru mereguk nikmatnya madu asmara tiba-tiba hancur dengan kemarahan GolokMaut itu, yang sadar setelah semuanya terjadi. Dan ketika hal itu menyakitkan hati wanita ini dan Wi Hong tentu saja tertusuk dan marah bukan main maka berakhirnya kisahkasih mereka menghancurkan wanita ini. Wi Hong, seperti diketahui, amatlah mencinta Golok Maut. Golok Maut pun akhirnya ternyata mencinta gadis baju merah itu dimana semuanya itu timbul setelah Golok Maut membuka kedok di muka gadis baju merah ini. Sudah menjadi peraturan di partai Hek-yan-pang bahwa laki-laki yang membuka kedok ketua atau wakil ketua haruslah mengawini ketua atau wakil ketua itu, seperti juga para murid lainnya karena Hek-yan-pang dihuni oleh para wanita belaka. Mereka rata-rata cantik dan baru Golok Maut itulah yang membuka kedok ketua, setelah mereka bertempur dan bertanding hebat, gara-gara mempertahankan Ci Fang. Dan karena Golok Maut berkepandaian tinggi dan tak ada satu murid wanita pun yang mampu menandingi si Golok Maut itu maka Golok Maut akhirnya membuka kedok Wi Hong secara tak disengaja. Dan ternyata itu berkelanjutan. Golok Maut diminta mempertanggung-jawabkan perbuatannya atau harus membunuh wanita itu, hal yang tak dapat dilakukan Si Golok Maut karena sebenarnya dia terguncang oleh kecantikan luar biasa wanita atau gadis baju merah ini. Dan ketika dia dikejar-kejar dan cinta memang akhirnya bersemi dihati Si Golok Maut maka dia menerima namun celaka nafsu menghanyutkan keduanya. Golok Maut mulamula bingung ketika dia dipaksa mengawini gadis baju merah itu. Dia teringat akan sumpah Golok Penghisap Darah bahwa tak boleh dia menikah kalau semua musuhmusuhnya belum dihabisi, inilah yang menyebabkan dia melarikan diri dari markas Hek-yan-pang itu ketika dimintai tanggung jawab. Bukan masalah takut atau apa melainkan semata teringat akan sumpah dari Golok Maut itu, yang dibawanya. Tapi ketika dia menyerah dan Wi Hong diterimanya, mabok dan ternina-bobok oleh asmara yang demikian nikmat tiba-tiba dia lupa akan sumpah itu dan melanggarnya. Wi Hong dianggap penggoda tak tahu malu dan gadis atau wanita baju merah ini tentu saja marah. Wi Hong tak tahu akan sumpah yang mengikat kekasihnya dan tentu saja dia terkejut sekali. Golok Maut tiba-tiba marah kepadanya dan mengutuk dia habis-habisan, padahal dia tak tahu apa-apa dan rela menyerahkan segalanya pada orang yang dicintanya itu. Maka begitu pertengkaran diantara mereka terjadi dan Golok Maut akhirnya pergi meninggalkannya maka Wi Hong berbulan-bulan menangis dan terhuyung sepanjang jalan, kaget dan marah akan sikap kekasihnya itu dan tentu saja perasaannya hancur. GolokMaut dinilai tak bertanggung jawab dan semua kata-katanya dianggapnya sebagai dalih untuk melepaskan tanggung jawab. Wi Hong malah salah sangka dengan menganggap Golok Maut mengada-ada. Habis manis sepah dibuang! Maka ketika hari itu dia bertemu dengan Bhok-kongcu dan si Hidung Belang ini tertawa mengganggunya mendadak Wi Hong menjadi beringas dan merah padam. “Orang she Bhok,” katanya sekali lagi. “Jangan mencari penyakit dan pergilah. Aku tak main-main dan kali ini benar-benar akan membunuhmu kalau kau menggangguku!” “Ha-ha!” pemuda itu tertawa bergelak. “Aku justeru tak mau pergi kalau kau mengusirku, nona. Tapi kalau kau mau kutemani dan kita bersama-sama mencari si Golok Maut itu maka barulah aku pergi kalau nanti sudah bosan!” “Sing!” sebatang pedang tiba-tiba berkelebat menyambar, cepat dan ganas. “Kau benar-benar minta mati, orang she Bhok. Kalau begitu baiklah, terima ini dan kuantar kau ke neraka!” dan Wi Hong yang sudah mencabut pedangnya berkelebatan kesana-sini tiba-tiba menggerakkan pedangnya itu bagai harimau haus darah, tak kenal ampun dan menusuk atau menikam dan Bhok-kongcu itu tentu saja mengelak. Si Hidung Belang ini terkejut tapi tertawa menyeringai, berkelebatan dan mengimbangi kecepatan pedang yang menyambar-nyambar dari segala penjuru. Tapi karena dia yakin bahwa tenaga pemiliknya taklah sehebat seperti biasa maka ketika pedang menusuk tenggorokan dengan berani dia menangkis. “Tring!” Benar saja, pedang terpental. Wi Hong terkejut karena tenaganya tak seperti biasa dan tangkisan kuku jari lawan mampu mementalkan pedangnya. Dan ketika dia membentak dan menyerang lagi dengan ganas maka Bhokkongcu itu menangkis dan mengelak sana-sini. “Tring-tring!” Wi Hong pucat. Entah bagai mana tiba-tiba dia merasa lemah dan perut yang mulas tiba-tiba kambuh kembali. Wi Hong ingin muntah namun saat itu ditahannya, bergerak dan membentak lawan dan ditikamnya si Hidung Belang itu dengan penuh kemarahan. Tapi ketika isi perut bergolak dan lawan lagi-lagi menangkis tiba-tiba dia muntah dan lawan terkejut karena muntahan itu menyemprot mengenai bajunya. “Uah…!” Si Hidung Belang terbelalak. Dia melihat ketua Hek-yanpang itu limbung dan tiba-tiba roboh, menangis dan memegangi perutnya yang entah kenapa. Heran dia. Tapi karena saat itu justeru merupakan saat yang bagus dan Bhok-kongcu terbahak tiba-tiba pemuda ini berkelebat menotok lawan. “Ha-ha, sekarang habis kesombonganmu, pangcu. Robohlah dan menyerahlah… ..!” Tapi ketika dia bergerak dan lawan terkejut memandangnya, tak mampu mengelak tiba-tiba bayangan hitam berkelebat dan membentak pemuda she Bhok itu dari belakang. “Hi-ngok, jangan macam-macam. Kaulah yang mampus… singg!” Bhok-kongcu terkejut. Dari belakang menyambar sebatang pedang lain dan punggungnya menerima tusukan ganas. Dari tusukan ini dia tahu bahwa lawan yang berbahaya sedang menyerang, terkesiap pemuda itu. Dan ketika dia membalik dan apa boleh buat harus menangkis serangan itu sambil mencabut ikat pinggangnya tiba-tiba si Hidung Belang ini telah membentak dan membalikkan tubuh. “Plak-plak!” Bhok-kongcu terpental. Bayangan hitam terhuyung sejenak dan pemuda itu berjungkir balik, kaget melihat seorang gadis lain berkedok hitam telah berdiri disitu, mata berapi-api. Dan ketika pemuda itu tertegun dan berjungkir balik melayang turun maka Wi Hong, yang roboh dan lemas ditanah tiba-tiba berseru girang, “Cu-moi (adik Cu)…!” Gadis itu, yang dipanggil dan menoleh tiba-tiba mengangguk. Dia memang Swi Cu adanya, wakil ketua sekaligus adik seperguruan Wi Hong, yang mencari dan menemukan sucinya (kakak seperguruan) disitu. Maka begitu Wi Hong memanggilnya dan panggilan itu begitu lemah tiba-tiba Swi Cu berkelebat dan menolong ketuanya ini. “Suci, kau kenapa? Kau luka?” “Tidak,” Wi Hong menangis. “Tapi… tapi… entahlah, aku tak tahu, Cu-moi. Akhir-akhir ini aku pusing-pusing dan muntah-muntah. Golok Maut mempermainkan aku, dan kini buaya ini juga mau menggangguku!” “Tenanglah,” Swi Cu mengerotokkan buku-buku jarinya. “Aku akan menghajar Si Hidung Belang ini, suci. Aku mencari-carimu dan kebetulan kita bertemu disini. Golok Maut mencari dirimu di markas, marah-marah dan mengamuk. Aku hampir saja dibunuhnya!” “Apa?” “Benar, dia marah-marah, suci. Entah kenapa. Markas kita diobrak-abrik dan dia memaki-makimu.” “Ooh…!” dan Wi Hong yang menangis mengepalkan tinju tiba-tiba berteriak, “GolokMaut, kau sungguh laki-laki keparat. Sudah mempermainkan aku masih juga mengganggu markasku. Ah, kubunuh kau. Terkutuk kau…!” Namun Wi Hong yang tersedak dan batuk serta muntahmuntah tiba-tiba mengejutkan Swi Cu karena ketua atau sucinya ini terguling roboh, lemas oleh penyakit aneh dan mengeluh menyatakan pusing-pusing. Pada saat itu Bhok-kongcu tertegun disana, mendengar percakapan dua enci adik itu. Tapi ketika Wi Hong terguling dan pemuda hidung belang ini bersinar-sinar memandang Swi Cu, gadis yang baru datang tiba-tiba dia menyeringai dan menubruk gadis itu dari belakang, melepas pukulan diam-diam, dalam satu kilatan mata yang keji. “Wut!” Swi Cu lupa. Gadis ini tak menyadari bahaya karena saat itu perhatiannya tercurah pada sang suci, Wi Hong, menolong dan membantu sucinya itu duduk. Tapi karena saat itu Wi Hong kebetulan melihat serangan ini dan tentu saja gadis baju merah itu terkejut tiba-tiba Wi Hong berteriak, “Awas!” Swi Cu sadar, Angin pukulan Bhok-kongcu akhirnya terdengar juga, dalam detik yang terlambat.Maka kaget dan mengeluh tertahan tiba-tiba Swi Cu mengelak dan marah oleh serangan curang ini. “Dess!” Dia terkena juga. Swi Cu mencelat terguling-guling karena angin pukulan Bhok kongcu menyerempet pundaknya, pedas dan pedih dan Swi Cu gusar. Bhokkongcu tertawa tapi menyeringai kecewa, melotot pada Wi Hong yang memberi tahu adiknya. Maka ketika Swi Cu bergulingan mengeluh di sana dan gadis baju hitam itu memakinya maka si Hidung Belang yang gagal pukulannya ini tiba-tiba menubruk dan meneruskan serangannya pada Wi Hong. “Kutangkap kau…!” Wi Hong terkesiap. Dia dalam keadaan lemah dan tenaga serasa habis. Entah kenapa dia merasa tubuhnya begitu lunglai dan tentu saja tubrukan atau serangan itu tak dapat ditangkis. Jangankan ditangkis, dielak saja dia tak sanggup dan Wi Hong mengeluh pucat. Dan ketika tubrukan itu datang dan gadis ini berusaha miringkan tubuhnya maka sebuah tamparan mengenai lehernya. “Plak!” Wi Hong menjerit pingsan. Pukulan atau tamparan Bhok-kongcu tadi cukup keras baginya, tak tahan dia. Namun ketika Bhok-kongcu terbahak dan mau menyambar tubuh itu tiba-tiba Swi Cu membentak dan gadis itu melontar pedangnya yang mendesing dibelakang punggung lawannya. “Jangan sentuh suciku!” Bhok-kongcu terkejut, Terpaksa apa boleh buat dia membatalkan niatnya, membalik dan menangkis timpukan pedang yang luar biasa cepat itu. Dan ketika pedang tersampok runtuh namun dia terhuyung mundur maka Swi Cu sudah berkelebat dan menyambar pedangnya dari atas tanah. “Kau jahanam keparat!” Bhok-kongcu menyeringai. Untuk detik berikutnya dia sudah diserang gadis baju hitam ini, ganas dan cepat dan tentu saja dia mengelak sana-sini. Tapi ketika pedang menyambar kian cepat dan sinar yang bergulung-gulung naik turun mengelilingi dirinya tiba-tiba bahunya terbabat robek. “Bret!” Bhok-kongcu sadar. Tiba-tiba dia terkejut bahwa yang dihadapi kali ini adalah gadis yang penuh tenaganya, tidak seperti Hek-yan-pangcu yang pada mulanya memang tak enak badan, sedang menderita sakit. Maka ketika Swi Cu berteriak lagi dan melengking-lengking melakukan tusukan atau bacokan cepat akhirnya pemuda she Bhok ini tak bisa mengelak saja, mau tak mau harus mencabut senjatanya, ikat-pinggangnya itu. “Plak-cringg!” Swi Cu menjadi gusar. Lawan mencabut senjatanya dan pedangnya tertolak terpental, membalik dan menyerang lagi namun ikat-pinggang di tangan lawan kini menjeletarnjeletar menyambut pedangnya itu. Dan ketika gadis ini berteriak dan pedang serta ikat-pinggang berkelebatan menjadi satu tiba-tiba Swi Cu melakukan bentakan tinggi dan tangan kirinya bergerak menyambar. “Dess!” Ang-in-kang, Pukulan Awan Merah tiba-tiba menghantam lawannya itu. Bhok-kongcu terkejut dan terdorong beberapa tindak, tadi tak menduga dan dia terkena pukulan itu. Tapi karena pemuda ini memang kuat dan Ang-in-kang hanya membuatnya tergetar dan terdorong saja tiba-tiba pemuda itu tertawa bergelak menggerakkan tangan kirinya pula. “Ha-ha, pukulan Awan Merah, nona? Bagus, kita samasama memiliki pukulan bersinar merah. Lihat, akupun juga punya …. plak-dess!” dan tangan kiri Bhok-kongcu yang bergerak dan menyambut pukulan di tangan kiri lawan tibatiba meledak dan mengeluarkan suara keras, mengejutkan Swi Cu karena sinar merah di tangan lawannya itu mengeluarkan bau amis. Kagetlah gadis ini, juga marah. Dan ketika Ang-in-kang disambut dan selalu bertemu dengan tangkisan-tangkisan lawan yang juga serupa namun amis dan lebih berbahaya sadarlah Swi Cu bahwa lawan mempergunakan pukulan beracun. “Ang-tok-kang (Pukulan Racun Merah)!” “Ha-ha, cocok!” Bhok-kongcu berseru terbahak. “Memang benar, nona. Dan kini Ang-tok-kang bertemu Ang-in-kang. Aih, seharusnya kita tak usah bertempur melainkan bersahabat. Ha-ha…!” dan Bhok kongcu yang terbahak dan tertawa bergelak tiba-tiba melingkarkan ikatpinggangnya dan menggubat pedang Swi Cu, menarik dan membetot dan Swi Cu terkejut. Saat itu dia menyerang tapi lawan menangkis, menggerakkan ikat-pinggangnya itu dan melingkar dari atas. Dan ketika pedang tergubat ujungnya dan tarikmenarik diantara mereka tentu saja terjadi maka Bhokkongcu tiba-tiba melepas Ang-tok-kangnya dengan tangan kiri itu. “Dess!” Swi Cu terpaksa menyambut, apa boleh buat harus menggerakkan tangan kirinya pula dan kini kedua tangan mereka menempel. Bhok-kongcu tertawa bergelak dan jari-jari tangan lawan yang lembut diusapnya, diremas dan Swi Cu tentu saja mendelik. Gadis itu tak dapat melepaskan tangannya karena baru saja menangkis, bertemu dan lawan secara kurang ajar ternyata kini meremasnya, terbahak tapi tentu saja Ang-tok-kang terus mengalir dari lengan pemuda itu, ditahan dan disambut Ang-in-kang namun Swi Cu terguncang lebih dulu, yakni ketika lawan mengusap dan meremas jari-jarinya itu, dengan sikap kurang ajar. Dan karena hal ini memecah perhatiannya karena kemarahan luar biasa membuat gadis itu serasa meledak maka tiba-tiba dia terdorong ketika Ang-tok-kang maju menerjang. “Hek!” Swi Cu mendelik. Saat itu dia sadar dan cepat mengerahkan tenaganya kembali, bertahan. Namun karena tadi sudah kalah satu detik dan hal itu cukup membuat dia berada di posisi yang buruk maka gadis ini terdesak ketika lawan juga menambah tenaganya, jari-jari lawan mengusap semakin kurang ajar dan memanaskan hati! “Ha-ha, kau menyerah, Cu-moi. Dan kita berbaik. Aih, aku jatuh cinta padamu dan langsung ingin menikah!” Bhok-kongcu tahu kedudukan lawan, mengeluarkan katakata kurang ajar dan tertawa terbahak-bahak. Dia menirukan panggilan Wi Hong tadi kepada gadis ini, menyebutnya dengan mesra tapi ceriwis, hal yang membuat Swi Cu jadi merah padam dan buyar pemusatan perhatiannya. Dan ketika gadis itu membentak namun kalah dulu tiba-tiba dia terjengkang ketika lawan mendorong. “Bress!” Swi Cu terguling-guling. Gadis ini mengeluh dan pedang di tanganpun terlepas. Bhok-kongcu secara cepat mendahuluinya tadi, menambah Ang-tok-kang dan pukulan Awan Merahnya terdesak, kalah dan tertindih. Dan ketika gadis itu terjengkang dan merasa dadanya sesak maka Bhok-kongcu menyambar dan berkelebat menotok buah dadanya! “Ha-ha, sekarang kita bersenang-senang, Cu-moi. Aih, alangkah nikmat mendapatkan dua kakak beradik sekaligus!” Namun, ketika pemuda hidung belang itu bergerak dan siap merobohkan lawan, karena Swi Cu tak mungkin menangkis lagi karena sedang terguling-guling dan sesak dadanya tiba-tiba berkelebat bayangan putih. Bayangan ini bergerak jauh lebih cepat daripada pemuda she Bhok itu, berkelebat dan tahu-tahu sudah mencengkeram bahu si Hingok ini. Dan ketika Bhok-kongcu terkejut dan terpekik kesakitan tiba-tiba dia terbanting dan sebuah bentakan terdengar di situ, dingin menyeramkan, “Orang she Bhok, jangan mengganggu wanita. Pergilah!” Bhok-kongcu terlempar. Dia tadi serasa diserang setan dan hanya Golok Maut sajalah yang mampu berbuat itu, karena dulu dia pernah mengalami hal serupa. Dan ketika dia menjerit dan sudah menyangka si Golok Maut, lawan yang paling ditakuti tiba-tiba orang she Bhok ini tertegun karena disitu berdiri seorang pemuda lain yang bukan GolokMaut, seorang pemuda berbaju putih. “Beng Tan…!” Yang berteriak itu adalah Swi Cu. Wakil ketua Hek-yanpang ini girang bukan main ketika melihat siapa yang datang, bukan lain memang Beng Tan adanya. Dan ketika pemuda itu mengangguk dan Bhok-kongcu juga mengenal maka si Hi-ngok si Hidung Belang ini pucat mukanya. “Ah, kau?” Bhok-kongcu tiba-tiba gemetar. Pemuda lihai yang dikenalnya sehebat Golok Maut itu tiba-tiba membuat dia pias, tak ayal membalikkan tubuh dan tiba-tiba meloncat pergi, terbang meninggalkan lawan. Dan ketika Beng Tan, pemuda itu tak mengejarnya melainkan menolong Swi Cu maka gadis baju hitam ini menangis dan menubruk pemuda baju putih itu. “Ah, kau… kau, in-kong. Terima kasih!” “Hush, apa-apaan ini? Bangunlah, Swi Cu. Dan jangan bercanda “ Swi Cu, sumoi dariWi Hong itu girang bukan main. Dia mengguguk tapi segera menciumi Beng Tan. Mereka adalah kekasih dan seperti diketahui di muka sebenarnya dua orang ini pergi bersama-sama, meninggalkan Hek-yap-pang. Tapi karena di tengah jalan Beng Tan ke kota raja sebentar untuk suatu keperluan maka mereka berpisah sejenak dan Swi Cu kebetulan melihat pertandingan sucinya dengan Hi-ngok si Hidung Belang itu, menolong sucinya tapi Bhok-kongcu ternyata lihai. Hampir saja dia celaka. Dan ketika Beng Tan muncul lagi disitu dan tentu saja dia gembira maka Swi Cu ter’upa Danggilannya karena teringat peristiwa ketika Beng Tan dulu menolongnya dari tangan si GolokMaut, wajah berseri-seri dan kini dipeluk pemuda itu, mendapat ciuman sekali di pipi. “Hm, apa yang terjadi, Cu-moi. Bhok-kongcu itu mengganggumu? Dan eh , itu sucimu.” Beng Tan tiba-tiba baru melihat Wi Hong disitu, pingsan di atas tanah karena tadi hampir hanyut oleh keberduaannya dengan Swi Cu. Mereka sekarang bertemu lagi dan Beng Tan tentu saja terkejut, melihat Wi Hong yang pingsan. Dan ketika dia melepas kekasihnya untuk berkelebat ke arah Wi Hong maka Swi Cu juga sadar dan berkelebat menyusul disampingnya. “Benar, aku bertemu orang she Bhok itu justeru karena melihat suciku disini, koko. Tadi dia bertanding tapi aneh sekali suciku tiba-tiba roboh, seolah kesakitan!” “Hm, mari kita sadarkan dulu. Lain-lain akan terjawab sendiri,” dan ketika Beng Tan menotok serta menolong Wi Hong maka wanita atau gadis baju merah itu sadar. “Ooh. !” Wi Hong membuka mata. “Dimana kau, Cumoi’ Dan dimana keparat Bhok-kongcu itu?” “Aku disini,” Swi Cu memegang sucinya dengan khawatir. “Kau tak apa-apa, suci, Kau masih pusingpusing?” “Benar, aku… ah.” Wi Hong terkejut, membuka matanya dan melihat Beng Tan disitu, terbelalak. “Siapa…. siapa ini? Dia menolongku?” wanita itu tiba-tiba bangkit, terhuyung dan merah padam. “Keparat, tak boleh ada laki-laki menyentuh tubuhku, Cu-moi. Kau tahu itu!” dan Wi Hong yang bergerak serta menghantam Beng Tan tiba-tiba diterima dan dibiarkan Beng Tan, yang tentu saja mengejutkan Swi Cu, kekasihnya. “Suci…. dess!” pukulan sudah mengena, mendarat namun Beng Tan tentu saja tidak apa-apa. Pemuda ini telah mengerahkan sinkangnya dan Wi Hong malah terbanting, kaget berteriak tertahan. Dan ketika sumoinya berkelebat dan menolong sang enci maka Wi Hong tertegun melihat adik atau sumoinya itu tersedu-sedu. “Jangan… jangan serang dia. Dia…. dia calon suamiku, kekasihku!” “Apa?” Wi Hong tersentak, kaget membelalakkan mata. “Kau… kau sudah berhubungan dengan lelaki? Kau…. plakplak!” dan Wi Hong yang tiba-tiba menampar dan membuat Swi Cu terpelanting tiba-tiba menjadi marah dan kecewa teringat penderitaannya sendiri. Menganggap laki-laki adalah pendusta belaka dan mereka tu “penyakit” bagi wanita. Wi Hong terguncang dan entah kenapa menjadi marah dan panas mendengar kata-kata sumoinya. Semacam perasaan cemburu dan iri mengganggu dirinya saat itu. Maka begitu sumoinya menerangkan dan dia marah serta menampar sumoinya itu maka Wi Hong bangkit dan berapi-api menghadapi Beng Tan, yang membuatnya terkejut oleh kelihaiannya tadi tapi sama sekali tidak membuat ketuaHek-yan-pang ini takut, apalagi gentar! “Jahanam, siapa namamu? Kau telah merayu dan memikat sumoiku? Kau mau menipunya dan berbuat seperti yang lain-lain? Ah, kubunuh kau. Laki-laki tak dapat dipercaya… wut!” dan Wi Hong yang membentak lagi menerjang maju tiba-tiba melepas pukulan namun kali ini dikelit oleh Beng Tan, dibentak dan diserang lagi namun Swi Cu menjerit-jerit disana. Gadis baju hitam ini meloncat bangun dan mencegah encinya menyerang Beng Tan. Tapi ketika Wi Hong membalik dan menghantam dirinya tiba-tiba Swi Cu mengeluh dan terbanting roboh. “Pergi kau…, dess!” Beng Tan mengerutkan kening. Segera pemuda ini menjadi terkejut melihat ketidak wajaran sikap ketua Hekyan- pang itu. Wi Hong mendesis-desis padanya dan mata gadis atau wanita itu memancarkan api. Dendam dan kebencian tak dapat disembunyikan disitu, Beng Tan melihatnya jelas. Dan ketika dia berkelit sana-sini sementara Swi Cu berteriak-teriak agar sucinya tak menyerang tiba-tiba Wi Hong membentak dan melepas Ang-in-kang “Roboh kau!” Beng Tan menangkap. Tiba-tiba dengan cepat dia menerima pukulan itu, menampar dan menangkis. Dan ketika Wi Hong menjerit dan terlempar roboh, tergulingguling tiba-tiba ketua Hek-yan-pang itu muntah-muntah. “Keparat, kau bersekongkol dengan pemuda jahanam ini, Swi Cu. Kau tak dapat kubela. Ah, kalian terkutuk. Kubunuh kalian nanti… huak!” dan Wi Hong yang menghentikan kata-katanya terguling roboh tiba-tiba muntah-muntah dan penyakit lamanya kumat, mengeluh dan mengglgit bibir dan tiba-tiba gadis itu menangis. Dan ketika Beng Tan tertegun melihat gadis atau ketua Hek-yanpang itu mendekap-dekap perutnya maka Swi Cu mengguguk menubruk encinya. “Tidak…. tidak, enci. Aku boleh kau bunuh tapi dia jangan. Kau salah paham, kau sedang dilanda dendam. Ah, tenanglah, enci. Tenanglah…. plak!” namun sebuah pukulan yang membuat Swi Cu terlempar dan terbanting bergulingan akhirnya membuat Beng Tan tak tahan lagi, marah dan memaki Wi Hong serta cepat menolong kekasihnya. Swi Cu mengguguk dan menangis tak keruan. Dan ketika disana encinya juga menangis namun mendekap perut serta muntah-muntah maka Beng Tan menjadi curiga dan cepat berbisik di telinga Swi Cu, “Dia agaknya mengalami kelainan. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi di dalam tubuhnya. Coba dekati dan totok dia, Cu-moi. Atau aku akan merobohkannya dan memeriksa!” “Kau… kau bilang apa?” Swi Cu tak mendengar, menangis tersedu-sedu. “Kau dekati dia, totok dan robohkan!” “Tapi..,. tapi…” gadis ini mengguguk. “Suciku marahmarah, Tan-ko. Sebelum aku dekat tentu dia menyerangku!” “Kalau begitu….” Beng Tan tiba-tiba terkejut, mendengar desing sebuah pedang yang ditimpukkan kebelakang punggungnya. “Aku yang akan melakukannya, Cu-moi. Dan maaf terpaksa dia kurobohkan …. plak!” dan pedang yang ditangkis pemuda ini tanpa menoleh tiba-tiba runtuh terpukul dan Beng Tan berkelebat ke arah Wi Hong, tadi disambit dan dia melihat ketua Hek-yan-pang itu berapi-api padanya. Wi Hong mendesis dan rupanya mendengar katakatanya tadi, marah dan menyerang dari belakang. Tapi ketika pedang terpukul ke tanah dan Wi Hong kecewa tibatiba pemuda itu telah berkelebat dan menotoknya roboh. “Maaf, kau mengalami gangguan, pang-cu. Robohlah dan jangan menyerang!” Wi Hong tak dapat mengelak. Diserang Bhok-kongcu saja dia tak dapat menghindar, apalagi pemuda yang jauh lebih lihai ini. Maka begitu dia mengeluh dan roboh tertotok maka Beng Tan telah menyambar tubuhnya memeriksa denyut nadi. “Kau… jahanam!” Wi Hong gemetar. “Terkutuk kau, pemuda setan. Keparat kau!” “Tenanglah,” Beng Tan tak perduli, sudah menghitung detak jantung. “Kau terguncang oleh sesuatu yang sangat, pangcu. Agaknya oleh Golok Maut. Hm, nadimu cepat sekali. Dan…. he!” Beng Tan tertegun, pucat dan berobah mukanya dan tiba-tiba saat itu lagi-lagi Wi Hong muntah. Tanpa dapat dicegah baju pemuda ini kena semprot, Beng Tan agaknya tak berniat untuk mengelak pula. Dan ketika pemuda itu terkejut dan mundur melepaskan tangan lawannya maka Swi Cu terisak berkelebat menghampiri. “Apa yang kau rasa, Tan-ko? Berbahaya?” “Tidak, dia… dia…” Beng Tan gugup, muka tiba-tiba merah dan Swi Cu membelalakkan mata. Gadis ini heran kenapa Beng Tan tidak meneruskan kata-katanya. Dan ketika disana Wi Hong mendesis dan memaki pemuda itu maka Swi Cu berlutut dan memeluk encinya, menangis. “Suci, dia… dia Beng Tan. Dialah yang menyelamatkan aku dan seluruh murid kita dari amukan GolokMaut. Beng Tan mencintaiku, dan akupun mencintainya.Maaf, aku tak sempat memberitahumu karena kau pergi, suci. Tapi sekarang kuberi tahu dan harap kau tidak marah.” “Kaupun jahanam!” Wi Hong membentak, mengejutkan sumoinya. “Perkumpulan kita tak boleh didekati lelaki, Swi Cu. Tapi kau melanggar, keparat!” “Ah,” Swi Cu tersentak, mundur membelalakkan mata. “Kaupun melanggar, suci. Kaupun mencintai Golok Maut dan mencari-carinya! Kau… kau…” “Diam!” sang suci marah. “Golok Maut adalah musuhku, Swi Cu. Dia musuh kita semua. Aku…. aku benci padanya!” dan Wi Hong yang menangis dan mengguguk tak dapat menahan diri akhirnya dipeluk dan membiarkan mukanya terbenam di dada sang sumoi, tak tahu saat itu Beng Tan merah terbelalak memandangnya, mau bicara tapi ragu, seolah ada sesuatu yang mengganggu, berat dikatakan. Tapi ketika dia batuk-batuk dan Swi Cu teringat, menoleh, tiba-tiba gadis itu berkelebat menyambar lengannya. “Tan-ko, apa yang terjadi? Ada apa dengan suciku? Kau tampak bingung, mau bicara tapi tak jadi!” “Benar, aku… hm… hm!” Beng Tan merah dan gugup. “Ada sesuatu yang hampir tak kupercaya, Swi Cu. Sucimu itu… sucimu itu…” “Kenapa? Ada apa dengan dia?” “Aku… aku takut mengatakan. Jangan-jangan kau marah!” “Ah, gila. Kita sudah bukan orang lain, Tan-ko. Katakan dan tak mungkin aku marah!” “Dia…. dia…” Beng Tan masih ragu. “Ah, sebaiknya bawa dia ke bidan, Cu-moi. Periksakan saja disana.” “Apa?” Swi Cu terkejut, bagai disengat listrik. “Bidan? Maksudmu. ..?” “Benar, dia hamil, Cu-moi. Sucimu itu hamil tapi barangkali bisa juga aku salah periksa!” “Astaga!” Swi Cu mencelat, kaget bagai disambar petir. “Kau. . .kau jangan main-main, Tan-ko. Ini masalah besar dan bisa berupa penghinaan!” “Maaf, kalau begitu biar kau tanya sucimu itu, Cu-moi. Aku pergi dulu dan kalian bicaralah!” Beng Tan berkelebat, akhirnya meninggalkan Swi Cu dan tertegunlah Swi Cu disitu. Gadis ini merah padam dan kalau bukan Beng Tan yang bicara tentu dia sudah mengamuk dan menerjang. Bayangkan, sucinya, yang masih gadis dan selama ini diketahuinya sebagai perawan ting-ting tiba-tiba saja dikatakan hamil! Swi Cu pucat dan dia berdiri sampai mendelik. Tapi ketika Beng Tan menyuruhnya bicara dan itu memang betul akhirnya gadis ini membalik dan menyambar encinya itu, yang masih menangis. “Suci…” gadis ini gemetar. “Bolehkah kutahu apa yang terjadi diantara dirimu dengan si Golok Maut itu? Kenapa dia marah-marah dan mengamuk di markas? Apa yang terjadi?” “Dia… dia…” Wi Hong mengguguk, sakit hatinya. “Dia menghina aku, Cu-moi. Dia… dia manusia jahanam!”. “Dia mengganggumu? Dia memperkosamu?” “Apa?” Wi Hong tersentak, berjengit kaget. “Maaf,” Swi Cu merah padam, menahan diri. “Kau dinyatakan hamil, suci. Beng Tan memeriksa denyut nadimu dan kau katanya hamil!” Wi Hong menjerit. Gadis baju merah ini tiba-tiba roboh dan mengeluh panjang pendek, suaranya tak jelas tapi tibatiba dia mengguguk, tersedu-sedu. Dan ketika Swi Cu terkejut dan tentu saja terkesiap maka gadis ini melihat sucinya memukul-mukul kepala sendiri. “Oh, jahanam keparat. Kau bunuhlah aku, Swi Cu. Kau bunuhlah aku dan cari pemuda terkutuk itu. Golok Maut menghinaku. Dia… dia…!” dan Wi Hong yang melengking menjerit tinggi tiba-tiba roboh pingsan. “Celaka!” Swi Cu jadi bingung. “Kenapa begini jadinya, suci? He, tolong aku, Tan-ko. Suci pingsan lagi!” Beng Tan muncul. Pemuda ini berkelebat bagai siluman dan tahu-tahu sudah ada disitu lagi. Beng Tan sebenarnya tak enak mencampuri urusan ini dan bicara tentang itu. Tapi karena Wi Hong dilihatnya pingsan dan Swi Cu tak berhasil menolong encinya maka pemuda ini berlutut dan menotok serta mengeluarkan sebutir pil hijau. “Kau serahkan ini padanya, sebentar lagi tentu siuman.” Beng Tan berkelebat mundur lagi. Pemuda ini menghilang karena sungguh tak enak bicara seperti itu. Ketua Hek-yan-pang hamil, padahal jelas dia masih perawan dan suci seperti Swi Cu sendiri, begitu juga seperti halnya murid-murid wanita Hek-yan-pang yang lain. Dan ketikaWi Hong sadar dan benar saja gadis atau wanita baju merah itu siuman dan tertegun melihat sumoinya menangis maka Swi Cu menyerahkan obat pemberian Beng Tan kepada sucinya. “Kau minum ini, dan ceritakan apa yang terjadi!” “Tidak!” Wi Hong tiba-tiba melompat bangun. “Aku akan mencari Golok Maut, Swi Cu. Dan sementara ini kau pimpin tampuk pimpman partai!” “Kau mau kemana?” sang sumoi terbelalak, pucat. “Golok Maut pun sedang kami cari, suci. Daripada sendirisendiri lebih baik bersama. Aku…” “Tidak!” Wi Hong membentak, muka beringas. “Aku ingin mencarinya dan mengadu jiwa, Swi Cu. Aku… aku… dia menghina aku!” dan Wi Hong yang menangis berkelebat pergi tiba-tiba terhuyung dan jatuh terjerembab, kiranya belum kuat dan kemarahannya itu membutuhkan energi berlebih. Gadis ini tersungkur dan Swi Cu pun menjerit. Dan ketika gadis itu memeluk sucinya dan menangis tak keruan maka Beng Tan, yang bersembunyi dan mengintai dari jauh menyusupkan suaranya lewat telinga kekasihnya itu, “Cu-moi, berikan obat itu kepada sucimu. Obat itu berguna untuk memulihkan tenaga. Bujuklah, dan biarkan ia pergi!” Swi Cu tersedu-sedu. Teringat obat yang ditampar sucinya cepat dia mengambil lagi, membujuk dan berkata pada sucinya bahwa obat itu untuk pemulih tenaga, seperti yang dikata Beng Tan. Dan ketika Wi Hong terbelalak dan tertegun, menoleh kiri kanan maka dia bertanya di mana Beng Tan, pemuda baju putih itu. “Dia… dia pergi. Tak mau mencampuri urusan kita.” “Hm!” Wi Hong menyambar, menelan obat pemberian itu. “Baiklah, Cu-moi. Terima kasih. Tapi aku tak mau bersama siapa pun karena aku ingin sendiri…. wut!” dan Wi Hong yang melompat dan tidak terhuyung lagi ternyata sudah pulih tenaganya dan diteriaki sang sumoi, yang menjerit dan menyusul sucinya tapi Wi Hong membalik. Dengan bengis dan ganas wanita ini tiba-tiba menyambitkan tujuh jarum merah ke arah sumoinya itu, yang tentu saja terkejut dan berhenti menangkis, mendapat seruan agar tidak mengejar dan patuh pada perintah ketua. Dan ketika Swi Cu tertegun dan menangis tersedu-sedu maka Wi Hong lenyap dan lemaslah gadis ini mengguguk di tanah. “Suci, kau… kau gila. Kau tak waras. Ah, kau menempuh bahaya!” “Biarlah!” Wi Hong menjawab dari jauh. “Dendam sakit hati ini tak dapat kubiarkan berlarut-larut, Swi Cu. Dia atau aku yang mati!” Swi Cu mengguguk. Kalau sang suci yang sekaligus juga sebagai sang ketua sudah memerintahkan begitu maka dia tak dapat berbuat apa-apa. Sucinya tadi sungguh-sungguh bermaksud membunuh dia dengan sambitan jarum-jarum merahnya itu. Kalau tak cepat dia mengelak atau menangkis runtuh tentu dia sudah terkapar. Ah, sucinya sekarang bengis! Namun ketika gadis ini mengguguk dan tersedu di tanah tiba-tiba bayangan Beng Tan muncul, berkelebat. “Cu-moi, sucimu betul. Dia tak mungkin mau ditemani siapapun. Bersiaplah, kita juga berangkat dan mencari GolokMaut!” “Tapi… tapi…” Swi Cu mengguguk. “Suciku menempuh bahaya sendirian, koko. Dan dia tak mengaku apakah GolokMaut memperkosanya!” “Kita dapat tanyakan itu, kita selidiki Si Golok Maut. Sudahlah, kau bangun berdiri dan kita pergi!” Beng Tan menarik tangan kekasihnya, kening berkerut kerut dan tibatiba kebencian membakar dadanya. Dia menganggap Golok Maut mengganggu ketua Hek yan-pang itu, suci kekasihnya Dan karena kebencian Wi Hong juga kelihatan besar dan tentu Golok Maut memperkosa gadis baju merah itu maka Beng Tan berkerotok giginya ketika membangunkan Swi Cu. “Kita pergi, dan kita tangkap Si GolokMaut itu.” “Bisakah?” Swi Cu tersedu. “Kau dan dia sama lihai, koko. Kalian berimbang. Aku khawatir….” “Tidak, untuk sebuah tugas mulia tak perlu kita ragu, Cumoi. Membekuk dan menangkap Si Golok Maut itu sudah berubah sifatnya bagiku. Bukan lagi sekedar menasihati seorang sesat melainkan harus membekuk dan kalau perlu membunuhnya agar dia tak memperkosa wanita-wanita lain lagi.” Swi Cu mengangguk. Memang dia pun menganggap begitu. Golok Maut dianggap memperkosa sucinya dan hal itu sungguh membakar hati. Mentang-mentang lihai lalu main perkosa segala. Ah, Golok Maut ternyata tak hanya membunuhbunuhi musuhnya saja tapi sudah bertindak terlalu jauh dengan menghina dan memperkosa wanita. Sucinya sudah menjadi korban. Dan ketika Swi Cu bangkit berdiri dan mengigit bibir maka dia siap melanjutkan perjalanan namun anehnya kekasihnya tiba-tiba membalik. “Kita ke kota raja sebentar, melapor atasanku.” “Apa?” Swi Cu tertegun. “Ke kota raja?” “Ya, sementara ini aku harus pulang, Cu-moi, melapor pada atasanku karena sudah waktunya. Aku sudah ditunggu-tunggu.” “Tapi suciku, Dan GolokMaut?” “Dapat disusul, Cu-moi. Sudahlah kau percaya padaku atau kita berpisah sementara waktu!” “Tidak. Aku tak mau kau tinggal lagi, koko. Kalau kau mau ke kota raja aku pun ikut!” “Hm, baik kalau begitu. Kau tak membantah lagi?” Swi Cu terisak. Tiba-tiba. dia memeluk dan menyusupkan kepalanya ke dada kekasihnya itu. Setelah bertemu dan bertempur dengan si Hidung Belang Bhok-kongcu tadi tiba-tiba Swi Cu ngeri untuk sendirian. Ah, di dunia ini penuh dengan orang-orang jahat dan curang, juga keji dan kejam seperti Bhok-kongcu itu, yang hampir merobohkannya dengan kecurangan tak tahu malu. Dan teringat betapa orang she Bhok itu memandangnya dengan mata berminyak dan nafsu yang kotor jelas terpancar dimata pemuda itu, tiba-tiba Swi Cu menjadi ngeri meskipun bukan berarti gentar. “Aku… aku tak membantah lagi. Kau benar, dunia ini penuh dengan laki-laki busuk!” “Hm, karena itu turut nasihatku, moi-moi. Jangan bawa adat sendiri seperti biasanya. Ayolah, kita ke kota raja sebentar dan setelah itu mencari Si GolokMaut!”* Swi Cu mengangguk. Memang dalam perjalanan yang lalu terjadi sedikit perselisihan diantara mereka. Beng Tan waktu itu hendak menemui seseorang tapi ia tak mau ikut, bersitegang sedikit dan akhirnya berpisah. Mereka menentukan akan bertemu di kota Ih-peh tapi ternyata Beng Tan belum datang, dianggap tak menepati janji dan Swi Cu marah, meneruskan perjalanan sendirian dan akhirnya bertemu Bhok-kongcu itu, yang kebetulan juga hendak mengganggu sucinya. Dan ketika orang she Bhok itu hampir mencelakainya namun Beng Tan keburu datang, menolong dan menyelamatkannya maka Swi Cu tak berani bertengkar lagi ketika kekasihnya hendak mengajak ke kota raja. “Aku menurut, dan kau jangan tinggalkan aku.” “Ah, bukan aku yang meninggalkanmu, Cu-moi. Tapi kadang-kadang kau tak mau mengerti urusan orang lain dan membawa adat sendiri.” “Sudahlah, maafkan aku, koko. Aku sekarang menurut dan patuh padamu!” Beng Tan tersenyum. Tentu saja dia tak akan marah kalau kekasih sudah menyerah begini. Swi Cu sekarang dapat mengerti tugasnya dan mau memahami. Maka begitu Swi Cu terisak dan menyembunyikan muka di dadanya tiba-tiba Beng Tan mengangkat dan menahan dagu itu. Lalu ketika kekasihnya terbelalak dan bertanya mau apa mendadak pemuda ini menundukkan mukanya mencium bibir yang lembut memikat itu. “Aku mau menciummu. Ha-ha, jangan marah dan terimalah!” “Iih!” Swi Cu terkejut, tersentak namun tak mengelak. “Kau nakal, koko. Kau… ah, sudahlah. Aku masih teringat akan nasib suciku!” Dan Beng Tan yang menarik napas melepas bibirnya lalu mengangguk dan tak dapat bersenang-senang dulu, diganggu urusan ini dan diapun mengangguk. Memang, teringat keadaan Wi Hong tiba-tiba dia menjadi tak enak. Mereka bersenang-senang sementara orang lain menderita. Maka ketika dia mengangguk dan mengajak kekasihnya pergi akhirnya Beng Tan berkelebat dan terbang ke kota raja, menggandeng lengan kekasihnya. Namun apa yang terjadi? Kota raja berkabung! Beng Tan, yang pagi itu juga tiba disana ternyata melihat bendera berkibar setengah tiang. Semua wajah di ibu kota muram dan sedih. Wajah semua orang menunjukkan rasa takut yang hebat tapi juga marah. Dan ketika Beng Tan menyelidiki dan bertanya sana-sini ternyata Ci-ongya, adik kaisar, terbunuh. Tewas di tangan Si GolokMaut! “Kau terlalu!” begitu atasan pemuda ini menegur dan langsung marah-marah. “Sudah kubilang agar tidak lamalama meninggalkan istana, Beng Tan. Tapi kau melanggar dan tidak datang-datang. Semalam GolokMaut mengamuk, membunuh-bunuhi tigaratus siwi dan busu pengawal istana dan adikku Ci-ongya tewas! Apa yang hendak kau katakan dan jawab disini? Dan siapa gadis ini?” Swi Cu, yang menggigil dan berlutut didepan orang yang marah-marah ini hampir tak berani mengangkat mukanya. Ternyata atasan kekasihnya itu adalah kaisar sendiri, sri baginda yang menyambut kedatangan mereka dengan muka merah padam. Dan ketika Beng Tan juga berlutut dan menggigil di depan kaisar maka pemuda ini terguncang dan terkejut, sejenak tak dapat berkata-kata. “Maaf, hamba,… hamba salah, sri baginda. Hamba menemui banyak persoalan ditengah jalan dan telah bertempur pula dengan Si Golok Maut itu, bahkan mengadu jiwa!” “Tapi dia kemari. Semua orang tak ada yang sanggup menandinginya dan tiga ratus pengawal tewas, terakhir adikku. Heh, apa yang hendak kau katakan lagi, Beng Tan? Dan siapa gadis disampingmu ini? Kau rupanya bersenangsenang, mabok dan melupakan tugas! Ah, sialan wanita ini dan gara-gara keteledoranmu maka adikku binasa!” Beng Tan pucat. Kalau kaisar sudah marah-marah seperti itu tak ada siapa pun yang berani mengeluarkan suara. Swi Cu sampai gemetar namun kekasihnya memegang lengannya erat-erat. Beng Tan berbisik tak boleh dia tersinggung atau marah disitu. Kaisar adalah kuasa dan dia adalah segala-galanya. Dan ketika geraman maupun kutukan juga mengenai Swi Cu yang tak tahu apa-apa akhirnya sri baginda menggebrak meja. “Nah, katakan laporanmu dan siapa siluman betina ini!” Swi Cu menggigit bibir kuat-kuat. Kalau Beng Tan tidak mencengkeram lengannya sedemikian kuat dan dia mampu melepaskan diri tentu dia sudah berteriak dan memaki kaisar itu. Betapapun dia tak terima. Enak saja disebut siluman betina, seolah dia iblis! Namun karena Beng Tan mencengkeramnya dan pemuda itu berbisik agar dia menelan segala kata-kata kaisar maka Beng Tan berlutut melipat tubuhnya. “Maaf, dia Swi Cu, sri baginda. Wakil ketua Hek-yanpang, calon isteri hamba!” Sri baginda terkejut. “Calon isterimu? Hu-pangcu dari Hek-yan-pang?” “Benar, dan maaf, sri baginda. Kekasih hamba ini tak tahu apa-apa dan justeru ia pun telah diserang dan hampir dibunuh Si GolokMaut!” “Hm, ceritakan pengalamanmu…. ceritakan pengalamanmu….!” Dan sri baginda yang tampak menahan diri dan kelepasan omong lalu sedikit lunak dan minta agar Beng Tan menceritakan perjalanannya, mendengar dan Beng Tan segera bercerita apa yang terjadi. Semua yang dialami bersama Swi Cu diceritakan, kecuali tentu saja pertemuannya dengan Wi Hong, cerita yang rupanya tak perlu didengar orang lain apalagi Wi Hong dalam keadaan hamil, cerita yang hanya akan memancing pertanyaan orang lain belaka dan justeru dapat memalukan diri sendiri. Dan ketika semua itu sudah diceritakan dan sri baginda mengangguk-angguk maka Beng Tan ganti bertanya, “Maaf, sekarang bagaimana dengan paduka sendiri. Kapan Si Golok Maut itu datang dan bagaimana sampai membunuh Ci-ongya?” “Hm, kau tanya Kun-taijin (menteri Kun), Beng Tan. Sekarang aku ingin beristirahat dan biarlah kalian berdua bicara,” kaisar memutar tubuh tampak mengerotkan gigi dan menteri Kun memberi isyarat mata padanya. Sri baginda telah menyuruh menterinya itu bercerita, jadi tak mau bercerita sendiri dan Beng Tan tentu saja tak dapat memaksa. Dalam keadaan biasa tentu sri baginda tak akan bersikap seperti itu kepadanya. Namun karena istana lagi berkabung dan kematian Ci-ongya memang menggegerkan semua orang maka Beng Tan mengangguk pada menteri itu dan duduklah keduanya di ruang sebelah, diikuti Swi Cu. =* d*w *= Semalam, para pengawal dan istana tak merasakan datangnya badai yang tiba-tiba mengamuk itu. Semua pengawal dan isi istana biasa-biasa saja, bahkan rakyat masih bergembira diluar sana, bertandang dan masuk keluar toko untuk membeli keperluan barang-barang seperti biasa, untuk esok harinya. Namun ketika malam tiba-tiba mendung dan bulan serta bintang mulai menyembunyikan diri mendadak suasana riang-ria diluar agak berobah. Orang yang hilir-mudik kembali kerumah masingmasing. Angin malam bertiup dingin dan hujan akan datang. Dan ketika benar saja pada kentongan kesepuluh hujan mengguyur ibu kota maka penduduk mulai membuka selimut untuk menutupi tubuh sendiri. “Ah, dingin. Hujan sialan. Lebih baik kita berjaga di dalam gardu dan main kartu!” pengawal di istana menggerutu. Mereka agak terganggu dengan datangnya hujan itu dan bagi yang bertugas jaga memang agak menjengkelkan. Mereka kedinginan diluar dan terpaksa memakai mantol, melindungi diri. Dan ketika tujuh orang bermain kartu di dalam sementara dua lagi berjaga di sudut kiri dan kanan maka sebuah kereta tiba-tiba berderap memasuki halaman istana. “He, siapa itu? Aneh sekali, malam-malam hujan begini datang bertandang!” dua pengawal mengerutkan kening, diam menyambut dan kereta itu akhirnya berhenti di pintu gerbang. Saisnya turun dan pengawal melihat bahwa itu adalah kereta milik Lie-taijin, menteri Lie. Dan ketika sais bicara sejenak dengan penjaga dan berkata bahwa Lie-taijin ingin bertemu Ci-ongya maka penjaga tak curiga namun minta agar Lie-taijin memperlihatkan diri. “Maaf, aneh bahwa taijin malam-malam datang begini, hujan lagi. Bisakah beliau memberikan surat pengantar atau memperlihatkan diri?” “Taijin sakit, tak enak badan. Menggigil di dalam dan ingin secepatnya bertemu ongya. Kalau surat pengantar ada, inilah.” sais memberikan surat menteri itu, lengkap dengan stempelnya dan penjaga semakin tak curiga lagi. Namun karena dia harus melapor ke dalam dan Ci-ongya harus diberi tahu maka dia menyuruh kereta dimasukkan ke dalam, di samping gedung. “Ongya kebetulan sedang dilayani selirnya. Baiklah kau tunggu disamping gedung itu dan silahkan taijin masuk!” Sais mengangguk. Caping lebarnya yang dipakai di atas kepala tak mencurigakan siapapun karena waktu itu hujan, jadi dipakai untuk melindungi kepala dan kereta pun berderap masuk. Dan ketika penjaga melapor pada komandannya dan serempak tujuh orang yang bermain kartu itu menghentikan permainannya maka komandan melompat tergopoh menyuruh anak buahnya menyimpan kartu-kartu itu, berikut uang yang berceceran di lantai. Judi! “Ah, sialan kau. Kenapa baru bilang sekarang? Cepat simpan semua uang yang berceceran, jangan diketahui Lietaijin!” Kiranya di istana pun ada judi. Para pengawal membuang waktunya bukan hanya sekedar bermain kartu tapi juga iseng dengan mempertaruhkan uang, padahal kaisar baru saja mengeluarkan undang-un-dang agar pengawal tidak berjudi, karena dapat mengganggu tugas. Dan ketika semua berlompatan dan uang yang bercecer-tan cepat disembunyikan di balik tikar maka komandan sudah tergopoh-gopoh menyambut tamu. “Taijin, selamat malam. Biarlah kami laporkan pada ongya dan silahkan paduka menunggu di dalam!” “Taijin sakit, tak dapat menggerakkan tubuhnya. Biarlah dia di dalam sampai ong-ya datang,” si sais berkata, tenangtenang saja dan komandan jaga tertegun. Kenapa begitu? Bukankah kalau sakit harus dibawa ke tabib? Namun ketika sais berkata bahwa justeru Lie-taijin ingin menghubungi tabib Kwee melalui Ci-ongya maka komandan hilang kecurigaannya dan mengangguk-angguk. “Taijin tak berani mengganggu Kwee-yok-ong yang merupakan tabib pribadi sri baginda. Datang dan ingin diantar Ci-ongya agar cepat sembuh.” “Oh, begitukah? Baik, kami akan segera memanggil ongya,” dan komandan yang bergegas sendiri menghadap majikannya lalu menyuruh anak buahnya memberi minuman hangat pada tamu. Kwee-yok-ong (raja obat Kwee) adalah tabib pribadi kaisar, memang tak sembarangan menemuinya kalau tidak diantar orang-orang yang dekat dengan kaisar. Dan karena Ci-ongya adalah adik tiri kaisar dan tentu saja dapat diantar melalui pangeran itu maka Ci-ongya tertegun ketika mendengar laporan datangnya menteri ini, malam-malam begitu, hujan lagi. “Sakit apa? Kenapa tak disuruh menemui aku?” “Maaf, hamba tak tahu sakitnya, ong-ya, tak bertanya. Tapi katanya tak dapat bergerak dan menunggu di dalam kereta.” “Aneh, tadi pagi masih sehat. Bagaimana itu?” “Hamba tak tahu, penyakit memang dapat mengganggu siapa saja, sewaktu-waktu.” “Ya, seperti kau ini. Yang datang dan mengganggu aku yang sedang bersenang-senang dengan selirku… plak!” Ciongya menampar komandan jaga itu, jengkel dan gemas karena dia merasa diganggu. Kalau bukan Lie-taijin yang datang tentu sudah diusirnya tamu itu. Tapi karena Lie taijin adalah sahabatnya dan jelek-jelek adalah pembantu sri baginda kaisar yang cukup pandai maka dia bergegas keluar dan menyuruh selirnya menunggu disitu. “Bawa dia masuk, biar aku melihatnya!” “Maaf, kereta ada di samping gedung, ong-ya, bukan diluar. Paduka sudah ditunggu disebelah kiri gedung!” Ci-ongya mengumpat. Dia tadi bergegas keluar tapi ternyata bukan disana. Kereta sudah berteduh disamping gedung dan benar saja dia melihat kereta itu, milik Lietaijin. Dan ketika dia menuruni tangga dan berseru memanggil Lie-taijin maka sais yang berdiri membungkuk tiba-tiba maju mendekat. “Mana majikanmu? Sakit apa? Suruh keluar, biar aku melihatnya!” Sang sais menggumam aneh. Dia tidak memanggil majikannya melainkan malah menyambar lengan pangeran ini. Dan ketika komandan terkejut karena sikap itu dinilai kurang ajar maka Ci-ongya sendiri terkejut melihat keberanian sekaligus kekurang ajaran sais ini. “Lie-taijin ada di dalam, mari kau lihat!” Ci-ongya tersentak. Dia terlalu tergesa dengan menghampiri kereta, tidak melihat baik-baik sais itu. Tapi ketika si sais ber-engkau dan ber-aku begitu enak kepadanya dan tahu-tahu lengannya disambar maka pangeran ini kaget bukan main melihat wajah di balik caping lebar itu. “GolokMaut…!” Teriakan atau jeritan pangeran ini mengejutkan pengawal. Sang komandan yang sama sekali tidak menyangka atau menduga tiba-tiba bagai disengat lebah. Komandan ini terkesiap dan kaget bukan main. Dan ketika Ci-ongya terlihat meronta dan memekik melepaskan diri tiba-tiba Golok Maut, sais yang menyamar itu tertawa dingin. “Benar, aku, ong-ya. Dan sekarang kau mampuslah.” Jerit melengking memecah kesunyian malam. Ci-ongya mencelos dan menarik lepas dirinya, membalik dan lari memasuki gedung. Tapi baru tiga langkah kakinya bergerak menaiki tangga tiba-tiba sinar putih berkelebat dan komandan terbeliak melihat golok yang menyambar cepat sudah menabas putus leher pangeran itu, dalam waktu hanya sepersekian detik. “Crass!” Kepala Ci-ongya menggelinding. Darah menyemprot bagai pancuran dan tubuh itupun roboh. Ci-ongya hanya sekali memekik dan setelah itupun nyawanya terbang ke neraka. Kejadian berlangsung demikian cepat dan tidak terduga. Dan ketika pengawal berteriak dan sang komandan terjaga tiba-tiba mereka malah melarikan diri dan lintang-pukang. “GolokMaut…. GolokMaut….!” “Ci-ongya terbunuh, GolokMaut datang….!” Keadaan menjadi gempar. Sekilas gebrak yang berlangsung bagai mimpi itu tiba-tiba membuat pengawal ketakutan. Mereka gentar dan pucat setelah melihat bahwa itu adalah Golok Maut, bukan sais Lie-taijin. Dan ketika Golok Maut membalik dan tertawa dingin maka dia berkelebat namun pengawal sudah memukul tanda bahaya. “GolokMaut datang, Ci-ongya terbunuh!” Istana menjadi geger. Pekik dan jerit mereka yang ngeri melihat sepak terjang Si Golok Maut sudah tak dapat dikendalikan lagi. Golok Maut mengerutkan kening melihat pengawal memukul tanda bahaya. Namun ketika dia menggerakkan tangan dan sebuah jarum hitam menancap di dahi pengawal itu maka pengawal yang memukul tanda bahaya ini roboh, tersungkur. “Keparat, kalian mencari penyakit!” Sang komandan pucat dan putih mukanya. Dialah yang bertanggung jawab menerima kedatangan Si Golok Maut. Kereta Lie-taijin yang sama sekali tidak mengundang kecurigaan ternyata justeru dipakai Si GolokMaut itu. Golok Maut dengan mudah dan tenang memasuki gedung Ci-ongya, memang tidak menimbulkan kecurigaan dan caping lebar yang biasa dipakainya itu juga kebetulan dilupakan pengawal. Malam itu hujan, jadi pas sekali kalau seseorang melindungi kepala dengan caping. Dan ketika semuanya sudah terlambat dan Ci-ongya terbunuh, begitu cepat dan tidak terduga maka pengawal berteriak-teriak sementara komandan jaga bingung memikirkan hukuman yang akan diterimanya. “Panggil Siang-mo-ko. Beritahukan lo-cianpwe Yalucang dan lain-lain!” Namun Golok Maut berkelebat. Golok Maut mengenal komandan ini sebagai komandan jaga yang menerimanya, bergerak dan tahu-tahu sudah menangkap laki-laki itu. Dan ketika komandan ini berteriak dan meronta serta ketakutan maka GolokMaut bertanya dimanaCoa-ongya, “Aku sudah mencari digedungnya, tapi tidak ketemu. Beritahukan atau kau mampus!” “Tidak… tidak…!” sang komandan ber-kaok. “Aku tak tahu, GolokMaut. Aku bukan pengawalnya!” “Tapi kau pengawal istana, pasti tahu. Bertahukan atau kau kubunuh!” “Oh, tidak. Aku tak tahu!” namun ketika pengawal ini menjerit dan berteriak mengaduh maka Golok Maut menjepit batang lehernya dan menginjak dadanya. “Kalau begitu kaupun mampus.. ngek!” komandan itu menggeliat lemah, tidak bersuara lagi karena dari tenggoroKannya keluar cairan kental berwarna merah. Golok Maut telah menghancurkan batang tenggorokannya tadi dengan jepitan di leher, patah dan terkulailah komandan jaga itu. Dan ketika anak buahnya kalang-kabut dan tentu saja berteriak-teriak maka bayangan-bayangan hitam berkelebatan memasuki halaman, bayangan dari para si-wi atau busu, yang berjaga disebelah. “Apa yang terjadi. Dimana GolokMaut!” “Itu, disana. Dia… dia telah membunuh Ci-ongja!” Para siwi dan busu berkelebatan ke arah yang ditunjuk. Mereka melihat bayangan tinggi tegap dengan caping lebar, ciri khas yang dipunyai si Golok Maut. Tapi ketika mereka bergerak dan membentak kesini ternyata Golok Maut Sudan menghilang dan naik ke atas genteng. “Kejar, dia ke gedungCoa-ongya…!” Memang betul. Golok Maut ke barat dan gedung Coaongya yang dituju. Tadi dia sudah kesana tapi tak ketemu, membuat ribut-ribut ditempat Ci-ongya dulu dan kini semua pengawal berhamburan. Dan ketika mereka melihat Ci-ongya putus kepalanya mandi darah maka semua merinding melihat darah yang membanjir dari luka itu bergelimang membasahi tanah. tangga, bercampur air hujan. “Dia membunuh Ci-ongya, kejar. Tangkap iblis berdarah dingin itu!” Golok Maut tak menghiraukan. Sinar putih dan goloknya sudah tak nampak lagi, lenyap dibelakang punggung. Tadi dia sudah membunuh lawan yang dibencinya dan seorang penjaga melihat tokoh bercaping ini menghirup darah di badan golok, menjilat dan memasukkannya lagi dibelakang punggung setelah berkemak-kemik, Dan ketika penjaga atau pengawal itu tertegun membelalakkan mata maka seluruh penjuru istana sudah dipenuhi ratusan si-wi atau busu yang mendengar tanda bahaya. “GolokMaut datang, dia membunuh Ci-ongya!” Suasana gempar. Istana yang semula tenang tiba-tiba dibuat hiruk-pikuk oleh kegaduhan ini.Mereka sungguh tak menduga bahwa Golok Maut berani datang lagi, bahkan telah membunuh Ci-ongya. Dan ketika semua mengkirik melihat jenasah Ci-ongya yang tidak berkepala lagi maka wuwungan menjadi penuh orang ketika bayangan Golok maut dituding-tuding. “Dia di atap, di atas. Kejar…!” Namun hanya orang-orang tertentu yang berani mengejar. Mereka adalah pemimpin-pemimpin para siwi dan busu itu, tiga-puluh jumlahnya. Dan ketika bayangan Golok Maut tampak meluncur ke gedung Coa-ongya maka mereka membentak, sebagian melepas panah dan tombak. “GolokMaut, berhenti.Menyerahlah!” “Benar. dan serahkan dirimu baik-baik, Golok Maut. Atau kau mampus sia-sia…. wut-singg.” Panah dan tombak menyambar belakang punggung, cepat dan luar biasa namun Golok Maut mendengus. Dan ketika dia menampar dan semua senjata itu ditangkis tanpa menoleh maka tombak atau panah runtuh ke tanah dan patah-patah. -ooo0dw0ooo- Jilid : XXII “PLAK-PLAK-PLAK!” Semua perwira terbelalak. Mereka memang mengetahui kelihaian Si Golok Maut ini, tokoh yang mendirikan bulu roma. Namun karena mereka berjumlah banyak dan patahnya tombak atau panah itu justeru membuat mereka marah maka mereka menerjang dan membentak maju. “Kepung dia. Tangkap!” Tigapuluh perwira menyerang berbareng. Mereka sudah menyiapkan senjata dan masing-masing mengeluarkan bentakan penambah semangat.Menghadapi tokoh seperti Si Golok Maut itu harus mengerahkan keberanian kalau tak ingin jatuh lebih dulu. Tapi ketika pedang dan golok berhamburan menyerang tokoh bercaping ini tiba-tiba Golok Maut lenyap dan entah bagaimana tiba-tiba mereka mendapat tendangan dan tamparan. “Yang bukan she Coa atau Ci tak usah main-main disini. Pergilah… des-des-cringg!” senjata sesama teman bertemu sendiri, nyaring memekakkan telinga dan pemiliknya sudah mencelat beterbangan. Mereka jatuh ke bawah dan menggelinding dari atas genteng yang tinggi. Dan ketika semua memekik dan berdebuk di bawah maka GolokMaut tiba-tiba sudah tampak di sebelah timur. “Hei, kejar. Dia disana!” Namun Golok Maut mengeluarkan tawa dari hidung. Para siwi dan busu yang tiba-tiba melepas panah berdesingdesing tiba-tiba dikebut runtuh. Semua anak panah itu runtuh dan Golok Maut menghilang di puncak gedung. Dan ketika semua kelabakan dan berteriak-teriak mengejar maka para perwira yang sudah melompat bangun mengerahkan anak buahnya masing-masing untuk mengepung rapat tempat itu. “Pagar betis! Semua harap memagar betis…!” Hal itupun sudah dilakukan. Ratusan siwi dan busu yang sudah berkumpul dan cepat mengelilingi seluruh gedung sudah tak dapat disibak lagi. Perwira mereka berteriakteriak dan melayang kembali ke atas gedung. Dan ketika mereka melakukan pencarian sambil berkelompok dan memaki tak keruan maka lima bayangan berkelebat dari lima penjuru. “Dimana jahanam itu? Mana Si GolokMaut?” “Ah,” para perwira girang. “Golok Maut tadi disana, locianpwe. Di gedung sebelah timur!” “Benar, tapi sudah menghilang di puncak wuwungan itu!” dan ketika yang lain saling bersahutan dan memberi tahu maka lima bayangan ini, yang bukan lain Mindra dan empat temannya tiba-tiba berkelebat dan memencar. “Kalian mengepung puncak wuwungan itu. Kita kesana… wut-wut!” Mindra dan Sudra sudah lenyap mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, tiga yang lain bergerak dan menganggukkan kepala dan berturut-turut seperti iblis saja kakek-kakek ini menghilang bagai iblis. Namun ketika mereka tiba disana dan tak melihat bayangan Golok Maut maka semuanya tertegun dan Pek-mo-ko menggeram dan celingukan. “Tak ada. Pasti ke bawah!” Yalucang, kakek tinggi besar mengangguk. Kakek ini mengeluarkan geraman mirip singa dan tiba-tiba berkelebat ke bawah, meluncur ke dalam gedung. Dan ketika Sudra juga mengangguk dan meluncur turun maka Hek-mo-ko yang gentar berada sendirian memandang kakaknya. “Kita cari dia?” “Ya, dan balas sakit hati ini, sute. Ayo turun dan cari dia!” Pek-mo-ko menepuk pundak adiknya. Dia tahu rasa jerih yang menghuni jiwa adiknya ini. Hek-mo-ko telah kehilangan lima jari kanan ketika dulu dipapas Golok Maut, golok mengerikan itu. Dan ketika mereka berkelebat dan menghilang ke bawah maka Yalucang tiba-tiba melihat bayangan tokoh bercaping itu, berkelebat memasuki lorong di bawah air hujan yang kini tiba-tiba seolah dicurahkan dari langit. “GolokMaut, berhenti kau. Jahanam!” Kakek tinggi besar lni mencabut roda-gergajinya. Dia sudah melempar itu dan senjata mengerikan ini berdesing menyambar punggung Si Golok Maut. Tapi ketika Golok Maut menoleh dan menangkis, tersenyum mengejek tibatiba roda-gergaji itu terpental dan menyambar tuannya kembali. “Plak!” Golok Maut melesat menghilang lagi. Yalucang si kakek tinggi besar harus mengerahkan tenaga ketika rodagergajinya itu menyambar cepat, menuju dadanya dan terdengarlah suara keras ketika senjata itu mengenai atau menghantam dada kakek tinggi besar ini. Tapi karena tokoh Tibet itu sudah mengerahkan sinkang dan roda-gergajinya berdetak maka kakek itu terhuyung tapi sudah mengejar lagi. “Dia disini…!” kakek itu agak berobah. “Hei, dia disini, Mo-ko. Tangkap dan kepung dia!” Namun Golok Maut sudah menghilang lagi. Bagai siluman atau iblis saja tokoh bercaping itu berkelebat entah kemana. Bayangan Mo-ko dan Sudra yang berturut-turut datang sia-sia saja, mereka tak menemukan dan kakek tinggi besar itu melotot. Panggilannya tadi berkesan gentar dan buru-buru minta tolong, hal yang menggelikan namun siapapun tahu kelihaian Si Golok Maut itu, tak ada yang tertawa. Dan ketika Mindra mendengus dan tak melihat bayangan lawan maka kakek itu mengajak saudaranya berpencar. “Kau kesana, aku kesini!” Sudra mengangguk. Dia sudah mencabut cambuknya dan dengan marah menjeletarkan senjatanya itu, meledak dan hancurlah genteng di atas yang berderak roboh. Dan ketika yang lain bergerak dan Mo-ko selalu berdua maka dilorong sebelah kanan terdengar jeritan ngeri. “Aduh..!” Semuanya dahulu-mendahului. Jeritan panjang disusul berdebuknya tubuh yang roboh ke tanah membuat lima kakek itu mendelik. Mereka melihat enam pengawal terbabat tewas, leher mereka digorok dan putus tanpa kepala. Mengerikan! Dan ketika lima kakek itu terbelalak dan marah maka Sudah meledakkan cambuknya berseru nyaring, “Golok Maut, jangan sembunyi-sembunyi. Hayo hadapi kami dan jangan bersikap pengecut!” Namun jeritan dan pekik ngeri terdengar disebelah kiri. Seolah menyambut jawaban kakek itu tiba-tiba belasan tubuh berdebuk seperti pisang. Mereka berkelebat dan melihat belasan pengawal roboh tanpa kepala, lagi-lagi digorok putus! Dan ketika Sudra maupun lainnya membelalakkan mata dengan ngeri dan marah maka di empat penjuru sudah terdengar jeritanjeritan lain. GolokMaut berpincah-pindah dengan cepat dan mencari Coa-ongya, mulai mengamuk dan membunuh-bunuhi pengawal dengan kejam. Dia menangkap dan menanya pengawal tapi selalu dijawab tak tahu, kemarahannya bangkit dan dibinasakanlah pengawal-pengawal itu, tanpa ampun. Dan ketika istana menjadi geger dan bayangan GolokMaut benar-benar merupakan hantu pencabut nyawa maka tubuh-tubuh bergelimpangan di bawan hujan yang semakin deras. “Kepung dia, tangkap!” “Kejar!” Namun semua ini seolah terompet penyambung lidah beleka. yang berteriak dan berseru itu rata-rata tak ada yang berani mendekat. Bayangan Golok Maut yang mulai berkelebatan disekitar gedung istana menyambar-nyambar bagai siluman haus darah. Sudra dan teman-temannva mengejar namun Si Golok Maut berpindah-pindah, cepat dan luar biasa hingga kakek itu memaki-maki. Mereka dibuat malu dan penasaran karena sampai sedemikian jauh mereka belum berhasil menangkap Si GolokMaut itu. Jangankan menangkap, berhadapan dan bertanding saja belum Golok Maut seolah menghindar atau mungkin mempermainkan mereka! Dan ketika tubuh pengawal bergelimpangan dan darah membanjir di istana maka Yalucang mengeluarkan bentakan dahsyat ketika satu saat bayangan Golok Maut dilihatnya melayang turun dari wuwungan yang tinggi. “Blarr!” Kakek itu menyemburkan apinya. ilmu Hwee-kang (Tenaga Api) dilepas dan dikeluarkan kakek ini, mulutnya meniup dan bentakannya tadi sudah menyertai api yang berkobar. Tapi ketika Golok Maut menangkis dari tangan kirinya bergerak tiba-tiba kakek ini terpental dan jatuh di sudut. “Keparat, jahanam keparat!” Yalucang kakek si tinggi besar merah padam. “Kau hebat Golok Maut. Tapi jangan lari dan hadapi aku lagi. Hayo. . .! dan si kakek yang bangun menerjang lagi, tiba-tiba melihat lawannya berkelebat menjauhkan diri, memang tidak mau melayani Kakek ini. Karena begitu dilayani maka Sudra dan lain-lain pasti datang membantu. Dia bakal dikeroyok dan itu berbahaya. Golok Maut memang sengaja berpindah-pindah dan mencari Coa-ongya sambil membunuh siapa saja yang menghadang di depan. Tapi karena Yalucang adalah kakek lihai dan tentu saja tidak segampang itu membunuh kakek ini seperti halnya membunuh para pengawal atau busu maka Golok Maut meninggalkan lawan dan kakek ini mencak-mencak, tak tahu kemana Golok Maut pergi namun tempat itu sudah dikepung ribuan orang. Pasukan istana sudah bergerak dan jenderal serta panglima ikut membantu. Kegegeran yang terjadi di istana sungguh mengejutkan siapa saja dan hujan yang deras itu seakan menambah suasana jadi semakin menyeramkan saja. Dan ketika duaribu orang sudah memagari tempat itu dan istana benar-benar terkepung maka Golok Maut akhirnya mulai tersudut. Tokoh ini, seperti yang diketahui dari sepak terjangnya yang sudah-sudah adalah tokoh yang keras hati dan tak gampang menyerah. Golok Maut memang laki-laki gagah yang amat luar biasa. Maka ketika ruang geraknya mulai dipersempit dan para perwira serta jenderal mulai bergerak secara rapat akhirnya sikap lari seperti kucing yang selalu berpindah-pindah itu tak dapat diterapkan Si Golok Maut ini. Disitu ada orang-orang lihai sepertiMindra dan kawankawannya, Pek-mo-ko dan Hek-mo-ko yang bukan tergolong orang-orang biasa itu. Maka ketika teriakan dan kepungan semakin rapat akhirnya pertemuan dengan lima pelindungCoa-ongya ini tak dapat dihindarkan lagi. Golok Maut mula-mula bertemu Mindra. Kakek lihai dari India yang sudah memegang nenggalanya ini menggeram marah. Mindra merasa dipermainkan lawan karena sama seperti Yalucang tadi dia-pun ditinggal pergi setelah bertemu sebentar, terhuyung dan memaki ketika pukulannya ditangkis. Maka ketika mereka bertemu lagi dan GolokMaut tak dapat menghindar maka satu bentakan dan tusukan nenggala mendahului kemarahan kakek itu. “Mampus kau!” Golok Maut mengelak. Sekarang dia mengerutkan kening karena di mana-mana terdapat musuh. Dua ribu orang sudah mengepung dan baru kali itu istana dibuat guncang. Untuk menghadapi seorang saja mereka telah mengerahkan dua ribu orang, bukan main. Hal yang sebenarnya membuat malu! Maka ketika Golok Maut mulai berhadapan dengan kakek India itu dan para pengawal serta perwira bersorak maju maka Golok Maut berkilat matanya sedikit gugup. “Duk!” nenggala kembali menyambar, ditangkis dan kakek itu terhuyung. Dan ketika Mindra bergerak dan menyerang lagi tiba-tiba Mo-ko kakak beradik muncul berkelebat. “Bagus, bantu aku,Mo-ko. Tangkap dan bunuh jahanam ini!” Mo-ko mengangguk. Mereka, seperti yang lain-lain tadi juga dipermainkan Si Golok Maut ini. Tadi mereka juga bertemu tapi segera ditinggal pergi, setelah dibuat terhuyung dan terjengkang. Hek-mo-ko malah terpelanting tergulingguling ketika GolokMaut menggerakkan senjatanya, Golok Penghisap Darah itu. Dan ketika mereka mengejar namun tentu saja berhatihati, maklum bahwa lawan bukanlah lawan sembarangan maka mereka melihat Mindra yang sudah berhadapan dengan Si Golok Maut itu, berkelebat dan datang menyerang dan duaribu pasukan bersorak. Banjir darah sudah terjadi namun mereka bangkit semangatnya, karena disitu banyak teman. Dan ketika Golok Maut harus berkelebatan karena Mo-ko kakak beradik juga sudah menyerangnya dengan tongkat di tangan maka pemuda ini menggerakkan goloknya yang menyilaukan mata itu. “Crak-dess!” Mo-ko sang adik berteriak. Ujung tongkatnya terbabat dan putus sejengkal, kaget melempar tubuh dan kakaknya berseru agar tidak menyambut golok di tangan lawan, hal yang sebenarnya sudah dilakukan iblis hitam itu namun Golok Maut mengejar dan menggerakkan goloknya dengan amat lihai. Dan ketika apa boleh buat tongkat harus bertemu golok maka seperti yang sudah diduga senjata di tangan iblis bermuka hitam ini putus, sementara tuannya sendiri melempar tubuh bergulingan. “Jangan sambut goloknya, hindari jauh-jauh…!” Mo-ko mendesis. Dia bangkit lagi dan was-was memandang lawan. Golok Maut tertawa mengejek dan sudah berkelebatan diantara mereka, cepat memutar goloknya dan mereka bertiga tak ada yang berani mendekat. Ngeri! Mindra sendiri terpaksa menarik nenggalanya kalau golok maut menyambar, tak berani dan akibatnya desakan atau tekanan mereka berkurang. Dan ketika mereka hanya menjaga diri dan GolokMaut mulai melihat para pengawal yang berdatangan maka tokoh ini berkelebat dan membentak berjungkir balik, mundur kebelakang. Namun celaka, perwira dan panglima yang ada disitu memberi abaaba. Mereka melepas panah dan ribuan panah berbahaya menjepret ke satu arah. Golok Maut terancam dan dipaksa menangkis runtuh. Dan ketika dia berhenti sejenak dan tentu saja memberi kesempatan pada orang-orang seperti Mo-ko dan Mindra untuk menyerang dari belakang maka nenggala bergerak sementara tongkat juga menghantam, semuanya lewat belakang. “Duk-dess!” Golok Maut terhuyung. Nenggala mengenai punggungnya tapi terpental, begitu juga tongkat Mo-ko kakak beradik. Mereka bertemu kekebalan yang dipasang tokoh bercaping ini, yang melindungi dirinya dengan sinkang. Dan ketika mereka terbelalak tapi perwira dan panglima berteriak menyerang lagi maka Sudra berkelebat muncul disusul kakek tinggi besar Yalucang. “Kepung dia! Jaga rapat-rapat…!” Golok Maut tak dapat melarikan diri. Sekarang dua ribu pasang kaki sudah memagar betis, kemanapun dia lari kesitu pula senjata menyambar, tentu saja bukan dari dekat melainkan dari jauh, panah dan tombak yang dilepas sambil bersorak-sorai. Dan ketika Golok Maut terkepung dan apa boleh buat menghadapi semua lawannya maka lima kakek di depan membentak dan menerjang maju, mengeroyok. “Golok Maut, serahkan dirimu. Atau kau mati kami cincang!” “Benar, dan mintalah ampun, Golok Maut. Cepat sebelum kami semua kehabisan sabar!” Golok Maut tak menjawab. Hujan senjata dari lima orang lawannya itu masih ditambah dengan hujan anak panah dan tombak dari mana-mana. Dari delapan lenjuru para pengawal dan perwira berterak-teriak. Hujan tak mereka hiraukan lagi dan terkepunglah Si Golok Maut itu. Tapi ketika laki-laki ini memutar senjatanya dan golok berkeredepan menyilaukan mata maka Mindra berteriak agar tidak menyambut cahaya putih yang menggiriskan itu. “Awas…!” Namun terlambat. Cambuk baja di tangan temannya terbabat putus, kakek Ya-lucang juga mencelat rodagergajinya bertemu sinar golok itu, yang sudah berkelebat dan menyambar luar biasa cepat. Dan ketika mereka melempar tubuh bergulingan sementara Golok Maut membentak dan melengking tinggi tiba-tiba barisan pengawal yang ada di depan diterjang roboh. “Minggir!” Pengawal berteriak ketakutan. Mereka melepas panahpanah berbahaya namun semua disapu runtuh, rontok oleh kilauan golok yang membungkus Si Golok Maut itu. Dan ketika mereka berteriak dan coba mengelak namun gagal maka sebelas diantaranya roboh tanpa kepala. “Crat-crat-crat!” Mengerikan sekali. Dua ribu pengawal tersentak melihat kejadian itu. Sebelas kepala menggelinding dan pisah dari tubuhnya, begitu cepat dan luar biasa. Dan ketika mereka terkejut sementara disana Mindra dan kawan-kawannya masih bergulingan melempar tubuh maka Golok Maut bergerak dan berjungkir balik menerjang berikutnya. “Ah!” “Awas…!” Semua tiba-tiba menyibak. Golok Maut berjungkir balik turun dikerumunan orang-orang ini, yang semua tiba-tiba membalik dan berhamburan melompat mundur. Dan ketika tempat itu kosong dan GolokMaut mendengus maka tokoh ini sudah berloncatan dan mengerahkan ginkangnya untuk terbang dari satu kepala ke kepala yang lain. “Hei, jangan buka kepungan. Tutup rapat-rapat!” Mindra, yang terkejut melihat semua pengawal tiba-tiba mundur mendadak membentak marah. Kakek ini paling dulu melompat bangun dan menggeram menggerakkan nenggalanya lagi. Dan ketika dia berkelebat dan empat temannya yang lain juga bergerak dan marah membentak Si Golok Maut maka kakek ini melepas pukulan berbahayanya, Hwi-seng-ciang. “Dess!” Golok Maut bergoyang. Hwi-seng-ciang membokongnya dibelakang dan saat itu pukulan-pukulan lain juga datang menyambar-nyambar. Mo-ko kakak beradik melepas Pek-see-kang mereka, disusul gerengan kakek tinggi besar Yalucang yang melepas Hwee-kang (Pukulan Api). Dan ketika semuanya hampir bersamaan mendarat di tubuh tokoh bercaping ini dan Golok Maut tak sempat menangkis karena maju ke depan maka semua pukulan itu menghantam keras dan amat hebatnya. “Des-dess!” Golok Maut terhuyung. Dia membalik dan secepat kilat tangan kirinya tiba-tiba membalas. Satu sinar kuning menyambar lima orang itu dan Mindra terkejut, mengelak dan berteriak pada teman-temannya agar cepat menghindar. Itulah Kim-kong-ciang atau Pukulan Sinar Emas, hebatnya bukan main karena dari jarak setombak saja pakaian dan baju mereka sudah berkibar. Pengawal menjerit berpelantingan karena tahu-tahu tubuh mereka terangkat, terdorong dan terlempat oleh angin pukulan itu, padahal baru angin pukulannya saja, keserempet! Dan ketika mereka terbanting bergulingan dan mengaduh menjerit-jerit maka disana Yalucang terlempar sementara Mo-ko terpental karena kalah cepat berkelit. “Bres-bress!” Dua orang itu mengeluh. Golok Maut membalas dan sekali balasannya cukup membuat mereka gentar. Tapi ketika tokoh itu hendak melepas pukulannya lagi dan menerjang lawan tiba-tiba empatpuluh perwira menjepretkan anak panah mereka berbareng. “Jret!” Gendewa yang dipentang mengeluarkan suara bergetar. Empatpuluh anak panah menyambar dari delapan perjuru dan bercuitanlah panah-panah yang besar itu. Mereka adalah perwira-perwira pilihan yang mahir memainkan senjata jarak jauh itu. Tapi ketika semua mengenai tubuh Si Golok Maut dan runtuh ke tanah, bertemu kekebalan mengagumkan maka GolokMaut menggeram dan tiba-tiba berkelebat ke arah mereka. “Kalian manusia-manusia jahanam!” Empatpuluh perwira itu terkejut. Mereka berteriak dan melepas anak-anak panah lagi, kini bukan sebatang melainkan dua batang. Jadi delapanpuluh batang panah menyambar Si Golok Maut itu. Tapi ketika Golok Maut memutar senjatanya dan sinar putih yang menyilaukan itu melindungi dirinya tiba-tiba delapanpuluh anak panah rontok sementara cahaya atau sinar putih itu masih menyambar ke depan, cepat dan ganas, luar biasa. “Augh… crat-crat-crat!” Duapuluh tiga kepala tiba-tiba putus. Golok Maut membabatnya dalam sekali ayunan panjang, begitu cepat dan tak dapat diikuti mata dan tahu-tahu duapuluh tiga kepala menggelinding. Semuanya sudah pisah dari tubuh! Dan ketika tujuhbelas yang lain terbelalak pucat dan nyawa seakan terbang dari tubuh maka mereka melempar tubuh menyelamatkan diri. “Duk-duk-bress!” Tujuhbelas perwira ini saling tumbuk. Mereka menjerit dan berteriak sendiri tapi untunglah saat itu Mindra dan empat temannya datang lagi menolong. Lima kakek ini ngeri tapi juga marah melihat sepak terjang Si Golok Maut. Pemuda bercaping ini sungguh ganas dan kejam, benarbenar bertangan besi! Dan ketika mereka maju lagi dan panglima-panglima yang ada dibelakang membentak pasukannya agar melepas panah-panah atau tom-hoi, maka Golok Maut sudah dikeroyok, “Jangan biarkan dia lolos. Pagar betis! Semua mengepung rapat-rapat!” Keadaan benar-benar menggemparkan. Keganasan dan kekejaman Golok Maut ini yang tak kenal ampun sungguh mendirikan bulu roma. Kini laki-laki itu berkelebatan tapi ditahan lima tokoh lihai itu. Mindra berusaha keras untuk mencegah Golok Maut melarikan diri, karena laki-laki Itu tampak bermaksud meninggalkan pertempuran dan melarikan diri, hal yang memang akan dilakukan Si Golok Maut itu. Dan ketika Mindra berseru pada empat temannya agar mengurung GolokMaut rapat-rapat maka GolokMaut tak dapat keluar karena mereka ganti-berganti menyerangnya. Ditangkis yang satu menyerang yang lain, dihadapi yang lain maju lagi yang lainnya lagi, begitu terus-menerus, tak ada yang berani berhadapan langsung karena mereka menghindari keras pertemuan senjata itu. Kutungnya cambuk dan terbabatnya tongkat sudah lebih dari cukup untuk memberi tahu mereka perihal kehebatan golok di tangan Si Golok Maut itu. Dan karena serangan mereka bersifat mengganggu dan Golok Maut tentu saja marah maka pukulan-pukulan Hwee-kang maupun Pek-see-kang atau Hwi-seng-ciang menyambar dari kelima orang itu. “Keparat, kalian pengecut, Mindra. Tak tahu malu. Curang!” “Hm, tak ada yang curang. Kau telengas dan kejam, GolokMaut. Kau berdarah dingin!” “Kalian yang membuat aku begini. Kalian, ah… kubunuh kalian, siut-plak-dess!” dan Golok Maut yang membalik menerima pukulan dari belakang tiba-tiba berseru keras membabat panah-panah yang berhamburan, menggerakkan tangan kirinya dan lepaslah pukulan Kim-kong-ciang menyambut pukulan Hwi-seng-ciang. Sudra menghantamnya dari belakang dan kakek itu terpental, berteriak kaget. Dan ketika yang lain maju menubruk namun GolokMaut memutar goloknya maka tak dapat dihindari lagi kali ini kelima senjata lawan bertemu sinar goloknya itu. “Awas… cring-crak-plak!” dan cambuk serta tongkat yang terbabat kutung tiba-tiba disusul lengkingan panjang lima kakek itu. GolokMaut melakukan gerak luar biasa yang disebut Lehi- ta-teng (Ikan Le Meloncat), merundukkan tubuhnya dan dari bawah ia menyapu semua senjata lawannya itu. Tangan kiri baru saja bergerak melepas Kim-kong-ciang dan sisa angin pukulan itu masih tetap menyambar, hebat bukan main. Dan ketika kelima kakek itu terkejut dan mereka cepat melempar tubuh bergulingan maka hujan panah yang kembali menyambar diterima dan disambut kelebatan golok yang meruntuhkan atau merontokkan senjata jarak jauh itu. Lalu begitu lawan terbelalak dan terperangah melihat kehebatan Si Golok Maut ini tiba-tiba Golok Maut berjungkir balik dan terbang menyambar ke pasukan sebelah kiri yang bersenjata tombak. “Minggir..!” Gegerlah pasukan tombak. Mereka tiba-tiba menyibak dan semuanya berteriak mundur, memutar tubuh. Tapi ketika Golok Maut melayang turun dan senjatanya melindungi tubuh dengan rapat sekonyong-konyong terdengar bentakan atau seruan, “Lepaskan jaring!” Dan benda-benda lebar hitam tiba-tiba menakup kepala Si GolokMaut dari segala penjuru. Si Golok Maut terkejut karena waktu itu dia baru saja berjungkir balik, turun ke tanah ketempat pasukan tombak ini. Maka begitu puluhan jaring tiba-tiba melayang ke bawah dan menakup kepalanya tiba-tiba Golok Maut dibuat tersentak dan tentu saja senjata ditangannya itu bergerak membabat. “Bret-bret!” Tujuh jaring robek. GolokMaut dapat keluar tapi jaringjaring yang lain kembali berhamburan, susul-menyusul dan tentu saja laki-laki bercaping itu terkejut. Dan ketika dia marah dan membentak menggerakkan goloknya lagi tibatiba Mindra dan keempat kawannya itu telah berkelebat dan tertawa dengan jaring menyambar pula, di tangan kiri! “Ha-ha, betul, Golok Maut. Sekarang kami dapat meringkusmu!” Si Golok Maut kaget. Di atas kepalanya menyambar tak kurang dari tigapuluh jaring, robek yang satu muncul lagi yang lain. Semuanya bertubi-tubi dan dilepaskan dari jarak jauh. Dan ketika dia dibuat sibuk dengan membabat jaringjaring ini sementara Mindra dan kawan-kawan mendadak juga memegang jaring dan menyerang dirinya dengan cara yang licik maka Golok Maut tersentak ketika jaring yang dilepas kakek India itu menakup kepalanya. “Rrt!” Golok Maut terjebak. Mindra tertawa bergelak dan GolokMaut tak dapat melepaskan diri. Saat itu empat temannya juga melempar jaring dan kaki serta tangan tokoh bercaping itu terjirat. Kejadian berlangsung demikian cepat dan semuanya itu dapat terjadi karena disamping kelima kakek ini masih menyambar puluhan jaring-jaring lain, jadi waktu itu Golok Maut dibuat sibuk dengan jaring-jaring diluar kelima kakek ini. Maka begitu kepalanya tertutup dan lemparan jaring kakek India itu jelas berbeda dengan lemparan jaring para pengawal yang bertenaga biasa maka Golok Maut terjebak dan tiba-tiba tak dapat menggerakkan tubuhnya! “Ha-ha, lepaskan golokmu. Atau kau mati!” Pengawal dan panglima bersorak.Mereka melihat Golok Maut terjebak seperti seekor harimau yang tak berdaya lagi. Laki-laki itu terjirat dan seluruh tubuhnya terikat. Mereka tiba-tiba berhamburan dan maju dengan senjata di tangan, menusuk dan membacok karena saat itu, Mindra dan lainlain sedang berkutat mempertahankan jaring, bersitegang dan menarik agar Golok Maut itu tak dapat melepaskan diri. Tapi ketika senjata golok atau tombak mengenai tubuh laki-laki ini ternyata semuanya patah-patah dan Golok Maut masih dapat menendang! “Plak-des-augh!” Tombak dan golok patah-patah tak keruan. Mindra berteriak agar para pengawal itu mundur, karena hal itu tak dikehendakinya. Dia ingin menangkap hidup-hidup tokoh bercaping ini untuk diserahkan kepada Coa-ongya, karena tentu Coa-ongya lebih menghendaki Si Golok Maut itu ditangkap hidup-hidup daripada sudah menjadi mayat. Namun karena para perwira dan pengawal sudah terlanjut bersorak-sorai dan mereka itu membacok atau menusuk Golok Maut tapi gagal maka mereka yang terkena tendangan tiba-tiba menjerit dan celaka sekali berjatuhan menimpa Mindra dan empat kawannya. “Keparat…. bres-bress.” Kakek itu mengumpat-umpat. Baik dia maupun yang lain otomatis terganggu kejadian ini, tegangan mengendor dan jaring pun melonggar. Dan karena itu cukup bagi Si Golok Maut untuk membebaskan diri maka sekali membentak tiba-tiba tokoh ini sudah meronta dan bebas, benar-benar dapat keluar lagi. Dan begitu Golok Maut menggeram dan berkelebatan kesana-sini maka puluhan pengeroyok yang tadi membacok atau menusuk tubuhnya menjadi korban! “Crat-crat!” Jerit ngeri dan teriakan panjang ini menggema di empat penjuru. Golok Maut telah bersikap beringas dan kemarahannya tadi tak dapat ditahan lagi. Dia hampir celaka oleh jaring kelima kakek iblis itu namun untung para pengawal yang bodoh-bodoh ini menolongnya. Mereka tanpa sadar mengganggu kelima kakek itu dan ini berarti kebebasan baginya. Maka begitu keluar dan golok bergerak naik turun maka empatpuluh tubuh sudah bergelimpangan tak bernyawa. “Minggir… minggir. Kalian bodoh!” kakek India berteriak-teriak, marah dan mengumpat-caci dan Pek-mo-ko maupun yang lain-lain juga membentak dan memaki-maki kebodohan para pengawal tadi. Mereka melepaskan buruan dan kini Golok Maut mengamuk, memaksa mereka mundur dan Mindra sendiri maupun empat temannya terpaksa bergulingan menjauhkan diri. Maklumlah, kemarahan Golok Maut tak dapat dibendung lagi dan lakilaki itu berusaha mendekati mereka, dengan golok yang berlumuran darah tapi cepat kering lagi karena dihisap oleh kekuatan aneh di tubuh golok itu, kekuatan iblis, daya gaib! Dan karena Golok Maut benar-benar marah dan pasukan cerai-berai tiba-tiba Golok Maut melepas tiga benda bulat ke arah Mindra dan kawan-kawan yang sedang bergulingan. “Dar-dar!” Granat tangan meledak. Kiranya Golok Maut menggunakan senjata penyelamatnya itu, senjata terakhir. Dia melepas lagi beberapa granat tangan ke arah pengawal yang tentu saja tiba-tiba berhamburan dan menjerit-jerit. Mereka yang terkena segera terlempar roboh, luka parah. Mindra terkejut dan bergulingan semakin menjauhkan diri saja. Keempat temannya juga begitu dan asap tebal tiba-tiba menghalangi pandangan. Dan ketika beberapa granat lagi meledak dan duaribu orang itu cerai-berai maka Golok Maut lenyap dan entah menghilang kemana. “Kejar! Tangkap Si GolokMaut itu. Jangan sampai lari!” Namun siapa yang mengejar? Dilempari granat itu saja mereka sudah panik, belum lagi oleh keganasan Si Golok Maut yang amat nggegirisi. Maka begitu semuanya berusaha menyelamatkan diri sendiri-sendiri dan Mindra hanya berteriak mengumpat caci maka ketika asap tebal menghilang Si Golok Maut itu juga tak tampak bayangannya lagi. Tigaratus orang tewas dengan tubuh malang-melintang. Seratus diantaranya putus tanpa kepala, darah membanjir dan menyatu dengan air hujan yang membasahi tanah. Dan ketika yang lain tertegun dan ngeri maka bayangan Coaongya muncul di balkon gedungnya. “Bodoh! Gentong-gentong kosong semua! Heh, mana itu Si Golok Maut, Lui-ciangkun? Mana binatang jahanam keparat itu? Dan kau..!” pangeran ini menuding Pek-mo-ko dan lain-lainnya itu. “Bagaimana Si Golok Maut sampai lolos, Mo-ko? Kenapa kalian membiarkannya lari dan tidak mengejar? Keparat, kalian hanya pandai memakan uang. Tak becus menangkap satu orang saja dan layaknya anakanak kecil yang goblok dan tolol!” Dan ketika semua orang tertegun dan tentu saja tak berani bercuit, Coa-ongya marah-marah dan menudingnuding mereka semua maka hujan di malam yang mengerikan itu reda. Coa-ongya marah bukan main di atas balkon dan mencaci-maki mereka semua. Mindra dan saudaranya juga disemprot! Namun ketika yang lain ini juga diam saja dan tak bergeming maka muncullah Kuntaijin yang membujuk dan memberi hormat di depan pangeran ini. “Mereka tak bersalah. GolokMaut memang terlalu lihai. Biarlah paduka masuk kembali dan biarkan aku bercakapcakap dengan mereka.” “Tidak. Aku justeru ingin mencaci-maki mereka ini, taijin. Para pembantuku itu juga gentong-gentong kosong yang tak bisa apa-apa. Ah, mereka itu anjing penjaga yang bisanya makan melulu!” “Sst, tak perlu mengumbar marah disini, pangeran. Semuanya sedang sedih dan paduka masuk saja ke dalam. Mo-ko dan kawan-kawannya itu juga terpukul. Sebaiknya paduka tak usah menyakitkan hati mereka dan aku khawatir kalau mereka pergi karena tersinggung!” Coa-ongya terbelalak. Akhirnya dia terkejut juga ketika Kun-taijin bicara seperti itu. Memang repot kalau Mo-ko dan kawan-kawannya sampai pergi meninggalkan dirinya, tentu tanpa pelindung lagi dan itupun berarti tak baik. Maka ketika dia dibujuk lagi dan dengan halus menteri Kun bicara menasihati akhirnya pangeran ini sadar dan insyaf, kembali menghilang dan dialah tadi yang memberi perintah agar GolokMaut diserang dengan jaring. Pengalamannya masa lalu membuat pangeran ini ingin mengulang keberhasilannya. Tapi bahwa GolokMaut dapat lolos juga dan tokoh bercaping itu memjliki granat untuk menyelamatkan dirinya maka banjir darah malam itu menjadi buah bibir semua orang. Istana benar-benar terguncang dan ini untuk kedua kalinya Si GolokMaut itu beraksi, bukan main beraninya. Bahkan berhasil membunuh Ci-ongya, satu dari dua orang yang dibenci! Dan ketika malam itu mayat-mayat yang tewas diurus dan Kun-taijin turun tangan meredakan Coa-ongya maka keesokannya istana dan seluruh rakyat mengibarkan bendera tanda berkabung. -0deOwi0- “Begitulah,” Kun-taijin mengakhiri ceritanya, menarik napas dalam. “Sri baginda dan Coa-ongya marah-marah, Beng Tan. Sri baginda marah karena GolokMaut dianggap menghina istana sedang Coa-ongya karena adiknya dibunuh. Kami tak dapat berbuat apa-apa karena Golok Maut benar-benar luar biasa. Dikeroyok duaribu orang dia dapat melarikan diri juga.Mengejutkan!” Beng Tan termangu-mangu. Mendengar semua cerita ini memang dia dapat memaklumi. GolokMaut amat lihai dan hanya dialah yang dapat menghadapi. Itu-pun kalau dia tak memiliki Pek-jit-kiam, Pedang Matahari, tak mungkin dia dapat menandingi lawannya itu. Dan ketika Kun-taijin selesai bercerita dan Swi Cu yang ada disampingnya juga termangu dan ngeri maka Kun-taijin bertanya pada pemuda itu apa yang selanjutnya hendak dilakukan. “Bagaimana menurut pendapat taijin, apa yang harus kulakukan,” Beng Tan balas bertanya, Memang tidak tahu apa yang harus dilakukan karena khawatir kalau ia meninggalkan istana jangan-jangan sri baginda marah lagi. Gara-gara keterlambatannya datang di istana terjadilah semuanya itu. Ah, kalau saja dia ada disitu! Beng Tan bergidik melihat sepak terjang Si GolokMaut ini. “Hm, apa yang harus kuberikan?” Kun-taijin menarik napas dalam, kembali menekuri keadaan di depan. “Aku tak dapat memerintahkan apa-apa, Beng Tan. Hanya kaisar yang berhak memerintahmu. Kau pengawal pribadinya, aku hanya sekedar mewakili sri baginda menceritakan peristiwa ini kepadamu!” “Benar, tapi setidak-tidaknya kau dapat memberikan pandangan, taijin. Apa yang kira-kira harus kuperbuat'” “Sebaiknya kau menghadap sri baginda saja. Tanya apa sarannya.” “Tapi sri baginda baru marah-marah. Aku tak enak!” “Bukan sekarang, Beng Tan, melainkan besok. Biar kuantar dan besok sri baginda tentu sudah lebih dingin.” “Hm,” Beng Tan mengangguk. “Benar, taijin. Tapi agaknya satu yang diperintahkan baginda, aku harus menangkap atau membunuh Si GolokMaut itu!” “Kukira memang begitu, dan kaulah satu-satunya pemilik Pedang Malayan. Golok Penghisap Darah di tangan Si GolokMaut itu tak ada tandingannya. Kau harus bergerak!” Beng Tan mengangguk. Kun taijin akhirnya bicara sanasini lagi memberi petunjuk sebelum dia disuruh istirahat. Dan ketika malam itu Beng Tan ada di kamarnya dan Swi Cu mendapat kamar di sebelah maka malam itu dua mudamudi ini bercakap-cakap. “Golok Maut memang terlalu. Keberingasannya sudah melewati batas. Hm, orang sedunia perlu menghukum pemuda ini dan mencincangnya sebelum mampus!” “Sabar,” Beng Tan berkedip memandang lampu-lampu teng yang mulai dipasang para pengawal. “Sepak terjang Si Golok Maut tentu didasari sesuatu, Cu-moi. Dan aku melihat api dendam yang besar sekali di hatinya. Permusuhannya berawal dengan Coa-ongya dan Ci-ongya itu. Dan sekarang satu di antara dua musuhnya itu telah dibunuh!” “Dan kau membelanya?” “Eh, siapa membela?” “Kau menyuruh aku sabar, koko. Padahal iblis macam itu tak perlu disabari. Dia harus dibunuh dan habis perkara. Apalagi dia juga memperkosa suciku!” Swi Cu tiba-tiba menangis, marah kepada kekasihnya dan buru-buru Beng Tan memeluk. Dia berkata bahwa bukan begitu maksudnya, sepak terjang Si Golok Maut tak patut dibela tapi Beng Tan bermaksud membicarakan sebab-sebab paling dalam kenapa tokoh yang ganas itu dapat sedemikian kejam. Membunuh-bunuhi orang-orang she Coa dan Ci hanya karena permusuhannya dengan dua orang pangeran di istana itu. Dan ketika Swi Cu menjawab bahwa semuanya itu tak perlu diketahui karena Golok Maut pada dasarnya adalah iblis maka Beng Tan menarik napas panjang tak mau berdebat. “Baiklah… baiklah. Dia memang iblis. Tapi sebelum aku diperintahkan membunuh Si Golok Maut ini aku ingin mengetahui kenapa dia bisa sampai begitu.” lalu menunduk dan mencium kekasihnya. Pemuda ini mengajak bicara yang lain, percuma bicara tentang itu karena Swi Cu sudah terlampau dendam terhadap si tokoh bercaping itu. Dugaan mereka bahwa Golok Maut memperkosa Wi Hong membuat gadis ini tak mau mendengar GolokMaut dibela sekecil apapun, apalagi oleh Beng Tan, pemuda yang menjadi kekasihnya sekaligus calon suaminya. Ah, tak boleh Beng Tan mencari kebaikankebaikan Si Golok Maut, betapa pun kecilnya. Dan ketika mereka bicara yang lain dan malam itu pemuda ini menunggu fajar maka keesokannya dia sudah ditunggu menteri Kun. “Dapat tidur, Beng Tan? Nyenyak tidurnya?” “Ah,” Beng Tan tersenyum, melirik Swi Cu. “Kami semalam dapat tidur enak, taijin. Meskipun tentu saja penuh dengan mimpi-mimpi buruk. Kami masih terkejut oleh kejadian di istana!” “Hm, aku juga. Dapat terlelap sejenak tapi setelah itu ingat kau. Sudahlah, kita menghadap sri baginda dan kutemani kau untuk menerima titahnya.” Beng Tan mengangguk. Dia menyuruh Swi Cu tinggal di situ tapi gadis ini tak mau, menolak dan ingin ikut bersama. Beng Tan memperingatkan bahwa kemarin kaisar memakimaki gadis itu. Tapi ketika Swi Cu berkata bahwa dia tak menaruh di hati semua ucapan kaisar karena keadaan sedang dirundung malang maka Beng Tan mengangguk dan membiarkan kekasihnya ikut. “Baiklah, tapi jangan marah kalau sri baginda masih mengeluarkan kata-kata pedas!” “Aku tak apa-apa, asal selalu di sampingmu!” Dan ketika Kun-taijin tersenyum karena ucapan itu penuh arti maka ketiganya berangkat dan sudah menemui sri baginda, yang pagi itu ternyata sudah duduk di kursi singgasananya, sedikit cerah meskipun sorot matanya masih menampakkan sisa-sisa kecewa dan marah. “Maaf, kemarin aku tak dapat menahan diri, Beng Tan. Dan, ah… betapa cantiknya kekasihmu ini!” Beng Tan berlutut. Dia tersenyum dan cepat memberi hormat bersama Kun-taijin. Swi Cu merah mukanya namun gembira di hati, kaisar bersikap ramah dan sikapnya sungguh berbeda dengan kemarin. Dan ketika semua memberi hormat dan kaisar menerima, menyuruh mereka berdiri maka Beng Tan bertiga dipersilahkan duduk. “Aku sudah mendengar maksud kedatanganmu, Kuntaijin memberitahuku semalam. Nah, katakan bagaimara pandanganmu setelah mendengar semuanya ini.” “Hamba ingin meminta pendapat paduka, tak berani mendahului.” “Hm, aku pribadi ingin menyuruhmu menangkap dan membunuh Si Golok Maut itu, Beng Tan. Bawa kepalanya kemari dan tenangkan suasana!” “Benar, hamba akan melaksanakan titah paduka, sri baginda. Tapi mohon keterangan kenapa Golok Maut itu mempunyai permusuhan demikian mendalam terhadap Coa-ongya maupun Ci-ongya?” “Hm, ini…” kaisar mengerutkan kening, tiba-tiba tertegun. “Aku tak ingin menceritakannya, Beng Tan. Dan barangkali tak perlu bagimu. Yang jelas Golok Maut telah menghina dan mengacau di istana, untuk ini saja dia sudah dapat dianggap pemberontak dan musuh berat!” “Apakah hamba tak boleh mengetahui asal mulanya?” “Itu urusan pribadi adikku. Kalau kau mau bertanya silahkan saja kepada yang bersangkutan. Dan, eh… bukankah tak perlu semuanya ini, Beng Tan? Kau kutugaskan untuk menangkap atau membunuh Si Golok Maut itu, bukan menyelidiki. asal mula permusuhan ini!” “Benar, tapi maaf, sri baginda. Sebagai orang kang-ouw yang menjunjung tinggi nilai-nilai kegagahan dan keadilan mestinya hamba ingin tahu kenapa Golok Maut itu dapat bersikap demikian kejam. Siapa yang bersalah dan bagaimana sebenarnya duduknya perkara.” “Hm-hm!” kaisar menggeleng-geleng kepala. “Urusan ini tak ingin kubicarakan, Beng Tan. Karena Golok Maut harus ditangkap atau dibunuh. Dia telah mengacau istana, membunuh dan menghina aku!” “Benar…” Beng Tan mau bicara lagi, mendesak tapi Kuntaijin tiba-tiba menyenggol lengannya, batuk-batuK dan memberi isyarat agar dia tidak banyak bertanya. Deheman halus dari menteri itu menyadarkan Beng Tan bahwa tak sepatutnya dia mendesak kaisar. Dia sudah menerima perintah dan dia tinggal melaksanakan. Dan ketika Beng Tan sadar dari menahan kata-katanya maka menteri itu mendahului berkata, “Maaf, kami mengerti, sri baginda. Tapi Beng Tan barangkali hendak bertanya apakah dia harus meninggalkan istana lagi atau tidak. Maklumlah, Beng Tan khawatir paduka marah-marah kalau Golok Maut datang sementara dia pergi! Bukankah begitu, Beng Tan?” Pemuda ini mengangguk. Dengan cepat dia tanggap akan pertanyaan Kun-taijin itu. Bahwa dia harus mengikuti perintah kaisar dan memang inilah yang hendak ditanyakan, apakah dia harus mencari Golok Maut dan membawanya ke istana ataukah menunggu GolokMaut itu datang lagi di istana dan dia menghadapi. Dan karena pertanyaan itu tepat dan Beng Tan tentu saja mengangguk maka pemuda ini membenarkan dan sadar. “Benar, begitu maksud hamba, sri baginda. Bagaimanakah caranya hamba melaksanakan tugas ini.” “Kau harus pergi lagi, dan secepatnya kembali!” “Tapi kalau dia datang?” “Tidak, GolokMaut baru saja mengacau, Beng Tan. Tak mungkin dia datang dalam waktu sedekat ini. Dan aku hendak memerintahmu langsung ke Lembah Iblis, tempat Si GolokMaut itu tinggal!” “Lembah Iblis?” Beng Tan terkejut. “Ya, Lembah Iblis, Beng Tan. Aku mendapat keterangan bahwa Golok Maut bertempat tinggal disana. Dia pasti kembali ke sarangnya setelah gagal melakukan balas dendamnya disini, karena adikku Coa-ongya masih hidup!” Beng Tan tertegun. “Dan kau bawa limaribu pasukan kesana!” Beng Tan semakin terkejut. “Apa?” pemuda ini membelalakkan mata. “Bersama pasukan, sri baginda? Hamba harus menangkap Si Golok Maut itu bersama demikian banyak orang?” “Aku tak mau gagal, dan aku juga tidak menyangsikan kepandaianmu. Tapi karena Lembah Iblis merupakan tempat yang tersembunyi dan aku tak ingin iblis itu pergi meninggalkanmu maka limaribu orang yang akan mengiringimu itu bertugas hanya mengepung lembah!” “Tapi hamba tak suka!” Beng Tan memprotes, tiba-tiba bangkit berdiri. “Hamba sendiri sanggup membawa Si Golok Maut itu, sri baginda. Dan hamba bersumpah akan membawanya kehadapan paduka!” “Tapi kau gagal ketika bertemu,” kaisar bersinar-sinar, memandang tajam. “Aku tak ingin hal itu terulang, Beng Tan. Dan terus terang saja kali ini aku tak mau gagal! Luiciangkun dan Kwan-goan-swe (jenderal Kwan) akan menyertaimu. Dan mereka itulah yang membawa pasukan!” Beng Tan tertegun. Tiba-tiba dia merasa terpukul karena seolah kaisar kurang percaya kepadanya. Dia diberi bantuan limaribu orang untuk menangkap si Golok Maut, hal yang tidak main-main lagi dan tentu saja membuat pemuda itu marah. Tapi ketika kaisar berkata lagi bahwa kaisar tidak meragukan kepandaiannya melainkan semata mengepung Lembah iblis agar Golok Maut tak dapat melarikan diri maka perlahan-lahan muka Beng Tan pulih kembali. “Aku tidak menyangsikan kepandaianmu, dan aku bukannya tidak percaya. Tapi ingat, GolokMaut cerdik dan licik memiliki granat-granat tangan, Beng Tan. Dengan itu dia dapat lari dan meloloskan dirinya. Dan aku tidak menghendaki ini. Aku ingin kau membereskannya dan tidak bekerja dua tiga kali!” “Hm, tapi sekian banyak orang…” Beng Tan termangumangu. “Memalukan hamba, sri baginda. Membuat hamba tak ada muka untuk menghadapi Si Golok Maut itu. Sebaiknya begini saja. Untuk menjaga lembah hamba hanya minta bantuan beberapa orang saja, tiga atau empat orang cukup. Orang-orang berkepandaian tinggi seperti Pekmo- ko dan lain-lainnya itu yang membantu Coa-ongya!” “Hm, begitukah?” kaisar memandang ragu, cepat diberi isyarat rahasia oleh Kun-taijin, yang mengedip-ngedip dan menunjuk berulang-ulang ke arah Beng Tan. “Baiklah, Beng Tan. Kuikuti permintaan-mu tapi bagaimana tanggung jawabmu bila sekali ini gagal!” “Hamba akan menyerahkan kepala hamba!” Beng Tan tiba-tiba berseru gemas. “Hamba yakin tak akan gagal, sri baginda. Asal benar-benar bertemu dengan Si Golok Maut itu di Lembah Iblis!” “Bagus, janjimu kuterima. Kalau begitu pergilah ke tempat adikku dan mintalah bantuan kelima pelindungnya itu agar menemanimu!” Swi Cu terkesiap. Kekasihnya telah mempertaruhkan kepala kalau kali ini tugas gagal, padahal Golok Maut itu lihai dan dulu mereka berimbang. Bahkan Beng Tan sendiri mengakui bahwa sebenarnya sukar merobohkan Si Golok Maut itu karena masing-masing sama dan setingkat. Golok Maut memiliki Golok Penghisap Darah itu sementara Beng Tan dengan pedang Pek-jit-kiamnya. Baik senjata mau-pun kepandaian sebenarnya berimbang. Dulu mereka samasama roboh ketika bertanding di pulau. Tapi karena Beng Tan sudah menyerahkan janjinya dan agaknya pemuda itu juga gemas dan marah karena sepak terjang Golok Maut benar-benar dinilai keterlaluan maka pagi itu Beng Tan menemui Coa-ongya, bersama Swi Cu Dan ketika dia pergi berdua karena Kun-taijin ditahan kaisar maka terdengar kisik-kisik diantara sri baginda dengan menteri itu. * “Kenapa kau memberiku isyarat?” “Maaf, agar supaya Beng Tan tidak tersinggung, sri baginda. Sebab menolak begitu saja tentu tidak baik. Betapa pun dia adalah pemuda hebat yang satu-satunya dapat menandingi GolokMaut!” “Hm, aku sebenarnya penasaran. Baiklah, kuharap dia sudah bertemu adikku dan rencana tidak akan gagal.” Beng Tan sudah menghadap Coa-ongya. Dia tentu saja tidak mendengar pembicaraan ini yang mungkin akan menimbulkan kecurigaannya. Maklumlah, kaisar tak bersuara keras-keras dan Kun-taijin juga tampak berhatihati. Dan ketika dia tiba di gedung pangeran itu dan Coaongya sudah menyambut maka bayangan lima kakek pelindung tampak berkelebatan disekitar sang pangeran. “Aha, kau, Beng Tan? Sudah datang?” Beng Tan memberi hormat. Coa-ongya yang berdiri menyambut dan bergegas bangkit dari kursinya membuat Beng Tan agak tersipu. Sebenarnya dia sudah mengenal pangeran ini kecuali yang bersangkutan. Coa-ongya belum pernah bertemu muka tapi agaknya sudah dapat menduga siapa dia, tentu dari para pembantunya. Dan ketika dia memberi hormat dan Coa-ongya bersinar-sinar memandangnya gembira mendadak pangeran itu tertegun melihat Swi Cu, sepasang matanya mengeluarkan cahaya aneh. “Siapa dia?” “Maaf,” Beng Tan menjura. “Kekasih hamba, ong-ya. Swi Cu.” “Hm, cantik sekali!” sang pangeran memuji tak canggung-canggung, tiba-tiba tertawa dan menarik lengan Beng Tan. “Mari… mari duduk, Beng Tan. Aku sudah mendapat kabar tentang kedatanganmu dari sri baginda kaisar!” Swi Cu berdetak. Beng Tan sudah ditarik pangeran itu dan duduk menghadapi meja besar, diperkenalkan kepada kelima kakek-kakek itu tapi Beng Tan tersenyum. Tentu saja dia mengenal dan bahkan pernah bergebrak! Dan ketika Sudra maupun saudaranya melengos dan merah bertemu pemuda ini maka Swi Cu agak berdebar melihat kilatan mata Coa-ongya yang agak lain dan membuatnya tidak enak. “Siapa kekasihmu ini? Dari mana?” Beng Tan tersenyum. Dengan wajar dia menjawab bahwa Swi Cu adalah wakil ketua Hek-yan-pang, berkata bahwa gadis itu dikenalnya di Hek-yan-pang pula, ketika diserbu dan mendapat amukan Golok Maut. Dan ketika Coa-ongya terkejut tapi merah mukanya mendengar nama Golok Maut disebut-sebut maka perhatiannya terseret dan mengepal tinju dengan mata berapi. “Ah, kiranya Hu-pangcu dari Perkumpulan Walet Hitam. Maaf, aku tak tahu, nona. Kukira siapa! Hm, dan Golok Maut menyerang Hek-yan-pang pula. Sungguh kurang ajar! Apakah ketuamu bershe Coa atau Ci?” “Tidak,” Swi Cu menjawab. “Suciku bukan she Coa atau Ci, ong-ya. Tapi kedatangan Golok Maut semata atas keponakanmu Ci Fang itu!” “Oh, dia? Ya-ya…” pangeran ini mengangguk-angguk. “Sekarang Ci Fang entah kemana, nona. Dan ayahnya terbunuh oleh Si Golok Maut itu. Jahanam, aku ingin menuntut balas!” Beng Tan bermuka murung. Bicara tentang itu tiba-tiba saja dia sudah dibawa kemasalah dendam. Pangeran tampak begitu benci namun tak dapat disembunyikan pula ketakutan atau kekhawatirannya yang hebat. Maklumlah, GolokMaut benar-benar luar biasa dan dua kali menyatroni istana dua kali itu pula Golok Maut dapat meloloskan diri. Jadi tokoh ini memang amat lihai dan kepandaiannya tinggi. Beng Tan sendiri mengakui itu karena sudah pernah bertanding dan mengadu jiwa, nyaris sampyuh kalau saja kakek dewa Bu-beng Sian-su tidak datang menolong. Dan ketika pembicaraan sudah berkisar ke Golok Maut ini dan Coa-ongya sesekali masih menyambar Swi Cu dengan sinar mata aneh maka pangeran menutup bahwa sri baginda kaisar katanya mengutus Beng Tan untuk menangkap dan membunuh laki-laki bercaping itu. “Semalam sri baginda telah memanggil aku, dan menerangkan maksud atau keinginannya. Nah, katakan bagaimana keinginanmu atau keputusan kaisar setelah kau menghadap padanya!” “Hamba diminta ke Lembah Iblis…” “Cocok! Kalau begitu limaribu pasukan juga akan menyertaimu!” “Tidak, untuk ini hamba menolak, ong-ya. Memalukan rasanya untuk membekuk seorang saja harus dikerahkan sedemikian banyak orang,” Beng Tan menggeleng, ganti memotong omongan orang. “Hamba mengajukan usul lain dan kini sri baginda menyerahkannya kepada paduka!” “Hm, usul apa? Tentang apa?” “Bantuan ke Lembah Iblis itu. Sri baginda khawatir kalau Golok Maut lolos, minta agar hamba sekali kerja tak mengulang dua tiga kali.” “Ya-ya, itu juga dikatakannya kepadaku!” Coa-ongya mengangguk-angguk. “Aku rasa memang benar, Beng Tan. Bukan tidak mempercayai kepandaianmu melainkan semata mengepung dan menjaga supaya Golok Maut tidak melarikan diri'” “Hm, cara ini hamba tak suka,” Beng Tan menggeleng lagi. “Kalau bantuan dimaksudkan agar Golok Maut tidak melarikan diri maka jumiah demikian besar tidak cocok bagi hamba, ong-ya. Terus terang hamba menolak. Dan sri baginda menyetujui rencana hamba yang lain!” “Hm!” Coa-ongya bersinar-sinar, kagum dan mendecak karena tidak sembarang orang dapat dengan begitu saja “memerintah” kaisar. Beng Tan telah mempengaruhi kaisar dan menolak bantuan pasukan, perbuatan yang tak mungkin dilakukan orang lain kalau pemuda itu betul-betul tidak memiliki kepandaian tinggi. Dan ketika Coa-ongya mengangguk-angguk dan bertanya bagaimana maksud Beng Tan, maka pemuda ini memandang dua kakek India itu bersama tiga temannya yang lain. “Hamba ingin meminjam pengawal-pengawal pribadi paduka. Dengan lain kata, limaribu pasukan itu hamba ganti saja dengan lima orang pembantu paduka!” Sang pangeran tertegun. “Mereka-mereka ini?” “Ya, mereka-mereka ini, ong-ya. Mindra dan temantemannya. Hamba telah berkenalan dengan mereka dan tentu mereka setuju, asal paduka setuju pula!” “Hm-hm!” pangeran berseri-seri, menoleh kebelakang. “Bagaimana kalian,Mindra? Setuju?” “Kami menyerahkannya kepada paduka,” Mindra menjawab gugup. “Kalau paduka setuju tentu saja kami setuju, pangeran. Tapi bagaimana istana kalau ditinggal kami semua!” “Hm, sri baginda menjamin GolokMaut tak akan datang dalam waktu dekat. Dia dipastikan kembali ke Lembah Iblis!” Beng Tan menjawab, mendahului. “Karena itu masalah istana tak usah khawatir, Mindra, Lui-ciangkun atau Kwan-goanswe akan mengambil alih tugas kita disini!” “Benar,” Coa-ongya mengangguk. “Kami mendapat kabar bahwa Golok Maut bertempat tinggal di Lembah Iblis, Beng Tan. Dan sri baginda juga telah memberitahukan pandangannya itu. Kalau kau minta mereka ini menemani dan sri baginda tak menolak tentu saja aku juga memenuhi permintaanmu!” “Kalau begitu terima kasih,” Beng Tan bersoja. “Tapi keikutsertaan mereka hanya menjaga disekitar lembah, ongya. Jangan sekali-sekali membantu hamba mengeroyok Si GolokMaut!” “Ha-ha!” sang pangeran tertawa bergelak. “Kau jujur, Beng Tan. Tapi sekilas berkesan sombong! Hm, kalau saja aku tak mendengar tentang kelihaianmu dan kau bukan pengawal bayangan sri baginda kaisar tentu aku akan menganggapmu bermulut besar! Eh, omong-omong aku ingin kau menunjukkan sedikit kepandaianmu, Beng Tan. Bolehkah? Kalau kau mampu menghadapi Golok Maut seorang diri tentu kau mampu pula menghadapi kelima pembantuku ini. Nah, coba perlihatkan kepandaianmu dan biar mataku ini terbuka!” Coa-ongya tertawa bergelak, pembicaraan inti sudah selesai dan kini tiba gilirannya untuk menyaksikan kepandaian pemuda itu. Sebelumnya Sudra dan Mindra telah memuji kepandaian pemuda ini, dan kaisar pun mempergunakan pemuda itu sebagai pengawal bayangannya, satu jabatan tinggi karena mempertaruhkan kepercayaan yang besar. Dan ketika Beng Tan tersenyum dan dua kakek India itu tersipu merah maka Beng Tan tentu saja memenuhi permintaan pangeran ini. Langsung saja dia memandang lima kakek itu, Pek-moko dan Hek-mo-ko melotot namun Beng Tan tidak perduli. Dan ketika dia melangkah maju dan mengangguk di depan kelima kakek itu maka Beng Tan sudah berhadapan dengan Mindra dan kawan-kawannya ini. “Ong-ya ingin aku menundukkan kalian. Lagi pula belum pernah kalian berlima maju mengeroyok secara berbareng. Nah, majulah, Mindra. Dan mari kita mainmain sebentar!” Mindra dan kawan-kawannya berkelebat. Ditantang dan digapai pemuda itu tentu saja mereka tak dapat menolak, mundur adalah merupakan perbuatan pengecut dan memalukan. Dan ketika semuanya bergerak dan Coa-ongya ingin melihat kepandaian pemuda ini maka Beng Tan bersiap-siap memasang kuda-kuda. “Tak perlu sungkan lagi. Kita bergebrak siapa yang robek bajunya dia kalah!” Mindra mendesis. Kakek ini tentu saja maklum akan kepandaian Beng Tan namun marah karena pemuda itu dianggap merendahkan dirinya di depan Coa-ongya. Beng Tan tak mencabut senjata dan tentu saja dia lebih berani, karena pemuda itu akan lebih hebat kalau mengeluarkan Pek-jit-kiamnya, Pedang Matahari, pedang yang mengerikan karena tajamnya sama dengan Golok Penghisap Darah, golok maut di tangan Si Golok Maut itu. Dan ketika si pemuda sudah bersiap dan keempat kawannnya pun juga sudah menggeram membentak pemuda itu tiba-tiba kakek ini sudah maju menubruk dengan pukulanHwi-seng-ciangnya. “Bocah, boleh robohkan kami berlima kalau kau mampu!” “Ha-ha, tentu. Kalau tidak begitu tentu kalian tak akan tunduk, Mindra. Dan lihat sebelum limapuluh jurus kalian semua akan kurobohkan, tanpa senjata!” Beng Tan bergerak, membiarkan pukulan Hwi-sengciang lewat dan tiba-tiba Hwee-kang atau Pukulan Api menyembur dari mulut kakek Yalucang. Kakek itu marah dan menganggap Beng Tan juga sombong, membentak dan bergeraklah Pukulan Api dari mulutnya, meniup sekaligus menghantam dengan kedua lengannya pula sementara Hekmo- ko dan Pek-mo-ko melepas Pek-see-kang dan Hek-seekang mereka, hebat dan tentu saja tidak main-main. Tapi ketika Beng Tan berkelebat dan Hwi-seng-ciang yang dilancarkan Mindra melewati samping tubuhnya maka semua pukulan-pukulan itu diterimanya, disambut dengan Pek-lui-ciang yang tiba-tiba meledak dari kedua lengannya, Pukulan Kilat. “Dar!” Kelima lawannya terpekik. Mo-ko dan lain-lain terpental dan lima orang kakek itu kaget bukan main, merasa pukulan mereka tertolak dan Hwee-kang atau Pukulan Api malah membalik menyambar kakek Yalucang sendiri, menyembur dan mengenai mukanya. Tapi ketika kakek itu bergulingan dan meniup padam maka api yang berkobar lenyap dan Beng Tan pun tertawa. “Ha-ha, gebrak pemanasan, Yalucang. Selanjutnya kalian harus lebih berhati-hati!” Beng Tan berkelebat mendahului lawan, tertawa dan tiba-tiba beterbangan mengelilingi kelima orang itu bagai capung menyambar-nyambar. Lima kakek itu membentak dan tentu saja tak mau kalah. Dan ketika mereka mengerahkan ginkangnya pula dan ilmu meringankan tubuh ini dipakai untuk menghadapi Beng Tan yang sudah beterbangan kian cepat maka enam orang itu tiba-tiba tak nampak ujudnya lagi karena sudah berobah menjadi bayang-bayang yang luar biasa cepat, jauh lebih cenat daripada kelima kakek itu sendiri. “Hebat!” Coa-ongya memuji, terkejut tapi tertawa girang, “Hebat sekali, Beng Tan. Ah, kau benar-Denar luar biasa dan agaknya setanding dengan GolokMaut!” “Ha-ha,” Beng Tan tertawa. “Hamba sudah hapal kepandaian lima orang lawan hamba ini ong-ya. Tapi kalau mereka mau mencabut senjata tentu kekalahan mereka lebih cepat.” “Masa? Begitukah? Eh cabut senjata kalian,Mindra. Dan lihat berapa jurus anak muda itu mengalahkan kalian. Aku ingin melihat Pek-jit-kiamnya pula.” “Ha-ha, hamba akan mengalahkan mereka dalam duapuluh lima jurus, setengah dari yang dijanjikan!” “Ah, begitukah? Hei, cabut senjata kalian, Mindra. Dan perlihatkan apakah pemuda ini bermulut sombong atau tidak!” “Baik!” dan Mindra serta kawan-kawan yang tiba-tiba mencabut senjata dan menggerakkannya diruangan besar itu lalu melengking dan marah kepada Beng Tan, hampir bersamaan semuanya bergerak berbareng dan tongkat atau roda-gergaji bersiut hebat, menderu dan nenggala serta cambuk juga mengeluarkan sinar bercahaya ketika menjeletar dan menusuk kuat. Dan ketika kelima kakek itu berseru mengeroyok Beng Tan maka Beng Tan tiba-tiba berjungkir balik dan melayang tinggi nyaris menyentuh belandar ruangan. “Siut-trak-dess!” Semua senjata menghantam lantai. Beng Tan telah menyelamatkan dirinya. dengan berjungkir balik itu, tertawa dan tiba-tiba mencabut Pek-jit-kiamnya ketika melayang turun. Dan karena lima orang itu sudah menggerakkan senjata masing-masing dan belum sempat menarik diri ketika Beng Tan menggerakkan Pek-jitkiamnya maka Pedang Matahari itu menusuk ganas ketika ganti menyambar mereka. “Awas!” Mindra dan kawan-kawan terkejut. Mereka terpaksa melempar kepala kebelakang ketika Pek-jit-kiam menyambar, masih juga tersontek dan robeklah kelima baju kakek-kakek itu. Dan ketika mereka berseru tertahan dan Coa-ongya berteriak kagum maka Beng Tan sudah berdiri lagi di tanah menerima bentakan dan serangan lawan, yang sudah maju dan marah kepada pemuda itu! “Ha-ha, hebat, Beng Tan. Aih, ini agaknya ilmu silat pedangmu itu.Wah, luar biasa. Hebat dan mengagumkan!” dan ketika Coa-ongya bertepuk tangan dan memuji berulang-ulang maka hitungan demi hitungan sudah mulai dilakukan Beng Tan. Pedang Matahari sudah bergerak naik turun menahan dan menyambar senjata kelima lawannya itu, kian lama kian cepat saja hingga pedang bersinar putih itu sudah tak dapat diikuti mata lagi. Dan ketika pertandingan sudah berjalan cepat limabelas jurus banyaknya dan kakek Yalucang membentak menggerakkan roda-gergajinya maka untuk pertama kali Pek-jit-kiam membentur senjata lawan. “Crak!” Roda-gergaji putus. Kakek tinggi besar itu berteriak kaget karena demikian mudahnya pedang di tangan si pemuda membacok senjatanya, seolah membacok agar-agar! Dan ketika kakek itu bergulingan melempar tubuh dan tongkat Mo-ko kakak beradik juga menyambar pemuda ini maka Beng Tan juga menyambut dan membabat dari samping. “Crak-crak!” Semuanya putus! Mo-ko menjerit dart bergulingan seperti kakek tinggi besar itu pula ketika pedang masih menyambar, menukik dan menuju dada mereka. Tapi ketika mereka masih terlambat juga dan pedang menggores ke bawah maka leher Mo-ko kakak beradik tergurat panjang. “Bret!” Dua iblis itu pucat. Coa-ongya bersorak kagum dan tak habis-habisnya memuji. Beng Tan. Sekarang dia benarbenar melihat kepandaian pemuda ini yang sangat luar biasa. Dan ketika gebrakan itu sudah berjalan duapuluh tiga jurus dan tinggal dua jurus lagi untuk merobohkan dua kakek terakhir maka Mindra dan Sudra sudah mengeluh melihat Pek-jit-kiam mengurung diri mereka, tak dapat keluar! -oo0dw0oo- Jilid-XXIII “CRAK-CRAK!” Habislah harapan dua kakek ini. Mereka terpaksa menangkis karena pedang menuju tenggorokan, tak dapat dikelit atau dielak karena gerakan pedang sedemikian cepatnya, menyambar dan tahu- tahu su-dah serambut saja di kulit leher. Dan ke-tika mereka menangkis dan nenggala mau-pun cambuk tentu saja bukan tandingan Pek-jit-kiam yang luar biasa maka dua senjata di tangan kakek lihai itu putus. “Ha-ha!” pangeran Coa bersorak. “Kalian kalah,Mindra. Sekarang Beng Tan benar-benar membuktikan omongannya dan tepat duapuluh lima jurus kalian menyerah!” Memang benar. Lima orang kakek itu terpaksa mengakui kekalahannya dan mereka menunduk lesu. Beng Tan telah mengalahkan mereka dan kalau pemuda itu bersikap kejam tentu mereka bakal terlu-ka, tidak hanya tergurat kulit atau pecah berdarah seperti Mo-ko kakak beradik. Dan ketika seraua raundur dan Coa-ongya melompat menepuk-nepuk Eieng Tan maka hari itu Beng Tan benar-benar mendapat perhatian istimewa pangeran ini. nKau hebat, ilmu pedangmu luar biasa. Ah, ingin kulihat kalau kau sudah bertanding dengan Si GolokMaut itu! Hm, siapa gurumu, Beng Tan? Bolehkah aku tahu?” “Maaf,” Beng Tan tersenyum. “Guruku tak mau disebut guru, ong-ya. Aku hanya belajar sedikit-sedikit darinya. Aku tak mempunyai guru dalam arti mewarisi semua kepandaiannya.” “Ah, dan itu saja sudah membuatnmu sedemikian lihai? Wah, kalau begitu orang yang mengajarimu itu hebat luar biasa, Beng Tan. Pantasnya dewa dan bukan manusia!” “Memang, dia kuanggap dewa. Tapi, ah…. sudahlah. Guruku itu tak suka memperkenalkan diri dan sekarang apa yang harus kulakukan, ong-ya. Kapan aku berangkat dan kapan pula kelima orang ini ikut denganku!” “Ah, ha-ha! Jangan tergesa-gesa. Malam ini biar kau beristirahat semalam dan besok baru berangkat!” “Tapi sri baginda…” “Tak usah takut. Aku yang menjamin! Betapapun kelima orangku ini harus bersiap-siap kalau ingin mengikutimu. Sudahlah, kita bersenang-senang dulu, Beng Tan. Dan sungguh beruntung kau mendapatkan Pek-jit-kiam itu. Hm, aku iri!” Coa-ongya tak segan-segan memandang belakang punggung Beng Tan, benar-benar iri akan pedang hebat yang dibawa pemuda itu. Beng Tan tersenyum saja dan dijamulah pemuda itu oleh hidangan-hidangan lezat yang disuguhkan tuan rumah. Dan ketika malam itu dia diminta menginap di gedung pangeran ini dan Beng Tan ragu untuk menolak maka sang pangeran sudah memandang Swi Cu, yang sejak tadi diam dan hanya mengikuti pembicaraan kekasihnya. “Dan kau,” pangeran ini tersenyum berkata. “Kau boleh tinggal di kamar belakang, nona. Ada sebuah kamar khusus untuk wanita disana. Beng Tan biar disamping gedung, dan kau disana.” Swi Cu tertegun. Sebenarnya dia tak ingin jauh-jauh dari Beng Tan. Semalam dia selalu berdekatan dengan pemuda itu, kamar bersebelahan, dapat bercakap-cakap dan mudah bertemu muka kalau ingin bicara. Maka begitu Coa-ongya berkata dan tentu saja dia tak sanggup menolak, karena malu baginya kalau minta kamar yang dekat dengan Beng Tan maka disana Beng Tan juga agak sedikit gugup mendengar penawaran itu. Namun, mau apalagi? Maka ketika malam itu mereka beristirahat dan Swi Cu diamdiam mengumpat pangeran ini karena memisah mereka dengan kamar yang berjauhan maka sebelum tidur gadis ini melepas kemendongkolannya. “Sialan Coa-ongya itu. Kenapa dia memberiku kamar yang jauh? Uh, sudah tahu aku kekasihmu masih saja dia mengatur kamar yang terlalu jauh. Kalau aku tak malu tentu sudah kuminta kamar yang lain, yang dekat denganmu!”- “Sudahlah,” Beng Tan tersenyum, menarik napas dalam. “Aku juga tak enak menawar yang lain, Cu-moi. Tapi tak apa ah, toh kita tetap disatu gedung yang sama.” “Benar, tapi aku dibelakang, koko. Jauh darimu. Kalau ada apa-apa tentu kau tak segera tahu!” “Ah, ada apa bagaimana? Kita di tempat aman, Cu-moi. Tak akan ada apa-apa, Sudahlah, kau tidur dan kita beristirahat, besok aku harus berangkat!” Swi Cu mengomel. Beng Tan telah menutup pintu kamarnya karena tadi pemuda itu mengantar, pergi dan sekarang sudah kembali ke kamarnya sendiri. Dan ketika malam itu Swi Cu membanting kesal di atas pembaringannya yang empuk maka malam berjalan merayap dan gadis inipun akhirnya tertidur. -0de0wi0- “Hei, augh…. uph!” Swi Cu kaget bukan main. Malam itu dia terlelap pulas ketika tiba-tiba lampu kamarnya padam. Gadis ini terkejut dan gerakan refleksnya sebagai gadis kang-ouw timbul, bangkit dan tiba-tiba dia membuka mata ketika lampu kamarnya itu padam. Kesiur angin di jendela yang tiba-tiba terbuka lebar membuat gadis ini tersentak, bangun dan mau melompat turun tapi bayangan itu, yang tampak hitam dan tidak jelas tiba-tiba sudah menyambar, menubruk dan mendekap tubuhnya di atas pembaringan. Dan ketika Swi Cu kaget dan tentu saja tersentak maka bayangan itu sudah menciuminya dan tubuhnya digerayangi dari bawah sampai ke atas. “Kurang ajar. Aeh, lepaskan… uph!” Swi Cu merontaronta, membentak dan menjerit tapi suara yang keluar hanya ap-up saja. Dia tak dapat berteriak keras-keras karena tubuh dan mulutnya ditutup. Kumis yang kasar dan mata yang berkilat bagai binatang yang sedang berahi menutup tubuhnya erat-erat, mencium dan mulutnya hampir tertutup oleh mulut lawan. Dan ketika Swi Cu kaget dan tentu saja meronta-ronta, marah dan ngeri maka lawan sudah melipat punggungnya mem-buat dia roboh kembali di atas pembaringannya, yang segera berderit. “Jangan berteriak, jangan membuat gaduh. Aku ingin menumpahkan sayang dan kasihku padamu… cup-cup!” Bayangan itu mendengus-dengus, hampir membuat Swi Cu pingsan namun gadis itu tentu saja tidak menyerah. Swi Cu sudah ditelikung namun gadis ini masih dapat menggerakkan kakinya. Dan ketika dengan bentakan yang mirip rintihan seekor harimau yang lagi ketakutan gadis ini mengangkat lututnya tiba-tiba tepat sekali selangkangan lawan berhasil ditendang. “Lepaskan aku… lepaskan aku,.. dess!” Laki laki itu terjengkang. Mulutnya mengeluarkan teriakan tertahan dan Swi Cu sudah bangkit menggulingkan tubuhnya. Dengan marah tapi juga pucat gadis ini melompat bangun. Dan ketika lampu dinyalakan lagi dan Swi Cu terbelalak melihat seorang laki-laki bercaping tibatiba gadis ini tersentak dan menjerit. “GolokMaut…!” Laki-laki itu menggeram. Swi Cu tiba-tiba ditubruk dan gadis ini berkelit, kaget karena tak menyangka bahwa lawan yang datang adalah Golok Maut. Lawan mempergunakan kedok namun caping di atas kepala itu tak mungkin dilupanya. Dia hafal betul akan caping itu dan memang hanya GolokMautlah tokoh yang mengenakan caping. Dan ketika Swi Cu hilang kagetnya sementara tubrukan lawan juga luput maka Golok Maut, laki-laki itu tiba-tiba mengumpat dan memadamkan lampu yang tadi dinyalakan Swi Cu. “Benar, aku, Swi Cu. Dan kini terimalah cintaku atau kau mampus!” Swi Cu melengking. Akhirnya kamar menjadi padam lagi dan mereka bergerak di tempat yang gelap. GolokMaut menubruk dan menyerang lagi namun Swi Cu menghindar Dan ketika bentakan-bentakan disusul umpatan dan geraman laki-laki itu, Si Golok Maut, maka Swi Cu sudah mencabut pedangnya dan menyerang serta menusuk atau membacok. “Keparat! Terkutuk kau, Golok Maut. Kiranya disamping pembunuh kaupun seorang jai-hwa-cat (pemerkosa). Ah, kubunuh kau. Jahanam…!” dan Swi Cu yang mengamuk sambil marah-marah akhirnya menerjang dan menyerang kamarnya itu, dua tiga kali menyalakan lampu namun dua tiga kali itu pula lawannya memadamkan kembali. Rupanya GolokMaut tak mau dikenal dan biar di dalam gelap begitu saja, melayani dan menangkis pedang di tangan Swi Cu yang menusuk dan membacok. Dan ketika dentingan atau benturan keras terjadi setiap kali pedang ditangkis kuku jari maka Swi Cu pucat ketika lawan mulai mendesis. “Swi Cu, kau tak dapat diajak baik-baik. Awas, aku akan membunuhmu kalau kau tak mau menyerah!” “Jahanam! Kau boleh bunuh aku kalau mampu, Golok Maut. Dan jangan harap kau dapat menggagahi aku seperti keinginanmu. Keparat, kebetulan kau datang karena akupun ingin menagih sakit hati suciku yang kaunodai… cring-plaK!” dan pedang yang bertemu kuku jari tiba-tiba terpental ketika ditangkis lawan, membuat Swi Cu terpelanting dan gadis ini kaget bukan main karena tenaga lawan sekarang demikian hebatnya. Telapak tangannya sampai pedas dan Swi Cu yang bergulingan menyelamatkan diri tiba-tiba melihat bayangan lawan menyambar, menubruk dan mengejarnya. Dan ketika gadis ini menjerit sambil menggerakkan pedangnya membacok tiba-tiba pedangnya malah mencelat dan tangan lawan pun sudah mencengkeram bahunya. “Aduh, tolong, Beng Tan. Tolong….!” Jeritan ini menggugah kesepian malam. Swi Cu yang tak tahan lagi dan tahu kelihaian Si Golok Maut akhirnya menjerit dan berteriak memanggil Beng Tan. Suaranya penuh ketakutan dan melengking tinggi. Maklumlah, Swi Cu juga kesakitan oleh cengkeraman lawan yang amat kuat dibahunya. Dan ketika lawan terkejut karena Swi Cu memanggil kekasihnya maka di luar terlihat sesosok bayangan dan Beng Tan berkelebat muncul, seperti iblis. “Swi Cu, apa yang terjadi?” GolokMaut terkejut. Kamar dalam keadaan gelap-gulita. Jari pun tak dapat dilihat namun sebagai orang berkepandaian tinggi Beng Tan dapat melihat bayangbayang hitam di dalam, juga keluhan atau rintihan Swi Cu, yang tampaknya tertindih dan bayangan hitam itu mencekiknya, Dan ketika Beng Tan tentu saja terkejut dan bayangan itu juga terkejut, karena cekikannya segera mengendor dan berkelebat ke arah Beng Tan tiba-tiba kedua tangannya sudah memukul dan melepas sebuah pukulan dahsyat. “Dess!” Beng Tan terlempar berjungkir balik. Pemuda ini berteriak namun dapat menahan pukulan itu, dia tadi mau memasuki jendela namun lawan di dalam sudah mendahului, menyerang dan melepas pukulannya. Dan ketika Beng Tan berjungkir balik dan terkesiap melihat lawan yang bercaping maka Swi Cu di dalam sudah bangkit berdiri dan terhuyung-huyung menudingkan jarinya. “Dia… dia GolokMaut. Aku mau diperkosanya!” Beng Tan tertegun. Dia sudah melayang turun ketika Swi Cu terhuyung dan memaki lawannya itu, berkelebat keiuar. Dan ketika Golok Maut, laki-laki yang mereka duga itu mendengus dan berjungkir balik melayang turun maka tokoh bercaping ini tiba-tiba melarikan diri. “Hei..!” Beng Tan terkejut, marah. “Jangan lari, Golok Maut. Tunggu..!” Namun Swi Cu tiba-tiba mengeluh. Entah kenapa mendadak gadis itu jatuh terduduk, memanggil nama Beng Tan dan roboh ke tanah. Dan ketika lawan di depan juga melepas empat batang pisau kecil dan Beng Tan menyampok runtuh maka dari empat penjuru tiba-tiba muncul bayangan-bayangan Mo-ko danMindra. “Tahan, kejar! Dia… dia GolokMaut!” Beng Tan gugup, mau mengejar lawan atau melihat kekasihnya dulu. Swi Cu terkapar dan merintih-rintih di sana, kesakitan. Dan ketika Mo-ko serta lain-lainnya tertegun dan menjublak di tempat maka Golok Maut berseru bahwa mereka boleh mengejarnya sampai di Lembah Iblis. “Siapa yang ingin mati boleh mengejar aku. Sampai di Lembah Iblis!” Mindra dan keempat temannya tertegun. Mereka sudah terlanjur jerih mendengar nama Si Golok Maut. Tanpa disangka tanpa dinyana tiba-tiba tokoh itu muncul, di tempat mereka. Dan ketika Beng Tan berteriak-teriak sementara pemuda itu sudah menolong kekasihnya maka Mindra dan empat temannya ini tak ada yang mengejar, mendelong mengawasi lawan yang sebentar kemudian sudah lenyap, hilang ditelan kegelapan malam. “Hei..!” Beng Tan melotot. “Kejar dan tahan dulu jahanam itu,Mo-ko. Sebentar kemudian aku membantu!” Mo-ko bergerak. Akhirnya mereka mengejar namun kesan ayal-ayalan tak dapat disembunyikan. Iblis hitam putih ini tak mungkin berani melaksanakan perintah Beng Tan sepenuhnya. Dan ketika Mindra juga bergerak dan Sudra pura-pura meledakkan cambuknya maka Beng Tan mengepal tinju menolong kekasihnya, yang tiba-tiba biru dan kehitaman mukanya. “Ah, kau terkena racun. Keparat, GolokMaut juga suka mempergunakan racun!” Beng Tan marah, terbelalak dan cepat menolong kekasihnya dan menotok sana-sini. Beng Tan menjejali kekasihnya dengan sebutir obat penawar racun. Namun ketika Swi Cu masih mengeluh dan menggigil tubuhnya maka gadis ini mengerang dan roboh pingsan. “Keparat!” Beng Tan jadi semakin bingung lagi, tak mungkin mengejar lawannya. “Kau keji dan curang, Golok Maut. Tak sangka kalau sekarang kau suka mempergunakan racun dan segala kekejian menjijikkan!” Beng Tan berkelebat, menolong dan membawa kekasihnya ke kamar dan segera pemuda itu menyalakan lampu. Di dalam dia melihat kursi dan meja yang jungkir balik. Bekas pertempuran memang tak dapat disembunyikan lagi. Dan ketika Beng Tan melihat luka cengkeraman di bahunya maka pemuda ini terkejut dan cepat menempelkan lengan di bahu kekasihnya itu, yang tiba-tiba panas seperti terbakar! “Bedebah! Jahanam terkutuk!” Beng Tan merah padam, marah dan cepat tanpa banyak bicara lagi dia mengerahkan sinkangnya untuk “menyedot” racun di bahu kekasihnya itu. Dan ketika tak lama kemudian darah menghitam keluar bercampur bau yang busuk maka Swi Cu mengeluh sadar membuka matanya, langsung menangis dan mengguguk menubruk Beng Tan “Golok Maut… Golok Maut mau memperkosaku. Dia… dia jahanam terkutuk!” “Sudahlah,” Beng Tan lega, memeluk kekasihnya ini. “Kau sudah selamat, Cu-moi. Dan telanlah sekali lagi obat ini.” Beng Tan menyerahkan dua pil merah muda, memberikan minuman dan Swi Cu terisak menerima semuanya itu. Dan ketika obat sudah bekerja cepat dan Swi Cu dapat melompat bangun maka diluar Coa-ongya tibatiba muncul. “Kalian tak apa-apa? Swi Cu selamat?” “Ah,” Beng Tan bangkit berdiri, memutar tubuhnya. “Kekasihku selamat, ong-ya. Tapi Golok Maut melarikan diri!” “Aku tahu… aku sudah mendengar,” dan ketika pangeran itu mengepal tinjunya dan mencaci-maki GolokMaut maka malam itu Mindra dan kawan-kawannya melapor bahwa mereka tak dapat menangkap laki-laki bercaping itu, yang sudah menghilang dan lenyap di gelapan malam. Beng Tan maupun Coa-ongya dapat memaklumi itu, Beng Tan bahkan diam-diam tahu bahwa Mindra dan empat temannya ini tak mungkin melakukan pengejaran sungguh-sungguh. Dia tentu saja tahu bahwa kelima orang ini gentar menghadapi Golok Maut, yang lihai dan memiliki golok mengerikan itu. Dan ketika malam itu mereka kembali ke tempat masing-masing dan sedikit kegaduhan itu berhasil diatasi maka Beng Tan diminta agar pindah ke kamar belakang pula, oleh Swi Cu. “Aku takut. Golok Maut amat lihai. Kau pindah kebelakang juga, koko.Menemani aku di kamar sebelah!” “Hm, akan kuminta pada pangeran,” dan ketika Beng Tan menyatakan itu dan Coa-ongya tampak ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala maka malam itu Beng Tan pindah di kamar belakang, bersebelahan dengan kamat Swi Cu. “Coba ceritakan sekali lagi apa yang kau alami ini. Bagaimana GolokMaut datang dan apa yang dia lakukan.” “Dia tahu-tahu ada di kamar ini, lampu padam. Dan ketika aku terkejut dan terbangun tiba-tiba dia sudah menubruk dan memeluk aku!” “Hm!” Beng Tan merah mukanya. “Lalu apa yang dia lakukan, moi-moi?” “Dia… dia menindih tubuhku, menciumi! Ah, tak usah kukatakan ini, koko. GolokMaut itu jahanam keparat!” Swi Cu menangis, menutupi mukanya dan ada rasa panas di hati Beng Tan. Pemuda ini terbakar dan tiba-tiba secara aneh dipandanginya kekasihnya itu. Swi Cu tiba-tiba seolah barang “kotor” yang harus dicurigai. Namun ketika Beng Tan menarik napas panjang dan hampir saja terjebak dalam nafsu egonya tiba-tiba dia memeluk dan mencium rambut kekasihnya ini. “Sudahlah, dia… dia tak sampai mengganggu, bukan?” “Apa? Maksudmu… ah, tidak, koko. Kalau itu terjadi lebih baik aku mati bunuh diri!” Beng Tan lega, memeluk dan mencium kekasihnya ini lagi dan Swi Cu tiba-tiba kecewa. Dia kecewa kenapa Beng Tan ada kecurigaan seperti itu, tak percaya.Maka ketika dia melepaskan diri dan marah memandang kekasihnya itu tiba-tiba gadis ini berkata, “Aku besok tak ikut denganmu. Aku ingin kembali!” “Eh!” Beng Tan terkejut. “Apa maksudmu, moi-moi? Kembali kemana?” “Hek-yan-pang. Aku besok akan kesana dan tidak ikut ke Lembah Iblis!” Beng Tan melonjak. Swi Cu tiba-tiba menunjukkan kemarahannya dengan jelas, kaget dia. Dan ketika gadis itu membanting pintu kamar dan mengguguk di pembaringan maka Beng Tan berdebar mencari kesalahan sendiri. “Cu-moi, kenapa kau tiba-tiba begini? Kenapa kau marah-marah kepadaku? Apa salahku?” Gadis itu tak menjawab. Swi Cu menutupi muka dengan bantal dan tersedu-sedulah gadis itu mendengar pertanyaan Beng Tan. Dan ketika Beng Tan menunduk dan menarik bantal itu tiba-tiba gadis ini malah membentak, “Pergi… pergi kau. Diriku sudah kotor!” Beng Tan tersentak. Untuk selanjutnya dia segera mendengar kutuk dan caci maki kekasihnya, ‘mengumpat dan memaki-maki Golok Maut itu. Dan ketika dia juga mendapat bagiannya karena gara-gara Golok Maut sekarang dia mencurigai kekasihnya maka Beng Tan sadar dan cepat tanggap. “Kau boleh tinggalkan aku, Tan-ko. Besok kau berangkat sendiri dan aku kembali ke tempat tinggalku. Aku sudah dijamah GolokMaut, jangan percaya lagi kepadaku!” “Ah-ah…!” Beng Tan tersipu. “Kau salah paham, moimoi. Aku tidak mencurigaimu dan tetap percaya padamu. Siapa bilang aku mencurigaimu? Aku percaya bahwa kau tetap bersih, dan maafkan kalau sikap atau kata-kataku menyakiti hatimu!” Swi Cu mengguguk. Dibelai dan dikecup penuh sayang begitu mendadak dia memukul-mukul dada Beng Tan. Memang dia marah dan benci kepada kekasihnya ini setelah mendengar nada pertanyaan Beng Tan. Betapapun sebagai wanita dia tahu itu, merasa, bahwa Beng Tan mencurigai dirinya dan jangan-jangan Golok Maut telah menodai, seperti halnya sucinya yang malang itu, yang sampai hamil! Namun ketika Beng Tan mengecupnya lembut dan berulang-ulang pemuda itu menyatakan maafnya akhirnya Beng Tan menarik kekasihnya ini dan berlutut di tepi pembaringan. “Moi-moi, maafkan aku. Terus terang saja, mana ada pemuda yang tak bakalan marah dan panas kalau kekasihnya dipeluk-peluk orang lain? Memang tadi aku sedikit mencurigaimu, moi-moi, terbakar. Tapi itulah tanda cintaku untukmu. Kau boleh percaya atau tidak tapi kalau besok kau tak ikut aku maka aku juga membatalkan perjalanan ke Lembah Iblis!” Swi Cu kaget. “Kau gila? Kau… kau mau menolak perintah kaisar?” “Kalau kau tak senang denganku justeru ini lebih berat, moi-moi. Kemarahan kaisar tak akan seberat kemarahanmu. Aku tak sanggup!” “Oh, tidak! Jangan, koko… jangan. Aku… aku ikut!” dan ketika Swi Cu menangis dan gemetar mengangkat bangun kekasihnya itu maka gadis ini menciumi pipi Beng Tan dengan penuh haru. Tentu saja terkejut dan terharu karena demi dia Beng Tan akan membatalkan perjalanannya ke Lembah Iblis, padahal perjalanan itu adalah perintah kaisar dan siapa pun tak boleh menolak. Menolak berarti mati dan Beng Tan sanggup melakukan itu, demi dia! Dan karena ini menunjukkan cinta yang amat besar dan kemarahan Swi Cu terganti oleh haru dan kasih yang mendalam tiba-tiba keduanya sudah berciuman dan berguling di tempat tidur. “Moi-moi, demi kau aku siap melawan siapa saja. Jangankan sri baginda kaisar, iblispun akan kulawan dan siluman atau hantu tak akan membuat aku mundur, asal selalu berdua denganmu!” “Oh, kau… kau gila, koko. Tidak, tidak boleh. Sebagai hamba yang baik kau harus melaksanakan perintah sri baginda dan untuk itu aku ikut denganmu!” “Kau tak akan meninggalkan aku? Tak jadi ke Hek-yanpang?” “Tidak, tidak… aku harus menyertaimu dan jangan kau menjadi pengawal yang tak setia pada junjungannya!” “Ah, terima kasih!” dan keduanya yang kembali sudah berciuman dan bahagia mendapatkan kehangatan cinta lalu malam itu tidur di kamar masing-masing. Beng Tan tentu saja tak mau berbuat lebih dan Swi Cu kagum akan itu. Beng Tan selalu dapat menjaga dirinya dan setiap kali mereka mabok tentu pemuda itu mendorong kekasihnya, sekedar berciuman dan berdekapan mesra. Cukup, tak mau lebih. Dan ketika malam itu keduanya kembali memperoleh nikmat dan bahagia dari cinta yang suci maka Swi Cu lega ketika kekasihnya menutup pintu kamar sambil berkata, “Nah, malam ini kita tidur bersebelahan. Tak akan ada yang berani mengganggumu. Selamat malam, moi-moi. Sampai besok dan tidurlah yang nyenyak!” Swi Cu mengangguk. Air mata kebahagiaan masih membasahi pipinya, tersenyum dan sekali lagi dia mendapat ciuman lembut di pipi. Ah, Beng Tan memang pemuda yang lembut dan halus kalau bercinta! Dan ketika malam itu mereka tidur di kamar bersebelahan dan Swi Cu tentu saja tenang maka keesokannya perjalanan ke Lembah Iblis sudah dipersiapkan. Pertarungan mati hidup antara pemuda baju putih ini dengan Si Golok Maut, pertandingan yang bakal tak terelakkan lagi! -0oodwoo0 Mari kita lihat suasana di Lembah Iblis. Seperti diketahui, lembah ini adalah bekas tempat tinggal mendiang jago perkasa Sin-liong Hap Bu Kok bersama isterinya, wanita lihai dan amat gagah yang berjuluk Cheng-giok Sian-li (Dewi Permata Hijau). Dan karena mereka berdua sudah sama-sama tiada ketika memperebutkan Golok Penghisap Darah, golok maut yang amat berbahaya itu maka seseorang telah menggantikan sepasang suami isteri itu, yakni Si Golok Maut yang membunuh-bunuhi dan amat benci kepada orang-orang she Coa dan Ci. Pagi itu Lembah Iblis masih sunyi. Ayam jantan berkokok berkali-kali dan pagi yang segar terasa menyeramkan di lembah ini. Dua tebing tinggi yang menjulang di sisi kanan lembah, tebing yang amat curam dan terjal sungguh ngeri untuk dipandang dari bawah. Lembah Iblis terletak di antara dua ceruk atau tebing ini, datar di bawah namun penuh tetumbuhan liar. Tanaman kaktus atau seruni liar tampak bertebaran dimana-mana, bercampur dengan mawar hutan atau bunga-bunga bangkai, yakni sejenis tanaman yang kalau dihembus angin mengeluarkan bau busuk. Jenis-jenis tanaman ini bertebaran rata dan suasana sunyi yang kering, benar-benar mencekam disitu. Lembah Iblis tampak gelap dan tidak bersahabat. Pendatang akan mencium bau warna-warni di situ, kalau berdiri di mulut lembah. Dan ketika semuanya itu masih ditambah dengan suara-suara Jengkerik malam yang tiada habis-habisnya mengeluarkan suara mirip iblis melengking maka Lembah Iblis benar-benar lembah yang tidak enak dimasuki. Ada kesan angker di lembah ini, juga dingin. Tak ada senyum atau tawa bersahabat. Semuanya dingin dan beku, mirip daerah makam yang dikeramatkan, dengan sebuah pohon siong yang tua dan besar. Dan ketika pagi itu Lembah Iblis masih sunyi namun diramaikan oleh suarasuara jengkerik malam yang bersahut-sahutan dan mengerik mendirikan bulu roma maka sesosok bayangan tampak terhuyung-huyung memasuki lembah, baju dan pakaiannya robek-robek, bahkan percikan darah tampak disana-sini. Siapa dia? Bukan lain Si GolokMaut, pemilik lembah! Pagi itu GolokMaut tampak letih dan kehabisan tenaga, baru pulang dari kota raja setelah membunuh Ci-ongya disana, mengamuk dan membabat habis tigaratus pengawal dan busu. Dia letih dan ingin beristirahat, pulang kandang. Dan ketika pagi itu tokoh bercaping ini terseok-seok melangkah sementara pangkal lengan dan mata kakinya luka berdarah maka orang tahu bahwa Golok Maut memang nyaris celaka dalam satu pertempuran berat. Tidak aneh. Dia hampir saja terperangkap dan tertangkap barisan jaring, jala-jala berkait yang dilepas para pengawal. Namun karena dia berkepandaian tinggi dan golok maut ditangannya itu mampu menabas putus setiap jaring yang datang maka tokoh ini selamat dan kini meninggalkan istana setelah satu dari dua orang musuhnya yang amat dibenci berhasil dibunuh. Ci-ongya teiah digorok dan semacam kepuasan aneh tampak di mata yang bersinar-sinar itu. Golok Maut sering terse-nyum dan tertawa sendiri, kalau memba-yangkan betapa dia telah menipu penjaga dan memanggil pangeran she Ci itu, yang dengan mudah dibabat dan dipenggal lehernya. Namun ketika dia mengeluh dan keletihan luar biasa akibat keroyokan berat itu mengganggu tubuhnya tiba-tiba tokoh ini jatuh terduduk dan tak sanggup menyeret kakinya lagi. “Koaakk…!” Seekor gagak tiba-tiba melayang di atas kepala. Pekik dan jeritnya yang mengejutkan tokoh ini tampak membuat Golok Maut menengadahkan muka, meiihat gagak itu terbang rendah dan tiba-tiba se-suatu benda jatuh dari atas. Golok Maut terkejut dan mengelak, kalah cepat dan terdengarlah bunyi “ketepok” ketika caping lebarnya dijatuhi benda itu. Dan ketika dia tertegun dan melepas capingnya, meiihat benda apa itu maka ternyata kotoran gagak menimpa dirinya, tahi si ga-gak hitam! “Keparat,” Golok Maut mendesis. “Apa maksudmu, gagak hitam? Kau memberi tanda buruk kepadaku?” “Koaak…. koaakk….!” sang gagak me-neruskan terbangnya, lenyap di timur dan muka tokoh ini berubah. Ada hal-hal yang menjadi pantangan kalau tinggal di Lembah Iblis. Pertama tak boleh kejatuhan tahi burung, apalagi gagak. Dan kedua adalah tak boleh memaki sembarangan. Lembah Iblis amat pantang untuk mendengar sumpah serapah bagi yang tinggal di situ, mulut harus dijaga dan pantangan ini harus dijaga kalau tak ingin terjadi sesuatu yang tidak-tidak. Maka ketika pagi itu Si Golok Maut kejatuhan kotoran gagak dan dia tertegun merasakan getaran kuat tiba-tiba seekor kelinci meloncat melewati atas kepalanya dipatuk seekor ular. “Sshh…!” Golok Maut kembali terkejut. Kelinci itu ketakutan dan menguik melompati kepalanya, begitu saja, kurang ajar. Dan ketika dia terkejut dan ular yang mematuk gagal mendapatkan korbannya tiba-tiba ular ini yang marah dan kaget melihat Si Goiok Maut mendadak menyambar dan menyerang laki-laki bercaping ini, ular yang kelaparan! “Jahanam!” Golok Maut menggerakkan tangannya. “Kau tak tahu siapa aku, ular belang? Pergilah, dan mampus kau… ple-tak!” Golok Maut mendahului, menangkap dan memelintir kepala ular dan tewaslah ular itu dengan kepala hancur. Tapi baru laki-laki ini melempar bangkai ular dengan gemas mendadak auman dahsyat menggetarkan isi lembah dan seekor hari-mau loreng tibatiba muncul di situ, penghuni dari luar lembah. “Auummm…!” Golok Maut tersentak. Tak biasanya Lembah Iblis didatangi binatang-blnatang buas yang berasal dari luar. Dia selalu menjaga di situ dan hanya hewan-hewan kecil seperti kelinci atau sebangsanya yang boleh tinggal, karena mereka biasa-nya menjadi santapan baginya. Maka ketika pagi itu seekor harimau loreng datang mengaum dan harimau inipun tampaknya kelaparan karena cepat menyambar bang-kai ular yang dibuang Si Golok Maut tiba-tiba si raja hutan yang rupanya masih kelaparan ini menyambar Golok Maut. “Dess!” Golok Maut menendang. Si raja hutan terpekik dan terlempar, jatuh tapi sudah menyerang lagi. Dan ketika Golok Maut menjadi marah karena binatang ini tak tahu diri maka dari mana-mana muncul harimau-harimau loreng yang sama besar dan ganasnya, lima ekor jumlahnya. “Bagus, kalian minta mati? Majulah, dan kebetulan kalian di sini, harimau-hari-mau keparat. Aku ingin melepaskan kesal-ku dengan menghajar kalian… erat!” sinar putih berkelebat, tahu-tahu menyambar dari balik punggung laki-laki itu dan robohlah harimau pertama. Harimau ini tak sempat mengaum karena batang kepalanya tahu-tahu menggelinding, putus dibabat sinar putih panjang itu. Dan ketika sinar ini masih bergerak dua tiga kali ke kiri kanan maka tiga yang lain roboh bergelimpangan disambar golok di tangan Si Golok Maut itu, Golok Penghisap Darah. “Crat-crat-crat!” Empat harimau terkapar mandi darah.Mereka dikutungi kepalanya dan harimau terakhir tampak terkejut, merintih dan tiba-tiba memutar tubuhnya, lari. Agak-nya, sebagai binatang, dia memiliki nalu-ri tajam bahwa lawan yang dihadapi kali ini amatlah bengis dan berbahaya. Maka begitu dia mengaum dan melompat panjang tiba-tiba dia meninggalkan pertempur an tapi Si Golok Maut terlanjur marah. “Jangan lari, kaupun harus kuhukum!” laki-laki ini bergerak, maju berkelebat dan ioncatan panjang si harimau loreng masih kalah cepat dengan gerakan laki-laki bercaping ini. Golok Maut melesat bagai hantu kesiangan, senjata di tangannya bergerak tapi saat itu tiba-tiba dari samping kanan menyambar seekor harimau cilik. Harimau ini memekik dan aum-nya yang kecil menggetarkan cukup menge jutkan isi lembah. Dan ketika Golok Maut tertegun namun menggerakkan tangan-nya ke kanan tiba-tiba harimau kecil itu terlempar sementara yang besar, yang disambar golok maut terpapas telinganya. “Crat!” Sang harimau memekik. Dia mengaum terlempar di sana, terguling-guling. Namun ketika Golok Maut berkelebat dan kembali mengejar tiba-tiba harimau cilik yang rupanya anak dari sang induk menyerang dan menubruk Si GolokMaut lagi” Des-dess!” Golok Maut marah, menen-dang harimau cilik itu dan harimau ini terlempar seperti induknya, memekik dan terguling-guling. Dan ketika Golok Maut tertegun karena sang induk sudah menggeram dan bergerak mendekati anaknya maka dua ekor harimau itu sudah berdiri berdampingan dengan mata bersinar-sinar, marah tapi juga gentar menghadapi Si GolokMaut. “Enyahlah!” Golok Maut terkejut, ter-tegun dan heran memandang dua harimau anak dan induknya itu, tak jadi menggerakkan golok. “Pergi kalian, binatang sialan. Dan jangan melotot di sini!” Aneh sekali. Harimau yang besar seolah mengerti dan mengaum, lirih bercam-pur erangan karena telinga sebelah kirinya putus. Potongan telinga itu masih ter kapar di tanah dan si harimau cilik menggeram-geram. Meskipun takut namun agaknya harimau ini siap membela induknya kalau Golok Maut menyerang lagi. Tapi ketika Golok Maut mengusir dan membentak mereka tiba-tiba sang induk melompat dan pergi meninggalkan tempat itu. Golok Maut terhenyak. Harimau yang kecll juga membalik dan mengaum tanda lega. Induknya disusul dan lenyaplah mereka berdua ketika hilang di iuar lembah. Dan ketika Golok Maut termangu-mangu dan menjublak di tempat maka pagi itu empat harimau melintang mayatnya tanpa kepala. “Terkutuk,” Golok Maut memaki. “Kenapa kalian mengganggu aku, harimau-harimau keparat? Kalau kalian tak datang mengganggu tentu kalian tak akan mati konyol!” Angin bertiup. Tiba-tiba seolah menja-wab kekesalan hati laki-laki ini menda-dak terdengar cicit dan kelepak burung-burung malam. Seratus kelelawar tiba-tiba beterbangan memasuki lembah, menci-it dan gugup seolah digebah iblis. Dan ketika mereka berputar-putar di atas kepala tokoh bercaping ini dan dua di antaranya menabrak Si Golok Maut tiba-tiba Golok Maut berseru keras menangkap dan mencengkeram mereka sampai hancur. “Keparat!” dua ekor kelelawar itu remuk, dibuang bangkainya dan ratusan kelelawar lain lagi muncul. Golok Maut terkejut karena seperti pasukan siluman saja kelelawar-kelelawar itu beterbangan memasuki Lembah Iblis. Mereka mencicit-cicit dan berputaran di atas kepalanya. Suasana menjadi gelap dan langit yang terang tiba-tiba menjadi hitam oleh ba-nyaknya kelelawarkelelawar vang beterbangan ini. Dan ketika Golok Maut terbelalak dan merasakan firasat yang tidak enak tiba-tiba dari timur muncul tujuh gagak hitam yang berkaok-kaok. “Koaakk….. koaakkk….!” Golok Maut berdiri bulu kuduknya. Baru kali ini selama hidupnya dia mendapat Kejadian begitu aneh. Lembah Iblis dida-tangi hewan-hewan langit dan mereka semua beterbangan mengelilingi tubuhnya. Dari atas mereka mengeluarkan suara-suara ramai layaknya musuh yang maju perang. Dan ketika laki-laki ini tertegun dan merinding bulu romanya tiba-tiba ia-ngit yang hitam dipenuhi kelelawar-kelela-war itu meledak dan mengeluarkan suara macam guntur. “Blarr!” Sinar warna-warni memenuhi langit hitam. Entah dari mana tiba-tiba muncul sesosok asap putih jingga, meluncur dan berkelok tiga kali membentuk seekor na-ga. Dan ketika gagak di atas berkoak ke-takutan dan kelelawar-kelelawar yang beterbangan juga buyar dan mencicit meng-hilang cepat maka terdengar suara tawa terbahak mirip iblis mendapatkan buruannya. “Ha-ha, selamat datang, Golok Maut. Selamat bertemu kembali. Aku arwah Mo-bin-lo (Si Muka Iblis) datang menemuimu!” Golok Maut pucat. Tiga bayangan asap putih yang berkelok tiga kali di udara sejenak memperlihatkan bayangbayang naga, berobah dengan cepat dan tahu-tahu seorang kakek tinggi besar berwajah menyeramkan muncul di sana, di langit yang hitam. Dan ketika GolokMaut ter-kesiap dan senjata di sarungnya meledak tiba-tiba Golok Penghisap Darah yang ada dibelakang punggungnya itu melesat dan terbang menuju kakek ini, Mo-bin-lo, atau lebih tepat, arwah Mo-bin-lo. “Darr!” Golok Maut tak sanggup menahan kilatan cahaya itu. Sinar yang luar biasa terangnya mendadak pecah di udara, meledak dan tak kuat dia bertahan. Dan ketika dia memejamkan mata dan apa boleh buat harus melengos dari kilatan warna-warna terang di langit yang gemebyar itu tiba-tiba suara dari atas terdengar lagi, kini dingin menyeramkan, menyerupai bentakan seorang kakek terhadap cucunya. “Golok Maut, kau bocah iblis. Kenapa kau menodai Golok Penghisap Darah ini dengan perbuatanmu menggauli ketua Hek yan-pang itu? Kau harus mencuci dosa ini dengan darahmu, atau senjata ini tak bakal bertuah lagi gara-gara perbuatanmu!” Golok Maut terkejut. Dia membuka mata dan serangkum angin pukulan meng-hantam tubuhnya. Entah bagaimana tahu-tahu asap atau roh di udara itu menukik, menyambar dan sudah menyerang dirinya. Dan ketika dia mengelak namun kalah ce-pat maka asap seperti iblis itu menghantamdirinya. “Bress!” Golok Maut terlempar. Hampir tak masuk akal tahutahu tubuhnya terangkat dan terlempar naik, terbanting dan terguling-guling di sana, terjengkang. Dan ketika dia kaget melompat bangun namun golok menyambar lagi ke sarungnya maka sesuatu yang dingin terasa melekat di belakang punggungnya itu. “Aku selalu mengikutimu, atau kau mati membayar dosa!” “Ooh…!” Golok Maut menggigil, tiba-tiba ketakutan hebat. “Tolong aku, suhu, tolong…!” dan Golok Maut yang berkele-bat serta naik ke tebing tiba-tiba berjungkir balik dan berkali-kali menggerakkan tubuhnya. Dari bawah dia sudah menjejak dan menendang dinding enam tujuh kali. Setiap kali tentu mencelat atau melambung ke udara. Dan ketika semua gerak-an itu membuat tubuhnya mumbul dan mumbul semakin tinggi akhirnya tebing yang tingginya tak kurang dari seratus tombak itu sudah dilalui dan selamat tiba di atas, hanya sekejap mata saja! “Subo, tolong! Suhu, tolong aku…!” GolokMaut bagai anak kecil. Ledakan dan suara tawa di atas langit tadi sungguh membuat jiwanya menciut. Golok Maut diancam roh halus dan itulah pembuat atau penempa Golok Penghisap Darah. Mo-bin-lo adalah kakek pencipta Golok Maut, pembuat dan penempa yang amat hebat, hidup pada ratusan tahun yang lalu dan kakek ini adalah kakek iblis yang amat sakti, keji dan kejam namun penuh daya linuwih. Golok Penghisap Darah yang di-buatnya Itu “diisi” tapa dan puasa sela-ma sepuluh tahun, hidup meraendam diri dan tujuh tahun penuh kakek Ini berada di sarang ular, tak bergerak dan tak bergeming menyatukan diri dalam alam sama-dhi yang mengerikan. Kakek itu sedang bertarung melawan seorang pendekar sak-ti yang dua kali mengalahkannya, membu-at atau mencipta golok yang ampuh dan akhirnya berhasil. Golok itu hanya pantang dikotori oleh hubungan suami isteri. Hanya kaum bujang atau perawan saja yang boleh memegang. Mereka yang sudah bersuami isteri dilarang keras memegang atau memiliki golok ini, karena dapat berakibat fatal. Namun ketika golok selesai dibuat dan kakek itu mencari musuhnya ternyata orang hebat yang mengalahkannya itu sudah meninggal dunia. Mo-bin-lo menyumpah-nyumpah. Kakek ini menggeram di bukit Iblis dan gugurlah bukit yang ditempati itu, marahmarah di lautan dan lautan pun tiba-tiba membuih, bergolak dan menimbulkan gelombang pasang di mana para nelayan maupun pencari ikan lainnya diserang om-bak besar. Rumah-rumah roboh dan ratus-an orang tenggelam atau hanyut, terba-wa oleh getaran sakti kemarahan kakek menyeramkan ini. Dan karena lawan yang dicari sudah meninggal dunia dan kakek itu tak dapat membalas musuhnya maka Mo-bin-lo mencari di akherat! “Kakek ini dahsyat luar biasa. Segala iblis dan siluman tak ada yang mampu melawan. Dewa-dewa di arfgkasa juga tak ada yang mampu menandingi, kecuali pendekar sakti yang sudah menjelma menjadi mahluk suci di alam halus sana. Maka ketika kakek itu mengamuk dan akhirnya bertemu lawannya ini di akherat maka bertempurlah keduanya namun kakek itu kalah lagi,” begitu gurunya pernah bercerita. “Lalu apa yang terjadi, suhu? Bagaimana selanjutnya?” GolokMaut bertanya. “Kakek ini terpaksa mengakui kekalahan. Mo-bin-lo melarikan diri namun roh-nya yang tak dapat kembali ke badan kasar akhirnya gentayangan di tempat-tempat gelap dan angkasa yang luas. Karena itu hati-hati, jangan sampai melanggar larangan kakek ini atau kau akan celaka terkena kutuknya.” Begitu Golok Maut pernah mendengar nasihat suhunya. Gurunya itu berkata seperti itu namun gurunya sendiri ternyata melanggar. Sebagai laki-laki yang sudah beristeri ternyata gurunya memegang Go-iok Maut, terkutuk dan akhirnya kena tuah dari sumpah si pembuat golok. Dan ketika gurunya mati sampyuh karena bertanding dengan isterinya sendiri, hal yang terjadi akibat kutukan maka guru dan ibu gurunya itu akhirnya tewas dan mati berbareng. “Kau ingat itu baik-baik,” gurunya pernah berpesan sebelum ajal. “Golok Maut jangan dikotori dengan perbuatan-perbuatan yang menjadi larangannya. Jangan berpacaran dulu, apalagi sampai mengadakan hubungan suami isteri. Jangan mengeluarkan kata-kata makian kalau kau sedang berada di Lembah Iblis. Kau mengerti?” Golok Maut mengangguk. Waktu itu dia menanggapi semua kata-kata gurunya itu dengan dingin dan sedikit tak acuh. Pacaran? Ah, dia tak ada minat untuk mendekati wanita. Dendamnya terhadap orang-orang she Coa dan Ci membekukan semua hatinya tentang cinta. Tak terbersit di hatinya bahwa dia ingin pacaran, a-palagi mengadakan hubungan suami isteri. Jijik dia! Tapi ketika hal itu terjadi juga dan dia sudah melanggarnya dengan jatuh cinta dan bersebadan dengan ketua Hek-yan-pang itu tiba-tiba Mobin- lo muncul dengan tawa kutuknya di udara. Goiok Ma ut kena tuah! Dan kini, mendengar suara dari langit itu dan kakek tinggi besar yang menyeramkan itu seolah membayang-inya dan mengejar ke tnanapun dia pergi maka Golok Maut terengah menaiki tebing dan langsung berlarian jatuh bangun menuju sepasang makam yang tegak membisu di antara tanaman perdu liar. “Suhu, tolong…. subo, tolong…!” Golok Maut mendeprok, langsung roboh berlutut dan menggigil membentur benturkan dahinya di batu nisan itu. Dalam keadaan seperti itu di mana tak ada sahabat atau pun teman maka makam sepasang gurunya ini adalah penunjuk satu-satunya. Makam itu lebih dari sahabat dan Golok Maut kini gemetaran berlutut di situ, menangis seperti anak kecil karena tawa atau ancaman dari roh di langit itu menggetarkan hatinya. Betapapun dia adalah manusia biasa dan Golok Maut kini berubah sebagai lakilaki yang lemah dan tak berdaya, ketakutan dan memanggil-manggil suhunya. Dan ketika dua jam kemudian tokoh ini berlutut dan gemetar memanggilmanggil gurunya mendadak di atas makam terdengar sebuah ledakan dan muncullah roh dan seorang laki-laki gagah perkasa, mendiang Hap Bu Kok yang menampakkan diri dalam bentuk badan halus. “Muridku, kenapa kau memanggil-manggil aku? Apa yang terjadi? Kenapa kau mengerahkan Kun-tek-giam-ong (Raja AkheratMembuka Pintu)?” “Ampun..!” Goiok Maut terkejut, tapi girang luar biasa. “Aku… aku ingin minta tolong padamu, suhu. Teecu (aku) melanggar pantangan GolokMaut!” “Apa yang kau lakukan?” “Teecu… teecu mencinta seorang gadis…” “Hm, belum melanggar!” “Tidak… tidak, suhu. Teecu… teecu bukan hanya mencinta saja melainkan juga telah melakukan hubungan badan. Arwah Mo-bin-lo yang suhu katakan itu sekarang mengejar-ngejar teecu. Teecu mau dibunuh!” “Hm!” Sin-liong Hap Bu Kok tampak terkejut. “Kau bertemu kakek ini, murid-ku? Dan kau telah diancamnya?” “Benar, teecu…. teecu takut, suhu. Teecu tak ingin mati sebelumdua musuh besar teecu terbunuh!” Roh dari laki-laki gagah itu tergetar. Golok Maut berkeringat dan tubuhnya juga selalu menggigil. Sinar menghitam tiba-tiba menyelimuti wajah dan tampak bayang-bayang aneh mengelilingi pemuda ini. Ada bentukbentuk seperti anjing atau wanita cantik berseliweran di situ. Golok Maut sedang berada di alam aneh karena dia memanggil gurunya dengan ilmu Kun-tek-giam-ong, ilmu yang hanya boleh dipergunakan sekali saja dalam hidup, ilmu yang khusus memanggil arwah api setelah itu harus dibuang jauh-jauh. Pelepas ilmu ini untuk kedua kalinya bisa terseret ke akherat kalau berani coba-coba, alias akan terbawa nyawanya kalau mempergunakan lebih dari sekali. Maka ketika pagi itu GolokMaut terpaksa mempergunakan ilmunya ini untuk bertemu gurunya di akherat maka roh atau arwah dari Sin-liongHap Bu Kok itu tampak tertegun. “Bagaimana, suhu? Apa yang harus teecu lakukan?” “Hm…!” laki-laki gagah ini bersedakap. “Tak ada jalan lain kecuali membunuh kekasihmu itu, muridku. Pergi dan cari dia dan berikan arwahnya padaMo-bin-lo!” “Teecu…. teecu harus membunuhnya?” “Ya, atau kau yang harus mati, muridku. Kutuk atau pantangan golok itu telah kau langgar. Kau membuat kemarah-an Mo-bin-lo. Tak ada jalan kecuali membunuh kekasihmu itu dan cepat-cepat cari dua musuhmu itu sebelum Mo-bin-lo meminta nyawamu melalui Golok Maut!” Pemuda bercaping ini menggigil. Dia bertanya iagi apakah permintaan itu tak dapat dirobah, maksudnya, ditawar. Apakah tak dapat nyawa orang lain saja sebagai penukar. Tapi ketika gurunya meng-geleng dan berkata bahwa itu satu-satunya cara untuk melepas “tumbal” maka GolokMaut menggigil dan berketrukan giginya. “Kau tinggal memilih, menyerahkan nyawamu atau nyawa kekasihmu itu. Nah, selamat tinggal, muridku. Dan jangan main-main dengan ilmu Kun-tek-giam ong lagi… plash!” arwah atau roh halus itu hilang dalam satu ledakan kecil, lenyap dan entah ke mana dan Golok Maut pun tibatiba terbanting roboh. Tubuh yang menggigil dan muka yang kehitaman itu sekarang pullh kembali. Golok Maut telah diberi pilihan dan tinggal menentukan nasibnya. Dan ketika laki-laki itu me-ngeluh namun kepalan tinju menunjukkan keputusannya maka di bawah lembah sesosok tubuh terhuyung-huyung menghampiri. “Golok Maut, keluarlah. Aku datang untuk menuntut balas!” Golok Maut tertegun. Seorang gadis cantik berpakaian merah datang meng-hampiri, terseok dan menangis serta memanggil-manggil namanya. Dan ketika gadis itu sudah memasuki lembah dari berdiri di ujung sana maka Golok Maut berkilat girang karena itulahWi Hong, kekasihnya! “GolokMaut, keluarlah. Aku datang!” GolokMaut berkelebat. Tiba-tiba dengan cara berjungkir batik dia meluncur turun ke bawah, geraknya bagai elang rajawali atau garuda menyambar. Dari tempat setinggi itu mengembangkan kedua lengannya di kiri kanan tubuh, meluncur dan tiba-tiba sudah menyambar bagai rajawali haus darah. Dan ketika tubuh itu hinggap dengan ringan dan gadis baju merah yang berteriak-teriak memanggil namanya ini tertegun kaget maka muka yang mangarmangar dan cantik tapi penuh air mata itu tiba-tiba beringas tapi juga girang. “Golok Maut, kau datang sebagai laki-laki gagah. Nah, aku mencarimu dan sengaja ingin menantang maut. Kau pernah bilang untuk membunuhku kalau bertemu lagi. Kini aku datang untuk membunuh atau dibunuh!” Golok Maut berkilat. “Wi Hong,” suara ini tak bersahabat. “Aku memang pernah bicara seperti itu dan sungguh kebetulan kalau kaupun mencari aku di sini. Aku ingin membunuhmu, dan maaf bahwa segala kenangan kita terpaksa kubuang jauh-jauh. Nah, kau majulah dan serahkan nyawamu!” “Srat!” Wi Hong, gadis cantik itu men-cabut pedang. “Aku memang ingin mencarimu, Golok Maut. Menuntut balas dan sakit hati. Kau boleh bunuh aku atau aku yang akan membunuhmu!” dan pedang yang bergerak tanpa banyak bicara lagi tiba-tiba mendesing dan sudah menuju tenggorokan Si Golok Maut ini, yang mengelak dan mundur selangkah dan pedang pun luput mengenai angin kosong. Wi Hong membentak lagi dan memutar pedangnya, tiga kali membuat gerakan me-lingkar dan ditikamlah ulu hati serta dada lawan. Namun ketika Golok Maut mengengos dan serangan itu gagal lagi maka Wi Hong berkelebat dan tangan kirinya pun melepas pukulan Ang-in-kang (Awan Merah). “Des-dess!” Golok Maut tergetar. Wl Hong memang bukan gadis sembarangan dan jelek-jelek sebagai ketua Hek-yan-pang dia adalah tokoh keias satu. Maka ketika pukulan i-tu menggetarkan Si Golok Maut dan untuk selanjutnya gadis atau ketua Hek-yan-pang ini sudah berkelebatan cepat dengan seruan atau bentakan nyaring maka pedang dan pukulan bertubi-tubi menghujani Si Golok Maut ini, menyambar naik turun bagai naga sedang murka dan ilmu pedang Walet Hitam mengurung Si Golok Maut dengan cepat. Golok Maut terpaksa mengikuti namun Wi Hong mengerahkan ginkangnya, lenyap dan melengking-lengking menyerang lawannya itu. Dan ketika Ang-in-kang atau pukulan Awan Merah menyambar-nyambar pula dari tangan kirinya maka untuk beberapa jurus Golok Maut terdesak. “Plak-bret!” Satu tangkisan kuat agak menahan bertubi-tubinya serangan. Hujan pukulan atau tikaman yang menyerang Si Colok Maut akhirnya mulai mendapatkan perla-wanan juga,Wi Hong membentak lagi namun tergetar. Kali ini dia terhuyung dan pedang di tangannya tiba-tiba pedas di tangan. Keparat, Golok Maut mulai bersi-kap keras! Dan ketika Wi Hong melengking tinggi dan menerjang serta menusuk lagi maka pukulan Awan Merahnya mulai bertemu telapak Si GolokMaut. “Des!” Wi Hong terpental. Gadis ini kaget dan marah sekali karena pukulannya membalik. Dia harus melempar tubuh bergulingan kalau tak ingin terluka, menerima daya tolak pukulannya sendiri. Dan ketika dia membentak dan menyerang lagi maka Golok Maut mendengus dan mulai bicara, “Wi Hong, aku akan mengalah padamu sebanyak limapuluh jurus. Setelah itu kau harus mati!” “Matilah! Bunuhlah! Aku tak takut mati atau ancamanmu, Golok Maut. Kau memang laki-laki jahanam dan terKutuk mampuslah kau… wut-singg!” pedang menyambar lagi, kian ganas dan cepat namun Golok Maut mengelak. Dan ketika pedang bergulung-gulung naik turun lagi dan pu-‘tulan Awan Merah dilepas tiada henti-hentinya maka GolokMaut kembali menangkis. “Dess!” Wi Hong mencelat. Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini mengeluh dan terban-ting terguling-guiing di sana, bukan me-iempar tubuh melainkan memang terbanting oleh tangkisan Golok Maut yang me-nambah tenaganya, kian keras saja dan pucatlah gadis itu oleh sikap dingin lawan. Goiok Maut memang benar-benar telah tidak memiliki rasa cinta lagi dan mereka benar-benar musuh. Ah, sakitnya hati ini! Dan ketika Wi Hong membentak dan menyerang lagi maka GolokMaut mulal menghitung-hitung jurusnya. “Sepuluh…. sebelas…. empatbelas… des dess!” Wi Hong memaki-maki. Mengelak atau menangkis sambil menghitung-hitung jurus serangan rasanya kok semakin me-nyakitkan perasaan saja. Golok Maut bersikap merendahkan dan sikap ini amat di-benci gadis atau ketua Hek-yan-pang Itu. Tapi ketika dia menyerang dan tetap saja semua serangan atau pukulannya terpen tal bertemu lawan makaWi Hong terhuyung-huyung dan mulai menangis. “GolokMaut, kau keparat. Terkutuk!” “Hm, kau boleh memaki-maki sepuasmu. Setelah itu jangan membuka mulut lagi, Wi Hong. Maaf bahwa aku terpaksa akan mengantarmu ke akherat.” “Bedebah! Jahanam keparat!” dan Wi Hong yang kembali menyerang dan mener-jang sengit akhirnya mendapat kenyataan bahwa Golok Maul memang bukan lawannya. Hitungan jurus sudah menginjak pa-da angka ketigapuluh dan gadis baju merah itu tersedu-sedu. Golok Maut mulai bersikap bengis karena tangkisan-tangkisannya kian diperkuat saja. Sinkang GolokMaut memang masih di atas sinkangnya sendiri. Dan ketika hitungan menginjak pada angka empatpuluh satu maka pedang ditangkis tangan telanjang dan langsung melengkung. “Plak!” Wi Hong menjerit-jerit. Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini mulai histeris dan bercucuranlah air mata di wajah yang cantik itu. Golok Maut membekukan perasaannya dari Wi Hong semakin sakit hati saja. Dan ketika hitungan menginjak pada jurus keempatpuluh delapan dan Golok Maut berseru bahwa tinggal dua jurus lagi gadis itu memiliki nyawanya maka laki-laki atau tokoh bercaping ini mendesis. “Wi Hong, tinggal dua jurus lagi. Bersiaplah, setelah itu kau mati!” “Terkutuk! Bedebah! Kau bunuhlah aku, Golok Maut. Kau bunuhlah aku. Aku tak takut mati. Aku… aku… huak!” dan Wi Hong yang tiba-tiba muntah dan terpelanting roboh tiba-tiba kumat penyakitnya dan rasa mulas yang hebat mengganggu perutnya. Wanita ini sedang hamil dan tentu saja GolokMaut tak tahu. Bertempur hampir limapuluh jurus bukanlah pekerjaan ringan bagi seorang wanita hamil muda. Wi Hong telah menguras tenaga-nya padahal selama itu lawan hanya mengelak dan menangkis saja, belum membalas, apalagi mencabut senjatanya yang mengerikan itu, Golok Penghisap Darah! Dan ketika Wi Hong terpelanting bergulingan dan muntah-muntah maka pertandingan sejenak berhenti dan GolokMaut tertegun. Wi Hong disana menangis tersedu-sedu dan mengeluh panjang pendek. Perutnya didekap dan rasa kesakitan hebat di-tahan gadis itu, herari Golok Maut. Tapi ketika laki-laki bercaping ini menganggap itu hanya pura-pura saja agarWi Hong tidak menyelesaikan jurus yang kelimapuluh, berarti gadis itu selamat maka Golok Maut tertawa mengejek dan berkata, “Wi Hong, tak perlu berpura-pura. Aku belum membalasmu, bagaimana kau kesakitan begini? Hm, jangan menipu aku, Wi Hong. Aku tahu bahwa kau berpura-pura dan sengaja ingin menghentikan pertandingan, agar tak kubunuh! Sial, tak perlu kau mengelabuhi aku, wanita siluman. Keputusan telah tetap di hatiku bahwa kau harus kubunuh!” “Keparat!” Wi Hong menangis tak keruan. “Terkutuk kau, Golok Maut. Jahanam kau. Aku tak bermaksud purapura agar kau tak membunuhku. Ah, keparat kau!” dan Wi Hong yang bangkit lagi dengan air mata bercucuran lalu berusaha menyerang meskipun gemetar, menggigil dan terhuyung tapi tiba-tiba dia roboh lagi. Muntah-muntah yang mengganggunya kembali muncul, ambruk dan Golok Maut mengerutkan kening. Tapi menganggap wanita itu pura-pura saja dan ingin menghentikan pertempuran, agar dia tak mem-bunuh maka GolokMaut berkelebat dan tangan pun siap meraba gagang golok, senjata maut yang ada di balik punggungnya itu. “Wi Hong, berdirilah, dan serang aku. Selesaikan jurus kelimapuluh dan jangan harap aku memberi ampun!” “Ah, bedebah!” Wi Hong terguling, menggeliat dan melompat bangun. “Kau tak tahu bahwa aku tak berpurapura, Golok Maut. Kau jahanam mengira aku takut mati. Baiklah, inilah dua jurus terakhir dan setelah itu kubuktikan padamu bahwa aku tak minta agar kau membatalkan niatmu…. singg!” dan pedang bengkok yang menyambar lagi di tangan yang gemetar akhirnya dielak namun menusuk lagi dengan jari-jarl menggigil, ditangkis dan terlepaslah pedang itu dari tangan pemiliknya yang mencelat. Wi Hong terlempar dan terbanting roboh, mengaduh dan menangis. Dan ketika gadis itu merintih-rintih tak keruan dan Golok Maut bersinar matanya tiba-tiba pemuda itu bergerak mencabut golok mautnya, Golok Penghisap Darah! “Wi Hong, sekarang kau mati. Terimalah….!” sinar putih berkeredep, cepat dan mengejutkan mata dan Wi Hong disana terbelalak. Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini terkesiap, kaget tapi tidak takut hanya satu keluhan kecil keluar dari mulutnya saat itu. Dengan berani dan gagah dia menatap sinar maut itu, yang menyambar menuju lehernya. Sekali terpancung tentu lehernya terpenggal, bakal menggelinding dan kekejaman GolokMaut benar-benar tampak lagi. Tokoh yang sudah menetapkan keputusannya ini tak memberi ampun, apa yang dia katakan kini hendak dia laksanakan. Ah, batang leher yang halus putih itu akan segera berpisah dari ubuhnya, disusul muncratnya darah segar seperti biasanya tubuh-tubuh yang sudah roboh bergelimpangan. Tapi ketika Golok Maut berkelebat dan senjata di tangannya itu menyambar tak kenal ampun tibatiba terdengar bentakan dan dari samping menyambar sinar putih lain yang kecepatannya juga luar biasa. “GolokMaut, tahan kekejianmu……. crangg!” Sinar menyilaukan memuncrat di udara. Sebatang pedang pendek namun yang ampuhnya luar biasa telah menangkis dan menggagalkan serangan Si Golok Maut. Laki-laki bercaping ini tergetar dan ter-huyung, sinar goloknya tadi telah bertemu dengan amat keras dengan sebatang pedang yang juga berkilauan mengejutkan mata. Dan ketika GolokMaut tegak memandang dan Wi Hong di sana jatuh terduduk diteriaki sesosok bayangan lain maka Beng Tan, pemuda gagah perkasa itu telah berdiri disitu bersama Swi Cu, yang datang belakangan dan langsung menjerit menubruk sucinya! “Suci….!” Golok Maut tertegun. Disitu telah berdiri musuhnya yang amat lihai, bahkan paling lihai dan terkejutlah tokoh ini melihat kedatangan Beng Tan. Pemuda baju putih itu berkilat matanya dan kemarahan yang amat besar jelas keluar dari sepasang mata yang mencorong itu. Beng Tan marah sekali karena Golok Maut hampir saja membunuh Wi Hong, yang sedang hamil! Tapi sebelum pemuda ini bergerak dan memaki lawannya ternyata Swi Cu sudah berkelebat dan membalik menusuk lawannya itu. “Golok Maut, kau keji. Kau culas. Kau, ah… kau binatang jalang terkutuk, sing-singg!” dan pedang Swi Cu yang menyambar-nyambar bagai hujan menyerang Si Golok Maut akhirnya membuat laki-laki bercaping itu mengelak dan berlompatan, masih dikejar dan diserang bertubi-tubi, tiada habisnya. Dan ketika pedang menusuk beringas ke arah dadanya akhirnya GolokMaut membentak dan pedang di tangan gadis itupun ditangkis. “Kaupun wanita sialan….plak!” Swi Cu menjerit, roboh terguling-guling se-mentara pedangnya sendiri terlepas jatuh ke tanah. Golok Maut memang amat lihai dan jelas bukan tandingan gadis ini. Jangankan Swi Cu, yang wakil ketua Hek-yan-pang itu. Sucinya sendiri, Wi Hong, ketua Hek-yan-pang masih bukan tandingan Si Golok Maut, pria gagah perkasa tapi yang berhati keras, sekeras batu karang! Dan ketika Swi Cu terguling-guling Jan Goiok Maut menyimpan senjatanya maka Beng Tan berkelebat menolong kekasihnya itu. “GolokMaut, kau jangan menghadapi wanita. Lawanlah adalah aku, laki-laki!” Golok Maut menunggu. Dia tergetar memandang pemuda baju putih itu sementara matanya berkilat-kilat memandang Wi Hong. Kekasih yang akan dibunuhnya itu sudah mengeluh panjang pendek mendekap perut, entah kenapa. Dia mulai ragu bahwa gadis itu benar-benar tidak berpura-pura, karena Wi Hong tampak sakit dan perut serasa melilit-lilit. Dan ketika Beng Tan disana sudah menolong kekasihnya dan Swi Cu menangis memaki-maki Si GolokMaut maka Beng Tan sudah berdiri dan membalik menghadapi lawannya itu, menyuruh kekasihnya menolong Wi Hong. “Kau kesana, biar aku menghadapi ini..” “Dia… dia…” Swi Cu mengguguk tersedu-sedu. “Bunuh jahanam keparat ini, koko. Bunuh dia dan minta pertanggung jawabannya menghamili enciWi Hong!” “Sudahlah,” Beng Tan melihat muka Si Golok Maut yang berobah terkejut. “Kau kesana, Cu-moi. Tolong encimu dan biar Golok Maut bagianku. Dia memang harus dimintai tanggung jawab, juga atas perbuatannya yang malam-malam datang mengganggumu!” dan Beng Tan yang berkilat memandang Si Golok Maut akhirnya bertanya, dengan bentakan marah, “Golok Maut, kenapa kau akan membunuh Wi Hong? Kau tak suka gadis itu hamil akibat kejalanganmu? Dan kau mengganggu kekasihku pula. Sungguh tak kusangka bahwa disamping pembunuh kau pun juga seorang pemerkosa. Terkutuk!” “Apa?” Golok Maut tersentak, mundur selangkah. “Kau bilang apa, Beng Tan? Kau melancarkan tuduhan busuk? Jaga mulutmu, atau aku akan membunuhmu!” “Hm, tak perlu menggertak. Aku datang justeru untuk memintai tanggung jawabmu, Golok Maut. Di samping perintah kaisar agar aku menangkap atau membunuhmu juga bertanya kenapa kau sekarang menjadi jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa) Kau gila, kau tidak waras. Sekarang sepak terjangmu sudah benar-benar keluar garis dan tak ada lagi kekagumanku akan kegagahanmu yang dulu-dulu!” “Hm!” GolokMaut membentak. “Kau semakin melantur yang tidak-tidak, bocah she Ju. Dan kuanggap kaulah yang gila dan tidak waras! Aku memang pembunuh, tapi bukan pemerkosa! Aku akan membunuh siapa saja tapi pantang bagiku memperkosa wanita!” “Ha-ha!” Beng Tan terbahak-bahak, geli tapi marah. “Kau rampok dan maling tak tahu malu, GolokMaut. Kau si muka tebal yang benar-benar tak patut diampuni! Ah, bagaimana dengan Wi Hong yang jelas kauhamili itu? Bagaimana dengan Swi Cu yang malam itu kau ganggu dan hampir kau perkosa? Mereka-mereka ini ada dihadapanmu semua, GolokMaut. Kalau masih berani menyangkal maka dirimu bukan manusia melainkan binatang murahan!” “Tutup mulutmu!” bentakan itu bagai geledek ditengahtengah hujan deras. “Simpan semua makian dan fitnahmu ini, Beng Tan. Aku tak pernah mengganggu kekasihmu itu seperti yang kau bilang. Sedang Wi Hong, dia… dia hamil? Kau tidak dusta?” “Hm!” Beng Tan mengerutkan kening, meiihat Golok Maut tiba-tiba menggigil dan gemetar hebat. “Aku adalah seorang laki-laki yang pantang berbohong, Golok Maut. Apa yang kukatakan adalah apa senyatanya terjadi. Wi Hong memang hamil, akibat perbuatanmu. Dan karena kekejianmu memperkosanya seperti binatang maka dia rela kau bunuh! Ah, kau laki-laki tak berjantung. Sudah memperkosaWi Hong masih juga kau mengganggu Swi Cu Keparat!” “Tidak!” Golok Maut tiba-tiba berseru, mencelat ke arah Wi Hong. “Aku tak percaya, Beng Tan. Aku tak percaya!” dan GolokMaut yang sudah berkelebat dan menyambarWi Hong tiba-tiba menampar minggir Swi Cu, yang berdiri di sebelah sucinya. Dan ketika gadis itu terlempar dan tentu saja berteriak kaget maka Golok Maut sudah mencengkeram dan mengguncang-guncangWi Hong. -oo0dw0ooo- Jilid XXIV “WI HONG, kau… kau hamil? Apakah perbuatan kita dulu itu…. ah… benarkah, Wi Hong? Beng Tan tidak bohong?” “Keparat!” Wi Hong memaki pemuda ini, meronta melepaskan dirinya. “Hamil atau tidak hamil bukan urusanmu, Golok Maut. Kau memang laki-laki keji yang tidak berjantung! Hayo bunuhlah aku, dan bunuh jabang bayi yang kukandung ini!” “Oohh…!” Golok Maut mendekap keningnya. “Kau… kau sudah berbadan dua? Kau benar-benar tidak bohong?” “Tak ada untungnya bagiku berbohong. Hayo, kau bunuh aku atau aku yang akan membunuhmu, Golok Maut. Kau laki-laki keji dan pemuda tidak berjantung!” dan Wi Hong yang marah melengking tinggi tiba-tiba menggerakkan tangannya menampar pemuda itu. “Plakk?” Golok Maut mengeluh. Dia terlempar dan terbanting keras karena pukulan atau tamparan itu dikeluarkan Wi Hong dengan sepenuh tenaganya, didorong kemarahan. Dan ketika lawan terbanting dan pucat memegangi pipinya maka Wi Hong sudah berkelebat dan menyerang lagi, memukul dan menendang dan GolokMaut tidak mengelak. Laki-laki ini menerima dan suara bak-buk pukulan menghujani tubuhnya. Golok Maut jatuh bangun dan merintih panjang pendek, sama sekali tidak membalas. Dan ketika Wi Hong semakin kalap dan menjadi-jadi tiba-tiba gadis ini menyambar golok dibelakang punggung dan senjata rampasan itu langsung dibacokkan ke leher lawan. “Jangan!” Beng Tan terkejut, kaget berteriak keras dan Swi Cu sendiri juga tertegun.Wakil ketua Hek-yan-pang ini melihat sucinya yang kalap, marah dan menyambar Golok Penghisap Darah itu dari belakang punggung Si Golok Maut. Dan ketika tokoh itu diam saja dan pasrah dalam peryerahan total maka golok menyambar dan pemuda itu bakal terpisah kepalanya! Tapi tidak. Beng Tan, yang kaget dan berteriak melihat ini tiba-tiba berkelebat ke depan. Pemuda baju putih itu bergerak luar biasa cepat dan Pek-jit-kiamnya, Pedang Matahari, keluar dari sarungnya untuk menangkis bacokan maut ini. Dan ketika benturan keras tak dapat dihindarkan lagi namun Wi Hong tentu saja kalah kuat maka Golok Penghisap Darah mencelat dari tangan gadis itu namun pundak GolokMaut terkuak lebar. “Crat-cringgg!” Wi Hong mengeluh terlempar. Golok Maut sendiri roboh tersungkur dan mengerang merasakan sakitnya. Golok Penghisap Darah, goloknya sendiri sudah meminum darah tuannya. Pundak itu terluka lebar dan darah pun bercucuran deras. Wi Hong tersedu-sedu disana sementara lawannya merintih dan meratap. Dan ketika Swi Cu sadar meloncat maju dan memeluk sucinya maka dua orang itu bertangis-tangisan saling rangkul. “Suci, maafkan Beng Tan. Dia tak bermaksud menyakitimu. Sudahlah, kita berikan musuh kita itu padanya dan jangan marah.” “Aku tak dapat mengampuninya!” gadis itu berteriak disela tangisnya. “Aku benci padanya, Swi Cu. Aku benci padanya! Suruh Beng Tan minggir dan biarkan aku membunuhnya!” “Hm,” Beng Tan berkelebat, datang menepuk pundak gadis ini. “Apa yang dikata Swi Cu memang benar, Wi Hong. Serahkan GolokMaut padaku dan akulah yang akan membereskannya. Dia akan kutangkap kalau mau menyerah dan kubawa menghadap kaisar!” “Kau terkutuk!” Wi Hong tiba-tiba melompat bangun, memaki pemuda ini. “Kalau kau memang ingin menyakitiku lakukan itu, Beng Tan. Tapi jangan halangi aku membunuh binatang itu! Golok Maut bagianku, dan akulah yang akan membunuhnya!” “Hm, kau tak dapat membunuhnya,” Beng Tan berkerut kening. “Merobohkan atau membunuh musuh haruslah ksatria, Wi Hong. Jangan mempergunakan kesempatan secara tak sehat. Kau tahu sendiri Golok Maut tak membalas padamu, kenapa mendesak dan berlaku tak jujur? Kalau dia mau maka kaulah yang dibunuh. Tidak, aku ingin menyelesaikan masalah ini secara ksatria dan kau jelas bukan tandingannya. Mundurlah dan biarkan aku yang menghadapi!” dan membalik menghadapi lawan Beng Tan sudah berkelebat dan berdiri pula di depan Si Golok Maut. “Golok Maut, kau terluka. Tapi itu salahmu. Nih, terima senjatamu kembali dan mari kita selesaikan urusan ini dengan cara ksatria!” Beng Tan melempar Golok Penghisap Darah pada pemiliknya, tadi sudah mengambil dan menyelamatkan senjata itu dengan kening berkerut-kerut. Dan ketika Golok Maut terkejut dan terbelalak padanya tiba-tiba Golok Maut yang menangis ini tersedu-sedu dan menutupi mukanya, menggeleng. “Beng Tan, aku memang laki-laki yang patut dibunuh. Kau bunuhlah aku, atau biarkan Wi Hong membunuhku!” “Hm, kau berlagak apalagi?” Beng Tan tertegun, baru kali ini melihat Golok Maut menangis! “Tak usah bersikap pura-pura, Golok Maut. Kau berdirilah dan terima golokmu!” “Tidak, aku tak mau bertanding. Aku, ah… lemas tubuhku…!” dan Golok Maut yang terhuyung bangkit berdiri tiba-tiba berjalan dan menjatuhkan diri di depan Wi Hong, berlutut. “Wi Hong….” suara itu menggigil, penuh rasa salah, juga bingung. “Aku… aku tak tahu bahwa selama ini hubungan kita telah membuahkan hasil. Tadi aku memang berniat membunuhmu. Tapi setelah kuketahui bahwa kau mengandung dan berbadan dua akibat perbuatanku harap kau maafkanlah kesalahanku. Aku tak ingin membunuhmu. Kalau kau ingin membalas dan merasa kusakiti terimalah Golok Penghisap Darah dan kau bunuhlah aku!” Wi Hong tertegun. Penyerahan dan sikap pasrah yang tidak dibuat-buat dari kekasihnya ini sungguh berbeda sekali dengan tadi, bagai bumi dan langit. Tapi teringat betapa dia benar-benar hampir dibunuh kekasihnya ini tibatiba kemarahanWi Hong lenyap, hilang rasa kasihannya. “Kau ingin dibunuh? Kau minta dibunuh? Baik, aku memang ingin membunuhmu, Golok Maut. Kau laki-laki keparat yang telah membuat aku menderita selama hidup. Bersiaplah!” namun belum Wi Hong menyambar Golok Penghisap Darah, yang masih dipegang Beng Tan tiba-tiba GolokMaut berdiri memegang lengannya. “Tunggu… tunggu dulu!” seruan itu gemetar setengah merintih. “Jelaskan dulu pada Beng Tan dan sumoimu bahwa aku tak melakukan perkosaan, Wi Hong. Beritahukan mereka bahwa apa yang terjadi ini adalah akibat hubungan cinta kasih kita, bukan paksaan!” Wi Hong tertegun. “Kau tak keberatan, bukan?” “Hm,” Beng Tan tiba-tiba melompat mendekati, melihat gadis baju merah itu terisak. “Apalagi ini, GolokMaut? Kau berkata bahwa yang kau lakukan itu adalah atas dasar suka sama suka?” “Benar,” Golok Maut membalik, menghadapi pemuda itu. “Apa yang kau tuduhkan adalah tidak benar, Beng Tan. Aku memang pembunuh tapi bukan pemerkosa! Apa yang kulakukan bersamaWi Hong adalah atas dasar cinta kasih berdua, bukan paksaan. Dan karena aku akan mati maka ingin kuhapus dulu tuduhan itu dan kalian lihatlah bahwa aku bersih!” Wi Hong tiba-tiba menangis. Tak dapat disangkal bahwa apa yang dilakukannya bersama Si Golok Maut itu adalah atas dasar suka sama suka, bukan paksaan. GolokMaut tak memperkosanya dan kehamilannya adalah karena kesalahannya juga. Maka ketika Beng Tan bertanya begitu dan Golok Maut meminta pengakuannya tiba-tiba gadis ini mengguguk dan menutupi mukanya, dlsambar dan dicekal Swi Cu, yang terkejut dan tertegun! “Suci, benarkah apa yang dikata Golok Maut itu? Kau bukan hamil atas paksaannya? Kalian berdua melakukannya atas dasar suka sama suka?” “Beb…. benar…!” gadis ini mengguguk “Dia… dia memang tak memperkosaku, Swi Cu. Tapi dia… dia yang meninggalkan aku telah membuat aku sakit hati dan benci. Aku ingin membunuhnya!” “Nah,” Golok Maut bersinar-sinar. “Kalian dengar bahwa aku tak melakukan perbuatan itu, Beng Tan. Aku memang pembunuh tapi bukan pemerkosa! Dan apa yang kalian tuduhkan tentang perbuatanku dengan Swi Cu juga tidak benar adanya, fitnah!” “Keparat!” Swi Cu membentak, melengking tinggi. “Aku melihat kau sendiri memasuki kamarku dan mau memperkosaku, Golok Maut. Aku tak memfitnah atau melepas tuduhan keji!” “Tapi aku tak melakukan itu….” “Tapi kau masuk ke kamarku!” “Hm, kapan? Mungkinkah dalam keadaan luka-luka dan letih begini aku melakukan hal itu? Ingat, kapan aku datang dan lihatlah keadaanku ini, Swi Cu. Aku tak pernah melakukan itu karena sejak meninggalkan istana aku langsung ke Lembah Iblis!” Swi Cu tertegun. Terbelalak dan melihat keadaan Golok Maut yang memang luka-luka dan letih diapun menjadi ragu. Golok Maut bicara sungguh-sungguh, juga berdasarkan bukti, yang dapat diterima. Dan terkejut serta bimbang dlguncang perasaan marah tiba-tiba gadis ini melengking dan berseru, “GolokMaut, kalau begitu apakah siluman yang datang menggangguku? Atau apakah kau menganggap aku melepas fitnahan keji yang tidak berdasar?” “Hm, fitnah jelaslah fitnah, Swi Cu. Tapi aku tidak mengatakan bahwa kau yang membuat fitnah ini. Kalau benar ada seseorang yang melakukan hal itu maka jelas bukan aku, orang lain! Dan kau salah mengalamatkan tuduhan!” “Tapi…” gadis ini gusar. “Ilmu golok yang kau lancarkan padaku adalah jelas Giam-to-hoat, Golok Maut. Di dunia ini tak ada orang lain yang dapat atau memiliki ilmu itu selain kau!” “Hm, kau beranggapan begitu? Terserah, aku sedang pusing dengan berbagai persoalanku sendiri tapi bersumpah atas nama nenek moyangku aku tak melakukan perbuatan itu. Pantang bagiku memperkosa, dan aku justeru benci kepada pemerkosa!” dan ketika Golok Maut berkeretuk mengerotkan giginya maka dari luar lembah tiba-tiba terlihat bayangan-bayangan orang disusul tawa bergelak. “Ha-ha, mau apalagi, Beng Tan? Golok Maut sudah ada di depan mata. Laksanakan perintah kaisar dan tangkap atau bunuh pemuda itu!” Mindra dan Sudra serta Mo-ko dan Ya-lucang muncul mendadak. Mereka itu tadi berada dibelakang karena sebagaimana diketahui orang-orang ini mengikuti Beng Tan, dari jauh. Mendapat perintah Coa-ongya agar mengepung dan mengurung Lembah Iblis. Mereka ditugaskan untuk mencegah larinya Golok Maut, kalau tokoh itu meninggalkan Beng Tan. Maka melihat betapa Beng Tan terlibat pembicaraan dan pertempuran atau pertandingan dahsyat belum juga terjadi maka empat orang itu muncul dan Mo-ko, si kakek hitam melontarkan seruannya. Beng Tan terkejut dan Golok Maut sendiri terperanjat, menoleh dan memandang kakek-kakek iblis itu. Dan ketika mereka bergerak dan tahu-tahu sudah meluncur dan berhenti mengepung mereka maka Golok Maut terbelalak tajam memandang Beng Tan. “Mereka ini kawan-kawanmu? Kau membawa bala bantuan?” Beng Tan berdetak. Tiba-tiba dia mendapat pandangan hina dari Golok Maut. Pemuda bercaping itu memandangnya mengejek dan juga rendah. Ada dugaan atau sangkaan yang tersirat disitu bahwa Beng Tan dianggap pengecut, membawa bantuan dan ingin mengeroyok! Dan ketika Beng Tan belum menjawab dan Mo-ko tertawa melengking tiba-tiba kakek yang penuh kebencian itu mendahului, mengejutkan Beng Tan. “Ya, kami datang untuk membantu anak muda ini, GolokMaut.Mencegah kau lari dan agar tertangkap!” “Ha-ha!” Mindra kali ini menyambung, melihat kemarahan Si Golok Maut. “Kami diutus Coa-ongya untuk menangkap dan membunuhmu, Golok Maut. Beng Tan telah membantu Coa-ongya dan beberapa waktu yang lalu menginap digedungnya!” “Benarkah?” Golok Maut membalik, tiba-tiba menghadapi pemuda baju putih itu. “Hm, tak kusangka kau sudah menjadi antek Coa-ongya, Beng Tan. Kalau begitu permusuhan kita semakin dalam dan tantanganmu kuterima. Baiklah, aku bicara sebentar dengan Wi Hong!” dan berapi-api menghadapi gadis itu Golok Maut berkepal tinju. “Wi Hong, maaf. Kematianku ditanganmu kutunda dulu. Aku tak akan lari darimu, percayalah. Beri kesempatan padaku dan kau mundurlah kuhadapi orangorang ini!” dan membalik menghadapi kembali lawannya itu Golok Maut menegakkan kepala, memaksa diri berdiri tak gemetar, meskipun kakinya kelihatan goyah. “Beng Tan, kau berikan Golok Penghisap Darah itu kalau kau jantan. Mari kita bertanding dan aku siap melayanimu sampai mati. Boleh keroyok dan aku tak akan undur setapak pun!” Beng Tan tergetar. Setelah pembicaraannya dengan Golok Maut dan dilihatnya betapa Si Golok Maut itu tetap merupakan laki-laki gagah yang cukup ksatria maka dia menjadi ragu dan tergetar juga, tak enak. Merasakan sesuatu yang mengganjal dan sesuatu itu membuat dia bimbang. Dia telah salah sangka dengan tuduhannya pertama, bahwa Wi Hong diperkosa Golok Maut. Dan bahwa Golok Maut telah menyangkal pula perbuatannya terhadap Swi Cu dan kenyataan atau alibi Golok Maut itu tampaknya kuat juga, karena tak mungkin orang yang sedang luka-luka dan letih memperkosa orang lain maka Beng Tan menjadi ragu dan Golok Penghisap Darah yang dicekalnya itu bergetar maju mundur, siap diberikan tapi juga tidak, berulang-ulang hingga pemuda ini dibentak lawan. Namun ketika Golok Maut bergerak dan maju melepas pukulan tiba-tiba golok itu dilempar pada Swi Cu dan Beng Tan menangkis. “Golok Maut, aku sekarang tak ingin membunuhmu. Biarlah senjatamu kusimpan pada Swi Cu dan kita bertanding tangan kosong… dukk!” dan dua lengan yang tergetar beradu sama kuat tiba-tiba membuat Golok Maut terhuyung dan Mo-ko terkekeh nyaring, bergerak menyerang Golok Maut dan Mindra serta yang lain-lain tiba-tiba juga maju bergerak. Mereka itu tertawa dan masing-masing melepas pukulan. Itu adalah saat yang baik karena Golok Maut sedang tergetar dan terhuyung oleh tangkisan Beng Tan, jadi mereka tentu saja melihat kesempatan emas dan lima orang itu tiba-tiba bergerak hampir berbareng. Dan ketika Mo-ko melepas Pek-see-kang atau Hek-see-kangnya dan kakek Yalucang menyemburkan api lewat mulutnya maka Mindra dan Sudra juga menghantam dengan Pukulan Bintang Api, Hwi-seng-ciang. “Plak-duk-dess!” Golok Maut mencelat. Lima pukulan itu mengenainya telak dan mengeluhlah tokoh bercaping itu. Tadi dia sedang terhuyung dan tentu saja ia tak dapat mengelak, menangkis saja susah dan lawan-lawannya yang licik telah melancarkan pukulan di saat dia tak terjaga. Maka begitu terlempar dan mencelat oleh lima buah pukulan yang dahsyat maka Golok Maut terbanting dan lima kakek itu tertawa bergelak menyerangnya lagi! “Bunuh dia! Pukul sampai roboh!” Swi Cu danWi Hong terkejut. Sebenarnya, melihat sikap Golok Maut yang begitu gagah dan ksatria hati dua orang ini terutamaWi Hong tergetar.Memang selama ini dia tahu bahwa Golok Maut bukanlah laki-laki pengecut. Kekejaman yang dilakukan pemuda itu adalah dikarenakan masa lalunya yang buruk, nasib yang kejam dan tampaknya mempermainkannya sekehendak hati. Wi Hong inilah satusatunya orang yang tahu jelas siapa sesungguhnya Si Golok Maut itu, karena sebagai kekasih Golok Maut telah menceritakan masa suramnya yang lewat. Wi Hong inilah yang sebenarnya ragu dan terkejut ketika mendengar Golok Maut memerkosa, hal yang hampir diyakininya tak mungkin karena Golok Maut justeru akan beringas dan benci sekali kepada pemerkosa. Enci pemuda itu yang tewas setelah diperkosa menimbulkan semacam dendam di hati Golok Maut dan akan berlaku demikian kejam kalau ada pemerkosa. Maka begitu berita-berita itu didengar dari sumoinya, Swi Cu, menyatakan diganggu dan akan diperkosa Golok Maut diam-diam dihati gadis atau wanita baju merah ini timbul semacam rasa tidak percaya dan kaget, tak mau menerima begitu saja dan akhirnya Golok Maut dapat memberikan keyakinan-keyakinannya yang kuat. Orang yang sedang terluka dan letih tak mungkin dapat melakukan itu. Maka ketika Golok Maut dapat menyanggah dan diam-diam semacam perasaan lega membersit di hati wanita ini maka Wi Hong bersyukur karena hal itu sungguh tak dilakukan Golok Maut, meskipun Swi Cu masih menyangsikannya dan hal itu memang boleh-boleh saja. Dia sendiri pun masih akan menyelidiki tapi Wi Hong percaya penuh. Dia tahu siapa Golok Maut dan bagaimana wataknya pula. Tapi karena dia sendiri juga hampir dibunuh dan Golok Maut bersikap demikian kejam kepadanya maka Wi Hong menjadi benci dan sakit hati pula, menimbang-nimbang dan memikir apa yang kira-kira akan dilakukannya. Golok Maut telah berserah diri dan dia siap membunuh. Tapi begitu muncul orang-orang ini dan Golok Maut yang sedang terluka dan terpukul tiba-tiba terbanting dan mengeluh bergulingan dihantam lima orang kakek itu tiba-tiba Wi Hong menjadi terbakar dan marah pula! “Mo-ko, kalian licik. Berhenti dan mundur!” “Ha-ha, siapa kau? Ketua Hek-yan-pang? Ha-ha, kau bukan isteri Coa-ongya pangcu, tak berhak memerintah aku dan justeru kau majulah keroyok Si Golok Maut ini. Kau akan mendapat imbalan dan salah-salah memikat hati Coaongya untuk diambil isteri!” “Tutup mulutmu!” Wi Hong semakin terbakar. “Kau busuk dan bermulut kotor, Mo-ko. Kalau begitu terimalah ini dan aku akan menghajarmu!” “Heii…!” Mo-ko berteriak, melihat Wi Hong berkelebat. “Kau menyerang aku, bocah? Keparat, aku tak takut… duk!” dan dua lengan yang beradu di udara tiba-tiba membuat Wi Hong terpental, kaget bergulingan melempar tubuh karena dirinya kalah kuat. Mo-ko memang lihai dan ia pun baru saja bertempur menguras tenaga melawan kekasihnya. Dan ketika gadis itu bergulingan mengeluh mendekap perut dan Mo-ko terbahak-bahak tiba-tiba iblis bermuka hitam itu melepas jarum-jarum halus untuk mernyerang ketuaHek-yan-pang itu. “Cet-cet-cet!” Swi Cu berteriak marah. Melihat sucinya diserang senjata gelap disaat bergulingan tentu saja gadis baju hitam ini gusar. Dia tak dapat menerima itu dan berteriaklah gadis ini menolong sucinya. Jarum-jarum itu ditangkis jarum-jarumnya pula, tangting- tang-ting dan semuanya runtuh ke tanah. Dan ketika sucinya melompat bangun dan memaki kakek itu maka Wi Hong menerjang dan menyerang lagi, ditangkis dan terpental dan kembali gadis ini jungkir balik. Wi Hong lemah tenaganya dan hanya berkat kemarahannya itu sajalah yang membuat wanita ini seolah bangkit, bertenaga. Tapi begitu lawan tertawa-tawa dan sebentar kemudian sudah mendesak dan mencecarnya maka Swi Cu tak dapat menahan diri dan bergeraklah gadis ini menerjang Mo-ko, teman sendiri! “Hek-mo-ko, kau siluman jahanam!” Hek-mo-ko terkejut. Sebenarnya dia tak bermaksud membunuh Wi Hong kecuali merobohkan dan menundukkannya saja, sekedar memberi pelajaran. Maka begitu Swi Cu menyerang dan gadis ini adalah kekasih Beng Tan, pemuda yang amat lihai itu maka kakek ini tentu saja kaget dan cepat menangkis ketika sinar putih menyambar dari atas. “Plakk!” Swi Cu terpental berjungkir balik. Dia telah mencabut pedangnya dan dengan senjata itu ia menyerang lawan, membalik dan menyerang lagi bertubi-tubi. Cepat dan ganas ia sudah mencecar kakek ini. Dan karena Swi Cu masih segar dan tentu saja bersemangat maka gadis itu mainkan ilmu pedangnya dengan hebat sementara pukulan-pukulan Awan Merahnya menyambar, dilepas dengan tangan kiri dan Mo-ko tentu saja sibuk. Iblis muka hitam ini bingung karena Swi Cu bukanlah gadis biasa. Disamping wakil ketua sebuah perkumpulan yang cukup ternama juga gadis itu adalah kekasih Beng Tan, pemuda lihai yang jelas bukan tandingannya!Maka ketika kakek ini tak berani keras-keras menghadapi gadis baju hitam itu sementara lawannya demikian sungguh-sungguh dan beringas maka Mo-ko akhirnya terdesak dan dua kali ujung pedang mengenai pelipisnya! “Cret-cret!” Kakek itu memaki gusar. Dia menampar dan mengebutkan ujung bajunya, menolak pedang namun sudah diserang lagi. Dan ketika Wi Hong juga bangkit berdiri dan menyerang dari kanan maka kakek ini berkaokkaok dan sebentar kemudian sudah menerima pukulan atau tusukan-tusukan pedang. “Hei-heii..! Kalian gila? Kalian tidak waras? Berhenti, nona. Atau aku marah dan akan bersikap kejam terhadap kalian!” “Kejamlah! Bersikaplah! Siapa takut dan akan mundur? Roboh dan pergilah, Mo-ko, atau aku yang akan menjadi pembunuhmu.. bret-crat!” tusukan di pipi membuat iblis ini murka bukan main, merunduk dan tiba-tiba tangannya bergerak dari bawah. Ia menangkap dan mencengkeram perut Swi Cu. Tapi ketikaWi Hong bergerak dan membabat kakek itu maka pedang yang gemetar menetak perlahan. “Takk!” Mo-ko melindungi tangannya. Dia sudah mengerahkan sinkang dan menolak pedang. Wi Hong dalam keadaan lemah dan karena itu tenaganya pun tak usah dikhawatiri. Namun karena gangguan itu datang juga dan Swi Cu menendang maka cengkeramannya bertemu dengan ujung kaki gadis itu. ”Bret!” Swi Cu berteriak. Kakinya tersambar dan dia menarik, celaka sekali sepatunya copot dan pincanglah dia dengan sebelah kaki telanjang. Namun ketika lawan tertawa menyeringai dan menubruknya lagi maka dua orang ini sudah bertanding sementaraWi Hong sekali dua terhuyung membantu sumoinya. “Bunuh kakek ini, Swi Cu. Tusuk dan robohkan dia!” “Ya, dan kita habisi nyawanya, suci. Atau kita berdua mampus bersama… sing-bret!” Mo-ko kewalahan, betapapun kurang sungguh-sungguh dan pedang kembali mengenai bahunya, dikeroyok dan sekarang dia tak dapat tertawa atau menyeringai lagi karena dua orang wanita itu menyerangnya sungguh-sungguh. Dan karena kakek ini masih segan dan takut kepada Beng Tan akibatnya dia mulai terdesak dan mundur-mundur, mencabut tongkat namun senjata itu kurang berguna saja. Jarum rahasia yang ada di ujung tongkat tak berani dikeluarkan. Kakek ini takut karena jarumnya itu adalah jarum beracun, amat ampuh dan dapat membunuh lawan. Dan karena pertandingan berjalan pincang dan kakek ini tentu saja terdesak dan terdesak maka Pek-mo-ko, si iblis putih menjadi geram, marah melihat keadaan adiknya itu. “Sute, biar kubantu kau!” kakek putih menyambar meninggalkan Golok Maut, berkelebat dan membantu adiknya dan terkejutlah Swi Cu sertaWi Hong. Sebenarnya menghadapi Hek-mo-ko seorang mereka haruslah bekerja keras. Maka begitu si iblis putih meloncat membantu adiknya maka Swi Cu terpental ketika dengan keras tongkat di tangan kakek itu menangkis pedangnya. “Tranggg!” Gadis ini mengeluh. Sekarang dia terhuyung dan sucinya disana tinggal menghadapi sendirian Hek-mo-ko, si Iblis hitam. Dan ketika Pek-mo-ko sudah menyerangnya bertubitubi dan sucinya yang lemah itu menghadapi Hek-mo-ko yang tertawa-tawa maka keadaan berbalik dan merekalah yang kini terdesak! “Keparat!” Swi Cu melengking-lengking “Kau jahanam terkutuk, Pek-mo-ko. Biar kubunuh kau atau aku yang terbunuh!” “Ha-ha!” Pek-mo-ko menyeringai. “Aku tak bermaksud membunuhmu, nona. Hanya mencegahmu berbuat curang dan tidak mendesak adikku!” “Tapi kau juga curang, mengeroyok GolokMaut!” “Hm!” kakek ini terkejut, merah mukanya. “Itu lain bocah. Golok Maut adalah musuh semua orang dan kita patut membunuhnya!” “Curang, pengecut!” dan Swi Cu yang marah membentak lagi lalu melengking-lengking dan menghadapi kakek ini, sayang kalah tinggi dan Pek-mo-ko pun dengan tenang menahan semua serangan-serangannya. Dan karena iblis putih itu memang orang yang amat lihai dan Swi Cu masih di bawah kelas maka gadis ini terdesak dan satu pukulan tongkat akhirnya menghajar pundaknya. “Dess!” Swi Cu pucat. Didesak dan digiring mengikuti lawan akhirnya dia terdikte, mengelak namun sebuah hantaman kembali mengenai tubuhnya. Dan ketika gadis ini terhuyung-huyung sementara Wi Hong disana juga jatuh bangun menghadapi Hek mo-ko akhirnya Beng Tan, yang sejak tadi terbelalak dan marah melihat semuanya tiba-tiba berkelebat, persis bersamaan dengan Si Golok Maut yang juga berkelebat dan membentak Hek-mo-ko, yang sudah merobohkan Wi Hong. “Mo-ko, kau iblis jahanam!” Si putih dan si hitam terkejut. Mereka melihat berkelebatnya bayangan dua pemuda itu, satu dari kiri sedang yang lain dari kanan. Dan karena mereka sebenarnya memang sudah gentar dan tentu saja menangkis jerih maka keduanya terlempar ketika dua pukulan atau tamparan Golok Maut dan Beng Tan mengenai pelipis mereka. “Des-dess!” Mo-ko kakak beradik terpelanting. Pukulan Beng Tan tidak terlalu keras namun cukup juga membuat Pek-mo-ko terguling-guling. Dan karena Golok Maut justeru bersikap sebaliknya karena tokoh bercaping yang sedang marah ini tak dapat menahan dirinya maka Kim-kong-cian (Pukulan Sinar Emas) menghantam telak punggang Hek-mo-ko, yang mencelat dan terlempar dan tentu saja iblis hitam itu berkaok-kaok. Dia bergulingan menjauhkan diri dan Golok Maut sudah menolong Wi Hong. Gadis atau ketua Hekyan- pang itu diangkat dan disandarkan kebahunya. Dan ketika Wi Hong tersedu-sedu dan gemetar di pelukan Golok Maut maka pemuda itu berbisik, juga gemetar, “Wi Hong, kau istirahatlah disana. Jaga kandunganmu, jaga anak kita. Biarlah kau mundur dan kuhadapi orangorang ini!” “Ooh..!” Wi Hong menangis mengguguk “Kau… kau keparat jahanam, Golok Maut. Kau kubenci dan akupun ingin membunuhmu!” “Tenanglah, boleh kau lakukan itu,” Golok Maut menyeringai pedih. “Aku tak akan lari, Wi Hong. Aku bersumpah ingin mati kalau kau kehendaki. Sudahlah, kau disini dan kuhadapi orang-orang itu….. plak!” dan Golok Maut yang diteriaki dan mendengar seruan kaget Wi Hong tiba-tiba membalik dan sudah menangkis sambaran nenggala, serangan licik yang dilakukan Mindra dan kakek India itu terkejut memekik perlahan, tadi membokong dan melihat kesempatan baik. Tak tahunya Golok Maut mendengar dan pemuda itu sudah menangkis, mengerahkan sinkangnya. Dan ketika Mindra terpental dan otomatis gagal maka Golok Maut berdiri dan menggeram pada kakek curang itu. “Mindra, kau kakek jahanam. Kubunuh kau!” Dan Golok Maut yang berkelebat serta mendorong Wi Hong lalu bergerak dan mengejar musuhnya ini, tadi dikeroyok empat namun dia mampu bertahan. Beng Tan memang tidak menyerangnya lagi setelah orang-orang itu maju, pertama karena marah dan kedua karena dia memang tidak suka keroyokan. Akibatnya dibiarkannyalah orangorang itu menyerang dan Golok Maut ternyata dapat melayani, meskipun terhuyung dan menderita luka. Dan ketika Pek-mo-ko maupun Hek-mo-ko akhirnya keluar karena menghadapi Swi Cu dan Wi Hong maka tiga orang itu tak kuat juga dan akhirnya terdesak namun sayang Golok Maut harus menolong kekasihnya, melihat Wi Hong dirobohkan Hek-mo-ko dan kini Mindra membokong dari belakang, ditangkis dan tak tahunya kakek itu gagal juga. Dan ketika Golok Maut sudah berdiri lagi dan menyerang kakek itu maka Sudra berusaha membantu namun tak tahan juga. “Hei, anak muda!” serunya pada Beng Tan. “Kenapa kau mendelong saja dan tidak membantu kami? Hayo maju, GolokMaut adalah bagianmu!” “Kalian curang!” Beng Tan membentak. “Kalau merasa gagah dan ingin merobohkan lawan janganlah mengeroyok, Mindra. GolokMaut memang bagianku tapi kalian mundur kalau tak ingin celaka!” “Keparat, kami membantumu! Kenapa malah membiarkan dan berdiam diri? Hei …. maju, bocah. Atau kau kulaporkan pada Coa-ongya… plak-dess!” Sudra mencelat, kali ini mendapat bagiannya dan Kim-kong-ciang tak dapat dielak lagi. Dia menangkis tapi kalah cepat, pukulan itu mengenai tengkuknya dan terlemparlah kakek ini. Dan ketika Golok Maut mengejar namun Mindra membantu maka nenggala menusuk dan Golok Maut terpaksa menangkis. “Plak!” Dua-duanya terhuyung. Golok Maut tergetar namun tidak terpental seperti lawannya, diserang dan kini dikeroyok lagi karena Pek-mo-ko maupun Hek-mo-ko sudah maju mengerubut. Yalucang kakek yang tinggi besar itu juga menyemburnyemburkan apinya namun semua dapat ditiup padam oleh GolokMaut, tokoh bercaping yang ternyata masih lihai itu, meskipun terluka, letih. Dan ketika pertandingan kembali terjadi dan keroyokan lima orang itu tak dapat mendesak Golok Maut maka Swi Cu menggigil di pelukan kekasihnya, karena Beng Tan juga sudah menolongnya dari serangan Pek-mo-ko tadi. “Golok ini sebaiknya diberikan pada pemiliknya. Biar kakek-kakek itu mampus dibunuh!” “Tidak, jangan…” Beng Tan mencegah, “Betapapun mereka adalah pembantu Coa-ongya, Swi Cu. Dan aku secara tak langsung juga membantu pangeran itu. Biarkan mereka bertanding dan biar lima kakek itu tahu rasa!” “Tapi mereka curang, pengecut!” “Sudah menjadi wataknya,” Beng Tan berkata, mengerutkan kening. “Mereka lancang mengambil urusanku, Swi Cu. Biarlah mereka berbuat licik karena GolokMaut masih bisa bertahan!” Swi Cu tertegun. Akhirnya dia melihat bahwa Golok Maut memang dapat mengelak dari semua seranganserangan berbahaya, meskipun tanpa senjata. Mampu menolak pukulan-pukulan berat atau juga seranganserangan yang mengarah jiwa. Golok Maut itu ternyata benar-benar hebat meskipun sudah letih, tanda betapa luar biasanya pemuda bercaping ini dan tentu saja Swi Cu kagum. Memang Golok Maut hebat, dikeroyok berlima masih juga ia mampu menghalau dan membalas pukulan-pukulan lawan. Dan ketika Mo-ko maupun yang lain berkali-kali terdorong atau terhuyung oleh tangkisan pemuda ini maka Sudra meledakkan cambuknya dan menjadi marah. “Mo-ko, kalian serang dari samping. Biar aku dari belakang…. tar-tar!” kakek itu berseru, licik menyerang GolokMaut dan pemuda ini mengelak. Cambuk yang menyambar dari belakang menotok atau menghantam tengkuknya, menuju jalan darah kematian dan tentu saja pemuda ini menghindar. Namun ketika dia bergerak ke kanan dan Mo-ko kakak beradik menghantamkan tongkat mereka tiba-tiba Mindra dan Yalucang bergerak dari depan dengan nenggala dan pukulan Hwee-kangnya. “Des-dess!” Dua kakek di depan terpental. Mindra dan Yalucang berteriak keras karena semburan api dan tusukan nenggalanya ditangkis Golok Maut, begitu kuat dan penuh geraman hingga nenggala patah. Namun ketika dua kakek itu terpental dan Mo-ko kakak beradik juga mengeluh dipukul mundur mendadak dua Iblis hitam dan putih itu memencet tongkat mereka, meluncurkan jarum-jarum halusnya dan jarum-jarum beracun ini menyambar Golok Maut. Pemuda itu sedang tergetar dan baru saja menghadapi serangan bertubi-tubi. Depan dan belakang serta kiri kanan hampir tak ada yang kosong. Lawan semua menyerang tapi mereka semua dapat dipukul mundur. Tapi begitu Mo-ko dengan licik menyerang dengan jarum-jarum rahasianya dan tongkat dipencet maka Golok Maut tak dapat menghindar dan dua dari delapan jarum beracun menancap di pundaknya. “Cep-cep!” GolokMaut mengeluh. Dia terkejut oleh kecurangan dua orang itu, kekebalannya tertembus karena baru saja sinkangnya dikerahkan buat menangkis pukulan bertubitubi itu. Dan ketika dia terbelalak dan terhuyung mundur tiba-tiba Pek-mo-ko terkekeh melihat raut muka lawan yang pucat. “Heh-heh, dia terkena, kawan-kawan. Jarum rahasiaku mengenai tubuhnya!” “Benar!” Hek-mo-ko, sang adik, berteriak. “Dia kena, suheng. Dan sebentar lagi tubuhnya akan kebiru-biruan, haha!” Swi Cu dan Wi Hong terkejut. Mereka melihat bahwa benar saja tak lama kemudian tubuh pemuda itu sudah kebiru-biruan. Racun dengan cepat mengalir dan tak dapat dicegah lagi. Seharusnya dalam keadaan begitu Golok Maut berhenti dan duduk bersila, menahan dan mengerahkan sinkangnya agar racun tidak menjalar naik. Tapi karena Mo-ko maupun yang lain-lain tentu saja tak akan membiarkan ini dan Sudra serta Mindra terkekeh menyeramkan tiba-tiba mereka menubruk kembali diiring lengkingan dan bentakan tinggi. “Benar, hayo serang dia. Jangan biarkan racun ditahan olehnya!” dan ketika dua kakek itu menubruk dan tertawa menyerang lagi maka Mo-ko kakak beradik juga berkelebat dan tongkat dipencet dua tiga kali, menghamburkan jarumjarum rahasia dan GolokMaut terkejut sekali. Kakek tinggi besar Yalucang juga menggeram dan menyemburkan apinya. Dan ketika dia mengelak namun tak semua pukulan dapat dihindarkan maka tubuhnya terpental dan terbanting keras ketika pengerahan sinkangnya tak dapat dikonsentrasikan lagi. “Dess!” GolokMaut terguling-guling. Untuk pertama kalinya dia merasa panas dingin dan kaget. Dia harus mencegah racun dengan pengerahan sinkangnya namun juga sekaligus menahan serangan-serangan lawan dengan tenaga saktinya itu. Tak ayal dia menjadi gugup dan pecahlah konsentrasinya untuk menghadapi kecurangan-kecurangan lawan. Dan ketika disana Mo-ko terkekeh-kekeh dan menyerang lagi bersama teman-temannya maka Golok Maut terdesak dan kali ini dialah yang jatuh bangun. “Ha-ha, lihat, teman-teman. Sebentar lagi dia roboh!” “Ya, dan kita bawa kepalanya ke pangeran! Ha-ha, menyerahlah, GolokMaut. Sekarang kau mati…. des-dess!” Golok Maut terlempar lagi, jatuh terguling-guling dan mendesaklah lawan dengan tak kenal ampun lagi. Mo-ko melepaskan semua jarum-jarumnya namun dua itu saja yang berhasil, yang lain dipukul runtuh dan habislah persediaan jarum di ujung tongkat. Dan ketika GolokMaut menerima pukulan-pukulan lawan dan racun di tubuh semakin bergerak naik maka tubuh yang kebiruan itu sudah mulai berwarna hitam. “Curang!” Wi Hong membentak. “Kalian curang,Mo-ko. Ah, kalian pengecut-pengecut busuk!” dan Wi Hong yang maju membentak marah tiba-tiba melengking dan tidak memperdulikan dirinya sendiri, menyambar pedang dan sudah menusuk dengan senjatanya yang bengkok itu. Tanpa perduli dan menghiraukan apa-apa lagi mendadak wanita ini sudah membantu Golok Maut, menusuk dan menikam Pek-mo-ko. Dan ketika Pek-mo-ko tentu saja kaget namun tertawa aneh tiba-tiba tusukan Wi Hong ditangkis dan tongkatnya mementalkan senjata wanita itu. “Pergi kau… trak!” Wi Hong terjengkang. Memang dia sudah tak dapat bertanding karena kehabisan tenaga, selayaknya beristirahat dan wanita inipun sedang dalam keadaan hamil muda. Tapi karena Golok Maut dicurangi seperti itu dan tiba-tiba kemarahannya bangkit dan cintanya timbul tiba-tiba gadis atau wanita ini sudah nekat menyerang lagi, membentak dan maju membela Golok Maut dan tertegunlah Golok Maut itu. Wi Hong sungguh-sungguh membantunya dan gadis itupun menangis. Golok Maut terharu dan tiba-tiba pandangannya pun menjadi hidup. Mata pemuda ini bersinar-sinar dan berserulah Golok Maut agar kekasihnya itu mundur. Tapi ketika Wi Hong, malah nekat dan melengking menusuk lawannya maka ketua Hek-yan-pang itu berseru biarlah dia mati bersama. “Aku tak akan membiarkanmu dibunuh. Aku tak dapat melihat kecurangan ini. Biarlah kita mati bersama atau semua jahanam-jahanam ini kita basmi!” “Tapi, ah… kandunganmu, anak kita, ah, tidak. Jangan, Wi Hong. Jangan kau bantu aku dan menjauhlah kesana. Kau kehabisan tenaga, kau letih. Biarkan aku sendiri karena aku dapat menghadapi musuh-musuhku ini!” dan Golok Maut yang melengking panjang melemparkan tangannya . ke kiri kanan tiba-tiba mendorong empat orang lawannya. Lalu begitu berkelebat dan melihat Wi Hong terjengkang tiba-tiba Golok Maut menghantam Pek-mo-ko. Iblis muka putih ini tidak menyangka bahwa Golok Maut masih bisa bertanding sehebat itu. Maka ketika empat temannya terhuyung dan Golok Maut menampar tiba-tiba kakek ini menjerit dan terlempar ke kiri. Dan ketika dia bergulingan meloncat bangun dan kaget berseru keras tiba-tiba Golok Maut berkelebat kearah Swi Cu. Lalu begitu tangannya bergerak dan menotok pergelangan tiba-tiba Golok Penghisap Darah, golok yang masih dipegang gadis itu sudah dirampas! “Mo-ko, sekarang aku akan membunuhmu!” Semua kaget. Golok Maut tiba-tiba berubah seperti harimau haus darah. Gerakannya yang cepat dan diluar dugaan sungguh mengejutkan siapa pun. Swi Cu sendiri sampai tertegun ketika golok di tangannya terampas. Namun karena dia memang bermaksud menyerahkan golok itu dan diapun melihat kecurangan Mo-ko dan kawankawannya ini maka gadis itu terbelalak melihat GolokMaut berkelebat tiga kali. Pemuda itu membentak ke arah si putih, Pek-mo-ko baru saja melompat bangun dan saat itulah cahaya menyilaukan berkeredep. Dan karena kakek ini sedang terhuyung sementara golok sudah menyambar luar biasa cepat maka kakek ini tak dapat mengelak kecuali menggerakkan tongkatnya, menangkis tapi tentu saja putus. Golok terus menyambar ke depan seperti kilat yang amat mengejutkan. Dan ketika kakek itu terbang semangatnya dan berteriak mengerikan maka tangannya dipakai untuk menangkis namun tentu saja terbabat. Dan persis kakek itu menjerit maka tangannya kutung sementara dengan cepat dan tepat golok di tangan Si GolokMaut membelah dadanya. “Oak!” Satu jeritan tertahan menyusul robohnya tubuh si kakek iblis. Pek-mo-ko mandi darah dan tubuhnya menjadi dua, putus secara mengerikan. Dadanya itu terpotong dan berteriaklah Hek-mo-ko melihat saudaranya tewas. Dan ketika yang lain-lain tertegun dan terkejut melihat itu maka Golok Maut sudah menggeram dan membalik menyerang mereka. “Sekarang kalian. Bersiaplah kuhabisi!” Semuanya gentar. Sekarang GolokMaut mengamuk dan golok di tangannya itu menyambar-nyambar bagai naga murka. Mindra dan teman-temannya pucat dan mundurlah mereka mengelak sambaran itu. Dan karena nenggala sudah putus sementara cambuk tak mungkin dipakai menghadapi Golok Penghisap Darah akhirnya Sudra maupun Mindra membalik memutar tubuhnya, lari! “Bocah, bantu kami. Atau kau kulaporkan Coa-ongya!” Beng Tan membelalakkan mata. Dia ngeri melihat sepak terjang Si Golok Maut yang demikian haus darah. Dia tak setuju orang-orang itu melakukan pengeroyokan namun tentu saja dia juga tidak bermaksud untuk membiarkan teman-temannya dibunuh.Maka ketika dua kakek India itu melarikan diri dan Yalucang serta Hek-mo-ko tentu saja tak kuat menghadapi sendirian maka dua orang itupun melarikan diri dan memutar tubuhnya, takut menghadapi Si GolokMaut! “Beng Tan, bantu kami. Keparat kau!” Beng Tan sekarang bergerak. Mo-ko dan kawan-kawan akhirnya melarikan diri. Mereka terang gentar dan kapoklah orang-orang itu meneriaki Beng Tan. Dan ketika Golok Maut menggeram dan mengejar mereka, terhuyung dan mendelik memutar-mutar goloknya tiba-tiba pemuda ini berkelebat menahan. “GolokMaut, berhenti. Akulah lawanmu!” Golok Maut beringas. Melihat Beng Tan maju dengan bentakannya tiba-tiba tanpa banyak cakap ia menyerang lawannya ini. Golok bergerak namun Beng Tan mengelak, diserang lagi dan berkelebatanlah pemuda itu melayani lawannya. Namun karena Golok Maut sudah gemetar sementara racun di tubuh juga mengalir semakin cepat akhirnya ketika Beng Tan mengetuk tiba-tiba Golok Maut roboh dan mengeluh pingsan. “Bluk!” Golok Maut memang tidak mungkin menyerang terus. Dia sudah terlalu lama bertahan dan tubuhnya yang kehitaman itu membutuhkan pertolongan cepat. Hanya kemarahan dan kebenciannya yang amat besar sajalah yang mampu membuat dia bertahan selama itu. Maka ketika Beng Tan bergerak dan memang hanya pemuda lnilah yang dapat menghadapinya maka begitu diserang dan diketuk pergelangannya terlepaslah golok di tangan Si Golok Maut itu, Golok Maut sendiri terguling dan sudah roboh pingsan.Mo-ko dan lain-lain sudah lenyap melarikan diri dan tinggallah disitu Beng Tan menyelesaikan tugasnya. Dan ketika pemuda ini berkerutkerut kening melihat lawan roboh maka Beng Tan menyambar dan sudah menangkap tawanannya itu. “Lepaskan dia!” tapi bayangan merah tiba-tiba membentak. “Kau tak boleh membawanya pergi, Beng Tan. Serahkan padaku dan jangan kau ganggu dia!” Beng Tan terkejut. “Kau mau apa?” “Dia… dia ayah dari calon anakku. Aku akan membawanya pergi, menyelamatkannya!” “Tapi..” Beng Tan tertegun. “Aku mendapat perintah kaisar untuk menangkap dan membawanya ke kota raja,Wi Hong. Tak mungkin aku menyerahkannya padamu!” “Hm!” Wi Hong tegak, berapi-api. “Dengan caramu yang demikian rendah? Menangkap dan menawan seseorang yang sudah tidak berdaya?” “Aku akan mengobatinya,Wi Hong. Dan lihat ini!” Beng Tan memberikan sebutir pil, langsung dimasukkan ke mulut Si GolokMaut tapiWi Hong tetap menggeleng. Gadis atau wanita itu berkata bahwa Golok Maut harus diserahkan padanya, tak boleh dibawa pergi. Dan ketika Beng Tan terbelalak dan menjadi marah maka wanita ini menutup, “Kau tidak mendapatkannya secara ksatria. Kau merobohkan Golok Maut karena sebelumnya dia sudah terluka. Nah, apakah ini jantan, Beng Tan? Apakah ini tidak membuatmu malu dan kehilangan harga diri? Kalau kau begitu maka aku siap mati disini, membela suamiku!” Beng Tan kaget. SekarangWi Hong menangis dengan air mata bercucuran dan gadis atau ketua Hek-yan-pang itu menyebut GolokMaut sebagai suaminya. Bukan main, satu pernyataan yang berani dan tidak malu-malu. Hal yang dilakukan gadis itu karena kepepet, terdesak! Dan ketika Beng Tan tersentak dan bingung disana maka Swi Cu berkelebat dan menangis menyambar sucinya itu pula. “Suci, kau benar. Tapi, ah… pemuda ini juga berbahaya dan sekaranglah saatnya yang paling baik bagi Beng Tan untuk menangkap dan membawanya ke kota raja. Mereka berdua setanding. Kalau Golok Maut sehat dan sama-sama bertempur maka keduanya akan menjadi korban dan samasama celaka. Sebaiknya biarkan dia dan Golok Maut paling-paling akan diadili di istana, seperti kata Coa-ongya!” “Hm, tidak!” Wi Hong membalik, mendorong sumoinya. “Aku tak mempercayai Coa-ongya, Swi Cu. Dan aku tak percaya orang-orang istana. Dia tetap milikku dan kalian pergi!” “Tapi…” Swi Cu tersedu. “Aku takut kalau keduanya bertanding lagi, suci. Aku ngeri!Mereka itu sama-sama kuat dan setanding!” “Aku tak perduli. Dan Beng Tan kutantang untuk mendapatkannya secara gagah! Kalau dia ingin menangkap dan membawa GolokMaut lebih baik bunuh aku dulu, atau dia pergi dan serahkan pemuda itu padaku!” “Suci,” Swi Cu gemetar, memandang sucinya, “Bukankah kau membenci pemuda ini? Bukankah dia…” “Tidak, aku mencintainya, Swi Cu. Aku tak pernah diperkosanya dan apa yang terjadi adalah atas kemauanku juga. Aku sudah mengikat diriku, dan dia ayah dari calon anakku nanti. Kalian pergi atau….aku akan mati disini membela suamiku!” Swi Cu mengguguk. Akhirnya dia menubruk dan memeluk Beng Tan, menutupi mukanya. Sucinya sudah berkata seperti itu dan tak mungkin dia mencegah. Dan karena dia tahu watak sucinya ini dan kekerasan sucinya memang tak perlu diragukan lagi maka Swi Cu menangis dan berkata pada kekasihnya, agar GolokMaut dilepaskan. “Berikan dia… berikan dia. Biarlah lain kali kita datang lagi dan laksanakan tugasmu secara ksatria, kalau Golok Maut sudah sembuh!” Beng Tan tertegun. Sebenarnya kata-kata Wi Hong tadi membuat mukanya menjadi merah juga. Memang, kalau dipikir, adalah kurang jantan menangkap lawannya itu setelah Golok Maut terluka dan habis tenaganya. Lawannya itu tidak sehat dan seolah dia tinggal menangkap saja. Tindakan kurang ksatria. Tapi karena Beng Tan tidak takut dan sebenarnya bukan maksudnya untuk menangkap Golok Maut begitu mudah akhirnya dia mengangguk dan mengepal tinju. “Baiklah,” katanya. “Aku bukan laki-laki pengecut, Wi Hong. Kalau kau menghendaki begitu kuterima permintaanmu. Nih, aku masih mempunyai obat lagi dan biarkan dia sembuh!” Wi Hong bersinar matanya. Kalau Beng Tan berkata seperti itu maka sungguh bukan main girangnya sang hati. Tapi karena dia tak mau menunjukkan kegirangannya itu dan bersikap dingin maka dia pura-pura mengangguk dan berkata, “Baik, terima kasih, Beng Tan. Dan aku juga akan menyuruh GolokMaut datang menemuimu. Ambil obatmu kembali, dia urusanku!” Tapi Beng Tan melemparkan obat itu. Dia menggeleng dan tetap ingin menolong Golok Maut, atau, sebenarnya, menolong Wi Hong, karena dia tak ingin membuat wanita atau gadis itu repot. Dan begitu dia menyendal dan menarik lengan kekasihnya maka Beng Tan berkelebat dan pergi meninggalkan Lembah Iblis. “Wi Hong, sampaikan padanya bahwa hidup atau mati aku pasti akan menangkapnya lagi. Jangan biarkan dia bersembunyi!” Wi Hong sudah terlalu girang. Dia gembira bahwa lawan-lawan berat telah pergi. Sekarang dia tahu keadaan kekasihnya ini dan aneh tapi nyata Wi Hong tak lagi membenci pemuda itu. Golok Maut secara ksatria dan jantan menghadapi semua keadaan dengan gagah. Watak itu betul-betul mengagumkan dan timbullah cinta di hati wanita ini. Dan karena GolokMaut tak membunuhnya dan dia juga tak jadi membenci orang yang masih dicintanya ini makaWi Hong membungkuk dan menyambar pemuda itu. Dan begitu bergerak dan mengayunkan kakinya tiba-tiba ketua Hekyan- pang ini telah berkelebat ke puncak tebing. “Apa? Beng Tan melepaskan Golok Maut? Dia tak menangkap dan membawa pemuda itu?” “Maaf,” Mindra memberi hormat. “Begitulah yang kami lihat, ong-ya. Dan Mo-ko serta Yalu menjadi saksi!” begitu empat orang ini menghadap dengan muka terengah, melapor dan Coa-ongya, pangeran yang amat berkepentingan itu melotot. Pangeran ini merah mukanya dan tentu saja dia marah. Dan ketika semua mengangguk dan menyatakan Golok Maut dibiarkan Beng Tan maka pangeran ini gusar meminta pemuda itu dipanggil menghadap. “Aku disini,” Beng Tan tahu-tahu muncul, seperti iblis. “Apa yang dikata mereka benar, ong-ya, Tapi kesalahan juga justeru gara-gara mereka.Mereka inilah yang membuat gagal. Dan karena mereka bersalah sebaiknya dihukum!” Coa-ongya terkejut, berkerot giginya. “Beng Tan, apa arti kata-katamu ini? Bagaimana mereka bisa bersalah? Bukankah kau yang melepaskan Golok Maut padahal dia sudah terluka dan tinggal menangkap? Dan kau sudah merobohkannya pula, tapi kau melepaskan jahanam itu. Keparat!” “Hm!” Beng Tan mengedikkan kepala, tidak gentar. “Jangan marah-marah dulu, ong-ya. Apa yang paduka ketahui belumlah lengkap. Sebaiknya paduka dengar dulu ceritanya dan ketahuilah kenapa Golok Maut terpaksa kulepaskan lagi, meski-pun sudah roboh!” Beng Tan lalu menceritakan jalannya peristiwa, betapa mula-mula dia sudah berhadapan dengan musuhnya itu tapi tiba-tiba kelima kakek ini datang mengacau. Mereka mengeroyok dan lancang mendahuluinya. Dan karena mereka melanggar peraturan dan mengambil alih pekerjaan maka Beng Tan membiarkan mereka. “Tanpa bertanya atau meminta persetujuanku tiba-tiba mereka mengeroyok, mengira Golok Maut sudah tak kuat lagi. Siapa salah kalau Golok Maut mengamuk? Kakekkakek inilah yang tak tahu diri, ong-ya. Dan mereka pengecut! Aku memang membiarkan mereka karena siapa tahu kalau mereka berhasil menangkap dan membunuh GolokMaut maka mereka inilah yang mendapat pahala!” Mindra dan keempat kawannya merah padam. Mereka disemprot dan dikatai habis-habisan. Beng Tan menyesali namun sekaligus juga mengejek perbuatan mereka, yang dianggap pengecut. Dan karena mereka memang mengira Golok Maut sudah tak bertaring lagi dan mengira gampang merobohkan maka Beng Tan tak salah kalau membiarkan mereka berhadapan langsung. “Nah, paduka tanyakan pada mereka ini apakah betul atau tidak!” “Hm, betulkah, Mo-ko?” Coa-ongya beralih. “Kalian lancang mendahului dan tidak menunggu diluar lembah?” “Maaf, kami tak sabar, ong-ya. Kami diluar lembah tapi melihat Beng Tan bicara saja dengan Si Golok Maut itu, seolah kawan!” “Hm, kami bicara apa perdulimu, Mo-ko? Kalian semua lancang, tidak menuruti perintahku! Kalau sekarang suhengmu tewas jangan marah-marah kepadaku!” Hek-mo-ko merah padam. Kalau saja Beng Tan tidaklah lihai mungkin dia akan menggeram dan menerjang pemuda ini, Memang hatinya masih sakit dan panas kalau teringat kematian suhengnya itu. Suhengnya tewas dan kematiannya pun mengerikan. Ah, selama hidup tak mungkin dia lupakan itu. Dan ketika Beng Tan mengejek dan mencibir padanya maka kakek ini tak berani bicara apaapa selain memendam kebencian di hati. “Awas kau,” pikirnya, “Sekali waktu kesempatan itu ada tentu aku akan mencelakaimu, anak muda. Aku akan membalas sakit hatiku atas kata-katamu!” “Hm!” Coa-ongya kini memandang ke pembantupembantunya yang lain. “Betulkah itu, Mindra? Kalian datang dan mengambil alih tugas Beng Tan?” “Maaf, kami memang tak sabar,” Mindra menirukan, menjawab sambil menunduk. “Anak muda ini kami rasa terlalu lamban, ong-ya. Padahal Golok Maut sudah letih dan luka-luka. Kami memang mengambil alih pekerjaan karena menyangka Golok Maut gampang dibunuh. Tapi, ah… pemuda itu memang benar-benar lihai!” “Dan kekasih pemuda ini memberikan Golok Penghisap Darah itu pada Golok Maut!” Hek-mo-ko tiba-tiba berseru. “Kalau saja Beng Tan mau mencegah tentu kami dapat membunuhnya, ong-ya. Beng Tan tak mau berbuat apa-apa dan semua menjadi saksi!” “Hm, bagaimana itu? Apakah golok itu sudah berhasil dirampas?” “Benar, dan Beng Tan-lah yang merampas. Lalu memberikannya pada kekasihnya. Hamba juga kecewa kenapa Beng Tan membiarkan Golok Maut merampas kembali senjatanya itu!” Mo-ko lalu bercerita, didengar Coa-ongya dan yang lain-lain pun mengangguk. Memang Golok Maut akan dapat mereka robohkan kalau saja tidak mendapatkan kembali senjatanya. Golok itu dirampas dari tangan Swi Cu dan Beng Tan diam saja. Dan ketika Mo-ko menuduh bahwa Beng Tan rupanya diam-diam berkomplot dengan musuh maka Coa-ongya bersinar-sinar memandang pemuda ini, marah. “Beng Tan, benarkah kata-kata Mo-ko ini? Kau membiarkan saja Golok Maut mengambil senjatanya padahal kau berada di dekat kekasihmu itu?” “Maaf, pantang bagiku berbohong, ong-ya. Hal itu betul. Tapi tidak semata seperti apa yang diceritakan Mo-ko ini. Mereka mengeroyok, dan bersenjata pula.Mana kegagahan mereka menghadapi lawan secara ksatria? Aku tak menyukai Golok Maut, ong-ya. Tapi aku lebih tak menyukai orang-orang yang bersifat pengecut. Mereka ini licik, dan mengandalkan jumlah pula. Dan karena aku tak suka mereka berbuat curang maka kubiarkan Golok Maut itu mendapatkan senjatanya agar pertandingan berjalan adil, masing-masing sama-sama bersenjata!” “Dan untuk itu suhengku tewas!” Hek-mo-ko naik darah, mendelik. “Kau tak setia kawan, Beng Tan. Kau membela musuh. Dan aku ragu apakah kesungguhanmu untuk membunuh GolokMaut juga benar-benar dapat dipercaya!” “Hm, kau lihat saja,” Beng Tan mendengus. “Suhengmu tewas karena kalian semua tak menuruti perintahku, Moko. Sudah kubilang agar kalian berjaga dan biarkan aku berhadapan satu lawan satu. Dan karena kalian sombong dan licik mengeroyok lawan yang disangka tak ada tenaganya maka jangan salahkan aku kalau seandainya kalian semua pun mampus!” “Apa kau bilang?” Hek-mo-ko semakin gusar. “Kau menghina kami yang merupakan pembantu ong-ya? Kau merendahkan Coa-ongya pula?” “Hm,” Beng Tan tak menghiraukan. “Sudah kita sepakati bahwa yang maju adalah aku, Mo-ko, bukan kalian. Dan karena kalian lancang dan tidak tahu diri maka itulah akibatnya kalau bersifat sombong. Kalau kalian meragukan niatku membekuk Golok Maut baiklah, aku mundur dan kalian yang menangkap!” “Heii..!” Coa-ongya kaget, berseru keras. “Kembali, Beng Tan. Tunggu dulu!” Kiranya Beng Tan pergi, Pemuda itu marah meninggalkan ruangan, berkelebat dan membalik tanpa minta ijin lagi pada Coa-ongya, tuan rumah. Tapi ketika Coa-ongya berseru dan Beng Tan mengeluarkan suara dari hidung tiba-tiba pemuda ini berkelebat dan muncul kembali. “Paduka mau apa? Apa lagi yang dapat paduka perlukan dari orang yang sudah tidak dapat dipercaya?” “Tidak… tidak!” sang pangeran menggoyang lengan. “Aku tetap percaya padamu, Beng Tan. Jangan kemarahanmu kepada Mo-ko kau timpakan disini pula. Aku tetap memerlukan bantuanmu, jangan kau pergi!” “Sementara ini biarkan hamba istirahat. Paduka bersama pembantu-pembantu paduka itu!” “Ah, tapi aku tak marah padamu, Beng Tan. Kau jangan salah paham!” “Tidak, bukan salah paham, ong-ya. Tapi kulihat semuanya begitu. Biarlah hamba istirahat dan lain kali kita bicara lagi. Maaf!” dan Beng Tan yang membalik membungkukkan tubuhnya tiba-tiba sudah berkelebat dan meninggalkan pangeran, memberi hormat dan sang pangeran pun tertegun. Coa-ongya tak dapat berbuat apaapa dan kini giginya berkerot-kerot. Dan karena Beng Tan benar-benar tak dapat dibujuk dan pemuda itu masih menunjukkan kemarahannya akhirnya pangeran membalik dan menghadapi keempat pembantunya itu. “Kalian lihat, pemuda itu ngambek. Lain kali harap lebih berhati-hati karena betapapun tenaganya masih kita perlukan!” dan melotot menegur Hek-mo-ko sang pangeran melanjutkan, “Mo-ko, malam nanti kau panggil seorang pembantuku yang rahasia. Pergi keluar kota raja dan cari Si Kedok Hitam, di kuil di timur pintu gerbang. Nah, kalian semua pergi dan malam nanti bertemu lagi!” Semua mengangguk. Mo-ko diam-diam heran dan terkejut karena tak menyangkaCoa-ongya memiliki seorang pembantu lain, yang tidak diketahui. Dan ketika Coa-ongya bangklt berdiri dan meninggalkan ruangan maka semuanya bergerak dan kembali ke tempat masing-masing, Mindra dan Sudra diam-diam juga heran dan mengerutkan kening bahwa Coa-ongya memiliki pembantu rahasia. Mereka saling lirik dan memberi tanda. Namun ketika mereka berpisah dan menunggu malam nanti maka semuanya berkelebat dan lenyap di empat penjuru gedung. -0de0wi0- Malam itu Mo-ko menuju timur pintu gerbang. Dia tahu akan adanya sebuah kuil tua dan di kuil itulah katanya seorang pembantu Coa-ongya tinggal. Dia penasaran dan ingin tahu. Sejak siang tadi dia tak sabar menunggu datangnya malam. Maka ketika malam menjelang tiba dan dia diperintah memanggil Si Kedok Hitam, tokoh yang belum dikenal maka iblis muka hitam itu berkelebat dan sudah tiba di depan kuil. Mo-ko adalah iblis yang sombong. Pembantu-pembantu Coa-ongya biasanya adalah orang-orang yang harus “berkenalan” dulu dengannya. Kalau ilmu silatnya biasabiasa saja tentu dia akan menghajarnya habis-habisan. Maklumlah, setiap pembantu baru berarti saingan cari makan dan gengsi. Sudra maupun Mindra pun juga tak luput dari “ajar kenal” ini, dicoba kepandaiannya. Dan ketika dia masuk dan berkelebat memasuki kuil maka Mo-ko sudah berteriak agar Si Kedok Hitam muncul. “Hei…!” kakek itu berseru. “Aku mencarimu, Kedok Hitam. Keluarlah dan tampakkan dirimu. Aku diutus Coaongya!” Tak ada jawaban. Bentakan atau seruan kakek Itu malah bergema namun tak ada siapa-siapa di kuil kosong itu. Rupanya tak ada orang dan marahlah kakek ini memanggilmanggil lagi. Kalau Coa-ongya menyuruh tak mungkin majikannya bohong. Di kuil itu pasti ada seseorang tapi entah kemana orang yang dicari itu. Dan ketika iblis ini berkelebatan dan mencari sambil berteriak-teriak maka seluruh ruangan sudah dijelajahi namun hasilnya nihil. “Keparat!” kakek ini memaki-maki. “Kau llcik dan pengecut, Kedok Hitam. Sepantasnya orang macammu ini tak patut menjadi pembantu Coa-ongya, apalagi pembantu rahasia! Cih, kau gentong kosong yang menikmati gaji buta!” Mo-ko marah-marah. Dia sudah mengelilingi dan mencari kemana-mana. umpatan dan makian pun tak pernah kendor. Tapi ketika dia tiba diruangan singa, yakni tempat yang penuh patung binatang tiba-tiba terdengar dengus dan suara yang tak jelas arahnya. “Mo-ko, aku sudah tahu maksud kedatanganmu. Pergilah, dan beritahukan Coa-ongya aku datang!” “Keparat!” Mo-ko membalik. “Dimana kau, Kedok Hitam? Kau benar-benar ada disini?” , “Ya, aku ada disini, sedang tidur. Tapi kau mengganggu dan berkaok-kaok bagai babi disembelih. Kalau kau bukan pembantu Coa-ongya tentu tubuhmu sudah kulempar keluar. Pergilah, dan beritahukan Coa-ongya bahwa aku datang!” Mo-ko melotot. Dia menangkap suara disebelah kiri, dibelakang patung singa. Maka berkelebat dan membentak menyuruh lawan keluar tiba-tiba kakek ini menghantam dan melepas pukulannya. “Kau keluarlah…. dess!” patung singa hancur, Mo-ko terbelalak menajamkan matanya karena orang yang dicari tak ada disitu. Dan ketika dia mendengar tawa mengejek dan suara itu kini ada dibelakang tubuhnya maka dia membalik dan menghantam lagi. “Dess!” Inipun gagal. Mo-ko mendelik dan marah bukan main, mendengar suara di kiri kanan tubuhnya dan tentu saja kakek itu berubah-ubah tempat. Dia mengikuti dan menghantam lagi, membabi-buta. Tapi ketika belasan patung hancur dan orang ^ang dicari tak ada juga maka kakek ini kaget dan mulai gentar! “Kedok Hitam, keluarlah. Jangan main-main seperti pengecut!” “Hm, apa maksudmu?” “Aku ingin melihat tampangmu!” “Tak perlu sekarang, nanti pun bisa.” “Tidak, kau keluarlah, Kedok Hitam. Atau kau mampus kuhajar…. des-prakk!” sebuah patung lagi hancur, patung satu-satunya yang ada disitu dan Mo-ko melihat sesosok bayangan berkelebat luar biasa cepatnya. Dia sudah menduga bahwa lawannya bersembunyi disitu dan benar saja orang ini keluar. Tapi ketika dia tak melihat siapa lawannya itu karena gerakannya demikian cepat dan luar biasa maka tahu-tahu kakek ini telah kehilangan lawannya itu. Seperti iblis! “Mo-ko, aku diluar. Keluarlah kalau ingin melihat aku!” Mo-ko berdetak. Gerakan demikian cepat hanyalah dua orang saja yang selama ini dialaminya. Satu Golok Maut dan ke-dua adalah Beng Tan, pemuda baju putih itu.Maka begitu lawan lenyap tapi sudah menunggunya di depan maka kakek ini. berkelebat dan benar saja seseorang telah menunggunya di halaman, seseorang yang berkedok! “Ah, siapa kau?” kakek ini berjungkir balik, turun dan sudah melayang ke bawah dan berhadapanlah kakek itu dengan lawannya. Si Kedok Hitam tertawa mengejek dan merasa meremang mendengar tawa ini, begitu dingin dan menyeramkan. Jantung di dadanya serasa beku dan tawa itu juga seperti tawa Si GolokMaut yang kejam dan dingin. Tapi ketika dia membentak dan lawan menghentikan tawanya maka Si Kedok Hitam, laki-laki yang tinggi jangkung ini mendengus padanya. -ooo0dw0ooo- Jilid : XXV “AKU adalah si Kedok Hitam, kau sudah menyebut namaku. Kenapa bertanya dan bersikap bodoh?” “Bukan itu, tapi siapa kau sebenarnya!” “Heh, tidak berotakkah kau ini, Mo-ko? Sudah kusebut bahwa dlriku adalah si Kedok Hitam, dan kau bertanya lagi. Apakah ingatanmu demikian buram hingga perlu diketok sekali dua?” Hek-mo-ko menggeram. Dia bingung juga dengan pertanyaannya itu. Betul, lawan sudah menyebut dirinya, si Kedok Hitam. Tapi karena yang dia maksudkan adalah lebih luas lagi dengan siapa sesungguhnya bayangan di balik kedok itu dan bagaimana si Kedok Hitam bisa menjadi pembantu Coa-ongya maka kakek ini membentak dan tiba-tiba menyerang. “Kau manusia busuk! Biar kurobohkan dirimu dan kulihat pantaskah kau bersikap sombong!” namun lawan yang mengelak dan mengejek kakek ini tiba-tiba tertawa mengeluarkan tawa menghina. “Mo-ko, tak perlu kalap. Dikeroyok empat dengan tiga temanmu yang lain aku masih juga menang. Pergilah, dan katakan pada Coa-ongya bahwa aku datang….. plak-plak!” kakek iblis itu terpental, kaget berteriak keras dan menyerang lagi namun lawan dengan mudah menangkis dan menghalau. Dan ketika enam tujuh kali tetap begitu dan kakek ini terkejut tiba-tiba Mo-ko mencabut tongkatnya dan kalap menyerang, berseru menerjang dengan senjatanya itu dan tangan kiri pun bergerak melakukan tamparantamparan Hek-see-kang (Pukulan Pasir Hitam), dahsyat menyambar namun lawan tertawa aneh. Tubuh yang diserang itu mendadak berkelebatan cepat dan lenyap mendahului serangan-serangan kakek itu. Dan ketika Moko terkejut karena lawan benar-benar tak dapat diikuti bayangannya maka sebuah tamparan ganti mengenai pundaknya, terpelanting dan kakek itu menjerit keras karena sentuhan lawan demikian menyengat, rasanya seperti api! Dan ketika Mo-ko berteriak gusar dan memencet ujung tongkatnya, menghamburkan jarum-jarum beracun maka lawan mengebut dan berkata, “Mo-ko, kecurangan macam ini tak perlu kau perlihatkan padaku. Robohlah, dan sekarang kita berhenti!” Mo-ko meraung. Belasan jarum-jarum hitamnya yang menyambar dalam jarak begitu dekat ternyata dikebut runtuh dengan satu kibasan ringan, tampaknya ringan tapi nyatanya dia terdorong. Dan karena jarum-jarumnya itu dikebut balik dan tentu saja menyambar dirinya sendiri maka kakek iblis itu roboh terbanting dengan tujuh belas jarum menancap di hampir seluruh tubuhnya. “Aduh!” Mo-ko terguling-guling. Kakek ini mengeluh dan berteriak kesakitan. Apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Dan ketika dia merintih dan mengerang tak keruan maka lawan berkelebat lenyap dan menghilang entah ke mana, berkata dari jauh bahwa dia akan menghadap Coaongya, melaporkan tindakan kakek itu dan tentu saja kakek ini pucat. Namun ketika dia mencabuti semua jarum-jarum itu dan menelan obat penawar, karena dia bisa tewas kalau tidak mengobati dirinya maka kakek ini bangkit terhuyung dan lari terpincang-pincang menuju istana. “Kedok Hitam, bangsat keparat kau! Awas, tantanganmu akan kulaporkan pada tiga orang rekanku!” “Hm!” suara itu terdengar amat jauh. “Boleh laporkan kalau ingin coba-coba kepandaianku, Mo-ko. Dan lihat berapa jurus kalian berempat kurobohkan!” “Ah, kau sombong. Jahanam takabur!” namun lawan yang tidak menjawab lagi karena sudah lenyap akhirnya membuat kakek ini terseok-seok berlari, di sepanjang jalan mengumpat caci namun diam-diam kakek iblis ini gentar. Kalau saja si Kedok Hitam itu musuh barangkali dia sudah dibunuh, kenyataan itu diyakininya. Namun ketika kakek ini jatuh bangun meninggalkan kelenteng tua itu maka di Sana, di istana, telah menunggu pangeran she Coa. “Hm, kau terlambat!” teguran itu bernada dingin. “Dan kau menghina si Kedok Hitam pula. Benarkah,Mo-ko?” Kakek ini tertegun. “Dia sudah di sini?” “Satu jam yang lalu, dan kau katanya bersikap kurang ajar! Mo-ko, sesama rekan tak seharusnya kau melakukan itu. Besok kau harus minta maaf padanya dan kalian berempat tunduk pada si Kedok Hitam. Aku besok tak ada di istana, melaksanakan tugas kaisar. Kedok Hitam mewakiliku dan kalian tak boleh membantah!” “Paduka mau pergi? Berapa lama? Dan Kedok Hitam itu mewakili paduka?” “Benar, dan tadi aku sudah memanggil tiga temanmu, Mo-ko. Mindra dan Sudra serta kakek Yalucang kuperintahkan untuk datang ke sini besok. Kedok Hitam akan membawa kalian ke Lembah Iblis!” “Astaga!” kakek ini terkesiap. “Hamba dan kawan-kawan belum tahu betul kepandaian si Kedok Hitam itu, pangeran. Meskipun dia lihai namun baru mengalahkan hamba seorang. Dan Colok Maut, ah….. dia itu mampu menandingi kami berlima! Hamba khawatir….” “Tak perlu khawatir!” sang pangeran memotong. “Kalian besok boleh mengujinya, Mo-ko. Kedok Hitam telah meminta persetujuanku untuk menundukkan kalian berempat. Kalian semua gentong-gentong kosong belaka. Lihatlah dan tiruiah pembantuku yang rahasia itu. Kalau saja kalian dapat mengalahkan Golok Maut tentu dia tak akan kupanggil. Sudahlah, besok kalian berkumpul dan ingat bahwa Kedok Hitam adalah wakil diriku pribadi!” Hek-mo-ko tertegun. Coa-ongya sudah membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, dia disemprot dan diamdiam timbul rasa benci dan tak suka kakek itu kepada si Kedok Hitam. Memangnya siapa laki-laki misterius itu? Mampukah dia menghadapi Golok Maut? Kalau benar dapat mengalahkan mereka berempat barangkall hal itu dapat dijadikan jaminan. Tapi Golok Maut, ah… belum tentu. Tokoh itu memiliki Golok Penghisap Darah, golok yang luar biasa ampuh dan mengerikan! Dan teringat bahwa dengan mengalahkan mereka berempat saja masih bukan merupakan jaminan bagi si Kedok Hitam untuk mengalahkan Golok Maut maka Mo-ko maju mundur dan akhirnya menggeram, tetap kurang percaya namun akhirnya kakek ini berkelebat pergi juga. Biarlah besok dilihat saja bagaimana baiknya. Ketiga temannya akan dihubunginya dulu dan ternyata benar Mindra dan lainlainnya itu sudah diberitahu Coa-ongya. Mereka diminta datang menghadap dan besok mereka akan berhadapan langsung dengan si Kedok Hitam itu, tokoh baru bagi mereka namun yang agaknya amat dipercaya Coa-ongya, bahkan lebih dipercaya daripada mereka! Dan ketika semuanya mengangguk dan tentu saja penasaran, di samping tak suka maka keesokannya Mo-ko dan tiga temannya sudah menunggu di tempat yang dijanjikan. ooooo0de0wi0ooooo Laki-laki itu sudah duduk di kursi Coa ongya. Sikapnya, dan gayanya, sungguh menggantikan Coa-ongya benar, sombong dan angkuh. Dan ketika Mo-ko dan kawan-kawan berkelebatan masuk ternyata si Kedok Hitam itu sudah mendahului di sana. “Hm, tak tepat waktu! Kenapa kalian terlambat, Mo-ko? Sudah sejam aku menunggu di sini, dan baru sekarang kalian datang. Kalau musuh datang menyerbu maka kalian sudah percuma melindungi istana!” Mo-ko dan kawan-kawan semburat merah. Mereka terlambat karena diam-diam mereka mengelilingi gedung, menjaga dan ingin menghadang si Kedok Hitam itu di luar. Tapi karena dicegat tak ada juga maka mereka masuk dan memang benar satu jam sudah mereka terlambat. Dan kini “wakil pribadi” Coa-ongya itu menegur mereka mirip atasan kepada bawahan yang bersalah. Dingin dan sombong! Dan ketika Mo-ko bersinar-sinar sementara Mindra dan dua temannya menatap tajam maka Kedok Hitam minta agar mereka berlutut. “Aku adalah pemimpin kalian. Selama ongya tak ada di sini maka segala perintah dan keputusan ada di tanganku. Berlututlah, dan beri hormat sebagaimana layaknya pembantu yang baik!” “Keparat!” Mo-ko melotot. “Kau pongah dan sombong, Kedok Hitam! Mentang-mentang dapat mengalahkan aku seorang kau lalu bersikap takabur! Jangan tergesa dulu, di sini masih ada tiga temanku yang lain dan mereka belum tentu tunduk padamu!” “Hm, kalian semua akan kutundukkan, dan memang harus tunduk! Apa yang keluar dari mulutku adalah sama dengan Coa-ongya. Bukankah kalian sudah diberi tahu dan tak boleh membantah? Berlututlah, atau kalian kuhajar!” “Ha-ha!” Mindra tiba-tiba tertawa bergelak. “Kau orang yang sombong sekali, Kedok Hitam. Sikapmu sungguh melebihi Coa-ongya. Baiklah, kami akan berlutut di hadapanmu tapi bukalah dulu kedokmu itu dan baru setelah itu kami memenuhi permintaanmu!” “Hm, tak ada bawahan memerintah atasannya. Kau tak usah bicara seperti itu,Mindra. Atau kau kuhajar!” “Ah, kau mau memberi petunjuk? Bagus, aku tentu senang…. heii!” dan Mindra yang kaget bukan main tibatiba melihat Kedok Hitam mencelat dari kursinya, terbang dan meluncur ke arahnya dan gerakan itu bukan main cepatnya. Dia sedang bicara ketika tahu-tahu lawan menyerang. Dan karena tak ada waktu untuk mengelak maka kakek ini menggerakkan tangannya menangkis. “Dess…!” dan…. kakek ini terlempar mencelat empat tombak! “Aiihh…!” Mindra berjungkir balik meloncat bangun, kaget dan pucat. “Kau… kau hebat, Kedok Hitam. Tapi kau curang!” Sudra, yang ada di sampingnya juga terbelalak kaget. Kakek yang bersenjata cambuk ini sudah meraba cambuknya dan siap berjaga-jaga. Kedok Hitam sudah kembali ke tempat duduknya tadi dan duduk dengan tenang, tegak dan dingin. Sungguh cepat namun menyeramkan! Dan ketika temannya kaget dan marah maka Kedok Hitam tertawa mengejek. “Mindra, kalian semua pasti akan merasakan kehebatanku. Dan jangan sombong dengan Hwi-sengciangmu. Siapa takut akan Pukulan Bintang Api itu? Nah, segebrak ini buat pelajaran untukmu, tua bangka. Atau kau akan kubuat jungkir balik dengan lebih hebat lagi!” “Keparat!” kakek itu menggigil, melirik temannya. “Agaknya main-main ini tak usah ditunda lagi, Sudra. Kawan kita ini rupanya sengaja ingin pamer! Kau mau mencobanya pula dan menerima tantangannya!” “Hm…. tar-tar!” Sudra meledakkan cambuk. “Aku suka melihat kepongahannya,Mindra. Tapi aku tak suka melihat tarttangannya yang amat merendahkan kita. Dia berani dikeroyok, begitu kata Mo-ko. Apakah dia memang ingin kita maju berempat?” “Nanti duiu!” Yalucang tiba-tiba melompat maju, terkejut dan juga membelalakkan mata melihat kecepatan dan serangan si Kedok Hitam itu. “Aku ingin mencobanya, Mindra. Biarlah kau mundur dulu dan kita bertempur seorang lawan seorang!” “Hm!” Mo-ko tersenyum. “Apa yang dikata Yalu benar, Mindra. Biarlah kau mundur dan lihat dulu apakah Kedok Hitam dapat mengalahkan rekan kita ini. Kalau benar, barulah kita maju semua tapi sebaiknya kau pribadi mencobanya dulu bersama Sudra!” Mindra tertegun. Dia mendapat kedipan dan isyarat ini segera ditangkapnya dengan baik. Kalau satu per satu, tentu Kedok Hitam akan terkuras tenaganya dan nanti kalau mereka maju berbareng pastilah lawan sudah kehabisan tenaga. Siasat itu bagus dan tentu saja kakek India ini tertawa, mengangguk. Dan ketika dia mundur dan kakek tinggi besar Yalu-cang sudah menggosok-gosok tangannya maka keluarlah asap dari pengerahan tenaga Hwee-kang (Api). “Aku ingin melihat kepandaianmu secara pribadi. Marilah, kita main-main dan lihat berapa jurus aku merobohkanmu!” “Hm!” Kedok Hitam tertawa. “Bukan kau yang merobohkan aku, Yalu. Melainkan akulah yang akan merobohkanmu. Aku berjanji tak lebih dari dua puluh jurus kau sudah terkapar!” “Sombong!” kakek ini menggeram. “Kau bermulut besar, Kedok Hitam. Baiklah, mari kita mulai dan buktikan mulut besarmu itu… wut!” si kakek berkelebat, tangannya yang lebar dan kuat sudah menghantam sementara mulut siap meniup. Yalucang kakek tinggi besar ini memang ahli penyembur api dan Hwee-kang atau ilmu Apinya itu akan bekerja, dia sudah mengumpulkan tenaganya dan begitu lawan menangkis diapun akan meniup. Dan ketika benar saja Kedok Hitam bergerak dan menangkis pukulannya maka kakek ini sudah membuka mulutnya dan menyemburkan api. “Wushh… dess!” Kakek ini kaget bukan main. Tepat dia terpental dan menyemburkan apinya mendadak lawannya itu ikut meniup. Tenaga khikang yang amat hebatnya menolak balik tiupan apinya itu. Dan karena Hwee-kang atau semburan api membalik mengenai dirinya maka kakek ini terbakar dan terjilat apinya sendiri! “Jahanam!” kakek itu bergulingan memaki kaget. Dia tak menyangka bahwa lawan demikian lihai. Benturan pukulan di antara mereka jelas menunjukkan lawan lebih unggul, lebih kuat. Dan ketika kakek itu meloncat bangun dan kaget membelalakkan mata maka si Kedok Hitam sudah tertawa dan menendang kursinya, siap menghadapi kakek itu dan menggapai dengan sikap sombong. Gebrakan pertama itu jelas memberi pelajaran pada si kakek tinggi besar ini. Dan karena kakek itu marah dan jelas masih penasaran maka Yalucang membentak dan bangkit menyerang lagi, melepas pukulan-pukulan kuat dan api pun mulai menyemburnyembur dari mulutnya. Kakek ini menggereng-gereng karena kekagetannya tadi sungguh membuat dia gusar. Dan ketika tak lama kemudian pukulan Hwee-kang maupun semburan api sudah mengelilingi lawannya maka si Kedok Hitam terkepung dan tak dapat keluar. “Mampus kau, kubunuh kau!” Yalucang bersinar-sinar. “Tak dapat kau melarikan diri, Kedok Hitam. Ayolah keluar dan tunjukkan kepandaianmu!” Mindra dan kawan-kawan melebarkan mata. Mereka melihat bahwa si Kedok Hitam benar-benar sudah terkurung. Pukulan dan semburan api sudah mengelilingi laki-laki itu dan Kedok Hitam tampak terdesak. Mo-ko mulai tertawa-tawa dan berseru menghitung jurus-jurusnya. Dia ingat bahwa Kedok Hitam akan merobohkan Yalucang dalam waktu dua puluh jurus saja, sebuah ucapan yang dinilai terlalu besar. Tapi ketika Kedok Hitam tertawa dan terus mengelak maju mundur, menangkis dan menggerakgerakkan kedua tangannya ke kiri kanan maka aneh tetapi nyata pukulan-pukulan kakek Yalu terpental. Dan ketika Kedok Hitam berseru meniup-niupkan mulutnya, mengerahkan sinkangnya tiba-tiba semburan api itu juga ikut terdorong dan terhalau, kian lama kian jauh dan kakek Yalu tampak membentak sekuat tenaga mengerahkan kekuatannya. Kakek ini sampai merah dan mendelik karena semua pukulannya itu tertolak. Dan ketika semburan apinya juga tertiup dan membalik menyerang dirinya maka kakek itu pucat sementara Hek-mo-ko sudah menghitung pada junis ke enam belas, “Keparat, kau tak dapat merobohkan aku dalam jurus kedua puluh, Kedok Hitam. Aku akan bertahan dan membuat malu dirimu!” “Ha-ha, sekarang mulai ketakutan! Ayolah, kautunjukkan kepandaianmu, Yalu. Bertahan dan perhebatlah seranganmu. Aku sengaja bertahan, tapi setelah itu aku pasti membalas. Tinggal empat jurus lagi!” Kakek Yalu menggigil. Dalam pertempuran yang sudah berjalan enam belas jurus itu sebenarnya dia sudah mengerahkan segenap kemampuan. Pada jurus-jurus pertama memang dia dapat mendesak, mengira dapat mengalahkan lawan tapi tak tahunya si Kedok Hitam ini sengaja mengalah, bertahan dan mempermainkannya sedemikian rupa. Dan ketika pada jurus ke sepuluh dan selanjutnya lawannya itu mulai membalas dan setiap tangkisan atau benturan tenaga di antara mereka tentu membuat kakek ini terdorong dan terhuyung-huyung maka pada hitungan ke enambelas itu kakek tinggi besar ini terdesak. Semburan apinya atau pukulan Hwee-kangnya tertolak balik, kian lama kian kuat dan empat kali kakek ini sudah menghindar jilatan apinya sendiri, gagal dan pipinya gosong terjilat! Dan ketika kakek itu terbelalak pucat dan marah tapi juga gentar akhirnya pada jurus kedelapanbelas dia terpental. Waktu itu lawan sudah mulai membalas dan pukulan atau dorongan tangan si Kedok Hitam mengeluarkan angin dahsyat, menghantam dan menyambar kakek ini dan Hwee-kang tertolak. Dan ketika lawan meniup dan semburan api melejit menyambar muka kakek ini maka Yalucang berteriak karena dua serangan sekaligus menghantam dirinya. Satu dari tangan lawan sementara yang lain dari tiupan mulut itu. Ah, sin-kang yang dimiliki Kedok Hitam memang jauh lebih kuat! Dan ketika kakek itu terpental dan kaget berteriak keras maka lawan berkelebat dan Kedok Hitam tertawa mengakhiri pertandingan. “Nah, ini dua jurus terakhir. Roboh-lah!” Yalu bergulingan. Dia berusaha menjauh tapi lawan membayangi, selalu menempel dan tak mungkin dia dapat mengelak lagi. Dan ketika kakek itu pucat berseru keras karena lawan melepas pukulan dua kali ke tengkuk dan dadanya maka kakek ini menangkis sebisanya tapi tetap juga dia kalah cepat. “Des-plak!” Kakek itu terkapar. Akhirnya Yalucang kakek tinggi besar ini mengeluh. Dia serasa dihantam palu godam dan kelenger, merintih tak dapat bangun. Dan ketika lawan menendang dan kakek itu terbanting di sudut maka selesailah pertandingan dan tepat duapuluh jurus si Kedok Hitam ini mengalahkan lawannya! “Ha-ha, bagaimana, Mindra? Kalian sudah melihat kepandaianku?” Mindra terkejut. Akhirnya dia melihat bahwa si Kedok Hitam ini betul-betul lawan yang tangguh. Kemarin Mo-ko sudah bercerita padanya tapi dia tak yakin. Belum bertempur belum percaya, begitu biasanya watak orangorang kang-ouw. Maka begitu melihat dan membuktikan maka tergetarlah hati kakek ini namun. itu masih bukan berarti dia takut! “Bagus!” Mindra tiba-tiba mencabut nenggalanya. “Kau hebat, Kedok Hitam. Tapi aku masih tak tunduk padamu. Kau sudah merobohkan Yalu, tapi belum merobohkan aku. Nah, biarlah kurasakan kepandaianmu dan kita bertanding… cus!” nenggala tiba-tiba bergerak, maju menusuk karena dengan kecepatan luar biasa tiba-tiba kakek India ini berkelebat. Dia mempergunakan kesempatan selagi lawan tersenyum-senyum, kaget dan mengelak dan berlubanglah ujung baju lawan! Dan ketika Kedok Hitam terkejut berseru keras tiba-tiba kakek India ini sudah menyerangnya ganas. “Wut-wut!” nenggala menyambar-nyambar. Mindra ternyata licik ingin mendahului lawan. Sementara bicara serangannya pun sudah dimulai. Dan ketika lawan mengelak sana-sini dan untuk beberapa saat si Kedok Hitam terdesak maka Sudra, temannya, tertawa bergelak. “Bagus, desak dia ke sini,Mindra. Biar sekalian kuhajar!” Mindra mengangguk. Tadi mereka sudah saling memberi isyarat dan maklum bahwa pertempuran seorang lawan seorang rupanya tak menguntungkan mereka. Yalu hampir setingkat dengan mereka, kalau kakek itu kalah maka tak ada harapan bagi mereka untuk menang pula. Maka begitu saudaranya berseru dan Mindra mengangguk bersinar-sinar maka kakek ini sudah mendesak dan menggiring lawan agar mendekati temannya, terus mendesak dan merangsek dan kerut di balik kedok itu berkernyit. Kedok Hitam mengelak sana-sini sementara matanya pun mengeluarkan cahaya aneh. Mata itu mencorong dan mulai marah. Dan ketika dia didesak dan terus mendekati Sudra, yang sudah siap dengan cambuknya tiba-tiba senjata itu menjeletar menyerang dirinya. “Tarr!” Kedok Hitam berjengit. Pundaknya termakan dan dua kakek India itu sudah tertawa-tawa. Kini Sudra bergerak maju pula dan dikeroyoklah laki-laki berkedok ini. Yalu masih merintih-rintih dan mende-sis di sana Kakek itu kelengar dan merasakan sakitnya. Tapi karena dia seorang kuat dan betapapun kakek ini memang bukan orang sembarangan maka tak lama kemudian dia sudah bangkit berdiri, terhuyung dan membelalakkan matanya memandang pertempuran dan kakek itu mendelik marah. Dia gentar dan kagum terhadap lawannya ini. Tapi karena dia dikalahkan begitu mudah namun harus diingat bahwa senjatanya, roda bergigi itu belum dlkeluarkan maka kakek ini merasa penasaran juga dan masih tidak mau menyerah. Dan ketika Kedok Hitam sudah dibuat berlompatan menghindari tusukan nenggala atau ledakan cambuk maka Mo-ko mendekatinya dan berbisik-bisik. “Kau harus maju kembali. Kita semua mengeroyok!” “Hm, aku memang masih penasaran!” kakek itu mengangguk. “Aku kalah tapi masih belum sempurna, Moko. Aku masih belum mengeluarkan senjataku dan belum tentu lawanku menang!” “Benar, tapi betapapun dia hebat. Aku juga masih penasaran. Kalau Mindra dan Sudra tak dapat merobohkannya marilah kita maju berbareng dan keroyok berempat!” “Hm, aku setuju. Mari kita lihat dan saksikan perkembangannya dulu!” Dua orang itu sepakat. Mo-ko telah berbisik dan siap mengajak temannya mengeroyok, dua-duanya memang masih sama-sama penasaran dan kakek tinggi besar itu geram. Dan ketika mereka menonton dan tampak kerubutan ini menguntungkan Mindra dan Sudra maka Kedok Hitam terlihat keteter. “Ha-ha, lihat, Mo-ko. Berdua saja rupanya sudah cukup!” “Benar, kalian menonton saja di situ. Kalau Kedok Hitam tak dapat kami selesaikan tigapuluh jurus barulah kalian maju!” “Hm, jangan sombong!” Kedok Hitam membentak. “Aku belum mengeluarkan semua kepandaianku, Mindra. Kalian licik dan curang mempergunakan senjata. Aku masir belum kalah!” “Ha-ha, kalau begitu keluarkan senjatamu….” “Dan juga semua kepandaianmu!” Sudra menyambung, mengejek. “Kami ingin melihat seberapa hebat kau, Kedok Hitam. Atau kau pecundang secara konyol kalau memandang rendah kami!” “Hm, baiklah!” Kedok Hitam mendengus. “Semua permintaan kalian kupenuhi, Sudra. Dan lihat baik-baik siapa yang akan pecundang… clap!” sebuah sinar kebiruan tiba-tiba muncul, melesat dari balik punggung laki-laki ini dan Sudra maupun Mindra terkejut karena mereka silau melihat sebuah golok yang tajam mengkilat. Cahaya golok itu demikian keras dan menyakitkan mata. Dan ketika mereka terkejut dan masih menggerakkan senjata untuk mendesak atau merangsek lawan tiba-tiba Kedok Hitam melanjutkan gerakan sinar kebiruan itu. “Cring-tas!” Sudra dan temannya berseru kaget. Mereka tersentak karena tiba-tiba nenggala dan cambuk putus, putus dibabat sinar kebiruan itu. Dan ketika mereka terbelalak dan terhuyung mundur, kaget dan tergetar oleh sinar kebiruan itu maka golok bergerak dua kali dan…. robeklah baju pundak berikut sedikit daging dua orang kakek ini. “Aiihhh…!” dua kakek itu berteriak panjang. Mereka membanting tubuh bergulingan namun sebentar kemudian sinar kebiruan itu sudah bergulung-gulung mengejar mereka, menusuk dan membacok dan kagetlah dua orang ini karena mengenal itulah gerakan atau jurus-jurus Giamto- hoat (Ilmu Silat Golok Maut), ilmu yang dimiliki Si Golok Maut dan tentu saja dua kakek itu berteriak keras. Mo-ko dan Yalu yang ada di luar tiba-tiba juga terkejut dan berseru tertahan. Pertemuan mereka yang berkali-kali dengan Si Golok Maut tentu saja membuat mereka hapal akan jurus-jurus ilmu golok itu, yang ganas dan berbahayanya bukan alang-kepalang. Dan ketika mereka tertegun dan menjublak di tempat, menyaksikan dua orang rekan mereka yang bergulingan ke sana ke mari maka nenggala putus dibabat lagi dan cambuk yang meledakledak akhirnya tinggal sejengkal! “GolokMaut…. ! Kau GolokMaut…!” Mo-ko dan kakek Yalu terkesiap. Mindra dan Sudra berteriak-teriak menyebut nama ini, belum apa-apa sudah terbang nyalinya karena nama tokoh bercaping itu memang menggetarkan. Hanya Beng Tan sajalah yang dapat mengatasi Si Golok Maut itu. Tapi ketika keadaan menjadi geger dan Mo-ko siap memanggil pengawal, karena ributribut itu sudah didengar dan ditangkap pengawal maka Kedok Hitam berseru menyelesaikan pertempuran dengan suaranya yang tinggi. “Bukan, aku bukan Golok Maut. Kalau aku Si Golok Maut tentu kalian sudah ku-bunuh! Nah, berhenti dan sekarang kalian harus percaya kelihaianku… crat-bluk!” Dua kakek itu terlempar, leher mereka tergurat berdarah dan si Kedok Hitam melakukan tendangan. Gentar dan ciut mengira lawannya Si Golok Maut maka dua kakek itu sudah terbang semangatnya. Ilmu silat mereka menjadi kacau dan terlemparlah mereka ketika lawan menendang. Dan ketika keduanya terkejut melompat bangun dan Mo-ko serta kakek Yalu terguncang di sana maka sinar kebiruan itu sudah lenyap di belakang punggung dan si Kedok Hitam ini berdiri tegak. “Aku bukan Golok Maut. Aku adalah si Kedok Hitam. Nah, siapa tidak percaya kepadaku dan ingin coba-coba silahkan, boleh maju dan rasakan kepandaianku!” “Kau… kau siapa sebenarnya? Bagaimana dapat mainkan Giam-to-hoat yang menjadi andalan Si GolokMaut?” “Hm, siapa aku tak usah kalian tahu, Mindra. Cukup kalian ketahui bahwa aku adalah si Kedok Hitam. Kalian tunduk?” Mindra gentar. Akhirnya setelah dia tahu kehebatan lawannya ini dan betapa senjata atau golok di tangan si Kedok Hitam berturut-turut melukai tubuhnya maka dia harus tahu diri dan mengangguk. Sudra juga melakukan hal yang sama dan Mo-ko serta kakek Yalu terbengongbengong. Mereka yang semula hendak mengeroyok tibatiba saja gentar sebelum bertanding. Nyali pun tiba-tiba sudah menciut begitu melihat Giam-to-hoat di-keluarkan si Kedok Hitam ini, hal yang amat mengherankan dan mencengangkan bagaimana ada orang selain Si Golok Maut dapat memiliki ilmu silat itu, ilmu golok yang luar biasa ampuhnya di mana mereka tak mungkin berani bercuit-cuit lagi. Dan ketika mereka terbelalak dan gentar memandang laki-laki ini maka Kedok Hitam minta agar mereka berempat menjatuhkan diri berlutut. “Sekarang kuulangi perintahku, kalian berlutut dan memberi hormat padaku!” Mindra tiba-tiba gemetar. Hampir berbareng mereka berempat tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan si Kedok Hitam itu, hal yang aneh, hal yang akan membuat orang luar bakal terheran-heran dan tidak percaya. Tapi ketika semuanya berlutut dan menyatakan menyerah, menyerah secara total maka Hek-mo-ko memberanikan diri bertanya tentang golok di balik punggung si Kedok Hitam ini. “Kami ingin membuktikan sekali lagi bahwa kau bukanlah Si Golok Maut. Tunjukkan kepada kami bahwa golok di belakang punggungmu itu bukanlah Golok Penghisap Darah!” “Benar,” Sudra tiba-tiba teringat. “Kami ingin menenangkan diri, Kedok Maut. Perlihatkanlah kepada kami bahwa kau benar-benar bukan Si GolokMaut!” “Hm, kalian ingin menenteramkan hati? Baiklah, lihat ini. Ini bukan Golok Penghisap Darah…. singg!” dan sinar kebiruan yang muncul kembali dicabut laki-laki ini akhirnya diperlihatkan kepada semua orang bahwa golok itu betulbetul bukan Golok Penghisap Darah, senjata yang dimiliki Si Golok Maut itu. Dan ketika mereka tenang dan percaya karena bercak darah masih ada di situ, darah dari pundak Mindra dan Sudra yang terbabat maka semuanya mengangguk dan lega. “Terima kasih!” Kedok Hitam sudah mengembalikan goloknya ini. Seperti orang main sulap saja tiba-tiba hampir tak terlihat mata dia sudah mengembalikan goloknya di belakang punggung, cepat dan luar biasa. Dan ketika semua lega dan percaya maka laki-laki ini duduk dan berkata bahwa mereka berlima semuanya besok akan menuju ke Lembah Iblis. “Ongya memerintahkan padaku untuk membunuh Si Golok Maut itu. Dan ongya sudah menghubungi jenderal Gwe. Besok kita ke Lembah Iblis dan bersama lima ribu pasukan kita tangkap dan bunuh Si GolokMaut itu!” “Lima ribu pasukan? Padahal kau sudah dapat mengalahkan kami?” Mo-ko, yang terkejut dan membelalakkan matanya bertanya. Iblis ini heran dan kaget karena orang sehebat si Kedok Hitam ini masih juga perlu bantuan pasukan, tak tanggung-tanggung, lima ribu jumlahnya! Dan ketika Kedok Hitam mengangguk dan bersinar-sinar, matanya mencorong membayangkan nafsu membunuh maka dia berkata, “Benar, bukan karena aku takut menghadapi Si Golok Maut itu, Mo-ko. Melainkan semata agar GolokMaut kali ini benar-benar tidak dapat lolos lagi. Dan kalian tak perlu memberi tahu bocah she Ju itu, kita bergerak secara diamdiam!” Mo-ko melongo. Kedok Hitam akhirnya memberi tahu mereka bahwa jenderal Gwe sudah dihubungi. Secara diam-diam lima ribu pasukan akan bergerak dari kota raja, menyertai mereka. Dan karena mereka harus bergerak secara diam-diam dan Golok Maut kali ini harus ditumpas, karena hanya akan menimbulkan huru-hara saja maka Moko dan kawan-kawan bengong namun girang bukan main, terutama kakek iblis itu, yang suhengnya sudah tewas dan dibunuh Si Golok Maut. Tokoh bercaping itu memang hebat dan tak ada orang selain Beng Tan yang dapat mengatasi. Namun karena Beng Tan sedang marah-marah dan pemuda itu entah ke mana maka rencana serbuan besar-besaran ke Lembah Iblis ini tentu saja menggembirakan mereka. Kedok Hitam berkata bahwa inilah saatnya terbaik. Golok Maut sedang luka dan gebrakan mendadak yang akan dilancarkan ini pastilah berhasil.Mereka akan membasmi dan membunuh Si Golok Maut itu. Dan ketika Mo-ko mengangguk dan Mindra serta yang lain juga berseri-seri maka hari itu semua persiapan dilakukan. “Kalian ikuti perintahku, jangan ke mana-mana!” Empat orang itu mengangguk. Akhirnya mereka melihat bahwa benar saja lima ribu orang telah keluar dari kota raja secara diam-diam. Rakyat tak banyak yang tahu karena semuanya itu memang dirahasiakan. Dan ketika keesokannya benar saja barisan ular yang panjang telah bergerak ke selatan maka Lembah Iblis, tempat yang berbahaya sedang mengalami bahaya! Tahukah Golok Maut akan rencana serbuan itu? Tahukah dia akan badai yang bakal mengguncangkan tempat tinggalnya ini? Agaknya tidak. Karena Golok Maut, yang sedang terluka dan dihantam pukulan bertubi-tubi ternyata sedang dirawat Wi Hong yang selalu menangis melihat keadaan kekasihnya itu. Dan mari kita lihat ke sana. ooooo0de0wi0ooooo Seperti diketahui, Golok Maut luka parah setelah menghadapi keroyokan Mindra dan kawan-kawannya. Sebelumnya tokoh ini baru mengamuk di kota raja. Ciongya yang dibunuh dan menimbulkan geger bukanlah berlalu begitu saja. Golok Maut juga luka-luka, terhuyung dan letih memasuki Lembah Iblis, tempat tinggalnya. Tapi ketika Wi Hong muncul dan marah-marah kepadanya, menyerang dan membuat keributan maka Golok Maut hampir saja membunuh kekasihnya ini, kalau saja Beng Tan tidak muncul. Dan karena pemuda baju putih yang lihai itu juga sedang mencari-cari dirinya dan minta pertanggungjawabannya atas pembunuhan yang dilakukan Golok Maut maka barulah terbuka bahwa Wi Hong hamil setelah perbuatannya dulu dengan pemuda bercaping ini. Golok Maut tentu saja terkejut, terpukul. Dia hampir saja membunuh kekasihnya ini, juga jabang bayi dari hasil hubungan mereka. Dan karena hal itu jauh lebih dahsyat menghantam pemuda ini dari segala pukulan atau serangan maka Golok Maut kaget dan terbelalak, serasa disambar petir dan selanjutnya dimaki-makilah dia oleh Beng Tan. Dia juga dituduh mau menggagahi Swi Cu, kekasih Beng Tan. Dan ketika semuanya itu bertubi-tu-bi mendarat di tubuh pemuda ini dan Golok Maut masih menjublak oleh kehamilan Wi Hong yang hampir dibunuh maka serangan Wi Hong nyaris saja menamatkan jiwanya, ketikaWi Hong merampas dan mengayun Golok Penghisap Darah, yang tidak dielak oleh pemuda bercaping ini. Tapi karena Beng Tan tak membiarkan itu dan Golok Maut selamat maka selanjutnya pemuda yang sedang diguncang pukulan batin ini diserang Mindra dan kawan-kawannya. Kita telah mengetahui itu dan terakhir Golok Maut pingsan setelah membunuh Pek-mo-ko, suheng dari Hek-mo-ko. Dan karena luka-lukanya ditambah lagi oleh jarum-jarum beracun yang dihamburkan Mo-ko lewat ujung tongkatnya maka pemuda itu roboh setelah Mindra dan sisa temannya berhasil dipukul mundur. Dan kini Wi Hong merawat pemuda itu. Dua hari dua malam Golok Maut masih tak sadarkan diri. Wi Hong sudah mendapat obat dari Beng Tan namun ketua Hekyan- pang yang angkuh ini tak mau menerima begitu saja. Dia juga memiliki sisa obat-obatan. Namun ketika tak mencukupi dan racun di tubuh Golok Maut tak lenyap dengan tuntas maka Wi Hong tersedu mengambil obat pemberian Beng Tan. “Jahanam keparat. Kami terpaksa berhutang budi padamu, Beng Tan. Tapi biarlah, kuterima ini dan kelak budimu akan kubalas dengan cara lain!” Wi Hong tersedu-sedu. Sebenarnya, dia sudah mengerahkan sinkang membantu kekasihnya ini, dua hari dua malam menempelkan lengan dan tiada henti-hentinya dia berseru memanggil Si GolokMaut. Tapi karena kondisi tubuhnya juga lemah dan hamil muda yang dialaminya sering disusul muntah-muntah, makaWi Hong tak berdaya lagi dan apa boleh buat terpaksa menerima pemberian Beng Tan, hal yang tak diingini karena dia berjanji akan mempertemukan pemuda itu dengan Golok Maut, kalau sudah sembuh. Jadi dua pemuda itu bakal bertarung lagi! padahal masing-masing adalah orang-orang yang sama dicinta. Dia mencintai Golok Maut sedangkan sumoinya, Swi Cu, mencintai Beng Tan. Mereka kakak beradik bakal terlibat permusuhan karena masing-masing tentu akan membela kekasihnya sendiri, hal yang menyakitkan. Dan ketika Wi Hong tersedu dan mengguguk teringat ini maka dia menjejalkan obat pemberian Beng Tan kepada kekasihnya. Namun sayang, karena terlambat, sebab Wi Hong baru memberikannya sekarang, setelah lewat dua hari maka bayangan kehijauan dari racun yang mengeram di tubuh tetap bersarang.Warna kehitaman sudah lenyap, tapi tubuh yang terganti dengan warna kehijauan tetap saja membuat Wi Hong gelisah, cemas. Dan ketika dia batuk-batuk dan mengerahkan sinkang duduk bersila tiba-tiba saja satu jam kemudian reaksi obat bekerja, meskipun tak menyeluruh. Hal ini terlihat karena tiba-tiba Si Golok Maut sadar, membuka mata dan mengeluh. Dan ketika Wi Hong terkejut tapi tentu saja girang maka gadis atau wanita ini cepat melepaskan tangannya berseru cemas, “Ah, kau sudah sadar. Bangunlah, lihatlah…!” Golok Maut nanar. Caping di atas kepalanya sudah dibuka. Wi Hong memang tak membiarkan caping itu melekat lagi di atas kepala karena mengeluarkan keringat yang membanjir. Gadis ini girang karena pemuda itu siuman. Tapi begitu dia berjongkok dan mengangkat kepala itu, diletakkannya di atas pahanya tiba-tiba Golok Maut terguling dan kesakitan, “Aduh, mati aku, Wi Hong. Tubuhku tak keruan…. huak!” Golok Maut muntah, menyemburkan darah kehitaman dan kental serta amis. Pemuda itu tak dapat bangun dan girang melihat kekasihnya, mau bersandar tapi tak sanggup, kepala serasa berputar dan begitu berat serta pusing. Dan ketika dia menyemprotkan darah busuk dan mendekap dada maka Wi Hong menangis dan tak jadi gembira. “Apamu yang sakit? Di mana?” “Augh, aku… ah, di mana kita, Wi Hong? Dan kenapa kau di sini pula? Di mana kita?” “Kita di Lembah Iblis, tempat tinggalmu. Ah, sembuhlah, GolokMaut. Sembuhlah!” Wi Hong tersedu-sedu. Gadis ini tak dapat menahan pilunya hati melihat kekasihnya mengerang dan mendesis menahan sakit. Lontakan darah segar kembali terjadi dan basahlah baju Wi Hong oleh semburan darah busuk itu. Tapi ketika gadis ini tak menghiraukan dan menangis merangkul kekasihnya maka Golok Maut terengah-engah dan pucat mukanya. “Menjauhlah, jangan dekat-dekat. Aku merasa demam dan menggigil!” “Tidak…. tidak, Golok Maut. Aku akan tetap di sini dan tak perduli apapun yang terjadi!” “Bodoh! Pakaianmu kotor, Wi Hong. Bersihkan dulu dan bantu aku duduk…!” Wi Hong bercucuran air mata. Akhirnya Golok Maut minta disandarkan pada dinding, mereka berada di sebuah guha di atas tebing. Itu adalah guha yang hangat meskipun gelap. Wi Hong telah menyalakan lilin dan dua hari ini gadis itu hampir tak tidur, kusut dan mengharukan Dan ketika Golok Maut melihat semuanya ini dan tentu saja terharu maka pemuda itu tertegun dan menangis. “Kau…. berapa hari di sini? Berapa lama aku pingsan?” “Dua hari…” “Dan kau tetap menungguku?” “Kau…. kita, ah…. aku wajib menunggumu, Golok Maut. Kita bukan orang lain!” “Hm, dan kau tak tidur. Wi Hong, bagaimana kesehatanmu? Bagaimana dengan anak di kandunganmu itu? Bolehkah aku mendengar detak jantungnya?” Wi Hong tersedu-sedu. “Kesehatanku baik, Golok Maut. Tak apa-apa. Kau jangan tanya itu. Lihat dan tanyalah dirimu. Bagaimana aku bisa membantumu dan kau sembuh!” “Hm, aku… ah!” Golok Maut menggigil, menahan sengatan rasa sakit di dada kirinya. “Aku terluka berat, Wi Hong. Dan …. ah, keparat jahanam-jahanam itu. Jarum di ujung tongkat Mo-ko menembus sebuah jalan darahku. Apakah sudah kau cabut?” Wi Hong terkejut. “Dicabut? Yang mana? Aku sudah mencabut hampir semua jarum di tubuhmu!” “Di selangkangan….” GolokMaut agak merah mukanya. “Apakah kau tahu itu dan sudah mencabutnya?” “Di selangkangan?” Wi Hong tiba-tiba merah padam. “Tidak, aku tak tahu itu. Kalau begitu, ah… biar kuperiksa!” “Tidak, jangan. Biarkan aku sendiri!” dan Golok Maut yang membungkuk menahan sakit lalu merobek celananya meraba bagian itu,Wi Hong melengos dan tentu saja merah padam. Untung, mereka pernah melakukan hubungan intim dan Wi Hong dapat menekan rasa malu. Kalau tidak, barangkali dia akan melompat pergi, tidak hanya sekedar melengos! Dan ketika Golok Maut mengeluh dan merintih kesakitan maka pemuda ini berkata bahwa jarum itu sudah tak ada lagi di situ. “Terlambat, sudah masuk!” muka pemuda ini pucat. “Jarum itu sudah mengikuti jalan darah,Wi Hong. Dan ini berarti nyawaku tak dapat dipertahankan lagi!” “Tidak!” Wi Hong tiba-tiba menjerit. “Kau tak akan mati, Golok Maut. Aku akan mencari itu!” “Di mana? Dengan membedah tubuhku? Hm, terlambat, Wi Hong. Tapi aku heran juga bagaimana aku masih dapat bertahan hidup! Kau agaknya memberikan obat yang istimewa!” “Beng Tan yang memberikannya…” gadis ini tersedu, gemetar. “Dan… dan… ah, tidak. Kau tak akan mati, Golok Maut. Kau akan hidup dan aku akan membantumu sebisaku!” dan Wi Hong yang mengguguk tak dapat menahan dirinya lagi lalu terguncang-guncang di atas dada pemuda ini, ngeri dan pucat karena dia tahu apa artinya itu. Jarum selembut dan sehalus seperti yang dimilikiMoko memang dapat menyusup dan mengikuti aliran darah, kalau tidak cepat dicabut. Dan menyesal bagaimana dia tidak tahu itu hingga kini Golok Maut terancam jiwanya maka gadis ini tersedu-sedu dan akhirnya berteriakteriak, mencaci dan mengumpat Pek-mo-ko yang sudah terbunuh itu dan dia berjanji akan mencari dan “membunuh” lagi kakek itu kalau bertemu di akherat. Satu kebencian yang memperlihatkan betapa marahnya gadis ini. Tapi ketika dia berteriak-teriak dan memaki-maki kakek itu maka Golok Maut tersenyum dan tiba-tiba membelai mukanya. “Wi Hong, sudahlah. Aku akan mati, tak guna menangis dengan air mata darah sekalipun. Kau mau diam dan mendengarkan kata-kataku ini?” “Tidak, kau tak akan mati, Golok Maut. Kau akan kuselamatkan!” “Sst, jangan berteriak-teriak. Kalau ajal sudah menanti tiba tak dapat kita mengelak. Aku siap mati, ini memang resikoku. Dan kau dengarkanlah kata-kataku sebelum aku berangkat.” “Tidak… tidak…!” dan Wi Hong yang mengguguk serta meremas-remas pemuda itu akhirnya berteriak agar kekasihnya tidak bicara seperti itu. Bicara tentang kematian sungguh bukanlah hal enak dan tak mau gadis ini mendengarkan. Namun ketika Golok Maut tetap berbisik lembut dan mengusap rambutnya tiba-tiba Wi Hong meloncat bangun dan beringas. “Kalau begitu baiklah, aku ikut dan kita sama-sama mencari Pek-mo-ko diakherat!” “Apa?” “Benar, aku akan mengiringimu dalam kematian, Golok Maut. Kita sama-sama berangkat ke akherat dan mencari kakek iblis itu!” “Tidak… jangan!” GolokMaut tiba-tiba menggigil. “Kau jangan gila, Wi Hong. Justeru aku menghendaki kau hidup untuk melanjutkan pembalasanku!” “Aku tak mau, dan aku merasa terlalu berat. Tanpa kau di sampingku aku tak dapat berbuat apa-apa dan lebih baik mati!” dan Wi Hong yang kembali mengguguk dan tersedu menubruk pemuda ini akhirnya menyatakan bahwa dia siap mengikuti pemuda itu ke akherat. Gadis ini tak mau hidup sendiri dan biarlah dia mengiringi serta. Pek-mo-ko dapat dicari di sana dan mereka berdua akan sama-sama membalas dendam, pembicaraan yang melantur dan tentu hanya menggelikan orang-orang yang tak tahu akan kekuatan cinta. Dan ketika gadis itu bersumpah pula tak mau hidup sendiri maka Wi Hong menutup, “Kau adalah suamiku. Meskipun kita belum terikat secara resmi namun aku adalah isterimu. Ke mana kau pergi ke situ pula aku ikut. Aku bersumpah tak mau sendiri!” “Tidak… jangan…!” Golok Maut terbata-bata. “Justeru itu yang hendak kucegah, Wi Hong. Kerjaku belum selesai. Orang-orang she Coa dan Ci masih hidup! Aku ingin kau membalaskan itu dan Coa-ongya juga belum terbunuh! Ah, tidak.., jangan, Wi Hong. Kau harus tunduk kepadaku dan ingat jabang bayi itu. Dia harus hidup dan jangan menyertai ayahnya. Kalau kau ingin menyusulku di alam baka baiklah, tapi lahirkan dan besarkan dulu anak kita itu. Suruh dia menuntut balas dan jangan menyertai ayah ibunya!” Wi Hong terkejut. Tiba-tiba dia teringat bahwa dia sedang mengandung. Anak yang di perutnya itu akan ikut ke alam baka pula kalau dia mengikuti Si GolokMaut, bela pati! Dan ketika dia tertegun dan pucat teringat itu maka GolokMaut berkata-kata lagi, gemetar, “Ingat, baru Ci-ongya yang kubunuh, Wi Hong. Masih ada dedengkotnya yang lain lagi, pangeran she Coa yang keparat itu! Aku tak mau mati penasaran dan tak meram kalau orang she Coa itu belum binasa. Aku menghendaki kau hidup untuk mendidik anak kita itu. Suruh dia melanjutkan tugasku dan bunuhlah jahanam terkutuk itu. Atau aku tak mau menerimamu di akherat dan kau tak kuakui sebagai isteriku!” “Ooh…!” Wi Hong tersedu-sedu. “Kau kejam, Golok Maut. Kau tak berperasaan. Kau menyakiti hatiku, keparat! Kau……kau….” “Kau bunuhlah aku!” Golok Maut bangkit berdiri, tibatiba terhuyung. “Dan mana Golok Penghisap Darah itu,Wi Hong. Tusuk dadaku kalau kau tak mau turut kata-kataku!” “Tidak… tidak!” Wi Hong menjerit. “Aku…ah, aku akan menurut kata-katamu, Golok Maut. Dan aku akan melahirkan dan membesarkan anak ini. Tapi aku masih akan berusaha untuk menyelamatkan jiwamu!” “Tak ada harapan lagi….” “Siapa bilang?” gadis itu cepat memotong. “Kau bilang mengenal seorang yang hebat, Golok Maut, Kau pernah bicara padaku tentang Sian-su! Nah, tunjukkan di mana kakek dewa ini dan biar kucari dia!” Golok Maut tertegun. Tiba-tiba roman berserl terbayang di wajah itu, Golok Maut kaget namun girang. Dan ketika Wi Hong berkata bahwa dulu dia pernah menceritakan tentang Sian-su, kakek dewa yang menyelamatkannya dari kekejaman Coa-ongya maka Golok Maut tertawa dan menyeringai menahan sakit. “Ah, kau benar, Wi Hong. Kalau kita dapat menemui Sian-su barangkali aku selamat! Tapi, hmm… aku tak yakin. Kakek itu tak tentu tempat tinggalnya, tak tentu rimbanya…!” “Bukankah kau pernah bilang dia di Jurang Malaikat? Di mana tempat itu? Katakan padaku, GolokMaut. Dan akan kucari kakek itu. Aku ingin hidup berdua bersamamu dan sama-sama membesarkan anak di kandunganku ini!” “Hm,” Golok Maut menyeringai. “Aku lupa-lupa ingat akan Jurang Malaikat ini. Tempatnya jauh, dan asing. Aku tak hapal…” “Tapi waktu itu kau dibawanya!” “Benar, tapi harap diingat bahwa waktu itu aku pingsan, Wi Hong. Tempat itu hanya samar-samar saja kuingat!” “Kalau begitu kita gagal!” Wi Hong menangis lagi, membanting-banting kakinya. “Kau menghancurkan harapanku, GolokMaut. Kau tak kasihan kepadaku!” “Hm, nanti dulu,” pemuda ini tiba-tiba bergerak. “Ada kuingat sebuah tempat lain, Wi Hong. Lembah Malaikat! Ya, di situ kakek itu sering juga tinggal dan aku mengenal beberapa ciri-cirinya. Tempat itu merupakan tebing yang tinggi dan terjal, di atasnya ada sebuah guha!” “Di mana itu?” Wi Hong tiba-tiba menghentikan tangisnya, bersemangat. “Aku akan mencarinya dan mari segera berangkat!” “Tempat itu di tepi batas propinsi Shansi dengan Honan. Kauikuti arah aliran sungai Huang-ho ke timur!” “Hah? Berapa hari perjalanan? Tempat itu jauh sekali, Golok Maut. Dan aku tak dapat ke sana dalam waktu tiga atau empat hari! Ah, tapi aku akan berusaha. Kita membawa kereta dan menukar kuda sepanjang perjalanan!” Wi Hong tiba-tiba gembira, bangkit semangatnya meskipun mula-mula terkejut. Tempat yang ditunjukkan itu cukuplah jauh namun dia tak kecil hati. Dan ketika dia bergerak dan menyambar pemuda ini maka GolokMaut sudah dipanggul tapi mereka berdua jatuh terguling! “Ah, kaupun kehabisan tenaga. Semangatmu besar tapi tenagamu kurang! Wi Hong, biarkan aku sendiri dan kita berjalan bersama!” Wi Hong pucat. “Aku tolol, aku lemah ….!” “Tidak, kau memang letih, Wi Hong. Dan lagi kau sedang mengandung. Kau tak dapat memanggulku dan turun ke bawah. Lebih baik tuntun aku dan kita bersamasama menuruni tempat ini.” Wi Hong gugup mengangguk. Setelah sebuah harapan terbersit di depan mata tiba-tiba gadis itu menyala semangatnya. Golok Maut harus disembuhkan dan dia akan mencari Sian-su, Bu-beng Sian-su si kakek dewa. Dulu kakek itu menolong pemuda ini dan sekarang dia akan mencari-nya. Tak boleh kekasihnya itu tewas dan dia hidup sendiri. Dan ketika gadis itu bangkit semangatnya dan menyambar serta menuntun hati-hati maka dua orang ini sudah mulai menuruni tebing untuk keluar mencari pertolongan. Golok Maut diam-diam mendesis mudahmudahan maksudnya itu kesampaian. Bu-beng sian-su adalah kakek aneh yang tak dapat diikuti bayangannya. Acapkali muncul kalau tidak dicari tapi tak muncul kalau sedang ditunggu-tunggu. GolokMaut diam-diam kecil hati. Namun melihat betapa kekasihnya demikian besar menaruh harapan dan betapa ketua Hek-yan-pang itu amat mencintanya tiba-tiba keharuan mendalam muncul lagi di hatinya, meremas dan menggenggam tangan kekasihnya itu erat-erat. Dan ketika Golok Maut batuk-batuk dan berhenti di tengah jalan makaWi Hong ikut berhenti dan khawatir. “Kau telan ini lagi, masih sebutir!” “Hm, berapa kaudapatkan dari Beng Tan?” ”Tiga butir, yang dua sudah kau minum!” “Keparat, aku berhutang budi!” Golok Maut, yang merasa terpukul tapi terpaksa menerima obat itu lalu menelannya dan diam-diam mengepal tinju. Kaiau saja tidak kasihan kepada Wi Hong yang demikian sungguhsungguh ingin menyelamatkan jiwanya barangkali dia lebih baik mati daripada menerima obat lawan. Obat itu memang manjur karena sesak di dada tiba-tiba agak berkurang. Dan ketika mereka turun lagi dan tertatih berpegangan batu-batu tebing maka tak lama kemudian mereka sudah hampir tiba di bawah. TapiWi Hong tiba-tiba tertegun. Golok Maut juga menoleh dan tersiraplah dua mudamudi ini melihat ular-ularan yang panjang. Dan karena mereka kebetulan masih berada di tempat yang agak tinggi, di pinggang tebing terjal itu maka tampaklah oleh keduanya gerakan pasukan besar yang sedang menuju Lembah Iblis! “Kita kedatangan musuh!” Wi Hong tiba-tiba pucat. “Lihat, dari depan tak kurang dari seribu orang, Golok Maut. Kita harus turun cepat-cepat, berputar!” “Hm, keparat. Siapa itu?” “Pasukan dari kota raja! Siapa lagi?” “Bukan, bukan itu maksudku. Maksudku, siapa pemimpinnya dan apakah mereka hendak membunuh aku!” “Tentu, mereka akan membunuhmu. Dan Beng Tan barangkali ada di sana. Celaka!” “Tak mungkin,” Golok Maut tiba-tiba mencekal lengan kekasihnya. “Pemuda she Ju itu tak mungkin memimpin pasukan, Wi Hong. Dia adalah manusia gagah dan dapat menghadapiku sendiri. Pasukan itu pasti dipimpin orang lain!” “Aku tak perduli siapa, pokoknya kita pergi dan lari!” Wi Hong menarik, cemas menyambar kekasihnya ini dan GolokMaut marah. Sebenarnya, kalau saja dia tidak dalam keadaan luka-luka tentu dia tak akan pergi dan justeru menyambut musuh. Namun karena dia sedang luka-luka dan racun di tubuhnya itu harus segera dilenyapkan kalau dia tak ingin membuat kekasihnya gelisah maka Golok Maut mengikuti meskipun sambil menggeram marah, mengepal tinju dan Wi Hong sudah membawanya cepat turun ke bawah, melempar tubuh dan terjun dan hampoir saja Wi Hong terkilir! Namun ketika gadis itu tak perduli dan sudah berlari tergesa-gesa makaWi Hong berputar dan mau menghindari pasukan yang ada di depan itu. Tapi Wi Hong kaget. Lembah Iblis, yang mempunyai dua pintu masuk dari muka dan belakang ternyata sudah terkurung. Dia bermaksud melalui jalan belakang namun di sanapun sedang mendatangi pasukan yang lain. Dan ketika Wi Hong mengeluh dan mengutuk marah maka di kiri dan kanan tiba-tiba terlihat gerakan-gerakan panjang dan nyatalah di empat penjuru lembah semua pasukan sudah mengepung! “Celaka, kita tak dapat keluar!” Golok Maut berobah. Kalau saja dirinya dalam keadaan sehat tentu hal itu tak perlu membuatnya khawatir. Tapi sekarang keadaan lain. Dia justeru sedang keracunan, lukaluka. Dan ketika pemuda itu mengepal tinju dan marah makaWi Hong menangis. “GolokMaut, kita rupanya harus mati bersama di tempat ini. Biarlah, aku akan mengadu jiwa!” “Tidak, yang mereka cari adalah aku, Wi Hong. Kau tak akan apa-apa. Sebaiknya kau pergi dan kembali ke atas. Kalau mereka sudah menangkapku tentu kau tak akan diperhatikan!” “Apa? Kau menyuruhku lari? Menyuruh aku menyelamatkan diri sementara kau terancam bahaya? Keparat, jaga mulutmu, GolokMaut.Otakmu tidak waras!” “Hm, aku ingin menyelamatkanmu…” “Aku lebih baik mati kalau kau binasa!” “Hm, kalau begitu baik. Kita berdua sama-sama kembali ke tebing!” Golok Maut bergegas, bingung dan tak mau membuat kekasihnya marah-marah lagi. Pertikaian di antara mereka tak akan membawa keuntungan apa-apa sementara musuh tentu akan kian mendekat saja. Dia harus mencari akal dan terutama kekasihnya ini biarlah selamat. Dan ketika Wi Hong mengangguk dan menangis mencengkeram lengannya maka mereka kembali dan naik ke atas, merayap, tak dapat beriompatan. “Hati-hati, jangan terpeleset!” “Kaulah yang hati-hati!” Wi Hong menegur, menangis. “Kau lebih parah daripada aku, Golok Maut. Perhatikan dirimu dan jangan perhatikan orang lain!” Golok Maut menutup mulut. Akhirnya dia menggigit bibir dan cepat mendaki dengan susah payah. Tebing itu tinggi dan mereka sama-sama letih. Yang satu karena akibat pukulan sedang yang lain karena tak pernah istirahat. Wi Hong juga sedang hamil dan tentu saja gadis itu menahan sakit. Perutnya serasa dikocok-kocok dan Wi Hong menangis bercucuran air mata. Tapi ketika mereka sudah sampai di tengah dan siap mendaki lagi ternyata pasukan sudah melihat bayangan mereka dan bersorak-sorak. “GolokMaut, berhenti. Turunlah!” “Atau kau kami panah dari sini!” Wi Hong pucat. Musuh ternyata sudah memasuki lembah dan bersorak-sorailah mereka itu meneriakkan ancaman. Golok Maut berhenti dan menoleh. Dan ketika sebatang panah menyambar dan disusul panah-panah yang lain maka pemuda ini menyampok dan panah-panah itu runtuh meskipun dia mengeluh menahan dada kirinya. “Jangan hiraukan, kita terus ke atas!” WI Hong tersedu, melihat panah menyambar lagi dan gadis inilah yang sekarang menghalau semua serangan. Golok Maut mendesis dan cepat didorong naik, terpaksa membiarkan Wi Hong yang menangkis panah-panah itu dan bergeraklah mereka mendaki susah payah. Hujan senjata dan sorakan sungguh membuat nyali menciut. Lembah Iblis seolah tergetar dan diguncang gempa oleh pekik sorak pasukan di bawah itu. Namun ketika mereka berhasil naik dan selamat di atas ternyata sebatang panah menancap di pundak Wi Hong. “Kau terluka!” Golok Maut terkejut. “Ah, jahanam keparat orang-orang itu, Wi Hong. Mari kucabut dan jangan sampai panah itu beracun!” WI Hong berteriak. Golok Maut mencabut anak panah Itu dari pundaknya dan luka pun mengucur. Namun ketika Golok Maut mengecup dan membalut dengan merobek sebagian bajunya maka luka itu tertutup dan Golok Maut lega bahwa panah itu tidak beracun. “Kita kumpulkan batu-batu besar.Mereka pasti naik!” Wi Hong mengguguk.Memang pasukan di bawah mulai ada yang mendaki. Mereka rupanya tahu bahwa Golok Maut sedang terluka, tidak berbahaya dan mendakilah orang-orang yang berani ke atas tebing itu, hal yang sudah dilihat dan diperhitungkan Qolok Maut. Namun ketika golokMaut bergerak dan menggelindingkan batu-batu besar yang banyak terdapat di atas maka orang-orang itu berteriak ketika tertimpa. “Buummm..!” Empat tubuh hancur di bawah sana. Korban mulai jatuh dan yang lain ngeri. Tapi ketika seseorang memberi abaaba dan menyuruh orang-orang itu terus naik maka belasan orang memberanikan hati-nya lagi karena seruan atau bentakan itu menggetarkan nyali. “Bum-buummm…!” Beberapa orang menjadi korban lagi. Golok Maut dan Wi Hong terus menggelindingkan atau melempar batu-batu dari atas, menahan dan tentu saja tak mau orang-orang itu naik. Dan ketika belasan orang akhirnya mati sia-sia maka pasukan yang panik akhirnya disuruh melepas panah api. “Semua turun, lancarkan panah api!” Golok Maut terkejut. Hujan panah tiba-tiba berhamburan. Namun karena tebing cukup tinggi dan serangan panah itu tak sampai maka banyak di antaranya yang gagal dan jatuh di tengah tebing, menyala dan membakar tempat-tempat kering dan Wi Hong ngeri. Kalau itu terjadi terus-menerus tentu mereka akan tertembus hidup-hidup, bukan main kejinya. Musuh teramat kejam! Tapi ketika Golok Maut menyambar tong-tong kayu yang berisi air minum maka pemuda ini sudah menuangkan air dan tempat-tempat yang terbakar seketika padam! “Wi Hong, bantu aku. Ambil air di dalam guha!” Wi Hong terkejut. Tiba-tiba dia teringat bahwa di dalam guha, di atas tebing itu terdapat mata-air yang besar. Air terus bergemiricik dan di situlah biasanya orang mandi atau minum. Maka begitu melihat kekasihnya menyambar tongtong kayu itu dan menyiramkan airnya ke bawah maka Wi Hong mengikuti dan sudah menuangkan hujan air ini, memadamkan tempat-tempat lain yang terbakar dan tentu saja musuh mengumpat-caci. Tempat itu seketika basah dan gagallah pasukan api. Dan ketika sehari itu mereka dikepung dan musuh tak berani naik, karena bakal dihujani batu-batu besar maka malam mulai tiba dan pasukan di bawah diam tak berteriak-teriak lagi. Golok Maut tak tahu apa yang akan dilakukan lawan namun dia berdebar keras. Kalau malam tiba dan keadaan menjadi gelap tentu mereka itu akan naik. Hm, berbahaya! Apa akal? Dan ketika Wi Hong juga merasakan itu dan bertanya maka pemuda ini menggigit bibir. “Ada dua jalan. Pertama membiarkan mereka naik dan kita menghadapinya di sini atau kita turun dan menyerbu mereka di sana!” “Tapi kau tak dapat bertempur. Kau luka-luka!” “Hm, dalam keadaan terdesak dan terancam aku masih dapat melakukan apa saja, Wi Hong. Berikan senjataku itu dan aku akan berbuat sesuatu!” “Kau mau apa?” “Menyambut mereka tentu saja! Kau masih menyimpan pedangmu?” “Masih…” Wi Hong gemetar, menahan tangisnya. “Aku akan menyertaimu, Golok Maut. Sampai titik darah terakhir!” “Hm!” Golok Maut tiba-tiba mencengkeram jari kekasihnya. “Tidakkah kau dapat memanggilku dengan namaku, Wi Hong? Kenapa mesti selalu menyebut nama julukanku? Itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang tak suka padaku. Kau tak seharusnya menyebut nama julukanku!” “Hauw-ko (kanda Hauw)….” suara itu tiba-tiba bergetar lembut, lembut dan mesra. “Aku… aku… maafkan aku. Aku lupa, aku bingung. Aku, ah… aku khawatir akan keselamatanmu!” dan Wi Hong yang mengguguk menubruk kekasihnya lalu menangis dan tak henti-hentinya mencucurkan air mata membasahi baju pemuda ini. Golok Maut, yang dipanggil nama kecilnya tiba-tiba tersenyum. Dan ketika gadis itu tersedu dan menyusupkan kepala di dada tiba-tiba Golok Maut meraih dan mengangkat wajah jelita itu. “Hong-moi (dinda Hong)…” suara ini pun bergetar dan menembus perasaan gadis baju merah itu. “Aku menyesal bahwa aku telah membawamu ke tempat yang begini buruk. Ah, aku berdosa padamu. Aku manusia terkutuk..” “Tidak… tidak, Hauw-ko. Apa yang terjadi adalah atas kehendak kita berdua juga. Kau tak perlu menyesal, tak perlu menyalahkan diri sendiri!” “Tapi kau mengandung, hasil perbuatanku!” “Memangnya kenapa?” Wi Hong tiba-tiba mengangkat tegak tubuhnya itu. “Aku menghendaki itu, Hauw-ko. Aku ingin benih dan melahirkan keturunanmu. Aku tak menyesal!” “Tapi kau terancam bahaya!” “Hidup selalu mengandung resiko bahaya! Tidak, tak perlu kau menyesall ini, Hauw-ko. Aku mencintamu dan siap mati untukmu!” “Ah!” dan Golok Maut yang terharu dan cepat mendekap kepala ini lalu mencium dan berbisik gemetar. “Hong-moi, kalau saja kau dapat selamat, maukah kau memenuhi permintaanku?” “Apa yang kau minta? Menyuruh aku melarikan diri dan pergi dari sini? Tidak, jangan katakan itu, Hauw-ko. Aku tak mau dan tak sudi!” “Maaf, bukan itu,” Golok Maut mendekap menggigil. “Aku tahu kau siap mati di sini. Tapi kalau seandainya… hm, seandainya saja aku terbunuh dan kau tidak dikehendaki orang-orang itu maukah kau melahirkan dan merawat anak kita, Hong-moi? Maukah kau membesarkannya dan membalaskan dendamku?” “Aku… aku tak ingin selamat. Kuharap orang-orang itu membunuhku pula dan kita sama-sama ke alam baka!” “Tidak! Orang-orang itu mencariku, Hong-moi, bukan kau. Aku hanya mengandalkan seumpamanya kau tidak dikehendaki, tidak dibunuh! Maukah kau memenuhi permintaanku dan menyuruh anak kita membalas dendam?” “Hauw-ko, aku ingin mati bersamamu!” “Dengarlah, jangan tolol!” Golok Maut mencengkeram kekasihnya ini.”Selama dari sini belum tentu aku selamat dari racun jahanam ini, Wi Hong. Maksud kita mencari Sian-su telah terhalangi orang-orang itu. Aku merasa umurku tak akan panjang!” “Hauw-ko…!” “Tidak!! kau dengarlah Mo-bin-lo telah menjumpai aku dan aku harus membayar kutukannya!” “Mo-bin-lo (SiMuka lblis)? Siapa itu?” “Hm, dialah pencipta Golok Penghisap Darah, Hongmoi. Dan aku telah bertemu dengannya dan tak dapat menghindar. Nyawaku terancam, dan maut pasti menjemputku. Semua yang terjadi ini kukira adalah garis nasib yang harus kujalani karena aku melanggar larangan, sebuah kutukan!” “Ah, kau bicara tentang sesuatu yang mengerikan. Bulu romaku berdiri!” -ooo0dw0oo- Jilid : XXVI “TIDAK, aku tak bermaksud menakut-nakutimu, Hongmoi. Apa yang hendak kubicarakan ini adaiah berdasarkan kenyataannya. Kau diamlah, dengarkan ceritaku!” dan Golok Maut yang menceritakan pertemuannya dengan si kakek iblis, Mo-bin-lo yang amat sakti akhlrnya membuat Wi Hong ketakutan dan ngeri. Betapa kekasihnya itu tak akan mungkin lepas dari kutukan kakek iblis itu karena Golok Maut, Golok Penghisap Darah itu telah dikotori perbuatan mereka berdua. Golok itu hanya boleh dipegang atau dimiliki oleh jejaka-jejaka atau perawan ting-ting, tak boleh dimiliki suami isteri atau calon suami isteri. Dan karena keampuhan golok ini akan menjadi pudar kalau sudah dikotori hubungan suami isteri maka barang siapa yang mengotorinya haruslah menebus dengan nyawanya agar keampuhan atau kekeramatan golok itu tetap terjaga. “Itulah sebabnya aku hendak membunuhmu. Aku merasa kau perdayai, kau tipu. Karena setelah perbuatan itu maka aku telah melanggar larangan Golok Penghisap Darah ini. Tapi, ah… kau ternyata hamil, Hong-moi. Perbuatan kita dulu ternyata membuahkan anak dalam kandunganmu itu. Aku tak mungkin membunuhmu, dan sekaranglah saatnya aku yang menebus dosa!” Wi Hong pucat. “Jadi karena itu kau hendak membunuhku? Kau menganggap aku memperdayai?” “Maaf, tadinya begitu, Hong-moi. Tapi setelah kini semuanya kuketahui ternyata aku salah. Cintamu…” “Benar!” gadis ini bangkit berdiri. “Aku mencintamu lahir batin, Hauw-ko. Aku tidak memperdayai atau bermaksud menipumu. Aku sama sekali tak tahu akan peristiwa kutukan itu, Kau melukai hatiku, kau kejam!” “Maaf, kau benar, Hong-moi. Aku memang kejam, aku ternyata kejam. Terbawa oleh kebiasaanku yang bersifat kejam ternyata aku telah salah sangka denganmu. Maaf, aku kini menyesal!” Wi Hong tersedu-sedu. Tiba-tiba perasaannya menjadi sakit dan benci bukan main kepada Si GolokMaut ini. Tapi karena orang yang dia benci sekaligus juga dicintanya maka gadis atau ketua Hek-yan-pang ini mengguguk-guguk, itulah jalan pelampiasannya. “Hauw-ko, kau tak berperasaan. Kau merendahkan cintaku. Kau… kau, ah!” dan Wi Hong yang meremas serta mencengkeram baju pemuda ini akhirnya menarik-narik dan gemas memukul-mukul pemuda itu, dibiarkan saja dan GolokMaut akhirnya menggigil, menjatuhkan diri berlutut, memeluk gadis itu. Dan ketika Wi Hong masih menumpahkan semua kesal dan marahnya maka pemuda ini berkata, gemetar, “Hong-moi, aku mengakui salah. Aku mengakui berdosa. Nah, daripada mati di tangan musuh lebih baik kau bunuh aku dan lunaslah hutangku. Inilah Golok Penghisap Darah, lampiaskan kebencianmu dan aku reia mati di tanganmu!” “Kau gila? Kaukira aku suka membunuh? Tidak, lebih baik kita mati berdua, Hauw-ko. Dan simpan kembali golok keparat itu!” Wi Hong malah menangis deras. Menerima tapi membuang golok itu gadis ini menubruk dan memeluk pemuda itu. Betapapun Golok Maut adalah ayah dari anak di kandungannya. Betapapun Golok Maut adalah kekasihnya, suaminya, meskipun mereka belum diikat oleh suatu perkawinan resmi. Dan ketika gadis itu mengguguk dan menerkam pemuda ini maka Golok Maut terharu dan mencium kekasihnya ini. “Hong-moi, aku benar-benar buta. Aku tak dapat menghargai clnta sucimu. Ah, aku benar-benar manusia terkutuk!” Wi Hong tersedu-sedu. Akhirnya mereka sama-sama menangis dan keduanya lalu berciuman. Golok Maut tibatiba mengeluh karena mendadak dada kirinya sakit, mengerang dan Wi Hong melepaskan pelukannya. Dan ketika gadis itu pucat bertanya maka Golok Maut menggeleng dan menyembunyikan keadaannya. “Tak apa-apa…. aku tak apa-apa…” “Tapi kau mengerang, kau kesakitan!” “Hm, sedikit saja di sebelah kiri ini, Hong-moi. Tapi sekarang sudah tidak!” “Kau sungguh-sungguh?” “Aku sungguh-sungguh…” “Ooh..!” dan Wi Hong yang kembali memeluk dan menangis di dada pemuda itu akhirnya bertanya apa yang akan mereka lakukan. “Sudah kubilang tadi, turun ke bawah atau kita menunggu mereka di sini!” “Bagaimana kalau turun?” “Boleh saja, Hong-moi. Siapa tahu kita bisa lolos!” “Ya, aku mengharap itu. Malam yang gelap begini barangkali membantu. Sebaiknya kita turun dan coba-coba meloloskan diri!” “Kau siap?” “Aku siap, Hauw-ko. Sejak tadi!” “Hm, kalau begitu mari kita coba…!” dan Golok Maut yang meringis melepas kekasihnya lalu minta agarWi Hong menyiapkan pedangnya. “Kita turun, dan melingkar secara hati-hati di pinggang tebing.” “Kau kuat?” “Kukira kuat, marilah…!” dan Si Golok Maut yang kembali menyembunyikan sakitnya lalu bersikap gagah dan tegak bangkit berdiri, berkata kuat tapi sebenarnya seluruh tubuh sudah gemetar. Dipikir-pikir memang sebaiknya menyongsong musuh dan mati di bawah daripada menunggu dan menyambut mereka di atas. Dan ketika Wi Hong menggandeng lengannya dan mencabut pedang dengan tangan gemetar maka dua orang ini mulai berhatihati turun dari puncak tebing itu, tak mendengar apa-apa di bawah tapi obor yang jumlahnya ribuan menerangi lembah. Bayangan mereka tiba-tiba tampak dan Wi Hong tertegun. Dan ketika ke mana-pun mereka bergerak pasti bayangbayang mereka memantul di dinding, oleh cahaya obor yang ternyata sudah dipasang musuh maka Wi Hong mendesis. “Mereka menerangi bawah lembah, sengaja agar kita tak dapat melarikan diri!” “Benar, dan itu berarti kita tetap di atas, Hong-moi. Atau kita nekat dan terus ke bawah!” “Aku khawatir…” Wi Hong ragu, berhenti. “Kita akan segera terlihat, Hauw-ko. Dan ini berbahaya… sing!” sebatang panah tiba-tiba menyambar, tepat baru saja gadis itu menghentikan kata-katanya dan terdengarlah teriakan atau ribut-ribut di bawah. Dan ketika sebatang panah kembali menyambar dan di bawah cahaya obor tiba-tiba bergerak maka ribuan orang bangkit seperti siluman. “Mereka mau turun! itu, lihat di atas ….!” Golok Maut menggeram. Kalau belum apa-apa mereka sudah kepergok dan disambut musuh tentu gerakan mereka luar biasa sulit. Turun dalam keadaan begitu sama artinya dengan menyambut kematian. Tempat di bawah tiba-tiba menjadi terang luar biasa karena semua obor digabung. Dan ketika anak-anak panah kembali menyambar dan Wi Hong serta Golok Maut mengibas maka Wi Hong menangis dan mengajak untuk naik lagi ke atas, tak jadi turun. “Kita tak mungkin berhasii, kita gagal. Sebaiknya kembali naik dan kita tunggu mereka di sana!” Golok Maut mengangguk. Sambil memaki dan menggeram terpaksa pemuda ini mendaki lagi. Sorakan atau teriakan di bawah tak dihiraukan. Mereka menyelamatkan diri dari hujan panah yang tiba-tiba saja sudah berhamburan. Dan ketika dengan terengah dan napas memburu mereka berdua sudah tiba di puncak maka Wi Hong mengguguk dan membanting kakinya. “Kita gagal, kita tak dapat. turun!” GolokMaut menggigit bibir. Malam itu terpaksa mereka tak dapat turun setelah musuh memergoki mereka. Belum apa-apa sudah ketahuan dan tentu saja mereka masygul, di samping marah. Dan ketika malam itu musuh ribut-ribut di bawah tapi mereka sudah naik lagi ke atas maka tak ada apa-apa dan keesokannya barulah musuh bersorak-sorai. Pada hari kedua ini mereka melakukan serangan lagi, naik tapi kembali Golok Maut maupun Wi Hong menggelindingkan batu-batu besar. Musuh banyak yang menjadi korban dan panah-panah api kembali berluncuran. Tapi ketika Golok Maut menghadapinya dengan siraman air dan panah-panah itu padam maka musuh kembali gagal namun Wi Hong dan Golok Maut gemetaran. Dua hari mereka bertahan dan persediaan makan pun menyusut cepat. Tenaga yang dicurahkan untuk melawan musuh di bawah sungguh bukan tenaga main-main. Wi Hong sendiri tak pernah memikirkan untuk mengumpulkan ransum di situ, sewaktu Golok Maut pingsan dan masih belum sadarkan diri. Dan ketika serangan itu muncul dan musuh tiba-tiba sudah mengepung dan menyerang dengan caracara mereka akhirnya pada hari keempat sisa makanan di atas tebing habis. “Aku tak kuat lagi… tubuhku lemah!” Wi Hong jatuh terduduk, menangis tersedu-sedu dan Golok Maut sendiri bersandar dinding dengan muka pucat. Empat hari bertahan sungguh merupakan siksaan yang luar biasa bagi mereka berdua, terutama bagi Golok Maut yang sedang terluka. Dan karena pemuda bercaping itu betul-betul lelah lahir batin maka Golok Maut jatuh terduduk ketika kekasihnya menangis. “Wi Hong, akupun lemah. Ah, tubuhku gemetar… tak ada jalan lain kecuali menanti maut!” “Dan kita akan mati…. mati bersama! Ah, lebih baik begini, Hauw-ko. Aku ingin berangkat bersamamu ke alam baka!” “Tapi anak kita…” Golok Maut tiba-tiba bangkit terhuyung. “Tak boleh anak itu mati, Hong-moi. Tak boleh keturunanku ini menyertai orang tuanya. Kita masih ada jalan…. jalan terakhir!” “Apa maksudmu?” “Di balik batu itu ada sebuah terowongan rahasia. Kita masuk ke sana dan mari ikuti aku!” Wi Hong tertegun. Kekasihnya sudah terhuyung menghampiri sebuah batu hitam yang permukaannya kasar. Batu ini berada di puncak dan dari jauh tak memperlihatkan tanda-tanda adanya sebuah terowongan. Tapi ketika kekasihnya tiba di sana dan menggapai minta agar dia membantu makaWi Hong terbelalak. “Kita dorong batu besar ini, geser kedudukannya.” “Kau maksudkan terowongan itu ada di bawah batu ini?” “Benar, dan mari bekerja cepat, Hong-moi. Aku mendengar beberapa gerakan orang!” Wi Hong terkejut. Dalam keadaan seperti itupun ternyata kekasihnya ini masih memiliki pendengaran yang tajam. Dia tak mendengar apa-apa namun ia percaya. Telinga seorang tokoh macam Golok Maut tak mungkin menipu. Dan ketikaWi Hong tertegun dan membelalakkan mata tiba-tiba dia dibentak agar cepat melaksanakan tugasnya. “Dorong batu ini, geser kedudukannya!” Wi Hong tersentak. Akhirnya sambil mengusap sisa-sisa air mata cepat gadis ini mengerahkan sinkangnya, mendorong dan bersatu mengeluarkan aba-aba tiba-tiba mereka bergerak. Batu bergoyang namun belum tergeser, hanya bergoyang dan bergetar saja seperti pohon raksasa ditiup angin lembut! Dan ketika Golok Maut terbelalak dan merah mukanya maka pemuda itu kembali berseru memberi aba-aba. “Dorong!” Wi Hong melepas sinkangnya. Gadis ini sudah mengempos semangat dan masing-masing mengeluarkan seruan keras. Tapi ketika batu tak bergeming juga karena tenaga kurang kuat maka Golok Maut mendesis dan Wi Hong kembali menangis. “Kita benar-benar kehabisan tenaga. Kalau tidak, hmm… cukup aku sendiri biasanya pasti terangkat!” “Kau lelah… kau luka…!” Wi Hong ter sedu-sedu. “Gagalkah untuk kedua kalinya usaha kita ini, Hauw-ko? Apakah kita memang harus mati konyol?” “Tidak, ulangi sekali lagi, Hong-moi”. ”Mari…. hup!” Golok Maut mengerahkan tenaganya, mendorong dan Wi Hong pun cepat membantu. Meskipun menangis tapi gadis baju merah itu bangkit juga, mendorong dan mengerahkan sinkangnya. Dan ketika dua lengan mereka sama-sama mengeluarkan suara berkerotok maka batu terdorong dan bergeser sejengkal. “Kita berhasil! Batu ini bergeser…!” “Jangan berteriak!” Golok Maut berseru. “Kita masih harus mendorong lagi, Hong-moi. Ayo cepat, di bawah kita mulai terdengar dengus dan gerakan-gerakan seseorang!” Wi Hong pucat. Setelah suara yang ditangkap kekasihnya itu semakin dekat barulah dia mendengar gerakan-gerakan itu. Ada seseorang mendengus dan tentu saja dia pucat. Dan ketika dia mencabut pedang dan mau membalik ternyata kekasihnya membentak dan menyuruh dia mem perhatikan pekerjaan mereka. “Biarkan jahanam itu, batu ini harus secepatnya kita geser!” “Kalau orang itu menyerang?” “Aku dapat menghajarnya, Hong-moi. Dengan ini….!” Golok Maut memperlihatkan segenggam batu di tangan, hancur menjadi pasir-pasir lembut dan Wi Hong girang karena itulah senjata rahasia yang hebat juga. Di tangan kekasihnya tentu pasir-pasir halus itu akan mencelakai pendatang gelap, dan tentu kekasihnya tak akan gagal. Dan ketika Wi Hong mengangguk dan percaya akan itu maka gadis ini membentak dan keduanya mendorong lagi. “Satu…. dua— tiga…!” Bentakan itu disusul bergetarnya tanah yang mereka pijak. Batu yang mereka dorong tiba-tiba bergeser lagi, dua jengkal! Jadi, sudah setengah meter dan terlihatlah oleh Wi Hong sebuah terowongan bawah tanah. Lubang yang geiap namun memberi harapan tiba-tiba membuat Wi Hong bersorak girang, lupa pada pendatang gelap itu dan muncullah di belakang gadis ini lima orang laki-laki yang hampir semuanya mencapai puncak tebing. Jari-jari mereka tampak mencengkeram dan mengait kuat, berhati-hati. Lalu ketika gadis itu berteriak girang dan ini menunjukkan abaaba bagi lima orang itu mendadak mereka sudah melayang dan berjungkir balik tiba di puncak tebing, Mindra dan kawan-kawan serta si KedokHitam! “Awas!” GolokMaut berseru kaget. Saat itu mereka baru saja mendorong batu besar, girang namun terkejut karena Mindra dan kawan-kawannya muncul di situ. Dan ketika GolokMaut tertegun karena tak mengenal si Kedok Hitam, lawan yang menyembunyikan muka di balik sapu-tangan hitamnya maka lima orang itu bergerak dan Kedok Hitam sudah melakukan satu pukulan jarak jauh ke punggung Wi Hong, karena gadis itulah yang ada di depannya. Dan ketika yang lain-lain juga melakukan hal yang sama karena menyerang Golok Maut masih merupakan satu keraguraguan bagi Mindra dan kawan-kawannya maka gadis baju merah itulah yang dihantam! “Dess!” Golok Maut terang tak membiarkan ini. Dia sudah membentak dan menangkis pukulan-pukulan itu. Pasir di tangannya juga ikut bergerak dan menangkis pukulan-pukulan itu. Pasir di tangannya juga ikut bergerak dan menyambar kelima lawannya itu. Dan ketika lawan terkejut dan terpekik kaget maka pukulan yang sudah menyambar ditangkis pemuda ini sementara kakinya bergerak menendang Wi Hong, yang menjerit dan terlempar ke bawah terowongan dan terdengarlah suara hiruk-pikuk di luar ini. Wi Hong sendiri sudah terbanting dan terguling-guling di dalam terowongan gelap itu, nyaris kena bokongan namun Golok Maut di sana terlempar, terlempar dan jatuh berdebuk sementara lawan-lawannya kelabakan karena mata mereka tiba-tiba kemasukan pasir, mengumpat dan mencaci-maki dan terhuyunglah mereka oleh kejadian yang tidak diduga ini. Dan ketika Golok Maut mengeluh dan melihat betapa dari lima pukulan itu yang terhebat adalah dari si Kedok Hitam maka pemuda ini terbeialak dan terkejut karena mengenal pukulan itu adalah Kim-kong-ciang (Pukulan Sinar Emas), pukulan yang dimilikinya! “Ah!” Golok Maut hampir tak percaya, Dia terbelalak dan melotot memandang si Kedok Hitam itu, yang sedang mengucek dan mengumpat caci karena matanya kemasukan pasir. Namun ketika Golok Maut tertegun dan membelalakkan mata tiba-tiba Wi Hong berteriak dari dalam dan meloncat keluar. “Ayo, masuk.Musuh terlaiu berbahaya!” “Tidak, nanti dulu…!” Golok Maut terkejut, melepaskan dirinya. “Orang ini… jahanam itu, ah… dia memiliki Kim kong-ciang, Hong-moi. Dia mempunyai ilmu yang kumiliki!” “Apa?” “Benar. Pukulan tadi, ah… pukulan itu … benar Kimkong- ciang! Aku harus mengetahui siapa dia dan dari mana dia mendapatkan ilmu itu!” dan Golok Maut yang menggigil dan membentak maju tiba-tiba menggerakkan senjatanya menusuk laki-laki yang sedang mengucek-ucek matanya ini, terkejut dan mengelak sana-sini dengan pandangan kabur dan Golok Maut terus mengejarnya, membentak dan menggigil melakukan tikaman-tikaman atau bacokan berbahaya. Tapi sayang, karena tenaganya lemah dan kecepatan juga jauh berkurang dibanding biasanya maka lawan tetap dapat mengelak dan anehnya semua jurus-jurus yang dilakukan GolokMaut seolah sudah diketahui si Kedok Hitam ini, mundur dan berkelit atau berjongkok ke sana ke mari dan luputlah serangan-serangan berbahaya itu. Dan ketika lawan selesai mengucek matanya dan satu tikaman golok ditangkis kuat tiba-tiba GolokMaut terpelanting dan hampir saja golok di tangannya itu mencelat. “Ha-ha, mampus kau, Sin Hauw. Sekarang kau mati!” Golok Maut dan Wi Hong terkejut. Selama ini belum pernah orang lain mengenal siapa Si Golok Maut ini, tak pernah menyebut namanya dan baru kali itulah si Kedok Hitam menyebut, lawan yang tidak dikenal siapa karena menyembunyikan diri di balik saputangan hitamnya. Dan ketika Golok Maut bergulingan sementara Wi Hong menjerit kaget tiba-tiba lawan yang menubruk serta menyerang Golok Maut tiba-tiba ditusuk Wi Hong dari belakang, mempergunakan pedangnya yang baru dicabut. “Crat-plak!” Golok Maut dan Wi Hong terpental. Wi Hong berhasil menusukkan pedangnya namun laki-laki itu menggerakkan tangan ke belakang, menangkis dan terpentallah gadis itu karena tangkisan yang demikian kuat membuat pedangnya hampir terlepas. Dan ketika Wi Hong berteriak sementara Golok Maut di sana juga mengeluh dan menerima hantaman lawan, yang untung terpaksa membagi tenaganya karena harus menangkis pedangWi Hong maka pemuda ini terlempar dan kebetulan sekali bergulingan di dekat Wi Hong. “Kita masuk, jangan paksakan diri!” Wi Hong berteriak, merangkul dan mengajak kekasihnya memasuki lubang namun Golok Maut berseru bahwa dia ingin melawan dan melihat siapa si Kedok Hitam itu, lawan yang membuatnya kaget lahir batin. Namun ketika Wi Hong menangis dan memperingatkan kandungannya, anak mereka berdua tibatiba Golok Maut tertegun dan mereka berdua sudah berguiingan di bawah batu besar itu. “Anak kita! Atau aku tak dapat melaksanakan perintahmu…!” Golok Maut sadar. Akhirnya dia menggigit bibir dan menahan kemarahan yang bergolak. Wi Hong telah mengajaknya mendekati batu besar itu dan tiba-tiba… bles mereka pun sudah masuk ke terowongan gelap itu. Dan ketika lawan di atas berteriak kaget dan si Kedok Hitam rupanya kecewa tiba-tiba angin pukulan menyambar dari atas dan serangan sekuat prahara menghantam permukaan lubang itu. “Bress!” Batu tiba-tiba terguling. Cepat dan luar biasa mendadak lubang terowongan yang dihantam hancur kedua tepinya, tak kuat menerima pukulan dahsyat itu. Dan karena batu besar di atasnya merupakan penutup dan kini amblong ke tempat yang lebar maka otomatis batu menutup kembali dan terowongan itu gelap gulita! “Dorong batu ini! Kejar Si GolokMaut itu!” Mindra dan kawan-kawannya terbelalak. Mereka ternganga melihat gempuran dahsyat itu. Si Kedok Hitam menggerakkan kedua tangannya dan lubang bawah tanah ambrol. Tapi ketika batu menutup kembali dan mereka dibentak agar mendorong batu maka Mindra dan kawan-kawan sudah bergerak, mendesak dan mengerahkan sinkang agar batu bergulir dari tempatnya. Tapi karena lubang itu terlalu besar dan batu raksasa ini rupanya juga ambles hampir separohnya maka Mindra dan empat temannya tak kuat! “Bodoh, minggir kalian!” Kedok Hitam marah, tak sabar dan tiba-tiba menggerakkan tangannya ke depan. Angin pukulan dahsyat menyambar batu raksasa ini, sinarnya keemasan dan terdengarlah suara bercuit sebelum batu itu terkena pukulan. Dan ketika angin dahsyat ini menyambar dan batu itu kena gempur tiba-tiba batu raksasa ini hancur dan pecah seperti didinamit. “Blarr!” Celaka sekali. Pukulan dahsyat yang menghantam batu ini tiba-tiba malah menutup lubang terowongan. Batu yang hancur dan ambles ke bawah malah menimbun lubang itu. Dan ketika Kedok Hitam mengumpat-umpat dan Mindra serta teman-temannya meleletkan lidah, tanda ka-gum, maka Kedok Hitam menempeleng kepala mereka agar tidak mendelong saja. “Bodoh! Gentong-gentong kosong! Hayo turun dan semua berputar mengelilingi lembah!” Mindra dan empat temannya terpelanting. Ditampar dan dltempeleng begitu tiba-tiba mereka serasa anak kecil yang tak berdaya. Mindra dan teman-temannya meiompat bangun dan tentu saja mereka mencaci-maki, tak berani di mulut melainkan di hati. Tentu saja! Dan ketika Kedok Hitam sudah berkelebat dan turun dari puncak tebing maka laki-laki itu meluncur dan mengembangkan tangannya seperti sayap rajawali. Gagah namun menyeramkan! “Hayo turun. Semua turun…!” Mindra tak berani bercuit. Mereka sudah merasakan kelihaian Kedok Hitam ini dan tak ada satu pun di antara mereka yang berani banyak bicara. Satu-satunya jalan selamat adalah mengikuti perintah laki-laki itu, atau mereka malah menjadi korban dan salah salah mampus. Dan ketika semuanya bergerak dan turun tergesa-gesa maka Mo-ko terpeleset dan jatuh meluncur seperti sebuah bola. “Hei-hei…. tolong aku…!” Tak ada yang menolong. Karena ceroboh dan tergesagesa maka iblis hitam itu terpeleset dari tebing yang tinggi, jatuh dan bergulingan ke bawah dan tentu saja dia berteriakteriak. Batu-batu tajam menerima dan menggigit tubuhnya namun untung kakek iblis ini bukan orang biasa. Kalau orang biasa tentu sudah hancur tubuhnya dan babak-belur. Jatuh dari ketinggian seperti itu bukanlah main-main. Tapi karena Mo-ko adalah orang yang lihai dan meskipun terpeleset serta terjatuh seperti itu dia tetap dapat mengerahkan sinkangnya menjaga diri maka kakek iblis ini lebih dulu tiba di bawah dan berdebuk seperti buah nangka lepas dari induknya. “Bukk!” Kakek itu tak apa-apa. Meluncur dan menggelinding seperti bola kakek ini sudah terbanting ke bawah, mendahului kawan-kawannya dan tiba-tiba ribuan perajurit terbahak-bahak. Mereka itu serasa mendapat pemandangan lucu yang membuat perut terkocok, geli dan tak tahan mereka untuk tidak tertawa. Tapi begitu Mo-ko membentak dan ribuan mulut diam maka si Kedok Hitam juga membentak dan melengking agar semuanya tidak tertawa. “Semua jangan meringkik, ini bukan lelucon! Hayo bergerak seputar lembah dan cari Si GolokMaut itu!” Ribuan orang diam. Mereka telah dikatakan meringkik dan tentu saja diam-diam mereka mendongkol. Ketawa mereka dianggap kuda, jadi mereka tiada ubahnya binatang. Makian pedas yang membuat muka merah! Tapi karena mereka tak ada yang membantah dan komandan mereka sendiri juga membentak agar jatuhnya Mo-ko seperti bola tidak dianggap lelucon maka semua orang disuruh bergerak dan keluar dari lembah. “Semua berpencar. GolokMaut telah melarikan diri!” Orang-orang terkejut.Mereka merasa tak percaya karena bagaimana Golok Maut itu bisa melarikan diri. Bukankah masih di atas dan bayangannya tak tampak turun? Tapi ketika mereka mendapat tahu bahwa tokoh itu melarikan diri lewat terowongan rahasia di puncak tebing maka semuanya terkejut dan bergegas memutar tubuh, berhamburan keluar lembah dan Kedok Hitam sudah membentak-bentak agar semua tempat dikepung. Bahkan mereka disuruh ke bawah gunung dan dalam radius empat kilometer dari titik pusat mereka diperintahkan untuk berjaga ketat. Golok Maut tak mungkin melarikan diri kalau sudah seperti ini. Dan ketika mereka ribut-ribut dan Mindra serta kawan-kawannya sibuk mengelilingi lembah maka di sana, di dalam terowongan itu GolokMaut batukbatuk dan muntah darah. “Orang itu, ah… dia tentuiah dia..Keparat, tentu jahanam itu,Wi Hong. Tentu dia!” “Sudahlah,” Wi Hong tersedu-sedu. “Kita sudah di sini, Hauw-ko. Kita harus menyelamatkan diri…!” “Aku tahu. Tapi, uhh…!” GolokMaut batuk-batuk, jatuh terduduk. “Sakitku tak tertahankan, Wi Hong. Aku… aku letih!” “Aku juga, tapi… tapi kita harus keluar, Hauw-ko. Kita sudah berhasil melarikan diri dari musuh-musuh kita!” “Benar, tapi…. hm!” GolokMaut terengah, mata tiba-tiba meredup. “Racun di tubuhku bekerja lagi, Wi Hong. Dan obat itu habis!” “Lalu bagaimana? Apakah kita diam saja? Katakan padaku di mana jaian terowongan ini, dan kau akan kupondong. Aku dapat membawamu!” “Tidak…, terlambat!” Golok Maut memejamkan mata. “Percuma kau menolongku, Wi Hong. Sebaiknya kau saja yang keluar dari sini dan biarkan aku tewas!” “Kau gila?” Wi Hong menjerit. “Mati hidup aku tetap ingin bersamamu, Hauw-ko. Atau biar aku mati di sini pula dan kita sama-sama binasa!” Wi Hong mengguguk. Akhirnya gadis itu menangis dan tersedu-sedu meremas kekasihnya. Dalam bayang-bayang gelap begitu dia tak melihat betapa pemuda ini sudah mulai kuyu. Pandang mata Golok Maut sudah meredup dan seakan kehilangan cahayanya. Mata itu memudar namun tiba-tiba bersinar lagi ketika Wi Hong mengguncangguncang tubuhnya, menjerit dan memanggil-manggil namanya karena beberapa kali pertanyaan gadis itu tak dijawab. Dan ketika Golok Maut membuka mata dan tertegun maka dia mendengar kata-kata kekasihnya bahwa Wi Hong akan bunuh diri di situ apabila dia mati! “Aku tak mau melahirkan anak ini. Kau kejam, kau tak mau menjawab pertanyaanku! Biarlah… biar kita semua binasa, Hauw-ko. Kau tak mau kubawa dan memberitahukan di mana jalan keluar terowongan ini!” “Hm!” Golok Maut tiba-tiba bergerak, hidup dan bersinar-sinar matanya itu. “Aku sedang mengumpulkan ingatan, Hong-moi, sabarlah, dan dengar ini….” lalu mengumpulkan segenap kekuatan dan Ingatannya tiba-tiba pemuda ini menuding. “Kau dapat lurus mengikuti anak tangga itu, berbelok tujuh kali. Lalu kaiau kau menemui persimpangan dan melihat mata-air maka kau harus berbelok ke kanan sebanyak tujuh kali pula dan setelah itu lurus ke bawah. Kita… kau…. akan tiba di luar setelah melakukan perjalanan sepenanakan nasi…!” “Begitukah? Kenapa tidak tadi-tadi kau memberitahukan ini? Dan kau tak berperasaan, Hauw-ko. Sebenarnya sejak empat hari yang lalu kau harus menunjukkan tempat ini dan bukannya sekarang, setelah semuanya terlambat!” “Tidak… tidak terlambat, Hong-moi. Aku tak segera mengatakannya karena ini adalah jalan terakhir, kalat kita benar-benar terdesak. Aku sebenarnya lebih ingin menyambut mereka dan mati secara gagah, bukan konyol atau melarikan diri seperti ini!” “Tapi kita sekarang terkubur hidup-hidup. Si Kedok Hitam itu menghancurkan batu menimbuni mulut guha!” “Sudahlah, dia… dia memang hebat, Hong-moi. Dan baru sekarang dia menampakkan diri. Keparat, binatang itu memang jahanam! Tapi aku akan berusaha membunuhnya!” “Siapa dia?” “Musuh besarku! Orang yang memperkosa enciku!” “Dia?” “Ya, dia, Hong-moi. Tak ada lain! Tapi sudahlah, kau harus pergi dan keluar dari terowongan ini. Ikuti petunjukpetunjukku tadi!” “Apa? Kau menyuruhku sendirian? Kau mau…” “Sst, jangan ribut-ribut. Kau sedang mengandung anakku, Hong-moi, tak mungkin membawa beban lagi dengan menggendong aku. Kau keluarlah, dan ikuti petunjukku. Aku dapat bertahan di sini dan akan hidup lebih lama kalau kau membawakan makanan untukku. Pergilah ke sana dan ambilkan buah-buahan, aku menunggu….” “Tidak!” Wi Hong menjerit. “Aku akan membawamu, Hauw-ko. Aku tak mau sendiri!” “Hm, kau hendak membunuh anak di kandunganmu itu? Membawa beban dan bekerja berat? Kau ingin keguguran? Jangan bodoh. Kita di sini sudah aman. Hong-moi, tak ada yang tahu dan aku tak apa-apa. Kau tinggal memilih mencarikan makanan untukku di luar sana atau memaksa diri dan anak di perutmu itu akan mati!” Wi Hong tersedu. Akhirnya dia bingung namun dapat menerima bahwa sementara itu mereka berdua selamat. Kekasihnya tak akan ada yang mengganggul dan benarbenar di tempat aman. Mulut terowongan di atas sudah dihancurkan, jalan masuk hanya memasuki mulut yang lain. Dan karena anak di kandungannya juga harus dijaga dan kata-kata pemuda itu betul akhirnya Wi Hong menubruk dan mencium kekasihnya ini ketika GolokMaut menyuruhnya pergi, membelai rambutnya, gemetar. “Aku dapat menjaga diri di sini, dan Golok Penghisap Darah juga tetap bersamaku. Pergilah, dan keluarlah. Carikan buah-buahan dan lihat apakah di luar sana aman.” “Kau tak akan pergi? Kau akan tetap di sini?” “Tentu, aku akan tetap di sini, Hong-moi, tak mungkin dapat ke mana-mana karena kita berada di terowongan bawah tanah. Kau pergilah, dan bawakan makanan untukku.” Wi Hong akhirnya melepaskan diri. Setelah dia yakln dan dapat menerima kata-kata pemuda itu akhirnya gadis ini menurut juga. Memang, mereka berada di satu tempat yang aman, terowongan bawah tanah. Siapa dapat mengejar mereka kalau mereka tetap bersembunyi di situ? Tapi karena persedlaan makanan harus disiapkan dan hanya dialah yang dapat melakukan itu maka gadis ini menarik tubuhnya dan berbisik pada kekasihnya agar menunggu di situ. “Kau jangan ke mana-mana, aku akan keluar.” “Ya, dan jangan khawatiri diriku, Hong moi. Aku dapat menjaga diri dan Golok Penghisap Darah menemaniku di sini. Pergilah!” WI Hong terhuyung. Dengan gemetar dan sedikit tenteram dia meninggalkan kekasihnya itu, berjalan lurus menuruni anak tangga lalu berbelok tujuh kali. Dan ketika dia tiba di persimpangan di mana terdapat mata-air maka gadis ini berbelok ke kanan dan tujuh kali dia melakukan hal itu secara berturut-turut, benar seperti kata pemuda itu dan Wi Hong girang. Di ujung memang terdapat cahaya terang dan itulah jalan keluar, mulut atau jalan melarikan diri setelah guha di bawah batu besar dihancurkan. Cadis ini berhati-hari dan berindap menghampiri cahaya terang itu, celingukan ke sana-sini dan akhirnya dia merasa lega karena tempat itu sunyi, aman. Tak ada siapa-siapa dan tentu saja dia melompat keluar dengan perasaan bebas. Dan ketika dilihatnya buah-buahan yang banyak di sebuah hutan kecil dan cepat dia memunguti itu segera gadis ini kembali lagi ke tempat semula, berseru memanggil kekasihnya dan keranjang buah yang dibawanya hampir sarat oleh isi yang penuh. Tapi ketika gadis itu tak menemukan GolokMaut di sana dan dia tertegun serta kebingungan, serasa tak percaya maka dia berteriak-teriak memanggil kekasihnya itu. “Hauw-ko… Hauw-ko… aku datang..!” Namun aneh, Golok Maut yang dipanggil-panggil tak muncul juga.Wi Hong mengira bahwa dia salah masuk dan berlari lagi keluar, balik menghitung tujuh tikungan kanan dan kiri tapi tempat itu memang betul tempat yang semula ditempati kekasihnya, tempat mereka berdua. Dan ketika gadis ini bolak-balik tujuh kali naik turun dan menjerit berteriak memanggil-manggil kekasihnya akhirnya ditemukannya sepucuk surat dari kekasihnya itu yang menyatakan dia menyambut musuh di luar, lewat jalan lain. “Maaf, aku tak dapat tinggal di liang tikus ini dan mati secara konyol. Kalau kau kembali ke tempat ini sebaiknya keluarlah dari mulut terowongan yang kau temukan itu, Hong-moi. Tempat itu jauh di luar lembah dan tak mungkin musuh menemukan dirimu. Aku akan menghadapi musuhmusuhku, membunuh atau terbunuh, Kalau anak itu lahir, laki-laki, namakanlah dia Giam Liong, Naga Maut, atau Naga Pembunuh! Tapi kalau anak itu perempuan, terserah kau!” Wi Hong menjerit. Akhirnya dia sadar bahwa dia telah ditipu kekasihnya Itu. Golok Maut sengaja menyingkirkannya dan membiarkan dia selamat. Diri sendiri maju menghadapl musuh dan berteriaklah Wi Hong dengan histeris. Dan ketika dia melempar keranjang buahbuahan Itu dan memaki-maki kekasihnya maka gadis ini pulang balik di terowongan bawah tanah, beberapa kaii menemui jalan buntu atau persimpangan-persimpangan pendek di mana semuanya itu merupakan jalan mati. Dia tak tahu ke mana kekasihnya mendapatkan jalan keluar.Wi Hong sadar bahwa GolokMaut sengaja pergi meninggalkan dirinya, maju menghadapi musuh dan dia sudah diminta untuk keluar. Jalan terowongan itu memang sudah ditemukan dan memang mudah bagi gadis ini kalau dia mau keluar. Tapi karena GolokMaut meninggalkan dirinya dan Wi Hong marah serta gusar akhirnya gadis ini hanya kembali ke tempat yang itu-itu juga, tak pernah ke tempat yang lain dan robohlah Wi Hong tersedu-sedu. Gadis baju merah ini tak dapat menahan dirinya lagi dan terguling mengguguk-guguk. Kekasihnya menghadapi musuh di luar, dia sendirian dan tak mungkin kekasihnya itu selamat lagi. Ah, lima ribu orang akan mengeroyok pemuda yang dicintainya itu. Dan karena Wi Hong marah serta bingung tak dapat menemukan jalan keluar Si GolokMaut akhirnya gadis ini pingsan dan roboh terguling. Ke manakah Golok Maut? Benarkah menyambut musuh? Benar, dan Golok Maut memang sedang mengamuk, dahsyat dan mengerikan.Mari kita lihat! ooooo0de0wi0ooooo Seperti diketahui, pemuda ini menyuruh Wi Hong berjalan lurus untuk akhirnya berbelok kanan kiri tujuh kali menuruni anak-anak tangga di terowongan bawah tanah itu. Golok Maut tampak berkilat-kilat dan gembira mukanya. Ada perasaan puas bahwa gadis baju merah itu akhirnya tunduk juga kepadanya, dapat dibujuk. Dan karena Wi Hong tak melihat kilatan sinar mata ini dan betapa cahaya aneh akhirnya mencorong dan memancar dari pemuda itu maka Golok Maut terhuyung terseok melangkah ketika kekasihnya pergi. Golok Maut menghampiri sebuah dinding di sudut, mengetuk-ngetuk dinding-dinding di situ dan akhirnya pada dinding sebelah kiri dia mendengarkan suara berdengung. ltulah tanda tempat kosong di sana dan pemuda ini segera meraba-raba. Dan ketika sebuah tonjolan di celah-celah batu dapat dltemukannya dan benda ini ditarik tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dan sebuah batu hitam besar yang lain terbuka. “Dhrr!” Suara itu mirip getaran bumi yang diinjak ratusan gajah. Dinding batu itu membuka dan tampaklah sebuah tempat lain di situ. Golok Maut menyalakan lilin dan sebuah anak tangga yang bersusun ke atas tampak, tinggi dan curam. Bagian atasnya tak kelihatan karena masuk di sebuah celah atau guha batu yang naik membentuk sudut tajam. Dan ketika Golok Maut memasuki tempat itu dan menarik kembali tonjolan di dalam tempat baru ini maka dinding pun bergemuruh dan menutup kembali. ltulah sebabnyaWi Hong tak menemukan tempat ini meskipun dia sudah lari berputaran ke sana ke mari, bahkan menuju ke atas di mana puncak atau tangga terowongan itu sudah dihancur kan mulutnya oleh gempuran si Kedok Hitam. Dan ketika Golok Maut mulai mendaki dan lilin di tangannya sering bergoyang-goyang maka delapan sembilan kali pemuda ini roboh dalam usahanya mendaki anak tangga. Perjalanan itu berat bagi Si GolokMaut. Dia benar-benar kehabisan tenaga tapi semangatnya yang luar biasa sungguh mengagumkan semua orang. Berkat semangat dan kemarahannya yang besar inilah dia mampu mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, napas memburu dan sering dia berhenti kalau dada terasa sesak. Empat kali batuk-batuk darah tapi akhirnya dia meneruskan perjalanannya juga. Jeritan atau teriakan Wi Hong didengarnya sayup-sayup sampai. Mereka sebenarnya bersebelahan karena hanya terpisah oleh dinding terowongan yang tebal. Namun ketika Golok Maut tak menghiraukan panggilan itu dan betapa berkali-kali dia harus menyumbat telinganya agar jeritan atau teriakan Wi Hong tak didengarnya akhirnya pemuda ini sampai juga di puncak tebing di dekat batu hitam besar yang digempur landasannya oleh si KedokHitam. Golok Maut susah payah keluar dari tempat ini, muncul di sebuah batu hitam yang lain dan musuh tentu saja tak akan menyangkanya. Di tempat itu ada empat batu besar yang masing-masing terletak di sudut, berdiri tegak sesuai arah empat mata angin, timur-barat-selatan-dan utara. Siapapun tak menyangka bahwa pada dasarnya batu-batu hitam itu adalah penutup terowongan bawah tanah karena di bawah batu-batu besar itulah terdapat guha atau mulut terowongan. Golok Maut telah mempergunakan satu di antaranya dan tiga yang lain selamat, artinya tak diketahui si Kedok Hitam itu dan anak buahnya. Lembah Iblis memang sebuah tempat yang penuh misteri. Dan ketika Golok Maut keluar dari situ namun Kedok Hitam dan kawan-kawannya sudah turun memutari lembah, karena akan mencegat Golok Maut di bawah maka pemuda atau tokoh bercaping ini mendengus-dengus. Golok Maut merah padam dengan mata berkllat-kilat penuh bahaya. Hawa pembunuhan tampak di sorot matanya itu dan orang pasti akan gentar melihat pemuda ini, apalagi Golok Penghisap Darah dllipatnya di bawah siku. Sewaktu-waktu senjata ini akan bergerak dan korban pasti akan jatuh, begitulah biasanya Golok Maut beraksi. Dan ketika pemuda ini tertegun karena musuh turun di bawah sana maka yang terdengar hanyalah teriakan atau kegaduhan di bawah lembah. Perajurit atau pasukan besar itu tampak berhamburan keluar lembah, mereka disuruh mencegat dan mengepung di empat penjuru. Golok Maut terbelalak tapi tiba-tiba menggeram. Dan ketika bawah tebing menjadi bebas karena semua orang menganggap dia tak ada di situ maka dengan terhuyung tapi cepat pemuda ini bergerak kebawah. Tak ada orang mengira bahwa orang yang dicari-cari justeru turun ke bawah. Golok Maut kembali muncul di atas dan kini dengan hati-hati namun cepat dia menuruni tebing, hal yang akan membuat orang merasa heran dan tercengang, karena Golok Maut sebenarnya terluka dan tidak dalam kondisi sehat.Wajahnya yang mulai kehitaman tampak menunjukkan bahwa racun memang mulai bekerja, tak diperduiikan dan turunlah pemuda itu melewati bagianbagian yang terjal, sering terpeleset namun Golok Maut memang betul-betul tokoh yang hebat. Berpegangan dan menancapkan goloknya di tempat-tempat tertentu sering dia selamat. Dan ketika musuh berteriak-teriak di luar sana dan pemuda ini merayap ke bawah akhirnya tebing yang dituruni susah payah itu berhasil dilampaui. Golok Maut sudah di bawah. Muka yang beringas dan wajah yang kehitaman sungguh membuat tampangnya semakin menyeramkan. Pemuda ini mendesis dan mengepalkan tinjunya. Dan ketika dia mulai menyelinap dan terhuyung keluar lembah maka yang pertama-tama dicari adalah si KedokHitam itu. Orang tak tahu siapa laki-laki ini namun Golok Maut tahu. Geraman dan kepalan tinjunya itu sudah menunjukkan betapa yakin dan percayanya pemuda ini pada lawan yang menghantamnya dengan pukulan Kimkong- ciang itu. Di dunia ini tak ada orang lain yang memiliki pukulan itu kecuali dia dan lawan yang amat dibencinya, musuh yang dicari-carinya dan selalu menyembunyikan diri namun yang agaknya kali ini akan membuka kartu, berkedok di balik saputangan hitam namun Golok Maut sudah dapat menduga siapa lawannya itu. Musuh yang dicari-cari! Namun ketika dia terhuyung berindap-indap dan dengan hati-hati serta tidak bersikap tolol dia selalu waspada terhadap banyaknya pasukan yang ada di situ maka GolokMaut tak mudah menemukan orang yang dicarinya ini. Ada beberapa hal yang membuat Golok Maut bertindak seperti itu, menentang bahaya. Tak takut mati dan siap mengadu jiwa. Pertama adalah karena tak mungkin lagi dia mencari Sian-su setelah empat hari terkepung musuh, hal vang mengakibatkan racun semakin masuk ke dalam tubuhnya dan tak mungkin diobati iagi. Kedua adalah karena dia ingin menyelamatkan kekasihnya. Atau lebih tepat, menyelamatkan anak di kandungan Wi Hong karena kelak anak itulah yang diharap meneruskan cita-citanya, perjuangannya. Golok Maut telah bertekad bahwa hari ini adalah hari yang sebesar-besarnya dia membunuh musuh. Ajal sudah dekat dan pemuncuian Mo-bin-lo yang menuntut perbuatannya tak dapat dihindari lagi. Selamat dari Lembah Iblis tak mungkin selamat dari racun yang sudah memenuhi tubuhnya. lnilah yang membuat Golok Maut mata gelap dan bersumpah untuk menghadapi musuh-musuhnya. Daripada dia mati di terowongan bawah anah lebih baik dia mati di luar. Di situ setidak-tidaknya dia akan membunuh ratusan orang, paling tidak puluhan. Orang orang yang akan dibabat karena mereka itu adalah antekCoa-ongya, karena tentu atas suruhan pangeran itulah pasukan besar ini berangkat. Dan karena Mindra dan kawan-kawannya ternyata benar ada di situ dan ini merupakan petunjuk bahwa dugaannya tidak meleset maka Golok Maut ingin melampiaskan dendam dan kebenciannya di hari terakhir itu. Di sudah tak mungkin hidup iebih lama lagi. Musuh terlalu banyak dan tak mungkin sendirian saja dia menghadapi lima ribu orang, betapapu hebatnya dia, betapapun saktinya. Dan karena racun sudah memasuki tubuhnya dan pertemuan dengan Sian-su juga tak mungkin dapat diharapkan lagi maka yang ada di hati Si GolokMaut ini adalah tekad membunuh, mati bersama musuh! “Aku akan menghabiskan seberapa saja musuh-musuh yang dapat kubabat. Tapi yang paling kuingini adalah si Kedok Hitam danMo-ko serta tiga temannya itu!” Tekad ini sudah dicanangkan. Golok Maut tak perduli lagi pada keseiamatan dirinya dan dia merasa bebaa karena Wi Hong telah dijebaknya di terowongan bawah tanah. Kekasihnya itu akan selamat dan untuk sementara waktu Wi Hong tak akan dapat keluar. Dia dapat bebas bergerak dan semua sepak terjangnya tak mungkin akan dihalangi iagi. Bersama Wi Hong sungguh repot baginya. Dia harus melindungi kekasihnya itu di samping melindungi dirinya sendiri, hal yang terlampau berat baginya. Maka ketika hari itu dia muncui di atas tebing dan kini turun ke bawah maka yang dicari GolokMaut adaiah si KedokHitam itu. Namun hal ini sulit. Di sekeliling lembah yang banyak ditemui adalah ribuan orang-orang itu. Pasukan inilah yang paling hiruk-pikuk mencaci-maki namanya. Mereka berteriak-teriak dan memanggil dirinya, berlarian dan menjaga sekeliling lembah dengan ketat. Dan ketika dia menyelinap dan terhuyung mencari sana-sini akhirnya yang ditemukan adalah si kakek iblis Hek-mo-ko! “Kalian jangan berteriak-teriak, salah-salah dia malah menyembunyikan diri! Kalian diam saja, bergerak di tempat dan kepung dengan rapat. Kaiau dia muncul, nah, beri tahu padaku. Biar aku yang menghadapinya!” Golok Maut mendesis. Kakek itu bicara dengan sombong di depan perajurit-perajurit itu dengan mengatakan dialah yang akan menghajar dan membunuh Golok Maut. Perajurit hanya diminta mengepung dan jangan ribut-ribut. Golok Maut nanti takut dan salah-salah menyembunyikan diri, hal yang membuat pemuda ini bergetar keras dengan mata berapi-api. Dan ketika Hek-moko melompat pergi dan kebetulan berkelebat ke kiri, mau memasuki hutan kecii tiba-tiba Golok Maut bergerak dan sudah berjungkir baiik di atas kepala si kakek berkulit hitam itu. “Mo-ko, aku di sini!” Hek-mo-ko kaget bukan main. Dia baru saja sesumbar bahwa kalau Golok Maut muncul biarlah dia yang menghadapi. Para perajurit diminta menonton dan dialah yang akan menghajar Si Golok Maut itu. Maka begitu orang yang dibicarakan datang dan muncui membentaknya tiba-tiba kakek ini seperti ketemu hahtu. “Haiyaa… eitt, plak-dess!” Hek-mo-ko mencelat. Kaget dan terkejut oieh munculnya Golok Maut tiba-tiba kakek ini tak dapat berbuat banyak. Golok Maut menggerakkan goloknya yang mengerikan itu dan kakek ini melempar tubuh bergulingan. Tapi ketika bahu pundaknya masih tersampok juga dan darah memuncrat dengan deras tiba-tiba kakek ini bergulingan menjauh dan berteriak-teriak. “Heii… dia di sini! GolokMaut di sini!” Gegerlah perajurit yang dekat dengan si kakek iblis ini. Mereka baru saja disuruh diam dan mengepung tempat itu, tak tahunya Golok Maut muncul dan sudah menyerang si kakek hitam. Dan ketika Mo-ko bergulingan berkaok-kaok dan mereka tentu saja terkejut dan marah maka mereka berteriak dan berhamburan menolong kakek itu. Tapi begitu Golok Maut berkelebat dan mengayun senjatanya tiba-tiba sebelas tubuh telah roboh terpotong menjadi dua. “Ke marilah, dan aku akan mengantar kalian ke akherat…. eras-crass!” Para perajurit menjadi gentar. Mereka berteriak tertahan dan surut mundur, yang ada di depan tiba-tiba tak berani maju lagi dan yang ada di belakang justeru memutar tubuhnya, berteriak dan menyuruh teman yang lain maju, lucu! Dan karena mereka tak ada yang menyerang dan Moko berkaok-kaok serte berteriak sendirian maka terhadap kakek inilah Si GolokMaut menggerakkan senjatanya. “Sekarang kau, Mo-ko. Kau harus mampus menyusul saudaramu…. crat-aduh!” Mo-ko kembali berteriak, baru saja melompat bangun tahu-tahu sudah dikejar dan tak dapat menangkis. Ngeri dia menangkis golok yang berkeredep seperti perak itu. Dan ketika kakek ini kembali bergulingan dan berkaok-kaok maka pasukan berteriakteriak memanggil temannya, yang ada di empat penjuru segera menoleh dan mereka berserabutan datang. Mo-ko dikejar dan terus menerima tikaman-tikaman berbahaya, tongkat sudah dicabut tapi putus dibabat golok yang iuar biasa tajam itu. Dan ketika satu dua perajurit mencoba maju namun selalu terbabat roboh, terjengkang putus dan darah membanjir di mana-mana maka orangpun pucat sementara Mo-ko sendiri menjadi ngeri dan gentar. “Bantu aku. Bodoh kalian. Bantu aku!” Namun siapa yang berani membantu? Gerakan Si Golok Maut yang selalu menyambar-nyambar dan merobohkan siapa saja yang datang mendekat cukup membuat nyali orang-orang itu kuncup.Mereka meiihat betapa hebatnya Si Golok Maut ini dan gerakan-gerakannya yang gemetar namun masih berbahaya cukup membuat orang-orang itu mengerti bahwa tokoh ini masih terlampau berbahaya, biarpun katanya terluka dan lemah. Dan ketika mereka mundur dan terus mundur sementara Mo-ko dikejar dan didesak Si Golok Maut akhirnya satu jeritan tinggi meluncur dari kakek ini ketika tangannya terbabat putus. “Augh…!” Raungan itu bagai srigala terluka. Mo-ko terlempar dan roboh terguiing-guling, darah menyembur dari lukanya dan pucatlah kakek itu karena Golok Maut masih mengejar juga. Dan ketika dia mengeluh dan meiihat sinar putih menukik menyambar dadanya tiba-tiba kakek ini lupa dan menggerakkan tangan satunya. ”Crass!” Tangan itu putus. Seperti membabat agar-agar saja tahutahu Golok Penghisap Darah sudah menyentuh tangan kakek itu, bergerak luar biasa cepat dan terlemparlah kutungan tangan yang penuh darah. Mo-ko lupa dan ngeri serta ketakutan hebat, menangkis dan tentu saja dia terpapas kutung. Dan ketika kakek itu berteriak sementara orang-orang yang ada di. situ menonton dengan jantung terkesiap maka Golok Maut berkelebat dan mengeluarkan satu bentakan dingin. . “Sekarang kau roboh!” Mo-ko tak dapat menghindar. Sekarang semuanya sudah terlambat dan jalan lari untuknya juga sudah tak ada lagi. Dengan kedua tangan yang buntung tentu saja kakek ini tak dapat berbuat apa-apa. Dengan tubuh sehat saja dia masih bukan tandingan lawan, apalagi sekarang. Maka begitu Golok Maut berkelebat dan Mo-ko membelalakkan mata tahu-tahu sinar putih menyambar dan… kepala kakek iblis ini terpenggal dari tubuhnya. “Bluk!” Tubuh itu mandi darah. Tubuh itu sudah tidak berkepala lagi dan darah segar menyemprot bagai pancuran. Mo-ko roboh binasa dan tewas seketika. Kakek iblis itu tak sempat iagi berteriak dan gaduhlah pasukan meiihat robohnya kakek ini. Dan ketika mereka ribut-ribut dan terbelalak oleh kejadian itu maka GolokMaut membalik dan…. menerjang mereka. “Sekarang kalian, mampuslah!” Tujuh tubuh terjengkang tak sempat mengelak. Mereka itu adalah orang-orang yang terlambat memutar tubuhnya. Golok Maut teiah mengayunkan senjatanya dan tujuh kepala menggelinding hampir bersamaan. Dan ketika mereka roboh sementara yang lain menjerit lintang-pukang maka Golok Maut mendesis dan berkelebatan di antara orang-orang ini, menggerakkan senjatanya dan satu per satu kepala orang-orang itu dibabat terlepas, roboh dan menggelinding menyusul kepala tujuh orang pertama ini, juga kepala Mo-ko yang masih mendelik dan bergoyanggoyang di sana. Mengerikan! Dan ketika puluhan orang menjadi korban sementara pasukan menjadi panik dan gentar maka Golok Maut menggeram-geram dan memanggil-manggil nama si KedokHitam. “Panggil dia itu ke mari. Suruh berhadapan dengan aku. Atau kalian semua binasa dan tempat ini akan kujadikan lembah bangkai!” Semua pucat. Mereka akhirnya tunggang-langgang karena Golok Maut benar-benar masih mengerikan dengan senjatanya itu. Meskipun gemetar dan terhuyung-huyung namun bagi mereka yang termasuk orang-orang lemah para perajurit ini bukaniah tandingannya. Dan ketika seratus kepala menggelinding seperti kelereng-kelereng kecil yang berlumuran darah maka dari arah timur terdengar bentakan dan seruan. “Golok Maut, hentikan sepak terjangmu. Ini aku datang!” Sesosok bayangan hitam berkelebat. Golok Maut bersinar-sinar dan lima tubuh kembali dipisahkan kepalanya, roboh dan ditendang mayatnya. Dan ketika bayangan itu berkelebat cepat dan sudah tiba di depannya maka dari kiri dan kanan juga muncul Mindra dan kawankawannya. “Keparat,Mo-ko telah dibunuh!” Golok Maut tertawa aneh. Tiba-tiba pemuda bercaping ini bergoyang-goyang ketika meiihat kedatangan musuhnya itu. Mindra dan kawan-kawan dipandang dengan mata berapi dan boia mata itu seakan terbakar. Tapi ketika berhenti pada si Kedok Hitam ini di mana laki-laki atau tokoh misterius itu tertegun oleh kematian Mo-ko maka GolokMaut berseru, serak dan menyeramkan. “Manusia hina, bukalah kedokmu. Aku tahu siapa kau!” “Hm!” si Kedok Hitam, yang sadar dan hilang kagetnya tiba-tiba tersenyum dingin, baias memandang Si Golok Maut ini. Laiu ketika dua mata beradu dan masing-masing meiihat dendam dan kemarahan di pihak yang lain maka Kedok Hitam mendengus. “GolokMaut, akupun tahu siapa sesungguhnya dirimu. Hm, kau membunuh-bunuhi marga she Coa dan Ci. Kau bersikap telengas pula kepada kerabat istana. Kau tak tahu diri, pemberontak dan pantas sebagai putera bekas seorang pemberontak! Nah, aku di sini dan akulah sekarang yang akan menghabisi jiwa-mu!” “Ha-ha, kau sanggup? Majulah, dan buka kedokmu kalau kau jantan, Kedok Hitam. Jangan bersembunyi dan perlihatkan dirimu di depan semua orang! Hayo, kutantang kau dan akupun akan membuang capingku ini!” Golok Maut bergerak, membuka capingnya dan tampaklah wajah seorang laki-laki gagah berusia sekitar tiga-puluh enam tahun. Wajah yang tampan namun dingin kini diperiihatkan untuk pertama kali dan mungkin terakhir kalinya di depan umum. Golok Maut tak takut-takut menyembunyikan dirinya dan terlihatlah siapa kiranya tokoh yang selama ini ditakuti orang itu. Dan ketika caping itu dibuang dan Golok Maut menantang agar lawan membuka kedoknya maka Kedok Hitam terbelalak dan mundur selangkah. “Benar… hm, benar kiranya kau ini!” desisan atau katakata perlahan itu terdengar dari mulut si Kedok Hitam. Golok Maut menantangnya untuk memperlihatkan wajah masing-masing namun nampaknya laki-iaki ini ragu. Kedok Hitam mengerutkan kening dan tertawa. Dan ketika dia menggeleng dan tersenyumdingin maka dia berkata, “Golok Maut, kau gagah. Tapi aku, ah … biarlah aku begini. Bukankah kau tahu siapa aku? Ha-ha, tanpa membuka kedok pun kau sudah mengenal aku, Golok Maut, dan ini tak perlu diperpanjang lagi. Nab, kau menyerahiah baik-baik dan kutangkap atau aku akan membunuhmu dan kepalamu kugantung di kota raja!” “Kau jahanam busuk, pengecut!” dan Golok Maut yang berkelebat dengan penuh kebencian tiba-tiba menusuk dan menikam tenggorokan lawan, dikeiit dan menyerang lagi namun lawan menghindar dengan mudah. Dan ketika GolokMaut akhirnya membentak dan melengking-iengking maka pemuda itu sudah menyerang lawannya bertubi-tubi, cepat dan ganas namun si Kedok Hitam selaiu menghindar. Namun ketika sebuah tendangan mencuat dari kaki kin GolokMaut tiba-tiba lawan terlempar dan terbanting. “Dess!” Si Kedok Hitam mendesis. Dia ternyata kalah cepat dan tendangan itu membuatnya terguling-guling. Tapi ketika Golok Maut mengejar dan menusuknya lagi tiba-tiba dia sudah menyelamatkan diri dengan cara melempar tubuh ke kanan, menjauh dan kaki pun balas menendang. Hal ini tak diduga dan ganti Si Golok Maut terpelanting. Dan ketika lawan meloncat bangun dan para perajurit bersorak maka Mindra dan Sudra maupun kakek Yalu tertegun. Mereka heran melihat keluarbiasaan Si Golok Maut itu. Tapi mereka merasa lebih heran dan terkejut lagi karena Kedok Hitam seolah tahu ke mana golok akan menyambar. Dan ketika Kedok Hitam tertawa dan mencabut sebatang golok yang berkilat kebiruan maka Giam-to-hoat, Silat GolokMaut sudah dilakukan laki-laki itu dan bertandinglah keduanya dengan hebat. Bacok-membacok namun Kedok Hitam berhati-hati dengan senjatanya itu, tak berani keras lawan keras karena golok di tangannya ternyata kalah ampuh, terpapas dan untuk selanjutnya laki-iaki ini melayani lawan dengan cara berkelebatan ke sana ke mari, terbang dan berputaran dan Golok Maut pun mengikuti gerakan lawan. Dan ketika keduanya sudah melakukan serangan-serangan cepat dan golok di tangan keduanya bergulung naik turun maka tampak dua cahaya putih dan biru berseliweran saling cengkeram. “Crang-bret!” Golok Maut terhuyung. Lawan terbabat ujung goloknya lagi namun dia kalah tenaga, terdorong dan tergetar tiga langkah. Namun ketika Golok Maut maju lagi dan menyerang lawannya maka dua cahaya biru dan putih itu sudah menari-nari lagi di udara. “Crik-crangg!” Golok Maut melepas hantaman tangan kiri. Lawan terkejut dan mengelak ke kanan namun pukulan itu mendarat juga, menghantam namun sesuatu di baiik baju si Kedok Hitam rupanya melindungi laki-laki ini. GolokMaut terbelalak karena lawan ternyata mengenakan baju besi, dua kali membabat lagi namun bacokannya tak berhasil sepenuhnya. Lawan hanya terdorong dan baju pundaknya robek, memperiihatkan semacam benda mengkilap yang bukan lain baju besi yang melindungi lawannya itu. Dan ketika lawan terbahak dan maju membalas tiba-tiba Golok Maut mendapat pukulan Kim-kong-ciang. “Dess!” Golok Maut terpental. Sekarang musuh bersorak-sorai dan gegap-gempitalah tempat itu karena Kedok Hitam mendesak lawannya. Golok Maut memang berkali-kali terhuyung kalau terlibat pertemuan tenaga, bukan pertemuan senjata karena dengan iicik dan cerdik si Kedok Hitam itu seialu mengelak kalau dua golok hendak beradu. Dan karena lawan berputaran semakin cepat sementara pukulan-pukulan Kim-kong-ciang menyelinap atau bersembunyi di antara jurus-jurus Ciam-to-hoat akhirnya Golok Maut yang memang sudah luka-luka dan keracunan mulai keteter, dua tiga kali menerima pukulan lawan dan setiap kali kena tentu dia menggigit bibir. Ada sesuatu yang menyakitkan di situ, yakni ilmu pukulan yang digunakan lawan, Kim-kong-ciang itu. Dan ketika lawan tertawa-tawa sementara Golok Maut harus menahan dua rasa sakit sekaligus, satu di hati sedang yang lain di badan maka dia memutar golok di tangannya dengan cepat sekali. “Orang she Coa, kau jahanam busuk. Kau pencuri dan maling rendah!” “Ha-ha, tak perlu berkaok-kaok, Golok Maut. Sekarang riwayatmu akan tamat dan tak perlu kau berteriak-teriak!” “Aku akan membunuhmu. Aku… ah!” dan Golok Maut yang marah membentak gusar tiba-tiba melakukan gerak tipu yang disebut Golok Siluman Menyelam Di Air Laut, memecah ujung goloknya menjadi belasan dan lawan tampak berseru keras karena gerakan golok sukar diikuti. Tapi ketika dia juga melengking tinggi dan melakukan serangan yang sama, membentak dan menggetarkan goloknya maka apa boleh buat senjata di tangannya harus menangkis senjata di tangan lawannya itu. “Cranggg…!” Bunga api berpijar menyilaukan mata Golok Maut terpental tapi lawan juga melempar tubuh bergulingan. Golok di tangannya putus dan nyaris saja Golok Penghisap Darah di tangan Si Golok Maut itu membelah jarinya. Golok di tangan mereka berdua bertemu tapi golok di tangan Si Golok Maut memang amat luar biasa tajamnya, membelah dan langsung menyambar jari-jari lawan yang memegang golok. Senjata di tangan si Kedok Hitam itu terbelah dari atas ke bawah, persis seperti sapu lidi yang dibelah pisau cukur. Dan ketika golok terus menyambar sementara golok di tangannya sendiri sudah terbelah dan menganga seperti daun dibelah pisau maka si Kedok Hitam melempar tubuh bergulingan namun kakinya bergerak dari bawah menendang selangkangan lawan, meleset dan mengenai paha namun itu cukup membuat Golok Maut terdorong mundur. Golok Maut tak dapat mendesak lagi karena lawan melempar tubuh bergulingan. Tapi ketika lawan meloncat bangun dan terbelalak memandangnya, marah dan gusar tiba-tiba laki-laki ini membentak dan mengeluarkan senjata lainnya, sebuah trisula dan dengan senjata ini dia menerjang maju. Kedok Hitam mainkan senjata trisulanya ini dan ternyata dia adalah laki-laki yang pandai mainkan senjata apa pun. Kiranya Kedok Hitam adalah seorang yang mahir mainkan delapanbelas macam jenis senjata, karena gerakan trisula itu segera berobahrobah seperti pedang atau tombak, juga menukik atau menyambar seperti elang rajawali dalam permainan ganas. Tapi ketika semua gerakan-gerakan dasarnya selalu bertumpu pada gaya serangan golok dan trisula itu juga membabat atau menusuk tiada ubahnya golok tajam maka si Kedok Hitam ini ternyata tak dapat meninggalkan ilmu silat Giam-to-hoat, dua tiga kali menangkis dari samping dan setiap kali tangkisan tentu disertai pukulan tangan kirinya. Pukulan bersinar emas selalu mengejutkan Golok Maut karena dia pasti tergetar, kacau dan terdorong karena untuk mengadu pukulan begini jelas sinkangnya kalah kuat. Tenaganya sudah susut banyak dan dia melulu mengandalkan kehebatan Golok Penghisap Darah itu. Dan ketika berkali-kali pukulan Kim-kong-ciang mengganggu dirinya karena lawan yang tahu kelemahannya selalu ingin mengadu tenaga bukannya senjata maka Golok Maut mendesis-desis mengutuk lawannya itu. “Pangeran keparat, kau licik dan curang. Kau benarbenar jahanam!” “Ha-ha, boleh maki sepuas-puasmu, Sin Hauw. Tapi aku tak akan mengadu senjata dan tetap akan mengajakmu mengadu tenaga. Awas, terima pukulan ini dan kau robohlah…. dess!” si Kedok Hitam mempergunakan kesempatan, menangkis golok dari samping dan secepat kilat dia melepas Kim-kong-ciangnya itu. Golok Maut tak dapat mengelak kecuali menggerakkan tangannya pula, melepas dan menerima pukulan. Dan ketika dua Kim-kongciang bertemu di udara tapi Golok Maut terlempar maka pemuda ini terguling-guling dan seorang perajurit yang rupanya hendak mencari nama tiba-tiba bergerak menusuk Si GolokMaut. “Awas!” -ooo0dw0ooo- Jilid : XXVII GOLOKMAUT menunjukkan kehebatannya. Dalam keadaan terdesak dan bergulingan seperti itu lalu tiba-tiba diserang seorang musuh yang licik tiba-tiba pemuda ini bergerak luar biasa cepatnya. Golok di tangannya itu melejit dua kali dan terdengarlah pekikan ngeri ketika perajurit yang menyerang itu dibabat senjatanya. Dan ketika sinar putih itu masih menyambar dari kiri ke kanan tiba-tiba perajurit itu sudah roboh terjengkang karena pinggangnya putus dibabat GolokMaut. “Crass!” Pemandangan ini mendirikan bulu roma. Golok Maut dalam keadaan seperti itupun ternyata masih dapat membunuh. Orang yang menyerangnya kebetulan orang biasa dan tentu saja perajurit itu mencari penyakit. Si Kedok Hitam sudah membentak dan memperingatkan perajurit itu, terlambat dan perajurit yang mau mencari nama ini justeru menjadi korban. Tewas dengan keadaan begitu mengerikan. Dan ketika Golok Maut meloncat bangun dan semua mata terbelalak ngeri memandang pemuda ini maka Kedok Hitam berkelebat dan mengutuk musuhnya itu, memaki dan mengumpat tak keruan dari trisula di tangannya bergerak maju mundur bagai patukan rajawali, ditangkis dan dikelit tapi tangan kiri menyambar. Dan ketika Kim-kong-ciang atau Pukulan Sinar Emas mengganggu dan mendesak GolokMaut maka GolokMaut keteter dan lagi-lagi terdesak, terhuyung dan mengelak sana-sini karena beradu pukulan sangat berbahaya baginya. Dia ingin mengadu senjata karena itulah kelebihannya. Dengan Golok Penghisap Darah dia akan mampu meraih kemenangan. Tapi ketika lawan tak pernah mengadu senjata dan selalu ingin mengadu tenaga maka GolokMaut yang sudah lemas ini semakin lemas keadaannya, terkuras dan empat lima kali pukulan lawan tak dapat dielak, terhuyung namun golok di tangannya itu masih mampu membuat lawan berhati-hati. Golok itu memang luar biasa karena setiap sentuhan berarti maut, siapa pun tahu ini dan Kedok Hitam itu tak berani mendekat. Dan ketika dia selalu mengganggu dengan pukulan-pukulan Kim-kong-ciangnya sementara Golok Maut terhuyung dan berkali-kali terdorong mundur akhirnya satu pukulan telak mengenai tengkuk pemuda ini. “Dess!” Golok Maut terpelanting. Sejenak pemuda itu mengeluh dan merasa matanya gelap. Dalam keadaan seperti itu pun ia tak lupa memutar golok melindungi diri, bangkit terhuyung dan menghadapi lawan yang kembali mengejarnya. Dan ketika sebuah pukulan kembali mendarat dan Golok Maut terjengkang maka perajurit bersorak dan minta agar pemuda itu segera dibunuh. “Habisi dia! Rampas golok mautnya itu!” Si Kedok Hitam bersinar-sinar. Sesungguhnya dia merasa gemas dan marah juga melihat kehebatan lawannya ini. Golok Maut dapat bertahan padahal sesungguhnya luka-luka, terhuyung dan jelas kehabisan tenaga tapi entah semangat dari mana membuat lawannya itu tangguh benar. Kalau orang lain, tentu sejak tadi roboh dan tak dapat melawan lagi. Tapi GolokMaut ini memang luar biasa. Dihantam dan didesak dengan pukulan-pukulan Kim-kongciang masih juga dia dapat bertahan, tubuhnya kuat benar meskipun sudah te banting berkali-kali. Tanda sin-kang di tubuh lawannya ini memang luar biasa dan melindungi tuannya dengan ba-ik. Tapi karena Golok Maut mulai kehabis-an tenaga dan hanya berkat tekad serta semangatnya yang membaja saja yang membuat dia mampu menerima segala ma-cam pukulan maka si Kedok Hitam mulai mengincar golok di tangan lawannya itu, mendengar teriakan dan sorakan para per-wira yang juga mengharapkan senjata di tangan Si Golok Maut dirampas. Agaknya hanya dengan dirampasnya senjata itu sa-ja lawan yang tangguh ini dapat diroboh-kan. Kedok Hitam mulai mengincar senjata itu dan pukulan-pukulan Kim kongciangnya kini mulai licik diarahkan ke ber bagai tubuh pemuda itu, atas bawah dan kiri kanan. Dan ketika lawan bing ng menghadapi pukulan-pukulan Kim-kong-ciangnya sementara trisula di tangan te-tap menusuk atau menikam ke bagian-ba-gian yang berbahaya akhirnya satu saat trisula itu menyambar mata “Cret!” Golok Maut lambat mengelak. Keningnya tergores dan tampak benar betapa pemuda ini sudah kehabisan tenaga. Gerakannya lemah dan Golok Maut mulai batuk-batuk. Tak ada yang tahu betapa diam-diam dada pemuda ini serasa terbakar. Racun di tubuh sudah mulai mendekati jantung dan pengerahan tenaga berlebih-lebihan membuat Golok Maut menerima akibat buruk. Racun yang naik ke atas semakin cepat bergerak, mukanya sudah kehitaman dan orang mengira itulah akibat kemarahan yang sangat. Tak tahu bahwa sebenarnya Si GolokMaut ini menghadapi serangan luar dalam. Dari luar oleh serangan dan pukulan-pukulan si Kedok Hitam itu sedang dari dalam oleh serangan racun yang semakin ganas. Pemuda ini terhuyung-huyung karena dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Maka ketika trisula menusuk mata dan gerakannya lamban dalam berkelit maka keningnya terluka dan saat itu pukulan kiri lawan menghantam dadanya, dikelit tapi juga kalah cepat dan dia terbanting. Dan ketika Golok Maut merintih dan pandangan matanya gelap tiba-tiba lawan tertawa bergelak dan menusuk perutnya dengan satu ayunan tubuh seperti lompatan seekor harimau jalang. “Ha-ha, sekarang kau roboh, Sin Hauw Aku akan dapat tenang menikmati tidur dan makanku sepanjang hari!” Golok Maut nanar. Dalam keadaan seperti itu dia sudah tak mampu berbuat banyak. Pandang matanya gelap dan berkunang-kunang. Tapi begitu lawan menubruk dirinya dan menikam dari atas ke bawah tiba-tiba dia menggerakkan goloknya tapi celaka sekali lawan menjentikkan sesuatu dan siku kanannya tiba-tiba kesemutan. Tak ada orang tahu bahwa saat itu dengan licik Kedok Hitam melepas sebuah kerikil hitam, tepat menotok jalan darah di siku lawannya dan tertegunlah Golok Maut oleh kecurangan ini. Tapi karena lawan sudah bergerak dan golok tak dapat diangkat tiba-tiba trisula itu bergerak ke bawah dan senjata di tangannya dicongkel. “Lepas!” Golok Maut terkejut. Saat itu dia sudah berobah mukanya karena siku yang terkena totokan kerikil hitam tak dapat digerakkan. Sebenarnya, kalau saja sinkangnya masih kuat tak mungkin lawan dapat melumpuhkan dirinya. Tapi saat itu lain, dia kehabisan tenaga dan racun yang naik ke atas juga bergerak semakin cepat. Apa yang seharusnya tak terjadi tahu-tahu terjadi. Dan ketika Golok Maut mengeluh dan tertikam pundaknya maka Golok Penghisap Darah mencelat dari tangannya disontek trisula si Kedok Hitam, terbang dan meluncur di tangan laki-laki itu dan Kedok Hitam tertawa bergelak. Semua orang melihat betapa golok yang ampuh itu telah berpindah tangan, Kedok Hitam telah menangkapnya dan Golok Maut terhuyung menerima sebuah tendangan. Dan ketika perajurit bersorak karena itu sebuah kemenangan bagi si Kedok Hitam maka laki-laki ini melompat dan membabat Si GolokMaut, dengan Golok Penghisap Darah itu. “Ha-ha, sekarang kau mampus, Sin Hauw. Inilah saat ajalmu dan terima kemenanganku!” Golok Maut terbelalak. Dia tak bersenjata lagi dan kini lawan berkelebat dengan senjata miliknya itu. Golok Penghisap Darah berkelebat menyilaukan mata dan Golok Maut berkelit. Namun karena tubuhnya lemah dan tenaganya habis maka golok masih menyambar juga dan…. daging pundaknya sompal. “Crat!” Pasukan bersorak gemuruh. Golok Maut terbanting dan mengeluh kesakitan, disambar lagi dan terbabatlah bahu sebelahnya oleh sambaran golok yang amat cepat. Dan ketika dia terguling sementara darah mengucur dan pasukan bersorak-sorai maka tiga empat kali golok berkelebatan lagi, menyambar dan memapas tubuh pemuda ini dan berturutturut pinggang dan paha GolokMaut terkuak lebar. Golok Penghisap Darah itu menikmati tubuh tuannya sendiri dan gemuruhlah pasukan oleh pemandangan ini. Mereka meli-hat Si GolokMaut yang amat ditakuti i-tu kini mandi darah, jatuh bangun dan a-khirnya satu babatan membuat lengan pemuda itu buntung. Dan ketika si Kedok Hitam terbahak gembira sementara Min-dra dan Sudra terbelalak ngeri oleh pemandangan itu maka golok menyambar kaki dan putuslah kedua kaki Si GolokMaut! “Crak-craakk!” GolokMaut roboh mandi darah. Akhirnya pemuda yang kehilangan kaki dan sebelah lengannya itu terguling tanpa dapat melawan lagi. Darah bergelimang menerima tubuhnya yang terbanting tak berujud lagi. Tokoh yang gagah ini tiba-tiba saja sudah menjadi pendek dan buntung. Entah hidup atau mati! Dan ketika tubuh yang mandi darah itu ditendang si Kedok Hitam maka akhirnya laki-laki ini terbahak-bahak mempermainkan lawan. Tubuh Si Golok Maut dibuat seperti bola, ditendang dan berdebuk lagi disana untuk ditendang lagi, begitu berturut-turut. Para perajurit mula-mula tersentak oleh kejadian ini. Tubuh yang sudah tidak berdaya itu ternyata masih mendapat siksaan demikian kejam karena berulang kali ditendang dan ditendang, berdebuk dan akhirnya Kedok Hitam membabat buntung lagi lengan yang tinggal sebelah dari Si Golok Maut itu. Perbuatan ini membuat jantung semua orang berdetak. Betapapun, orang menjadi terguncang oleh perbuatan yang tidak berperikemanusiaan ini. Golok Maut yang rupanya sudah tewas masih juga dibantai dengan cara begitu keji. Sungguh si Kedok Hitam bukan manusia yang berperasaan. Tapi ketika laki-laki itu membentak agar pasukan bersorak dan memuji perbuatannya akhirnya ribuan orang itu terkejut dan bersorak juga, mula-mula masih tertegun oleh perbuatan yang dinilai biadab ini. Maklumlah, Si Golok Maut sudah tinggal sepotong daging gundukan besar. Betapapun kejamnya tokoh bercaping itu tapi perbuatan si Kedok Hitam ini dianggap lebih kejam lagi. Dan ketika laki-laki itu menendang tubuh Si Golok Maut yang mencelat ke jurang maka muncullah bentakan mengejutkan yang suaranya menggelegar menghantam dinding tebing. “KedokHitam, hentikan perbuatanmu!” Sesosok bayangan putih berkelebat. Para perajurit yang tadi bersorak tiba-tiba berhenti, kaget dan yang dekat dengan suara bentakan itu terpelanting roboh oleh getaran suara yang demikian dahsyat. Suara atau bentakan itu seperti dentuman gunung berapi yang sedang murka, atau teriakan seratus ekor gajah yang membuat tanah yang mereka pijak berderak. Mindra dan temannya sendiri terpeleset dan jatuh dengan kaget. Bukan main dahsyatnya bentakan itu. Dan ketika bayangan putih ini berkelebat dan tahu-tahu sudah di depan si Kedok Hitam maka banyak orang tertegun pucat karena itulah Beng Tan, pemuda yang sudah diketahui sebagai orang kepercayaan kaisar! “Kau keji! Kau tak berjantung!” Beng Tan mengulangi bentakannya yang dahsyat. “Kau tak berperikemanusiaan dan jahat sekali, Kedok Hitam. Kau membunuh orang yang sebenarnya sudah tidak berdaya. Kau pengecut, licik. Kau melanggar perintah kaisar!” Kedok Hitam, yang terkejut dan juga kaget oleh munculnya pemuda ini tampak mengerutkan kening dan mundur setindak. Dia rupanya tak menyangka pemuda ini akan datang di Lembah Iblis, disaat dia menghajar Golok Maut dan menghukum lawannya dengan keji.Memang apa yang dia lakukan tadi adalah sebagai pelampiasan dendam yang membakar hatinya. Orang tak tahu kenapa laki-laki ini mampu melakukan kekejaman yang jauh melebihi kekejaman Golok Maut sendiri. Selama hidupnya, Golok Maut belum pernah mencincang musuh yang sudah menjadi mayat! Si Kedok Hitam ini dinilai kelewatan dan Beng Tan kini menghadapinya, membentak dan muka pemuda itu merah padam penuh rasa marah yang besar. Tapi ketika Kedok Hitam rupanya sudah berhasil menguasai dirinya lagi dan laki-laki itu tertawa mengejek maka Kedok Hitam, tokoh misterius yang hanya dikenal sebagai orang kepercayaan Coa-ongya itu mendengus. “Beng Tan, kau mau apa marah-marah disini? Kau mau membela Golok Maut yang membunuh-bunuhi orang seenaknya itu?” “Kau tancang! Kau mendahului perintah kaisar! Sri baginda tak menghendaki GolokMaut dibunuh. Kita hanya dimintanya menangkap karena aku ingin menghukum Si Golok Maut. dengan hukum negara, bukan hukum perorangan!” “Hm, kau tahu apa tentang hukum negara dan perorangan? GolokMaut ini jelas manusia yang berbahaya, Beng Tan. Dan dia telah membunuh ratusan orang kita! Lihat mayat-mayat yang bergelimpangan itu, lihat dan ingat mayat-mayat yang roboh terkapar di istana beberapa waktu yang lalu pula! Apakah hukuman ini tidak cukup untuknya? Apakah kau hendak membantu dan membela orang yang telah dianggap pemberontak dan pengacau istana?” “Baik, kalau begitu kutanya kau. Apakah kau melakukan semuanya ini sudah atas petunjuk sri baginda? Apakah kau membawa pasukan sebanyak ini sudah atas persetujuan sri baginda? Dan kau… he!” Beng Tan tiba-tiba membentak seorang panglima tinggi tegap bermuka merah. “Kau pergi meninggalkan istana tanpa ijin kaisar, Gwe-goanswe. Kau membawa pasukan sedemikian banyak hanya atas suruhan Coa-ongya. Kau tidak bertanya kepada kaisar dan berbuat melanggar hukum. Kau tak hormat pada junjunganmu. Kau perwira keparat! Sri baginda menghendaki aku menangkapmu dan menyuruh pulang semua orang disini, dan menangkap si Kedok Hitam ini!” “Apa?” Kedok Hitam terkejut, marah. “Kau bicara apa, bocah? Menangkap dan membawa aku? Ha-ha, kau melantur. Dan Gwe-goanswe tak bersalah. Dia telah mendapat ijin dan mandat penuh dari sri baginda kaisar. inilah buktinya!” Kedok Hitam mengebut sebuah bendera, ditariknya keluar dari saku baju dan Gwe-goanswe mengangguk-angguk. Dia tadinya pucat tapi kini berseri-seri melihat bendera itu. itulah tanda dari kaisar bahwa dia telah mendapat persetujuan. Tapi ketika Beng Tan membentak marah dan mengebutkan sebuah benderanya pula maka disitu terdapat dua buah bendera bergambar naga, bendera atau tanda dari kaisar bahwa pemegangnya adalah orang yang mendapat titah langsung. “Kau penipu. Kau mencuri sembarangan. Akulah yang menerima bendera ini dan bendera ditanganmu adalah palsu!” Beng Tan marah besar, menunjukkan benderanya pada semua orang dan semua orang terbelalak. Di tangan dua orang itu sama-sama terdapat sebuah bendera kuning yang ditengahnya terdapat gambar seekor naga dalam sulaman benang emas. Mereka yang ada di depan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut karena pembawa bendera sama halnya kaisar sendiri yang sedang diwakili. Dan ketika Kedok Hitam tampak terkejut dan membelalakkan matanya tiba-tiba orang ini tertawa aneh dan berseru, “Bocah, kaulah yang membawa bendera palsu. Tak mungkin sri baginda mengutus dua orang yang sama untuk sebuah urusan yang sama! Heh, aku tak percaya. Sebaiknya setiap orang boleh memeriksa bendera kita siapa yang asli dan palsu. Tunjukkan benderamu itu pada Gwe-goanswe dan biar kuberikan pula benderaku ini pada Gwe-goanswe… wut!” si Kedok Hitam melempar benderanya pada panglima bermuka merah itu, ditangkap dan Gwe-goanswe mengangguk-angguk. Dia melihat bahwa ini adalah benar, menggapai dan beberapa perwira pembantunya juga mendekat dan siap memeriksa bendera itu, siapa yang benar dan salah. Dan ketika Beng Tan dengan marah, juga melempar benderanya dan menyuruh orang-orang itu memeriksa maka dengan cermat setelah mencium bendera dan menjatuhkan sebelah kaki sebagai tanda hormat Gwe-goanswe dan kawan-kawan memeriksa. Tapi apa yang mereka katakan? Justeru bendera di tangan si Kedok Hitam itulah yang sah adanya! “Maaf, Ju-siauwhiap (pendekar muda Ju) barangkali salah ambil. Bendera ini memang asli tapi tidak sah. Bendera di tangan si Kedok Hitam inilah yang sah adanya!” “Apa?” Beng Tan berkelebat, menyambar dua bendera itu. “Kalian bilang benderaku palsu? Kalian menganggap aku mencuri bendera dan kini menakut-nakuti kalian dengan nama kaisar? Keparat, jaga mulutmu, Gwegoanswe. Aku mendapatkan ini langsung dari sri baginda sendiri!” “Ha-ha, tak perlu marah-marah!” si Kedok Hitam berseru. “Kalau Gwe-goanswe bohong biarlah yang lain ikut memeriksa, anak muda. Jangan-jangan kau menyangka Gwe-goanswe ini komplotanku.” “Tapi aku membawa bendera asli. Aku tidak bohong!” “Ha, asli boleh jadi asli. Tapi asli yang tidak sah juga terdapat. Tanya Gwe-goanswe apa perbedaan itu!” Beng Tan marah, tahu-tahu sudah mencengkeram panglima muka merah ini. “Goanswe, jangan sampai kukatakan bahwa karena rasa takutmu terhadap si Kedok Hitam maka kau menjadi anteknya. Nah, katakan padaku apa perbedaan dua bendera itu. Berikan buktinya!” Gwe-goanswe menggigil, pucat pasi. “Siauw-hiap, harap lepaskan tanganmu. Aku tak dapat bicara kalau kau cekik!” Beng Tan gemas, melepaskan cengkeramannya dan mendorong mundur panglima itu. “Katakan!” Panglima ini gemetar. “Dua bendera ini sama-sama asli,” katanya. “Tapi… tapi milik siauwhiap tidak sah!” “Kenapa begitu?” “Sebab…. sebab milik siauw-hiap tidak ada cap atau tanda tangan sri baginda!” “Heh?” “Benar, siauwhiap. Lihatlah!” dan panglima itu yang ketakutan menunjukkan perbedaannya lalu memperlihatkan pada Beng Tan apa yang dimaksud. Benar saja bahwa bendera yang dimiliki si Kedok Hitam ada tanda atau cap kaisar sementara yang dimiliki pemuda ini tidak ada. Bendera itu memang betul dari kaisar tapi barangkali kaisar lupa memberikan capnya, padahal cap itu akan merupakan bukti kuat bahwa pemegangnya adalah orang yang benar-benar mewakili kaisar. Bendera di tangan Beng Tan ternyata absah, tak dapat diakui. Dan karena bendera si Kedok Hitam memang mempunyai cap atau tanda itu maka justeru bendera si Kedok Hitam inilah yang benar-benar sah adanya! Beng Tan tertegun. “Ha-ha, bagaimana, bocah? Kau sekarang tahu?” Beng Tan merah padam. Tiba-tiba dia teringat ketika kaisar memberikan bendera itu. Jelas diingatnya bahwa bendera itu benar-benar diterimanya dari kaisar, bukan barang curian. Dan kaisar, kenapa tidak memberikan tanda capnya? Lupa? Ah, tak mungkin. Ada sesuatu yang rupanya memang disengaja dan Beng Tan bersinar-sinar matanya. Aneh bahwa Kedok Hitam yang belum banyak dikenal ini tiba-tiba saja mendapat kepercayaan begitu besar. Padahal dia, yang jelas dan terang sebagai pembantu kaisar yang terpercaya tiba-tiba saja mendapatkan kekuasaan yang “tidak sempurna” adanya. Ada apakah ini? Permainan dibalik tangan? Beng Tan tiba-tiba membalik, naik pitam. “Kedok Hitam, kau mencurigakan. Katakan padaku bagaimana kau bisa mendapatkan bendera ini. Atau aku akan membekukmu dan terpaksa membawamu kepada sri baginda untuk kumintai tanggung jawab!” Kedok Hitam terkejut. “Kau gila? Kau mau memberontak?” “Jangan gunakan dalih itu di sini, Kedok Hitam. Aku selamanya membantu sri baginda dan tak pernah melanggar perintahnya. Katakan padaku darimana kau dapatkan bendera itu atau aku terpaksa menangkapmu!” “Aku mendapatkannya dari Coa-ongya!” “Dimana?” “Di kota raja, tentu saja!” “Kapan?” Kedok Hitam tertegun. “Dua hari yang lalu…” suaranya agak ragu-ragu. “Bohong!” Beng Tan membentak. “Dua hari yang lalu Coa-ongya tak ada di kota raja, Kedok Hitam. Kau jelas berdusta dan menipu. Kau menyerahlah atau buka kedokmu dan perlihatkan siapa dirimu sebenarnya!” “Beng Tan!” Kedok Hitam tiba-tiba menghardik. “Tutup mulutmu dan jangan lancang. Aku tak dapat memenuhi permintaanmu yang bersifat paksa. Kalau kau mau menangkap aku justeru keliru. Akulah yang akan menangkapmu dan membawamu pada sri baginda bagaimana kau bisa mendapatkan bendera itu. Kau tentu mencurinya!” “Keparat! Kau rupanya menyembunyikan rahasia dan tak berani membuka kedokmu. Biarlah kulihat siapa kau dan mari bertanding untuk melihat siapa yang licik!” dan Beng Tan yang bergerak luar biasa cepat menyerang lawannya tiba-tiba telah melakukan pukulan jarak jauh menghantam. laki-laki ini, melepas Pek-lui-ciang atau Tangan Kilat dan Kedok Hitam terkejut. Dan ketika dia mengelak namun Beng Tan terus memburu dan mengejarnya tiba-tiba apa boleh buat dia menangkis dan mengerahkan Kim-kong-ciangnya. “Dukk!” Kedok Hitam terpental. Dahsyat dan marah tapi juga kaget Beng Tan sudah menyerangnya bertubi-tubi. Beng Tan kaget karena tentu saja dia mengenal ilmu pukulan itu. Kim-kong-ciang adalah ilmu yang dipunyai Golok Maut. Bagaimana bisa dimiliki si Kedok Hitam? Maka ketika Beng Tan berteriak keras dan sudah melepas pukulan sambil berkelebatan menyambar-nyambar maka Kedok Hitam tak dapat membalas kecuali harus menangkis saja, tiga empat kali dan selalu dia terpental. Nyata bahwa sinkang yang dimiliki pemuda baju putih itu lebih kuat dari pada dirinya sendiri dan tentu saja Kedok Hitam terkejut. Dia juga marah dan memaki-maki pemuda ini agar menghentikan pukulannya, atau dia akan mengerahkan semua orang yang ada disitu untuk menyerang dan membunuh pemuda ini, kalau Beng Tan tak mau mendengar kata-katanya. Tapi ketika Beng Tan malah mempercepat serangannya dan pemuda itu sudah lenyap bagai burung rajawali yang beterbangan disekeliling lawan maka Kedok Hitam tak dapat berbuat banyak kecuali menangkis terus. “Duk-dukk!” Kedok Hitam menjadi gusar. Beng Tan benar-benar tak mau menghentikan serangannya dan kini pukulan-pukulan pemuda itu bahkan mencecar kian cepat. Pek-lui-ciang atau Pukulan Kilat menyambar naik turun bagai petir bersahutsahutan. Kemarahan Beng Tan tak dapat diredam lagi. Dan ketika Kedok Hitam harus menangkis sana-sini sementara dia terus terhuyung dan terdorong mundur akhirnya laki-laki ini berteriak agar Gwe-goanswe dan pasukannya maju membantu. “Jangan ndomblong saja. Maju dan serang pemuda ini!” dan menoleh serta mengelak sebuah serangan lain si Kedok Hitam melotot pada Mindra, berseru, “Kau! Kenapa bengong dan terlongong saja disitu, Mindra? Hayo serang dan bantu aku atau kalian kuhajar dan jangan tanya dosa!” Mindra dan temannya terkejut. Mereka memang bengong dan terlongong memandang pertempuran itu. Sudah tahu kelihaian Beng Tan dan mereka merasa jerih. Bagaimana mereka berani maju kalau sebenarnya bukan tandingan pemuda ini? Maka begitu mendengar bentakan si Kedok Hitam dan mereka juga sudah merasakan kelihaian laki-laki ini maka Mindra dan Sudra bingung karena baik Beng Tan maupun Kedok Hitam sama-sama mereka takuti, sama-sama lihai dan mereka bukan lawannya. Dan ketika disana Gwe-goanswe juga tampak ragu dan maju mundur maka Beng Tan membentak pada mereka. “Siapa berani maju dia akan kuhajar. Jangan macammacam, mundur dan biarkan aku menyelesaikan masalahku dengan lawanku ini!” “Keparat!” Kedok Hitam marah. “Kau harus menghentikan seranganmu, Beng Tan, kalau kau menghendaki orang-orang itu tak menyerangmu. Berhenti, dan jangan seperti setan kelaparan!” “Aku akan berhenti kalau kau memperlihatkan dirimu Buka dan buang kedokmu!” “Kau main paksa? Keparat, kubunuh kau, Beng Tan. Jangan kira aku takut…. singg!” dan Golok Penghisap Darah yang dicabut serta dipergunakan laki-laki ini mendadak berkelebat dan menyambar tangan Beng Tan, memapak dan menerima pukulan pemuda itu dan terkejutlah Beng Tan karena lawan sudah mempergunakan senjata. Kalau senjata itu senjata biasa tentu dia tak akan takut, dengan sinkangnya sanggup menerima dan menghancurkan lawan. Tapi karena yang dipegang Kedok Hitam adalah golok maut dan Golok Penghisap Darah itu bukanlah golok sembarang golok terpaksa Beng Tan menarik serangannya dan lawan kini tiba-tiba membalas, mengejar dan menusuknya cepat dengan jurus-jurus Giam-to-hoat. Silat Golok Maut diperlihatkan dan Beng Tan kaget untuk kedua kali. Tadi Kim-kong-ciang dan sekarang Giamto- hoat. Bukan main, si Kedok Hitam ini sungguh misterius! Dan ketika Beng Tan mengelak namun golok mengejar dan mengikuti larinya tiba-tiba rambutnya terbabat dan ikat kepala pemuda ini putus. “Bret!” Beng Tan membelalakkan mata. Rambutnya berhamburan dan segumpal yang terbabat itu sudah dibabat lawannya lagi hingga menjadi potongan kecil-kecil. Kedok Hitam tertawa bergelak dan kini lawannya itu tiba-tiba didesaknya. Beng Tan harus banyak menghindar karena tak mungkin dia menangkis golok seampuh itu. Dan ketika dia terus terdesak dan lawan mainkan goloknya demikian ganas dan beringas akhirnya apa boleh buat Beng Tan mencabut Pedang Mataharinya dan secepat kilat menangkis Golok Penghisap Darah yang menusuk ulu hatinya. “Crangg!” Golok terpental. Nyata dari adu tenaga ini bahwa dalam hal sinkang Beng Tan memang lebih kuat. Golok bertemu pedang dan Pek-jit-kiam atau Pedang di tangan pemuda itu mampu menolak senjata lawan. Pedang Matahari menerbitkan sinar yang putih terang ketika bertemu dengan Golok Penghisap Darah, yang tiba-tiba mengeluarkan sinar kemerahan yang mengejutkan mata. Namun karena sinkang si Kedok Hitam kalah kuat dan golok terpental maka Beng Tan menggeram dan kini berhasil memperbaiki dirinya, menyerang dan membalas lawannya itu. “Jangan takabur. Akupun mempunyai senjata andalanku, Kedok Hitam. Dan pedang ini adalah milikku sendiri, bukan seperti Golok Maut yang kau rampas dari tangan pemiliknya!” Kedok Hitam menyumpah-serapah. Akhirnya pertandingan berjalan kembali dan pedang maupun golok bertemu berulang-ulang. Suara crang-cring-crang-cring memekakkan telinga dan cahaya atau sinar putih dan merah berbaur menjadi satu, kian lama kian tebal dan akhirnya dua orang yang sedang bertanding ini tak dapat diketahui bayangannya lagi. Masing-masing lenyap dan terbungkus dua sinar itu, hal yang membuat Gwe-goanswe dan lainlain tentu saja tak dapat membantu! Dan ketika Kedok Hitam mengumpat caci sementara golok di tangan laki-laki itu rupanya sering terpental dan kalah kuat maka sedikit tetapi pasti pemuda baju putih ini kembali mendesak lawan, membuat lawan gusar dan marah bukan kepalang dan kembali berteriak agar orang-orang disekitarnya maju membantu. Gwe-goanswe diumpat habis-habisan namun dengan bingung panglima itu berkata bahwa dia tak dapat menyerang. Dia tak tahu mana bayangan Beng Tan dan mana bayangan si Kedok Hitam, yang lain mengangguk dan mengiyakan pendapat yang sama. Dan karena hal itu dapat diterima laki-laki ini sementara Pek-Jit-kiam terus mendesak dan menekan Golok Penghisap Darah akhirnya kepada Mindra dan dua temannya laki-laki itu melengking. “He, kau! Masa kalian Juga tak dapat membedakan kami, Mindra? Bukankah kalian berkepandaian tinggi dan tidak goblok seperti Gwe-goanswe dan lain-lainnya itu? Maju, atau kalian bakal menerima hukuman dariku!” Mindra terbelalak. Memang dibanding Gwe-goanswe dan pasukannya tentu saja mereka sebagai orang-orang yang berkepandaian tinggi dapat membedakan mana bayangan Beng Tan dan mana bayangan si Kedok Hitam. Meskipun buram namun orang seperti kakek lihai ini dapat melihat jelas. Diantara gulungan cahaya dua senjata itu Mindra masih dapat membedakan mana Beng Tan mana Kedok Hitam, karena dua orang ini mengenakan pakaian yang berbeda pula. Beng Tan dengan baju putihnya yang bersih sementara lawan dengan kedok hitamnya yang menutupi muka. Mindra dan kawan-kawannya dapat mengikuti jalannya pertandingan, meskipun mata mereka lama-lama berkunang juga karena Beng Tan akhirnya menambah kecepatan hingga tubuhnya menyambar-nyambar bagai seekor naga menari, atau burung beterbangan yang luar biasa cepatnya. Dan ketika Kedok Hitam mulai mengancam mereka bahwa mereka akan mendapat hukuman kalau tidak cepat membantu akhirnya Mindra menggigit bibir dan saling pandang dengan temannya. “Bagaimana? Kita maju?” “Tak ada lain jalan. Kedok Hitam jauh lebih ganas daripada pemuda itu. Sebaiknya kita turuti permintaannya dan biarlah kita dihajar Beng Tan!” “Benar,” Yalu si kakek tinggi besar juga mengangguk. “Dihajar pemuda ini masih mending daripada dihajar si Kedok Hitam, Mindra. Lebih baik kita maju dan turuti permintaannya!” “Kalau begitu marilah… wut!” dan Mindra yang sudah menggerakkan nenggalanya menusuk kedepan tiba-tiba membentak dan berseru keras menyerang Beng Tan, disusul dua temannya yang lain dan berturut-turut Sudra meledakkan cambuknya sementara kakek tinggi besar Yalucang mencabut rodanya, menderu dan sudah menghantam dahsyat pemuda baju putih ini. Dan ketika Beng Tan mengelak dan tentu saja marah maka pemuda itu menghardik orang-orang ini, “Jangan mengeroyok, atau aku akan menghajar kalian!” “Ha-ha, pilih saja, Mindra. Dihajar bocah ini atau menerima hukuman dariku. Kalau kalian baik-baik, tentu akan terus menyerang dan membantu aku. Tapi kalau kalian berbalik sikap, hmm… contoh Si Golok Maut itu akan menimpa diri kalian!” Mindra jelas lebih ngeri kepada si Kedok Hitam ini. Lawan telah mengancam dan mereka tak berani mainmain. Ancaman Kedok Hitam itu jauh lebih menyeramkan daripada Beng Tan. Pemuda ini lebih lembut dan lunak menghadapi lawan, tidak seperti si Kedok Hitam yang sadis dan kejam itu. Maka ketika mereka bergerak dan menyerang Beng Tan, tak perduli bentakan pemuda itu maka Kedok Hitam terbahak mengejek lawannya. “Ha-ha, mereka lebih takut kepadaku, Beng Tan, tak takut kepadamu. Bagus, itu benar dan aku akan merobohkanmu!” Beng Tan marah. Dikeroyok dan diserang empat orang lawannya tiba-tiba pemuda itu melengking memutar pedangnya. Pek-jit-kiam menyambar dan berobah menjadi kilatan cahaya putih ketika bergerak dari kiri ke kanan. Lalu ketika pedang itu melejit ke atas dan dari atas menukik turun ke bawah maka nenggala dan cambuk serta roda di tanganMindra dan kawan-kawannya terbabat putus. “Crik-crik-cringgg…!” Mindra dan kawan-kawan berteriak keras. Mereka kaget karena Beng Tan tiba-tiba bersikap keras, mengeluarkan semua kelihaiannya dan tapi dengan cepat serta luar biasa pemuda itu menyambut senjata mereka. Tidak tanggung-tanggung, tiga senjata sekaligus dan mereka tak sempat menarik atau menghindari babatan pedang itu. Pek-jit-kiam bergerak dengan jurus yang indah dan amat luar biasa dan tahu-tahu roda serta nenggala dan juga cambuk putus disambar, maklumlah, Pek-jit-kiam setingkat dengan Golok Maut karena kedua senjata itu sama-sama senjata ampuh. Ketajamannya berimbang dan selama ini tak ada senjata yang dapat mengalahkan ketajaman atau keampuhan Golok Maut maupun Pedang Matahari. Keduanya samasama hebat dan hanya dua senjata yang setanding itulah yang dapat menghadapi yang lainnya. Senjata-senjata biasa akan termakan dan tentu saja cambuk atau nenggala dan roda bukan tandingan pedang di tangan pemuda itu. Dan ketika pedang bergerak dan cambuk serta nenggala atau roda di tangan Yalucang putus bagai agar-agar disambar pisau tajam maka tiga orang kakek itu bergulingan melempar tubuh ketika pedang di tangan Beng Tan masih meneruskan gerakannya. “Cet-cet!” Tiga kakek itu mengeluh. Pundak mereka sedikit tersayat dan dalam satu gebrakan itu saja mereka sudah dibuat tunggang-langgang oleh pemuda baju putih ini. Mindra dan temannya pucat dan mereka terbelalak memandang pemuda itu. Dan ketika mereka meloncat bangun dan gentar serta ngeri melihat pedang di tangan pemuda itu maka Kedok Hitam terkejut melihat segebrakan saja pembantu-pembantunya itu jungkir balik, kini mendelong tak berani maju! “Hei, maju lagi. Jangan takut!” Mindra ragu. Sebenarnya sejak pertama mereka mengenal kelihaian pemuda baju putih ini ada rasa segan dan takut di hati. Kalau saja Beng Tan seganas GolokMaut atau sekejam si Kedok Hitam tentu mereka tak berani menyerang. Tapi Kedok Hitam mengancam mereka, marah dan menyuruh mereka maju lagi. Dan karena Beng Tan betapapun memang lebih lunak daripada Kedok Hitam akhirnya apa boleh buat mereka bertiga maju lagi, dengan senjata buntung di tangan dan Kedok Hitam terbahakbahak. Laki-laki itu geli disamping merasa puas, melihat Beng Tan melotot dan gusar memandang tiga kakek itu, yang dinilai tak tahu diri. Tapi begitu mereka bergerak dan Mindra kini bahkan melepas Hwi-seng-ciang untuk membantu senjatanya maka yang lain-lain juga melakukan hal yang sama dan kakek tinggi besar Yalucang menyemburkan apinya lewat ilmu Hwee-kang. “Phuppp…'” Tiupan itu dahsyat bagi orang biasa. Beng Tan diserang tiga pukulan dan api yang menyembur dari mulut si kakek tinggi besar, membentak dan memutar pedangnya serta menggerakkan tangan kirinya pula. Dan ketika pemuda itu melepas Pek lui-ciang yang menyambut serta menangkis Hwi-seng-ciang atau semburan api dari ketiga lawannya maka tiga orang kakek itu terpelanting dan roboh menjerit. “Aduh…. des-des-dess!” Kedok Hitam terbelalak. Dia melihat tiga pembantunya itu terguling-guling dan mengeluh panjang pendek. Beng Tan gemas melepas Peklui- ciangnya dan pukulan tadi dikerahkan dengan sinkang tiga perempat bagian, membentur yang lain dan menghantam yang lainnya lagi. Dan karena pemuda ini mempergunakan daya tolak pukulan untuk menambah atau mendorong ..kekuatannya sendiri maka tentu saja tiga orang kakek itu terguling-guling, tak dapat menahan dan mereka merasa dadanya sesak. Kakek Yalu bahkan terbatuk dan tiupan mulutnya tadi membalik dan memasuki rongga hidungnya, sesak napas dan terbanting disana, kaku dengan sebagian tiupan apinya mengenai muka sendiri, gosong! Dan ketika kakek itu merintih tak keruan dan cepat menyelamatkan diri menjauh maka Beng Tan menyerang dan mendesak lagi lawannya yang berkedok ini. “Sekarang kita berdua lagi, tak ada yang membantumu!” Kedok Hitam pucat. Dia benar-benar membuktikan kelihaian Beng Tan dan golok di tangannya kembali terpental ketika bertemu pedang. Bunga api berpijar dan laki-laki ini terhuyung karena dia memang kalah kuat. Dan ketika Beng Tan mendesak dan terus menekannya dengan serangan bertubi-tubi akhirnya Pek-lui-ciang pemuda ini menyambar dan mengenai lawannya. “Dess!” Kedok Hitam terbanting. Dia marah dan kaget berteriak keras karena untuk kesekian kalinya dia didesak pemuda ini. Beng Tan benar-benar lihai dan luar biasa. Tapi ketika pemuda itu mengejar dan satu tikaman pedang menuju lehernya maka Kedok Hitam membentak dan… menimpukkan golok mautnya keleher pemuda itu pula. Satu serangan yang hendak mengadu jiwa! “Aiihhhh….!” Beng Tan mengeluarkan pekikan panjang. Jarak sudah demikian dekat dan golok yang ditimpukkan lawannya itu juga tak diduga. Kalau dia meneruskan serangannya tentu lawan roboh binasa tapi dia juga tak selamat menerima timpukan luar biasa itu. Golok maut terbang luar biasa cepat dan hanya ada satu jalan untuk menyelamatkan diri, yakni menarik seranganya untuk menangkis golok terbang ini. Dan karena Beng Tan tak ingin celaka dan tentu saja tak mau terbunuh tiba-tiba pemuda ini memutar tikaman pedangnya untuk menangkis sekaligus menghantam golok maut itu. “Tranggg!” benturan luar biasa yang memercikkan bunga api warna-warni ini menyilaukan mata semua orang. Pedang Matahari sudah menyambut dan menghantam Golok Penghisap Darah. Golok itu meledak namun anehnya tidak runtuh ke tanah, karena sudah melekat dan menjadi satu dengan pedang Pek-jit-kiam. Dan ketika Beng Tan tertegun dan teringat akan daya tarik masing-masing senjata itu yang saling menyedot kalau sudah bertemu tenaga sebanding tiba-tiba saja si Kedok Hitam meloncat bangun dan melarikan diri. “Hei, kalian. Tangkap pemuda itu, bunuh!” Gwe-goanswe terkejut. Panglima bermuka merah yang kini sudah dapat melihat jalannya pertandingan lagi tibatiba melihat si Kedok Hitam melarikan diri. Beng Tan masih bengong disana tapi mendadak melepas golok maut yang melekat bagai besi sembrani di tubuh pedang Pek-jit-kiam. Disentak dan ditarik oleh tenaga yang tidak berlawanan ternyata golok ini mudah dicabut. Beng Tan memasukkannya ke pinggang dan terbelalak memandang lawan yang melarikan diri. Dia belum tahu siapa si Kedok Hitam itu dan melihat mukanya. Tokoh itu harus dibekuk karena dia ingin tahu, penasaran! Dan ketika Beng Tan tiba-tiba mendengar abaaba dan bentakan Gwe-goanswe sekonyong-konyong dia sudah. diserang dan pasukan besar itu menerjangnya. “Ju-siauwhiap (pendekar muda Ju), menyerahlah!” Beng Tan marah. Gwe-goanswe tiba-tiba sudah menusuknya dan para perwira pembantu dari panglima ini juga sudah ikut bergerak.Mereka terpaksa karena ketakutan terhadap si Kedok Hitam itu. Hm, tokoh ini agaknya amat berpengaruh, Beng Tan marah. Dan ketika pasukan bergerak dan Gwe-goanswe serta yang lain-lainnya juga menerjang maka Beng Tan berkelebat dan menyimpan pedangnya untuk mendorong atau memukul roboh orangorang itu, karena tentu saja dia tak bermaksud membunuh, apalagi dengan senjata. “Minggir! Kalian minggir….!” Gwe-goanswe dan para pembantunya terpelanting. Menghadapi pukulan Beng Tan tentu saja mereka tak sanggup. Pemuda itu terlalu lihai bagi mereka. Dan ketika mereka bergulingan dan berteriak-teriak tiba-tiba pasukan panah sudah menyerang pemuda ini. “Sing-sing-sing!” Beng Tan mengebut. Dia geram dan marah pada orangorang ini yang demikian mudah dibentak si Kedok Hitam, berkelebat dan tahu-tahu sudah mengejar si Kedok Hitam itu, yang dilihatnya menyusup dan menyelinap di balik ribuan orang yang bergerak menyerangnya. Dan ketika Beng Tan dihalang-halangi dan tentu saja pemuda itu marah bukan main maka Beng Tan mengamuk dan mendorong-dorong pasukan yang ada di depannya, menyibak dan memukul mundur mereka dengan kedua pukulannya yang dahsyat. Beng Tan menahan diri untuk tidak sampai membunuh. Pukulan Pek-lui-ciangnya itu menimbulkan hawa panas dan orang-orang yang kena dorongannya berteriak ngeri. Mereka seperti terbakar dan kulit melepuh, tentu saja bergulingan mengaduh-aduh. Dan ketika kesempatan itu dipergunakan pemuda ini untuk mengejar si Kedok Hitam maka lawannya itu terkejut dan melempar-lemparkan tombak atau lembing agar pemuda itu terhalang larinya. . “Tahan pemuda itu. Hadang larinya, jangan sampai kesini. Bodoh!” Kedok Hitam memaki-maki. Rupanya dia panik dan khawatir juga kalau Beng Tan berhasil mendekatinya. Mindra dan dua temannya entah kemana karena tiga kakek itu juga tiba-tiba menghilang. Mereka rupanya lebih baik menyembunyikan diri daripada diperintah si Kedok Hitam itu, tokoh yang menakutkan. Tapi ketika Beng Tan juga membentak dan terus meroboh-robohkan pasukan, yang menjerit dan berteriak merasa hawa panas Pek-luiciangnya maka perlahan tetapi pasti pemuda ini mendekati lawan, yang kian gugup. “Kedok Hitam, kau harus memperlihatkan dirimu dulu. Baru aku berhenti!” “Keparat!” Kedok Hitam menyambar sebatang anak panah, melayangkannya dengan cepat sekali ke arah Beng Tan. “Kau mampuslah, Beng Tan. Dan jangan harap itu!” Beng Tan menyampok. Dia bersinar-sinar dan marah sekali karena Kedok Hitam akhirnya menyambar apa saja, menimpukkannya kepada dirinya tapi selama itu dia berhasil menolak. Panah atau tombak selalu dikebut runtuh dan Kedok Hitam rupanya kalap, gentar dan ngeri tapi juga marah kepada pemuda itu, akhirnya melempar-lemparkan para perajurit dan Beng Tan tentu saja terkejut. Para perajurit ini tak dapat disampok runtuh seperti kalau dia menyampok senjata-senjata tajam, panah atau tombak yang dipukulnya runtuh itu, runtuh dan patahpatah. Dan ketika Beng Tan marah dan lemparan perajurit itu dikelit atau ditamparnya perlahan akhirnya Beng Tan menjejakkan tubuhnya ke atas dan dari atas pemuda ini tiba-tiba sudah bergerak secepat burung menotol kepalakepala para perajurit untuk mendekati lawannya. Satu kepandaian ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang tentu saja membuat para perajurit kagum, tercengang! “Kau tak dapat lepas dariku. Menyerahlah, dan berhenti!” Kedok Hitam terkejut. Dia melihat Beng Tan yang terbang di atas kepala para perajurit untuk mendekatinya. Gerakannya begitu luar biasa dan ringan, lari di atas kepala demikian banyak orang seperti kucing yang lari di atas genteng, demikian cepat dan enteng! Dan ketika pemuda itu sudah dekat dengannya dan Kedok Hitam hilang kagetnya tiba-tiba lelaki ini menyambar dua orang perajurit untuk dilempar ke arah pemuda itu dan diri sendiri sudah berjungkir balik di atas kepala perajurit yang lain untuk terbang dan…. lari lewat udara, persis seperti perbuatan lawannya itu. “Gentong-gentong kosong semua. Bodoh!” Perajurit ternganga. Yang diinjak kepalanya tentu saja mengaduh-aduh. Tidak seperti Beng Tan yang hampir tak mengerahkan tenaganya pada injakan yang kuat adalah sebaliknya si Kedok Hitam itu melakukan “tempelengan” dengan satu kakinya yang lain. Kalau kaki kanan meluncur dan terbang ke kepala perajurit yang di depan maka perajurit yang dibelakang ini diberi “hadiah” sepakan kecil, kecil bagi si Kedok Hitam itu tapi cukup besar bagi para perajurit biasa ini. Sepakan si Kedok Hitam seperti sepakan seekor kuda yang marah, menendang dan membuat mereka mengaduh-aduh. Setelah kepala dipakai untuk tempat meloncat ternyata tubuh juga disakiti. Itulah perbedaan si Kedok Hitam! Dan ketika Kedok Hitam melarikan diri dan tadi menahan Beng Tan sejenak dengan lemparan dua orang perajurit maka Beng Tan mengumpat karena harus menangkap dan menerima dua tubuh ini untuk akhirnya ganti dilempar ke tanah. “Pengecut! Licik, curang!” Beng Tan mengejar lagi. Pasukan yang ada disitu akhirnya melihat dua orang ini terbang di atas kepala para perajurit. Kedok Hitam mencaci-maki dan menendangi kepala perajurit-perajurit yang diinjak kepalanya sementara Beng Tan hanya mempergunakan kepala para perajurit itu sekedar sebagai batu loncatan. Akhirnya para perajurit yang melihat dua orang ini siap di depan mata tiba-tiba sudah menjatuhkan diri semua, tak mau memasang kepala dan membungkuk melindungi bagian itu. Sialnya punggung mereka kini menjadi penggantinya karena dengan posisi seperti itu mereka seperti tengkurap memberikan punggung. Bagian inilah yang dipergunakan Kedok Hitam dan Beng Tan untuk berlarian, tiada ubahnya orang berloncat-loncatan atau berlarian di punggung seekor ikan lumba-lumba. Lucu, tapi juga menyedihkan. Maklumlah, Kedok Hitam yang semakin gelisah dan marah melihat ulah para perajurit itu tiba-tiba menginjak keras, beberapa diantaranya patah punggungnya dan menjerit! Mereka itu roboh dan Beng Tan tentu saja tak dapat mempergunakan perajurit ini, berkelebat dan turun serta mempergunakan perajurit lainnya yang ada, kembali mengejar dan dua orang itu akhirnya tiba di ujung. Kedok Hitam berteriak dan tiba-tiba melepas huito-huito (golok terbang) kecil sebelum turun dari punggung perajurit terakhir, membalik dan melepaskan itu ke arah Beng Tan yang sudah dekat. Dan ketika Beng Tan berhenti untuk menangkis hujan golok terbang ini maka lawannya lari lagi dan kini menuju hutan di depan. “Ah, keparat. Terkutuk!” Beng Tan marah. Lawan benar-benar licik dan keji, beberapa kali melakukan serangan gelap tapi untung dia berhasil menghalau itu semua. Kedok Hitam benar-benar pengecut dan kini hendak menghilang di hutan itu, hal yang tentu saja tak akan dibiarkan Beng Tan. Dan ketika Beng Tan membentak dan mengejar lagi maka dua orang ini sudah jauh meninggalkan pasukan dan masing-masing seolah dahulu-mendahului mendekati hutan. Beng Tan melepas Pek-lui-ciangnya dan lawan terguling, bangkit dan lari lagi sambil memaki-maki. Dan ketika dua tiga kali pukulan Beng Tan berhasil menghambat lari lawan akhirnya Beng Tan mengerahkan ilmunya berjungkir balik dan tahu-tahu sudah melewati kepala lawan yang siap di mulut hutan. “KedokHitam, berhenti kataku. Perlihatkan dirimu!” Kedok Hitam pucat. Tiba-tiba jalan larinya sudah dihadang, Beng Tan berjungkir balik melayang turun di mulut hutan, persis di depannya. Dan ketika dia marah dan beringas tiba-tiba lelaki ini menggeram melepas Kim-kongciangnya. “Dess!” Beng Tan menangkis. Dia mengerahkan Pek-lui-ciang dan lawan mencelat setombak, jatuh bangun dan rupanya kehabisan tenaga disana. Kedok Hitam memang mulai payah karena Beng Tan terlampau lihai baginya. Pemuda itu juga memiliki napas yang panjang dan tenaga yang kuat, dia kalah fisik, di samping kalah kepandaian. Namun ketika laki-laki ini membentak dan meloncat bangun lagi maka dia menyerang dan mencabut trisulanya, karena golok sudah dirampas Beng Tan. Lalu menggeram dan memaki-maki laki-laki ini sudah melampiaskan gusarnya. “Beng Tan, kau jahanam keparat. Kau pemuda yang suka campur urusan orang lain!” “Hm, tidak begitu. Kalau kau bertindak dalam kebenaran tentu aku tak akan mencampuri semuanya ini, Kedok Hitam. Dan engkau membunuh Si GolokMaut dengan cara yang diluar kemanusiaan. Kau tunjukkan mukamu dan baru aku tak akan mendesak!” “Kau berani bicara seperti itu? Kau selalu ingin memaksa dan menekan orang? Mampuslah, dan aku tak mau bicara lagi… dess!” dan pukulan Kim-kong-ciang yang kembali menyambar dan menghantam Beng Tan lagi-lagi ditangkis dan Kedok Hitam mencelat, mengeluh dan memaki-maki lagi namun dia dapat meloncat bangun, menyerang dan pukulannya kembali bergerak disusul senjata trisula di tangan kanannya itu. Kedok Hitam lalu mengeluarkan semua kepandaiannya lagi namun dia tetap bukan lawan pemuda ini. Beng Tan menghadapi pukulan-pukulannya dengan Pek-lui-ciang, yang selalu membuat laki-laki ini tergetar dan terpental mundur. Dan ketika Kedok Hitam tetap keras kepala dan nekat tak mau berhenti akhirnya tusukan trisula yang kalap dan mulai ngawur ditangkis Beng Tan dengan Pek-jitkiamnya. Pemuda ini mencabut pedang dan ingin segera menyelesaikan pertandingan. Setelah Golok Penghisap Darah tak ada di tangan lawannya itu maka keganasan lawan dapat diredam. Si Golok Maut pun juga hebat kalau sudah memegang Golok Penghisap Darah Itu, selebihnya biasa. Maka ketika lawan memekik dan menusuk serta menggerakkan tangan kirinya tiba-tiba Beng Tan mencabut Pek-jit-kiam dan begitu sinar putih berkelebat tahu-tahu lawan berteriak karena trisula ditangannya mencelat, putus terbabat. Lalu ketika Kim-kong-ciang kembali bertemu Peklui- ciang maka Kedok Hitam pun roboh sementara dengan cepat dan gemas Beng Tan sudah menyambar dan merenggut kedok di muka lawannya itu. “Brett!” Sebuah wajah tampak. Kedok Hitam tak dapat menyembunyikan diri lagi tapi laki-laki itu melempar tubuh bergulingan. Dia marah dan memaki Beng Tan dengan nada meluap-luap. Beng Tan yang hendak memaki dan balas membentak lawan sekonyong-konyong tertegun. Lawan sudah melompat bangun dan kini berdiri menggigil di depannya, menuding-nuding. Dan ketika Beng Tan terkejut dan membelalakkan mata maka lawannya itu, si Kedok Hitam yang sudah tidak berkedok lagi membentak, “Beng Tan, kau ingin tahu siapa aku? Kau mau mengenal? Nah, lihatlah. Siapa aku dan apakah kau masih berani kurang ajar!” Beng Tan terkejut dengan muka berubah. Pemuda ini tiba-tiba menjadi pucat dan tak dapat bicara. Kedok Hitam telah memperlihatkan diri namun justeru pemuda ini terbungkam. Apa yang dilihat sungguh mengagetkan. Kedok Hitam ternyata adalah….. “Ah…!” Beng Tan mundur dan menggigil.”Kau…. kau….?” pemuda ini tak dapat melanjutkan bicaranya, saking kagetnya. “Ya, aku, Beng Tan. Kau sekarang mau apa? Kau mau membunuhku? Bunuhlah, aku tidak takut!” Beng Tan berkejap gemetar. Tiba-tiba dia surut dan surut saja kebelakang. Apa yang dilihat memang sungguh tak disangkanya. Lawan adalah tokoh tak diduga, orang yang ternyata sudah dikenal! Tapi ketika pemuda ini ditantang dan Beng Tan mengeluh menggoyang tangan akhirnya pemuda ini merasa bingung. “Aku, ah… aku… aku tak mungkin membunuhmu. Kau.. ah…!” pemuda ini bengong saja, tak dapat berbuat apa-apa dan Kedok Hitam tertawa mengejek. Dia menantang pemuda itu untuk membunuhnya tapi Beng Tan terlongong-longong saja di depan. Pemuda itu pucat, mau bicara banyak tapi tenggorokan rupanya kering, alhasil hanya ah-oh-ah-oh saja dan saat itu terdengarlah jeritan dan bayangan dua orang wanita. Bayangan hitam dan merah berkelebat, berteriak dan memanggil-manggil Beng Tan dan GolokMaut, yang sudah terlempar ke jurang. Dan ketika Beng Tan terkejut karena itulah suara kekasihnya dan Wi Hong, maka Kedok Hitam menyambar tutup kepalanya lagi dan berseru, “Beng Tan, aku pergi kalau kau tak dapat membunuhku. Nah, terima kasih dan mudah-mudahan kita kelak dapat bertemu dalam suasana yang lebih baik. Budimu tak akan kulupakan!” Beng Tan mendelong. Wi Hong dan Swi Cu berteriakteriak memanggil namanya sementara lawan sudah lenyap. Kedok Hitam meninggalkan dirinya dalam pikiran kalut dan gundah. Beng Tan dibuat kacau. Tapi ketika dua wanita itu berkelebat datang sementara Beng Tan masih termangu-mangu maka Wi Hong, gadis atau wanita baju merah itu melengking, “Beng Tan, mana GolokMaut?Mana dia?” Beng Tan terkejut. Akhirnya dia sadar dan melihat betapa gadis atau ketua Hek-yan-pang ini mangar-mangar. Pipinya seperti terbakar dan gadis itu memandangnya marah. Swi Cu juga bertanya dan Beng Tan merasa ditodong dua ujung pedang yang tajam. Kekasihnya itu rupanya mencurigainya bertempur dengan Golok Maut, membunuhnya, atau mungkin menangkapnya dan memberikannya kgpada pasukan kerajaan. Tapi ketika Beng Tan menggeleng lemah dan menoleh ke kiri maka dia berkata, “Golok Maut tak ada disini, dia tidak bersamaku. Kita sama sekali belum bertanding.. ..” “Kalau begitu dimana dia?” Wi Hong membentak. “Kau tentu tahu, Beng Tan, dan jangan bohong!” “Dia…. dia dirobohkan si KedokHitam.” “Dimana!” “Jatuh ke jurang. ..” Beng Tan tak berani memberitahukan keadaan Golok Maut yang begitu menyedihkan. “Aku… aku hanya tahu itu, terlambat datang….” “Dan kau ikut membantu pasukan!” Wi Hong tiba-tiba melengking. “Kau jahanam keparat, Beng Tan. Kau tak dapat menunggu sampai dia sembuh dulu dan baru bertanding. Kau antek kerajaan!” dan Wi Hong yang memekik serta menusukkan pedangnya tiba-tiba berteriak kalap dan sudah menyerang pemuda itu, dikelit dan Beng Tan tentu saja terkejut. Dia dituduh membantu pasukan, merobohkan dan membunuh Si Golok Maut itu. Dan ketika Beng Tan terkejut berteriak kaget maka pemuda ini berseru berulangulang bahwa gadis itu salah sangka. “Aku tidak menyerang pemuda itu. .Aku baru datang!” “Tapi kau mempunyai andil dalam mencelakakan kekasihku, Beng Tan. Kau jahanam keparat dan kubunuh kau!” “Hei, tidak! Aku….ah!” dan Beng Tan yang sibuk mengelak sana-sini akhirnya menjadi sasaran hujan serangan, menyampok dan berkelit dan Wi Hong memakimaki pemuda ini. Gadis itu menangis ter-sedu-sedu sementara Swi Cu yang menonton dengan muka pucat tak dapat berbuat banyak. Gadis ini ditinggalkan dalam perjalanan oleh kekasihnya itu dan Wi Hong yang pingsan diterowongan bawah tanah akhirnya siuman, sadar dan mencari jalan lagi dan akhirnya mau tak mau gadis ini menuju mulut terowongan di luar guha, tempat dimana dia keluar dan mencari buah-buahan untuk Si Golok Maut, tak tahu kalau ditipu dan ditinggalkan kekasihnya itu dan dia ditinggal sendirian, hal yang membuat Wi Hong jatuh bangun dan menangis. tak keruan berteriak memanggil-manggil kekasihnya itu. Dan ketika Wi Hong pingsan namun sadar kembali maka apa boleh buat gadis ini keluar melalui petunjuk Golok Maut dan ingin mencari kekasihnya disana, melihat ribuan pasukan sudah keluar dari Lembah Iblis dan gadis ini tak melihat kekasihnya disitu, mungkin dibawa orang pandai dan Wi Hong teringat si Kedok Hitam itu dan orang-orang seperti Mindra dan Sudra, juga kakek tinggi besar Yalucang. Dan sementara Wi Hong mencari-cari dan ingin menemukan Golok Maut maka muncullah Swi Cu yang bercucuran keringat menyusul Beng Tan. Suci dan su-moi bertemu dan Swi Cu menubruk sucinya itu, mengguguk.Wi Hong sendiri juga menangis tak keruan namun wanita yang hampir pulih tenaganya setelah pingsan di terowongan itu dapat bertanya banyak. Swi Cu ditanya apakah dia bertemu Golok Maut sementara Swi Cu sendiri justeru bertanya apakah sucinya itu bertemu Beng Tan, masing-masing menanyakan kekasihnya dan masing-masing sama-sama menggelengkan kepala pula. Memang mereka tak tahu dan tentu saja keduanya cemas. Swi Cu cepat mengajak sucinya pergi dan di hutan itulah mereka melihat Beng Tan. Bayangan si Kedok Hitam tak tertangkap karena orang itu sudah melarikan diri. Mereka heran melihat Beng Tan sendirian. Tapi ketika Wi Hong curiga dan menganggap Golok Maut ada bersama pemuda ini maka Beng Tan menjadi sasaran kemarahan dan pemuda itu diserang! Namun Beng Tan bukanlah tandingan Wi Hong Pemuda ini terlalu lihai untuk gadis itu. Karena ketika pemuda itu berkelit dan mengelak serta menampar sana-sini akhirnya Wi Hong terhuyung-huyung dan menjerit memaki-maki pemuda itu, menerima satu tamparan lagi dan mencelatlah pedang ditangan gadis itu. Dan ketikaWi Hong mengguguk dan roboh terpelanting maka Beng Tan berkelebat menolong gadis itu. “Maaf, harap percaya padaku bahwa aku belum bertemu kekasihmu itu, Wi Hong. Golok Maut bertanding dan dirobohkan si Kedok Hitam.. Kekasihmu itu. dikeroyok ribuan orang roboh dan jatuh ke jurang.” “Dan kau!” Wi Hong mengipatkan tangannya. “Jangan sentuh aku Beng Tan. Kau tentu tahu bagaimana nasib GolokMaut dan pasti kau membantu pasukan!” “Aku tidak membantu, bahkan bertempur!” Beng Tan merah mukanya. “Aku justeru menolong Si Golok Maut, Wi Hong. Tetapi terlambat'” Beng Tan lalu menceritakan peristiwanya, didengar dengan marah tapi Wi Hong akhirnya percaya. Sebelumnya Swi Cu sudah memberi tahu bahwa Beng Tan kaget sekali ketika akhirnya tahu bahwa pasukan kota raja menuju Lembah Iblis. Dulu saja pemuda ini sudah pernah menolak balatentara sebesar ini meluruk Lembah Iblis. Dia tak mau dan biarlah sendirian saja menangkap Golok Maut, sesuai perintah kaisar. Tapi ketika hal itu terjadi juga dan Kedok Hitam membawa pasukan memerintahkan Gwe-goanswe maka Beng Tan menyusul dan marah-marah, bahkan meninggalkan Swi Cu dibelakang. “Kau tanya saja sumoimu itu. Aku berangkat tergesagesa karena mengkhawatirkan kekasihmu. Golok Maut terluka, tak dapat cepat sembuh. Kalau di saat seperti itu dia diserang dan diserbu demikian banyak orang tentu dia celaka Maka aku meninggalkan Swi Cu dan mengejar ke tempat ini tapi masih terlambat juga!” Beng Tan menyesal, memukul dahinya dan tampak betapa kekecewaan dan kemarahan besar melanda pemuda ini. Beng Tan tak berani menceritakan betapa Golok Maut disiksa dengan keji oleh si Kedok Hitam itu. Betapa pemuda yang menggegerkan dunia kang-ouw dengan kebenciannya terhadap orang-orang she Coa dan Ci dirajam seperti anjing. Golok Maut dikutungi dan keempat kaki tangannya putus, tak mungkin dapat hidup lagi dalam keadaan seperti itu. Sungguh Golok Maut mengalami nasib yang amat mengerikan, disamping menyedihkan. Dan ketikaWi Hong bercucuran air mata dan mengepal tinjunya tiba-tiba dia melihat Golok Penghisap Darah yang disisipkan di punggung pemuda ini. “Kau?!” Wi Hong terkejut. “Kau mendapatkan dari mana itu, Beng Tan? Dan kau bilang bahwa kau sama sekali belum bertemu dengannya?” Beng Tan terkejut, sadar. “Jangan marah,” dia buru-buru berkata. “Golok ini kurampas dari si Kedok Hitam. Orang itulah yang melukai kekasihmu tapi Golok Penghisap Darah dapat kuambil. Kau bawalah, aku tak bohong.” Wi Hong pucat pasi. Melihat golok tidak bersama tuannya lagi tahulah gadis ini apa yang terjadi. Golok itu tak pernah berpisah dari kekasihnya. Kalau sampai golok berada di tangan orang lain tentulah sesuatu yang hebat benar-benar telah terjadi. Wi Hong menjerit dan menyambar golok itu. Dan ketika dengan menggigil dan pucat gadis ini bertanya dimana jurang yang katanya menerima tubuh Golok Maut maka Beng Tan tergetar menuding, “Disana!” Wi Hong melengking. Tiba-tiba gadis ini telah berkelebat dan menuju ke arah yang ditunjuk. Swi Cu tertegun dan berteriak memanggil kekasihnya. Tapi ketika Wi Hong tak memperdulikan dan terbang bagai setan haus darah maka Swi Cu berkelebat dan menangis menyusul sucinya. “Tunggu, aku juga ikut!” Swi Cu terbang mengerahkan ginkang. Kalau sudah begini Beng Tan pun tak dapat tinggal diam lagi, pemuda itu juga berkelebat dan menyusul kekasihnya ini. Dan ketika mereka terbang dan menuju jurang di mana Golok Maut terjatuh maka Wi Hong meraung-raung dan menuruni jurang dengan cepat, tak perduli pada bahaya dan tiga kali gadis ini jatuh terpeleset. Jurang itu dalam dan di tengahnya terdapat kabut. Untung, Beng Tan yang melindungi dan selalu tak jauh dari gadis ini selalu bertindak cepat. Wi Hong juga mempergunakan golok ditangannya itu untuk menyelamatkan diri dan bergelantungan. Mereka bertiga terus ke bawah dan ke bawah, semakin ke bawah semakin gelap dan kabut di tengah jurang membuat pandangan tertutup. Dalam keadaan seperti ini kalau mereka tidak berhatihati tentu siapapun bakal terlempar dan jatuh ke bawah. Beng Tan tak tahu berapa jauh mereka memasuki kedalaman jurang itu. Tapi ketika di dasar jurang kabut tak ada lagi dan samar-samar tetapi jelas tampak sesosok tubuh menggeletak dengan keadaan mandi darah maka Wi Hong menjerit dan langsung terjun ke bawah. “Sin Hauw….!” Lengkingan itu mendirikan bulu roma. Wi Hong sudah terjun dan langsung mengenal tubuh yang buntung itu. Gadis ini menjerit dan menangis meraung-raung bagai harimau kehilangan anaknya. Kemarahan dan kekagetannya tak dapat dicegah lagi. Juga kengeriannya. Dan ketika gadis itu menjerit dan menubruk tubuh yang tinggal seonggok daging dan kepala yang berlumuran darah itu makaWi Hong roboh pingsan dan tak sadarkan diri! “Dia pingsan.Mari cepat kita tolong!” Swi Cu membelalakkan matanya dengan muka ngeri. Golok Maut, pemuda yang gagah tampan itu ternyata sekarang sudah menjadi mayat yang begitu mengerikan. Tubuh itu sudah demikian pendek tanpa lengan tanpa kaki, buntung, mandi darah dan tidak berujud lagi. Ah, orang yang membunuh Si Golok Maut ini sungguh kejam! Dan ketika Swi Cu terhuyung dan hampir muntah oleh rasa jijik maka Beng Tan menyambar tangannya dan berseru agar cepat menolongWi Hong. “Kita harus menolong gadis ini, dan menemukan Siansu. Mencari Sian-su!” Swi Cu menutupi muka dan terhuyung roboh. Gadis ini tak kuat menyaksikan pemandangan itu dan Beng Tan terpaksa menolong Wi Hong sendirian. Pemuda itu terguncang hebat oleh kematian Golok Maut, setelah tadi terguncang oleh siapa adanya si Kedok Hitam. Dan ketika pemuda itu menyadarkan dan menotok Wi Hong maka gadis ini menjerit dan menangis tersedu-sedu teringat apa yang dilihat. -ooo0dw0ooo- Jilid : XXVIII “BIARKAN aku…. biarkan aku.Mana Sin Hauw….!” Beng Tan menyambar lengan si gadis. Wi Hong menjadi kalap dan gadis itu melompat begitu saja sambil menjerit histeris. Yang diingat pertama kali begitu sadar adalah kekasihnya, pemuda yang sudah menjadi mayat itu. Buntung, seperti anjing! Namun ketika Beng Tan mencekal dan menyambar lengan gadis ini maka Wi Hong merontaronta dan membentak melepaskan dirinya. “Kalau kau menahan berarti kau mau kurang ajar denganku. Lepaskan…. plak-plak!” Beng Tan mendapat tamparan dua kali, malah dihadiahi makian dan tendangan segala. Terpaksa pemuda itu melepaskan lawannya dan larilah Wi Hong menubruk jenasah itu. Gadis atau ketua Hek-yan-pang ini menjerit dan tersedu-sedu menciumi tubuh penuh darah itu, tak jijik atau ngeri dan bahkan memeluk mayat Si Golok Maut penuh kesedihan. Tangis dan raung yang keluar dari mulutnya sungguh menikamnikam ulu hati. Beng Tan sampai tak tahan dan bercucuran air mata pula, apalagi kekasihnya, Swi Cu, yang sudah sejak tadi tersedu-sedu dan menutupi muka dengan pucat. Gadis ini adalah sumoiWi Hong dan tentu saja melihat dan menyaksikan kedukaan sucinya itu Swi Cu tak kuat. Gadis ini mengeluh dan akhirnya mencengkeram lengan Beng Tan. Si pemuda hanya mendelong dengan air mata kebingungan, juga haru dan marah. Namun ketika Wi Hong sadar dan meloncat bangun, bagai singa betina haus darah maka gadis ini meloncat mencengkeram Beng Tan. “Siapa yang membunuhnya! Apakah betul si Kedok Hitam!” “Hm,” Beng Tan mengangguk, tak dapat berbuat lain. “Kedok Hitam memang pembunuhnya,Wi Hong. Dan aku menyesal sekali kenapa terlambat datang.” “Dan siapa manusia keparat itu? Kau mengenalnya? Siapa binatang terkutuk itu?” “Aku tak mengenal, pertemuanku juga baru sekilas….” dan belum Beng Tan menyelesaikan kata-katanya, yang tentu saja bohong maka Wi Hong memekik dan menyambar ke belakang, berkelebat dan sudah membawa lari mayat kekasihnya ke atas. Cepat dan luar biasa seolah melupakan duka atau lelahnya gadis ini keluar dari jurang dengan beban di pundak. Swi Cu sampai kaget dan Beng Tan sendiri berteriak tertahan melihat perbuatan itu. Jurang yang tinggi kini dinaiki dengan cepat dengan membawa sebuah mayat pula, meskipun mayat yang sudah buntung dan tidak berujud sebagai manusia yang utuh. Namun ketika dua orang itu berteriak dan melompat kaget makaWi Hong sudah naik dengan cepat dan Golok Penghisap Darah yang dipakai untuk menancap-nancapkan kaki sudah berada di atas, luar biasa cepatnya. “Aku akan mencari jahanam terkutuk itu. Aku akan mengadu jiwa. Aku akan membunuh!” “Tidak!” Beng Tan berjungkir balik keluar jurang. “Kau tak dapat mencarinya sekarang, Wi Hong. Kau lelah, kau sedang terguncang. Tunggu dulu dan biar kita rawat jenasah Si GolokMaut itu!” “Jangan menghalangi!” Wi Hong sudah membentak, terkejar. “Jangan macam-macam di depanku, Beng Tan. Atau aku akan membunuhmu atau kau membunuhku!” “Ah, kau salah paham. Aku bermaksud baik…. singg!” namun golok yang maju menyambar lehernya tiba-tiba sudah bergerak tanpa ampun, menerjang dan pemuda itupun segera berkelebatan ke sana-sini karena Wi Hong menyerangnya. Beng Tan menghalangi dan gadis baju merah itu tentu saja marah. Dan ketika Beng Tan berteriakteriak dan empat kali nyaris terbacok golok maka Swi Cu muncul di atas dan gadis itu menjerit melihat kekalapan sucinya. “Berhenti…. berhenti! Jangan menyerang…!” Namun Wi Hong semakin beringas. Melihat sumoinya hendak membela pemuda baju putih itu mendadak gadis ini melengking dan menyerang sumoinya itu pula. Swi Cu dibabat dan gadis baju hitam itu menjerit seraya melempar tubuh bergulingan. Sucinya sudah kesurupan dan Wi Hong memaki sumoinya itu yang dikata menghina dirinya, yang sudah tidak memiliki pelindung dan beda dengan sumoinya Itu yang masih memiliki kekasih. Kebencian dan kemarahan bertumpuk-tumpuk yang membakar ketua Hekyan- pang ini membuat Wi Hong mata gelap. Dia tak perduli lagi apakah yang diserang itu sumoinya atau Beng Tan. Kedua-duanya dianggap musuh dan Swi Cu tentu saja mengeluh melihat tanda sucinya yang beringas ini. Wi Hong sudah bukan lagi gadis yang normal melainkan seperti kuntilanak haus darah. Dua kali Swi Cu terbabat dan gadis baju hitam itu menjerit pada Beng Tan. Dan ketika Beng Tan terbelalak dan apa boleh buat harus mencabut Pek-jit-kiamnya, Pedang Matahari itu maka Golok Penghisap Darah terpental dan terlepas dari tangan Wi Hong ketika beradu sama keras dengan pemuda yang memiliki kelebihan sinkang ini, menendang dan Wi Hongpun mencelat terguling-guling. Beng Tan tak menunggu waktu lagi dan ditotoklah gadis baju merah itu. Dan ketika Wi Hong mengeluh dan pingsan dilanda dendam maka Swi Cu mengguguk menubruk kekasihnya itu sementara Beng Tan menyimpan kembali pedangnya dan memungut Golok Penghisap Darah. “Berbahaya, tak kenal ampun. Hm, kau berhentilah menangis, Swi Cu. Jangan buat aku menjadi semakin bingung saja. Kita tolong sucimu ini, dan kita kubur mayat Si GolokMaut.” Swi Cu masih saja tersedu-sedu. Gadis ini sedih dan ngeri melihat keadaan sucinya. Sucinya itu tak berpikiran normal lagi dan siapapun rupanya mau dibunuh. Ah, takut dia. Tapi ketika kekasihnya mengajak bangkit berdiri dan mayat Si GolokMaut memang harus dikubur maka dengan menggigil dan muka ngeri gadis ini membantu Beng Tan, sering menutupi muka karena bentuk mayat itu sungguh tak kuat dipandang. Swi Cu hampir muntah-muntah. Namun ketika semuanya selesai dan Golok Maut sudah dikubur makaWi Hong disadarkan dan gadis baju hitam inilah yang menolong sucinya. “Mana GolokMaut, mana suamiku!” Swi Cu tertegun. “Golok Maut tewas, suci. Suami atau kekasihmu itu tak ada lagi…” “Aku tahu!” Wi Hong membentak, mata bersinar-sinar, liar. “Aku bertanya di mana mayatnya, Swi Cu. Di mana kalian sembunyikan!” “Aku tak menyembunyikan, kami menguburnya….” “Di mana!” “Itu….” Dan begitu Swi Cu menunjuk tiba-tiba Wi Hong melengking perlahan dan berkelebat ke makam yang baru itu, baru sekarang dilihat karena tadi berada di belakangnya. Gadis baju merah ini menjerit lirih dan menangis tersedu-sedu. Dia baru saja sadar, Swi Cu menyadarkannya. Tapi begitu ingat dan membentak panjang, di sela-sela tangisnya, mendadak gadis ini bergerak dan makam yang masih baru serta gembur itu digali dengan cepat! “Heii..!” Swi Cu dan Beng Tan berseru kaget. “Jangan gila, suci. Kami baru saja menguburnya!” “Aku tak perduli. Mayat suamiku tak boleh dikubur di sini, tak boleh dikubur orang lain. Akulah yang berhak, aku yang akan menguburkannya!” dan ketika sebentar kemudian mayat itu sudah terlihat dan disambar naik, membuat Beng Tan dan Swi Cu terbelalak maka Wi Hong sudah tertawa dan menangis mirip kuntilanak yang sedang gila. “Hi-hik, heh-heh…. kau akan kutidurkan di tempat lain, Hauw-ko (kanda Hauw), kubawa ke tempat lain. Marilah, kita pergi dan biarkan dua manusia yang lagi berasyikmasyuk ini melihat kita bercumbu di tempat lain!” dan Wi Hong yang berkelebat serta membawa mayat itu tiba-tiba memutar tubuhnya dan terbang meninggalkan Swi Cu berdua. Beng Tan dan kekasihnya ini kaget dan mereka berdua sampai tak dapat bicara, menjublak. Tapi ketika mereka sadar dan berteriak keras tiba-tiba Beng Tan dan kekasihnya ini sudah berkelebat mengejar. “Heii…!” Beng Tan berseru pucat. “Jangan dibawa ke mana-mana mayat itu,Wi Hong. Biarkan dia beristirahat di slni dan kau tinggalkanlah!” “Benar!” Swi Cu juga menjerit, berseru pada sucinya itu. “Jangan dibawa ke mana-mana mayat itu, suci. Berhenti dan serahkan kepada kami!” “Tidak, aku yang lebih berhak!” dan Wi Hong yang tancap gas sambil terkekeh-kekeh akhirnya membuat Swi Cu gemetar dan melihat bahwa sucinya itu benar-benar sudah tidak waras lagi. Mayat Golok Maut yang buntung dibawa terbang dan berlepotan tanah, juga darah, darah yang tentu saja sudah mengering. Namun ketika dia mengeluh dan Beng Tan berjungkir balik mengerahkan ginkangnya tiba-tiba sudah menghadang dan turun di depan ketuaHek-yan-pang ini, membentak, “Berhenti…. dess!” dan Wi Hong yang menumbuk serta menabrak pemuda itu dengan keras akhirnya terbanting dan memaki-maki Beng Tan akibat tabrakan yang keras itu, tak dapat diiiindarkan lagi dan gadis atau ketua Hek-yan-pang ini menjerit dan mengaduh kesakitan. Dia terlempar dan terguling-guling namun hebatnya mayat yang ada di pundaknya itu masih saja dicekal erat. Nyata,Wi. Hong tak mau kehilangan mayat ini, mayat suaminya, kekasih tercinta! Dan ketika gadis itu bergulingan meloncat bangun dan Swi Cu berkelebat serta menggigil di samping kekasihnya maka gadis baju hitam ini menjerit, serak, “Suci, jangan gila, Jangan dibawa ke mana-mana mayat itu. Serahkan kepada kami, biar dikubur di sini saja!” “Tidak, hi-hik! Aku akan mempertahankan mayat suamiku ini, Swi Cu. Kalian tak boleh merebutnya karena dia suamiku. Mampuslah, atau aku kalian bunuh!” Wi Hong menerjang, terkekeh dan tertawa-tawa namun Beng Tan cepat melindungi kekasihnya. Swi Cu ditarik ke belakang dan pukulan lawan ditangkis. Wi Hong terpental dan terpelanting namun mayat itu masih juga tidak jatuh. Gadis ini terkekeh-kekeh dan malah menciumi mayat itu, menerjang dan menyerang lagi dan Beng Tan sendiri sampai mengkirik melihat kejadian ini. Wi Hong benarbenar tidak waras, gila! Namun ketika dia mengelak sanasini dan akhirnya satu pukulan membuat lawannya itu terlempar, terbanting, maka Wi Hong meraung-raung dan gadis itu menggigit lengannya sendiri. “Beng Tan, kau bunuhlah aku. Antar aku agar menyusul arwah Si Golok Maut. Atau aku akan memecahkan kepalaku sendiri dan kalian kubur kami dalam satu lubang!” “Heii!” Beng Tan membentak. “Jangan gila, Wi Hong. Tahan…. dess!” dan Wi Hong yang roboh terpelanting dan kini melepaskan mayat setelah tadi menghantam ubunubunnya sendiri mendadak menangis menggerung-gerung dan Beng Tan menotoknya lumpuh. Gadis atau ketua Hekyan- pang itu menjerit-jerit dan Swi Cu tersedu mengguguk tak tahan lagi, melompat dan menangis memeluk sucinya Itu. Dan ketika Wi Hong terkekeh dan meludah ke sana ke mari maka Swi Cu berkata agar mayat itu diserahkan saja kepada sucinya ini. “Dia mungkin akan menguburnya ke tempat lain. Biarlah…. biarlah…. kita serahkan saja dan tak usah kita campuri lagi…!” “Hm,” Beng Tan pucat, ngeri. “Kau yakin tak akan ada apa-apa dengan sucimu ini, Cu-moi? Dia tak akan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri? Dia sedang mengandung, dan pukulan ini terlampau berat baginya!” “Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Kalau suci sudah menghendaki begitu tak dapat kita mencegahnya lagi, Tan-ko. Salah-salah dia akan bunuh diri seperti katakatanya tadi. Tidak, tidak. Biarkan ia pergi karena mungkin mayat itu akan dikuburnya di tempat lain!” Dan Beng Tan yang tak dapat bicara apa-apa lagi dan menurut kata-kata kekasihnya lalu membebaskan Wi Hong dan seketika gadis baju merah itu tertawa berseri-seri. “Swi Cu, kau baik. Kau, ah…. kau baik dan cantik sekali!” dan Wi Hong yang terkekeh melompat bangun lalu mencium sumoinya itu dan berkelebat menyambar mayat di atas tanah, terbang dan pergi meninggalkan dua orang itu sambil tertawa-tawa mengerikan namun mendadak baru beberapa langkah berhenti lagi, membalik dan sudah berkelebat ke arah Beng Tan. Dan ketika Beng Tan terkejut dan tak tahu apa yang mau dikehendaki ketua Hek-yanpang ini tiba-tiba Wi Hong membentak agar dia menyerahkan Golok Penghisap Darah itu, milik Si Golok Maut. “Serahkan golok itu dan aku tak akan mengganggu lagi. Barang milik suamiku tak boleh dipegang orang lain!” Beng Tan mundur. Dia terkejut dan berobah oleh katakata ini, sejenak berkerut-kerut dan berpikir bagaimana baiknya. Tapi ketika Swi Cu menangis dan berkata padanya bahwa biarlah golok itu diserahkan sucinya, hitung-hitung sebagai pelindung diri bagi sucinya itu maka Beng Tan menarik napas dalam dan apa boleh buat menyerahkan golok itu, Golok Penghisap Darah. Dan begitu Wi Hong menerima dan terkekeh, mengelebatkan golok di depan mukanya maka gadis itu sudah terbang dan meninggalkan mereka, benar-benar tak kembali lagi. “Hi-hik, terima kasih, Swi Cu. Dua kali kau melepas kebaikan padaku. Baiklah, lain kali akan kubalas dan selamat tinggal!” Swi Cu dan Beng Tan menjublak membelalakkan mata. Swi Cu sendiri tak henti-hentinya menangis sampai sucinya itu lenyap di bawah, tapi begitu sucinya lenyap dan tidak kelihatan lagi, entah ke mana maka gadis ini mengguguk dan menubruk kekasihnya. “Aku mungkin tak akan melihat suci lagi. Kita mungkin lama tak akan bertemu lagi. Ah, perasaanku tersayat-sayat, koko. Sungguh kejam dan keji benar orang yang membunuh GolokMaut itu!” “Hm, sudahlah,” Beng Tan menekan guncangan hatinya yang berkali-kali. “Aku tak dapat berbuat apa-apa dalam masalah ini, Cu-moi. Aku menyesal dan juga mengutuk kekejian itu. Tapi, ah… GolokMaut juga kejam!” “Tapi dia membunuh karena dendam! Aku sudah mulai mendengar sebagian kisahnya dari suciWi Hong!” “Hm, benar. Dan persoalan ini rumit. Dendam dapat menciptakan manusia baik-baik seperti iblis! Sudahlah, aku sendiri sedang terguncang oleh semua kejadian ini, Cu-moi. Kita pergi dan cari Sian-su!” “Benar,” Swi Cu tiba-tiba menarik lepas tubuhnya, tertegun. “Berkali-kali kau menyebut nama ini, Tan-ko. Siapa orang yang kau maksud itu? Gurumu?” “Hm, bagiku begitu. Tapi bagi Sian-su tak sepenuhnya. Orang yang kumaksud memang benar kakek dewa yang pernah kuceritakan padamu itu, Cu-moi. Dialah Sian-su, Bu-beng Sian-su yang terhormat!” “Dan kau tak kembali ke istana? Tak ke kota raja?” “Ah, aku tertipu,” Beng Tan tersenyum pahit. “Untuk apa ke sana lagi, Cu-moi? Semuanya ini cukup. Kita tak perlu ke sana dan mari mencari guruku itu. Ada sesuatu yang hendak kutanyakan!” “Apa?” “Ini…” Beng Tan mengeluarkan sepucuk lipatan surat. “Aku heran bahwa di saku baju Si GolokMaut itupun ada surat seperti ini.” Swi Cu mengerutkan kening. Dia heran melihat Beng Tan mengeluarkan sebuah surat yang dilipat baik-baik itu, dibuka dan membaca isinya. Dan ketika Beng Tan merogoh dan mengeluarkan benda yang sama dari saku yang lain maka Swi Cu tertegun membelalakkan mata “Syair! Syair yang mirip dan sama! Eh apa artinya itu, Tan-ko? Rahasia apa yang terkandung di tulisan-tulisan ini?” “Aku tak tahu, tapi Sian-su bilang bahwa ada sesuatu yang amat berharga di situ. Aku disuruh mencari, tak dapat. Sudah berusaha kutemukan tapi sampai saat inipun otakku rasanya bebal. Hm, Sian-su adalah kakek dewa yang amat mengagumkan, Cu-moi. Apa yang dia berikan tak pernah kosong, pasti selalu ada isinya. Marilah, kita berangkat dan temui kakek itu!” “Nanti dulu!” Swi Cu menahan, melihat Beng Tan sudah menyambar lengannya untuk diajak pergi. “Katakan dulu kepadaku ke mana kita pergi, Tan-ko. Dan bagaimana selanjutnya urusan kita sendiri!” “Maksudmu?” “Hubungan kita ini,” Swi Cu merah mukanya, terisak. “Aku ingin tahu bagaimana kau mewujudkan cita-cita kita, koko. Apa yang kaulakukan setelah ini!” “Ah, aku akan menikahimu!” Beng Tan tertegun, memeluk kekasihnya. “Urusan kita sudah selesai, Cu-moi. Golok Maut telah tewas dan tak ada ikatanku lagi dengan sri baginda kaisar. Aku akan membawamu kepada Sian-su dan sekaligus minta restunya!” “Kalau begitu di mana kakek itu tinggal?” “Di Lembah Malaikat.Marilah, aku tak akan melupakan janjiku tapi kita temui dulu kakek itu!” dan Beng Tan yang mengecup serta mencium kekasihnya lalu membuat Swi Cu lega dan girang, bahagia tapi sayang kebahagiaannya itu terganggu oleh urusan sucinya. Di sana sucinya menderita sementara dia di sini mendapatkan kebahagiaannya. Ah, betapa beda keberuntungan mereka. Tapi begitu Beng Tan membawanya pergi dan berkelebat meninggalkan tempat itu maka Swi Cu pun termenung-menung antara senang dan susah! ooooo0de0wi0ooooo “Berhenti, ini Lembah Malaikat,” Swi Cu mendengar kekasihnya bicara setelah dua malam melakukan perjalanan. Letih dan penat diajak kekasihnya berputarputar di tempat yang penuh Jurang dan lembah akhirnya Beng Tan menghentikan larinya dan mengusap keringat. Swi Cu sendiri setengah bersandar dan agak mengantuk di pundak kekasihnya tadi. Dua malam ini dia diaduk bermacam perasaan yang silih berganti, haru dan duka serta entah perasaan macam apa lagi yang bergalut semuanya, menjadi satu dan berbaur seperti benang ruwet. Tapi begitu Beng Tan berhenti dan mendorong tubuhnya dengan halus, menyadarkan kekasihnya maka Swi Cu tertegun mendengar kicau burung yang merdu di atas pohon-pohon yang rindang. Monyet dan segala jenis blnatang-binatang kecil tiba-tiba bermunculan. Kelinci dan katak tiba-tiba berlompatan, datang dan menghampiri Beng Tan dengan berani. Alangkah herannya dia! Tapi ketika Beng Tan tersenyum dan mengambil pisang atau kacang di dalam buntalannya maka monyet dan kelinci datang berebut. “Ah,” gadis ini berseru tertahan. “Jadi ini kiranya kenapa di luar dusun tadi kau membeli pisang dan semuanya itu, koko? Kau hendak memberi makan mereka?” “Ya,” Beng Tan tersenyum gembira. “Semua binatang di sini tak takut-takut kepada manusia, Cu-moi. Sian-su telah melatih mereka dengan memberinya makan setiap hari.” “Dan kaupun agaknya dikenal!” “Benar, aku juga sering memberi makan mereka seperti Sian-su, setiap hari. Dan Itu Pek-kauw!” Beng Tan tiba-tiba menuding, melihat seekor kera putih muncul dari balik pohon dan kera itu bercecowetan menghampiri Beng Tan. Larinya yang cepat dan sebentar kemudian sudah melompat di pundak pemuda ini membuat Swi Cu tiba-tiba tercengang, heran dan kagum dan tiba-tiba dia terkekeh ketika monyet putih ini merogoh semua saku Beng Tan. Pek-kauw, monyet itu, rupanya mencari sesuatu dan Beng Tan tertawa mengeluarkan sebungkus kembang gula, permen. Dan ketika bungkusan itu direbut dan Pek-kauw sudah cecowetan membuka isinya maka monyet ini berjingkrak-jingkrak di kepala Beng Tan! “Hi-hik,” Swi Cu tiba-tiba tak dapat menahan geli, lenyap kemurungannya. “Kera ini lucu sekali, koko. Dia manja dan rupanya paling akrab denganmu!” “Benar,” Beng Tan juga tertawa. “Pek-kauw paling berani dan kurang ajar pula, Cu-moi. Tapi dia tak pernah menyakiti aku. Lihat, kesukaannya adalah kembang gula itu sementara teman-temannya yang lain adalah pisang atau kacang!” Swi Cu terkekeh-kekeh. Gembira dan geli melihat tingkah si monyet yang lucu, tiba-tiba diapun ingin bercanda. Dia minta agar Beng Tan memberikan monyet putih itu. Tapi ketika Pek-kauw bercecowetan dan meloncat turun, lari bersembunyi di balik pohon besar tadi maka Beng Tan tertawa memberi tahu bahwa binatang itu ingin menikmati kembang gulanya dulu, mungkin takut direbut yang lain. “Ha-ha, belum mau. Tapi lihatlah, kenari dan burungburung kutilang itu mendekatimu, Cu-moi. Berikan makanan ini kepada mereka dan bersikaplah sebagai seorang sahabat!” Swi Cu terkejut. Tujuh ekor burung beterbangan di mukanya dan berkicau saling sahut.Mereka melihat pisang dan makanan berbiji yang ada di tangannya, pemberian Beng Tan. Dan ketika dia terbelalak dan melebarkan matanya tiba-tiba lima ekor kenari dan sepasang kutilang menyerbu dirinya, berkicau mematuk makanan di tangannya itu dan hinggap di sana-sini, tak takut-takut! “Ha-ha, itulah mereka, Cu-moi. Bersenang-senanglah. Bergembiralah!” Swi Cu terkekeh. Akhirnya dia menangkap satu di antara lima ekor burung kenari itu, burung berwarna kuning. Burung ini jinak dan mandah saja ditangkap. Tadi dia mengepak-ngepakkan sayapnya dan juga ekor, lucu. Swi Cu gemas dan lupalah gadis itu akan persoalannya dua hari yang lalu, mencium dan menangkap yang lain lagi dan tak lama kemudian gadis ini sudah terkekeh-kekeh melupakan maksud kedatangannya pula ke situ, bermain dan bergembira bersama penghuni lembah dan Beng Tanpun juga terbawa oleh suasana yang penuh riang ini. Kelinci dan monyet serta katak adalah teman-temannya sejak dulu. Mereka itu sahabat-sahabat penghuni Lembah Malaikat. Dua muda-mudi ini tiba-tiba bergembira dan Beng Tan pun lupa akan maksud kedatangannya di situ. Tapi ketika dua jam mereka bermain-main dan monyet atau kelinci disuruh menari-nari oleh Beng Tan, ditonton dan membuat Swi Cu terkekeh-kekeh maka terdengarlah sapaan lembut dan tiupan angin yang halus menerpa mereka. “Beng Tan, kau main-main di sini? Kau tidak di istana lagi?” Beng Tan dan Swi Cu terkejut. Mereka menengok dan terpekiklah Swi Cu melihat apa yang dilihat. Seorang kakek, entah dari mana munculnya tahu-tahu telah berada di dekat mereka di bawah pohon besar di mana tadi Pekkauw menyembunyikan diri. Kakek itu berdiri namun kakinya tidak menginjak tanah, seolah melayang, atau mengambang. Dan ketika Swi Cu terkejut dan pucat karena wajah itu tak kelihatan jelas seolah tertutup halimun atau kabut tebal maka Beng Tan yang ada di sisinya sudah berseru nyaring menyebut kakek itu, menjatuhkan diri berlutut. “Sian-su….!” Swi Cu terguncang. Mendadak iapun roboh berlutut dan tak dapat menahan diri lagi, gemetar. Perasaannya tergetar dan entah kenapa tiba-tiba ia menggigil. Kakek itu seolah bukan manusia saja melainkan siluman, atau mungkin roh halus, hantu! Tapi ketika Beng Tan menjatuhkan diri dan menyebut nama kakek itu, sebagai Sian-su, maka sadarlah Swi Cu bahwa inilah kiranya kakek yang dicari-cari kekasihnya itu. Sian-su, atau Bu-beng Sian-su, kakek amat hebat yang katanya maha sakti hingga dapat terbang ke langit atau masuk ke dalam bumi. Berkepandaian demikian tinggi hingga tak dapat diukur lagi. Itulah kakek yang menjadi guru kekasihnya, datang dan muncul seperti siluman saja! Tapi ketika dua orang itu menjatuhkan diri berlutut dan Swi Cu gemetar tak berani mengangkat mukanya mendadak Bu-beng Sian-su, kakek itu, bergerak dan sudah membangunkan mereka. “Bangunlah!” tawa lembut itu menyejukkan hati, sudah disertai usapan ke wajah. “Bangkit dan berdirilah kalian, anak-anak. Tak perlu berlutut!” Beng Tan dan Swi Cu merasakan sesuatu yang menggetarkan. Mereka tiba-tiba merasa betapa wajah yang diusap menjadi dingin dan segar, begitu segar dan dingin hingga segala kepenatan tiba-tiba lenyap. Swi Cu yang merasa paling lelah mendadak tak merasakan lagi kelelahannya itu, sirna dan lenyap oleh usapan si kakek. Begitu mengherankannya! Dan ketika ia berdiri dan melirik Beng Tan, aneh bin ajaib, wajah Beng Tan mendadak dilihatnya begitu mencorong dan gagah serta bersinar-sinar, begitu bersinar-sinar dan gagah hingga ia bengong. Beng Tan tiba-tiba dilihatnya jauh lebih gagah dan tampan daripada sebelumnya. Pemuda itu mengeluarkan cahaya yang membuat wajahnya seperti dewa. Ah, mendecak gadis ini, Kagum! Tapi ketika dia terbelalak dan bengong memandang kekasihnya maka Beng Tan, yang juga berdiri dan memandang kekasihnya itu tiba-tiba dibuat bengong dan kagum karena wajah Swi Cupun bersinar-sinar dan cemerlang seperti bulan purnama. Wajah itu menjadi gemilang dan hidup dan Beng Tan melihat kecantikan luar biasa yang belum pernah dilihat sebelumnya. Kekasihnya itu tiba-tiba menjadi cantik jelita dan Beng Tan bengong, takjub. Wajah gemilang itu serasa seorang dewi saja dan bukan manusia. Ah, Beng Tan melongo dan terbuka mulutnya. Wajah sang kekasih yang mendadak begitu cantik jelita dan gemilang membuat dia mendelong. Wajah itu seolah Swi Cu dalam ujudnya yang baru, Swi Cu yang cantik jelita dan anggun, bak dewi kahyangan! Tapi ketika dua muda-mudi itu sama-sama takjub dan masing-masing bengong memandang pasangannya, yang tiba-tiba begitu cantik dan gagah perkasa melebihi yang sudah-sudah maka tawa Bu-beng Sian-su menyadarkan dan mengejutkan keduanya bahwa di situ masih ada orang ketiga. “Beng Tan, kalian bengong saja saling pandang? Kalian tidak segera memberi tahu maksud kedatanganmu?” “Ah-ah!” Beng Tan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, kembali menghormat. “Teecu datang memang membawa sesuatu keperluan, Sian-su. Maaf bahwa teecu tidak memberi tahu dulu!” “Hm, bangkitlah. Tak usah berlutut!” tangan itu bergerak, menyentuh pundak. “Aku tahu kedatanganmu, Beng Tan, tapi tidak tahu siapa gadis ini. Apakah dia temanmu?” “Beb…. benar…” Beng Tan tergagap. “Dia… dia Swi Cu, Sian-su. Kekasih teecu, calon isteri teecu!” “Hm, baiklah, calon isterimu kiranya,” kakek itu tersenyum, menghadapi Swi Cu “Benarkah, nona? Kau calon isteri Beng Tan?” “Beb….. benar….!” Swi Cu ikut tergagap, tiba-tiba merah padam. “Aku… aku Swi Cu, Sian-su…. datang menghaturkan hormat!” “Sudahlah,” kakek itu juga menarik berdiri. “Kau berdua tak perlu takut-takut, nona. Beng Tan tentu telah memberi tahu padamu bahwa aku adalah kakek yang sederhana saja. Marilah, duduk dan ceritakan maksud kalian datang ke mari.” Swi Cu terkejut. Sang kakek mengibaskan lengan dan tiba-tiba segumpal mega, atau asap putih, menderu di bawah mereka. Dan ketika dia terkejut dan sang kakek tertawa tahu-tahu dia dan Beng Tan sudah jatuh terduduk dan sudah berada di atas gumpalan mega ini, yang ternyata empuk dan dingin, seperti bantal! “Tanah itu kotor, dan bumi juga kotor. Sebaiknya kita ke tempat yang enak dan bicara di tempat yang bersih!” Swi Cu membelalakkan mata. Sang kakek mengibaskan lengannya sekali lagi dan muncullah bantalan mega itu, tepat di bawah sang kakek. Dan ketika Bu-beng Sian-su duduk dan melipat kakinya, bersila, maka kakek itu berseru bahwa mereka tidak di atas bumi iagi. Swi Cu berteriak karena tiba-tiba bantal mega yang diduduki bergerak, melayang dan sudah mengikuti si kakek terbang ke angkasa. Dan ketika Beng Tan di sana juga terkejut dan mengeluarkan seruan tertahan maka dua muda-mudi itu sudah mengikuti Bu-beng Sian-su ke langit, terbang, mungkin ke tempat para dewa! “Heii…!” gadis ini pucat. “Aku… aku takut, Beng Tan. Kita meluncur dan terbang ke langit!” “Tenanglah,” suara Bu-beng Sian-su terdengar lembut di depan. “Kalian tak apa-apa, nona. Bantal itu akan melekat penuh di kakimu, tak akan lepas. Aku ingin mengajak kalian ke tempat yang tenang dan jauh dari keramaian manusia. Duduk sajaiah di situ, tak usah melihat ke bawah!” Swi Cu ngeri. Segera dia menutup mulut rapat-rapat dan tak memandang ke bawah lagi.Memang benar, dia menjadi ketakutan dan ngeri ketika tadi melihat ke bawah. Bantal ajaib itu membawanya terbang ke langit dan Lembah Malaikat tampak di sana, jauh di bumi, kecil dan akhirnya tak dapat dilihat secara jelas lagi karena dia sudah terbang bersama kakek dewa itu. Beng Tan ada di sampingnya dan untunglah kekasihnya itu tak berada jauh. Bantal merapat dan tiba-tiba keduanya sudah bersatu. Terbang dan berada di angkasa bebas seperti dongeng begini barulah kali itu dialami Swi Cu. Gadis ini terisak dan gembira namun juga tegang. Bayangkan, bagaimana kalau dia jatuh! Tapi ketika Beng Tan berbisik bahwa dia tak usah takut, Sian-su akan melindungi dan menjaga mereka maka menangislah gadis ini penuh bahagia. “Oh, aku… ah… baru sekali ini mengalami hal seperti ini, Tan-ko. Gurumu benar-benar luar biasa dan bukan manusia lagi. Ah, dia memang dewa, kakek dewa. Tapi ke mana kita akan dibawa? Ke tempat para malaikatkah?” “Aku tak tahu,” Beng Tan menggeleng “Yang jelas tentu ke tempat yang baik, Cu-moi. Sudahlah kau duduk saja dan peluk aku rapat-rapat. Pejamkan matamu kalau takut!” Hal itu sudah dilakukan Swi Cu. Gadis ini memang takut tapi juga gembira. Takut-takut gembira, begitulah barangkali. Dan ketika dia mendekap tubuh Beng Tan dan bantal mega itu, terus melayang dan mengikuti Sian-su, mirip selempang Aladin maka tibalah mereka di suatu tempat yang sukar disebut namanya. Tempat itu seperti taman di tengah surga, pohon warna-warni ada di situ dan Beng Tan takjub melihat ini. Daun yang ada di situ bukan hanya berwarna hijau melainkan berwarna-warni. Biru, hitam dan putih. Bahkan, ada yang jambon dan perpaduan dl antara tujuh warna sinar pelangi. Beng Tan takjub dan bingung, untuk menentukan warna apakah yang dilihatnya itu. Pokoknya, bukan warna yang ada di bumi. Semuanya lebih indah dan jauh lebih mempesona daripada di bumi. Warna itu tak dapat dilukiskan atau digambarkan dengan kata-kata. Pokoknya, indah dan mentakjubkan. Titik! Dan ketika Beng Tan bengong dan takjub memandang semua itu maka Swi Cu, yang juga sudah membuka mata dan melepaskan diri dari kekasihnya berseru kagum tak dapat menahan mulut. “Luar biasa… mentakjubkan! Ah, seperti Taman Firdaus…!” “Benar,” Beng Tan tiba-tiba teringat kitab suci. “Taman ini seperti Taman Firdaus, Cu-moi. Dan pohon-pohon itu, ah… mereka dapat bergerak… menari!” Swi Cu membelalakkan matanya., Tiba-tiba pohon yang ada di situ mendadak semuanya bergoyang, bergerak dan sudah berpindah-pindah tempat. Mereka seolah bermain satu sama lain, atau mungkin menari-nari, karena pohon yang daunnya putih dan hitam berlenggak dan berlenggok. Dahan dan ranting mereka saling bergerak maju mundur. Itulah pemandangan yang seumur hidup belum pernah mereka saksikan. Seperti dongeng! Tapi ketika mereka terbelalak dan takjub serta bengong tak habis-habisnya maka Bu-beng Sian-su tertawa dan menyadarkan mereka. “Beng Tan, mari sini. Inilah tempat yang enak, bebas dari pengaruh hawa nafsu manusia.” Beng Tan terkejut. Segera dia sadar dan turun dari bantal meganya itu, lupa tidak menginjak tanah tapi bengong karena kakinya menapak di sesuatu yang lembut, seperti awan atau beludru tebal, lunak. Entahlah, tak tahu dia apa namanya itu tapi pemuda ini sudah menghampiri Sian-su. Kakek itu sudah bersila dan wajahnya yang bersinar tampak semakin bersinar saja, tidak menyilaukan namun tetap saja Swi Cu dan Beng Tan tak dapat menembus kabut atau halimun di wajah sang kakek. Dan ketika Beng Tan duduk dan Swi Cu menyusul, heran dan terkagum-kagum maka kakek itu bertanya apa yang hendak dibicarakan pemuda itu. “Teecu…. teecu hendak meminta jawaban tentang syair. Juga sekalian memberi tahu bahwa GolokMaut tewas!” “Aku tahu,” kakek itu tersenyum, menghela napas. “Kematian Golok Maut sudah kuketahui dulu-dulu, Beng Tan. Dia telah menentukan garis nasibnya sendiri. Hm, akibat dendam!” “Dan teecu akan bertanya tentang syair…..” “Nanti dulu!” Swi Cu tiba-tiba memotong. “Aku hendak bertanya tempat apakah ini namanya, Sian-su. Bagaimana begini mempesona dan mentakjubkan. Semua nya serba lain dengan di bumi!” “Hm, ini adalah It-thian (Langit Pertama).” “It-thian?” “Ya, perpindahan pertama kalinya dari alam kasar ke alam halus, nona. Sebelum menaiki jenjang-jenjang berikutnya.” “Ih, tempat orang mati?” “Bukan orang mati saja, melainkan segala yang ada di bumi, tanaman dan binatang. Sudahlah, kau tak akan mengerti dan sebaiknya kita ikuti pertanyaan Beng Tan ini.” Swi Cu ngeri. Tiba-tiba dia mengkirik dan memandangi pohon-pohon yang menari-nari itu. Jangan-jangan itu adalah pohon yang mati di bumi dan kini “hidup” di tempat ini. Atau, mungkin roh orang yang “nyasar” ke pohon itu. Hii, merinding dia! Dan ketika dia mencekal lengan Beng Tan erat-erat dan tanpa terasa menjadi takut dan ngeri maka Bu-beng Sian-su tersenyum memandang pemuda itu, yang juga pucat dan berkeringat! “Kau takut?” “Tidak, tapi… tapi… ah, berada di suatu tempat yang asing untuk pertama kalinya memang terasa menyeramkan, Sian-su. Tapi ada kau di sini. Aku tak takut!” “Hm, perasaan itu adalah wajar. Tapi mereka semua adalah sahabat. Lihatlah, tak ada satupun di antara mereka yang mengganggu. Lihat mereka tersenyum padamu!” Beng Tan melongo. Pohon-pohon yang tadi bergerak dan menari-nari mendadak menghadap ke arahnya semua. Mereka menunduk dan…. tersenyum padanya. Ah, tidak. Mereka tak mempunyai mulut. Tapi, ah… dapat tersenyum! Bagaimana ini? Beng Tan bingung karena tak dapat menerangkan. Hal itu memang ganjil dan sukar dilukiskan kata-kata. Tapi, senyum itu… ah, dia dapat merasakannya jelas. Senyum itu seperti gunung yang segar menyambut manusia, atau ombak yang lembut di pesisir yang halus. Senyum itu memang lain dengan senyum manusia tapi getaran hangat itu dirasanya. Itulah senyum Cinta Kasih! Beng Tan tak tahu ini tapi getaran cinta kasih itu dirasanya, ditangkapnya, Dan ketika Bu-beng Sian-su tertawa dan memberi tahu bahwa pohon dan semua yang ada di situ sedang menyambut Beng Tan dengan gembira, sebagaimana layaknya seorang tamu memasuki rumah orang lain maka kakek itu mengajak lagi ke pembicaraan semula. “Kau akan tahu kelak, akan mengerti bagaimana cara mereka bercakap-cakap atau berkomunikasi. Marilah, lanjutkan pembicaraanmu, Beng Tan. Kita memiliki batas waktu di sini.” Beng Tan sadar. Akhirnya dia merasakan juga kebutuhan akan pembicaraan pokok itu, tentang syair. Dan ketika dia bersinar-sinar dan mengeluarkan lipatan surat yang selalu disimpannya rapi maka pemuda ini mulai dengan sikapnya yang serius, sudah dapat mengatasi perasaannya yang berdebar-debar bahwa dia berada di Langit Pertama, tempat perpindahan dari alam kasar ke alam halus! “Teecu hendak menanyakan tentang isi syair ini, juga bertanya bagaimana Golok Maut juga mempunyai atau membawa syair yang sama!” “Hm, syair yang manakah itu, Beng Tan? Dapatkah kau membacanya?” “Inilah…” Beng Tan memperlihatkan, juga sekaligus meminta sebuah syair lain yang disimpan Swi Cu, karena kekasihnya itu membaca dan menyimpan syair yang dimiliki Si GolokMaut. “Teecu tak dapat menemukan inti jawaban syair ini, Sian-su. Dan teecu gagal memenuhi permintaanmu!” “Hm, bacalah. Atau, biar kekasihmu saja yang membaca, tentu lebih merdu dan nyaring!” Swi Cu semburat. Beng Tan memandangnya tersenyum dan tak jadi meminta syair yang dibawanya. Pemuda itu menyerahkannya kepadanya dan Swi Cu terpaksa membaca. Dan ketika lipatan surat sudah dibuka dan Swi Cu membacanya, sudah dapat menekan perasaannya yang berdebar-debar dan kagum tapi juga gentar seperti yang tadi dirasa Beng Tan maka gadis ini sudah mengeluarkan suaranya yang merdu dan nyaring, lantang tapi sedap didengar teiinga: “Bukan benang sembarang benang halus menawan di kiri kanan kalau dijaga menimbulkan senang kalau rusak menimbulkan dendam inilah benang yang minta perhatian!” “Hm, itu kiranya,” Bu-beng Sian-su tersenyum mengangguk-angguk, tertawa. “Benar sekali pertanyaan yang kaubawa, Beng Tan. Sesuai dengan apa yang ada. Baiklah, akan kujawab!” dan ketika kakek itu bersinar dan tajam memandang Beng Tan, yang harus menunduk dan tak kuat menghadapi sorot cahaya yang tiba-tiba menembus di balik kabut maka kakek itu bertanya apa yang dilihat pemuda ini. “Teecu tak melihat apa-apa, tak tahu apa-apa!” “Hm, jangan terburu menjawab,” kakek itu tersenyum menegur, menghadapi Swi Cu. “Kau sendiri juga tak tahu, nona? Seperti Beng Tan?” “Aku… aku juga tak tahu, tak mengerti!” “Kalian akan mengerti kalau sudah tahu, dan kalian akan tahu kalau sudah mempelajari. Baiklah, syair ini sederhana saja. Seluruh kekuatan yg bertumpu pada Si GolokMaut!” “Maksud Sian-su?” Beng Tan tertegua “Apakah hendak membicarakan yang sudah mati?” “Ah, tidak. Bukan begitu,” kakek ini tertawa. “Yang sudah mati tak perlu dibicarakan, Beng Tan. Tapi apa yang pernah terjadi perlu disimak dan direnungi hikmah nya!” “Teecu masih tak mengerti,” Beng Tan bicara, bingung. “Dan aku juga….” Swi Cu menyambung, sama-sama bingung. “Baiklah, perhatikan ini, anak-anak. Jawaban syair sebenamya hanya satu kata-kata saja. Tapi karena menjelaskan begitu saja tak akan mengesankan maka baiklah kalian kubawa berputar-putar sedikit.” Beng Tan dan Swi Cu terbelalak. Mereka tak mengerti maksud kakek itu dan Swi Cu tiba-tiba bangkit berdiri. Kata berputar-putar dikiranya hendak berjalan-jalan, kakek itu terkejut tapi tertawa menyuruhnya duduk lagi. Bukan begitu yang dimaksud kakek ini. Dan ketika Bu-beng Sian-su mengebutkan lengan dan menarik napas dalam maka yang meluncur adalah pertanyaan-pertanyaan juga, sebagai sendal pancing! “Kalian tahu apa yang dimaksud benang di situ? Kalian tak melihat hubungannya dengan Si GolokMaut?” “Tidak.” “Baiklah, kalau begitu kutanya Beng Tan,” kakek ini menghadapi Beng Tan, yang tiba-tiba berdebar dan gelisah. “Dulu sudah kuberi tahu bahwa inti syair berada pada kisah ini, Beng Tan. Kisah Si Golok Maut. Sekarang kau ceritakanlah apa yang kauketahui tentang pemuda itu.” “Sin Hauw pemuda yang ganas dan kejam, telengas!” “Bukan, bukan itu. Menjawab ekornya tak akan menemukan pokok persoalannya. Kutanya kau kenapa Sin Hauw telengas dan kejam!” “Dia… dia….” Beng Tan tiba-tiba terkejut, gagap. “Aku… aku tak tahu kenapa dia kejam, Sian-su. Tapi yang jelas akibat dendam!” “Bagus, dan kau, nona?” Bu-beng Sian-su tiba-tiba menoleh pada Swi Cu, mengejutkan sang gadis. “Kau juga melihat begitu? Kau membenarkan kata-kata Beng Tan ini?” “Ya!” Swi Cu mengangguk, tergetar tapi dapat mengikuti pertanyaan orang. “Golok Maut memang kejam karena dendam, Sian-su. Dan suciku juga sudah menceritakan tentang itu!” “Sucimu?” “Dia sumoi dari Hek-yan-pangcu Wi Hong,” Beng Tan tiba-tiba menjelaskan. “Dan Wi Hong adalah kekasih Golok Maut, Sian-su. Swi Cu mengetahui itu dari sucinya!” “Hm, bagus kalau begitu. Kita sejalan!” kakek ini berseriseri, tiba-tiba gembira. “Dan kudesak kalian lagi kenapa GolokMaut dendam, Beng Tan. Apa sebabnya dia menjadi dendam!” “Dia marah kepada Coa-ongya!” “Dan juga Ci-ongya!” Swi Cu menyambung, mulai tertarik, mendengarkan dan entah kenapa tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan yang dilancarkan kakek itu menggugah minatnya untuk mengetahui. Swi Cu berbicara cepat dan Bu-beng Sian-su pun tersenyum. Dan ketika kakek itu tertawa dan bertanya kenapa GolokMaut marah, maka Swi Cu dan Beng Tan hampir serentak menjawab bahwa karena GolokMaut itu ditlpu dan dihina Coa-ongya. “Ha-ha, bagus. Sebutkan lagi. Ulangi!” “Golok Maut marah karena ditipu dan dihina Coaongya!” “Juga Ci-ongya!” “Dan kalian tahu bagaimana rasanya orang ditipu?” Beng Tan tertegun. “Marah, gusar…” “Dan cukup itu saja?” “Eh,” Beng Tan melengak. “Kukira itu saja, Sian-su, tak ada lain….” “Hm, kau mengukur baju orang dengan bajumu sendiri.” “Maksud Sian-su?” “Kau hendak membandingkan perasaanmu dengan perasaan Si GolokMaut itu, Beng Tan. Kau berkata hanya itu saja karena memang itulah yang kau rasakan dari perbuatan kaisar!” “Eh!” Beng Tan terkejut. “Aku tak mengetahui maksud kata-katamu, Sian-su. Kenapa kaisar dibawa-bawa!” “Hm, bukankah kaisar juga menipumu? Bukankah orang yang berkedok hitam itu juga menipumu? Tak usah mengelak. Aku tahu semua apa yang terjadi, Beng Tan. Dan aku tahu betapa kau marah-marah dan gusar kepada kaisar karena secara diam-diam mengijinkan Coa-ongya menyerbu Lembah Iblis, padahal sebelumnya kaisar berjanji padamu untuk menyerahkan Si Golok Maut itu kepadamu seorang!” Beng Tan kaget. Pemuda ini tiba-tiba mencelat bangun dan pucat memandang kakek itu. Bu-beng Sian-su ternyata mengetahui rahasia itu. Rahasia kemarahannya kepada kaisar dan terlebih kepada si Kedok Hitam. Ah, dia lupa bahwa kakek ini memang kakek maha sakti yang seolah mengetahui segalanya. Bu-beng Sian-su adalah manusia dewa yang bakal mengetahui apa saja, semut di lubang bumi sekalipun! Dan ketika dia tertegun dan membelalakkan matanya lebar-lebar maka kakek itu berkata agar Beng Tan duduk kembali, menggapaikan lengannya. “Duduklah, dan tak usah bengong. Aku tahu bahwa kaupun tahu siapa si Kedok Hitam itu, menyembunyikannya dari semua orang. Tapi karena belum ada sesuatu yang direnggut darimu dan apa yang kaualami hanyalah secuil dari apa yang dialami Sin Hauw maka kemarahanmu hanya berhenti di situ saja, Beng Tan. Tidak sampai menjadi dendam yang sedalam lautan!” Beng Tan pucat, menggigil. “Sian-su, kau…. kau tahu semuanya itu? Kau melihat apa yang terjadi?” “Hm, aku tahu semuanya itu, Beng Tan Tapi jangan tanya kenapa aku tidak menolong Si GolokMaut itu!” Beng Tan tertegun. Seolah tahu apa yang hendak ditanyakan tiba-tiba kakek dewa itu telah mendahuluinya memotong. Dengan jitu dan tepat kakek ini telah menutup mulut Beng Tan untuk tidak bertanya kenapa kakek itu tidak menolong Golok Maut, pemuda yang jelas diancam bahaya itu, yang sampai menimbulkan kematiannya. Dan ketika Beng Tan tertegun dan tak mampu bertanya apa-apa, mulut serasa terkunci maka Swi Cu yang terkejut mendengar bahwa Beng Tan mengetahui siapa adanya si Kedok Hitam tiba-tiba meloncat bangun. “Tan-ko, kau tahu itu? Kau tahu siapa si Kedok Hitam itu?” “Ini… ini…” Beng Tan terhuyung, menutupi mukanya. “Aku tak dapat menceritakannya, Cu-moi. Waktu itu ada Wi Hong….!” “Ah, kalau begitu kaupun menipu. Kau berkata pada suciku bahwa kau tidak mengetahui siapa si Kedok Hitam itu!” “Jangan salah faham!” Beng Tan kaget, melihat kekasihnya tiba-tiba marah-marah. “Aku tak memberitahunya karena sucimu sedang hamil, Cu-moi. Kalau dia tahu siapa itu jangan-jangan dia bakal keguguran!” dan cepat memberi tahu bahwa dia tak bermaksud melindungi laki-laki kejam itu karena kebohongannya semata ditujukan buat menyelamatkan Wi Hong maka Swi Cu menggigil namun pandangan tidak senang tetap saja terpancar di matanya, hal yang membuat Beng Tan tidak enak! “Aku tidak bermaksud berbohong, tidak bermaksud menipu. Kalau kau tidak percaya silahkan tanya Sian-su yang dapat membaca pikiran orang ini!” Swi Cu menoleh. Tawa dan senyum lembut kakek itu tiba-tiba menghilangkan kemarahannya bagai api tersentuh air. Kakek itu mengangguk dan berkata bahwa apa yang dikata Beng Tan benar. Kekasihnya itu tak bermaksud berbohong selain tujuan menyelamatkan Wi Hong belaka, karena wanita itu sedang mengandung dan berkali-kali menerima pukulan batin. Dan ketika kakek itu berkata agar mereka duduk kembali, tenang dan mendinginkan pikiran maka Bu-beng Sian-su menghela napas menunjuk Beng Tan. “Kau kelak harus menebus kesalahanmu Ini. Jangan biarkan wanita itu dan kekasihmu ini tertipu selamanya!” “Baik, aku berjanji, Sian-su. Dan ampunkan teecu!” Beng Tan menjatuhkan diri berlutut, membenturkan Jidat tiga kali dan ditepuklah pemuda ini agar bangun lagi. Swi Cu bertanya siapa gerangan si Kedok Hitam itu, penasaran. Tapi ketika Bu-beng Sian-su berkata bahwa Swi Cu dapat menanyanya belakangan maka gadis ini menahan perasaan dongkolnya. “Kalau Beng Tan tak memberitahumu maka kelak akulah yang akan menerangkan padamu. Jangan khawatir, orang setua aku tak mungkin ingkar janji!” Swi Cu tersipu. Kalau Bu-beng Sian-su sudah berkata seperti itu tentu saja ia tak berani mendesak. Penasarannya di-pendam dan Beng Tan pun sudah diajak lagi untuk kembali ke persoalan semula. Kakek itu belum bicara habis dan Swi Cu mendengarkan. Dan ketika kakek itu bertanya apa saja yang diketahui Beng Tan maka pemuda ini ngeri menerangkan. “Teecu…. teecu takut. Biarlah Sian-su saja yang menceritakan karena Sian-su tentu lebih tahu daripada teecu!” “Hm, jangan begitu. Betapapun kau harus menjawab, Beng Tan, jangan semua persoalan diserahkan kepadaku. Baiklah, coba kekasihmu saja yang bercerita!” “Aku… aku ngeri. Aku tak mengerti ….!” Swi Cu pucat. “Eh, kenapa begitu?” kakek ini tersenyum. “Kau sendiri bilang bahwa sedikit atau banyak kau mengetahui riwayat Golok Maut, nona. Dan kau juga ingin tahu rahasia syair ini. Seharusnya kau masuk dan melibatkan diri dalam percakapan. Nah, jangan takut atau ngeri dan bersikaplah tenang saja kenapa GolokMaut demikian dendam!” “Karena… karena Coa-ongya dan adik-nya menipu!” “Bagus, tentang apa?” “Banyak sekali, Sian-su. Tapi…. tapi agaknya Beng Tan lebih tahu!” Lucu sekali, Swi Cu tiba-tiba melempar persoalan! Gadis ini ngeri dan gentar berhadapan dengan kakek dewa itu. Bu beng Sian-su dirasanya akan menggiring dan dia tak tahu ke mana dia akan digiring. Entahlah, Swi Cu jadi takut dan gentar untuk bercakap-cakap dengan kakek ini. Dia lebih baik menjadi pendengar daripada pembicara! Dan ketika kakek itu tertawa dan mengebutkan bajunya maka kakek ini menarik napas dalam. “Baiklah, kalau begitu kalian anggukkan kepala kalau aku mulai bercerita. Kita mulai dari bawah…” dan tajam bersinar-sinar memandang dua orang itu kakek ini mulai membuka tabir. “Pertama, tentu kalian tahu bahwa Sin Hauw atau Si Golok Maut itu adalah putera dari mendiang Sin Lun yang dianggap membantu pemberontak oleh penguasa sekarang, Li Ko Yung. Dan karena Sin Lun adalah seorang laki-laki gagah yang amat setia maka Li Ko Yung atau pembantu-pembantunya mulai membujuk lakilaki itu untuk berpihak pada mereka. Tapi sayang, usaha mereka gagal!” “Dan Sin Lun akhirnya dibunuh!” “Ya, benar, Beng Tan. Dan kau tahu siapa pembunuhnya, bukan?” “Jenderal Kwi..” “Bagus, dan kau tahu siapa jenderal Kwi ini!” “Adik dari ibu Sin Hauw…” “Nah, apalagi?” “Jenderal ini pembantu Coa-ongya, Sian-su, kebetulan di pihak Li Ko Yung sementara ayah Sin Hauw di pihak pemberontak!” “Hm, istilah pemberontak sebenarnya kurang enak, lebih tepat disebut sebagai berdiri di pihak musuh saja. Baiklah, lalu apalagi yang kau ketahui?” “Sin Hauw marah-marah kepada pamannya itu, bermaksud menuntut balas!” “Tapi ibunya melarang,” tiba-tiba Swi Cu ikut bicara, berani setelah kekasihnya ikut bertanya jawab. “Dan Kwigoanswe marah-marah, Sian-su. Sin Hauw akhirnya ditangkap dan dihukum!” “Bagus, dan ibu Sin Hauwpun akhirnya tewas, dalam membela anak. Kalian tahu apa yang terjadi dengan keluarga itu setelah Kwi-goanswe memusuhi Sin Hauw pula!” “Ini….” Beng Tan bersinar-sinar, teringat kisah Si Golok Maut itu. “Kwi-goanswe memang kejam, Sian-su. Terhadap seorang anak kecilpun ia tak segan-segan berlaku keras!” “Ya, dan ada sesuatu yang barangkali tak kalian ketahui, tentang enci atau kakak perempuan Sin Hauw itu.” “Apa?” “Perbuatan biadab Kwi-goanswe terhadap gadis itu.” “Eh, maaf. Kami lupa nama gadis itu, Sian-su. Dan apa yang dilakukan Kwi-goan swe terhadap kakak Sin Hauw!” “Gadis itu bernama Hwa Kin, dan Kwi-goanswe memperkosanya!” “Apa?” Swi Cu terpekik. “Paman memperkosa keponakan sendiri?” “Hm, itulah yang terjadi, nona. Dan Sin Hauw sendiri baru tahu beberapa saat sebelum encinya tewas.” “Jahanam! Terkutuk!” Swi Cu tiba-tiba melompat bangun, mengepal tinju dengan menggigil. “Sungguh biadab sekali jenderal she Kwi itu, Sian-su. Kalau aku ada di sana tentu waktu itu juga aku akan membunuh Kwi-goanswe itu!” “Hm, kaupun mulai terbakar, ikut merasakan atau menghayati kisah ini,” kakek itu mengangguk-angguk, menghela napas. “Bagaimana kalau peristiwa itu menimpa dirimu, Beng Tan? Bagaimana kalau umpamanya encimu atau kekasihmu ini diperkosa orang? Cukup hanya marah dan gusar saja? Tidak mendendam?” Beng Tan terkejut. Tiba-tiba dia terpukul dan kaget, muka seketika menjadi merah dan semburatlah dia akan kata-katanya sendiri tadi. Dia tak menambahi dengan katakata dendam karena perbuatan kaisar memang masih belum sehebat itu. Tapi kalau dia membayangkan bahwa Swi Cu atau saudara perempuannya mau diperkosa orang tiba-tiba pemuda ini terbakar dan mendadak peristiwa di kamar Swi Cu teringat kembali, muncul dengan cepat. Waktu itu Swi Cu juga mau diperkosa orang dan orang itu mereka sangka Si Golok Maut, padahal bukan. Dan terkejut serta tergetar oleh todongan kakek dewa ini tiba-tiba Beng Tan mulai menggigil dan marah, kemarahan yang sudah bercampur dengan benci dan dendam! “Bagaimana, Beng Tan? Kau mulai dapat merasakan kebenaran ini?” “Ya-ya… teecu…. teecu terbakar!” “Bagus, dan kalian duduklah kembali,” kakek itu mengulapkan lengan, menyuruh Swi Cu dan pemuda ini duduk dengan tenang. “Apa yang diketahui Sin Hauw memang tidak seketika, Beng Tan. Dan waktu itu Sin Hauw juga belum dewasa benar.” “Hm-hm, dan bagaimana selanjutnya, Sian-su?” “Kalian tahu, anak ini akhirnya ditemukan Hwa-liong Lo-kai dan diambil murid.” “Ya-ya, kami tahu itu. Tapi akhirnya Sin Hauw menjadi murid utama Sin-liong Hap Bu Kok dan isterinya yang hebat Cheng-giok Sian-li!” “Hm, itu benar. Karena Sin-liong Hap Bu Kok maupun isterinya adalah sahabat kakek pengemis itu, Hwa-liong Lokai. Mereka sama-sama pelindung Chu Wen, yang dianggap memberontak, dan memusuhi Li Ko Yung.” “Ya, teecu teringat bahwa Hwa-liong dan suami isteri itu memang orang-orang kepercayaan yang setla kepada Chu Wen.” “Dan ayah Sin Hauwpun juga begitu!” “Benar, kalian tahu baik, nona. Dan sekarang kalian tahu bahwa berturut-turut Sin Hauw mengalami pukulanpukulan batin yang tidak enteng!” “Hm-hm…!” Beng Tan dan kekasihnya menganggukangguk. “Kau benar, Sian-su. Tapi heran bahwa ayah Sin Hauw demikian gigih dan tegar mempertahankan sikapnya.” “Maksudmu?” “Dia tak mau bergabung dengan Kwi-goanswe yang jelas-jelas masih saudaranya sendiri. Mungkin dia menganggap bahwa perjuangan Chu Wen adalah benar dan mulia, patut dibela!” “Bukan itu,” kakek ini tersenyum. “Ada sesuatu yang tak diketahui orang banyak, Beng Tan. Dan semuanya itu bersumber pada Coa-ongya, juga kaisar. Mendiang Sin Lun tak mau membantu Li Ko Yung karena dilihatnya cacad yang besar dari orang-orang itu!” “Cacad apa?” “Ini yang sedang hendak kuterangkan. Dan kita maju setapak lagi.” Beng Tan tertegun. Dia melihat kakek itu tersenyum dan senyumnya penuh rahasia. Ah, dia berdebar dan ingin tahu. Tapi ketika kakek itu tertawa dan berkata padanya agar bersabar, maka Bu-beng Sian-su melanjutkan ceritanya lagi, tentang Si GolokMaut itu. “Kalian tahu bahwa suami isteri Hap Bu Kok dan Cheng-giok Sian-li menggembleng Sin Hauw di Lembah Iblis. Di situlah suami isteri itu menemukan Golok Penghisap Darah dan kelak golok inilah yang diwariskan kepada muridnya…” “Nanti dulu!” Swi Cu memotong. “Bolehkah kutahu dari mana suami isteri itu mendapatkan Golok Penghisap Darah, Sian-su? Dan apakah benar mereka pernah bertemu denganmu?” “Hm, benar.Mereka memang pernah bertemu denganku. Tapi tentang dari mana mereka mendapatkan golok itu sebaiknya tak usah kujelaskan, tak perlu. Kejadian itu telah lewat, dan merupakan urusan pribadi suami isteri itu sendiri.” Swi Cu kecewa. Ia tak berhasil mengetahui sejarah golok maut itu namun kekasihnya menjawil. Beng Tan berbisik agar tak usah dia kecewa dan marilah sama-sama mereka dengarkan kata-kata kakek dewa itu. Beng Tan sendiri justeru ingin tahu apa gerangan “cacad” yang ada padaCoaongya dan kaisar itu, karena dia telah bersama mereka beberapa waktu. Dan ketika kakek itu tersenyum dan menganggukkan kepala meneruskan pembicaraan maka Bubeng Sian-su menggerakkan lengannya. “Cacad yang dimiliki dua orang ini terlampau besar, tapi yang menyolok dan menonjol adalah Coa-ongya itu, juga adiknya Dan karena cacad inilah maka ayah Sin Hauw tak pernah mau bergabung dengan mereka, meskipun iparnya, jenderal Kwi, ada di sana!” “Hm, aku penasaran,” Beng Tan tak tahan lagi. “Dua kali kau menyebut ini, Sian-su. Dan aku ingin tahu apa cacad yang kau maksudkan itu!” “Bukan lain adalah ‘benang’ dalam syair ini. Dan Sinliong Hap Bu Kok sendiri pernah kuberi tahu tapi tak dapat menangkap ini. Sayang, lain dengan ayah Sin Hauw yang justeru lebih dulu tahu dan itulah sebabnya dia berpihak pada ChuWen!” Beng Tan dan Swi Cu tak mengerti. Mereka bingung karena Bu-beng Sian-su tiba-tiba menghela napas berulangulang, kakek itu merenung dan rupanya memikiri sepak terjang manusia. Tapi ketika Beng Tan batuk-batuk dan bertanya bagaimana selanjutnya maka Bu-beng Sian-su tibatiba menodong. “Beng Tan, kau masih demikian bodoh juga? Kau tak melihat apa yang pernah dilihat ayah Sin Hauw itu?” “Teecu… teecu tak melihat!” Beng Tan tiba-tiba gugup, tergagap. “Teecu masih belum mengerti apa yang kau maksudkan, Sian-su. Teecu rupanya bebal!” “Hm, kau sudah mendengar kisah Si Golok Maut ini, dan tentunya mulai dapat mengerti. Kenapa belum menangkap juga? Baiklah, kuulangi lagi, Beng Tan. Jawablah kenapa Golok Maut demikian kejam dan telengas!” “Dia… dia dilanda dendam!” “Dan kenapa dia mendendam!” “Karena Sin Hauw marah kepada Coa-ongya!” “Dan kenapa Sin Hauw marah!” “Karena Coa-ongya menipu dan…” “Stop!” kakek itu mengebutkan lengan. “Jawaban sudah jelas, Beng Tan. Sampai di sini seharusnya kau mengerti!” Beng Tan terkejut. Bagai disentak air dingin saja tiba-tiba secercah kilatan cahaya menerangi pikirannya. Dia mau menambahi “menghina dan tak menghargai Sin Hauw” ketika tiba-tiba kakek itu memutus pembicaraannya. Dan yang diputus adalah kata-kata menipu! Ah, Beng Tan tergetar dan menggigil. Bu-beng Sian-su tiba-tiba tertawa aneh dan kilatan cahaya tiba-tiba menerangi batin pemuda itu. Menipu, inilah biang keladinya. Dan ketika Beng Tan menggigil dan bangkit berdiri, Swi Cu di sampingnya juga terkejut dan berdiri maka Beng Tan berseru tertahan dengan suara serak, “Sian-su, kau… kau hendak maksudkan bahwa jawaban syair itu terletak pada penipuan? Kau hendak memberi tahu aku bahwa inilah inti jawaban syair itu?” “Baru lima puluh persen, yang lima puluh persen lagi belum kau jawab. Nah, siapa dapat menjawab kenapa kirakira ayah Sin Hauw tak mau bergabung dengan saudaranya, Kwi-goanswe itu!” “Karena Kwi-goanswe pembantu Li Ko Yung, musuh ChuWen!” “Hm, kau, nona?” Bu-beng Sian-su tersenyum, memandang Swi Cu. Gadis ini hendak bersuara namun sudah didahului kekasihnya itu. Maka ketika Beng Tan bicara namun agaknya kurang cocok, karena kini kakek itu ganti memandangnya maka Swi Cu bersinar-sinar berkata gemetar, “Karena…. karena Kwi-goanswe adalah orang dekat Coa-ongya!” “Bagus, bisa lebih dekat lagi? Kau dapat memberi tahu kenapa mendiang ayah Sin Hauw itu tak suka kepada Coaongya? “Karena Coa-ongya tak dapat dipercaya!” Swi Cu tibatiba berteriak, menemukan jawabannya. “Ayah Sin Hauw tak mau bergabung dengan saudaranya karena pangeran she Coa itu tak dapat dipercaya, Sian-su, penipu dan barangkali inilah jawabannya!” “Ha-ha, betul. Cocok sekali! Wah, kau kalah cerdas dengan kekasihmu ini, Beng Tan. Itulah yang hendak kumaksudkan kepadamu. Coa-ongya tak dapat dipercaya, omongannya selalu tak ditepati. Dan karena ayah Sin Hauw rupanya sudah melihat itu dan tak suka maka berpihaklah dia kepada Chu Wen yang dianggap jauh lebih dapat dipercaya dan diikuti! Nah, kau mengerti?” Beng Tan bengong. Pemuda ini melayang-layang dalam jawaban itu dan tiba-tiba sadarlah dia bahwa sebenarnya yang ingin dimaksudkan gurunya itu adalah jawaban ini. Menipu atau sebangsanya adalah indikasi kuat untuk menunjuk bahwa orang yang seperti itu adalah orang yang tidak dapat dipercaya. Dan dia sudah membuktikan sendiri. Pertama dengan kaisar dan kedua dengan…. “Ah,” Beng Tan terbengong-bengong. “Jadi ini kiranya yang hendak kau terangkan, Sian-su? Tapi…. tapi apa hubungannya itu dengan benang yang kau sebut-sebut dalam syair ini? Benang apa itu?” “Hm, benang itu adalah benang kepercayaan, tak usah kusebut lagi. Kenapa harus dijelaskan dan tak dapat kautangkap? Gara-gara benang ini maka Sin Lun atau ayah Sin Hauw itu tak berdiri di belakang Li Ko Yung, Beng Tan. Karena baik Li Ko Yung terutama sekali Coa-ongya adalah orang-orang yang tak dapat dipercaya. Barangkali kau tahu bagaimana nasib seorang teman ayah Sin Hauw yang menjadi korban dari sepak terjang Coa-ongya itu, yang berhasil dibujuk!” “Teecu tak tahu…” “Hm, sekarang kuberi tahu. Sin Lun mempunyai seorang sahabat kental, Yang Jin namanya. Mereka dua laki-laki hampir ada di mana saja. Di mana ada Sin Lun di situ pasti ada pula Yang Jin. Tapi sayang, ketika pecah perang antara Chu Wen dengan Li Ko Yung maka terjadi selisih pendapat di mana dua bersahabat ini pecah. Kwi-goanswe, adik dari isteri Sin Lun itu membujuk Yang Jin, murid seorang tokoh Hwee-san. Memberi kedudukan empuk dan langsung saja mengangkat Yang Jin sebagai jenderal pula, berdampingan dengan diri jenderal she Kwi itu, tentu saja atas perkenan atau petunjuk Coa-ongya, karena Coa-ongya adalah tangan kanan pertama Li Ko Yung. Tapi ketika Yang Jin tak dapat memenuhi tugasnya membujuk bekas teman-temannya yang lain, yang masih bergabung pada Chu Wen itu maka Coa-ongya merasa bahwa Yang Jin ini tak banyak bermanfaat. Yang Jin akhirnya diketemukan tewas di sumur yang dalam, setelah mendapat siksa dan derita!” “Ah, siapa yang melakukan?” “Coa-ongya dan pembantu-pembantunya itulah, termasuk Kwi-goanswe. Sudah menjadi garis kebijaksanaan politik Li Ko Yung dan Coa-ongya ini bahwa semua orangorang setia di pihak Chu Wen harus dibujuk. Mereka hendak ditarik semua agar membantu penguasa sekarang, tapi tidak semuanya berhasil. Tapi karena ada yang berhasil juga dan justeru yang berhasil inilah yang lalu disuruh meneruskan kebijaksanaan politik itu untuk ganti meneruskan bujukan pada teman-temannya di pihak lawan maka mereka yang berhasil ini mendapat tambahan pangkat atau kedudukan tapi yang gagal langsung dibuang, disingkirkan. Seperti yang terjadi pada diri orang she Yang itu!” “Ah, kejam!” “Ya, tapi’ ada yang lebih kejam lagi. Coa-ongya telah menetapkan bahwa kelak, bila Chu Wen telah kalah dan hancur, maka semua bekas pengikut setia raja muda itu yang berpindah haluan harus dibunuh juga. Jadi orangorang setia yang berhasil dibujuk membantu Coa-ongya ini kelak dibasmi juga, karena Coa-ongya menganggap bahwa seorang yang telah berkhianat satu kali pasti dapat juga berkhianat dua atau tiga kali. Tak dapat dipercaya!” “Ah, seperti dirinya sendiri!” “Ya, Coa-ongya mengukur baju orang lain dengan bajunya sendiri, nona. Karena itu betapa kagum dan kecewanya dia ketika tak dapat membujuk ayah Sin Hauw itu. Dan ayah Sin Hauw semakin tegar setelah mengetahui kekejian yang tersembunyi di balik maksud Coa-ongya itu. Sin Lun menemukan sahabatnya tewas di sumur tapi sebelum tewas sahabatnya itu menceritakan rencana Coaongya!” “Ah, dua sahabat itu akhirnya bertemu juga, Sian-su?” “Ya, tapi dalam keadaan yang menyedihkan. Coa-ongya tak menyangka bahwa Yang Jin ini masih hidup, karena ketika orang itu dibuang dan dilempar ke sumur yang dalam maka secara kebetulan Sin Lun menemukannya dan di situlah ayah Sin Hauw ini tahu betapa licik dan culasnya Coa-ongya itu, karena sahabatnya sempat bercerita!” “Ah-ah!” Beng Tan ternganga. “Keji dan kejam sekali Coa-ongya itu, Sian-su. Dan aku, hm… aku telah membantunya beberapa lama. Mungkin kalau kelak tenagaku juga dianggap tak penting lagi barangkali aku juga akan dibuang atau di-singkirkannya!” “Hm, kau tahu itu, dan semuanya terserah dirimu. Sekarang kalian tahu kisah mendiang Sin Lun ini kenapa dia tak membantu Coa-ongya. Sin Lun telah menarik garis keputusan tegas bahwa sekali orang itu tak dapat dipercaya maka selamanya dia tak dapat dipercaya! Dan inilah ‘benang’ yang kumaksudkan seperti dalam syair itu. Karena kepercayaan, seperti kalian lihat, adalah seperti seutas benang yang halus dan ringkih. Kepercayaan itu harus dijaga hati-hati. Atau selamanya orang tak akan mempercayai kita lagi dan celakalah kita sendiri! Mengerti?” “Hm-hm..!” Beng Tan mengangguk-angguk. “Aku mengerti, Sian-su…. aku mengerti. Kiranya inilah yang kaumaksudkan. Kau hendak mengumpamakan kepercayaan itu seperti seutas benang, bukan benang sembarang benang melainkan benang yang harus dijaga baik-baik. Kau benar. Benang kepercayaan yang tak dapat dijaga memang akan menimbulkan kebencian orang kepada kita, apalagi kalau bobot persoalannya serius! Hm-hm… aku mulai melihat ini tapi kau agaknya masih belum selesai!” “Ha-ha, belum selesai apalagi? Kisah Sin Lun sudah kauketahui, Beng Tan. Dan Si Golok Maut Sin Hauw juga begitu.” “Tidak, nanti dulu!” Beng Tan berseru. “Kenapa Golok Maut tak mengetahui itu dari ayahnya, Sian-su? Atau kenapa isteri laki-laki itu tak memberi tahu anaknya?” “Hm, Sin Lun tewas sebelum memberi tahu isterinya. Dan lagi isterinya belum tentu percaya karena waktu itu Kwi-goanswe juga selalu bersikap baik padanya, meskipun dua bersaudara Ipar itu saling membela pihak-pihak yang berlawanan!” “Dan SinHauw akhirnya mencari Coa-ongya!” “Hm, mula-mula bukan begitu. Yang dicari pertama kali adalah pamannya itu, Kwi-goanswe. Tapi karena Kwigoanswe berlindung di balik Coa-ongya dan pangeran itu bersama adiknya lalu memperdayai Sin Hauw maka pemuda ini terjebak dan seperti kalian tahu akhirnya ilmu silat GolokMautnya dipelajari Coa-ongya, lewat Miao In!” Beng Tan dan Swi Cu mengangguk-angguk. Swi Cu sendiri telah mendengar itu dari sucinya karena Golok Maut sudah menceritakannya kepadaWi Hong. Miao in itulah gadis pertama yang dicinta Golok Maut, menjadi kekasih tapi ternyata gadis itu perangkap yang dipasang Coa-ongya. Miao In adalah orang kepercayaan Coa-ongya yang ditugaskan untuk mendapatkan catatan atau ilmu silat Giam to-hoat itu, Silat Golok Maut. Tapi ketika Miao In terbuka rahasianya dan gadis itu ternyata kekasih Kwi Bun, putera Kwi-goanswe maka akhirnya gadis itupun terbunuh dan tewas di tangan Coa-ongya ini, setelah diperkosa beramai-ramai! “Hm-hm..!” Beng Tan lagi-lagi bergidik. “Semula aku tak tahu, Sian-su. Tapi setelah semuanya ini kudengar maka aku menjadi lebih berhati-hati lagi.” “Dan kau sudah merasakan sesuatu ganjalan dengan kaisar.” “Ya, sri baginda menipuku!” “Dan kau beruntung belumseparah SinHauw diperdayai Coa-ongya!” “Hm, aku tak akan berdekatan lagi, Sian-su. Aku tak akan berhubungan lagi dengan orang-orang itu. Aku tak akan menginjak istana!” Kakek ini tersenyum. Beng Tan yang mengepal tinju dan tampak marah dipandangnya bersinar-sinar. Kakek ini bangkit berdiri tapi tiba-tiba Swi Cu melompat bangun. Dan ketika gadis itu berseru apakah kepercayaan tak dapat diobati lagi maka kakek ini mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” “Maaf, apakah kepercayaan yang ternoda begitu tak ada obatnya, Sian-su. Apakah orang yang sudah tidak dapat dipercaya memang selamanya tetap tidak dapat dipercaya, seperti keputusan atau pendapat ayah Sin Hauw itu!” “Hm,” kakek ini tersenyum. “Kalau maksudmu bahwa seorang pembohong ingin menjadi baik dan dapat dipercaya lagi seperti dulu-dulu maka semuanya itu tergantung orang yang bersangkutan, nona. Tapi dia harus bekerja keras untuk itu. Dan biasanya jarang ada yang seperti ini. Kepercayaan, seperti kataku tadi, ibarat seutas benang. Cobalah kau lihat ini dan pegang.” Bu-beng Sian-su tiba-tiba mengeluarkan seutas benang, lembut dan halus dan menyerahkannya kepada Swi Cu. Gadis ini heran dan tak mengerti tapi menerimanya juga. Dan ketika kakek itu mundur dan meniup perlahan tiba-tiba benang di tangan Swi Cu putus. “Nah,” kakek itu tertawa. “Coba satukan lagi benang itu, nona. Buatlah seutuh semula dan lihat bisa atau tidak!” Swi Cu tertegun. Tentu saja dia segera menyambung benang ini dan mengikatnya. Tapi ketika kakek itu memintanya dan bertanya apakah benang yang diutuhkan itu sudah utuh atau belum maka Swi Cu mengangguk, mengira utuh. “Benang ini sudah kusatukan, kusambung. Dan kukira utuh!” “Ha-ha!” kakek itu menoleh pada Beng Tan, menunjukkannya. “Benarkah benang ini utuh, Beng Tan? Benarkah sudah seperti semula lagi?” Beng Tan terkejut. Dia melihat Bu-beng Sian-su menunjuk tali simpul di tengah-tengah benang, menjentiknya. Bertanya padanya apakah benang itu sudah benar-benar utuh seperti semula. Dan ketika dia terkejut dan sadar bahwa benang itu sudah tidak utuh lagi, hal yang masih tidak dimengerti dan mengherankan Swi Cu maka pemuda ini menggeleng, berseru tegas dan lantang, “Tidak!” Swi Cu terkejut. “Kenapa tidak?” gadis itu penasaran. “Benang itu tak berkurang sedikit pun, Tan-ko. Aku tak mengurangi atau menambahnya!” “Tapi ada tali simpulnya di sini,” Beng Tan menerangkan, sudah mengerti apa yang dimaksud gurunya, bersinar-sinar. “Benang ini tidak utuh lagi, Cu-moi. Karena kalau dia utuh seharusnya sudah seperti semula, tidak ada cacad atau sambungan. Ah, Sian-su hendak menerangkan kepada kita bahwa kepercayaan yang terlanjur putus tak dapat dipulihkan lagi seperti semula, seperti benang ini. Karena begitu kepercayaan putus maka betapapun diusahakan seperti semula maka tetap saja ada grenjelannya di situ, cacad. Seperti benang ini yang sudah tidak dapat disatukan seperti semula karena ada tali simpul di tengahnya!” “Ah!” Swi Cu terkejut, tiba-tiba mengerti. “Begitukah? Jadi…” “Benar,” Beng Tan mengangguk, penuh semangat, tibatiba tertawa bergelak. “Sian-su hendak memberi tahu padamu bahwa kepercayaan yang putus adalah seperti benang ini, Cu-moi. Disambung atau disatukan kembali tetap saja tak bisa, cacad! Kita hendak diperlihatkan akan adanya kenyataan itu bahwa kepercayaan yang putus tetap saja putus, seperti benang ini. Ha-ha, mengerti aku sekarang. Kepercayaan memang seperti seutas benang, sekali putus maka tak dapat disatukan kembali, ha-ha!” Swi Cu terbengong-bengong. Dia sadar dan terkejut setelah mengerti itu. Ah, dia kurang tanggap. Tapi begitu mengerti dan tahu apa yang dimaksudkan kakek ini tibatiba gadis itu mendusin dan menganggap bahwa perumpamaan itu cocok, tepat. Kepercayaan memang seperti seutas benang, ringkih dan halus. Dan karena benang atau kepercayaan yang putus memang tak mungkin diutuhkan kembali karena sudah ada “grenjelannya” di situ maka gadis ini menarik napas dan takjub memandang kakek dewa itu. “Ah, aku mengerti… sekarang aku mengerti…!” gadis itu berteriak, setengah memekik. “Perumpamaan yang ditunjukkan Sian-su memang tepat sekali, Tan-ko. Dan aku sudah melihat itu!” “Kalau begitu selanjutnya tak ada pembicaraan lagi,” kakek ini tiba-tiba tertawa. “Pertanyaanmu sudah kujawab, Beng Tan. Dan selanjutnya kalian tak memerlukan aku lagi. Terimalah!” Beng Tan terkejut. Sehelai kertas tiba-tiba menyambar ke arahnya tapi cepat ditangkap dan diterima. Bu-beng Sian-su memberikan sesuatu dan Beng Tan terkejut. Tapi ketika pemuda itu menangkap dan menerima kertas ini mendadak si kakek dewa berkelebat dan mendorongkan kedua lengannya di mana Beng Tan dan kekasihnya berteriak tertahan. Tubuh mereka terangkat naik dan tiba-tiba bantalan mega yang tadi diam tak bergerak sekonyongkonyong kini menyambar, terbang dan menerima tubuh mereka yang jatuh ke bawah. Dan ketika dua muda-mudi itu terkejut dan berteriak keras, Swi Cu sudah menyambar dan menangkap lengan kekasihnya maka bantal mega itu bergerak dan…. terbang mengikuti Sian-su, kembali ke bumi! “Anak-anak, cukup perjumpaan kita kali int. Kuantar kalian ke bawah dan renungkan semua pembicaraan tadi!” Swi Cu pucat. Dia melihat kakek dewa itu terbang di depan, menukik dan lenyap ke bawah menembus awan dan mega-mega tebal. Tapi ketika mereka sendiri juga bergerak dan terbang mengikuti kakek itu, seperti dongeng, maka Swi Cu menggigil mencengkeram lengan kekasihnya ini. “Tan-ko, gurumu benar-benar bukan manusia biasa. Ah, beruntung kau menjadi muridnya!” “Hm, Sian-su sendiri tak mau kusebut begitu, Cu-moi. Katanya guruku adalah diriku sendiri. Hm, dia memang manusia luar biasa. Dan Sian-su rupanya memang pantas disebut sebagai manusia dewa!” “Dan kita meluncur turun, cepat sekali. Ah, aku takut, koka Kita menukik…!” Bfeng Tan juga terkejut. Menembus awan atau megamega tebal tiba-tiba benda aneh yang mereka tumpangi itu menukik lurus, cepat sekali. Rasanya mau menghunjam bumi dan Beng Tan .tersirap serta takut jatuh tapi aneh bin ajaib kaki mereka terpaku, lengket atau seolah terpantek pada benda yang mirip bantalan mega ini. Dan ketika Swi Cu di sebelahnya juga pucat dan ketakutan tapi tak jatuh, hal yang membuat kekasihnya tenang maka Lembah Malaikat tiba-tiba terlihat lagi dan Bu-beng Sian-su di depan tiba-tiba sudah mendarat, disusul mereka berdua yang terbengong-bengong bagai menumpang piring terbang! “Sudah sampai, dan selamat tinggal!” Swi Cu sadar. Gadis ini berteriak ketika kakek dewa itu tiba-tiba mengangkat tangan kanannya, terbang dan naik lagi ke atas bagaikan mahluk angkasa. Bu-beng Sian-su lenyap dan hilang entah ke mana, yang jelas ke langit. Dan ketika Swi Cu berteriak dan memanggil kakek itu, yang hanya dijawab senyum maka Beng Tan juga sadar dan berteriak memanggil gurunya. “Sian-su…!” Tak ada jawaban. Bu-beng Sian-su telah lenyap dan Beng Tan serta kekasihnya bengong. Mereka mendelong dan takjub memandang ke angkasa, terlihat setitik cahaya putih tapi setelah itu hilang. Dan ketika dua muda-mudi ini mendelong dan terkesima, terbelalak, maka terdengarlah cecowetan Pek-kauw dan kera atau monyet putih itu muncul. “Ah, kita sudah di bumi.Mimpi kita habis!” “Hm,” Beng Tan mepgusap keningnya, bingung. “Mimpikah kita tadi, Cu-moi? Berada di alam sihirkah kita tadi?” “Kita mimpi, mimpi yang indah! Kita memasuki alam gaib bersama Sian-su!” “Ya, dan kita mendengar wejangannya. Ah, kata-katanya tak dapat kulupakan, moi-moi. Aku terkesan dan kagum benar akan kata-kata guruku itu!” “Hm, dan aku juga. Bu-beng Sian-su sungguh kakek dewa yang memiliki kesaktian luar biasa!” dan ketika Swi Cu terkejut karena Pek-kauw melompat dan bercecowetan di pundaknya, menyatakan selamat datang maka Beng Tan di Sana termangu-mangu namun wajah pemuda ini memancarkan cahaya gemerlap. Beng Tan berhasil mengetahui inti syair itu dan pemuda ini bersinar-sinar. Segala peristlwa dan kisah yang terjadi berulang kembali, cepat, susul-menyusul dan teringatlah dia akan Coa-ongya dan lain-lainnya itu, juga kaisar. Hm, dan sekarang dia tak mempercayai kaisar juga. Kaisar telah menipunya dan kematian Golok Maut yang langsung atau tidak juga atas perintah kaisar membuat Beng Tan kecewa. Kenapa orang sedemikian tinggi kedudukannya tak dapat memiliki kata-kata yang dapat dipercaya? Kenapa kaisar harus menipu dan menjilat kata-katanya sendiri? Dan untuk itu semua dia tak sempat lagi bertanding dengan Si Golok Maut. Dia telah kehilangan lawannya itu karena lawan telah dibunuh dengan cara yang amat curang, juga licik. Lima ribu orang yang dikerahkan ke Lembah Iblis jelas menunjukkan kecurangan itu, padahal semua tahu bahwa Golok Maut sedang terluka. Ah, ketidak-jujuran memang mudah menimbulkan ketidak-percayaan. Dan sekali dia tidak percaya maka seumur hidup dia tetap tak akan percaya! Beng Tan mengepal tinju. Sekarang ia mengerti kenapa Golok Maut begitu membenci Coa-ongya. Dan pangeran itu bersama adiknya juga melakukan perbuatan-perbuatan yang seharusnya tak layak dilakukan orang-orang besar, kaum bangsawan, orang-orang terhormat. Dan mengerti kenapa kaisar selalu melindungi Coa-ongya, karena mereka sebulu dan sejenis maka Beng Tan menggeram-geram dan mengutuk orang-orang itu. Hm, kepercayaan memang sesuatu yang amat berbahaya. Harus dijaga hati-hati dan jangan sampai retak, apalagi pecah. Kepercayaan itu ibarat benang yang halus dan ringkih. Demikian ringkihnya hingga kalau putus tak dapat disambung lagi. Kepercayaan yang putus sudah menimbulkan cacad di situ, seperti benang dengan tali simpulnya. Dan ketika Beng Tan mengangguk-angguk dan juga marah bahwa Coa-ongya merencanakan sesuatu yang keji dengan kelak melenyapkan semua pengikut-penglkut Chu Wen yang berhasil dibujuk maka diam-diam dia memuji juga kesetiaan dan ketegaran mendiang ayah Sin Hauw terhadap junjungannya. Laki-laki itu gagah dan mempunyai pendirian yang tegas, berkepribadian. Dan rupanya tahu bahwa Coa-ongya adalah orang yang tak dapat dipercaya. Buktinya, begitu sahabatnya berbalik haluan dan membela pangeran itu, bersama Li Ko Yung maka sahabatnya dibunuh setelah dianggap tak dapat dipergunakan lagi. Padahal, janjinya semula adalah mulukmuluk! Ah, orang yang bermulut manis memang justeru harus dihadapi dengan hati-hati. Mulut manis belum tentu memberikan madu, salah-salah racun! Dan membayangkan bahwa Golok Maut demikian benci dan dendam kepada Coa-ongya maka Beng Tan tak aneh atau merasa heran lagi. Sin Hauw atau Si GolokMaut itu juga berkali-kali ditipu Coa-ongya. Mulai dari bujukannya tentang encinya yang masih hidup sampai kepada kekasihnya yang ternyata wanita siluman. Sin Hauw berkali-kali harus menekan api kemarahannya kalau Coa-ongya sudah menyebut-nyebut encinya itu, yang sebenarnya sudah lama tewas dan dibunuh. Dan betapa Coa-ongya akhirnya menangkap dan menyiksa Si GolokMaut, setelah melumpuhkannya dengan obat pelupa ingatan maka Beng Tan muak dan benci betul kepada Coa-ongya itu. Pangeran itu sungguh keji, Golok Maut nyaris dibunuh kalau saja gurunya tidak muncul. Bubeng Sian-su itulah yang dulu menyelamatkan Sin Hauw. Dan ketika cerita demi cerita dimengerti Beng Tan dengan cepat dan matang maka Beng Tan tiba-tiba teringat pemberian Bu-Beng Sian-su berupa sehelai kertas yang dilemparkan kepadanya tadi. Beng Tan membuka, melihat, dan… tertegun. Beberapa huruf-huruf rapi tercetak di situ, ditulis gurunya. Dan ketika pemuda ini mengangguk-angguk dan membaca lagi maka itulah inti atau ringkasan dari wejangan gurunya. Apa yang tertulis? Sederet kata-kata indah, sekaligus peringatan baginya: KEPERCAYAAN ITU SEPERTI SEUTAS BENANG, HALUS DAN RINGKIHHATI-HATI. JAGALAH! Beng Tan mengangguk-angguk. Tanpa diulang lagi dia sudah mengerti itu. Hm, kepercayaan memang seperti seutas benang. Dan benang itulah yang kiranya dimaksudkan gurunya di dalam syair, sederhana dan biasabiasa saja. Tapi karena yang belum tahu memang tak akan tahu maka apapun jawabannya memang pasti tak akan diketahui kalau tidak diterangkan. Cocok! Pemuda ini bersinar-sinar. Sekarang dia tahu akan inti dari jawaban syair gurunya. Kepercayaan memang harus dijaga, dan orang yang dapat dipegang kepercayaannya biasanya lalah orang-orang jujur. Orang-orang jujur dapat dipercaya, sedangkan orang yang tak dapat dipercaya ialah orang yang tak jujur! Hm, mau apalagi? Dan ketika Beng Tan tersenyum dan menyeringai pahit, mengangguk-angguk maka pemuda itu melihat kekasihnya yang juga duduk termenung di sana, tak menghiraukan cecowetan Pak-kauw mau-pun binatang-binatang lain di lembah itu. “Kau ingin tetap tinggal di sini? Tak ingin pulang?” “Hm, pulang?” Swi Cu terkejut, bangkit berdiri. “Aku terngiang kata-kata Sian-su, koko. Dan aku kerasan di sini!” “Tapi kau harus pulang, kembali memimpin anak buahmu!” Swi Cu mengerutkan kening. Tiba-tiba dia ingat bahwa dia adalah pemimpin Hek-yan-pang. Sucinya kini telah tak ada di sana dan praktis dialah yang harus menjalankan tugas. Dan ketika dia mengangguk namun melihat kertas di tangan kekasihnya tiba-tiba dia teringat dan bertanya apakah itu. “Ringkasan dari Sian-su, tentang benang kepercayaan.” Swi Cu membaca. Dia kagum dan bersinar-sinar memandang tulisan kakek dewa itu. Sebenarnya dia tak tahu kapan kakek itu menulis. Hebat! Tapi mengantongi tak mengembalikan surat ini kepada Beng Tan tiba-tiba Swi Cu berkelebat mengajak kekasihnya pulang, ke Hek-yan-pang. “Heii…!” Beng Tan berseru. “Kembalikan itu padaku, Cu-moi. Jangan dikantongi!” “Hm, siapa punya siapa? Sian-su memberikannya untuk kita berdua, Tan-ko, bukan untukmu seorang. Dan kau masih berhutang sebuah janji!” “Janji apa?” Beng Tan mengejar. “Kembalikan dulu surat itu dan biar kusimpan!” “Untuk apa? Disimpan di mana?” “Di kamarku, di kamar kita nanti!” namun ketika Swi Cu berhenti dan tiba-tiba membalik, mengejutkan pemuda ini maka Swi Cu membentak, “Cih, kau tak tahu matu. Sebelum menerangkan siapa si Kedok Hitam itu jangan harap kau mempunyai kamar untuk kita berdua!” dan berkelebat serta lari lagi akhirnya Swi Cu meninggalkan kekasihnya tak perduli melihat Beng Tan bengong, terkejut dan tiba-tiba bergerak menyambar lengannya dan Beng Tan segera berkata bahwa hal itu tak akan disembunyikannya. Dia telah berjanji dan janji tak akan diingkari. Beng Tan bukanlah Coa-ongya dan pemuda itu tak akan menodai kepercayaan kekasihnya kepadanya. Dan ketika Swi Cu bertanya siapa orang itu dan Beng Tan harus menjawab saat itu juga maka gadis ini tersentak dan untuk kedua kali menghentikan larinya, begitu Beng Tan membuka rahasia. “Apa? Dia? Jahanam keparat itu?” “Ya, dia, Cu-moi. Dan sekarang kau tahu. Hm, maafkan aku bahwa saat itu aku terpaksa melepaskannya lagi.” “Ooh…!” Swi Cu terhuyung. “Kalau begitu…. kalau begitu…. jangan-jangan dia pula yang berusaha memasuki kamarku, koko. Jangan-jangan jahanam keparat itu pulalah yang akan memperkosa aku, berkedok sebagai Si Golok Maut!” “Hm, mungkin juga. Bisa jadi. Tapi, ah…, aku tak ingin bicara ini lagi di saat sekarang. Aku sudah penat menghadapi persoalan-persoalan berat yang bertubi-tubi. Aku juga masih terguncang. Aku ingin menyelesaikan urusanku dulu denganmu.” Swi Cu mangar-mangar. Kalau saja Beng Tan tak mengucapkan kata-katanya terakhir tadi barangkali dia akan melompat dan terbang mencari si Kedok Hitam itu. Kiranya dia! Tapi karena Beng Tan mencekal tengannya dan memandangnya lembut dan mesra, rindu dan bergetar ingin menyelesaikan urusan pribadi, menikah dan bersatu di Hek-yan-pang maka Swi Cu tertahan dan keberingasan mukanya itu tiba-tiba berkurang. “Aku tak ingin mengurus apa-apa dulu. Aku ingin menyelesaikan urusan kita berdua. Kembali dan menikah di Hek-yan-pang! Kau tentu tak akan menolaknya bukan, moimoi? Kau tentu dapat menunda semua persoalan-persoalan itu di belakang hari saja?” Swi Cu terisak, tiba-tiba menubruk kekasihnya. “Terserah kau, koko… tapi berjanjilah bahwa si Kedok Hitam itu harus kita cari! Dia telah menghina dan mau mengganggu aku!” “Aku tahu, tapi sudahlah, kita lupakan sejenak urusan ini dan mari pulang!” dan Beng Tan yang mengecup serta mendorong kekasihnya tiba-tiba berkelebat namun mendadak berhenti lagi. “Ada apa?” “Kita lupa meminta restu, dari Sian-su!” “Hm, tadi di saku bajuku ada ini. Lihatlah!” Swi Cu tersenyum, tiba-tiba mengeluarkan sehelai surat dan Beng Tan ganti tertegun. Ternyata dengan caranya yang luar biasa Bu-beng Sian-su telah memberi tanda mata kepada kekasihnya Di balik surat itu ada cincin, bertuliskan hurufhuruf dari nama Beng Tan dan Swi Cu, pas benar di jari manis gadis itu. Dan ketika Beng Tan bengong dan membaca huruf kecil-kecil bertuliskan “selamat untuk mempelai berdua” maka pemuda ini berjingkrak dan bersorak. “Ah, Sian-su telah tahu. Kita mendapat restunya!” “Ya, dan ini pemberian darinya, koko, mewakilimu. Ah, kakek dewa itu sungguh luar biasa!” dan ketika Swi Cu dipeluk dan disambar, diciumi, maka Swi Cu meronta dan terkekeh geli, melepaskan diri. “Hush, jangan di sini. Nanti ada orang ….!” dan ketika gadis itu terbang dan disusul Beng Tan, yang tentu saja tak membiarkan kekasihnya maka dua muda-mudi ini telah bergandengan tangan ke Hek-yan-pang. Bu-beng Sian-su telah memberi restu mereka di samping nasihat. Kakek itu telah memberikan wejangannya yang berharga pula. Dan ketika Swi Cu terkekeh-kekeh dan tertawa bersama Beng Tan, lupa akan yang lain karena akan menyongsong kebahagiaan sendiri maka dua muda-mudi itu tak tahu akan rintih dan tangis seseorang. Mereka tak tahu akan adanya sesosok tubuh yang terhuyung-huyung naik turun bukit, perut didekap karena sosok tubuh itu bukan lain adalah Wi Hong, yang sedang hamil. Dan ketika Beng Tan serta Swi Cu akhirnya menikah di Hek-yan-pang, mengatur dan memimpin anggauta-anggauta yang sudah lama menunggu maka Wi Hong atau wanita ini menangis tiada berkesudahan serta berkali-kali menyebut-nyebut nama si Kedok Hitam, penuh benci dan dendam. Siapakah si Kedok Hitam itu? Berakhir begitu sajakah ceritanya? Tidak, tentu tidak. Kisah ini baru merupakan langkah awal dari sebuah cerita yang panjang. Orang-orang yang seharusnya mendapat hukuman belumlah semua terhukum.Wi Hong dan lain-lain itu tentu muncul kembali, dan anda akan menemukannya dalam kisah berikut: NAGA PEMBUNUH! Anda akan bersua lagi dengan wanita ini dan keturunan Sin Hauw, Si Golok Maut. Tentu saja dalam kisah yang lebih menyeramkan dan tegang, di mana Bu-beng Sian-su tak lupa pula muncul untuk menemui anda, Mudahmudahan ada gunanya dan bermanfaat. Salam buat pembaca tercinta! T AM A T Solo, 11-05-1988 Source : Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Iklan Beri peringkat: 2 Votes Share this: ShareFacebookTwitterDownload PDFSurat elektronikCetakGoogle Terkait Golok Maut (Bag 2)dalam "Batara" Mata Air Di Bayangan Bukit (Jilid : 21–23 Tamat)dalam "CERITA SILAT INDONESIA" Cinta Bernoda Darah - Bag 2 (Seri 03 Bukeksiansu)dalam "CERITA SILAT MANDARIN" Pos ini dipublikasikan di Batara, CERITA SILAT MANDARIN, KUMPULAN CERITA dan tag Batara, Cerita Silat, Golok Maut. Tandai permalink. Navigasi pos ← Matahari Esok Pagi (Jilid 4-6) Lembah Patah Hati → ~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~ HOME BUKU TAMU TUKARAN LINK Tulisan Terakhir Sakit Hati Seorang Wanita Api di Bukit Menoreh (Buku 81-90) Manggala Majapahit Gajah Kencana (Jilid 36-40) 7 Senjata – Gelang Perasa (Seri 4) Ouw Yang Heng-te GOLOK MAUT Dendam Iblis Seribu Wajah Bu Kek Kang Sinkang (Seri 1) Amanat Marga Serial Rumah Judi – Elang Pemburu (Seri 1) 7 Senjata – Golok Kumala Hijau (Seri 3) Kun Lun Hiap Kek Pendekar Pemabuk dari Kanglam Pahlawan Harapan Pendekar Gila Perguruan Sejati Walet Emas Perak Misteri Rumah Berdarah Pisau Kekasih Duri Bunga Ju Satria Gunung Kidul 7 Senjata – Bulu Merak (Seri 2) Kitab Pusaka Pedang Bunga Bwee Sayap-Sayap Yang Terkembang (Jilid 46 – 55) 7 Senjata – Pedang Abadi (Seri 1) Mestika Burung Hong Kemala – Kisah si Pedang Terbang (Seri 2) Pendekar Binal – Bahagia Binal (Seri 3) Tamat Darah Ksatria (Harkat Pendekar) Si Pedang Tumpul – (Seri I Pendekar Pedang Tumpul) Pendekar Cengeng Maling Budiman Berpedang Perak Rajawali Lembah Huai Pendekar Bongkok (Seri 06 Bukeksiansu) Pendekar Binal – Bakti Binal (Seri 2) Pendekar 4 Alis – Keajaiban Negeri Es (Seri 5) Sayap-Sayap Yang Terkembang (Jilid 41 – 50) Api di Bukit Menoreh (Buku 71-80) Pendekar Pengejar Nyawa Matahari Esok Pagi (Jilid 7 – 9 Tamat) Sepasang Naga Lembah Iblis (Seri I) Lencana Pembunuh Naga Nagasasra & SabukInten (Jilid 11-20 Tamat) Laron Penghisap Darah Naga Pembunuh (Lanjutan Golok Maut) Pendekar Pedang Kail Emas Pendekar Sakti dari Lembah Liar Jago Kelana Elang Terbang di Dataran Luas Pendekar Naga Mas (Cerita Silat Dewasa) Kategori Kategori Cari Bergabunglah dengan 731 pengikut lainnya RSS Feed Blog di WordPress.com. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Without Investment Works for Home / KERJA COPY PASTE ONLINES

Chaptcha